Terlebih dahulu, saya akan membalas review yang nggak punya akun:

- Ryoko -

Miaa-chaaan kenapa ceritamu selalu dengan tema yang sagat aku sukai sih?

Karna ndak ada saran, lanjut aja

x Lucy, killua x terserah senpai..

Jawab:

Terima kasih Ryoko. ^^

Hehehe, begitu. Karena saya lagi bosan buat cerita tentang romance. Makanya saya buat cerita dengan tema persahabatan seperti ini. Ini udah lanjut.

- Guest -

umur naru dkk dific ini brpa ya thor, n apkah klompok rias jga ada, n siapa pmilik sora academy di fic ini, itu aja sih n crita anda sngt bgus, jrang skali ada fic yg mnggabungkan lbih dr 2 anime

Jawab:

Terima kasih. Umur Naruto dan dkk 15 tahun. Kelompok Rias ada kok. Terus tentang pemilik Sora Akademy akan dijawab dalam cerita di bawah ini. Silakan dibaca ya. ^^

- Terima kasih banyak buat semua yang sudah mereview. Mari kita baca cerita chapter 2 di bawah ini! -

.

.

.

Sora Akademy adalah sekolah langit yang berada di tengah hutan hijau yang sangat lebat. Sekolah langit yang diisi oleh para manusia yang terdiri dari berbagai ras yaitu ninja, iblis, penyihir dan lain-lain. Sekolah langit yang hanya menerima para calon murid yang memiliki bakat atau kemampuan khusus. Lalu mereka akan diajarkan untuk saling berinteraksi antara satu sama lainnya. Menjalani kehidupan biasa tanpa mengetahui identitas masing-masing. Mereka dituntut untuk merahasiakan kemampuan khusus mereka. Demi menjaga keseimbangan dan tidak terjadi perkelahian antara satu sama lainnya. Mereka diajarkan untuk hidup normal dan tidak boleh menunjukkan kemampuan khusus mereka selama bersekolah di Sora. Mereka disatukan dalam satu sekolah agar mereka dapat saling menghargai satu sama lain dan mereka akan diajarkan untuk selalu mencintai perdamaian selama bersekolah di Sora Akademy.

Pendiri sekolah langit ini adalah tiga ninja legendaris dari desa Konoha yaitu Jiraiya, Orochimaru, dan Tsunade. Merekalah yang merencanakan sekolah ini dibangun dengan tujuan untuk mempersatukan semua ras yang ada di dunia ini dan mereka akan diajarkan hidup dengan normal tanpa ada pertarungan antara satu sama lainnya masing-masing.

Sebab itulah, sekolah ini didirikan. Atas kesepakatan tiga sennin legendaris itu dengan para manusia berbagai ras yang tersebar di penjuru dunia. Maka Sora Akademy yang telah berdiri selama 20 tahun telah berhasil membuktikan tidak adanya peperangan dan semua murid yang berhasil lulus telah mendapatkan suatu pekerjaan normal di berbagai tempat. Mereka hidup seperti orang biasa dan ada juga sebagian dari mereka hidup tak biasa serta masih saja melaksanakan sebuah tugas rahasia. Contohnya adalah ninja.

Lalu kepala sekolah Sora Akademy saat ini, masih dipegang oleh Tsunade. Wakil kepala sekolah adalah Jiraiya. Sedangkan Orochimaru memegang sebagai guru di pelajaran biologi. Lalu ada beberapa orang dari desa Konoha dan desa ninja lainnya juga memegang peran sebagai guru di Sora Akademy. Serta beberapa guru dari berbagai ras juga menjadi pegawai di sekolah tersebut.

Untuk itulah, Minato dan Kushina memasukkan Naruto ke sekolah tersebut. Karena ada guru yang akan membantu Naruto untuk mencari orang yang memiliki sebuah batu permata cahaya itu. Batu permata cahaya yang memiliki kekuatan misterius dan diincar oleh banyak orang. Menurut kabar, orang yang membawa batu permata cahaya itu disembunyikan keberadaannya secara rahasia karena akan banyak orang yang akan membunuhnya. Karena itu, hanya Naruto yang bisa menyelamatkan orang itu. Ditambah orang itu berada dalam satu sekolah dengannya. Lalu ada informasi tambahan lagi, ada beberapa mata-mata dari organisasi misterius juga bersekolah di sana. Mereka juga mencari keberadaan orang yang membawa batu permata cahaya yang juga disebut Permata Kehidupan. Permata Kehidupan yang berasal dari Sora itu sendiri. Orang yang memegang Permata Kehidupan itu diperkirakan dapat menghancurkan dunia. Maka sudah menjadi tugas Naruto untuk menemukannya dan melindunginya dari orang-orang yang berusaha ingin membunuhnya.

Siapakah orang yang memegang batu permata cahaya atau permata kehidupan tersebut? Inilah yang merupakan tujuan penting dan terjadinya pemburuan yang bersifat sembunyi-sembunyi.

