Spring glass (butterfly)

Disclaimer : EXO never be mine, but the plot and story are originally mine!

Cast : Lumin feat chibi!baek and chibi!soo

Rate : T

Genre : college!au, pwp, ga jelas.

Author's note : sekuel dari Red light. Lagi mood aja, ga aku cek ulang. Maaf kalo typo bertebaran/ alurnya susah dipahami. Perubahan pada detil-detil kecil.

Spoiler: "Eomma, Kyungsoo membawakan bunga! Bukankah Eomma senang?" ujar Kyungsoo spontan membuat Luhan lagi-lagi melotot. Apa-apaan itu? Eomma?! Minseok yang sedari tadi menampilkan senyum ikut melebarkan matanya mendengar bocah bernama Kyungsoo memanggilnya Eomma. Baekhyun pekikan tertahan memanggil nama Kyungsoo yang tersenyum melihat wajah Minseok.

2264 words count

/

Luhan lagi-lagi terbangun dari tidur minimnya. Seingatnya, ia ambruk kehabisan tenaga di pukul empat pagi dan suara berisik di kamar mandi di pukul tujuh tak membantunya sama sekali. Luhan mendengus kesal, ia tidak bisa tidur lagi. terpaksa ia duduk di pinggir kasur dengan selimut yang masih melilit badan polosnya.

Dug!

Tanpa pikir panjang Luhan langsung berlari ke kamar mandi yang kebetulan tak dikunci dan mendapati pria bersurai cokelat gelap sedang berjongkok sembari memegang keningnya yang berdenyut-denyut. Rupanya pria bersurai cokelat gelap itu baru saja menabrak tembok kamar mandi.

Luhan tertawa dalam hati. Benar-benar konyol.

Luhan kembali menyalakan shower yang baru saja dimatikan oleh pria bersurai cokelat itu. Menikmati bulir-bulir air mengalir deras menerpa rambutnya yang basah akan keringat, juga badannya yang lengket. Ia merasa segar.

Selesai mandi, Luhan mengambil handuk bersih yang disimpan di rak dalam kamar mandi dan melilitkannya di bagian privatnya. Mengabaikan pria bersurai cokelat yang masih berjongkok, ia menggosok giginya dan mencuci mukanya secara kilat. Lalu kembali ke kamarnya, meninggalkan pria satunya meringis kesakitan.

"Ugh," erang pria bersurai cokelat gelap itu pelan. Ia mencoba bangkit berdiri tanpa sempoyongan, tapi kedua kakinya tak mampu menopang berat badannya karena rasa keram bercampur perih di pantatnya. Terlebih dengan penglihatannya yang buruk ia berjalan sembari merapat pada tembok. Mencari pintu kamar mandi diujung dari tempatnya saat ini.

"Kau sungguh merepotkan, Min-a," ujar Luhan yang telah memakai baju lengkap, Minseok menyipitkan matanya agar bisa melihat jelas wajah gelap pria dihadapannya. Luhan menyodorkan kacamata yang tersimpan di nakas kamarnya kepada Minseok. Pria kaku itu menerimanya dengan penuh rasa terima kasih dan juga rasa bersalah.

"Ma-maaf," jawab Minseok hati-hati. Takut menyinggung Luhan setelah membuatnya bangun sepagi ini, pasti mood pria kaya ini sedang buruk-buruknya!

Luhan meletakkan baju lamanya di rak handuk, "Cepat ganti, kita akan sarapan di kafe depan apartemenku," Minseok hanya mengangguk singkat sebelum Luhan keluar dari kamar mandi. Biasanya, pria kaku ini menghabiskan sepuluh menit untuk menyikat gigi dan mencuci muka kini harus memangkas lima menit agar ia tidak dicekik oleh pria kaya itu. Untung saja Luhan pengertian sehingga ia tak harus memakai skinny jeans dan memilihkan celana kain yang sedikit melorot dari pinggangnya jika tak ada sabuk. Setelah mematut diri, Minseok keluar dari kamar mandi lalu melipat bajunya yang berserakan di lantai kamar tidur Luhan dan dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Sedangkan untuk baju Luhan yang kotor ia masukkan ke dalam mesin cuci dekat pantry.

