They don't know (Sequel : Now, they know)

Story by Datgurll

.

.

Park Chanyeol x Kim Taehyung

.

.

Selamat membaca^^

-0o0-

"Jadi, Taehyung itu adalah kekasihku. Aku menyatakan perasaanku tepat saat dia duduk di bangku kelas delapan"

"…"

Chanyeol memutar bola matanya. "Responmu?"

"Dasar pedofil" Respon Kyungsoo, singkat dan jelas. "Lalu sekarang kau membiarkan Taehyung di bully begitu? Kekasih macam apa kau ini? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi murid satu sekolah jika mengetahui kebenarannya" Lanjutnya.

"Well, mereka akan terkejut" Chanyeol menaikkan kedua kakinya di atas meja. "Tapi sampai sekarang Taehyung tidak mau statusnya terbongkar. Apa boleh buat? Aku hanya bisa melindunginya saat dia berada di dalam pengawasanku"

Catatan matematika Kyungsoo terabaikan begitu saja di atas meja. "Aku masih tidak menyangka. Sebelum ini aku mau minta maaf karena selama ini aku selalu membicarakan yang aneh-aneh tentang Taehyung di depanmu, aku hanya tidak pernah berpikiran kalau dia adalah kekasihmu selama ini" Katanya, terlihat sangat menyesal sekali.

"Santai saja" Chanyeol menggigit ujung pulpennya. "Aku mengerti jika semua orang menganggapnya aneh. Mereka hanya tidak tau, sebenarnya Taehyung itu anak yang manis, walaupun jarang sekali menunjukkan sifat manisnya, ia tetap menggemaskan bagiku" Ujarnya, membayangkan wajah Taehyung yang sedang merajuk (Itu benar-benar menggemaskan, Chanyeol bersumpah).

"Kenapa aku merasa seolah-olah kau itu pedofil? Dia tetaplah seorang anak laki-laki, jangan berlebihan begitu" Kyungsoo kembali mencatat. "Kalau begitu kau harus menghampirinya saat istirahat nanti. Aku memang tidak ingin ikut campur, tapi aku sering melihatnya di perlakukan semena-mena oleh teman-temannya"

Chanyeol mengangguk. "Saran yang bagus"

.

.


.

.

Taehyung melangkahkan kakinya tergesa-gesa, ia tak memperdulikan para murid yang melontarkan omongan kasar untuk menghinanya. Ayolah, ia tak ingin ada masalah lagi, di bully saja sudah cukup, jangan sampai ia berakhir duduk di ruang guru karena kejadian ini. Taehyung tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya jika sampai ia tau kalau selama ini anak satu-satunya menjadi korban bully, pasti wanita cantik itu akan merasa kecewa sekali.

Akhirnya ia sampai di mading sekolah, disana sudah banyak sekali murid-murid yang berkumpul, seperti melihat sesuatu yang mengejutkan.

"Hey, dia disini!" Teriak salah satu siswi perempuan, membuat semua tatapan mata mengarah kepada sosok Taehyung.

Taehyung tak berkata apapun, ia mengabaikan tatapan benci dari seluruh siswa dan siswi yang ada disekitarnya. Kedua mata teralih pada sebuah foto yang ada di mading, foto itu di cetak dengan ukuran yang lumayan besar sehingga semua orang bisa melihatnya jelas.

Astaga, itu foto dirinya dan Chanyeol saat mereka sedang makan bersama di sebuah restoran.

"Yah kau bocah aneh!" Seorang siswi menghampirinya. "Sejak kapan kau berhubungan dengan Chanyeol sunbae? Apa kau menggunakan cara licik agar bisa memanfaatkannya?!" Bentaknya, memberikan tatapan tajam.

"Ini sungguh di luar perkiraan! Chanyeol saja tidak menerima cintaku walau kami satu kelas, tapi kenapa sekarang dia malah menerima ajakanmu makan bersama?!"

