SEBENARNYA, SIAPA ORANG YANG KAU SUKAI?

Fanfiction by: Chikara Hoshi/Ai Natsu

Gintama (Hideaki Sorachi)

Pairing: Sakamoto x Mutsu x Oryo

Karakter yang akan muncul: Yorozuya Gin-chan, Otae.

Genre: Romance, Hurt/Comfort, sedikit bumbu komedi (walaupun author kurang yakin apakah komedi yang diselipkan author itu lucu atau garing)


Pesan dari author:

Halo~

Saya ucapkan terima kasih kepada yang sudah membaca fanfic kali ini. Saya terharu, *sujudsyukur* kirain gak ada yang suka Sakamoto dan Mutsu :")

Saya mohon maaf apabila di chapter pertama terlalu pendek. Anggap saja itu pembukaan. Dan terima kasih kepada yang sudah mereview fanfic ini. Maaf kalau OOC. Dan terima kasih atas dukungan, kritik dan sarannya. Selamat membaca. Semoga teman-teman suka ^^


Bacalah fanfic ini di ruangan terang dengan jarak yang aman


Sakamoto menyadari ada sesuatu yang aneh dengan kliennya. Lalu, bagaimana dengan Oryo? Kenapa dia memasang wajah sedih?


Mutsu heran.

"Apa maksudmu Sakamoto?" tanyanya.

Sakamoto tertawa seperti biasa. Dia melepaskan tangan Mutsu yang dari tadi menopangnya.

"Sebelumnya, aku minta maaf Mutsu. Aku meninggalkanmu lagi bukan hanya untuk senang-senang saja,"

Selagi berkata seperti itu, Sakamoto merogoh-rogoh sesuatu di balik jas merahnya. Dengan sigap ia berbalik ke belakang dan menembakkan dua peluru pada dua orang di belakangnya.

Laki-laki jangkung itu mengacungkan pistolnya dengan cengiran khasnya.

"Lihat, selalu ada bahaya di mana-mana." Katanya.

Dua ronin yang membawa katana, tergeletak tak berdaya akibat tembakan dari Sakamoto. Sakamoto menyadari bahwa dua ronin itu akan menyerang mereka bertiga.

Kagura terkejut, "Mossan! Mucchi!" ternyata akibat suara tembakan tadi, segerombolan ronin jahat mengepung mereka.


Di sebuah gudang, para penjahat sedang menahan seseorang.

Seseorang berpenampilan paling mencolok, berambut merah dan memakai setelan kimono pria yang terlihat mewah.

Dan, seseorang yang diikat dengan tali di tiang penyangga, wajahnya terlihat panik.

"Kau siap menyerahkan semua kekayaanmu? Hakuto?"

Laki-laki berambut merah itu menyeringai. Ya, Hakuto sang pemilik toko elektronik yang sedang laris-larisnya, kini tidak berdaya. Ia berpikir, bahwa ia akan habis hari ini.


Di kediaman Yorozuya, Gintoki masih duduk di kursi kesayangannya sambil menonton TV. Beberapa kali dia menguap. Tandanya sudah mulai mengantuk. Shinpachi belum pulang. Dia duduk di sofa biru sambil menatap Gintoki dengan cemas.

"Nee, Gin-san." Panggilnya.

"Hmm," Gintoki dengan malas hanya menjawab dengan gumaman.

"Kenapa Kagura-chan lama sekali ya?" Tanya Shinpachi.

Gintoki mengorek telinganya, "Mana kutahu." Jawabnya singkat.

Gintoki berdiri, mematikan TV nya karena sudah mulai bosan. "Kalau kau mau pulang, pulang saja, Patsuan. Nanti juga Kagura pulang kok." Katanya.

"Tapi, Gin-san. Aku merasakan firasat buruk. Ini sudah tengah malam! Bagaimana kalau kita menjemput Kagura-chan?" ajak Shinpachi.

"Nalurimu seperti ibu-ibu, Patsuan."

"APA YANG KAU MAKSUD IBU-IBU?!" teriaknya. Shinpachi mendengus kesal, "Ayolah, Gin-san. Kau tidak lihat berita tadi, sekarang banyak kasus penculikan anak-anak!"

"Haah? Maksudmu, Kagura diculik, gitu? Hei, Patsuan, Kagura bukan anak-anak. Dia hanyalah monster yang bersemayam di tubuh anak-anak. Para penjahatpun tidak akan berani menculiknya. Atau malah kewalahan karena makannya seabrek. Kau mngerti?" jelas Gintoki.

