Author Note:

Hello Minna! Terima kasih untuk semua reviewnya di chapter 1. Gak nyangka bisa dapet review yang lumayan positif(udh gak pede duluan sih T-T). Anyway, ini chapter kedua dari Ketika Senja Tiba, setelah membaca jangan lupa di review ya!

Disclaimer: Saya tidak memiliki Naruto.


Tes..tes..tes..

Bunyi air menetes.

Bunyi itulah yang pertama kali diengar oleh Naruto.

"Ugh.. Kepalaku."

Naruto menggerutu sambil memegang kepalanya. Kepalanya terasa sakit sekali bagaikan terhantam oleh palu secara berturut-turut tapi Naruto mencoba untuk tidak memikirkannya. Lalu Naruto bangkit dari posisi tidurnya dan melihat ke sekeliling. Tempat ini cukup gelap. Alat bantu penerangan hanyalah sebuah cahaya redup yang tidak jelas darimana sumbernya. Dibawah kakinya cukup terasa genangan air dangkal yang membasahi kaki. Lalu didepan matanya terlihat sebuah jeruji besi raksasa yang besarnya tidak dapat di ukur dengan mata saja. ditengah-tengah jeruji terdapat sebuah kertas yang bertuliskan "Segel". Tiba-tiba Naruto sadar ia sedang berada dimana.

"Tempat ini kan.."

"Sudah bangun kau ternyata, bocah tengik." Sebuah suara berat terdengar dari dalam jeruji.

Tiba-tiba dua bola mata terbuka dari dalam jeruji besi. Seketika terlihat seekor rubah raksasa berwarna merah berdiri dengan keempat kakinya dengan sembilan ekornya yang berkibas pelan ke segala arah. Mahluk didepan mata Naruto terlihat perkasa. Dia adalah Kyuubi no Yoko, sang rubah ekor sembilan.

"Kenapa diam saja bocah? Biasanya kau akan memaki-makiku, meminta cakraku seenaknya, bahkan menyalahkanku untuk semua penderitaanmu. Kenapa sekarang hanya diam saja bocah tengik?" Kyuubi bertanya dengan ketus.

Naruto hanya diam saja untuk beberapa saat. Lalu ia berkata

"Kyuubi, kenapa aku masih hidup? Bukankah seharusnya aku sudah mati?" Tanya Naruto pelan.

"Seharusnya. Kalau tidak karena bantuan cakra dariku mungkin kau sudah mati bocah." Jawab Kyuubi dengan ketus.

Sunyi sesaat. Lalu tiba-tiba Naruto berkata

"Mungkin sebaiknya aku seharusnya mati saja pada saat itu." Naruto bergumam.

"Ku-ku-ku...BWAHAHAHAHAHAHAHAHA! Ini sungguh keajaiban Bocah! Baru pertama kalinya aku mendengar kalau kau ingin mati. Kemana semangat pantang menyerahmu, kemana tekad kuatmu yang tak tergoyahkan itu bocah! Oh ini sungguh konyol BWAHAHAAHA!" Kyuubi tertawa sinis. Suara tertawa sinis Kyuubi menggema diruang kosong itu. Suara tertawa kyuubi membuat seisi ruangan bergetar.

" Oi Kyuubi... kenapa kau menolongku? Bukankah jika aku mati, kau akan dapat bebas dari penjara ini?" Naruto bertanya pada Kyuubi.

Seketika Kyuubi terdiam. Lalu Kyuubi menghela nafas dan berkata

"Jadi akhirnya kau memutuskan untuk melepas topengmu bocah? Bagus. Aku sudah muak melihat kau menggunakan topeng idiotmu itu didalam desa. Dan untuk menjawab pertanyaanmu bocah, aku tidak bisa. Segel yang dibuat oleh Yondaime sialan itu bekerja dengan spesial. Jika kau mati secara alami, maka aku kan terlepas dari kurunganku ini. Namun jika kau mati karena sebab seperti mati di pertarungan, atau dibunuh, aku juga akan dipaksa mati bersamamu bocah." Jawab Kyuubi.

"Hey Kyuubi..."

"Apa?"

"Apa sebelumnya kau terkurung oleh orang selain aku? Apakah ada orang yang menjadi Jinchuuriki selain aku Kyuubi?" tanya Naruto.

"Ada." Jawab Kyuubi.

"Siapa mereka?" Tanya Naruto.

