Cerita ini terinsiprasi dari manga yaoi yang judulnya Dekichatta Danshi by Mikage Tsubaki. Bagi yang udah pernah baca jalan ceritanya emang hampir sama, tapi ada beberapa bagian diganti dan disesuaikan dengan jalan cerita author. Hanya pada bagian awal saja yang agak sama dengan komik aslinya selebihnya jalan cerita maupun keadaan akan dibedakan. Penjelasan ini sengaja dilakukan agar reader tidak bingung dengan mengapa jalan ceritanya beda dengan manga-nya. Karena ini hanya terinspirasi maka jalan cerita selanjutnya akan berbeda. Terima kasih^^

.

.

.

.

Sore hari di Myeondong, lampu-lampu jalan mulai menghiasi jalanan kota shopping terbesar ini dengan gemerlap cahaya kemerahan yang sangat indah. Semua orang yang beraktifitas sudah saatnya untuk kembali ke rumah. Menikmati waktu santai dengan melepas penat dan permasalahan yang tengah dihadapi saat melakukan pekerjaan rutin. Lain halnya dengan namja bertubuh tinggi ini, ia mengendarai motornya dengan kecepatan normal untuk mengatarkan pesanan makanan yang diinginkan oleh pembelinya.

Namja itu bernama Oh Sehun, seorang mahasiswa yang bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhannya yang terbilang pas-pasan. Sehun tinggal di Korea sendirian, sedangkan orang tuanya menjadi tenaga pengajar tetap di Jepang. Karena merasa telah mandiri dan dapat hidup sendiri dengan baik, Sehun memutuskan tidak mengikuti jejak kedua orang tuanya ke Jepang. Lebih memilih hidup bersama teman masa kecilnya di sini, di Korea sebagai kampung halamannya.

Orang tuanya selalu mengirimkan uang untuk kebutuhannya disini, namun Sehun memiliki prinsip sendiri. Jadi ia akan menggunakan uang pemberian orang tuannya pada saat-saat yang mendesak saja dan juga untuk tambahan biaya kuliah sedangkan kebutuhan sehari-hari ia tumpukan dari pekerjaannya. Menjadi pengantar dan sekaligus koki di restoran kecil terkenal di daerah Myeondong mampu menghidupi kebutuhannya sehari-hari.

"Ya Oh freaking Sehun!" suara itu, suara yang sangat dikenalnya itu membuat Sehun risih mendadak. Dia tahu persis siapa pemilik suara cempreng yang hampir tiap detik ia dengarkan di apartemen tempat mereka berbagi. Sehun mengentikan laju motornya dan menunggu pria yang memanggilnya itu untuk menghampirinya.

"Apa?" Sehun memandang wajah yang terbilang manis itu dengan tatapan datar andalannya. Orang yang ditatap hanya menyengir kuda menampilkan gigi putih bersihnya, terkesan seperti orang idiot.

"Aku numpang pulang.." Sehun menunjukan wajah garangnya lalu menjitak pelan kepala sang pemuda manis yang berdiri di sampingnya kini. Pemuda itu hanya meringgis pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Rajukan andalannya jika keinginannya tidak terpenuhi.

"Hentikan…"

"Huh?"

"Hentikan memajukan bibir seperti itu, kau membuatku merinding geli,"

Bukannya berhenti, pemuda itu malah menambah inci panjang bibirnya, terlihat seperti bebek. Hal itu membuat Sehun bergidik ngeri, "Aish menyusahkan. Cepatlah naik. Kita akan pulang setelah aku mengantarkan pesanan satu ini,"

Tanpa berpikir dua kali, pemuda itu bersorak gembira dan langsung melompat ke kursi penumpang di belakang Sehun. memeluk pinggang pemuda berwajah pucat itu dengan erat dan gemas. "Hahaha, gomawoooo…"

"Terserahlah, ah-hei pinggangku bisa kram jika kau peluk seerat itu.."

"Sudah biarkan saja, aku sedang senang dapat tumpangan, hihi," ucap pemuda manis di belakangnya tanpa melepas pelukannya pada pinggang Sehun. Sehun hanya menghela napas frustasi, percuma saja berdebat dengan pemuda bermata rusa ini. Menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

"Kenapa belum jalan, ayo jalan.."