"Apa kau sudah mulai percaya diri karena kemarin itu Chanyeol menyelamatkanmu? Yang benar saja, siapa kau disekolah ini? Kau pikir Chanyeol akan tertarik dengan dirimu yang memprihatinkan itu? Jangan bermimpi!"

"Dasar murahan!"

Kalimat terakhir, kedua tangan Taehyung terkepal erat. Dia ingin sekali membantah semua perkataan murid-murid disana, mengatakan kalau dirinya tidak seburuk itu. Tapi seketika ia teringat kembali, apa statusnya di sekolah ini? Dia hanya murid yang selalu di rendahkan oleh semua orang. Melawan saja tidak mampu, apalagi membantah? Itu sudah bosan hidup namanya.

"Kenapa tidak menjawab?!"

Dengan penuh keberanian, Taehyung mengangkat wajahnya. "Aku dan Chanyeol—"

"Hey, kenapa kalian membully adik kelas ini?"

Suara seseorang membuat keadaan disana langsung hening bagaikan malam hari. "Apa kalian terkejut karena foto ini? Astaga, seharusnya kalian bisa membedakan mana Taehyung dan mana aku"

Taehyung terkejut mendengar perkataan itu, ia menoleh dan menemukan seorang siswa berdiri di belakangnya. Kalau tidak salah, Taehyung kenal siswa itu, ia adalah ketua klub paduan suara, suaranya yang merdu dan indah itu mampu membuat siapapun yang mendengarnya merasa seperti terhipnotis. Taehyung pernah sekali mendengarkan suaranya saat ia bernyanyi, itu terjadi saat dirinya tidak ikut pelajaran olahraga karena seragamnya menghilang (tidak perlu bertanya siapa yang menghilangkannya).

Itu Byun Baekhyun.

"Mwo? Apa itu kau?" Seorang siswa nyeletuk.

Dengan entengnya, Baekhyun mengangguk. "Itu aku dan Chanyeol saat kami makan bersama-sama di restoran. Orang tua kami mengadakan perjodohan dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi bersama. Apa mata kalian rabun eoh? Apa jangan-jangan kami memang punya kemiripan? Astaga, astaga, begitu mengejutkan!" Jawabnya.

Taehyung mengernyit, apa katanya?

Lalu beberapa menit kemudian, datanglah sosok Chanyeol bersama dengan Kyungsoo. Seluruh murid yang ada disana langsung menyingkir, membiarkan Chanyeol berdiri di tengah-tengan Baekhyun dan Taehyung. Tolong, jangan remehkan siapa status Chanyeol di sekolah ini, ia sangat popular dan di kagum-kagumi oleh semua murid, apalagi dengan kemampuan rap serta beatbox'nya, semakin sempurna saja dirinya di mata orang-orang.

"Ada apa ini?"

"Oh, rupanya kau datang" Bukannya Taehyung, justru Baekhyun yang menghampiri Chanyeol kemudian berdiri di sampingnya. "Murid-murid ini membuat heboh, mereka menyebarkan foto kita kemarin malam, kau bisa lihat itu" Katanya, menunjuk foto yang ada di mading.

Chanyeol langsung melihat foto itu dengan pandangan serius. Tunggu dulu, bukankah itu adalah dirinya dan Taehyung saat mereka makan malam bersama kemarin? Kenapa foto itu bisa ada disana? Siapa yang telah kurang ajar melakukan hal seperti ini? Jika saja Chanyeol tau, ia tak akan segan-segan menghancurkan kameranya dan membuangnya ke sungai Han.

"Tunggu, kenapa kalian bisa mendapat—"

"Tidak usah di pikirkan" Baekhyun tiba-tiba memotong. "Nah, kalian sudah mengerti bukan? Tidak ada gunanya kalian menghina Taehyung, ia sama sekali tidak ada sangkut pautnya di dalam masalah ini" Jelasnya, secara tidak langsung telah membela Taehyung dari masalah ini.

Taehyung sendiri hanya diam, entah dia harus berterima kasih atau justru membantah perkataan Baekhyun.

