Who is she? she is, Luhan.

Baby Aery HHS

-Big Event HunHan INDONESIA-

Main cast : Luhan, Sehun.

Genre : Hurt, Comfrot, Romance.

Rate : M 17+.

Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.

Length : Chapter.

PS : Ga suka ga usah baca. Tapi kalo suka wajib review^^ FF ini untuk lomba, jadi mohon dukungannya dengan review kalian. Happy reading..

.

.

.

Chapter 2.

.

.

.

FLASHBACK

Sesosok pria dengan tinggi 185cm keluar dari pintu kedatangan Incheon airport. Pria itu mimiliki rambut belah dua berwarna blonde sebagai kesempurnaan ukiran wajahnya yang tampan rupawan penuh daya pemikat. Tubuh tegapnya dibalut jeans panjang yang sedikit robek dibagian lutut dan kaos hitam dilengkapi blazer hitam yang berhasil menyembunyikan dada bidang yang mampu menggoda semua kaum hawa untuk bersandar berlama-lama disana. Dia 'Oh Sehun', seorang pria kelahiran Korea murni berusia 27 tahun yang menghabiskan masa 22 tahunnya di Amerika, dan sekarang ia harus rela terdampar di Negara kelahirannya yang terasa asing karena ayah tirinya dengan tega membuangnya hanya karena kesalahan kecil yang ia perbuat. Terkutukkah Harry Edison itu! Sehun akan membuktikan sejauh mana ia mampu membalas perlakuan bejat ayah tirinya!

Kakinya yang dibalut sneakers berwarna biru melangkah bagai memiliki magnet yang bisa menarik banyak perhatian. Semua nafas wanita yang terarah kepadanya tercekat, begitu kaca mata hitam yang bertengger angkuh di hidung mancungnya dilepas, memperlihatkan mata sipit yang mampu meluluhkan dunia jatuh dalam pelukkannya. Berbagai decakan dan bisikkan penuh keterpesonaan menjadi sambutan bagi Sehun, tapi bagai tidak tergoda untuk membalas, Sehun hanya melewati sekerumpulan wanita tidak menggairah itu dengan cuek. Hell! Mereka bukan types seorang Oh Sehun!

"Kau supir kiriman Kai, kan?"

"Ya tuan."

Sehun mengamati pria berparas bule dihapannya begitu ia menemukan mobil jemputan yang dikirim salah satu temannya. Sedikit curiga tapi perjalanan dari Amerika yang memakan waktu hampir 24 jam itu mampu membuat tulang rusuk Sehun terasa seperti terpisah belah dan Sehun sudah terlalu lelah untuk sekedar mencari taxi. Dengan helaan nafas pendek, Sehun menyamankan tubuhnya duduk bersandar di kursi belakang.

Mobil itu mulai melaju meninggalkan kawasan Incheon. Sehun sudah lupa apapun yang ada di Korea, yang masih menempel dengan baik hanya bahasanya yang sudah Sehun hapal 3cm diluar kepala. Tanpa banyak bertanya akan kemana Sehun pun hanya diam, memilih mengamati suasana disekitarnya dan Sehun simpulkan Korea cukup indah, tidak seburuk seperti yang ia takutkan.

"Maaf tuan, tapi sepertinya kita tersesat."

Arah mata Sehun mendelik kepada pria bule yang duduk dibalik kemudi mobil. Sangat jelas terlihat kalau pria itu kebingungan dengan arah jalan yang ia ambil. "Kau bercanda"

"Maaf tuan, tapi aku pun baru tiga minggu di Korea."

Kim Jongin keparat! Sudah ia duga, kalau si busuk Kai itu pasti akan mengerjainya. "Keparat! hentikan mobilnya." Sehun dengan kesal mengeluarkan ponsel dari dalam saku blazernya. Tubuhnya sudah digelayuti rasa lelah tapi ia justru harus berkutat dengan permainan Jongin.

"Keparat! Apa yang kau lakukan?" Tanpa mendahulukan kesopanan, Sehun segera mengumpat begitu teleponnya diangkat.

"Kau sudah sampai?"

"Haruskah bertanya? Supir apa yang kau kirimkan untuk menjemputku?" Di sebrang sana Sehun bisa mendengar tawa menjijikkan dari Kai, dan sungguh Sehun seperti merasa ingin menendang Kai melesat jauh keluar dari bumi.