"TAPI TETAP SAJA KITA HARUS MENCARINYA! Ini tidak wajar! Sudah setengah jam dia pergi. Padahal tokonya kan dekat!" seru Shinpachi. Dia benar-benar heran dengan Gintoki yang terlalu cuek. Atau Shinpachi saja yang terlalu panik?

Gintoki akhirnya menurut, "Ya ya. Kita akan mencarinya."


"WATAAAA!"

Kagura menghajar habis-habisan para penjahat yang menghadang mereka. Begitu juga dengan Mutsu yang tenaganya dua kali dari Kagura. Tapi Mutsu terkena tinjuan dari musuh hingga terpelanting menabrak dinding.

"Mutsu!" teriak Sakamoto. Dia terlalu mengkhawatirkan Mutsu yang tidak segera berdiri. Terlalu lengah, musuh di belakangnya melihat bekas luka di telapak tangan kanan Sakamoto, melakukan kesempatannya untuk menusuk luka lama itu, menyebabkan bekas luka itu terbuka kembali dan mengeluarkan darah yang banyak.

Sakamoto meringis kesakitan, mencabut pedang yang menancap di telapak tangannya, dan merasa marah, ia meninju wajah orang itu hingga tak sadarkan diri.

"Mossan!" Kagura yang telah membantu Mutsu berdiri, ia mendekati Sakamoto yang berlutut. Laki-laki itu memegang tangan kanannya yang terluka parah.

"Ayo kita pergi dari sini! Mucchi, Mossan, kalian ke yorozuya dulu ya,aru" dia membantu Sakamoto berdiri dan cepat-cepat pergi dari tempat itu.

Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Gin dan Shinpachi.

"Kagura-chan!" Shinpachi panik, berlari mendekati mereka. Gintoki juga terkejut.

"Sakamoto-san! Mutsu-san! Kagura-chan! Kalian kenapa? Kenapa bisa babak belur seperti ini?" Tanya Shinpachi dengan suara keras. Dia terlihat sangat panik.

"Ahahaha, ceritanya panjang megane." Sakamoto masih bisa tertawa, Gintoki terkejut melihat tangan kanan Sakamoto yang terluka "Sakamoto, tanganmu…"

"Sudah tidak ada waktu lagi. Lebih baik cepat pergi ke rumahmu, Gintoki. Mereka sepertinya mengincar Kaientai." Ujar Mutsu dengan serius.


Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang.

Sakamoto dan Mutsu segera dibawa ke rumah Gintoki untuk membersihkan luka mereka. Shinpachi membantu membalut perban di tangan Sakamoto, sedangkan Mutsu hanya mengompres lebam yang ada di pipi kirinya.

"Oi, Sakamoto. Kau bisa jelaskan apa maksudnya tadi?" Tanya Gintoki.

"Aku tak tahu pastinya, siapa mereka. Tapi mereka terlihat berbahaya. Ini menyangkut dengan klienku. Orang-orang yang menyerang kami adalah pasukan joui yang bekerja di pasar gelap. Mereka tahu ada pemilik perusahaan kaya dan datangnya Kaientai, dan akan merampas uang dan benda berharga. Yah, aku tak tau lebih spesifiknya. Itu hanya opiniku. Tapi yang jelas, klienku sedang ditahan di suatu tempat. Dan Gintoki, aku membutuhkanmu." Jelas Sakamoto.

Gintoki mendengus, "Kenapa teman-teman lamaku sering sekali melibatkanku dalam masalah mereka.".

Dia berjalan keluar. "Oi, Kagura, Shinpachi. Kalian tidur saja. Ini sudah larut malam. Biar aku dan mereka yang mengurusnya."

"Tidak! Aku akan ikut Gin-chan!" tolak Kagura.

"Aku juga!"

Gintoki memutar bola matanya, dia tidak bisa melawan jika mereka sudah keras kepala. "Baiklah. Sakamoto, tunjukkan jalannya. Dan, jangan lupa kau membayar jasaku."

"Ahahaha, tenang saja Gintoki."

Sakamoto menepuk pundak sahabatnya itu. "Aku akan mentraktirmu sake nanti, di tempatnya Oryo-chan. Ahaha hahaha,"

Mutsu diam-diam menatap punggung Sakamoto.