Perlahan Minseok mendekati Luhan yang terkantuk-kantuk di sofa beludru merah darahnya, "A-aku sudah siap, Luhan-ssi," Luhan terlonjak dari tidur ayam-ayamnya. Lalu meraih kunci audinya dan menggeret Minseok keluar dari apartemennya. Perjalanan menuju basement cukup sepi mengingat orang-orang masih berkutat di dalam apartemen pada pukul delapan pagi dan betapa takutnya Minseok pada Luhan saat ini. Lagipula, rasa perih di bagian privatnya masih terasa nyata saat Minseok memaksakan diri untuk menyamai langkahnya dengan pria kaya itu.

"Kau ingin pesan apa?" Tanya Luhan sembari melihat daftar menu yang ada di tangannya. Minseok tampak menimbang-nimbang apa yang dipilihnya mengingat uang sakunya telah menipis di akhir bulan. Ia harus berhemat, belum nanti ia mampir ke toko optik untuk membeli kacamata baru. Terus terang saja, kacamata yang ia pakai minusnya jauh lebih kecil daripada seharusnya. Minseok berdehem kecil, berusaha menutupi suara protesan perutnya.

"S-small Americano," jawab Minseok pelan, berharap agar Luhan tak tersinggung. Namun reaksi yang didapat jauh dari dugaannya. Luhan tertawa kecil dan itu bukanlah tawa yang menyenangkan. Minseok menelan salivanya gugup.

"Jangan pikir kau akan membayarnya sendiri Minseok, baju SMA-ku bahkan masih kebesaran di badanmu," Luhan menjentikkan jarinya dan seorang waiter datang menghampirinya, mengangkat note kecil pertanda ia siap mencatat. "Dua Americano dan dua scrambled eggs," waiter itu mengangguk pelan dan meminta mereka untuk menunggu pesanannya. Minseok menunduk malu bercampur rasa bersalah. Jarinya bermain-main diatas celananya pertanda gelisah.

Suasana canggung kembali menyelimuti meja mereka, Minseok yang mulai sibuk membaca catatan biomolekul untuk kuisnya nanti dan Luhan yang menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Kembali memejamkan matanya hingga pesanan datang. Mereka menghabiskan sarapan dalam diam, benar-benar tak ada yang mau memecah suasana tersebut. Hal itu berlanjut hingga mereka dalam perjalanan menuju kampus mereka.

Minseok yang berusaha mengumpulkan kepercayaan dirinya mati-matian menoleh kearah Luhan yang memakai kacamata Gucci milik Tao. Minseok berdeham berharap agar Luhan mau melirik kearahnya barang sedetik saja. Tapi pantulan kacamata mahal itu membuat respon Luhan menjadi misteri bagi Minseok. Tapi ia tidak peduli akan hal itu, ada yang lebih penting.

"A-aku akan mencicil harga sarapanku tadi, Luhan-ssi," jelas Minseok takut-takut. Bukannya menjawab, Luhan malah melajukan kecepatan mobilnya hingga perjalanan yang seharusnya memakan 20 menit dipangkas menjadi lima menit. Tanpa banyak kata Minseok keluar dari audi mahal Luhan dan membungkuk sesaat sebelum ia benar-benar pergi dari pandangan Luhan.

Luhan menghela nafas berat. Waktu bersenang-senangnya dengan Xiumin telah habis dan si kaku Minseok kembali membuatnya terlihat seperti pria yang menyebalkan.

/

Minseok berlari sekuat tenaga menuju perpustakaan untuk mencari referensi-referensi tentang kuisnya hari ini. Tapi ia tahu betul mengapa ia memilih untuk mengasingkan diri di pojok ruangan perpustakaan. Menghindari pria kaya, Luhan, yang sudah menjadi pacarnya selama ia berkuliah di Seoul National University. Bukannya ia tak bersyukur akan status kontroversial itu, tapi ia merasa beban yang sudah dipikulnya semakin berat. Untungnya tak banyak yang tahu tentang status mereka (segelintir orang itu hanyalah Tao dan adik tiri Luhan, Sehun) jadi ia tak perlu khawatir menjadi sasaran fans anak salah satu pemilik saham terbesar di universitas tempat ia menempa ilmu.

Hanya saja rasa khawatir itu muncul ketika orang-orang tak sengaja melihatnya keluar dari audi milik Luhan. Pasti ia akan menjadi bulan-bulanan sekelompok pria kaya yang sedang bosan, juga ribuan gadis-gadis yang tergabung dalam fansclub Luhan. Yang ia lakukan hanyalah menunggu hingga waktunya tiba.