.

.

.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

Hunter x Hunter © Togashi Ishihiro

Bleach © Tite Kubo

Fairy Tail © Hiro Mashima

Closer

By Hikari Syarahmia

Genre: Fantasy/Friendship

Selasa, 19 Mei 2015

.

.

.

One day, i believe that i have a best friend.

Teka-teki petunjuk ciri-ciri orang yang memiliki batu permata cahaya itu.

Petunjuk pertama : merah seperti api.

.

.

.

Kisah petualangan Naruto untuk menemukan orang yang memiliki batu permata cahaya atas perintah sebuah misi rahasia dari orang tuanya. Juga akan ada suatu pesan yang tersembunyi di balik pencarian orang itu. Mengantarkan Naruto untuk bertemu dengan berbagai macam orang yang memiliki masalah pribadi yang berbeda-beda. Lalu akan ada cerita persaingan, cinta, dendam, pencarian jati diri, kasih sayang orang tua, pengabdian, pengorbanan, persahabatan, misteri, teka-teki dan lain-lain. Inilah cerita yang penuh dengan para karakter dari 5 anime.

.

.

Closer

Chapter 2: Pertemuan

.

.

.

Sora Akademy, tepatnya di aula sekolah yang luas dan tingginya kira-kira 10 meter. Ada empat pilar penyangga di keempat sudut ruangan yang membentuk persegi panjang. Lantainya terbuat dari granit hitam. Ada ukiran aneh di sepanjang langit-langit aula. Juga ada dua lampu besar yang tergantung di langit-langit aula tersebut. Kesannya agak elit dan elegan.

Suasana di aula sangat ramai. Dipenuhi oleh semua murid yang terdiri dari kelas 10-12. Karena Sora Akademy disetarakan sama dengan SMA. Mereka memakai pakaian bebas. Tidak ada yang memakai pakaian seragam khusus seperti kebanyakan sekolah lain. Sebab, ini baru hari pertama sekolah. Jadi, belum diadakan pelajaran hari ini. Para murid hanya disuruh berkumpul di aula untuk mendengarkan instruksi dari kepala sekolah.

Namun, kepala sekolah yang dinanti juga belum datang. Semua penghuni aula sudah menunggunya selama dua jam lebih. Beberapa di antara mereka sudah menggerutu tidak jelas.

"Hah, kepala sekolahnya lama sekali datang!"

"Iya, sudah jam lebih kita menunggunya."

"Kira-kira siapa ya kepala sekolahnya?"

"Kata senior di sini, kepala sekolahnya adalah seorang wanita yang sangat cantik dan umurnya sudah setengah abad lho."

"Masa?"

"Tidak percaya. Lihat saja nanti."

Semua orang pun berkumpul dengan tidak teratur di berbagai sudut aula. Ada yang berbicara dengan teman yang kenal dengannya, ada yang sedang mondar-mandir, ada yang membaca buku, ada yang saling kejar-kejaran, ada yang tidur, ada yang sedang melukis, ada yang sedang menghitung uang, ada yang sedang termenung dan masih banyak pemandangan yang asyik untuk diperhatikan.

Titik fokus tertancap kepada seorang anak laki-laki berambut pirang jabrik dan bermata biru. Ada tiga guratan di kedua pipinya. Berkacamata. Memakai jaket orange bertudung yang dibiarkan terbuka. Hingga tampak baju kaos berwarna hitam di balik jaket orange-nya. Bawahannya adalah celana panjang hitam yang agak menyempit di bagian bawahnya. Ditambah memakai sepatu kets berwarna orange. Umurnya 15 tahun. Dia seorang ninja tahap Chuunin. Dia adalah Namikaze Naruto.

Naruto berdiri sambil menyandarkan punggungnya pada tiang aula. Kaki kanannya ditekukkan ke belakang dan ditempelkan pada tiang aula itu. Ia sedang membaca sesuatu pada buku catatan saku yang dipegangnya di tangan kirinya. Ada secarik kertas di dalam buku tersebut. Sebuah pesan dari orang tuanya. Naruto tersenyum saat membacanya.

'Kaasan ... Tousan ...,' batin Naruto merasa senang di dalam hatinya.

Pesan orang tuanya adalah jangan lupa makan teratur, jangan lupa menggosok gigi setelah makan, jangan begadang, jangan menunjukkan kemampuan ninja di sekolah, jangan terlambat saat masuk kelas, jangan buat masalah dan banyak larangan yang diingatkan kepadanya. Juga pesan untuk merahasiakan identitasnya sebagai ninja, petunjuk mengenai orang yang memiliki batu permata cahaya itu dan merahasiakan bahwa dirinya adalah anak dari Hokage keempat, agar musuh tidak dapat mengetahui misi rahasia Naruto itu. Jadi, Naruto harus menyamar menjadi orang lain demi kelancaran misi ini. Dengan cara memakai kacamata dan mengubah penampilan seperti orang yang berkelakuan tenang. Ya, bisa dikatakan seperti orang kutu buku.

