Disclaimer: Masashi Kishimoto and other creator

Chapter 2

Pagi hari yang cerah dengan suara burung berkicau yang merdu, udara yang masih segar dan tentu juga dengan suasana yang biasa pula; Harus kembali dibangunkan oleh gadis yang sama dengan mungkin berbeda setiap harinya.

Bangun tidur, pergi ke kamar mandi, memakai seragam lalu berangkat ke sekolah. Datang ke kelasnya, membaca sebuah novel, mengobrol sebentar dengan Lee yang esentrik akan semangat masa mudanya yang menggebu atau paling tidak pergi ke kantin untuk membeli sesuatu yang bisa menahan rasa lapar.

Setelah itu pergi ke cafe saat sekolah usai, bekerja menjadi pelayan, pulang pada pukul 10 malam, mengerjakan tugas lalu tidur.

Terasa membosankan, namun apakah hanya ini saja?

Tentu tidak ada yang menarik dari cerita monoton seperti itu, kisahku tidak akan dibuat menjadi sebuah cerita dengan kehidupan yang begitu monoton.

Bukankah kalian juga berpikir seperti itu?

[Trouble Life]

Second Chapter

Gadis yang selama ini bersamanya.

Sudah 1 tahun dia tinggal di apartemen ini, jika dihitung sudah dua kali dia pindah apartemen di kota ini. Serta sudah 3 tahun dia bersama dengan gadis yang ada di depannya ini. Surai hitam panjang yang terlihat indah karena pantulan sinar Matahari yang masuk dari jendela, manikal mata berwarna violet indah yang bersinar layaknya cristal. Yah, jika diingat kembali memang banyak sekali kejadian yang terjadi sejak dia terdampar 4 tahun lalu.

Yah, banyak sekali.

"Naruto?"

Yang dipanggil langsung tersadar dari lamunannya saat gadis yang sedang sarapan bersamanya itu memanggil.

"Ya? Ada yang salah?" Naruto menjawab pertanyaan dari sang gadis sambil memainkan sendoknya, memutar-mutar sendok tersebut di sela-sela jari tangannya.

"Salah! Sangat salah! Jangan melamun di meja mmaka, dan hentikan kebiasaan burukmu itu jika sudah selesai sarapan!" Ucap gadis itu memperingati Naruto. Gadis itu sedikit kesal, kebiasaan pemuda di hadapannya ini sulit diubah dengan hampir setiap selesai makan Naruto akan memutar alat makannya entah itu sendok, garpu atau bahkan piring saja pernah dia putar layaknya bola basket.

"Ahahaha." Naruto hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapan gadis tersebut seraya menghentikan aktifitasnya, tapi pemuda itu senang dengan hal itu. Itu terasa menjadi aktifitas yang menyenangkan untuk dilakukan.

Pagi hari dengan sarapan yang dijalani dengan damai. Ya...itu masih bisa dikatakan damai.

"Ah, biar aku saja yang mencuci piring. Kau bisa tunggu di luar." Naruto bangkit setelah mengucapkan itu sambil membawa piring-piring yang kotor ke wastafel ketika menyaksikan gadis yang duduk di depannya ini sudah selesai makan. Naruto sudah selesai makan sejak tadi. Dia itu laki-laki; makannya tentu saja cepat.

"Kalau begitu baiklah." Gadis tadi juga berdiri lalu berjalan ke arah depan ruang makan untuk mengambil tasnya yang tergeletak di sofa yang berada di ruangan tengah apartemen itu sambil kemudian menunggu bagaimana pemuda yang membawa piring-piring kotor bekas sarapan itu selesai.

Berangkat pagi bersama sungguh harus menjadi kebiasaan yang tanpa diketahui pemuda itu menjadi salah satu waktu yang menyenangkan bagi si gadis.

Line Break

Pagi hari terasa mulai cerah; matahari mulai meninggi dan sinarnya bagus untuk memulai aktifitas di pagi hari. Sang Surya menjalankan tugasnya dengan menyinari dunia, ditambah susunan awan yang bergerombol di langit terkadang bergerak pelan dan terlihat lembut untuk disentuh seolah menjadi daya tarik tersendiri untuk Naruto.

"Entah kenapa aku serasa jadi ingin terbang." Gunaman pelan pemuda berambut kuning keluarkan dari bibirnya meskipun nampaknya tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh gadis yang sedang berjalan bersamanya itu.

"Jika kau bisa terbang, kenapa tidak terbang saja untuk pergi ke sekolah?" kata gadis tersebut dengan nada sindiran, atau mungkin lebih pada gadis itu memang menyindir pemuda kuning tersebut yang berjalan beriringan dengannya.