"Oi, Mutsu. Ayo, kutinggal nih." Panggil Sakamoto.

Mutsu berdiri, lalu segera menyusul.


Sakamoto berhasil membawa mereka ke tempat di mana kliennya ditahan. Ya, sebuah gedung tua yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman.

"Nak, selagi kami mengurus ini, bisakah kau panggil polisi?" pinta Sakamoto pada Shinpachi. Mutsu memberikan ponselnya, "Gunakan ini."

"Baik!"

Selesai menghubungi polisi, atau lebih tepatnya Shinsengumi. Mereka berhasil menuju pintu. Di sekitar situ sangat sepi. Tapi bodohnya, Sakamoto…

"Permisi! Di sini Kaientai!"

Dia berteriak.

"DASAR BEGOOO!" Gintoki, Kagura, dan Shinpachi menginjak-injak Sakamoto, Mutsu hanya mengutuk-ngutuk saja.

"Penyusup!" teriak salah satu penjahat dari dalam. Mereka membuka pintu dan mengepung Gin dan lainnya.

"Gawat! Ini gara-gara kau, Tatsuma!" gerutu Gin.

"Ahahaha, maaf."

Pemimpin sekelompok penjahat itu keluar, tertawa dan berkata "Lihat, siapa yang ingin mengepung kita, malah terpojok sekarang? Haha, Sakamoto Tatsuma, pemilik perusahaan Kaientai. Akan kubalas semua dendamku. Kau masih ingat siapa aku?"

Sakamoto kini bertatapan tajam. "Tak kubiarkan orang-orang jahat seperti kau menjalin hubungan dagang denganku. Kau memang licik, ****!"

"JANGAN SENSOR NAMAKUUUU!" teriak pemimpin penjahat itu. Hei, authornya menjadi kesulitan mengetik nama si antagonis kalau tidak disebutkan namanya.

"Dari awal kau hanya ingin menipu dan mendapat keuntungan besar. Itu karena, kau iri dengannya kan?" Tebak Sakamoto, ia melihat kliennya yang tak sadarkan diri terikat di tiang.

"Hah! Dia memang menyebalkan! Orang kampung sepertinya tak berhak untuk menjadi pengusaha!" teriaknya.

"Hei, tuan. Biar kuberi satu hal, menjadi pengusaha atau pedagang, tak boleh berperilaku iri terhadap orang lain yang lebih sukses. Dan jangan sekali-kali berperilaku curang. Kurasa, memang orang seperti kau tidak pantas bekerja sebagai pengusaha atau pedagang! Tapi lebih pantas bekerja di dalam sel penjara!" seraya berseru seperti itu, Sakamoto menembak si ****. Dan diikuti Gin, Sakamoto, Kagura, juga Mutsu yang membereskan anak buah ****.

Ternyata **** cukup pandai juga bertarung. Dia berhasil mengenai luka di telapak tangan kanan Sakamoto yang belum sembuh. Sakamoto terjatuh. Pistolnya diinjak hingga hancur.

"Sakamoto!" teriak Mutsu panik.

Terlebih lagi, si **** bersiap mengayunkan katana nya untuk menusuk jantung Sakamoto. Mutsu berlari ke arah Sakamoto, dan melindunginya.

CRAT!

Darah muncrat keluar dari mulut wanita itu. Katana milik **** menusuk punggung hingga tembus perut Mutsu. Tapi wajahnya tak menunjukkan rasa sakit. tetap datar dan tenang seperti biasa.

"Mencoba melindungi Tuanmu, gadis?" ejek ****. Dia mengeluarkan sebuah radio penghubung, dan mendengarkan suara dari sebrang sana. Sebuah suara ledakan.

"Ledakan pada kapal utama Kaientai berhasil!"

Lalu disusul ledakan kedua, ketiga. Si **** tertawa puas.

"Lihatlah, itulah akibatnya, Sakamoto Tatsuma."

Sakamoto dan Mutsu membelalakkan mata mereka. Mutsu dengan geram mencabut pedang yang menancap di tubuhnya, dan segera menebas orang menjengkelkan di belakangnya. Tapi, orang itu tiba-tiba terjatuh. Lalu munculah Gintoki yang ternyata memukul leher orang itu hingga pingsan.