Agak aneh rasanya Naruto harus menyamar menjadi seperti ini. Dia sendiri juga tidak merasa nyaman. Apalagi harus memakai kacamata kotak seperti ini. Dia merasa bukan dirinya yang sebenarnya.

Semua ide ini tercetus dari kedua orang tuanya. Sebab, menjadi orang kutu buku itu tidak terlalu diperhatikan orang banyak. Orang kutu buku dianggap tidak menarik dan dianggap biasa-biasa saja.

Itu memang benar, Naruto tidak diperhatikan ataupun dihampiri oleh siapapun di aula itu. Semua orang hanya mau mengobrol kepada orang yang dianggap menarik saja. Tapi, Naruto tidak mempersalahkan hal itu. Dia merasa aman karena tidak ada yang mengenalnya.

Sejenak Naruto memperhatikan semua orang yang berada di aula yang sama. Semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga kedua mata Naruto membulat sempurna karena menangkap beberapa kelompok orang yang berada tepat di depannya. Tak jauh dari tempat ia berada sekarang.

'Eh? Itukan?' batin Naruto ternganga lebar.'Itukan teman-temanku dari Konoha. Kenapa mereka juga ada di sini?'

Naruto panik sekali karena kemunculan teman-temannya yang juga berasal dari Konoha itu. Teman-teman yang juga satu sekolah dengannya sejak di SMP dulu.

Teman-teman Naruto saling mengobrol antara satu sama lainnya. Mereka tidak menyadari kehadiran Naruto yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.

Mulai dari kanan, seorang anak laki-laki berambut hitam diikat satu seperti bentuk nanas. Berwajah agak malas. Seorang ninja tahap chuunin. Umur 15 tahun. Namanya Nara Shikamaru.

Di samping Shikamaru, ada anak laki-laki berbadan gendut dan sedang memakan kripik kentang. Umurnya 15 tahun. Seorang ninja tahap Chuunin. Namanya Akamichi Chouji.

Di samping Chouji, ada seorang anak perempuan berambut pirang panjang diikat ponytail. Umur 15 tahun. Ninja tahap chuunin. Namanya Yamanaka Ino.

Lalu di samping Ino, ada seorang anak perempuan berambut pendek merah muda. Umur 15 tahun. Ninja tahap Chuunin. Namanya Haruno Sakura.

Wajah Naruto memerah ketika menatap gadis bernama Sakura ini. Pasalnya dia suka dengan gadis ini. Seketika ia tersenyum senang sendiri.

'Hehehe, bahkan Sakura-chan juga ada di sini. Aku juga tidak menyangka bakal bertemu dia lagi,' batin Naruto sambil melirik ke arah orang yang berada di samping Sakura. Dia adalah anak laki-laki berambut hitam dan berparas sangat datar. Umurnya 15 tahun. Ninja tahap Chuunin. Namanya Sai.

Lalu di samping Sai lagi, ada anak laki-laki berambut coklat dan ada tato segitiga merah terbalik di kedua pipinya. Umurnya 15 tahun. Ninja tahap Chuunin. Namanya Inuzuka Kiba. Ia membawa seekor anjing putih yang sangat besar. Nama anjingnya adalah Akamaru.

Di samping Akamaru, ada seorang anak laki-laki berambut hitam dan berkacamata hitam. Umur 15 tahun. Ninja tahap chuunin. Namanya Aburame Shino.

Terakhir adalah anak perempuan berambut panjang indigo dan bermata lavender. Dia berdiri di samping Shino. Umur 15 tahun. Ninja tahap Chuunin. Namanya Hyuga Hinata.

Naruto tersenyum ketika melihat Hinata ini.

'Hinata-chan juga ada di sini rupanya,' batin Naruto lagi.'Tapi, aku tidak boleh mendekati mereka. Aku harus menjauh dari sini agar tidak ada seorang teman dari Konoha yang mengenali aku. Aku harus pergi ke arah yang lain dan berbaur dengan orang-orang yang tidak kukenal.'

Semua teman Naruto telah diperkenalkan secara terperinci. Namun, Naruto tidak boleh mendekati mereka. Pasalnya, teman-teman Naruto ini sangat mengenal baik dirinya dan juga tentang orang tuanya. Jika Naruto berbaur dengan teman-teman dalam satu desa, maka musuh dapat mendeteksi bahwa mereka adalah ninja dari desa Konoha. Apalagi Naruto sedang dalam menjalani misi khusus dari orang tuanya.

Dia harus menjauh dari teman-temannya itu. Agar tidak ada yang dapat mengenalinya.

Naruto segera memakai tudung jaket orange-nya untuk menutupi kepalanya. Buku catatan yang tadi ia pegang itu langsung dimasukkan dalam saku dalam jaketnya. Dia bergegas pergi dari sana.

BRUK!

