N.B: kesamaan ide hanyalah sebuah kebetulan belaka
Halo, karena reviews di fic ini sudah mencapai targetnya, maka ini dulu deh yang dilanjutin~ yang HMO sama Numbers: Encore ditunda sebentar ya '_'
Sepatah kata, seluruh kata-kata bahasa Prancis yang ada disini itu hasil translate dari sebuah website legendaris, yaitu Google Translate. Jadi siapa tahu ada readers yang bisa bahasa Prancis, kalau ada kesalahan Hika meminta maaf... Dan Hika juga minta maaf kalau ada kesalahan dalam pendeskripsian seluruh tempat di Prancis dalam fic ini, Hika belum pernah kesana dan hanya menggunakan internet sebagai refrensi saja xD
Oke deh balesan reviews:
Kurotori Rei: tapi cinta itu kan tidak boleh dipaksakan, jadi terserah Len mau nikah sama siapa *digampar*
Kei-T Masoharu: ding dong! Tebakan anda tepat sekali! Terima kasih telah menunggu~
Kiriko Alicia: jawaban dari pertanyaan Alice-san ada di chapter ini kok!
Mikan chanX3: iya, tebakan Mikan-san benar kok! fic lainnya akan dilanjutkan bila jumlah reviews nya sudah mencapai target (30 reviews buat Numbers: Encore dan 20 buat HMO, buat yang Encore sudah punya ide sih, tapi details nya belum dipikirkan ._.)
Sara Sawauchi: terima kasih sudah nge fav ^^
Flaesy Kujyou: ini sudah lanjut, terima kasih telah menunggu~
Enjoy chapter 2!
First Wedding Mission!
a fanfiction by hikari-lenlen
Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media
Dream Day (c)its rightful owner
Kagamine Wedding Organizer, 03.31 A.M
Normal P.O.V
"La la la~ Bonjour, je t'aime, bonne nuit, umm... oh ya, merci, désolé, eh... Oh!"
KLIK
"WOOI LEEEN BANGUN LO! LO MAU KE PARIS GAK? UDAH JAM SETENGAH 4!"
"WHAT THE FUUUU— Rin bisa tenang dikit nggak sih?!"
Len—lelaki malang yang terbangun oleh suara berfrekuensi tinggi itu hanya bisa mengucek mata, serta mengacak rambutnya sendiri—dia lagi minta dikasihani. Ya, beginilah kelakuan tokoh kesayangan kita, alias Rin dan Len jika mereka lagi sendirian. Kalau lagi di depan klien (atau detik-detik sebelum bertemu klien) rasanya sangat berbeda ya.
"Enak aja! Jam lima kita tuh udah harus ke bandara tahu! Sana buruan mandi! Gue udah siap dari tadi!" cetus Rin, lalu menyodorkan satu setel pakaian resmi milik Len.
"Siap, komandan... Eh tunggu! Kau nggak tidur ya semalam?" selidik Len ketika ia menyadari bahwa ada kantung mata melekat di wajah partner-nya itu,
"Tentu saja! Aku belajar bahasa Prancis! Meskipun akhirnya tidak banyak yang bisa dipelajari sih..." jawab Rin sambil memamerkan buku 'Bahasa Prancis Singkat dan Lancar'-nya.
Len geleng-geleng kepala. "Rin... Rin. Lo itu gimana sih? Kita bisa pakai Bahasa Inggris disana!" sanggah Len.
"Tapi Len, kita itu Wedding Planner, jadi kita harus menjaga profesionalisme kita!" kata Rin bangga, sementara Len hanya bisa mengangkat bahunya dan pergi menuju ke kamar mandi.
Vocapolitan Airport, 04.58 A.M
Pip pip
"Hm?" gumam Len sambil mengeluarkan HP-nya. Bunyi tadi adalah nada dering yang menandakan adanya pesan masuk di HP Len.
"Dari siapa tuh? Masih pagi gini..." kata Rin. Tanpa menghabiskan waktu, Len pun segera membuka pesan itu.