"Hei, kau keluar rencana, gadis. Kita hanya melumpuhkan orang-orang jahat ini. Dan menyerahkannya pada polisi." Kata Gin. Barulah Mutsu sadar, sudah ada beberapa anggota shinsengumi datang dan menahan semua penjahat itu.

Pak Hakuto telah dibawa dengan mobil ambulan. Ketua regu pertama shinsengumi, Sougo menghampiri Kagura yang di belakang Gintoki.

"Oh, jadi ini ulah kalian." Katanya datar, sambil menatap tajam Kagura. Kagura membalas tatapan menjengkelkan itu.

"Kau membuatku bangun tengah malam, bocah!" katanya, yang masih dengan suara seperti robot.

"Hei, harusnya polisi itu siaga dua puluh empat jam!" teriak Kagura. Dia sangat geram dan ingin segera menghajar polisi di depannya itu. Tapi Gintoki buru-buru menjitak kepala gadis kecil itu.

"Jangan ribut!"

Shinpachi membantu Sakamoto berdiri, Mutsu tiba-tiba penglihatannya mengabur. Lalu pingsan.

"Ah, Mutsu-san!"


chapter 2: sake

Chikara Hoshi


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Mereka semua sedang menunggu di depan ruang IGD. Kagura dan Shinpachi tidur di kursi. Sakamoto duduk di samping Gin.

"Hei, Kintoki."

"Gintoki!"

"Maaf aku belum bisa mentraktirmu. Sepertinya aku mendapat banyak masalah hari ini, ahaha."

Gintoki menatapnya dengan tatapan ikan mati, "Itu juga karena kesalahanmu sendiri, bodoh."

"Hei, aku masih belum mengerti yang tadi itu kenapa sih?" Tanya Gintoki.

"Ohh, itu, si **** adalah,"

"Bisakah kau tidak menggunakan namanya dengan sensor? Kau membingungkan pembaca!" protes Gintoki.

"Ahaha ahahaha, aku lupa namanya, Gintoki. Beberapa bulan lalu, dia menawarkan kerjasama denganku, awalnya aku setuju, tapi tak sengaja aku menguping pembicaraannya dengan seseorang lewat telepon, dan terbongkarlah tujuan aslinya. Pak Hakuto tadi itu adalah saingannya. Mereka bersaing menjadi siapa yang paling laku toko-tokonya. Sebenarnya Pak Hakuto itu memang orang yang baik." Jelas Sakamoto.

"Oh seperti itu. Yah, lalu kau akan di sini sampai kapan?"

"Ahaha, Kintoki, cara bicaramu seperti di sinetron, ahahaha. Aku masih mengurus perbaikan kapalku. Mungkin makan waktu beberapa hari."

Gintoki menepuk bahu Kagura dan Shinpachi, "Tatsuma, aku akan pulang. Mereka sudah ngantuk berat."

Gintoki akhirnya menggendong mereka berdua. Kini hanya Sakamoto yang berada di depan ruang IGD. Dan tertidur sampai dokter membangunkannya, berkata bahwa luka Mutsu cepat pulih, dikarenakan dia dari klan Yato, yang memiliki pemulihan luka yang cepat.

Sakamoto baru masuk setelah diizinkan oleh dokter. Dia dan Mutsu banyak mengobrol, walaupun yang paling bawel adalah Sakamoto sendiri. Sampai-sampai Mutsu berkata "Kau sama saja seperti orang yang mabuk berat oleh sake. Keluarlah! Aku butuh istirahat!"

"Ahahaha, iya iya. Aku akan keluar. Lagipula aku masih mengurus perbaikan kapal. Aku akan mengeceknya."

Begitu Sakamoto berbalik, Mutsu memegang tangan laki-laki itu. "Kamu jangan lupa istirahat." Katanya.

Sakamoto menatap mata Mutsu. Lalu tertawa seperti biasa, "Iya, aku akan istirahat. Kau juga, Mutsu. Aku pergi dulu."

Mutsu menatap laki-laki itu hingga keluar, lalu menutup matanya. Ia merasa lelah.

Beberapa hari kemudian, kapal Kaientai sudah diperbaiki, dan Mutsu sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit., mereka akan berangkat ke luar angkasa lagi.

Tapi sebelumnya

Sakamoto menepati janjinya untuk mentraktir Gintoki minum sake, dia membawanya ke Snack Smile. Dan membayar jasanya Gin. Dan seperti biasa, Sakamoto menggoda beberapa gadis dan berulang kali melamar Oryo, hingga gadis itu meminta perlindungan kepada Otae. Lalu Mutsu datang menjemput Sakamoto dengan kasar seperti biasa.