"Apa lumayan?"

"Aku lelah bangsat! Cepat jemput aku."

"Ok, aku akan menjemputmu. Kau dimana?"

"Kau pikir aku dan supir bodohmu ini tau? Aku tunggu selama tiga puluh menit."

Pip.

Telponnya Sehun matikan tanpa menunggu balasan dari Kai. Masih dengan perasaan kesal, Sehun mengamati situasi disekitarnya yang sepi dan logang. Sekedar mencari mungkin ada sesuatu yang bisa membantu Kai menemukannya lebih cepat. Tapi tidak ada apapun yang Sehun temukan, selain pemandangan didepan sana yang sedikit menarik mata. Seorang wanita yang dipukuli beberapa pria kekar, sepertinya korban rampokkan. Cukup menghibur sebagai peredam emosinya.

"Apa itu Luhan?"

"Apa?"

"Wanita yang dipukuli itu Luhan!"

Luhan? Otak Sehun mulai berpikir untuk mengingat nama ini. Luhan? Luhan? Luhan? Luhan! Apa Luhan yang dimaksud pria bule ini adalah Luhan..

Sehun Bergegas keluar dari mobil. Awalnya hanya ingin sekedar memastikan dan setelah ia dapat melihat wajah wanita itu secara jelas, Sehun tanpa pikir panjang menerjang pria yang memukuli Luhan.

"Bajingan!"

Wanita yang dipukuli itu Luhan. Bukan Luhan yang lain tapi Luhan, boneka cantiknya di masa lalu.

FLASHBACK END

Mata bulat Chanyeol terus mendelik penuh dengan tatapan menyelidik kepada seorang pria yang mengaku mengenal nona besarnya. Tidak hanya itu, pria yang menyebut dirinya bernama Sehun pun memakasa untuk ikut mengantar Luhan dan bahkan sampai jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, pria itu belum juga mau beranjak untuk pergi dan tetap kekeuh bertahan duduk di kursi samping ranjang Luhan yang masih tidak sadarkan diri.

Chanyeol tidak memungkiri kalau ia berterimakasih kepada pria yang Chanyeol nilai lumayan tampan itu karena sudah membantu menyelamatkan Luhan, tapi untuk tidak curiga kepadanya pun Chanyeol tidak bisa. Luhan memiliki banyak musuh dan pesaing dalam dunia bisnisnya jadi bisa saja kalau pria ini adalah mata-mata.

"Kau gay?"

Apa? Gay! Demi lubang sempit Luhan yang selalui Chanyeol mimpikan, Chanyeol itu masih menyukai vagina! "Apa maksudmu? Aku normal."

"Lalu berhenti menatapiku seperti itu." Sehun berujar sengit. Matanya berkilat kesal kepada Chanyeol yang berdiri disebrang ranjang Luhan. "Kau tidak usah mencurigaiku.. aku adalah kekasih nona besarmu."

Chanyeol mendecih dengan tawa geli juga tatapan tidak percaya. Kekasih? Seorang teman pun bahkan Luhan tidak punya. "Kau pikir aku percaya?"

"Eeuunngh.."

Perdebatan dua pria itu terputus setelah lengguhan Luhan yang sangat terdengar menggoda lolos sebagai tanda kesadarannya mulai timbul. Dalam keadaan tidak setengah sadarpun wanita ini mampu membuat dua pria itu berimajinasi liar ditempatnya masing-masing. Fuck!

"Nona!" Chanyeol berdehem kecil dan segera mendekat begitu melihat Luhan mulai mengerjab diatas ranjangnya. Tatapan Chanyeol penuh gambaran kehawatiran sehingga Sehun yang memperhatikan hanya memutar bola matanya malas.

Berlebihan! "Panggil dokter."

"Apa?"

"Panggil dokter."

Chanyeol mengangguki ucapan Sehun. Sedikit tergesa, Chanyeol keluar dari kamar mewah Luhan yang bernuansa cat kuning keemasan. Meninggalkan Sehun yang tersenyum puas dalam kemenangan.

"Luhan.."

Mata indahnya yang kini memiliki bekas keunguan disudutnya terbuka sepenuhnya, memperlihatkan bola mata kelam yang mampu menghipnotis ratusan kaum adam. Luhan menatapi sejenak suasana disekitarnya, dan Luhan tau kalau ia ada didalam kamarnya sendiri. Dalam hati Luhan bersyukur Chanyeol tidak membawanya ke rumah sakit.