"Huh, sudahlah menumpang malah sok merintah seperti ini,"

"Cepatlaaah!,"

"Iya iya, cerewet.." dengan wajah kesal, Sehun melajukan motornya ke tempat yang akan ia tuju untuk mengantarkan pesanan terakhirnya. Setelah itu kembali ke restoran dan pamit kepada Tuan Jang untuk segera pulang dan tidak mengambil lembur hari ini. Sehun memang diperbolehkan untuk membawa pulang motor tersebut karena rumah Tuan Jang sudah dipenuhi banyak motor pengantar dan Sehun dipercaya oleh pria paruh baya itu untuk menumpangkanya di apartemen.

Sehun berbagi apartemen dengan teman masa kecilnya yang kini sudah menjadi warga negara tetap di Korea, pemuda manis dengan perawakan mungil itu bernama Luhan. Mereka satu universitas walaupun beda jurusan mereka terbilang sangat dekat. Hampir seperti sepasang kekasih jika Luhan diibaratkan seorang perempuan. Tapi dibalik itu semua hubungan tidak normal mereka terjalin sejak menginjak bangku Senior High School. Selalu bersama tak terpisahkan, tinggal di satu apartemen dan melakukan semua kegiatan hampir bersamaan. Benih lain selain perasaan kebersamaan pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Itu pasti akan terjadi dan mereka tidak akan bisa menolaknya.

Sebuah apartemen di Myeondong

Apartemen lumayan luas yang pas untuk mereka berdua ini adalah peninggalan dari kakak perempuan Luhan yang kini entah pergi kemana. Melihat latar belakang keluarga Luhan, hubungan keluarga antara orang tua dan anak tidak pernah berjalan dengan baik. Ibu Luhan, Mrs. Lu pergi meninggalkan Luhan dan kakak perempuannya sejak sang bocah manis itu berumur 8 tahun. Memberi bekal kepercayaan bahwa dia akan kembali untuk Luhan dan Victoria, kakak perempuannya, sang ibu memberi alasan jika ia pergi mencari ayahnya yang pernah lari dari rumah sejak beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu, Luhan menjadi sulit untuk mempercayai orang-orang yang berani meninggalkannya saat mendapat bukti jika sang ibu tidak pernah kembali.

Luhan menjadi pemuda dingin dan cuek tentang masalah keluarga. Lain halnya dengan sang kakak yang hidupnya terbilang sangat bebas. Setiap hari melakukan kegiatan entah apa itu di belakang Luhan, pergi pagi pulang pagi esok harinya. Lama kelamaan Luhan menjadi jengah hingga akhirnya mengetahui apa pekerjaan sang kakak. Awalnya Luhan tidak menerima namun melihat kondisi perekonomian mereka yang sangat buruk sebagai seorang imigran mengharuskan Luhan untuk tetap memakan hasil jerih payah sang kakak.

Ada dimana saatnya Luhan muak dengan semua hal yang pernah dilakukan keluarganya, memilih untuk tidak peduli dengan keberadaan ibunya dan pekerjaan nista Victoria sampai suatu hari Sehun menawarkan bantuan untuk memperkerjakan Luhan di sebuah bar. Sehun adalah teman Luhan sejak kecil yang mengerti tentang keadaan keluarga sahabatnya, maka dari itu pemuda ini berniat menolongnya. Sayangnya, pertolongan Sehun tersebut yang membuat Luhan dan pemuda tampan itu terjerumus ke dalam dosa dan kenikmatan yang tak berujung. Luhan selalu larut akan sentuhan Sehun dan disinilah awal permulaan hubungan simbiosis mutualisme mereka terjadi hingga saat ini dan apartemen dengan segala isinya itu menjadi saksi bisu hubungan mereka.

Setelah pintu terbuka dengan lebar, Sehun mendorong Luhan dengan sedikit kasar merapat ke dinding dekat pintu untuk mencium bibir merekah yang sedari tadi membuatnya tergoda itu. Penyatuan sedikit kasar itu berakhir dengan lumatan bernafsu dari kedua bibir itu. Salahkan Luhan yang berani membangunkan serigala lapar tadi, dengan iseng pemuda manis itu meniup-niup dan mengecup sensual tengkuk Sehun pada saat pemuda pucat itu mengendarai sepeda motor untuk kembali ke apartemen. Sehun dibuat merinding dan hampir mendesah, sekarang balasan yang setimpal akan didapatkan Luhan atas tindakanya.

