Play The Game

•••

Seharusnya Chanyeol segera pergi setelah hampir dua jam ia habiskan berbagi kehangatan bersama wanita mungil yang bukan miliknya, bukan malah membiarkan lengannya kebas dijadikan bantal oleh wanita itu. Sedang tangan lain memeluk pinggang kecil nan telanjang itu, membawa dalam dekapannya. Hingga ia harus merasakan desiran halus di dadanya.

Wanita mungil bukan miliknya itu begitu cantik, mata sipit itu terpadu pas dengan hidung mancung dan bibir tipisnya. Jempol besarnya menelusuri pipi halus didepannya lalu berhenti pada sudut bibir sedikit terluka itu. Chanyeol menyadari betapa ia bernafsu pada wanita yang terus menggodanya, lalu ia tak sabaran melumat belah tipis manis itu hingga tak sadar sedikit menggigitnya.

Hembusan nafas teratur Baekhyun menggelitiki lehernya. Senyum simpul Chanyeol jelas terukir melihat bagaimana Baekhyun tertidur pulas. Belah tipis itu terbuka kecil dan dengkuran halus terdengar. Chanyeol tahu Baekhyun kelelahan karena permainan kasarnya. Chanyeol tidak bisa mengendalikan diri jika nyatanya kenikmatan luar biasa yang ia dapat. Baekhyun dalam kondisi sadar begitu menggoda lantas menjelma menjadi gadis mungil yang tertidur begitu menggemaskan. Meski ragu, Chanyeol pikir ia menyukai wanita milik kakaknya itu.

Pantas saja Changmin yang suka bermain wanita luluh pada wanita menggemaskan seperti Baekhyun lalu berakhir membawanya masuk dalam mansion. Jika saja Changmin tahu bahwa wanitanya telah Chanyeol setubuhi --Oh tidak! Baekhyun juga menginginkannya-- sudah pasti sebuah amunisi seberat lima puluh gram sudah bersarang di tempurung kepalanya.

Namun Chanyeol sama sekali tak menaruh rasa takut. Tidak sama sekali. Lantas bibir tebalnya mendaratkan kecupan di titik kecil hitam manis di atas sudut bibir si mungil.

"Baekhyun, kau akan menjadi milikku. Hanya milikku." bisiknya itu mengganggu tidur si kecil.

Mata sipit itu perlahan terbuka disambut senyum hangat si lelaki. "Masih lelah?" tanyanya seraya menyingkirkan anak rambut di dahi sempit itu.

Baekhyun mengangguk kecil. Lantas tangan besar menarik kepalanya membenamkan di dada telanjang sang pria.

"Tidurlah lagi."

"Hmm" lalu Baekhyun mengeratkan pelukannya sebelum mendapat kecupan manis di puncak kepalanya .

•••

Mentari telah berada pada kaki langit mencipta semburat jingga yang cantik. Baekhyun berdiri pada jendela kaca besar di kamar hotel mewah menatap gedung-gedung tinggi di luar sana. Ia sudah harum dan mengenakan pakainnya lagi sedang Chanyeol masih terdengar berisik dalam kucuran shower dari dalam kamar mandi.

Baekhyun bermain dengan kaca didepannya. Ia membuka mulut dan membuang nafas hingga kaca itu beruap lalu telunjuknya menulis kata Changmin, ia menghapusnya melakukan hal serupa dan menulis Chanyeol.

'Park Changmin. Park Chanyeol.'

Ucapnya tegas diiringi kekehan dari belah tipisnya.

Pintu kamar mandi berderit Baekhyun menghampiri Chanyeol yang bertelanjang dada dengan handuk membelit pinggang.

"Setalah ini kita akan kemana? Haruskah kita pulang?" tanya Baekhyun seraya membawa Chanyeol duduk ditepi kasur. Ia menggunakan handuk kecil di leher Chanyeol dan mulai mengeringkan rambut basah lelaki tinggi itu.