"Sudah lebih baik?"

Kepalanya Luhan tolehkan kearah kanan. Sejenak Luhan mengamati wajah pria yang berada dihadapannya. Wajah dan suara ini terasa tidak asing bagi Luhan, bahkan tidak harus berpikir keras Luhan sudah dapat mengenal siapa pemilik suara itu. Tapi tidak mungkin jika dia ada disini. Ini pasti hanya mimpi buruknya.

"Kau tidak mengingatku? Aku Sehun, sayang.."

Colekkan didagu yang Luhan rasakan berhasil membuat Luhan tersadar, kalau ini bukanlah mimpi seperti apa yang ia kira. Tidak memperdulikan tubuhnya yang masih berdenyut nyeri, Luhan beranjak dari ranjang dengan tatapan kebencian yang ia layangkan kepada Sehun. "Kenapa kau bisa ada disini?"

Sehun tertawa dan ikut beranjak dari kursinya. "Tentu.. untuk menjenguk kekasihku." Matanya Sehun kedipkan jahil dengan langkah maju yang semakin mendekati Luhan.

"Bedabah! Pergi kau dari rumahku!"

Prang!

"Wow.. sejak kapan boneka cantikku berubah menyeramkan?" Sehun tertawa mengejek kepada Luhan yang tidak berhasil melempar dirinya menggunakan vas bunga. "Tenang Lu.. aku hanya ingin menjengukmu, Ok?"

"JAUHKAN TANGANMU DARI TUBUHKU KEPARAT!" Luhan menjerit hingga urat-urat lehernya menonjol keluar saat Sehun mencoba untuk menyentuh pundaknya. Luka sobekkan disudut bibirnya yang sudah mengeringpun kembali robek mengeluarkan darah yang sama sekali tidak Luhan hiraukan.

Sehun tersenyum lebar. Wajah Luhan yang terbakar kebencian seperti menjadi hal menyenangkan tersendiri bagi Sehun. "Sepertinya banyak yang aku lewatkan tentangmu.. apa yang membuatmu membenciku?"

"Menjauh dariku, Oh Sehun!" Luhan mencoba mendorong tubuh Sehun yang telah berhasil menghimpitnya bersandar pada badan lemari.

Tapi bagai gunung yang tidak bergerak saat bumi bergeser, apa yang Luhan lakukan pun hanya sia-sia belaka.

"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu kembali."

Dengan kasar Luhan menepis tangan Sehun yang membelai pipinya. Satu ludah tanpa keraguan bahkan Luhan berikan diwajah tampan Sehun yang tepat mengenai pipi putihnya. Sehun tersenyum miring, matanya mengkunci bola mata Luhan yang berkilat merah, dan jempolnya Sehun daratkan pada ludah Luhan yang menetes jatuh dari pipinya sebelum jempol itu berakhir di bibir tipis Sehun. Tanpa jijik Sehun menjilat ludah Luhan. "Manis.. aku merindukan dirimu."

"Bajiangan! Woo bin! Ja-mmmpphhhtttt"

Ucapan Luhan terpenggal menyedihkan saat Sehun membekap bibir Luhan menggunakan ciuman dengan lumatan kasar. Satu tangannya Sehun gunakan untuk menggenggam dua pergelangan tangan Luhan yang terus mencoba memberontak dan satu tangan lainnya Sehun gunakan untuk menjambak rambut Luhan. Menariknya kebawah hingga kepala Luhan mendongak, mempermudahnya untuk menikmati bibir manis Luhan yang bercampur rasa anyir darah.

"Bertemu kembali denganku adalah keberuntungan untukmu, cantik." Sehun berbisik disela lumatannya. Tanpa memberi kesempatan untuk Luhan membalas ucapannya, Sehun kembali menempelkan bibirnya di bibir Luhan. Tubuhnya Sehun rapatkan pada tubuh berisi Luhan yang masih terus berusaha meronta. Membuat dadanya bisa merasakan kenyalnya dua payudara milik Luhan yang sengaja ia tekan.

Sehun menggeram tertahan didalam hati. Bertahun-tahun tidak bertemu Luhan ternyata wanita ini tumbuh dengan tubuh yang menggiurkan untuk dilahap. Sehun bahkan berniat menelanjangi Luhan andai tidak ada seseorang yang menarik dirinya menjauh.