"Hoy...hoy! kenapa kau jadi menyindirku?" pemuda itu membalas dengan cepat akan sindiran yang dilontarkan padanya..

"Hmph! Betsuni." Sang gadis memalingkan wajahnya dari Naruto sambil mengembungkan pipinya. Entah terlihat kesal untuk sebuah hal sepele. Gadis dan sifat perasaan mereka yang cepat berubah terkadang memang sulit sekali dimengerti.

Dan sifat gadis itu membuatnya bertanya apakah sebenarnya apa yang telah Naruto lakukan untuk mendapatkan rasa cuek dengan gembungan pipi yang terlihat imut tersebut. Perasaannya dari tadi dia tidak melakukan kesalahan. Sepanjang perjalanan selanjutya juga mereka hanya diam menikmati perjalanan mereka.

'Hoy... Hoy, apa-apaan suasana canggung ini!' Setidaknya itulah yang ada dipikiran pemuda dengan rambut kuning itu.

Ayolah, apaan diam-diaman ini. Dia itu type orang yang berisik, tidak cocok untuk situasi seperti ini. Lagi pula, kenapa gadis disampingnya ini cuek padanya sepanjang perjalan. Naruto merasa tidak ada kejadian apapun yang membuatnya merasa bersalah, atau mungkin karena tadi dia menolong seorang gadis?

Tunggu! Menolong seorang gadis. Apa gadis di sampingnya ini yang sedari tadi terus cuek padanya dengan mengembangkan pipinya, yang malah terlihat imut itu sedang cemburu.

"Masaka, kau cemburu?" Naruto bertanya dengan nada yang sangat percaya diri, bahkan mungkin kepercayaan dirinya terlalu besar. Hey, masih banyak kemungkinan yang membuat gadis disampingnya cuek padanya, dan dia langsung menyimpulkan begitu saja?

Sedangkan si Gadis terlihat mundukkan kepalanya, wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh rambutnya, lalu...

BUAGH

Sebuah pukulan tepat mengenai perut Naruto, "Naruto no... BAKAAA!" Si gadis langsung berteriak setelah memukul Naruto, lalu pergi meninggalkan sang empunya di jalanan begitu saja, yang terlihat tersimpuh dengan suara erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya.

Line Break

Berjalan sendirian di lorong yang terlihat sepi karena memang jam pelajar pertama sudah dimulai, dia terlambat, dan ini karena sang gadis yang tadi memukul perutnya dengan tenaga penuh. Oleh karena itu, dengan terpaksa! Dia harus pergi ke ruang kesehatan, bahkan pemuda dengan rambut pirang itu harus dipapah untuk datang ke sekolah. Bersyukurlah karena dia berpapasan dengan Lee di jalan.

Untuk sekarang, pemuda berambut pirang itu harus segera ke kelasnya. Ck, dia terlambat 15 menit, dan ini buruk. Pemuda itu sudah cukup 'populer', dia tidak ingin menjadi lebih 'populer' itu buruk, sangat buruk.

Berjalan di lorong dengan salah satu tangan berpegangan pada tembok di sampingnya, sial perutnya masih terasa sakit. Jika karena kesal saja sudah seperti ini, bagaimana jika si gadis dia buat marah. Dia akan masuk rumah sakit? Mungkin saja.

"Hah..." Menghela mafas lelah, entah kenapa dia merasa begitu lelah. Semalaman suntuk dia melanjutkan tulisannya untuk sebuah rencana. Rencana untuk membuat 'mereka' tahu, bahwa dia! Pemuda berambut pirang itu, ada! Dia ingin menunjukkan eksistensinya dan membuktikan bahwa dia tidak sebodoh itu.

"Uzumaki-kun?" Suara lembut nan indah terdengar dari arah belakangnya, menoleh ke belakang dan dia mendapati seorang gadis sedang memandanginya dengan tangan yang terlihat memegang sebuah map.

"Fuku-kaichou!" Kaget Naruto. Tentu saja dia kaget, mengingat kejadian 2 hari lalu. Bahkan masih segar diingatannya bagaimana dia menembak sang fuku-kaichou secara tidak langsung itu.

"Uzumaki-kun, apa yang kau lakukan di lorong pada jam pelajaran?" Awalnya gadis dengan kacamata bulat itu ingin menegur siswa yang bolos.

