Terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat yang udah review dan baca, maaf kalau bahasa indonesia saya kacau dan banyak mis type.
Rate berubah jadi T dan khusus chapter 2 ini sedikit usxuk.
Disclaimer: Hetalia punya Hidekaz Himaruya.
Amerika tak bisa tidur semalaman pernyataan cinta Rusia terus terngiang di otaknya.
"Ukh…sial! Kenapa aku tidak bisa melupakan kata-kata konyol itu sih," umpat Amerika dalam hati masih terbaring lemas di ranjang king size miliknya.
-Ding-Dong-
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi membuatnya segera keluar dari kamarnya dan melangkah menuju pintu depan dengan terpaksa. Saat membuka pintu depan ia hanya menemukan sebuah buket bunga primrose di lantai teras rumahnya.
"Siapa yang meletakan bunga seperti ini ya?" batin Amerika sambil melihat kartu yang tertempel di pita pengikat buket tersebut.
To my dearest Amerika:
Ini sebagai tanda keseriusanku padamu.
With Love,
Rusia
Seketika itu juga bagai tersambar petir Amerika membatu, seluruh tubuhnya merinding, tanganya bergetar masih memegang kartu yang baru saja ia baca.
"Ternyata…..dia benar-benar serius…"
Rasa takut mulai menyelimutinya tapi disaat yang sama ada perasaan lain di hatinya yang tak ia mengerti, apakah itu?
Tanpa ia sadari ada tiga makhluk yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
"Sepertinya berhasil, dia benar-benar membacanya," kata Francis dengan senyum ceria.
"Da, tapi kenapa kau mau membantuku sampai memilihkan bunga dan kartu, da?" Tanya Rusia dengan tatapan curiga.
"Tidak ada maksud apapun kok aku hanya ingin melihat kalian berbaikan, benarkan Japan?" jawab Francis bohong.
"Iya benar," jawabnya sambil memegang kamera yang diarahkan ke Amerika.
"Kenapa kau merekam Amerika da?"
"Maaf, tapi Hungary-san yang tak bisa ikut memintaku merekam kejadian hari ini."
"Sudahlah Rusia biarkan dia merekamnya sebentar tak rugi kan."
"Terserah kalian da," jawabnya singkat matanya terpaku pada sosok Amerika yang kemudian masuk kedalam rumahnya.
"Apa dia akan benar-benar melihatku…," gumam rusia pelan.
England berdiri di depan pintu rumah Amerika, memencet bel berkali-kali sambil mengumpat kesal. Ia melihat jam tanganya dan alisnya makin mengerut.
"Bagus! Sudah 20 menit aku berdiri disini dan si bodoh itu masih belum keluar juga!"
Tak sabar menunggu lebih lama England mencoba memutar kenop pintu dan pintu pun terbuka.
"Dia tidak mengunci pintu rumahnya, ceroboh sekali," pikir England sambil melangkah masuk ke dalam mencari sosok si pemilik rumah.
England menemukan Amerika sedang tertidur di sofa ruang TV-nya dengan posisi pemandangan itu, England mendekat ke arah Amerika sambil bergumam, "jangan-jangan dia sakit," lalu menempelkan keningnya dengan kening Amerika mencoba merasakan suhu tubuhnya.
"Dasar mesum…," komentar Amerika membuat England melompat kaget dan melangkah mundur.
"K-kau…pura-pura tidur ya!" Jerit England kesal.
"Tidak, aku baru saja bangun. Beberapa hari ini aku tak bisa tidur."
Tentu saja Amerika tak bisa tidur setiap hari Rusia mengirimkan buket bunga lengkap dengan kartu berisi kata-kata romantis yang siap bikin merinding.
"Kupikir kau sakit."
"Karena itu kau melakukan perbuatan mesum itu ya~" Ejek Amerika.
"Aku memeriksa suhu tubuhmu, bodoh!" Balas England.
"Apa yang ada ditanganmu itu?" Pertanyaan Amerika menyadarkan England dengan buket bunga primrose yang ada di tanganya.
"Aku menemukan ini di teras rumahmu dari Rusia."
"Lagi….," jawab Amerika sambil menghela nafas.
"Lagi?"
"Dia sudah mengirimkannya selama 4 hari terakhir."