From: Miku Hatsune
Subject: Paris
Halo Kagamine-senpai, ini Miku Hatsune. Aku dengar kabar bahwa Kagamine-senpai sudah mendapat klien pertama dan sekarang sedang menuju ke Paris~ Jadi semoga beruntung Kagamine-senpai! Sukses ya!
Received today, 04.58 A.M
"Miku-chan ya?" tanya Rin lagi. "Cie... di SMS-in pagi-pagi~" godanya.
"Sudah ah Rin!" kata Len sambil menyimpan kembali HP-nya dengan terburu-buru, dan segera memalingkan pandangannya dari Rin. "Masuk yuk! Pasti Megurine-san sudah menunggu!"
"Fufufu~ Akui saja Len~ By the way kau tidak perlu memanggilnya Megurine-san, Luka-san saja udah cukup kok." lanjut Rin sambil tersenyum jahil.
"Rin-chan! Len-kun! Disini!"
Benar saja, Len sudah bisa melihat sosok berambut merah jambu panjang yang begitu familiar, sedang melambai-lambaikan tangannya.
"Luka-nee! Ohayou!" sapa Rin sambil berlari ke arah sepupunya itu. Len pun ikut berlari, mengikuti wanita itu dari belakang.
"Pesawatnya berangkat lima belas menit lagi! Yuk masuk! Pasti kita sudah boleh masuk ke pesawat, makanya sini, barang kalian harus dimasukkan ke bagasi dulu." Luka pun memandu kedua Wedding Planner itu menuju ke pesawat seperti layaknya seorang pramugari. Iya sih, Luka memang pernah bermimpi untuk menjadi seorang pramugari saat ia berumur tujuh tahun.
Vocapolitan Airport (Flight A-250) 05.10 A.M
"Aku mau duduk di dekat jendela!" ucap Rin bersemangat, sambil mengklaim tempat duduknya itu. Len pun duduk di sebelahnya, dan Luka mengambil tempat duduk yang tersisa.
Jadi posisi duduknya adalah Luka-Len-Rin.
Len, kau sudah resmi dapat harem yang bagus.
Oh, lupakan itu.
Sementara menunggu pesawat itu lepas landas, Rin kembali mengeluarkan kamus keramatnya—maksudnya kamus Jepang-Prancis-nya, serta membuka halaman yang sudah ditandai sebelumnya, dan kini ia sudah berkutat lagi dengan buku kecil tersebut.
"Uhm... s'il vous plaît..." gumamnya.
Lain dengan Luka dan Len. Luka sedang berbicara dengan salah satu pramugari disana—mungkin ia memesan menu sarapan pagi, sementara Len sedang membolak balik majalah Airline Shop yang tersedia disana. Siapa tahu ada barang yang menarik untuk jadi kenang-kenangan.
THUD
"Eh?" gumam Len lagi, ia menoleh ke kiri, dan ia pun merasakan beban di bahu kirinya—yang ternyata adalah... kepala Rin. Ya, tebakan kalian benar, Rin tertidur di bahu Len.
"..." bibir Len tertarik ke atas, membentuk senyuman yang terkesan... lembut. "Salah sendiri tadi malem nggak tidur." katanya lagi, lalu ia bersandar ke kursi pesawat, dan mencoba menenangkan dirinya—sekaligus menjaga Rin, agar ia tidak terjatuh saat pesawat lepas landas nanti. Tak lupa, Len juga memasangkan sabuk pengaman Rin. Dan terakhir, ia memegangi kepala Rin—yang masih bersandar di bahunya.
"Hmm..." Luka yang menyaksikan adegan itu ikut tersenyum—tersenyum licik lebih tepatnya.
Hotel Castille Paris, 04.07 P.M
"Huaah, perjalanan tadi melelahkan sekali~" kata Rin sambil menguap lebar—untung saja tidak ada lalat yang masuk ke mulutnya.
"Alah, lo tadi tidur aja kerjaannya, jadi jangan salahin gue lah." tukas Len sambil membantu mengeluarkan barang-barang mereka dari taksi.