Chanyeol menyadari kehadiran Taehyung, ia menyadari raut wajah kebingungan dari sang kekasih. Kyungsoo juga begitu, tanpa perintah ia langsung menghampiri Taehyung dan membawanya pergi dari kerumunan itu. Bukannya apa-apa, Kyungsoo sangat mengerti seperti apa situasi saat ini.

.

.


.

.

"Terima kasih, Kyungsoo sunbae"

Kyungsoo tersenyum tipis. "Aku tau ini sangat berat untukmu. Kau tenang saja, tidak akan ada hal buruk yang menimpa hubungan kalian" Katanya pelan.

Taehyung melebarkan matanya. "Kau tau hubungan kami? Darimana?"

"Chanyeol, tentu saja" Kyungsoo tertawa kecil. "Kalau begitu aku pergi dulu ya. Kau tidak apa-apakan kalau sendirian? Aku rasa mereka tidak akan menganggumu lagi hari ini"

Aku harap juga begitu.

Taehyung mengangguk. "Sunbae bisa pergi. Sekali lagi terima kasih karena sudah membawaku pergi dari murid-murid tadi, tanpa bantuan sunbae mungkin aku akan berdiri seperti orang idiot disana, tidak tau apa-apa" Katanya, membungkuk beberapa kali.

"Yah, kalau begitu sampai jumpa"

Setelah kepergian Kyungsoo, Taehyung langsung menghempaskan tubuhnya ke lantai yang keras dan dingin. Ia tidak tau bagaimana orang bisa menemukan kebersamaan mereka, apa ada stalker semacam itu di dunia ini? Padahal selama ini tidak ada yang pernah tau kedekatan mereka di luar sekolah, mereka selalu melakukan penyamaran dengan baik.

Dan lagi, kenapa tiba-tiba Baekhyun datang dan membantunya? Mereka tidak saling mengenal—maksudnya, Baekhyun pastilah tidak mengenal Taehyung, toh Taehyung juga tidak berpengaruh penting di sekolah ini.

"Aku tidak menyangka Chanyeol sunbae berhubungan dengan Baekhyun sunbae"

"Kau benar, apa kita harus mendukungnya sekarang ini? Kedekatan mereka benar-benar dirahasiakan, beruntung sekali Baekhyun sunbae bisa mendekati Chanyeol sunbae"

"Ahh, padahal aku berharap cintaku akan diterima oleh Chanyeol sunbae! Entah aku harus bahagia atau justru menangis, ini benar-benar di luar ekspetasiku!"

Taehyung melirik sekilas tiga orang murid perempuan yang berjalan melewatinya, seperti menganggapnya tidak ada di sekitar mereka. Taehyung menghela nafas, ia tak tau kenapa dirinya jadi selemah ini, kenapa ini terjadi padanya? Taehyung punya dosa apa memangnya? Padahal, Taehyung berharap ia punya banyak teman saat masuk sekolah ini, seperti saat ia SMP dulu.

Sekarang, masalah baru bertambah, mereka semua mengira bahwa Chanyeol dan Baekhyun punya hubungan khusus.

Cemburu? Pertanyaan konyol, siapa yang tidak cemburu ketika melihat seseorang mengaku kalau dia berhubungan dengan kekasihmu di depan matamu sendiri? Taehyung memang bukan tipe orang yang mudah menunjukkan kecemburuannya, tapi tetap saja ia kesal, tidak tau motif di balik pengakuan Baekhyun tadi. Jika ingin membantu, seharusnya tidak seperti ini caranya.

"Sialan" Taehyung merutuk, ini pertama kalinya ia berucap kata kasar.

.

.


.

.

"Ahhh Chanyeol, apa kau datang mencari Taehyung?"

Chanyeol mengangguk, melepas kedua sepatunya kemudian meletakkannya di rak khusus sepatu. "Apa dia sudah pulang, eomma? Tadi aku ingin mengajaknya pulang bersama tapi ternyata ia sudah pulang duluan" Katanya, memajukan bibir seperti bocah yang tidak dijemput oleh orang tuanya di sekolah.