"Jinchuuriki pertamaku adalah Uzumaki Mito. Istri dari Shodaime Hokage dan yang kedua adalah Uzumaki Kushina, putri dari desa Uzushiogakure (Desa Pusaran Air) dan dia adalah ibumu, bocah. Dan itu menjadikanmu sebagai Jinchuuriki Kyuubi no Yoko generasi ketiga" Jawab Kyuubi.

Naruto tertegun, dia merasa shock. Bukan hanya ada jinchuuriki lain selain dia, tetapi mendengar bahwa ibunya adalah Jinchuuriki generasi kedua Kyuubi no Kyoko memberikan beban berat untuk pikiran Naruto.

"kau..kau..KENAPA KAU TIDAK PERNAH MEMBERITAHUKU TENTANG HAL INI KYUUBI!" Naruto tidak dapat menahan emosinya lagi. Seluruh perasaan Naruto keluar bagaikan dam yang telah roboh karena tekanan air.

"KAU TIDAK PERNAH BETANYA BOCAH! KALAUPUN KAU BERTANYA SAAT ITU, AKU TIDAK AKAN MENJAWAB. KAU KIRA AKU INGIN BEKERJA SAMA DENGAN ORANG YANG HANYA INGIN KEKUATANKU BOCAH!" Kyuubi ikut berteriak dengan keras.

Naruto hanya bisa diam seribu kata. Dia tidak bisa menyalahkan Kyuubi. Jika kau terkurung selama itu, kau juga akan terbiasa dengan rasa tidak percaya dengan orang lain.

"kenapa...kenapa...KENAPA AKU HARUS MENDERITA SEPERTI INI! AKU TIDAK PERNAH MEMILIH UNTUK MENJADI JINCHUURIKI! AKU TIDAK PERNAH MEMILIH UNTUK DITAKUTI, AKU TIDAK PERNAH MEMILIH UNTUK HIDUP SEBATANG KARA, AKU TIDAK PERNAH MEMILIH JALAN HIDUPKU SEPERTI INI!"

Naruto mulai berteriak sambil memukulkan tangannya berkali-kali ke lantai ruangan penjara itu. Air mata mengalir dengan deras dari mata Naruto sampai akhirnya Naruto berhenti karena kelelahan. Tangannya berlumuran dengan darah, isak tangis naruto masih terdengar di ruangan yang sunyi itu.

"Kenapa..aku tidak pernah ingin menjadi seperti ini, aku tidak pernah ingin dianggap sebagai monster. Aku ingin punya teman sejati, aku ingin punya orang tua, kenapa harus aku yang menderita seperti ini. Aku hanya ingin diperlakukan layak seperti manusia biasa..kenapa harus aku.." Naruto berkata dengan lirih sambil terisak-isak.

Kyuubi hanya tertegun. Baru pertama kali ini ia melihat Naruto bertingkah seperti ini. Inikah perasaan Naruto yang sebenarnya?

"Ini semua bukan salahmu bocah. Manusia selalu takut pada sesuatu yang mereka tidak mnegerti. Insiden 13 tahun lalu juga tidak membantu situasimu. Kau bukanlah monster. Kau hanyalah korban dari rantai kebencian yang ada di dunia ini. Kau hanyalah pelampiasan dari penduduk desa yang masih menderita karena perbuatanku bocah." Kyuubi menjawab dengan pelan. Dia memang monster, tetapi dia bukanlah monster yang menyakiti anak kecil maupun monster yang akan membiarkan anak kecil menangis.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tangisan Naruto mulai mereda. Lalu ia berkata pelan.

"Kyuubi..sekarang aku berada dimana?"

"Dirumah sakit Konoha. Orang yang kau panggil Kakashi-sensei itu berhasil membawamu ke rumah sakit bersama dengan orang berambut pantat bebek yang kau sebut saudara itu. Kau sudah 5 hari dalam keadaan tak sadar."

"Syukurlah" Naruto menghembuskan nafas lega

...

"Oi bocah, apa kau tidak akan membalas dendam terhadap penduduk desa?"

"Untuk apa?"Naruto bertanya.

"Mereka telah menyiksamu, menghiraukan keberadaanmu, membuat anak-anak menjauhimu, setidaknya kau pasti memiliki rasa benci terhadap mereka" Kyuubi berkata pada Naruto sambil menatap dengan tatapan penasaran ke arah Naruto.

"Sejujurnya, aku tidak tau. Aku kecewa, marah, dendam, aku tidak bisa memungkiri kalau aku menyimpan rasa kebencian. Namun...jika aku membalas dendam kepada mereka, aku tidak ada bedanya dengan monster yang ada di bayangan mereka. Dan aku tidak menyalahkan alasan mereka membuat anak-anak lain menjauhiku. Mereka hanya ketakutan akan keselamatan anak mereka. Dosa generasi tua tidak harus ditanggung oleh generasi muda. Tapi aku juga tidak ingin hidupku seperti ini terus." Jawab Naruto dengan bijak.

