JUST FRIEND ?
.
McM
.
HAPPY READING
.
.
AUTHOR POV
.
.
"Kenapa ?"
"Tanyakan kepada isi kepala kalian berdua !"
"Jeno-a, kau tak ingin mengalah lagi ?"
"Dia sudah membuangku.."
"AWUH..! Aku ingin memukul wajahmu.."
.
.
Jeno hanya mendengus mendengar keluhan Mark. Dia membuka bekal makan dari ibunya. Kepalanya tertunduk dan mulai menyumpit sosis. Dia kembali menghela napasnya sebelum memasukan sosis itu ke mulut. Mengunyah pelan dengan kepala tetap tertunduk.
Mark dan Renjun hanya saling tatap. Mark bertanya dengan bahasa tubuhnya, Renjun pun membalas dengan hal yang sama. Apa yang harus mereka lakukan? Membuka pembicaraan serius yang akan berakhir semakin rumit. Atau melontarkan candaan yang akan menjadi tak berguna.
Jeno selesai dan menutup tempat makannya.
"Kau baru makan satu sosis.." Renjun membuka suara.
"Aku kenyang.." singkat Jeno.
"Lee Jeno diet.." seru Mark dan membuka kotak makan Jeno. "Bantu aku, Jun-a. Aku tidak ingin membuang makanan yang dibuat oleh seorang ibu.." Mark mulai dengan aksi dramanya.
Kalau saja tangan Renjun sampai, dia sudah memukul kepala Mark dengan sendoknya.
Jeno hanya mengulum senyum.
Canggung kembali. Jeno beranjak dari duduknya, membuka ikatan tikar yang mereka bawa.
"Kenapa dibuka?" tanya Mark dengan mulut penuh.
"Karena aku ingin.." jawab Jeno dan menggelar tikarnya.
"Bodoh.." desis Renjun ditengah kunyahannya.
Jeno merebahkan dirinya, mengabaikan Mark yang memperhatikan gerakannya. "Aku mengantuk.."
Mark mengangguk. "Sampai jam berapa kau menemaninya ?" tanya Mark pada Renjun.
"Setengah tiga pagi. Aku lupa.." jawab Renjun.
"Aku menemani Nana sampai pukul satu pagi.."
"Aku tidak bertanya.."
"Huang Renjun. Jika kau seperti ini terus padaku, kau akan di deportasi !"
"Aku ingin memberimu informasi. Jauh sebelum aku mengenalmu, aku sudah menjadi warga negara Korea Selatan !"
Jeno memejamkan mata, menghalang seluruh cahaya yang masuk dengan lengan di atas wajahnya. Jeno mencoba bernapas dengan benar. Berharap semua itu akan membantunya berpikir dengan jernih. Ini pertama kalinya mereka saling tak menyapa dalam waktu selama ini. Jaemin memiliki mood yang cukup unik untuk seorang laki-laki. Jeno tidak pernah bertanya, mungkin keingin tauannya itu akan mengundang pertikaian lain dengan Na Jaemin.
Seperti yang dikatakan Mark sebelumnya. Jika ada perbedaan pendapat diantara Jaemin dan Jeno, maka Jeno yang akan mengalah. Jeno yang akan mengatakan maaf lebih dulu. Sekalipun dia yakin, bukan dia penyebab semuanya. Jeno tidak pernah merasa bersalah pada siapapun, tapi kepada Na Jaemin, dia hanya akan merasa jika dia selalu menyakiti Jaemin.
Jeno membuka matanya saat merasakan keberadaan seseorang di sampingnya. Jeno menoleh, menemukan Mark dengan kaca mata hitamnya menatap lurus ke atas.
"Renjun ?"
"Menjemput Chenle di pelabuhan.." balas Mark. "Aku hanya mengetahui dari sudut pandang Jaemin. Dan dia tau ini kesalahannya.."
Jeno tidak menyahuti.
"Aku hanya akan mengatakan itu. Selebihnya aku tidak ingin ikut campur lebih jauh.."
Jeno kembali memejamkan mata saat menerima cahaya terik.
"Renjun, Jisung, dan aku memiliki pendapat jika kau yang salah.."
Jeno langsung menoleh ke arah Mark. "Aku ?"
"Jaemin seperti itu kepadamu karena kesalahanmu. Kau yang menyerahkan dirimu kepadanya agar dia bergantung padamu.."
"Aku tidak menyerahkan apapun kepadanya.."