Namun, saat melihat seorang siswa berambut pirang itu yang berjalan dengan berpegangan pada dinding, dia urungkan niatnya. Dan saat siswa berambut pirang itu yang ternyata dugaannya tepat adalah Naruto, menjawab dengat nada suara tinggi yang malah membuatnya gugup, dan juga entah mengapa membuatnya mengingat kejadian 2 hari yang lalu. Membuat wajahnya memanas lagi, bahkan semburat merah yang membuatnya terlihat manis tercetak di wajahnya.

"Ehem... Jadi, Uzumaki-kun apa yang sedang kau lalukan di lorong pada jam pelajaran sedang berlangsung?" Sang gadis berusaha menghilangkan kegugupannya, bagaimanapun dia tidak boleh terlihat begitu di sekolah. Tidak boleh!

"Sebenarnya fuku-kaichou..."

Line Break

"Hah..." Menghela nafas kembali, entah sudah berapa kali dia menghela nafas pagi ini, dia tidak ingin terlalu memikirkannya.

Setelah tadi dia menjelaskan apa yang telah terjadi hingga membuatnya terlambat masuk kelas pada sang fuku-kaichou, akhirnya dia dapat pergi ke kelasnya. Untung guru yang masuk tidak ada, jadi tidak terlalu merepotkan. Walaupun pada awalnya dia dipaksa untuk kembali ke ruang kesehatan oleh sang fuku-kaichou.

"Naruto-"

"Ah, Lee. Kebetulan sekali kau ada, masih tersisa 1 jam sebelum istirahat, dan juga kita sudah selesai mengerjakan tugas, lalu kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu. Jadi, bagaimana-" Naruto berkata cepat saat melihat Lee mendekat ke arahnya.

"Ok, aku mengerti kemana arah tujuanmu, Naruto-kun. Jadi apa yang akan kita lawan? Zinogre? Deviljho? Silos? Black Diablos? Atau Amatsu?"

Yah, seperti apa yang diucapkan Naruto barusan. Pada akhirnya Lee yang awalnya ingin bertanya pada Naruto tentang materi yang barusan dia pelajari sendiri, malah diajak bermain Monster Hunter bersama.

Serta yang paling parah, dia tidak bisa menolak. Semakin dia menolak, semakin pemuda berambut kuning itu memaksanya. Mau bagaimana lagi, mungkin dia bisa tanyakan itu lain kali.

"Hm... Kemarin aku telah membuat set Zinogre, dan juga untuk sekarang aku butuh armor Deviljho agar satu set. Maka keputusannya! Kita akan melawan Deviljho kali ini, aku kekurangan Deviljho Scalp untuk materialnya."

"Yokai!" Lee menjawab dengan semangat, lalu mengeluarkan konsol PSPnya, begitu juga dengan Naruto. Dia mengeluarkan PSP juga smartphonenya, lalu menyalakan wireless pada smartphonenya itu agar mereka dapat terhubung.

Line Break

"Lee! Dia sudah sekarat, siapkan pitfall trap!"

"Tidak ada lagi Naruto-kun, aku sudah menggunakan semuanya!"

"Lalu bagaimana cara kira mengcapturenya?!"

"Ah! Kurasa aku masih punya tinged meat."

"Bagus! Gunakan itu, aku akan menyiapkan trang bomb."

"Sekarang Naruto-kun! Buat tidur dinosaurus itu!"

"YOSSAAA!!!"

Jika kalian ingin tahu apa yang sedang mereka lalukan. Maka jawabannya, mereka sedang bermain Monster Hunter Portable 3rd. Bahkan mereka sudah melawan Deviljho 5 kali hanya untuk sebuah material pembuat armor. Yah, 5 kali dengan berteriak-teriak saat bermain, juga tangan yang tidak henti-hentinya menekan tombol pada konsol PSP itu, membuat meraka dipandang aneh oleh seluruh orang yang ada di kelas itu.

"Yosh! Kurasa materialnya sudah lengkap. Akan ku craft saat sudah tiba di rumah nanti, terimakasih Lee." Naruto mengucapkan itu lalu mematikan konsol PSPnya tidak lupa juga memasukkannya ke dalam tas.

"Sama-sama Naruto-kun. Kurasa aku juga akan membuat Great Sword Deviljho." Lee membalas ucapan Naruto dengan nada semangatnya.

"Hm, dan untuk materi yang ingin kau tanyakan aku sudah mencatatnya. Kau bisa mempelajarinya di buku ini, aku sudah membuat beberapa arahan di buku itu agar kau mengerti. Dan juga aku pergi dulu, ada seseorang yang menungguku di atap." Naruto langsung pergi ke atap sekolah setelah mengatakan itu pada Lee.