Bught!

Satu bogeman berhasil membuat Sehun tersungkur di lantai. Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah bodyguard Luhan. Sial!

"Nona.. kau tidak papa?" Chanyeol dengan segera menghampiri Luhan yang sudah dalam keadaan kacau. Nafasnya terdengar tidak teratur, rambutnya berantakan dengan peluh menetes di pelipisnya dan juga. "Nona, bibirmu.." Bibir terluka yang membengkak.

"Bawa manusia tidak berguna itu keluar dari rumahku."

"Baik, nona.." Menuruti apa yang Luhan perintahkan, woo bin segera menarik paksa lengan Sehun untuk berdiri.

"Lepaskan aku! Aku bukan anjing yang harus kau tarik-tarik." Sehun menghentakkan tangannya agar cekalan Woo bin di lengannya terlepas. "Kita akan bertemu kembali, sayang.. jangan lupakan ciuman kita." Mengerling tanpa ampun kepada Luhan yang sudah akan meledak ditempatnya.

Tangan Luhan terkepal sampai mungkin kuku panjang buatan seharga jutaan wonnya patah merugikan. Matanya terus mengamati Sehun. Seperti ingin memastikan sendiri kalau bajingan busuk itu telah menghilang dari pandangannya.

"Nona, siapa dia?"

"Apa aku mengizinkanmu untuk bertanya?"

"Maaf.." Chanyeol membungkuk kepada Luhan yang sudah berjalan menuju kamar mandi.

Sangat terlihat kalau kegelapan sedang menyelimuti Luhan dan cerobohnya dia yang hampir membuat pancing untuk malaikat maut mencabut sendiri nyawanya. Chanyeol bodoh!

.

.

Berendam dalam bathtup berisikan air hangat sepertinya bukan hal ampuh untuk bisa menenangkan pikiran Luhan. Sudah hampir satu jam ia berendam tapi Luhan belum bisa juga melupakan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Kemunculan Sehun yang tidak pernah ia harapkan dan ia duga bagaikan sebuah kisah lama yang harus kembali Luhan buka. Ia membenci pria itu! Sangat! Sangat! Membenci pria yang memiliki julukkan 'Penakluk Luhan' dimasa lalu.

"Chanyeol.. bawakan aku wine kedalam kamar mandi." Luhan menaruh kembali telpon rumah yang memang terpasang pada tembok kamar mandi –Tepat diatas bathtub yang Luhan tempati-. Tidak menunggu lama, Chanyeol masuk dengan nampan berisikan wine pilihan, gelas dan satu mangkuk es batu.

Luhan hanya duduk menyandar dengan tangan terulur, menunggu Chanyeol memberikan satu gelas berisikan wine. Setelah mendapatkan apa yang ia tunggu, Luhan segera meneguk habis wine mahal koleksinya.

Chanyeol meneguk liurnya secara kasar saat matanya bisa sedikit mengintip tubuh polos Luhan dari balik air hangat berisikan busa sabun yang sangat ingin Chanyeol hilangkan. Dalam hati, Chanyeol berdoa agar penisnya tidak berdiri mengacung tegak dan memaksanya untuk memperkosa Luhan sekarang juga.

Astaga! Itu sebuah dosa jika dilakukan dengan terpaksa. Terkeculi jika Luhan rela mengangkang didepannya.

"Penismu bertambah panjang jika sedang tergoda."

"Aahhhh.. mmpht" Chanyeol membekap mulutnya dengan mata melotot saat desahannya lolos tanpa ia kira hanya karena Luhan memberikan sentilan kecil pada penisnya.

Kekehan Luhan mengalun dengan geli ketika melihat Chanyeol susah payah merapatkan pahanya. "Jangan disembunyikan, Yeol.. aku suka menebak-nebak bagaimana penismu saat berdiri menantang. Atau.. kau ingin aku melumatnya sampai melemas?" Luhan menunjukkan wajah menggoda yang mampu membuat lutut Chanyeol bergetar hebat.

Merasa tidak sanggup menahan diri, Chanyeol segera keluar dari kamar mandi Luhan diiringi tawa Luhan yang pecah meruah mengisi kesunyian malam. Menggoda penis seseorang hingga berdiri kesakitan adalah kesenangan yang mampu menghilangkan kepenatan Luhan. Itu adalah hiburan ampuh ala Luhan yang hanya bisa dilakukan oleh sang iblis wanita.