"Cara kau memperhatikannya, berbicara dengannya, bersikap dengannya, berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Itu apa yang selama ini kau serahkan padanya.." Mark mendudukan diri. "Kau memperlakukan kami dan Jaemin dengan cara berbeda, Jeno-a.."
Mata Jeno bergerak asal. Napasnya berhembus cukup keras. Jeno mengikuti Mark untuk duduk. "Dia seperti adik bagiku. Hanya itu. Seperti Doyoung hyeong kepadaku.."
Mark tersenyum tipis. "Chenle dan Jisung lebih muda beberapa bulan dari Jaemin. Haechan bahkan lebih manja dari Jaemin. Dan yang kau lakukan pada Jaemin, berbeda dengan apa yang Doyoung seonbae lakukan padamu. Yang menilaimu adalah sekitar, bukan dirimu sendiri.."
Jeno tidak menyahuti. Kakinya tertekuk dan kepalanya ditenggelamkan di kedua sisi lutut.
Mark menepuk puncak kepala Jeno.
"Mendapatkan sesuatu, Nana ?"
Tubuh Jeno menengang mendengar pertanyaan Mark.
"Tidak ada yang menghampiri kepalaku. Aku hanya melihat sepasang kekasih yang berciuman.." Jaemin mendudukan diri di tempat Renjun.
Mark menyusul Jaemin yang duduk di kursi kayu. Jaemin membuka salah satu bekal dari ibu Renjun. Mark menganalisa sesaat perubahaan mood Jaemin. Ini lebih baik dari pada sebelumnya. Dia makan dengan lahap semuanya.
"Kau cemburu? ingin mencoba bersamaku?"
Jaemin menatap Mark dengan smirk nya. "Kau yakin? Kau tau seberapa penasarannya aku dengan hubugan sesama jenis.."
Mark menepuk dahinya. "Aku salah memancing lawan.."
Jaemin tertawa. "Renjun ke mana?" Jaemin melihat ke arah Jeno yang duduk dengan keki tertekuk.
"Menjemput Chenle.."
Ponsel Jeno berdering dan itu dari Renjun. Jeno langsung menjwab paggilannya.
"Aku ke sana.." Jeno berdiri dan langsung memakai sepatunya. "Aku menjemput Renjun dan Chenle.."
Mark mengangguk dan langsung memperhatikan Jaemin.
Tidak ada perubahan raut atau mood apapun pada Jaemin. Dia hanya sibuk dengan makanan dan ponselnya.
.
.
Kehadiran Chenle membawa suasana lebih baik. Selama masa pertemanan mereka, satu kesamaan terbentuk. Mereka sering melupakan permasalahan jika sudah bertatap muka. Chenle yang semalam terpaksa dikeluarkan Renjun dari grup obrolan, tidak mengungkit permasalahan itu.
Dengan tingkah konyol dan tawanya yang nyaring, tidak akan ada yang menyadari jika empat pemuda di sekitarnya dalam keadaan yang tidak baik. Chenle sudah mengambil kamera milik Jaemin yang tergeletak tak berguna.
"Kamera mahal diabaikan.."
"Pakai. Gunakan dengan baik kameraku.." Ujar Jaemin.
Chenle berdiri dan mulai mengabadikan momen langka mereka bersama. Terkahir mereka berkumpul bersama, lengkap dengan Lucas dan Jisung itu tahun lalu. Saat perayaan ulang tahun Jaemin dan Mark. Kali ini pun tidak lengkap mereka berdelapan.
Mark pernah mengatakan kepada Jeno, jika DREAM itu terlihat fake dimatanya. Tapi Mark sudah terlanjur sayang dengan suasana beragam di dalam DREAM. Jadi apapun bentuknya, dia akan memahami itu.
Jaemin tidak lagi memperhatikan Jeno dan Renjun. Dia dan Mark merebahkan diri di tikar. Kaki Mark menjadi bantalan kepala Jaemin. Tangan Mark mengusap pelan surai madu itu. Chenle memulai aksinya untuk menganggu kenyamanan Mark. Di atas, Jeno melihat semuanya.
Ponsel Renjun berdering. Melihat sekilas nama pemanggil, pemuda dengan gingsul itu langsung berdiri. "Haechan.." dia meneguk minumannya.
Jeno menahan tangan Renjun. "Aku ikut.."
Renjun melepas tangannya. Mendorong kepala Jeno dengan telunjuknya. "Jangan menghindar lagi. Jangan menyeretku lagi dalam masalah kalian berdua.."
