Summary : Harapanku yang pertama. Ingin bebas dari kekangan di hidupku. Ingin bisa menghirup udara segar dalam keheningan. Hanya itu. CHAP ONE : First Hope.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, dan um… crack pairing? :P

Hope you enjoy~! Cheers! ^o^v


One Hope © dilia shiraishi

CHAP ONE : First Hope


Bebas...

Bagaimanakah rasa bebas itu?


Apakah rasanya seperti burung di angkasa?

Terbang melayang tinggi

Membumbung bersama kumpulan awan disertai kicau riang


Ataukah rasanya seperti ikan-ikan di laut?

Berenang sejauh yang diinginkan

Menggerakkan sirip sesuai kemauan


Atau... bebas itu... seperti anak SMU yang kebanyakan kulihat?

Bersenda gurau dengan derai tawa khas remaja

Mengobrol ceria, melupakan beban

Meretas asa dalam saling genggam


Yang mana?...

...bebas itu?

.

.


Bunga yang tumbuh di halaman itu menguarkan wangi khas sehabis hujan. Seorang gadis tampak menatap bunga itu.

Termenung sejenak.

Ia kemudian berjongkok di dekat bunga itu, mengambil posisi yang menurutnya nyaman, lalu mulai membaui wangi bunga yang membuat raganya berdiam. Begitu menenangkan.

Gadis berambut pink itu lalu melepaskan pandangannya jauh. Jauh hingga posisi luar dari tempatnya berdiam. Jauh, sejauh yang ia bisa.

Ia menghela nafas lembut.

Ada asa dalam pandangan mata emerald-nya. Ada harap dalam hatinya. Sedikit keinginan yang ia harapkan. Namun sedikit pun itu, tak bisa terpenuhi. Tak akan PERNAH bisa.

Meski dalam kenyataannya, apa yang diharapnya begitu mudah. Hal kecil bagi orang-orang kebanyakan. Hanya satu. Ia ingin bisa bebas dari semua kurungan dalam hidupnya ini. Bisa menghirup udara segar di balik pagar tinggi rumahnya yang seakan mengurungnya. Tak memberinya sedikit pun ruang bernafas.

Sekali lagi ia menghela nafas lembut. Kali ini lebih panjang.

Ia kemudian memejamkan matanya. Membiarkan jiwanya terbang di bawa sedikit udara yang bisa didapatnya dari angin yang perlahan berhembus.

Berhembus menusuk kulitnya.

.

.

Dan sekejap kemudian gadis itu hanya merasakan kegelapan. Ia roboh. Begitu saja.


Gadis berambut pink itu terbangun tiba-tiba. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ia mengusap keringat itu cepat kemudian mendengus. Lagi-lagi kejadian yang terulang. Lagi-lagi ia pingsan.

Ia keluar dari kamar tidurnya dengan langkah terburu. Menghampiri kedua orang tuanya yang sedang meminum teh sambil mengobrol ringan.

Ia menatap orang yang mengasuhnya sedari kecil itu dingin. Segala bentuk prasangka buruk dan amarah bercampur dalam hatinya yang diwujudkan dengan tatapannya. Tatapan yang seharusnya tak pernah keluar untuk dua orang yang paling kau sayangi.

Mungkin.

Bila semua itu tak terjadi. Mungkin ia akan menatap kedua orangtuanya penuh kelembutan dengan sinar kehangatan terpancar. Mungkin ia justru akan segera berkumpul sambil membawa setoples kue kering buatan sendiri. Mungkin ia akan mengecup mereka tepat di pipi.

Tapi itu semua hanya berlaku jika ini tak pernah terjadi.

Dan nyatanya itu terjadi. Tak ada alasan untuknya menatap mereka dengan tatapan khas anak-anak yang menyayangi kedua orang tuanya.

Ia menghela nafas sebelum memutuskan mendekati keduanya. Setelah tepat berada di hadapan mereka, gadis berambut pink pucat itu hanya terdiam. Masih menyalurkan kebencian di hatinya melalui tatapan mata dingin. Tatapan yang dapat menusuk hati yang melihatnya.