Tanpa disengaja, Naruto menabrak seseorang. Naruto menoleh dengan cepat ke arah orang yang tidak sengaja ditabraknya saat ingin berbalik badan.

"Gomen, aku tidak sengaja ...," ucap Naruto berwajah kusut kepada orang yang ditabraknya tadi.

Orang itu adalah seorang anak perempuan berambut perak dengan model bob. Matanya kuning keemasan. Ia menatap Naruto dengan sewot.

"Dasar, menyebalkan!"

DUAK!

Kaki Naruto diinjak dengan keras oleh gadis berambut perak itu. Membuat Naruto secara refleks memegang kakinya yang sakit karena diinjak.

"Aduh!" seru Naruto agak sedikit keras. Beberapa orang pun tertarik untuk memperhatikan Naruto dan gadis itu. Suasana tetap ramai dan bising. Jadi, hanya beberapa orang di dekat mereka berdua yang memperhatikan mereka.

Segera saja Naruto memberikan deathglare kepada gadis itu. Gadis itu hanya menatap Naruto dengan cuek.

"Hei, kenapa kamu menginjak kakiku?" bentak Naruto sedikit. Ia sangat kesal.

"Itu hukuman buatmu," jawab gadis itu dengan tampangnya datar.

"Huh ... Dasar, gadis yang kasar!"

Sekali lagi, gadis itu berwajah sewot.

BUAAAK!

Perut Naruto ditinjunya dengan sekuat tenaga. Naruto pun merasa kesakitan lagi.

"Aduh!" Naruto mendelik sambil memegang perutnya yang sangat sakit. Ingin rasanya ia memberi pelajaran kepada gadis yang kasar ini. Namun, dia tidak boleh melakukannya. Dia tidak boleh membuat masalah. Demi janjinya kepada orang tuanya.

"HEI, HENTIKAN ITU!" tiba-tiba ada seseorang yang bersuara keras dan mencoba menghentikan insiden tak disangka-sangka itu.

Secara serentak, semua orang menoleh ke arah orang yang bersuara keras tadi. Sejenak suasana menjadi hening bagaikan malaikat lewat. Semua mata tertuju kepada gadis cantik yang berdiri di tengah aula. Tak jauh dari tempat Naruto dan gadis berambut perak itu berada.

Seorang gadis berambut merah panjang melewati paha dan bermata hijau kebiruan berjalan menghampiri Naruto dan gadis berambut perak tadi.

"Ada apa ini? Dilarang berkelahi di sekolah ini. Jika kalian melanggar, maka kalian berdua akan mendapat hukuman," kata gadis berambut merah itu.

Gadis berambut perak menatap tajam gadis berambut merah itu.

"Siapa kamu?" tanya gadis berambut perak itu dengan nada yang terkesan kasar.

Gadis berambut merah itu hanya tersenyum menanggapinya.

"Aku adalah murid kelas dua belas. Ketua OSIS Sora Akademy ini. Namaku Gremory Rias. Namamu siapa? Jika aku boleh tahu," jawab gadis yang bernama Rias tadi.

Gadis berambut perak itu semakin menatap tajam gadis itu.

"Koneko," ujar gadis berambut perak yang bernama Koneko itu singkat.

"Oh," Rias hanya mengangguk-angguk dan menoleh ke arah Naruto."Lalu kamu. Namamu siapa?"

Naruto menoleh ke arah Rias sambil memasang wajah kusut karena menahan sakitnya pada perutnya karena ditinju oleh Koneko tadi.

"A-aku ... Namaku ..."

Belum sempat Naruto menyebutkan namanya. Tiba-tiba terdengar yang suara seseorang yang amat memekakkan telinga.

"Perhatian, semuanya! Ayo, segera berbaris dengan teratur! Kepala sekolah segera memasuki aula! AYO! CEPAT BERBARIS DENGAN TERTIB!" terdengar seruan dari arah depan aula. Seorang guru perempuan berambut hitam diikat ponytail datang dengan tiba-tiba dengan suaranya yang keras dan tegas.

Semuanya pun patuh dan segera membentuk barisan. Kecuali Rias, Koneko dan Naruto tadi. Mereka bertiga secara serentak menoleh ke arah depan aula.

"Rupanya Anko-sensei. Kita harus berbaris. Aku harus kembali ke tempatku. Baiklah, sampai jumpa lagi, dua juniorku yang manis. Terutama kamu yang berambut kuning. Kapan-kapan kamu harus memberitahukan kepadaku siapa namamu," Rias menatap Naruto dengan senyuman yang manis. Naruto hanya diam dan mengangguk pelan. Ia terpana melihat Rias.

'Ternyata dia adalah kakak kelasku dan juga ketua OSIS sekolah ini. Aku kira dia adalah murid baru yang sama denganku,' pikir Naruto sambil memegang kacamatanya.

Naruto berpikir sebentar. Mendadak firasatnya mengatakan bahwa Rias adalah orang yang ia cari. Sesuai dengan petunjuk yang diberitahu oleh orang tuanya.