"Menjemput Haechan ?" Tanya Chenle yang sudah selesai mengganggu kenyamanan Mark, hingga pemuda Kanada itu memilih duduk. Tangannya masih menyisir suarai Jaemin.
"Ikut ?" tawar Renjun. Ponsel itu berhenti berdering tak lama kembali berbunyi. Renjun menjawab panggilan Haechan. Dan tanpa pengeras suara, suara itu terdengar.
"INJULMI ! JEMPUT AKU !" pekiknya.
"Chenle ?" Renjun sudah menjauh.
"Tidak. Kau saja. Semoga selamat !" kekeh Chenle yang dibalas umpatan dari Renjun.
Jeno mendengus sebal. Dia ingin ikut, tapi Chenle yang ditawari. "Kemarikan kameranya.." pinta Jeno pada Chenle.
Dengan senang hati Chenle memberikan kamere itu. "Benda ini kembali ke tangan ahlinya.." kekeh Chenle.
"Foto candid mu akan banyak di sini.."
"Baguslah, setidaknya kau tidak hanya memotert Jaemin.."
Jeno terdiam.
Dengan mata tertutup, Jaemin tersenyum tipis. Melihat senyum itu, dengan semangat Mark menepuk dahi Jaemin.
"SIALAN !" pekik Jaemin dan langsung terduduk.
Jaemin mengigit tangan Mark. Jaemin dan Mark adalah mantan satu rekan asrama. Sebelum, Mark keluar dan tinggal bersama kakaknya. Jadi perkelahian fisik sepertinya sudah biasa.
Jaemin yang tertawa selalu menjadi objek yang bagus untuk Jeno abadikan. Jeno kembali dengan kebiasaannya. Terfokus mengambil gambar Na Jaemin.
"LEE JENO-SSI !" seru Chenle yang membuat Jaemin dan Mark berhenti.
Jeno berjalan ke arah Chenle. Mendekatkan lensa kamera pada muka Chenle. "Kau tidak perlu bersemangat seperti itu mengabadikan wajah tampanku.." Chenle tau jika dia memukul kamera itu sakit, jadi dia memukul kepala Jeno.
"Aku lebih tua darimu !" sembur Jeno.
"Sekarang kau membawa umur. Tua !"
"Kau yanga merasa muda. Tunjukkan wajah terburukmu.."
Chenle menyisir rambut blonde nya mengunakan jari. "Tuhan akan marah padamu karena permintaan konyol mu itu.."
Jeno menatap Chenle malas. "MARK !" serunya.
Chenele meraih tangan Jeno. "Jangan. Aku dulu.." Chenle menunjukkan ekspresi konyolnya.
Selesai dengan Chenle, Jeno beralih pada Jaemin dan Mark. Jeno menangkap momen itu. Jaemin yang merebahkan kepalanya dipundak Mark, tangannya memeluk lengan Mark. Jeno memotret semuanya. Jika saja ini kamera miliknya, maka tidak akan ada wajah Mark.
"YEOROBUN !"
Haechan datang dengan tangan mengapit Renjun kuat. Renjun sudah menarik tangannya, tapi Haechan tetap dengan pelukannya.
"Aku lapar. Jeno membawa kompor !"
Tidak ada yang menyela Haechan.
"Jeno, buatkan ramyeon.." Haechan merengek dengan manjanya.
Jeno memberikan kamera kepada Mark dan melakukan apa yang Haechan pinta tanpa protes.
"Kau baru datang, langsung merepotkan semua orang.." omel Renjun.
"Hei, aku hanya merepotkan Jeno. Aku tidak merepotkanmu, sayang.."
Renjun mengusap wajahnya frustasi.
"Tambah lagi airnya.." Haechan sudah bergelayut pada Jeno.
"Aku ingin memasak. Biarkan aku melakakukan permintaanmu lebih dulu.."
Haechan mendengus.
"NA JAEMIN ! MARK LEE ! KALIAN PASATI MERINDUKANKU ! ZHONG CHANLE APA KABAR ?"
Setidaknya suasana semakin membaik dengan kehadiran Haechan dan Chenle.
.
.
"Ini semua salah kalian.." omel Haechan sudah duduk di mobil Jeno.
Masih berada di area parkiran. "Ini salah hujan.." balas Renjun sabar.
"Aku mengatakan kita harus berfoto daritadi. Tapi kalian itu terlalu pemalas. Kita tidak bisa berfoto dan terkurung di mobil.." omel Haechan.