Orang tuanya serentak menoleh padanya. Dan mereka sedikit terhenyak begitu melihat tatap penuh kebencian pada darah daging mereka. Mereka sadar telah melakukan sesuatu yang salah pada gadis ini. Mereka sadar telah melakukannya lagi. Tapi mereka melakukannya karena terpaksa.

Gadis itu mengepalkan kedua tangannya geram. Ia mulai menghimpun keberanian untuk berkata-kata. Menyiapkan seuntai kalimat paling pas yang dapat menohok langsung jantung kedua orang tuanya. Tak peduli dengan bisikan hati nuraninya untuk berkata perlahan saja.

"Mengapa Ayah dan Ibu tak pernah mengerti aku?! Aku hanya ingin satu! Selama ini aku tak pernah minta apa pun pada Ayah-Ibu! Kali ini aku meminta satu saja, tapi itu pun tak pernah kalian penuhi! Aku capek!!" terdengar suara pilu yang disetel sok kuat dari mulut gadis berambut pink itu.

Mata emerald-nya memancarkan kemarahan mendalam sekaligus kemauan yang begitu kuat. Membuat orang tuanya-yang sedari tadi memperhatikannya, sedikit jengah. Dan kaget.

Gadis bermata emerald itu menyeringai melihat respon kedua orang tuanya. Terlihat sudah biasa dengan respon yang dilakukan keduanya.

"Kenapa? Ayah-Ibu kenapa kaget begitu? Aku hanya menyuarakan apa yang selama ini bersemayam di hatiku!! Aku hanya ingin mengeluarkan segala macam yang kupendam hingga membuatku depresi. Aku sudah capek menjadi anak gadis penurut bagi kalian!!" serunya lagi ketika tak melihat tanggapan lebih dari sepasang suami-istri di hadapannya itu.

Ia mendengus keras pada keduanya. Terus memperhatikan lewat ekor matanya apa yang akan terjadi kemudian.

Pria di hadapannya kini mulai tak kuasa menahan amarah. Ia mengepalkan kedua tangannya. Berusaha menekan segala keinginan untuk menampar anak di hadapannya ini.

"Kau yang tak pernah mengerti, Sakura! Ini semua kami lakukan demi kebahagiaanmu!! Kami hanya memikirkan kau! Kau sudah tahu kan, kalau permintaanmu begitu berlebihan? Kau tak sama dengan orang normal lainnya, Sakura!"

Gadis yang dipanggil Sakura itu menatap pria di hadapannya tajam-tajam. Berharap kalau tatapannya itu dapat menyadarkan ayahnya bahwa ia begitu menginginkan terwujudnya harapan.

"Untuk kebahagiaanku, huh? Tapi aku tak pernah bahagia dengan perlakuan semacam, ini! Ayah tahu apa? Tak ada kan? Ayah tak pernah tahu kalau aku begitu menderita dengan semua kekangan kalian! Ayah tak pernah tahu apa yang ku inginkan!" Sakura berhenti sejenak, mengambil nafas panjang lalu melanjutkan, "Yang Ayah tahu aku ini hanya seorang anak gadis tak berguna yang harus terus di kurung dalam usianya yang sudah beranjak dewasa! Ayah tak ta-

Perkataan gadis itu segera terputus begitu ia merasakan sakit di sebelah pipinya. Ia baru saja ditampar.

"A… Aww…" lirihnya perlahan begitu menyadari kalau ada sedikit darah di sudut bibirnya. Ia memegangi pipinya yang merah karena tamparan keras barusan.

Wanita yang berdiri mematung di hadapannya tersentak. Ia segera mendekati anaknya dengan hati was-was.

"Ayah! Sakura berdarah!"


Naruto menyenandungkan lirik-lirik lagu 'A Thousand Miles' dengan riang. Ia mempercepat laju skateboard-nya sambil mengunyah semangat permen karetnya. Meniupnya dan membentuknya menjadi sebuah balon.

Hari itu jalan lengang. Sepi dari kendaraan. Penyebabnya sudah tentu, hujan deras yang baru saja mengguyur kota kecil ini. Membuat aspal jalan menjadi begitu licin dan dingin. Sedingin udara yang berhembus pelan menusuk kulit Naruto.