"Sebaiknya kita pulang. Changmin hyung pasti sudah menunggu."

"Changmin Oppa pasti masih sibuk. Mungkin kita bisa mencari makan terlebih dahulu. Aku lapar~"

Chanyeol menatap gemas pada Baekhyun yang berdiri didepannya "Apa yang ingin kau makan hmm?" tanyanya setelah mencubit pelan pipi si mungil.

"Eumm pizza mungkin?" Baekhyun menatap lekat manik hitam legam didepannya. "Chan--" lalu pantatnya ia dudukkan di paha si pria "Bagaimana jika kita memesan dari hotel saja."

'Sial.' Bukannya menjawab Chanyeol justru harus menahan geramannya karena Baekhyun terus menggesekkan pantatnya naik.

"Kau harum Chan. Aku akh!"

Kalimat itu menjadi yang terakhir sebelum Chanyeol membantingnya ke ranjang, mengulang kegiatan panasnya lagi dan lagi.

Baekhyun merasa tubuhnya remuk, bagaimana ia menguras energinya hanya untuk 'bermain' di atas ranjang. Di mobil menuju mansion Changmin ia habiskan untuk tidur.

Lebih menjengkelkan lagi ketika Changmin menyambutnya dengan tatapan tajam dan mengendus lehernya, mencoba mencium aroma wanitanya.

Baekhyun tidak bodoh, ia tentu sudah membasuh tubuhnya dengan harum sabun seperti wangi vanilla miliknya yang ia pesan di hotel. Begitu juga dengan tubuhnya yang terbalut dress mustard selutut, pun ia dapat di hotel.

Baekhyun tidak perlu menjelaskan kenapa ia harus berganti baju, Changmin tahu bahwa Baekhyun tidak suka memakai baju jika sudah terkena bau sinar matahari atau sedikit keringat. Hingga Baekhyun harus mengganti cepat dan mendapat yang baru.

Cukup berkata "Maaf Oppa~ Aku ada jam tambahan."

Selesai sudah dengan rengekan manjanya. Dan pria tinggi itu hanya mengacak rambut Baekhyun lantas membawanya kedalam kamar.

Sedang Chanyeol yang berdiri tak jauh dari pintu besar hanya berdecak kesal.

Itu diluar kendali jika Changmin menginginkan tubuhnya memberi kehangatan sedang kondisinya dalam keadaan buruk. Selain rasa lelah tubuhnya tidak lagi mulus. Ia ingat bagaimana Chanyeol meninggalkan bercak keunguan. Chanyeol begitu bodoh. Dan tololnya Baekhyun yang melenguh menikmati tidak mempermasalahkan itu.

"Sayang~ bagaimana jika aku mandi dulu."

"Tidak cantik. Aku sangat merindukanmu."

"Tapi, aku bau~"

Changmin tidak peduli, ia tetap memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah si mungil. Jika sudah seperti ini ia harus menggunakan cara lain.

Ia membalas pagutan Changmin lembut, memeluk pinggangnya lantas membuat pergerakan kecil seperti membawa rengkuhan tubuh besar itu ke sofa dimana tasnya tadi terlempar tanpa melepas pagutannya.

Changmin menyukai bagaimana ia mulai menyentuh Baekhyun, ia tak menyadari bagaimana tangan lentik itu mengambil sesuatu kecil dalam tasnya.

"Sayang, bagimana jika kita minum dulu." Mata sipitnya melirik pada sebotol wine pada tatanan perak di meja sofa. "Aku ingin mencium wine dari bibirmu." bisiknya pasti. Changmin mengangguk, ia bisa apa kalau Baekhyun memang menginginkannya.

Baekhyun lebih dulu mengambil gelas kaca lonjong itu, mengisinya sedikit. Lantas menyesapnya dan memberikan pada si pria. Changmin ikut mencicip dan kembali mendapat pagutan tipis lunak itu.