"Sekarang aku bertanya. Yang sibuk dengan makanannya sampai kehabisan waktu dan hujan sialan datang, siapa ?" tanya Chenle.
"Aku.." jawab Haechan percaya diri.
"Haechan jika membunuh tidak kategori dosa, sudah dari lama aku melakukannya.." geram Renjun.
"Tidak boleh memiliki niat buruk, Huang Renjun. Otakmu anarkis sekali.." seru Haechan di kursi belakang.
Mark berada di sampingnya. Chenle dan Renjun di kursi tengah. Jaemin tiba-tiba saja berada di samping Jeno.
"Ini, ambil gambar dengan polaroid ku.." Haechan menyerahkannya pada Renjun yang diestafet ke Jaemin.
"Merapat.." seru Jaemin. "Bagaiaman memakainya ?" alergi teknolgi Mark seperti menular pada Jaemin.
"Manusia gua.." ujar Haechan."Itu di kaca sebelahnya, arahkan kami jika semua wajah masuk di dalam kaca itu.."
Jaemin hanya beroh ria. Jeno memperhatikan dari sudut matanya. Jaemin yang seperti ini menggemaskan. Jika mereka sedang tidak terjebak dalam suasana tak baik, pipi Jaemin sudah habis ditarik Jeno.
Empat kepala di belakang sudah merapat. Bahkan Haechan bersemangat hingga pindah ke pangkuan Renjun.
"Kenapa kau harus duduk di pahaku !" berbeda dengan bantahannya, Renjun memeluk pinggang Haechan.
"Injulmi diam. Kau berisik sekali untuk ukuran laki-lakiā¦"
Chenle berdiri dan Mark paham artinya. Dia harus memangku Chenle. Mark duduk di tempat Chenle lalu menepuk pahanya.
Chenle menggeleng. "Aku bukan Haechan yang haus belaian.."
"Ku hilangkah semua rambutmu.." kesel Haechan.
Chenle mengangkat bahunya tak peduli.
"Jeno belum terlihat. Lebih ke kanan. Ini menjadi sulit karena harus memasukan foto supir.." lagi dan lagi Haechan mengajukan protes.
"Aku tak perlu masuk kalau seperti itu.."
Renjun yang duduk di belakang Jeno mengulurkan tangan dan mendorong kepala itu ke kanan. Wajahnya dan Jaemin menjadi sangat dekat.
"Aku akan membunuh kalian jika sampai berciuman di depanku.." desis Chenle.
Jaemin menoleh ke belakang dan menemukan Chenle dengan dagunya yang terangkat angkuh.
Mereka ribut bertukar tempat karena pencahayaan tak bagus. Tentu saja Haechan dan Chelen yang paling berisik masalah wajah tampan mereka yang tak terekspos dengan benar. Sampai Haechan berpindah tempat di samping Jaemin.
Mereka sudah selesai dan mobil sudah berada di jalan Tol kembali ke Seoul.
"Lee Jeno memang tak berguna hari ini.." keluh Haechan.
Mark mendekatkan kepalanya pada perhatian Haechan. Melihat hasil foto dimana hanya Jeno yang tak tersenyum. "Wajah Jaemin lucu sekali.."
"Biarku lihat.." Renjun mengulurkan tangannya ke belakang.
"Aku belum selesai melihat. Tidak sabaran.."
"Haechan !" geram Renjun yang mengundang tawa Haechan.
Chenle mengangkat sebuah topik pembiacaraan. Jangan pikir karena mereka laki-laki tidak akan ada gosip. Tentu saja ada, selain berbagi tentang film 3GP yang sudah naik pangkat menjadi HD, mereka sering membicarakan primadona kampus. Mulai dari yang benar-benar idola, hingga yang ingin di idolakan.
"Kau harus melihat dia yang mempertontonkan belahan dadanya secara gratis di live kemarin.." Haechan
"Aku membaca komentarnya.." Chenle
"Kau menontonnya ?" Renjun.
"Dia bahkan ikut berkomentar dengan akun gelapnya.." Mark.
"Tidak akan ada yang melewatkan jalang yang mengobral dirinya.." Jaemin.
Tanpa Jeno, semuanya terlibat obrolan seru. Jeno sesekali melirik ke sampingnya yang terus mengoceh tanpa henti. Haechan dan Jaemin lalu Chenle, triple combo berisik.