Petunjuk pertama. Orang yang memegang batu permata cahaya itu adalah merah seperti api.

'Rambut Rias-senpai itu warnanya merah. Merah seperti api. Tapi, apa mungkin dia adalah orang yang memegang batu permata cahaya itu? Aku harus memastikannya dulu.'

Naruto terus berpikir. Hingga tiba-tiba ada suara seseorang yang menegurnya.

"Hei, kenapa kamu malah termenung? Ayo, berbaris!"

Lamunan Naruto buyar tatkala ada suara seseorang yang hinggap di telinganya. Naruto pun sadar dan menatap ke depan. Rupanya Rias tadi sudah pergi dan Koneko sudah berjalan meninggalkan Naruto. Semua orang sudah berbaris dengan rapi di tengah aula tersebut.

"Hei, tunggu!"

Naruto segera mengejar Koneko. Ia mengikuti kemana Koneko berbaris. Koneko menoleh ke belakang. Naruto tersenyum kecil.

"Kenapa kamu mengikuti aku?" tanya Koneko dengan sedikit sewot.

"Habisnya hanya kamu yang mau berbicara denganku. Aku tidak mempunyai teman di sini. Jadi, makanya aku ingin berbaris di dekatmu," jawab Naruto tetap tersenyum.

Koneko menatap Naruto dengan lama. Lalu ia memandang ke depan aula.

"Hah, terserahlah."

"Hehehe ... Ternyata kamu baik juga. Terima kasih ya."

Naruto tersenyum kecil. Koneko hanya berwajah datar tanpa menampakkan senyuman.

"Iya," wajah Koneko sedikit memerah karena perkataan Naruto tadi.

Tak lama kemudian, masuklah beberapa orang dewasa dan membentuk deretan yang rapi. Di tengah deretan di antara dua pria, tampak wanita berambut krem yang diikat dua dan memakai pakaian jas yang berwarna hijau. Wajahnya masih cantik padahal umurnya sudah memasuki umur setengah abad. Dialah kepala sekolah yang bernama Senju Tsunade.

Tsunade segera membuka pertemuan penting di aula ini. Semua orang bersiap-siap untuk mendengarkannya.

"Selamat siang, semuanya!"

"Selamat siang!" seru semuanya dengan semangat. Suara mereka menggema keras di aula itu.

Tsunade tersenyum senang mendengarkannya. Begitu juga dengan para guru.

"Baiklah, semuanya. Bagi para murid baru, kenalkan nama saya adalah Senju Tsunade. Saya adalah kepala sekolah yang memimpin Sora Akademy ini. Saya sangat senang berjumpa dengan kalian semuanya. Lalu saya akan memberitahukan langsung kepada para murid baru tentang pembagian kelas yang telah saya sepakati bersama para staf guru di sini. Akan saya bacakan dengan perlahan-lahan. Jadi, kalian harus mendengarkannya dengan seksama."

Tsunade mengeluarkan secarik kertas dari dalam sebuah map yang sedari tadi ia pegang. Lantas Tsunade mulai membaca isi yang tertuang di dalam kertas putih itu. Semuanya terdiam dan fokus untuk mendengarkan Tsunade.

"Bagi yang disebutkan namanya berdasarkan pembagian kelas. Diharapkan kalian mendengarkannya dengan baik dan saya tidak mengulang dua kali setelah membacanya," Tsunade menatap para murid dengan serius."Saya akan mulai membacanya. Kelas 10-A. Akane Amaru, Ayaka Shion, ..."

Urutan daftar nama yang termasuk kelas 10-A, dibacakan Tsunade dengan perlahan-lahan dan jelas. Naruto mendengarkannya dengan teliti.

"Sasuke Uciha ..."

Naruto kaget mendengar nama itu. Kedua matanya membulat sempurna. Beberapa orang juga kaget di antara barisan lautan manusia itu setelah mendengar nama "Uciha Sasuke".

Seorang anak laki-laki berambut hitam yang berdiri di antara orang-orang. Ia menampakkan wajah yang amat datar. Beberapa orang menatap ke arahnya dengan sinis.

"Jadi, itu Uciha yang terakhir itu?"

"Ya, aku rasa begitu."

Beberapa orang berbisik-bisik di dekat Naruto. Naruto dapat mendengarkannya dengan jelas. Lalu Naruto memperhatikan keadaan seisi aula. Tampaklah Sasuke yang berdiri di bagian belakang barisan tak jauh darinya.

Naruto menatap orang yang bernama Sasuke itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang ia pikirkan.

'U-Uciha Sasuke? Dia juga masuk ke sekolah ini,' gumam Naruto sambil melirik ke arah Sasuke yang masih berwajah datar dan tetap tenang. Seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata hitam kelam yang mempunyai aura kegelapan yang amat pekat. Naruto dapat merasakan aura kegelapan itu.

"Haruno Sakura ..."