Changmin begitu terbuai tanpa tau si mungil lebih cepat bertindak. Membuka kapsul membiarkan serbuknya keluar. Dibalik punggung tegap itu Baekhyun menggoyangkan gelasnya pelan.

"Aku ingin lebih rasanya."

Lalu Changmin tanpa menunggu lama meneguk habis cairan keungunan yang diberikan wanitanya. Baekhyun masih memimpin. Membawa pria itu ke ranjang besar, duduk diatas pinggangnya. Satu persatu kancing kemeja hitam Baekhyun lepas sedang Changmin mulai merasakan kepalanya berat dan pandangannya mengabur dan yang ia ingat Baekhyun menindihnya.

"Payah." ujarnya mengejek.

Ia bangkit dan segera melepas seluruh baju Changmin, pun sama dressnya ia lepas. Tanpa menyisakan apapun. Lantas ia ikut berbaring disamping si pria bodoh. Dengan begitu Baekhyun bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya.

Obat itu bekerja ampuh selain menghilangkan kesadaran juga membuat ingatan menjadi buruk. Changmin bisa membuat kesimpulan, ia sudah tidur dengan Baekhyun dan meninggalkan jejak keunguan di tubuh wanitanya. Itupun jika ia sempat berpikir jika pusing yang ia dapat setelah sadar.

Baekhyun terbangun lebih awal. Senyum manisnya mengisi awal harinya. Langkahnya ia bawa dalam dapur besar disambut Tuan Hwang ketua pelayan mansion itu. Yang lebih tua membungkuk memberi hormat.

"Selamat pagi Nyonya Byun. Ada yang bisa saya bantu?"

Baekhyun menganguk kecil "Apa menu hari ini? Bisakah aku memasak untuk Changmin Oppa?"

Sebenarnya Tuan Hwang ragu, tapi ia juga tak berani menolak Nyonya baru dalam mansion itu. Ia pun mengiyakan.

Lalu Baekhyun bersemangat mulai membuat kudapan yang sebenarnya ia tak pandai memasak selain ramen dan telur dadar. Untuk apa guna chef dalam mansion itu jika Baekhyun tidak bisa menggunakannya.

"Apa kau yakin rasanya enak?"

Chef itu memandang ragu pada sup ayam pedas hasil arahannya lalu mengangguk pada Baekhyun sebelum mencicipi dahulu.

"Jika kau membohongiku kau akan mendapat pemecatanmu!"

"Tidak Nyonya Byun. Rasanya cukup meski tidak terlalu lezat." lirihnya jujur takut. Namun bahu tegangnya jatuh kala Baekhyun menepuknya berucap terima ksih.

Seorang pemuda berkulit eksotis tengah mengunyah permen karetnya, meniupnya menjadi balon, meletus, dan berulang lagi. Pemuda itu tengah dilanda bosan sudah dua malam ia bermalam di hotel, waktu ia habiskan untuk makan, membaca komik, bermain game di ponsel, berjalan-jalan sebentar atau hanya tidur.

Dia bukan turis yang sedang membuang waktu atau uang. Dia bekerja. Percayalah dia memang bekerja. Dua hari dua malam ia habiskan malas-malasan sedangkan kerjanya hanya butuh waktu 4 menit. Enak bukan?

Hari ini adalah satu jam tetakhir ia berada di kamar mewah itu. Dia sudah menyiapkan semua dengan baik, 4 menit pekerjaannya akan segera dilakukannya

Penyamaran sedang ia jalankan. Rambut caramel gimbalnya belum ia cuci sejak satu minggu yang lalu. Kaos biru kebesaran bergambar pohon kelapa ia pilih lalu ia padankan dengan celana hitam pendek selutut. Sebagai pelengkap manis kacamata hitam bertengger di pangkal hidung lucunya. Pas seperti turis asal negara tropis.