"...Mengapa tidak pergi saja dari Konoha?" Perkataan Kyuubi membuat Naruto terkejut.

"Tapi..Konoha adalah rumahku, tempat tinggalku, kemana lagi aku harus tinggal?" Naruto bertanya.

"Kau naif bocah. Rumah adalah tempat dimana hatimu berada. Jika kau tidak memiliki rasa atau hatimu tidak ada di Konoha, berarti Konoha bukanlah tempat yang tepat untukmu."

"Aku.. bisakah kita membicarakan ini lain waktu? Aku masih capek dengan informasi yang kau berikan." Naruto berkata pada Kyuubi

"Jika itu maumu baiklah bocah."

Naruto mengangguk dan bertanya "Kyuubi, bagaimana caraku keluar dari sini?"

Berjalanlah kembali ketempat pertama kali kau sadar dan berpikirlah seakan kau ingin bangun tidur"

Naruto mengangguk dan segera melangkah keluar sebelum Kyuubi menghentikannya sesaat.

"Naruto, jika kau ada kesempatan, menyelinaplah masuk kedalam kantor hokage dan coba cek arsip rahasia Konoha dan arsip mengenai Uzushiogakure jika kau siap mengetahui kenyataan tentang Konoha."

Naruto hanya diam sesaat dan berkata

"Terima kasih, Kyuubi"

Lalu semuanya menjadi terang benderang.


Naruto POV

Beep..Beep...Beeep

Pemandangan pertama kali yang kulihat ketika sadar adalah putih. Warna putih yang sangat terang hingga mataku terasa sakit. Aku bisa merasakan badanku penuh dengan perban dan aku pun bisa merasakan kalau badanku belum sembuh total. Suara mesin rumah sakit terdengar dekat dengan kupingku. Aku melihat ke kiri dan melihat seorang perempuan berambut biru tertidur di kasur seblah kiri sambil memegang tanganku.

"Hinata..."

Gumamku dalam hati. Aku sudah tau sejak dulu kalau dia naksir kepadaku namun aku tidak menyangka dia bahkan menemaniku ketika aku sakit. Alasanku menolak untuk mengakui kenyataan dia suka padaku adalah karena realita tentang kehidupanku sendiri. Aku tidak ingin dia ikut menderita hanya karena ingin bersamaku dan aku juga merasa tidak pantas. Aku adalah seorang badut desa, orang miskin dan yatim piatu sedangkan Hinata adalah putri dari klan Hyuuga. Hidup tidak semudah dongeng. Lalu ditambah juga perasaanku yang belum jelas terhadap Hinata. Apakah aku suka padanya sebagai perempuan atau sebagai teman?

Aku memutuskan untuk melupakan sejenak lalu mengusap kepala Hinata. Dan Hinata dengan pelan bangun dari tidurnya. Lalu dia melihatke arahku. Kami bertatap mata sejenak lalu aku tersenyum.

"Selamat pagi Hinata." Aku tersenyum. Bukan senyum yang biasa kuganakan ketika menggunakan topengku, tapi senyum sebenarnya dari hatiku yang terdalam.

"Na-Na-Naruto-kun!" Hinata lalu memeluk badanku.

"Naruto-kun, kau tidak apa-apa kan? Kau masih terluka parah? Apa kau lapar? Pusing atau.." Hinata mulai panik lalu aku berkata

"Tenang saja Hinata, aku tidak apa-apa."

Seketika muka Hinata memerah lalu ia pingsan. Aku tertawa kecil.

"Kau benar-benar imut, Hina."

Tiba-tiba Tsunade baa-chan dan Shizune Onee-san masuk ke ruangan.

"Naruto! Akhirnya kau sadar juga, kau membuat kami panik bocah." Kata Tsunade lalu ia menjitak kepalaku.

"Itee! Oi Baa-chan aku ini pasien tau, masa kau menjitak pasien sih! Bagaimana kalau lukaku terbuka lagi!?" jawabku dengan keras.

"Tenang saja, kau telalu tangguh untuk terlauka karena satu jitakan" Kata Tsunade baa-chan sambil tersenyum

"Dasar nenek tua"

"Apa kau bilang !?"

"Aku bilang kau tua dasar nenek tua Pemabuk!"