Sakura berdiri di depan sebelah barisan kiri. Tak jauh dari Naruto juga. Naruto melirik ke arah Sakura. Sakura bersorak gembira karena ia sekelas dengan Sasuke.

"Yes, aku sekelas dengan Sasuke-kun lagi!" Sakura mengepalkan tinjunya di depan tubuhnya. Semua orang terheran-heran melihat tingkah Sakura itu. Ada juga yang menatapnya dengan sinis dan sewot.

'Sakura-chan juga masuk ke kelas yang sama dengan Sasuke. Ya, sayang sekali.'

Sekilas Naruto kecewa karena berharap Sakura sekelas dengannya lagi. Tapi, dia tidak boleh berharap lagi kepada Sakura karena Sakura hanya menyukai Sasuke. Bukan dirinya.

Ya, dulu sewaktu SMP, Naruto pernah mencoba menembak Sakura. Namun, cintanya malah ditolak mentah-mentah oleh Sakura. Membuat Naruto sedikit patah hati karenanya. Tapi, setelah itu, Naruto tetap bersikap biasa-biasa saja kepada Sakura. Dia tidak marah kepada Sakura dan tetap menganggap Sakura sebagai teman yang baik. Meskipun sampai saat ini, Naruto tetap menyukai Sakura. Tapi, Naruto sudah bertekad akan melupakan perasaannya yang begitu besar kepada Sakura. Dia berharap Sakura bisa mendapatkan laki-laki yang disukainya itu. Tentunya si Sasuke itu.

Lalu Naruto menfokuskan dirinya untuk mendengarkan Tsunade yang terus berbicara.

"Kelas 10 B, Akamichi Chouji, Aburame Shino, Hyuga Hinata, Inuzuka Kiba, Nara Shikamaru ..."

Beberapa orang yang masuk ke dalam kelas 10-B, disebutkan namanya satu persatu oleh Tsunade. Hingga terakhir adalah Yamanaka Ino. Orang-orang yang termasuk kelas 10-B, termasuk Ino juga. Mereka tersenyum serentak saat namanya disebut oleh Tsunade. Kecuali Ino yang memasang wajah frustasi di antara orang-orang yang berbaris.

"Ya, aku tidak sekelas dengan Sasuke-kun ...," gumam Ino mendadak pundung sendiri. Beberapa orang sweatdrop melihat Ino.

Naruto yang berbaris di belakang Koneko. Ia menghelakan napasnya karena teman-teman satu Konoha tidak sekelas dengannya. Kecuali si Sai yang ternyata masuk ke kelas 10-C.

Semua daftar nama disebutkan oleh Tsunade hingga sampai di kelas 10-F. Namun, yang anehnya nama Naruto belum disebutkan sama sekali.

"Kelas 10-F, Erza Scarlet, Gray Fullbuster, Hitsugaya Toushiro, Killua Zoldyck, Lisanna Strauss, Lucy Heartfilia, Natsu Dragneel, Sabaku No Gaara, Toujou Koneko, Uzumaki Menma, ..."

Satu persatu orang yang termasuk kelas 10-F, menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda. Kecuali Naruto yang ternganga habis di tempat. Karena kelas 10-F adalah kelas yang paling terbelakang.

Naruto terpaku mendengar urutan nama orang yang masuk ke kelas 10-F karena namanya malah disebut Uzumaki Menma. Bukan Uzumaki Naruto. Apa yang terjadi? Ada yang salah ini.

'Lho, kenapa namaku malah disebut Uzumaki Menma? Bukan Uzumaki Naruto. Ini salah,' Naruto berwajah sewot. Ia menggerutu di dalam hatinya.

"Ternyata aku masuk ke kelas yang paling terakhir. Malah satu kelas sama teman-teman yang menyusahkan aku lagi. Haaah, memang sudah nasib," terdengar keluhan dari orang yang berada di samping Naruto. Naruto melirik orang yang berada di sampingnya. Orang itu adalah anak laki-laki berambut merah. Ia memasang wajah frustasinya setelah namanya disebut oleh Tsunade yaitu Natsu Dragneel.

Koneko juga melirik orang yang ditatap Naruto itu.

"Jadi, dia adalah teman yang akan sekelas denganku?" gumam Koneko pelan.

Naruto menarik pandangannya ke arah Koneko.

"Kamu masuk ke kelas sepuluh-F, Toujou-san? Itukan nama margamu?" tanya Naruto.

Koneko menoleh ke belakang.

"Iya, kamu masuk ke kelas mana?" Koneko juga bertanya.

Naruto berwajah kusut.

"Sepertinya namaku salah disebut. Seharusnya bukan Uzumaki Menma. Tapi ..."

TRRRT!

Sesuatu bergetar di dalam saku celana Naruto. Naruto kaget dan menghentikan pembicaraannya.

"Hm, siapa yang meneleponku?" gumam Naruto pelan sambil merogoh saku celananya.

Koneko menjadi heran melihat Naruto.