Dia membuka GPS pada ponselnya sebelum meninggalkan kamar itu dan menggrndong ransel besarnya. Bukan menuju lobi hotel melainkan pada bagian teratas.

Bos besar itu meneguk segelas air putih sampai habis yang baru diterima dari Baekhyun. Kepalanya berdenyut dan Baekhyun sigap memijatnya pelan.

"Apa kau yakin untuk acara hari ini?" si mungil memastikan. "Maaf aku memberimu alkohol dan membuatmu bermain bebera ronde hingga kau jadi pusing seperti ini."

Changmin mencoba mengingat namun pusing benar menderanya dan mendapati dirinya telanjang maka ia tak perlu lagi mengingat.

"Mandilah aku sudah siapkan air hangat."

Tanpa memberi jawaban, lelaki itu bangkit segera masuk kamar mandi. Baekhyun sudah menyiapkan semuanya, air hangat, setelan jas terbaik dan sarapan yang cukup enak.

Baekhyun telaten memakaikan jas hitam itu tanpa lupa menyimpulkan dasi merah maroon. Untuk yang terakhir ia berikan tepukan di bahu tegap itu.

Peresmian Zelus mall sebagai bisnis legalnya akan Changmim hadiri dan lihat bagaimana Baekhyun menyiapkan dengan baik sampai meja makan.

"Sayang, apa kau yakin ini kau yang mebuatkannya?" Changmin mengunyah makanannya pelan memastikan rasa. "Ini enak cantik." lalu ia tersenyum puas.

"Sungguh! Kalau begitu Changmin oppa harus menghabiskannya." Baekhyun menambahkan kuah sup ayam pedasnya lagi. Lalu mengambil lagi satu sendok sayur penuh dan menuangkan pada mangkuk nasi lain milik orang yang duduk didepannya.

"Kau juga harus menghabiskannya Chanyeol. Kau butuh tenaga kuat untuk menjadi pengawalku."

"Hmm." Gumam Chanyeol tak berselera padahal ia benar menikmati kudapan yang terasa pas dilidahnya, enak. Ia bersikap sewajarnya pada Baekhyun ketika didepan pemiliknya.

Kenapa mansion besar ini penuh dengan lelaki tinggi rupawan. Membuat Baekhyun selalu berdecak kagum. Tapi tidak untuk satu orang ini. Lelaki yang sejak pertama kali dilihatnya saat pertemuan pertamanya dengan Changmin di Jepang. Baekhyun selalu mendapat picingan tajam darinya. Dan Baekhyun balik menatapnya tak suka. Lelaki itu Wu Yifan. Atau sebut saja Kris kaki tangan Park Changmin.

Baekhyun masa bodoh akan lelaki songong itu. Kunci utamanya adalah Changmin. Jadi Ia terus menempel pada lengan Changmin mengantarnya sampai depan mobil.

"Pulanglah lebih cepat. Akan kubuatkan kudapan yang lebih enak."

"Sungguh. Baiklah tapi kau harus hati-hati. Jangan lukai jarimu lagi."

Baekhyun tertawa seketika menyembunyikan telunjuknya bekas goresan pisau di balik punggung. Lalu ia memberikan kecupan kecil, melambaikan tangan pada Changmin dan Kris yang sudah memasuki mobil dan meninggalkan pelataran luas di ikuti beberapa mobil pengawalnya.

"Sudah bermain dramanya?"

Baekhyun berbalik mendapati Chanyeol dengan wajah ketusnya.

"Lain kali hati-hati." Si lelaki menarik telunjuk lentik itu dan membalutnya dengan plaster bergambar beruang. "Apa ini sakit?"

"Ini hanya luka kecil Chanyeol." Belah tipis itu tertarik ketika Chanyeol mengecup lembut telunjuknya.

"Meski kecil kau tetap melukai dirimu. Jangan memasak lagi jika jarimu akan tetluka."