"Cebol!"

"pemabuk!"

"Mesum!"

"Nenek dada besar!" Tsunade terdiam sejenak, Mulut menganga lalu membalas

"Beraninya kau bocah tengik!"

"Ayo lawan aku kalau berani tua bangka"

"DIAAAAMMM!"

Suara Shizune nee-san mengangetkan ku. Lalu Shizune Nee-chan menjitak kepalaku dan Tsunade baa-chan

"INI RUMAH SAKIT! PASIEN LAIN BISA TERGANGGU TAU!" Shizune teriak dengan keras

Ini merupakan pemandangan yang absurd. Seorang Hokage dan salah satu genin terkuat dimarahi oleh asisten hokage.

"Tapi aku senang kau sudah sehat, Naruto" Kata Shizune sambil tersenyum kecil.

"Aku juga Nee-chan" jawabku, membalas senyum Shizune.

"Tsunade Obaa-chan, bagaimana keadaan teamku?" tanyaku dengan cemas.

"Chouji mengalami kelebihan penggunaan cakra, Kiba mengalami luka tusukan ringan, Neji sedang dalam masa kritis, dan Shikamaru hanya mengalami patah tulang dijari telunjuknya. Tenang saja, mereka semua selamat." Tsunade menjawab

"Syukurlah." Aku serasa ingin menangis namun ku urungkan niatku. Aku malu jika harus menangis didepan mereka.

"Ano..Naruto-kun"

Aku lalu melihat kearah Hinata.

"Aku senang ka-kau baik-baik saja."Hinata berkata dengan pipi merah merona dan kedua telunjuk ditempel-tempelkan.

"Aku juga Hinata-san"

Lalu aku menoleh ke arah Tsunade dan Shizune.

"Bagaimana keadaan Sasuke?" seketika suasana ruangan turun beberapa derajat.

"Dia baik-baik saja. Cuman aku rasa , lebih baik kau tidak mengunjunginya hari ini, dia masih kesal akan kekalahannya di lembah terakhir." Kata tsunade dengan nada dingin ketika menyebut nama Sasuke

"Dimana ruangan Sasuke?"

"Naruto kau.."

Aku bangkit dari kasur dan mencoba berdiri. Ketika kakiku menyentuh lantai, rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhku. Namun itu tidak kuhiraukan.

"Naruto-kun kau masih agak terluka" Hinata lalu merangkulku agar aku tidak terjatuh.

"Terima kasih Hinata" aku melempar senyum kecil dan sekali lagi bertanya kepada Tsunade dan Shizune nee-chan

"Dimana ruangan Sasuke? Aku harus memastikan sesuatu. Apakah dia dibawah kendali segel kutukan Orochimaru atau kata-kata yang ia katakan di Lembah Terakhir adalah dari ia sendiri"

Tsunade baa-chan menghela nafas dan berkata kearahku

"Ruangan 1028. Naruto, jika terjadi apa-apa segera cari pertolongan terdekat. Dan Hinata, aku mengandalkanmu untuk menjaga agar Naruto tidak memaksakan diri." Kata Tsunade.

"Ha-ha-hai Hokage-sama"

Lalu aku dan Hinata pergi ke ruang 1208. Koridor demi koridor kami lewati, membuatku muak dengan warna putih pucat di seluruh ruangna rumah sakit. Ditambah lagi bau obat-obatan steril yang mebuat perutku mual. Akhirnya kami sampai di ruang 1208. Entah kenapa seluruh keberanianku hilang ketika berdiri didepan ruangan ini.

"Naruto-kun, apa kau yakin akan melakukan ini? Kita bisa kembali ke ruanganmu kalau kau mau." Hinata menawarkan setelah melihat mukaku yang terlihat gelisah.

Aku melempar senyum kecil kearah Hinata dan berkata

"Tidak Hinata, aku harus melakukan ini." Lalu aku mengambil nafas panjang dan kami berdua masuk ke dalam ruangan.

Aku melihat Sasuke yang matanya kosong di tempat tidur Bersama Sakura yang sedang mencoba untuk berbicara kepada Sasuke. Ketika melihatku, Sasuke yang matanya kosong tiba-tiba penuh dengan rasa benci dan langsung berkata

"Untuk apa kau kesini dobe? Untuk menertawakanku? Untuk melihat mukaku sengsara? Sudah puas kau memotong jalanku untuk mendapatkan kekuatan HAH!?" Sasuke tiba-tiba berteriak

"Tidak, Aku hanya..."