Naruto merapatkan jaket oranye-hitamnya. Udara yang semakin bertambah dingin membuatnya kembali mempercepat laju skateboard usang itu. Sesekali penghalang jalan tak ia hindari. Namun di lompatinya dengan penuh gaya dan ketepatan pas.

Ia kembali bersenandung senang ketika melihat sebuah halangan yang tampaknya agak sulit untuk dilaluinya. Sebuah tantangan baru yang menunggunya untuk dicoba.

Seonggok kayu setinggi pinggangnya dengan jalan beraspal licin. Jika tak hati-hati, sudah tentu ia akan jatuh terkapar tak berdaya dengan posisi tak enak di aspal super dingin.

Maka dengan memperhitungkan kecepatan, ia mengangkat papan skateboard-nya seraya melompat melewati kayu-kayu yang berserak aneh di depan sebuah rumah besar.

PRASH…!!!

Ia dengan mudah melewati kayu-kayu itu. Namun malang bagi Naruto, ia tak memperhitungkan kalau selain kayu yang disusun tinggi dan aspal yang licin, masih ada satu hal lain yang tak boleh dihiraukan begitu saja.

Batu kerikil berserak.

BRUAKK~!!!

Dengan sekali sentakan Naruto jatuh dengan tubuh berguling. Ia mengaduh keras sambil memunguti headphone besar yang terlepas dari kepalanya. Sesekali ia mengaduh kembali ketika luka di tubuhnya tersentuh tak sengaja.

Selesai memunguti semua barangnya-yang juga jatuh begitu saja, ia kembali berdiri. Bermaksud melanjutkan sisa perjalanannya dengan jalan kaki saja. Kalau ia tetap nekat dengan skateboard, maka alamat masuk Rumah Sakit akan semakin mendekatinya.

Sedikit tertatih-tatih Naruto melewati pagar tinggi yang berdiri kokoh menghalangi pandangan untuk melihat rumah besar di dalamnya. Naruto melirik rumah itu lewat sudut matanya.

Besar. Mewah dan indah.

Namun dingin, angkuh, dan menjerat.

Itulah kesan pertama yang didapatnya. Membuat pemuda berambut pirang itu cepat-cepat berjalan karena tak tahan dengan aura yang begitu mencekam. Terlebih, meski sayup-sayup, ia dapat mendengar suara seorang gadis berteriak pilu dari dalam sana…


Sakura menepis keras jemari Ibu-nya yang baru saja ingin menyentuh luka di sudut bibirnya. Ia tak sudi harus dibaik-baiki oleh dua orang yang di matanya tak berbelas kasihan itu.

Jarang-jarang Sakura bisa bersikap seperti ini. Keberaniannya lebih sering surut ketika melihat kedua orang tuanya itu. Jadi jika sekarang muncul, kenapa ia harus menyia-nyiakannya?

"Sudahlah, Bu… Aku tak apa-apa!" ucapnya perlahan. Masih menahan serangan sakit luka berdarah dan memar di pipinya itu.

Wanita di hadapannya itu tersenyum patah. Rasa sedih menelusup masuk ke celah-celah hatinya. Ia menatap Sakura sayu lalu mendesah perlahan. Setelah itu, sang Ibu menjauh dari sang anak. Memberi waktu luang bagi anaknya untuk menenangkan diri.

"Baiklah, Sakura… Ibu tak akan mengganggumu lagi. Tapi Ibu mohon, obati lukamu itu ya?"

Sakura hanya menatap Ibu-nya dengan pandangan tajam. Pertanda ia tak mau diberi perhatian. Cukup sampai disitu saja, karena ia sudah muak.

.

.

BRUAKK~!!!

Sakura terhenyak dari lamunan di kusen kayu jendela kamarnya. Ia melongokkan kepala sambil menajamkan pandangan. Membuka sudut pandang yang tak terlihat matanya.

Tampak di depan pagar rumahnya-yang penuh dengan kayu berserak-, seorang pemuda dengan rambut pirang terguling jatuh begitu saja. Tubuhnya terempas di aspal sementara skateboard-nya tampak meluncur agak jauh dari tempatnya.