"Kau berlebihan." Baekhyun memukul dada Chanyeol. Lalu membenahi letak dasi hitam si Lelaki tinggi. "Pulanglah cepat tampan. Dan kita akan habiskan lebih banyak waktu untuk bersama."

Chanyeol mengusak rambut panjang itu "Hmm" Lelaki tinggi itu masuk ke dalam mobil sebelum mendaratkan kecupan di dahi Baekhyun.

Chanyeol berubah dalam semalam. Seperti Changmin yang memperlakukan Baekhyun dengan baik. Iris cokelatnya menatap sendu sampai mobil Chanyeol itu tak terlihat, menyusul rombongan Changmin. Helaan nafas Baekhyun lakukan, ada sedikit rasa hangat yang Baekhyun rasa. Dan Baekhyun masih berfikir ia masih handal dalam mengendalikan perasaannya.

Detik berlalu seringainya kembali muncul. Ia tak membuang waktu segera melakukan panggilan dengan ponselnya.

"Mereka berangkat. Hanya ada delapan pengawal selain Kris dan Chanyeol."

Ransel besar itu dibuka oleh lelaki berambut gimbal. Seraya bersiul ia mengeluarkan satu persatu benda kesayangannya. Sebuah Artic Warfare Super Magnum yang dilengkapi teleskop PM II 10x42 dengan pembesaran optik 10 kali dan Senapan peluru .388 Lapua Magnum lelaki itu ia pasang cepat. Hanya 4 menit untuk bekerja, namun ia melakukan dengan sangat tenang.

Lelaki itu menahan kuat senapan dibahu. Matanya mendekat pada teleskop. Dari jarak 900 meter kepala seseorang sudah terpampang di teleskopnya. Otak cerdasnya menghitung lintasan peluru, kecepatan angin, kelembapan udara dan efek pergerakan bumi yang akan mempengaruhi lintasan pelurunya. Teleskop ia atur dimana sasaran pelurunya, di pangkal leher tepat bawah telinga atau di dada dimana jantungnya masih memompa. Sasarannya sudah pasti.

Senapan ia kokang.

Tarik nafas--

Kosongkan paru paru--

DOR

Sebuah letusan tunggal terdengar.

Peluru melesat kencang.

Kurang dari satu detik

Peluru dengan energi 6.734 joule menembus pangkal leher tepat dibawah telinga seseorang yang tengah melakukan pemotongan pita, seketika roboh. Tidak perlu dijelaskan bagaimana peluru itu menghancurkan tulang rahang dan pembuluh darah utama. Yang terpenting sasarannya mati dengan luka menganga detik itu juga.

Kedut bibirnya samar terlihat, ia merasa puas.

Dari jarak 900meter semua orang panik. Waktu baginya untuk segera meninggalkan tempat itu. Tidak perlu terburu-buru. Ketenangan adalah kunci dirinya menjadi seorang penembak runduk handal.

••

Dilain tempat pada waktu yang sama, 250 meter dari hotel itu, Seseorang berkulit pucat berada di gedung yang tengah dikerjakan pembangunannya, mengumpat berkali-kali. Kepala seseorang yang jadi objek lensa teropongnya, dalam hitungan pertamanya sudah lebih dulu dilubangi orang lain. Lalu ia berkemas cepat. Meninggalkan tempat teratas dengan lift material.

••

Lelaki berambut gimbal itu sudah mengemas senjatanya dengan rapi. Ia memasang earphone dan mulai menyalakan musik. Bibir kissablenya bersiul mengikuti lagu, ia berjalan santai memasuki lift yang membawanya pada lantai terbawah. Brosur pada tangannya ia lihat-lihat dan menyapa penjaga lobi hotel itu.

"Permisi Tuan. Aku harus kearah mana untuk sampai pada tempat ini." tanyanya seraya memperlihatkan bangunan istana Changdeokgung.