"Untuk apa kau datang kesini Naruto? Aku memang meminta tolong padamu untuk membawa Sasuke-kun kembali, tapi Aku tidak meminta Sasuke-kun dibawa kembali dengan luka yang sangat parah! Bukannya Sasuke-kun temanmu? Mengapa kau melakukan ini padanya Naruto!" Sakura melihatku dengan tatapan benci. Aku hanya bisa berkata terbata-bata

" Ta-ta-tapi Sakura-chan, aku tidak punya pilihan lain!"

"Pembohong! Kau sebenarnya cemburu kan? Kau selalu mengajakku kencan namun aku selalu menolak, makannya kau membuat Sasuke-kun luka parah kan? Dasar kau Monster Naruto!"

"Tapi!"

"Monster!"

Entah kenapa seluruh perasaanku menjadi campur aduk dan aku tidak bisa mengendalikan emosiku lagi

"DIAM!" tiba-tiba suasana hening.

"AKU SUDAH MELAKUKAN SEMAMPUKU UNTUK MEMBAWA SASUKE KEMBALI! KAU DAN SASUKE ADALAH TEMANKU SAKURA KARNA ITU AKU BERUSAHA KERAS, BAHKAN AKU PERLU MEMPERTARUHKAN NYAWAKU UNTUK MEMBAWA SASUKE KEMBALI! TETAPI TEGANYA KAU MEMANGGILKU MONSTER, MENUDUHKU SEENAKNYA, KALIAN BERDUA BENAR-BENAR EGOIS!" Seluruh kebencianku yang biasa ku simpan dalam-dalam akhirnya keluar.

Suasana hening. Dan aku melihat mata Sakura berlinang air mata dan Sasuke hanya menatapku dengan tatapan tidak peduli.

"PERGI KAU NARUTO,PERGI!" Sakura berteriak didepan mataku.

"Hinata.. maaf bisa kau antarkan aku kembali ke kamarku? " aku bertanya dengan suara pelan.

"Baiklah, Naruto-kun"lalu tanpa banyak bicara kami kembali ke kamarku.

Setelah sampai, aku berkata pada Hinata

"Maaf Hinata, kau harus melihatku berteriak seperti tadi." Hinata tanpa banyak bicara langsung memelukku.

"Naruto-kun, tidak apa-apa. Jika kau ada masalah tolong ceritalah padaku. Aku ingin kau bertumpu padaku walaupun hanya sesekali saja"

Mataku mulai basah, Hinata kau akan berbuat sejauh itu? Lalu aku memeluknya kembali.

"Terima kasih Hinata-chan" Aku menguburkan mukaku ke pundak hinata selama apa yang kurasa 1 jam walau sebenarnya kenyataannya Cuma 10 menit.

"Hinata, maaf tapi bisakah kau biarkan aku sendiri? Aku ingin istirahat." Kataku pelan.

"Ha-Hai Naruto-kun. Ak-ak-aku akan mengunjungimu kembali besok" Kata hinata sambil merona pipinya.

"Terima kasih." lalu Hinata pergi keluar ruangan.

Ketika sudah aman, aku menutup mukaku dengan satu tangan dan tanpa terasa air mataku mulai mengalir kembali.

"Sial..Sial...SIAL!" air mataku mulai tumpah ke kasurku. Setelah lama aku menangis, aku memutuskan untuk berhenti menangis dan bermeditasi kedalam alam bawah sadarku.

"Untuk apa kau kembali lagi kesini Bocah?" tanya Kyuubi ketika menyadari Naruto datang ke penjaranya

Naruto menatap Kyuubi dengan tatapan penuh tekad dan keinginan, berbeda engan matanya tadi yang sayu, sekarang bercahaya penuh tekad.

"Kyuubi..Aku ingin mengajukan proposal padamu." Naruto berdiri tanpa rasa takut didepan mahluk itu

"Hoo? Dan Apa proposalmu itu bocah?" Kyuubi mulai tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh Naruto

Naruto mulai menarik nafas dalam-dalam dan berkata

"Aku ingin bekerjasama denganmu Kyuubi."

Chapter 2 End


Author Note:

Akhirnya selesai juga, capek juga ngetik selama 2 jam lebih. Untuk yang penasaran, fic ini Belum tentu menjadi NaruHina fic. aku untuk sekarang akan lebih memprioritaskan event-event yang akan menginfluensi Naruto. Untuk masalah pairing masih belum jelas, ketika alur cerita sudah lebih maju, baru aku akan menentukan siapa pairing yang tepat untuk naruto. dan jangan lupa review please?

Kazehaya Arashi.