.
.
Renjun dan Haechan diturunkan lebih dulu. Haechan ingin menginap di rumah Renjun, merindukan Hot Pot masakan ibu pemuda cina itu. Kesempatan itu digunakan Jaemin untuk bertukar tempat dengan Mark. Kembali Mark yang menemani Jeno di depan. Jaemin terlihat lebih leluasa dengan percakapannya dan Chenle.
Kali ini pembahasan mereka seputar adat dari negara kelahiran masing-masing. Mark ikut menimpali.
Jika ada yang bertanya pada Jeno apa yang dibicarakan ketiga rekannya, maka dengan lantang Jeno menjawab tidak tau. Mulai dari saat meninggalkan pulau Nami hingga sekarang, Jeno tidak mengerti apa perbincangan mereka.
Pikirannya terlalu sibuk dengan masalah yang ada sekarang. Jaemin seperti melupakan permasalahan diantara mereka. Ini sifat yang Jeno tak suka dari Jaemin. Dia penghindar yang baik, lalu meninggalkan masalahnya yang tidak selesai
"Aku turun di stasiun dekat kampus.." ujar Chenle.
"Kau yakin ?" Jeno menatap pemuda kecil itu dari spion.
"Jangan bertanya jika tak ingin mengantarku sampai rumah.." Chenle melepas sabuk pengamannya.
Jeno menepi saat tiba di depan pintu masuk stasiun. "Terima kasih.." Chenle menyalami ketiga temannya sebelum turun.
Lalu semuanya kembali seperti pagi tadi. Hening dan hanya terdengar suara mesin mobil. Jeno melihat titik pertmuan tadi pagi. Halte di dekat asrama Jaemin, namun di bagian seberang. Jaemin ingin mengeluarkan suara saat Jeno melawati seberang halte
"Aku akan memutar. Aku pulang lewat jalan lain.." ujarnya sata tau pertanyaan itu yang akan dilontarkan untuknya.
"Mark, kau turun di mana ?"
"Aku sama saja denganmu, Na.."
Jeno benar-benar berputar arah dan mengantarkan kedua temannya pada titik semula. Jeno menghentikan laju mobilnya dan turun bersama yang lain. Berjalan menuju bagasi untuk mengambil tas Jaemin.
"Terima kasih untuk hari ini. Liburan yang menyenangkan.." Mark memeluk Jeno sesaat.
"Bukan masalah.." Jeno menjawab singkat.
"Terima kasih.." Jaemin hanya mengucapkan itu. Tanpa menatap Mark dan Jeno, dia berjalan lebih dulu. Mark berjalan berlawanan arah dari Jaemin. Melihat Mark yang mulai menjauh dah Jaemin sudah memasuki jalan menuju asramanya, Jeno mengunci mobil.
Jeno berlari mengejar Jaemin. "Jaemin !" serunya berjarak beberapa meter dari Jaemin.
Jaemin berbalik, menunggu Jeno yang menghampirinya.
Emosi Jeno yang tersimpan baik selama seharian ini sedikit demi sedikit meluap. Semuanya terlihat dari tatapan Jeno.
Jaemin hanya menberi tatapan bertanya.
"Aku lelah.." bibir Jeno bergetar. Kedua tangannya terkepal.
"Pulang lalu beristirahat.."
Lama Jeno berdiam diri di sana. Seperti memuaskan keinginanya untuk memandangi Jaemin. "Ya. Aku pulang.."
Jaemin mengangguk sekilas dan kembali berjalan menuju asramanya. Jaemin memegangi kepalanya, mulutnya meringis. Efek samping menahan emosi berlebih.
Tak jauh berbeda dari Jeno, pria itu ingin melepas kepalan tangannya pada dia hanya melepas satu pukulan kuat pada angin dan mengacak rambutnya frustasi. Jeno kembali ke mobil, mengenakan sabuk pengaman, lalu menjalankan mobil.
Lee Jeno kembali memutar arah mobilnya.
.
.
To Be Continue
.
.
A/n : sebenarnya bingung mau ngelanjutin cerita ini gimana. Dicoba aja dulu chapter 2, kalau misalnya nggak jodoh sama ini cerita, ya nggak dilanjut.
Karena chapter 1 itu aku nulisnya pakai emosi.. Efek pengalaman pribadi kali. Sekarang lenyap emosinya..
Sampai ketemu di chapter berikutnya, semoga dilanjut.
Salam, mamanya Huang Renjun