See? Ia terjungkal jatuh saat keluar dari perpustakaan menuju ruangan kuliahnya. Belum dengan guyuran kopi yang mengenai kepalanya saat mendongak keatas. Orang yang (mungkin) menjegal dan menyiram kopi kepadanya mengucapkan minta maaf walaupun terlihat jelas ekspresi puas di wajahnya. Mau tak mau ia harus bergegas menuju toilet untuk mencuci mukanya dan membasahi kaos pinjamannya dari noda kopi. Luhan pasti marah melihat baju mahalnya ternoda kopi. Belum lagi ia dikunci dari luar membuatnya tak berdaya. Ia baru dibebaskan saat jam kuliahnya berjalan lima menit. Ia bergegas naik ke lantai tiga dan berharap Dosen Kang memperbolehkannya masuk.

Ya, beliau memperbolehkan pria-kaku-yang-berkeringat-bagaikan-babi itu masuk setelah diberi tatapan menusuk dari anak-pemilik-saham-terbesar-universitas-terkemuka di Negeri Ginseng. Minseok membungkuk berulang-kali sebelum diperintahkan untuk duduk di pojok belakang. Itupun kursi yang ia duduki langsung rusak karena baut yang terlepas semua. Dengan senyum kikuk ia meminta izin untuk duduk dilantai kepada Dosen Kang. Pria berperut tambun itu mengangguk kecil, Minseok tersenyum lega.

Kuis telah berakhir sejam yang lalu dan Minseok tak ada jadwal lain sehingga ia bisa bergegas pergi ke toko optik kacamata. Uang di dompetnya masih ada dua ratus ribu won, ia akan menyisihkan lima puluh ribu won untuk bertahan hidup selama seminggu dan biaya sewa apartemennya. Minseok mendesah pelan, merutuki betapa mahalnya harga kacamata.

Ia memasuki toko optik kacamata yang letaknya berseberangan dengan cafe tempat ia bekerja paruh waktu. Sambutan bosan dari pemilik toko tak mengganggunya sedikitpun, ia langsung memilih-milih kacamata yang terpajang di etalase. setengah menit adalah waktu yang ia butuhkan untuk menjatuhkan pilihannya pada kacamata hitam seharga seratus ribu won ditambah biaya lensa lima puluh ribu won. Ia menunggu pemilik toko tersebut memotong lensa kacamatanya yang katanya memakan dua jam. Ia mengisi waktunya dengan membaca ulang catatan biomolekulnya sembari mengingat soal kuis yang diberikan Dosen Kang tadi.

"Semuanya seratus lima puluh ribu, Tuan," Minseok terperanjat kaget mendengar suara datar pemilik toko optik. Ia langsung mengeluarkan dua lembar seratus ribu won lusuh dari dalam tasnya dan menerima kembalian lima puluh ribu yang terlihat baru. Ia membungkukkan badannya sekali, mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari toko optik. Minseok merasa senang karena bisa melihat senyum tulus dari pemilik toko tersebut.

Ia bersenandung kecil sembari menunggu lampu lalu lintas berwarna merah. Kemudian berjalan diantara kumpulan manusia yang menyeberang hingga seseorang menabraknya dari arah berlawanan. Menjatuhkan kacamata baru yang ia pakai sejak sepuluh menit lalu, ia berjongkok mencari kacamatanya yang terjatuh sembari berdoa dalam hati agar tidak terinjak oleh orang-orang di sekitarnya. Sedangkan orang yang menabraknya sibuk mengumpulkan beberapa bungkus roti yang berserakan di jalan. Minseok mendengar suara riuh-rendah dari arah kafenya. Tapi ia tak peduli, ia harus menemukan kacamatanya sebelum lampu berubah warna hijau!

Ah, dapat! Minseok berseru dalam hati, ia langsung memakai kacamatanya dan menemukan orang yang menabraknya ternyata hanyalah anak kecil dengan baju lusuh yang melekat di badan kurusnya. Jalanan telah sepi dan lampu hijau menyala membuat pengendara mobil yang tak sabaran langsung menancap gas. Tak peduli dengan anak kecil yang masih mengumpulkan bungkus roti tepat didepan kap mobilnya.

"H-hyung?" panggil anak kecil berbaju lusuh itu ragu. Roti yang semula ada dipelukannya kembali berserakan di jalan aspal dan terinjak oleh ban-ban mobil lain yang melintas. Lecet di sikut dan luka garutan di tulang keringnya tak terasa perih ketika melihat seorang pria berkacamata yang menyelamatkannya kini tergeletak tak berdaya di pinggir jalan dengan darah mulai merembes keluar. Mobil yang menabraknya telah melarikan diri secepat kilat, sedangkan orang-orang sekitar bersikap seolah-olah tak peduli barusaja ada kecelakaan di depan mata mereka.