"Emang gue nyalahin lo? Nggak 'kan?" ucap Rin sambil masuk ke lobi. "Aah! Gakupo-nii!"
Orang yang disebut "Gakupo-nii" itu bernama lengkap Gakupo Kamui, calon suami Luka. Rambutnya warna ungu, panjang, dan diikat model ponytail. Memang sih, biasanya dia mirip banci, tapi hari ini penampilannya terlihat begitu berkelas dan elegan, karena ia memakai blazer dan kemeja. Mungkin dia mau menjaga selera fashion-nya, mengingat ia sedang berada di Paris sekarang. Sekarang Rin benar-benar mengerti alasan mengapa sepupunya yang cantik itu bisa suka pada orang seperti ini.
"Ah, halo Rin-chan, lama tidak bertemu. Mohon kerjasamanya ya." sapa Gakupo sambil menyodorkan tangan kanannya, hendak bersalaman dengan wanita mungil yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu.
Ups, Rin hampir lupa kalau ia ke Paris untuk urusan bisnis, bukannya reuni keluarga! "Ya, mohon bantuannya juga!" kata Rin sambil berjabat tangan dengan Gakupo. Len yang sudah masuk ke lobi hotel pun ikut terpana dengan penampilan Gakupo, namun Luka hanya tertawa geli saja.
"A-ah, saya Len Kagamine, partner-nya Rin. Mohon bantuannya." kata Len sambil membungkuk sopan di depan Gakupo.
Gakupo terkekeh pelan.
"Iya, aku sudah dengar dari Luka. Malam ini kita semua istirahat dulu, nanti kita makan malam di restoran bawah, setelah itu kalian boleh kembali ke kamar masing-masing. Ada empat kamar yang kami sewa. Kamar 076 adalah kamarnya orang tua Luka, kamar 100 itu kamar Luka, kamar 101 itu kamarku, sedangkan kamar 103 adalah kamar kalian. Mengerti? Sekarang kalian boleh menaruh barang kalian dulu, setelah kalian mandi kumpul lagi di restoran lantai satu. Ini kunci kamar kalian." jelas Gakupo panjang lebar sambil menyerahkan kunci bernomor 103 kepada Len.
"Terima kasih, uh... Gakupo-san!" Len menunduk lagi, lalu ia membawa kopernya ke lift, diikuti dengan Rin.
Melihat kepergian kedua Wedding Planner itu, Luka dan Gakupo menyeringai.
Hotel Castille Paris, Room 103, 04.28 P.M
"Gue buka dulu kamarnya..." ucap Len sambil memasukkan kartunya ke celah yang tersedia.
KLIK
.
.
.
.
.
.
Krik.
.
.
.
.
.
.
Keheningan melanda kembali.
"Rin..."
"Ya?"
"Ini 'kan... kamar double bed?" akhirnya Len mengucapkan lima kata itu dengan takut-takut.
Betapa bodohnya mereka berdua, tidak menyadari kesalahan itu sejak tadi. Seharusnya Len dan Rin sudah menyadari kebodohan mereka saat Gakupo menyebutkan "kunci kamar kalian". Sudah terlambat, mereka sudah tidak bisa protes lagi pada Gakupo dan Luka. Mereka harus menerima fakta bahwa...
...Mereka akan tidur sekamar. Dengan ranjang double bed.
Luka sudah merencanakan hal ini sejak di pesawat tadi, baik Len maupun Rin tidak menyadarinya sama sekali.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK!"
'Aduh... bagaimana ini?' batin Rin panik dan galau. Karena sebetulnya perasaannya pada Len melebihi batas 'seorang teman' ataupun 'rekan kerja'—ya, bisa dibilang kalau Rin... mencintai Len. Bagaimana Rin akan melewati semua ini?
.
.
To be continued
Jadi? Bagaimana chapter 2 ini? Reviews dari kalian semua selalu ditunggu! Kritik pun tidak masalah, asal tidak nge flame saja OwO
Akhir kata...
Review, please?