Luhan memeluk leher Sehun lebih dekat, mendorong frustasi kepala Sehun agar memperdalam ciuman mereka. Sehun tidak mau kalah, tangannya yang sudah gatal ingin menyentuh seluruh permukaan kulit Luhan yang lembut itu menyibak kasar t-shirt yang digunakan Luhan hingga menampilkan dada putihnya. Sehun meraba permukaan kulit dada Luhan naik turun dan berakhir dengan mencubit gemas salah satu puting yang tengah menegang itu.

"Hmmhhh..mhhh…ahh" racauan tertahan kelar dari bibir Luhan yang terbungkam ciuman Sehun, seketika dirinya merasa sangat panas dan berkeringat dingin. Luhan menyukai sensasi ini dan menginginkan lebih, terlihat jelas dari ciuman frustasi mereka, bertarung lidah hingga saliva meleleh disudut bibir manis itu.

"Hmmhh..mhh.." Seakan membutuhkan oksigen, Sehun melepaskannya dengan tidak rela lalu menggantikan peran bibirnya untuk menyapu kulit bersih leher Luhan. Gigit, jilat dan hisap membuahkan hasil yang menakjubkan di permukaan lembut itu. Kissmark. Tangan Sehun tidak diam melainkan meremas bokong sintal Luhan dengan gemasnya.

"Ahh, Sehunnhhh…aahh" Luhan…jangan ditanya lagi. Tentu saja ia menikmati perlakuan Sehun ini. Jelas sekali terlihat dari tertutupnya mata rusa itu menikmati segala sentuhan dan desahan erotis tiada henti dari bibirnya. Sukses membuat sesuatu pada diri Sehun bergejolak dan tegang…tentu saja.

"Ahh..Luhannh kau begitu manis jika seperti ini, nghh sshh.."

"Janganhh ahh banyak omong, cepat tuntasan nghh ahh.."

"Apa yang kau inginkan hmmh?" bisik Sehun dengan desahan berat andalan miliknya yang mampu membuat batang di bawah sana menegang, lebih tegang. Luhan menyatukan alisnya –sangking terasa nikmatnya- untuk berusaha menjawab pertanyaan bodoh Sehun.

"Aku mauu ughh…penis besarmu…ahh menusuk-nusuk hole sempitku"

Sehun menyeringai mendengarkan dirty talk-nya Luhan. Tepat sekali, itulah yang diinginkan Oh Sehun ini. Dirty talk Luhan selalu berhasil membuatnya bergairah berkali-kali lipat. Tanpa pikir panjang dan tanpa mengganti tempat bercinta, Sehun menurunkan paksa celana pendek selutut yang digunakan Luhan, beserta antek-anteknya. Kini memperlihatkan bagian bawah Luhan yang telanjang dengan penis yang sudah sangat mengeras dengan hiasan cairan precum di ujungnya.

Sehun jongkok di depan Luhan, "Lihat, adik kecilmu sudah precum begini hanya dengan sentuhanku Luhan.." Sehun menggenggam batang itu kuat dan meremasnya dengan tempo yang beraturan.

"Akhhh ahhh.. ngghh remas terushh Sehunnhh…"

"Dasar tidak tahu diri.."

Sehun meremas penis itu dengan gemas tapi dengan tempo yang sangat lambat. Hal itu sukses membuat Luhan mendesah frustasi karena gerakan yang sangking lambatnya. Luhan menggeliat tak nyaman, kakinya sudah terasa sangat lemas untuk tetap berdiri. Tidak ingin kegiatan itu terhenti, Luhan lebih memilih menyender ke dinding.

"Ahhhh lebihhh cepathh brengsek nghh.."

"Baiklah baiklah…"

Sesuai permintaan, Sehun memijat benda tegang itu dengan gerakan lebih cepat, menjilati ujungnya dan menghisapnya kuat. Luhan hanya bisa mendesah sambil meremas kuat rambut Sehun, mendongakan kepalanya atas perlakuan Sehun yang memabukan.

"Ahh ahhh Sehun aku mauu nghh keluarhh"

"Tidak sekarang, princess"

"Uhh?"

Dengan gerakan cepat, Sehun berhasil menanggalkan celananya dan membalikan badan Luhan sehingga kini posisinya menghadap ke dinding. Dengan sekali gerakan, Sehun menarik pinggul Luhan agar lebih menungging dan menggoda hole yang sudah berkedut-kedut itu dengan ujung penisnya yang sudah sedikit basah.