.

.

"Kenapa dengan bibirmu?" Sesosok wanita berambut coklat panjang tergerai yang hanya menggunakan gaun tidur pendek berbahan tipis dan tembus pandang itu, segera menyambut kedatangan Sehun dengan pertanyaan.

"Ada sesuatu yang terjadi." Sehun menutup pintu apartment yang ia kunjungi menggunakan kakinya. Tangannya tanpa izin menarik keatas gaun tidur berwarna biru yang wanita itu kenakan hingga terlepas. Menyisakan G-string dan bra mungil yang menutupi sesuatu didalam sana. "Ayo kita bermain."

"Kau sudah panas?" Wanita itu mengering nakal, dan tanpa bertele-tele Sehun segera menjatuhkan tubuh wanita itu diatas sofa.

Gairahnya sudah terpancing karena wanita keparat itu dan Sehun membutuhkan bantuan untuk menuntaskannya penisnya yang berdenyut ngilu.

"Aku selalu memuja tubuhmu, sayang.."

"Nikmati dia, dia milikmu, Sehun.."

Dan keduanya tenggelam dalam kubangan menjijikan namun penuh kenikmatan yang dinamakan sex bebas.

.

.

Beberapa hari mengurung diri di rumah. Tidak mendatangi meeting, pertemuan bisnis, ataupun kunjungan pabrik hanya karena wajahnya yang masih meninggalkan bekas luka lebam. Bagi wanita yang selalu mendapatkan pemujaan seperti Luhan, sangat haram untuk keluar saat diwajahmu terdapat goresan bahkan jika itu hanya sebesar pori-pori. Dokter kecantikan yang memiliki harga tinggi dengan kemampuan ajaib pun Luhan datangkan ke rumahnya hanya untuk bisa memulihkan wajahnya lebih cepat, dan tidak sia-sia uang yang sudah Luhan buang, karena dihari kelima, wajahnya sudah kembali sempurna tanpa satu titik bekas pukulan pun yang tertinggal. Luhan puas dengan kemampuan Wendy dan Luhan berpikir untuk membalas perbuatan lancang Park Jungsoo!

Dibalut kemeja lengan panjang berwarna putih yang bagian ujungnya dimasukkan pada leather skrit hitam sepanjang lutut yang memiliki belahan dibagian belakangnya, Luhan berjalan bak bunga matahari yang baru memekar di musimnya. Semua pekerja Guman Group menyambut kedatangan Luhan dengan bungkukkan penuh kelegaan, karena itu artinya mereka tidak harus menunda 'lagi' meeting hari ini hanya karena Luhan yang kembali tidak hadir. Mengatur jadwal tidak semudah mencoret angkat di kalender.

"Apa meeting siang ini sudah siap?"

"Mereka semua sudah ada didalam, nona."

Pintu tinggi yang memiliki ukuran lebar dengan warna hitam melekat seolah menunjukkan kekokohan dari Guman Group itu dibuka oleh Chanyeol, menampakkan sekitar lima belas orang yang sudah duduk memutari meja kaca panjang yang terletak ditengah-tengah. Semua orang sontak berdiri dan membungkuk kepada Luhan, menunjukkan penghormatan yang dalam untuk sang nona besar. Namun ada satu yang hanya tetap duduk dan lebih sibuk berkutat dengan penanya dibanding tertarik untuk menoleh sekedar melihat siapa yang datang.

Walaupun Luhan hanya melihat dari samping tapi Luhan sudah dapat menebak siapa pria tidak sopan itu. "Kenapa dia ada disini?"

Chanyeol menggulirkan matanya menuju arah yang Luhan tunjuk menggunakan dagunya, dan sontak mata Chanyeol melotot saat melihat si brengsek Sehun berada disana. Duduk nyaman dengan raut wajah bosan. Chanyeol segera membuka tabnya dan melihat data-data dari pemilik toko baru di Mall Luhan dan memang ada nama Sehun tertulis disana. "Dia pemilik toko baru disalah satu Mall kita, nona. Park jungsoo sudah menandatangani kontraknya satu bulan lalu."

"Keparat! Pria itu selalu membuat masalah untukku." Gumaman penuh kekesalan Luhan hanya bisa terdengar oleh Chanyeol. "Apa yang dia jual di Mall?"