"Kenapa?" tanya Koneko.

Naruto menoleh ke arah Koneko.

"Tidak ada," jawab Naruto sambil tersenyum. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Rupanya sesuatu itu adalah sebuah handphone.

"Oh ...," Koneko membulatkan mulutnya seperti huruf o. Dia pun menarik pandangannya ke arah depan aula lagi.

Naruto segera memeriksa handphone yang merupakan hadiah dari sang Ayah. Terlihat di layar handphone itu, terdapat satu pesan yang baru saja terkirim. Naruto segera membuka pesan itu dan membaca isinya.

Isi pesan itu adalah:

- Anakku, Naruto-chan. Tousan lupa memberitahukan sesuatu hal yang penting padamu. Bahwa namamu bukan Namikaze Naruto tapi Uzumaki Menma.

Ingat ya sayang, Uzumaki Menma. Kamu harus memakai nama Uzumaki Menma selama bersekolah di Sora. Mengerti?

Tidak usah dibalas. Tousan tahu kamu sibuk sekarang.

Salam cinta dari Tousan dan Kaasan.-

Setelah membaca pesan atau sms dari Ayahnya itu, membuat Naruto sweatdrop di tempat. Ternyata banyak yang harus dia lakukan.

'Yang benar saja. Masa namaku adalah Uzumaki Menma? Ada-ada saja. Misi ini benar-benar membingungkanku. Terutama harus menyamar seperti ini,' Naruto menggerutu di dalam hatinya. Ia menghelakan napasnya berkali-kali. Lalu handphone itu, ia masukkan kembali ke dalam saku celana panjangnya.

Setelah itu, Tsunade membacakan daftar nama yang termasuk dalam kelas 11 dan kelas 12. Satu-persatu setiap orang menunjukkan ekspresi dan reaksi masing-masing saat namanya disebut.

Tak lama kemudian, Tsunade mengakhiri pertemuan ini.

"Cukup sekian saja pemberitahuan dari saya. Saya ucapkan selamat datang di Sora Akademy, para murid baru, murid lama dan para staf guru yang tetap setia mengajar di sekolah langit yang tercinta ini. Terima kasih," Tsunade tersenyum manis untuk menutup pertemuan ini. Membuat semua murid menatapnya dengan terpana.

PLOK! PLOK! PLOK!

Tepuk tangan yang meriah pun mendukung akhir pertemuan. Semuanya merasa puas tentang acara pertemuan tentang pembagian kelas ini. Terutama Naruto yang masih merasa aneh dengan semua ini.

.

.

.

Jauh dari sekolah Sora Akademy, terlihat Minato yang berdiri di atas dahan pohon besar bersama Kushina. Mereka berada di kawasan hutan hijau yang sangat luas dan jauh dari desa yang bernama Sora.

Saat ini, matahari sudah tepat berada di puncak kepala. Suasana terasa panas sekali. Angin pun tidak bertiup.

Minato baru saja mengirimkan sms kepada Naruto lewat handphone. Keringat pun perlahan-lahan menetes dari balik rambut pirangnya.

"Bagaimana, Minato-kun?" tanya Kushina.

"Sudah aku beritahu kepada Naruto," jawab Minato tersenyum sambil memasukkan handphone ke dalam saku jaketnya.

"Syukurlah, untung kamu cepat memberitahukan kepada Naruto bahwa namanya Uzumaki Menma sekarang. Kalau tidak, anak itu akan protes kepada kepala sekolah yang tengah mengumumkan pembagian kelas sekarang. Aku berharap Naruto dapat belajar menjadi orang yang penyabar dan tidak terlalu gegabah dalam menanggapi masalah," Kushina menghelakan napasnya.

"Hm, mudah-mudahan anak kita dapat menjalani misi pertamanya dengan baik di luar desa seperti ini. Walaupun aku masih merasa cemas dengan keadaannya. Karena menurut kabar yang kudengar dari guru Jiraiya, ada kelompok ninja yang jahat juga bersekolah di Sora. Aku tidak ingin Naruto disakiti oleh mereka. Aku berharap mereka juga tidak mengetahui bahwa Naruto mempunyai musang berekor sembilan yang tersegel di dalam tubuhnya. Semoga semua rahasia tentang siapa sebenarnya Naruto tidak dapat dilacak oleh mereka," Minato berwajah kusut. Kushina menghentikan cengirannya. Lalu ia memegang pundak suaminya itu. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya saat ini.

"Tenang saja, Minato-kun. Aku yakin Naruto pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik. Dia bukan anak kecil lagi yang mesti dilindungi dan dirahasiakan keberadaannya dari luar Konoha. Kamu juga tahu bahwa sejak dulu Naruto ingin sekali menjalani misi di luar desa. Tapi, kita selalu melarangnya untuk keluar dari desa dan hanya memberikannya sebuah misi yang sederhana di dalam desa saja. Naruto memang selalu menuruti apa yang kita mau. Dia tidak pernah membantah. Karena itu, sudah saatnya kita melepaskan dia untuk pergi ke luar desa demi perkembangan psikis dan mengasah kemampuan ninjanya lebih meningkat lagi. Lalu kudengar ada guru yang hebat di sana. Pasti Naruto akan aman bersamanya. Percayalah dengan kata-kataku ini, Minato-kun," Kushina mencoba memberikan penjelasan kepada Minato. Minato mendengarkannya dengan seksama.