Pemuda itu mengaduh keras sambil memegangi luka di sikunya yang berdarah. Sakura menatap ngeri cairan merah yang keluar deras itu. Ia memejamkan matanya.

Ah, iya..

Darah di sudut bibirnya juga belum berhenti. Namun ia malas mengobati, toh tak akan ada gunanya juga.

Lebih baik sekarang ia tutup tirai pink ini. Melihat darah yang mengucur dari pemuda tadi membuatnya mual. Ia butuh istirahat sekarang.

Tak ada yang bisa ditolerir lagi.

Sekarang. Harus. Atau ia pingsan lagi.

.

.


CHAPTER ONE END.


Nyuuh~ akhirnya saya bisa ngetik jugaa!! Setelah sekian lama nungguin kompi buluk itu diganti dengan yang baru. –curhat colongan-

Fiyuhh, hanya begini yang bisa saya sajikan untuk chapter satu. Memang terlalu sedikit, karena cerita ini baru di fokuskan pada dua orang saja. Itu pun lebih banyak ke Sakura-nya.

Huh, saya harap fic kali ini nggak bakal jadi panjang banget. Cukup tiga chapter atau lima saja. Mudah-mudahan. Dan ohya! Fic ini dispesialkan untuk Aozo-neechan yang udah rikues. Gimana neechan? Aneh ya? Aduh, maklum dulu ya, baru pemanasan nih. Nyuhuhu!!! –alesan-

Ah, sudah dulu deh. Jangan lupa, yang udah baca, di RIPYU dongg… -dengan tampang melas- Arigatou udah mau bacaa~!! :d

Special thanks : genk orochimaruk dan zhavhu ludicrous (iya, itu yang abis diedit... maaf membingungkan yaa ^^ keep writing, honey! *dibuang ke laut*), lil-ecchan (ehm, disini ketahuan pair-nya siapa aja kan? Makasih buat ripyunyaaa :d), Nara Kamizuki (makasih atas saran dan komen-nya ^^ He? Lagu A Thousand Miles terlalu cewek ya? Abis yang cocok lagu itu T.T), Hakar4 S1n (hoh? Kamu kalo bikin prolog juga pendek? TOS! ^^ Iya, ini apdetannya :p), kawaii-haruna (iya, saya kembalii~!!! Iya, ini apdetannyaaa, ripyu yaa~ *ditendang*), Dani D'mile (makasih, my senpai!!! *dilempar ke monas* Jiah, dasar! Iya, ini apdetannya~ ohya, ripyu fic saya yang Destiny juga dooong *ditimpuk*), i'm useless (kamu nggak useless kok! Saya suka fic yang Jigoku Shounen... Kenapa berhentiiii???? *nangis meraung-raung* Iya Naru naek skateboard ^^ Sekali-kali dibuat keren :d), NejiDemon (hyaaa~!!! My neechan~ *lebai* Opening yang oke, karena lagunya neechan suka nih? *tatapan menyelidik* :d Aduh! *nangkep kubis yang dilempar neechan terus dimakan* Iya, kasian kan Naru nggak pernah keren? Makanya disini dibuat keren ^^ Makasih, neechaaaan~), Kosuke Gege (Udah tau jendela siapa? Sembarangan! Naru nggak mau nyolong kok! *nyambit niisan*), NikuCross dVaizard (hei, Niku-chaan~ Iya, ntar ada lagi yang lebih crack ^^), lolipopaLavigne (kenapa pada ngira Naru mau ngerampok sih??? *frustasi*), Panik-kok-di-disko (iyeeey~!!! Ada kak Puti~!! Iya, NaruSaku ^^), Hyacinthoides (Eh! Ada kak Hyacin jugaa~! *mulai berteriak gila* Ini, apdetannya..), kakkoii-chan (iya, pengen nyoba bikin genre angst/tragedy ^^), wit_chan (Iya, ini apdetannya~ Makasih yaa), dark aphrodite (nggak papa kok, neechan. Iya ini NaruSaku ^^ Yap, apdetan disinii~!), Inuzumaki Helen (maap nggak kasih tau, senpai! Takut ganggu :[ Udah tahu pair-nya kan? Ne? Slogan baru aja bangga... *dilempar senpai*)