"Furniture buatan Amerika. Astaga! Dia menjual dari brand H.E, nona." Chanyeol cukup menganga saat membaca data Sehun. Apapun yang ada dibawah brand H.E bukanlah produk dengan harga murah dan kualitas rendah. Mungkin untuk membeli satu lemari kita harus menjual rumah berlantai satu dengan fasilitas halaman belakang, karena furniture yang diproduksi H.E memiliki taburan gold disetiap ukirannya dan itu gila menurut Chanyeol. Di rumah Luhan pun sudah tidak terhitung berapa furniture dari brand H.E yang dipajang. Jangan sebut dirimu kaya jika tidak memiliki sedikitnya lima furniture H.E didalam rumahmu!

"Harry Edison ingin mengembangkan bisnisnya di Korea dan menjadikan Sehun sebagai pemiliknya. Pilihan yang bodoh! Itu tidak akan berhasil." Senyuman penuh ejekkan tersemat di bibir Luhan sebelum senyuman itu berubah menjadi senyuman merekah seindah matahari disenja hari. "Selamat siang semuanya. Maaf aku sedikit terlambat."

Gerak tangan Sehun yang tengah memainkan penanya terhenti saat mendengar suara lantang Luhan memasuki telinganya. Apa suara ini benar miliki Luhan? Kepalanya Sehun tolehkan dan bagai mendapat doorprize di siang ini, rasa kantuk yang semula menggelayuti mata sipit Sehun hilang dalam sekejap. Senyuam lebar namun penuh makna kebingungan itu terukir di bibir Sehun. Sehun tidak tau kenapa Luhan berdiri disana tapi mendengar Luhan yang berbicara tentang Guman Group ataupun Mall yang akan ia tempati untuk menjual buah karya ayah tirinya, Sehun bisa menyimpulkan kalau Luhan adalah pemiliki Guman Gorup. Wow! Sehun baru mengetahui hal ini dan sepertinya setelah ini ia harus mencari tau lebih tentang boneka cantiknya yang sekarang. Sehun tidak menyangka kalau Tuhan begitu baik kepada dirinya sampai memberikan sebuah kebetulan yang cukup mengejutkan.

Semua orang memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama segala sesuatu yang Luhan beritahu sebagai kebijakkan bekerjasama dengan Guman Group. Beberapa dari mereka bahkan mencatat hal-hal penting yang menurut mereka harus diingat. Tapi tentu tidak dengan Sehun. Focus Sehun hanya tertuju pada belah payudara Luhan yang sesekali menyapa, karena kemeja yang digunakan Luhan memiliki dua kancing atas yang terbuka. Luhan seperti sengaja ingin mempertontonkan payudaranya kepada semua orang, dan Sehun cukup gila membayangkan bagaimana kenyalnya payudara Luhan sekarang. Apa sama nikmatnya seperti dulu, atau bertambah nikmat saat ia remas? Sehun sangat penasaran.

"Tuan Sehun. Apa kau mendengarku?" Luhan menegur karena sejak tadi Sehun hanya seperti manusia bodoh yang terus menatapi dirinya tanpa menunjukkan gelagat kalau ia mendengarkan semua ucapannya.

"Aku?" Sehun menunjuk dirinya sendiri dengan kekehan kecil. "Bagaimana aku bisa mendengar semua ucapanmu jika yang aku lihat hanya payudara sexymu?" Kerlingan dari mata sipitnya Sehun layangkan diujung kalimatnya.

Sontak semua wanita disana menegang dan para pria berdehem dengan canggung. Luhan mengepalkan tangannya dengan keinginan untuk melempar Sehun jatuh dari lantai tiga kantornya. Senyuman Sehun menunjukkan kalau dia ingin bermain-main dan Luhan akan memperlihatkan bagaimana ia bermain dengan levelnya yang sekarang!

Beberapa langkah maju Luhan ambil dengan tatapan tajam. "Kau tergoda dengan payudaraku?" Satu kancing kemejanya kembali Luhan buka hingga menampilkan lebih dari sekedar belahan kecil payudarnya. "Lalu nikmati itu didalam pikiranmu dan pergi dari hadapanku!" Mengeraskan suaranya dengan wajah merah padam penuh kemarahan. "Karena disini hanya tempat untuk orang yang memiliki kesopanan tinggi, ketekunan bekerja yang keras dan profesionalisme yang baik! Bukan tempat untuk orang bodoh sepertimu yang bahkan bisa membayangkan payudara seorang wanita ditengah-tengah meeting!"