Untuk Lee sendiri, dia memandang punggung Naruto yang sudah hilang di balik pintu kelas. Lalu dia tersenyum, senyum tulus. Senyuman yang berbeda dengan yang biasa dia keluarkan. Sebuah senyuman yang bahkan dapat membuat gadis di sekitarnya memerah karena melihat senyumannya. Ya, Lee punya pesonanya tersendiri, dan itu adalah salah satunya.

"Kau memang selalu peka terhadap semua yang berada di sekitarmu, Naruto-kun."

Line Break

Naruto berlari cepat menuju atap, ada seseorang yang menunggunya di sana, dan dia tidak suka ditunggu. Karena itulah dia berlari, pemuda kuning itu tidak ingin orang lain menunggu hanya untuknya.

Menaiki tangga, lalu membuka pintu yang menghubungkan atap dengan bangunan bagian dalam. Setelah membuka pintu atap, apa yang Naruto lihat membuatnya terdiam.

Langit biru cerah bagaikan laut biru dengat awan yang bergerak lembut terbawa angin, sinar sang Surya yang terhalang oleh gerombolan awan membuat suasana tidak terlalu panas. Juga, angin yang menerpanya lembut memberikan kesan tersendiri baginya. Begitu sejuk, begitu nyaman, begitu menenangkan.

Pandangannya juga tidak luput dari seorang gadis yang berdiri membelakanginya di tengah atap sambil memandang kearah langit. Rambut hitam panjangnya menari diterpa angin, membuatnya begitu mempesona.

Gadis itu lalu berbalik, menghadap ke arah pemuda pirang yang terus memandanginya. Membuka matanya dengan perlahan lalu tersenyum pada pemuda pirang di depannya.

DEG

Mata violet yang bersinar indah, surai hitam yang sekali lagi menari diterpa angin, juga sinar Matahari yang menerobos gerombolan awan sehingga menyinari si Gadis.

Apa yang Naruto lihat adalah sosok bidadari yang turun dari langit. Begitu indah, begitu cantik, dan begitu mempesona.

"Naruto?"

Panggilan dengan nada indah yang mengalun begitu lembut memasuki pendengarannya. Menyadarkannya dari sosok bidadari barusan, menggelengkan kepala pelan berusaha untuk kembali dari bayangan tadi.

"Maafkan aku terlambat, Reina." Balas Naruto seraya berjalan mendekati sang gadis yang baru saja dia panggil dengan nama Reina.

"Hm..., Aku juga baru saja tiba." Gadis tersebut menggeleng pelan, lalu duduk pada karpet yang sudah dia siapkan.

Reina lalu menyuruh Naruto duduk setelah berada di depannya dengan gerakan tangan.

"Jadi, apa yang membuatmu datang terlambat?" Reina bertanya pada Naruto setelah pemuda itu duduk di hadapannya, membuka kotak bento yang dia bawa lalu menyusunnya, dan meletakkan minuman yang sempat dia beli tadi sebelum datang kesini.

"Aku membantu Lee menerangkan materi yang tidak dia mengerti tadi." Naruto menjawab sambil terus memperhatikan kegiatan gadis yang ada di depannya itu.

"Hooo, benarkah. Jadi bukan karena kau menolong sorang gadis yang terjatuh lagi, lalu membuatnya jatuh cinta padamu?" Nada sinis dikeluarkan Reina setelah selesai menyusun bento yang dia bawa.

"Tunggu, apa?!" Naruto bertanya panik. Jadi itu yang membuat gadis di depannya cuek disepanjang perjalanan ke sekolah.

Ditambah pandangan mata tajam yang diarahkan pada pemuda pirang tersebut membuatnya bergidik ngeri. Memegang perutnya dengan kedua tangan mengingat apa yang menimpanya pagi tadi.

'Kembalikan soson bidadari yang kulihat tadi! Kembalikan!' Teriak Naruto dalam hati. Sosok bidadari yang dia lihat tadi berubah menjadi sesosok iblis yang menyeremkan!

"Ah, so. Lupakan itu, sekarang mari kita makan." Reina menjawab cepat, bagaimanapun mereka harus segera makan siang. Apalagi sepulang sekolah dia ada kegiatan ekstrakurikuler yang akan sangat menguras staminanya.

"Kurasa kau benar." Naruto lalu memgambil sumpit dan memakan hidangan yang ada di depannya setelah mengucapkan 'itadakimasu'.