Sedetik kemudian, Minato tersenyum simpul.

"Ya, kamu benar, Kushina sayang. Tapi, aku masih merasa cemas. Meninggalkan Naruto di sana sendirian. Ingin rasanya aku tetap tinggal di sini untuk mengawasi Naruto. Kamu pulang saja ke Konoha sendirian. Bagaimana, Kushina?"

Seketika wajah Kushina menjadi sewot.

"Terus bagaimana tugasmu sebagai Hokage? Apakah kamu mau meninggalkannya begitu saja, Minato-kun?"

Terasa aura mengerikan muncul dari Kushina. Wajah Kushina menggelap bagaikan hantu. Minato menampilkan senyum kikuknya.

"Maaf, Kushina. Aku hanya bercanda!"

"Kalau begitu, kita kembali pulang ke Konoha sekarang juga!"

Secara langsung, Kushina menarik kerah baju Minato begitu saja. Minato terseret dan dibawa terbang oleh Kushina karena Kushina melompat ke arah pohon yang lain.

'Naruto-chan, Tousan tidak sanggup berpisah denganmu!' batin Minato yang telah mengeluarkan air mata frustasinya.

Ternyata Minato menderita penyakit yang namanya Son-complexs. Dia akan melakukan tindakan yang di luar perkiraan demi melindungi sang anak. Minato tidak ingin Naruto disakiti oleh siapapun.

'Tousan akan selalu mengawasimu, Naruto-chan! Tousan berjanji, Tousan akan selalu berada di dekatmu dan menjagamu.'

Diam-diam tanpa sepengetahuan Kushina yang terus menyeret Minato. Minato sudah melakukan sebuah rencana yang tanpa diduga sama sekali.

Ini akan menjadi kejutan yang menghebohkan nantinya.

.

.

.

Di sebuah koridor asrama untuk pria, di Sora Akademy. Terlihat seorang anak laki-laki bertubuh mungil, berambut putih pendek spike dan bermata turquoise yang sedang berjalan dengan wajah yang bingung. Ia celingak-celinguk. Memperhatikan setiap nomor kamar yang ia lewati.

"Hm, di mana kamar nomor tiga puluh sembilan?" ujarnya sambil memperhatikan secarik kertas yang dipegangnya."Ternyata satu kamar diisi oleh empat orang. Sungguh merepotkan."

Laki-laki yang diketahui bernama Hitsugaya Toushiro menampilkan air muka yang datar. Ia menggendong tas hitam bertali dua di bahu kirinya. Hingga tak terasa matanya menangkap sebuah pintu yang bertuliskan nomor 39.

"Ah, itu dia ...," seru Toushiro tersenyum senang dan mempercepatkan langkahnya ke arah pintu tersebut. Bersamaan datanglah tiga orang laki-laki yang juga menuju ke arah pintu kamar yang bernomor 39 itu.

"Eh?" keempat laki-laki itu saling berpapasan di depan pintu kamar 39 itu. Mereka adalah Naruto, Killua, Toushiro dan Natsu. Mereka kaget sambil menatap dengan aneh.

Takdir telah mempertemukan mereka dengan Naruto. Ketiga teman yang akan membantunya dan menjadi teman baiknya.

Lalu banyak hal yang akan Naruto tempuh demi mencari orang yang membawa batu permata cahaya itu. Melalui petunjuk yang telah diberikan oleh orang tuanya.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Hai, jumpa lagi di chapter 2 di cerita "Closer" ini.

Saya berpikir inilah kelanjutan cerita untuk chapter 2 ini. Beberapa karakter tokoh dari 5 anime sudah saya masukkan ke dalam cerita ini.

Maaf, jika kelanjutannya malah tambah tidak seru. Hm, entahlah mungkin perasaan saya sendiri. Tapi, bagaimana dengan kalian?

Karena saya sedang bosan membuat genre cerita yang tentang romance terus, maka saya mencoba membuat genre cerita seperti ini. Rasanya menyenangkan aja saat menulis cerita ini. Apalagi tiba-tiba saya mendapat ide bagaimana rasanya jika Naruto menyamar dengan menggunakan kacamata. Hehehe, jadi keren rasanya Naruto seperti itu. Saya tambah suka dengan karakter Naruto di fic ini. ^^

Ok, sekian aja dari komentar saya yang gak jelas ini.

Terima kasih udah membaca cerita ini.

Arigatou gozaimasu ... ^^

Hikari Syarahmia

Please review tentang chapter kali ini.