Penjaga itu menjelaskan, lelaki itu mengangguk mengerti. Ia lekas meninggalkan hotel itu.

Terakhir lokasi penjemputan. Ia berjalan sesuai arahan sebelumnya berhenti pada sudut belokan dan menghentikan taxi.

"Selamat pagi Tuan. Kemana saya harus mengantar anda?" Supir taxi bertanya tanpa menoleh seraya menjalankan mobilnya lagi.

"Ke salon bodoh. Aku tidak tahan dengan rambutku." lelaki berambut gimbal itu kesal dan melempar brosur perjalanan wisata Seoul tepat ke kepala supir taxi.

Tawa supir taxi meledak. "Kau tidak kehilangan pesonamu dengan rambut gimbalmu itu Jongin." lalu ia menyalakan lagu Ko Ko Bob milik boyband terkenal dinegaranya pada tape taxi bajakannya masih dengan tawanya.

"Sialan kau Jongdae." Jongin kesal lalu tempelengan ia daratkan di kepala rekannya.

"YAK!!"

Zelus Mall yang tadinya ramai akan para undangan dan wartawan kini berganti dengung sirine ambulans dan mobil. Semua mobil tamu berjejal dijalanan melaju meninggalkan lokasi, takut. Wartawan yang masih ingin meliput kejadian mencekam itu coba disingkirkan petugas. Garis kuning dibentang luas.

Lelaki paling tinggi berteriak "Cepat cari sialan itu sampai dapat!!! Jika perlu sampai jarak dua kilo meter. Jangan biarkan dia lolos." Kris tanggap melakukan panggilan pada ponselnya , "CEPAT BODOH!!! BERGERAK!" Teriaknya lagi pada belasan pengawal yang sudah berlari namun tetao dianggapnya lelet.

Sedang Chanyeol terus memanggil nama kakaknya. " Hyung, Bangun! Hyung!" ia menggoyang pundak lelaki tak bernyawa itu "Changmin hyung bangun! Kumohon!"

"Tidak! Tidak! Tidak! Kau harus bertahan!" rancaunya lagi.

seorang yang lain mengambil tubuh berdarah itu menaikkan pada brankar sebelum memastikan bahwa korban telah meregang nyawa.

•••

Baekhyun menikmati waktu kosongnya dengan memanjakan diri. Wajahnya penuh lumpur masker hitam. Ia bersender pada punggung sofa besar kamar Changmin. Tangan lentiknya membolak balik majalah fashion edisi terbaru. Sesekali melirik ponsel pada meja menunggu panggilan. Detik kemudian ponselnya benar berbunyi.

"Bagaimana dia sudah tewas?" tanyanya langsung.

"APA?" Baekhyun sontak berdiri, maskernya retak, sipitnya melebar.

"Kau bergerak seperti siput Oh Sehun!!!" makinya langsung memutuskan panggilan.

'Brengsek' umpatnya dengan bantingan pintu kamar mandi, membilas masker tak bergunanya. Ia sudah bekerja keras dan lihat hasilnya, targetnya mati di tangan orang lain.

Ruang toilet pria lantai dasar Zelus mall terkunci dari dalam. Seorang sengaja melakukannya. Pria tinggi didalamnya sedang membasuh tangannya yang berlumur darah hampir mengering. Mengosok sela-sela jari besarnya, sampai warna merah pekat itu ikut hilang oleh kucuran air wastafel.

Tisu ia ambil untuk mengeringkan tangannya, lalu segera menjawab panggilan yang cukup lama ia abaikan.

Diseberang telepon seorang berbicara singkat.

"Nice shoot Jongin." jawabnya tegas, ia menarik kedua sudut bibirnya lebar hingga lesung pipinya terlihat. "Sudah sangat lama aku menantikannya."

Bias wajahnya di cermin menunjukkan bagaimana ia tersenyum puas.

TBC

Terima kasih sudah membaca. Ditunggu reviewnya :D