Ibu Taehyung menghampiri Chanyeol. "Tadi dia terburu-buru sekali, tidak mengucapkan sepatah kata apapun dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku sempat berpikir kalau dia punya masalah di sekolah, tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya bukan?"

Melihat wajah khawatir itu, Chanyeol dengan ragu mengangguk. "Dia baik-baik saja selama ini, teman-temannya juga banyak. Kalau begitu aku akan langsung ke kamarnya saja ya eomma"

Karena kedekatan mereka berdua, Chanyeol bisa dengan bebas memanggil ibu Taehyung dengan sebutan 'eomma'. Taehyung juga begitu, ia sering memanggil ibu Chanyeol dengan sebutan yang sama, begitu juga dengan ayahnya. Ayah Taehyung sudah meninggal karena kecelakaan transportasi laut, maka dari itu Chanyeol memantapkan diri bertugas menjaga Taehyung dari hal-hal buruk.

Dalam arti lain, kedekatan mereka bukanlah sekedar halusinasi saja, mereka benar-benar nyata. Hubungan mereka benar-benar ada dan terjadi.

Setelah sampai di depan pintu kamar Taehyung, Chanyeol dengan perlahan memutar kenop pintu itu, sedikit mengintip apakah Taehyung ada didalam atau tidak. Yeah, ia hanya takut saat ia masuk, Taehyung sedang berganti pakaian.

"Chanyeol hyung?!"

Wushh

Chanyeol dengan kelincahan bagai kelinci langsung menghindari lemparan bantal dari Taehyung, itu memang sering terjadi setiap Chanyeol memasuki kamar Taehyung tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Untung cuma bantal, bagaimana kalau kursi? Apalagi meja! Bisa-bisa wajah tampan Chanyeol babak belur hingga akhirnya jadi jelek. Chanyeol itu tidak oplas! Jadi sayang sekali kalau wajahnya langsung rusak hanya karena terkena lemparan kursi atau meja.

"Yah, kenapa kau kesini eoh?!"

Chanyeol menutup pintu kamar Taehyung perlahan. "Berani sekali bocah sepertimu mengatakan yah kepadaku. Aku yang harusnya bertanya, kenapa kau tidak menungguku untuk pulang bersama seperti biasanya? Aku hampir menunggumu selama dua jam!" Ocehnya, memberikan tatapan tajam pada kekasihnya yang terkadang kurang ajar itu.

Taehyung langsung mengubah posisinya menjadi duduk. "Benarkah? Hampir dua jam?"

"Tidak sih, sebenarnya hanya setengah jam karena seorang murid melihatmu sudah pulang saat bel baru berbunyi" Chanyeol tersenyum lebar, ia duduk di samping Taehyung. "Jadi katakan padaku, kenapa kau tiba-tiba pulang tanpa menungguku?"

"Dasar bodoh" Taehyung memutar bola matanya. "Aku ingin mengerjakan tugas-tugasku yang menumpuk! Makanya tidak sempat menunggumu di halte!" Katanya, berbohong.

Chanyeol tersenyum mengejek. "Kau pikir berapa lama kita berpacaran? Katakan saja apa yang terjadi padamu. Apa mereka mengerjaimu lagi? Serius, kalau itu benar, aku akan memindahkanmu—"

"Aku pikir kau pulang bersama Baekhyun sunbae"

"Mwo?" Chanyeol seperti kehilangan kata-katanya. "Coba kau ulangi sekali lagi?"

Taehyung mendengus, menutupi setengah wajahnya menggunakan bantal. "Aku pikir kau akan pulang bersama dengan Baekhyun sunbae. Kalian kan sudah tau satu sekolah dibuat terkejut dengan kabar hubungan kalian berdua, jadi aku pikir kalian benar-benar akan pulang bersama"

Chanyeol terdiam beberapa saat.