Sehun mendecih dan menatap arah lain sejenak saat semua orang mulai berbisik tentang dirinya. Luhan ingin membuatnya nampak bodoh dan menjijikkan dihadapan semua orang yang ada didalam ruangan ini. Sungguh menarik! Sehun beranjak dari duduknya, dua tangannya ia masukkan pada saku kain celananya dengan tatapan datar terarah kepada Luhan. "Tentu aku akan menikmatinya.. tunggu aku sampai saat itu tiba."

"KEPARAT!" Luhan melempar buku tebal yang ada diatas meja kepada Sehun, namun lagi-lagi lemparannya tidak berhasil mengenai Sehun karena pria terkutuk itu berhasil menghindar dan keluar dari ruangan meeting dengan senyuman yang memuakkan.

Suasana menegang. Chanyeol yang berdiri tak jauh dari Luhan pun merasa takut untuk menimbulkan suara walaupun itu sekecil cicitan tikus di malam hari. Luhan terlihat sangat emosi karena Sehun dan semua orang yang ada disana menghujat Sehun telak didalam hati karena tidak bisa diragukan lagi kalau kejadian ini pasti akan berimbas kepada mereka semua.

"Batalkan meeting hari ini.. kita lanjutkan besok pagi."

Sudah terduga!

Luhan berjalan dengan langkah lebar dan wajah mengeras. Dia tidak tau kenapa hidupnya harus kembali terlempar disekitar Oh Sehun, setelah sekian lama ia menguburnya dan menjauh dari jangkauan Sehun. Menjijikan!

.

.

.

.

.

To be continue..

Sebelum menyapa aku mau bicara dulu ke kalian.. aku tau sebagian EXO L lagi gallon atau mungkin happy karena Kai dan Klee tapi disini aku mau minta buat ga bawa perasaan itu di FF ya.. sejak awal aku emang niat mau pake Kai jadi salah satu pemain dan aku harap adanya Kai di FF ini ga bikin kalian males baca atau review macam2 seperti. "Thor kenapa ada Kai?" Atau lain sebagainya.. buat yang ga suka sama hubungan KaiStal aku juga mau minta. Sakit emang, potek iya.. kesel apa lagi tapi jangan buat perasaan itu jadi bikin kalian benci ke Kai atau benci ke EXO ya^^ jadi fans baik yang dewasa dan pintar tapi apapun pilihan kalian itu hak masing-masing, aku disini cuma mau ingetin Kalo semua orang punya hak mutlak untuk bahagia dan jatuh cinta. Ga ada manusia yang salah untuk memiliki perasaan yang dipunyai manusia hidup, begitupun dengan Kai atau mungkin juga buat semua member. Aku harap ucapanku bisa direspon dengan baik. Aku minta maaf kalau mungkin ada yang ngerasa keganggu, tapi bener-bener. Ini semata karena aku sayang EXO.. ok, balik ke FF^^

Maaf aku up lama ya (-) habis gimana dong, FF yang aku tulis ga Cuma ini.. tapi aku bener-bener berterimakasih buat review kalian di chap pertama TT bener-bener ga nyangka bisa tembus 90 review untuk chap awal dan juga berasa terharu banyak yang ngasih tanggapan positive untuk FF ini, padahal FF ini bener-bener FF yang dibuat dalam waktu terdesak dan ga dipikir masak-masak. Bener-bener to the point banget. Pokoknya thanks a lot untuk kalian semua atas review, follow juga favoritnya. Lanjutin review untuk chap dua ya^^

Buat pujiaanya juga terimakasih.. kalian juga orang yang baik hati karena ga jadi sider dan mau luangin waktu untuk review. I love you buat kalian semua..

Gimana Sehunnya? Udah cukup terang ga lol

Syuku : Maaf, tapi cara penulisanku ya emang gini.. mungkin cara penulisanku ga satu selera sama kamu, tapi aku harap di chap ini bisa sesuai sama yang kamu harepin /Bow/

Insya allah chap tiga ga lama.. doain aja ya aku ada waktu^^ siplaah, see you di chap 3^^

Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS.. Salam sayang dari ayah dan bunda :*