"Nghh mhhh masukan..masukaannhh"

"Tanpa lube? Kau sungguh binal Luhan.."

"Nghh lakukan sa-akhhh ahh sakit bodoh.." tanpa lubricant, Sehun melesatkan torpedonya masuk ke dalam hole Luhan dengan sekali hentakan. Menghasilkan erangan kesakitan bercampur nikmat dari si pemilik hole menggoda itu. Luhan menggerakan pinggulnya dengan sangat erotis, mengundang birahi binal Sehun yang sesungguhnya. Tanpa memikirkan hal lain lagi, Sehun bergerak maju mundur dengan cepat dan menghentakan kuat ke dalam hole yang terjamah itu.

"Ahh ahh yaahh yaahh lebih dalam Sehunnieehh"

"Shhh shhh Oh damn it, Luhan kau sempithh shhh"

Desahan demi desahan, erangan demi erangan menjadi musik latar dari ruangan minimalis itu hingga akhirnya Luhan berteriak kencang karena klimaks pertamanya yang sempat tertunda tadi.

"AHHH Sehunniieeee..haah..haahh..nghh"

"Aku belum..Luhann nghh.." Sehun belum mencapai puncaknya, dengan gerakan cepat ia menghantam dirinya dengan tubuh Luhan dengan cepat, penis Luhan yang sudah layu itu terlihat bergerak-gerak mengikuti tempo Sehun yang cepat. Luhan sudah lelah dan hanya bisa menandarkan kepalanya ke belakang di bahu Sehun sedangkan pemuda pucat itu menggigit dan menghisap kembali bahu mulus Luhan.

"Ahh ahh Sehunnhh.."

"Ahhh aku keluarhh…" semburan cairan putih itu mengisi rectum Luhan yang tadinya terasa kosong, cairan yang terlalu banyak itu meleleh di pahanya karena tidak bisa menampung lebih banyak. Badan keduanya merosot dan lebih memilih berbaring tanpa alas di atas lantai yang dingin. Sungguh melelahkan..

"Cepat lepaskan penismu sekarang atau aku akan mengencangkan hole-ku, Sehun.."

"Hm, lakukan saja. Aku akan menggenjotmu lebih liar lagi.."

"Kau—suara apa itu?" perkataan Luhan terhenti saat ia mendengarkan suara yang tak jauh dari tempat mereka berbaring.

"Suara apa? Ini sudah malam Luhan, jangan buat aku paranoid" Luhan mengabaikan ocehan Sehun dan karena penasaran ia mulai bangkit dengan perlahan melepaskan tautan penis itu dari hole-nya. "Ahhh…" pemuda manis itu sempat mendesah dan menggigit bibirnya. "Aku mendengarnya Sehun, suara bayi menangis..di dekat sini.."

Sehun yang bingung melihat tingkah Luhan akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menemani pemuda itu dengan merangkak ke sisi pintu masuk apartemen mereka, "Jangan mulai, kau kebanyakan nonton film horror, Lu"

"Tidak aku-"

"Hueeeee" suara yang dicurigainya itu menjadi lebih keras saat Luhan akan meraih gagang pintu masuk apartemennya. Tanpa berpikir, Luhan membuka pintu dengan keadaan dirinya yang telajang bulat. Masa bodoh, kali ini Luhan dalam keadaan siaga untuk berlari dengan telanjang jika sesuatu yang aneh benar-benar terjadi. Namun sesuatu di bawah sana sukses membuat kedua bola mata bak rusa itu melebar, mulut menganga dan alis yang berkedut parah. Disana tergeletak sebuah keranjang rajut yang di dalamnya terdapat makluk paling dihindari oleh Luhan, yakni seorang bayi. Kali ini Luhan tahu apa maksud dari keadaan ini dan dia menyesal telah membuka pintu itu. Sungguh sial….

"Hueeeee Hueeee"

"Omonaaaaa andwaeeeee….."

-seselulu-

Mianhae karena updatenya yang terlalu lama, author lagi galau pasca wisuda. Mau cari kerja belom dapat-dapat haha..doain ya author dapat kerja di tempat yang diinginkan hehe.. mianhae klo nc-nya kurang hot. Belom pengalaman haha…

BIG THANKS TO RIVIEWER PERTAMA SAAT PROLOG DAN KESETIAAN KALIAN NUNGGU FIC INI YANG UPDATE TERLALU LAMA

SILAHKAN BACA-ENJOY- ^^