Line Break

Terlihat sepasang remaja yang sedang menikmati waktu istirahat di atap sekolah. Yah memang atap sekilah bukan tempat yang cukup populer, mungkin bagi sebagian orang membosankan. Tapi tidak bagi sepasang remaja yang sedang berada di sana. Dimana si gadis yang sedang duduk sambil mengelus surai pirang laki-laki yang berada dipangkuannya.

Meraka terlihat memejamkan mata, menikmati hembusan angin lembut yang menerpa. Membuat mereka terlarut dalam suasana yang terasa tenang dan nyaman.

Masih tersisa 10 menit sebelum bel masuk berbunyi, mereka masih dapat menghabiskan waktu sebentar lagi.

"Bagaimana kegitan klubmu, berjalan dengan baik?" Naruto yang berada dipangkuan si gadis bertanya untuk memulai percakapan. Memang suasana tadi sangat nyaman, namun dia tidak ingin terlalu terlarut.

"Buruk, mereka hanya bermain-main. Taki-sensei bahkan mengatakan kalau kita tidak bisa mengikuti Sunfes." Si gadis menghentikan elusannya pada surai Naruto lalu membuka matanya, memandang Naruto yang tidur dipangkuannya.

"So, jadi apa yang terjadi selanjutnya. Kalian menyerah?" Naruto masih memejamkan matanya menikmati angin yang menerpanya lembut.

"Taki-sensei mengakatan kami akan melakukan ensambel lagi minggu depan, dan jika masih buruk. Maka, kami benar-benar tidak akan mengukuti Sunfes." Reina masih terus memandangi Naruto, dia terus melihat setiap inci bagian wajah pemuda pirang yang berada di pangkuannya itu.

"Hooo, lalu apa yang akan kau lakukan, tetap berdiam diri dan mengeluh, atau apa?" Tanya Naruto, lalu dia membuka matanya menatap wajah Reina yang juga menatapnya.

Violet dengan Sapphire itu bertatapan. Tidak ada yang mengeluarkan suara satupun dari sepasang remaja itu, seolah mereka sedang melakukan percakapan melalui tatapan mata.

"Kurasa aku akan menyemangati mereka dan membuktikan pada Taki-sensei bahwa kami bisa menjadi lebih, lebih, dan lebih baik lagi." Reina mengatakannya dengan penuh keyakinan, nada suaranya tegas, tidak ada keraguan di raut wajahnya, dan juga sorot mata yang menunjukkan sebuah keyakinan yang begitu besar.

Naruto tersenyum mendengar perkataan dari sang gadis, apalagi melihat tekad si gadis yang begitu besar di wajahnya membuat senyum Naruto berkembang lebar.

"Yosh!" Naruto lalu bangkit dari pangkuan Reina seolah telah membuat sebuah keputusan. Sedangkan untuk Reina sendiri dia bingung denga tingkah dari remaja di depannya ini.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Reina yang melihat tinggah Naruto

"Kenapa kau bertanya? Bukankah sudah jelas, aku akan membantumu."

TBC

A/N

Fuhhhh akhirnya beres juga, cape juga kebut satu malam. Bahkan saya tidak dapat membayangkan bagaimana author di luar sana menulis fic dengan word diatas 5k dalam satu hari.

Ok kita lupakan itu, mari kita bahas chapter ini. Satu fakta terungkap, gadis yang membangungkan Naruto di chapter 1 kemarin adalah... Kousaka Reina dari Hibike! Euphonium. Jadi bukan Akeno, Tsubaki, ataupun Hinata ya Uzuhyu Hinata-san

Hm, mungkin chapter ini hanya berisi interaksi ringan, dan ada yang sadar satu hal di atas? Saya udah buka clue buat Naruto kedepannya, salah satu tujuan Naruto.

Dan mungkin 6 atau 7 chapter ke depan hanya akan berisi perkenalan tokoh saja dan bagaimana hubungannya dengan Naruto. Tapi saya tidak akan membuat itu begitu saja, seperti prolog di awal chapter ini

Juga, terimakasih kepada Azu-san dan Sora dan Shiro-senpai yang udah bantu saya. Bahkan sampe revisi di bagian awal chapter.

Maaf, mungkin saya gak bisa bales reviews dari para pembaca sekalian. Namun saya tetap berterima kasih atas hal itu, itu sangat menyemangati saya

Terakhir, silahkan berikan review pada cerita saya ini. Jujur saya masih sangat sangat pemula dalam hal membuat cerita. Jadi tolong berikan pendapat juga saran kalian di kolom review.

Itu saja, ja nee...