Perjalanan begitu terlihat biasa saja. Mutsu yang harus mengatur semua barang-barang, sedangkan Sakamoto hanya muntah-muntah, dan dia menyuruhnya untuk beristirahat saja di kamarnya.

"Aku akan bawakan sup. Tidur dan jangan keluyuran!" perintah Mutsu. Sakamoto yang mabuk seperti biasa, hanya mengangguk, dan menarik selimut futonnya hingga menutupi leher.

Mutsu menghela napas, dia berjalan menuju dapur kapal. Seorang nenek menyambutnya dengan senyum. Terdapat selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya.

"Ah, Mutsu-sama, Anda mau makan? Ini, supnya sudah siap." Ujarnya.

"Nenek, kenapa nenek masih di sini? Bukannya nenek harus istirahat?" Tanya Mutsu, dia sedikit khawatir pada nenek sesepuh di Kaientai yang mulai sakit-sakitan.

"Tidak apa Mutsu-sama. Ini sudah tugasku." Ucap nenek itu.

"Aku minta supnya, tapi ini untuk Sakamoto."

Si nenek berteriak histeris, "Kenapa Sakamoto? Apa dia sakit? Sini aku yang merawatnya!"

Mutsu menenangkannya, "Tenang saja, Nek. Dia hanya mabuk udara seperti biasa. Dan mabuk sake."

Si nenek menuangkan sup ke dalam mangkuk kecil dan semangkuk nasi, lalu menaruhnya di atas nampan. "Mau kubawakan?" tawarnya. Mutsu menggeleng pelan, "Tidak usah. Aku akan membawanya. Terima kasih, Nek." Mutsu tersenyum, lalu meninggalkan dapur. Si nenek membalas dengan senyuman juga.

"Mutsu-sama baik sekali." Gumamnya.

Mutsu sudah di depan kamar Sakamoto, dan membuka pintunya.

"Oi, kriting. Bangun. Kau harus makan dan minum obat!"

Sakamoto membuka matanya, dan bangun sambil memegang kepalanya yang sangat sakit seperti habis diombang-ambing.

Sakamoto memakan supnya pelan-pelan. Mutsu duduk di depannya, mempersiapkan obat mabuk si komandannya itu.

"Mutsu, kau pergi ke ruang kontrol saja. Aku bisa meminumnya sendiri. Kau seperti ibuku saja." Suruhnya.

"Tidak. Aku akan di sini sampai kau benar-benar menghabiskan makananmu." Tolak Mutsu. Sakamoto merasa tidak nyaman, tapi dia tetap menghabiskan sup nya dan minum obat mabuk.

"Sakamoto." Panggil Mutsu.

"Hm?"

"Berjanjilah padaku untuk tidak mengganggu Oryo."

Sakamoto terkejut, "Kenapa?"

"Kalau kau melamarnya seperti itu, itu akan membuatnya merasa terganggu."

Mutsu mengingat kembali saat ia menjemput Sakamoto, lalu Oryo memanggilnya.

"A-ano… bolehkah aku meminta, agar… Sakamoto-san tidak menggangguku lagi? Dia boleh datang ke sini. Tapi aku tidak ingin dia terus mengejarku, karena—"

"Karena apa?"

"A-ah, tidak. Tidak jadi. Itu saja. Maaf merepotkan Anda."

…"Mutsu?!"

Mutsu sedikit terkejut, Sakamoto sepertinya telah berkali-kali memanggil.

"Kenapa melamun? Aku sudah selesai." Kata Sakamoto. Mutsu membawa mangkok itu dan segera kembali ke dapur.

"Aku tidak apa-apa. Sakamoto,"

"Ya?"

"…Berhentilah minum sake atau alkolol. Itu akan memperburuk kesehatanmu." Katanya. Sakamoto terperangah mendengar perkataan asistennya itu. Tumben, perhatian sekali.

"Terima kasih, Mutsu." Ucap Sakamoto, sembari menyunggingkan cengiran lebarnya. Mutsu menatapnya, lalu segera keluar tanpa mengucapkan apa-apa lagi.


TO BE CONTINUED

Chapter 3: Semanggi Berdaun Empat