Otak encernya langsung mencari sesuatu dari dalam tas pria berkacamata itu dan menemukan telepon genggam keluaran lama dan langsung menekan tombol call di kontak pertama. Setengah menit menunggu sambungan telepon itu diangkat dengan suara sebal dari seberang, "Ada apa, Min-a?"

"M-Min hyung kecelakaan!" tak perlu basa-basi lain, Luhan langsung menaiki audinya dan mencari Minseok lewat GPS telepon genggam pria berkacamata tersebut. lima menit kemudian, ia mendapati Minseok dalam pelukan anak kecil dengan darah segar mewarnai baju putih lusuhnya. Luhan menghambur kearah mereka dan menggendong Minseok kedalam audinya, tak sadar jika anak kecil tersebut masuk ke dalam mobilnya. Ia kembali menginjak pedal gas agar bisa sampai ke rumah sakit secepatnya.

/

Walaupun kamar inap yang dihuni Minseok kelas VIP, tetap saja Luhan merasa badannya pegal ketika harus tidur di sofa sembari menunggui Minseok sadar. Kemarin dokter yang menangani Minseok mengatakan bahwa pria berkacamata itu tak mengalami cidera parah pada otaknya, akan tetapi ia harus ditransfusi darah sekitar dua kantong darah bergolongan B karena keterlambatan penanganan membuatnya kehilangan banyak darah. Luhan mendesah kecil, benar-benar merepotkan.

"Ugh," erang Minseok pelan, tenggorokannya terasa kasar sekali. Bola matanya bergerak-gerak tak nyaman dibalik kelopak matanya yang tertutup sebelum akhirnya terbuka perlahan. Luhan yang baru keluar dari kamar mandi untuk cuci muka langsung menyodorkan air putih kepada Minseok setelah membantunya untuk duduk menyandar. Minseok mengucapkan terima kasih lalu mengahabiskan segelas air dalam dua teguk. Ia mendesah lega karena tenggorokannya terasa dilumasi kembali.

"Bisa kau jelaskan mengapa kacamata barumu rusak?" tanya Luhan sembari memperlihatkan kacamata baru Minseok yang tak lengkap gagangnya dan lensa yang retak. Minseok bergidik kecewa melihat kacamata murahannya yang ia beli dengan susah payah hanya bertahan selama sepuluh menit saja.

"Aku ditabrak mobil," jawab Minseok singkat. Matanya menyipit agar bisa melihat ekspresi yang dilemparkan oleh Luhan. Sedangkan otaknya sedang berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa membayar biaya rumah sakit lalu membeli kacamata baru. Luhan mendesah keras-keras, meminta perhatian Minseok kembali.

"Itu bukan jawaban Minseok dan jangan sekali-kali kau berpikir bagaimana cara membayar biaya rumah sakit. Aku yang membayarnya," jelas Luhan jengkel, Minseok menatap mata Luhan lekat-lekat.

"Aku akan mengembalikan uangmu, Luhan-ssi,"

"Aku tak butuh uangmu Minseok! Ketika aku mengatakan bahwa aku yang membayarnya maka kau tak perlu menggantinya," tegas Luhan kehabisan stok sabar. Minseok menunduk takut. Tapi suasana gelap itu tak bertahan lama karena suara ketukan pintu lirih. "Masuk!" perintah Luhan yang masih emosi.

Pintu kamar inap Minseok terbuka dan menampilkan dua bocah berpakaian lusuh dengan bunga liar di genggaman anak bermata lebar. Luhan mendengus benci, "Ada apa kau kesini? Bukankah kau sudah kulepaskan?" bocah bermata sipit itu tak peduli dengan Luhan. Ia menarik kursi dan naik diatasnya, melihat wajah pria yang menolongnya tempo hari dengan seksama.

"Terima kasih, Min-hyung. Maaf, karena aku tak bisa mengganti kacamata hyung," ujar pria bermata sipit itu dengan nada menyesal. Minseok tersenyum kecil lalu mengusap-usap rambut hitam kemerahan bocah yang ia tolong.

"Tidak apa-apa, lagipula hyung masih punya kontak lensa. Sudah jangan merasa bersalah," Luhan melotot kearah Minseok yang memeluk bocah tersebut dengan erat. "Namamu siapa bocah kecil?"