"Pantas aku melihat primrose bertebaran di ruangan ini."
"Itulah alasanku memintamu kemari, masalah itu yang ingin kubicarakan. Sebenarnya dia-"
"Dia menyukaimu?" Tanya England memotong kata-kata Amerika.
"Kau tahu?" Amerika balik bertanya dengan wajah heran.
"Tentu saja, aku membaca kartu yang ada di bunga ini"
Jawab England sambil melemparkan bunga yang dipegangya dan berhasil ditangkap Amerika.
"Serius deh, kenapa primrose…?"
Kata Amerika menatap heran bunga yang berpindah ke tanganya. Mendengar ucapan Amerika, England menghela napas panjang dan mulai memberinya suatu penjelasan.
"Setiap bunga punya artinya masing-masing mereka punya bahasa tersendiri dan bisa menyampaikan sebuah kata-kata dan arti dari bunga primrose itu adalah tak bisa hidup tanpamu atau awal keremajaan tapi kurasa bagi pengirimya lebih ke pengertian yang pertama," jelas England panjang lebar. Amerika tak merespon sama sekali hanya memandangi bunga yang ada di tangannya.
"Tapi sejak kapan dia jadi romantis sampai mengirim bunga dengan kartu dan ucapan ya…?" England melanjutkan, meletakan tangannya di dagunya (pose mikir).
"Aku tak mau memikirkannya!" Jawab Amerika ketus, wajahnya memerah.
England terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya baru pertama kali ini dia melihat Amerika berwajah seperti itu. Ada perasaan tak senang dalam dirinya dan dia sendiri merasa heran dengan perasaannya.
"Kenapa aku merasa kesal? Apa benar aku cemburu?" Pikirnya, matanya memperhatikan Amerika yang bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja di dekat TV-nya.
"Apa aku menyukainya? Tapi masa sih…mungkin memang harus kupastikan…." England mulai tenggelam dalam pikiranya, matanya masih memeperhatikan Amerika yang sedang meletakan buket bunga ke dalam vas. Perlahan ia berjalan mendekat ke arah Amerika.
"Amerika…," panggil England pelan.
Amerika berbalik menatap England yang ada di hadapannya. Jarak mereka berdiri sangat dekat membuat Amerika merasa gugup. England menatap Amerika dalam-dalam dan meletakan tangannya di dada Amerika lalu mendekatkan wajahnya.
"England apa yang-" Amerika tak bisa melanjutkan kata-katanya, England mengecup bibirnya pelan, membuatnya benar-benar terkejut. Ciuman itu berlangsung singkat tapi cukup untuk membuat jantung Amerika hampir copot. Selama beberapa saat mereka hanya saling pandang sampai suara pelan Amerika memecahkan kesunyian di antara mereka.
"England?" Amerika memberi pandangan heran.
"Err…i-ini…" England memalingkan wajahnya mencoba menemukan kata-kata yang tepat sementara Amerika terus menatapnya menunggu jawaban darinya.
"Ah…hal semacam itu sedang populer di tempatku aku hanya ingin mencobanya tidak ada maksud apa-apa kok," jelas England wajahnya terlihat gugup.
"Hah?" Amerika mengerutkan alisnya meragukan ucapan mantan motherland-nya.
"Oh ya, masalahmu dengan Rusia kurasa sebaiknya kau memastikan perasaanmu sendiri apalagi besok kita ada rapat Negara maju," England melanjutkan ucapannya berusaha terlihat tenang.
"Aku harus pergi sekarang pekerjaanku belum selesai."
England melangkah pergi dengan cepat meninggalkan Amerika yang masih berdiri kaku tak percaya dengan apa yang baru saja menimpa dirinya.
Amerika menjatuhkan tubuhnya ke salah satu sofa terdekat dan mulai berpikir, berusaha mencerna kata-kata England barusan. Rasanya mustahil England menciumnya hanya untuk mempraktikan kebiasaan baru di tempatnya dan masalah dengan Rusia, ucapan England ada benarnya ia harus memastikan perasaannya. Besok rapat para Negara maju, baik England dan Rusia ada disana, dia harus bicara pada kedua orang itu dan mengakhiri semuanya.
Maaf ya ceritanya makin gaje aja author-nya juga gaje(?) si.
Review please...