Dengan malu-malu bocah itu menjawab, "Aku Baekhyun, dan dia adikku Kyungsoo. Kami anak yatim piatu," jelas bocah bermata sipit, Baekhyun, singkat. Ia melirik kebawah ketika kakinya ditarik-tarik oleh Kyungsoo lalu mengangguk mengerti. Kyungsoo bergantian naik diatas kursi lalu menyerahkan bunga liar yang ia cabut selama perjalanan ke kamar inap Minseok.

"Eomma, Kyungsoo membawakan bunga! Bukankah Eomma senang?" ujar Kyungsoo spontan membuat Luhan lagi-lagi melotot. Apa-apaan itu? Eomma?! Minseok yang sedari tadi menampilkan senyum ikut melebarkan matanya mendengar bocah bernama Kyungsoo memanggilnya Eomma. Baekhyun memekik tertahan memanggil nama Kyungsoo yang tersenyum melihat wajah Minseok.

"Kata Baek-hyung, Eomma sudah meninggal. Tapi nyatanya Eomma disini bersama orang lain. Apa Eomma baik-baik saja?" tanya Kyungsoo polos, menghiraukan pekikan Baekhyun. Minseok yang mendengarnya merasa bingung, Eomma? Dia kan belum menikah.

Baekhyun menarik kaki Kyungsoo agar turun dari kursi, dia kembali naik kursi dan membungkuk dalam-dalam. "Maafkan adikku, Min-hyung! Dia berkata seperti itu karena hyung sedikit mirip dengan Eomma kami," Luhan semakin melotot tak suka. Baekhyun mengeluarkan selembar foto yang sudah menguning di pinggir-pinggirnya dan menyerahkannya pada Minseok. Bola mata kucing Minseok membulat sempurna setelah melihat kemiripannya dengan ibu dua bocah kecil itu. Luhan mengambil paksa foto tersebut dan bereaksi sama dengan Minseok. Tidak mungkin!

/

Kini Kyungsoo dan Baekhyun sedang duduk di sofa, menikmati jajangmyeon yang dipesan oleh Luhan barusan setelah Minseok memohon kepadanya. Minseok tersenyum kecil pada dua bocah yang sibuk melahap mie tersebut. sedangkan Luhan menatap tajam Minseok sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Kau tak bermaksud untuk merawat mereka kan?" tanya Luhan seolah mengerti apa yang dipikirkan Minseok. Pria sakit itu menoleh kearah Luhan lalu mengangguk kecil.

"Mereka menganggapku Eomma mereka, kenapa tidak?"

"Aku menentangnya, Minseok. Hidupmu saja sudah susah, dan kau masih ingin merawat mereka? Apa kau mau seperti spongebob? hanya makan udara saja," tanya Luhan pedas.

"Aku akan menambah pekerjaan paruh waktuku, tenang saja." Lagi-lagi stok kesabaran Luhan habis. Terlebih pria yang dihadapinya adalah Minseok, bukan Xiumin.

"Kau belum sembuh dari kecelakaanmu ini, Minseok. Aku menolaknya dengan tegas,"

"Tapi mereka membutuhkanku," Luhan menghela nafas panjang. Ia memang tak bisa menang dari Minseok. Dari keras kepalanya, Minseok. Ujar Luhan mengingatkan.

"Baiklah, kalian akan tinggal di apartemenku," ujar Luhan final. Minseok tampak ingin menolak, akan tetapi Luhan sudah membungkamnya dengan kecupan singkat.

"Ini adalah perintah Minseok. Kau masih punya hutang americano dan scramble egg padaku," tatapan kaget Minseok mulai melembut. Ia memang belum mencintai pria kaya dihadapannya ini, akan tetapi perhatian-perhatian kecil dari Luhan membuatnya jatuh ke dalam pesonanya.

"Baiklah, Luhan-ssi" jawab Minseok setelah mengecup pipi kanan Luhan.

/

/-\\ sekuelnya makin gaje. Salahkan android Guri yang tiba-tiba ganti foto profil instag(e)ramnya jadi rated 17+

Sebenarnya ini salah Luhan! Dulu sebelum pangeran beijing keluar, Minseok tak seperti ini. dia juga ga pernah posting foto sunbaenimnya yang shirtless.

TT_TT atau ini semua gara-gara dia kena demam-body ache-flu kemarin?!

Xiumin-ah, kembalikan kewarasan oongyeos...