"Hey, apa kau cemburu?"

Taehyung merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit kamarnya yang di hiasi oleh benda-benda kecil menyala. "Kenapa aku harus cemburu? Aku hanya bingung kenapa Baekhyun sunbae membelaku di depan murid-murid. Apa ia bermaksud membantuku? Tapi kenapa? Aku tidak yakin ia mengenalku selama ini"

Chanyeol ikut merebahkan dirinya di samping Taehyung. "Kau pikir aku tau alasannya kenapa? Bahkan aku benar-benar bingung saat itu"

"Heh?" Taehyung menoleh. "Jadi hyung tidak kenal dengannya?"

"Tidak" Chanyeol menjawab dengan singkat. "Yang aku tau dia pernah menyatakan cintanya padaku sewaktu kami masih kelas sepuluh. Well, aku menolaknya karena kau tau, aku sudah mempunyaimu" Tambahnya, ikut menoleh kemudian tersenyum lebar.

Taehyung memasang wajah jijik. "Berhentilah tersenyum seperti orang idiot begitu! Jangan bertingkah seolah-olah kau ini orang yang paling tampan!"

Chanyeol tertawa, ia segera memeluk Taehyung dengan erat, membiarkan wajah Taehyung tenggelam di dadanya. "Haaahh, tapi aku lega kalau ternyata mereka tidak menyakitimu seperti kemarin-kemarin~ setidaknya gossip yang beredar itu mampu membuat dirimu terlupakan sedikit" Katanya, perlahan-lahan memejamkan mata.

"Yah!" Taehyung meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. "Aku tidak bisa bernafas—hey, Chanyeol hyung! Yah! Lepaskan aku!"

"Aku sudah tidur~ zzzzz~"

.

.


.

.

Ini sudah hari keempat semenjak insiden pengakuan Baekhyun, seluruh murid begitu semangat mendukung hubungannya dengan Chanyeol. Mungkin ada dari mereka yang tidak setuju, tapi jumlah mereka kalah banyak oleh para penggemar. Bahkan, beberapa dari murid perempuan dengan terang-terangan membawa banner yang bertuliskan nama mereka berdua.

Seperti halnya sekarang, Taehyung hampir menulikan telinganya sendiri akibat salah tujuan—maksudnya, ia mau makan di kantin, namun ternyata kantin sedang heboh karena Chanyeol dan Baekhyun duduk dan makan bersama disana, membuat para penggemar mereka berkumpul, berteriak histeris pula.

Selebriti saja bukan, kenapa harus berlebihan begitu?

"Hai, Taehyung-ah" Kyungsoo tiba-tiba datang, ia duduk di hadapan Taehyung membawa nampan makanannya sendiri. "Apa kau merasa kalau anak itu sombong sekali sekarang?" Tanyanya, bermaksud menyindir Chanyeol.

Taehyung tersenyum. "Sepertinya dia senang dengan adanya gossip itu. Kyungsoo sunbae kenapa tidak bergabung dengan mereka?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Aneh sekali bukan, Kyungsoo yang awalnya ragu-ragu untuk berbicara dengannya, sekarang malah dengan santainya duduk dengannya, tapi setidaknya Taehyung bersyukur karena ada yang mau menemaninya makan.

"Aku? Bergabung dan mendengar semua teriakan itu?" Kyungsoo memutar bola mata. "Aku lebih baik duduk di kelas dan membaca catatan rumusku. Tidak hanya disini, saat di kelaspun Chanyeol diikuti penggemar-penggemarnya itu" Ceritanya, terdengar jengkel sekali.

Taehyung tertawa kecil, mengunyah makanannya dan menelannya sedikit kasar.

"Apa kau tidak takut, Taehyung-ah?"

"Hm?" Alis Taehyung terangkat satu. "Takut bagaimana? Soal bully? Tenang saja, mereka tidak lagi melakukan itu—"

"Haish, bukan itu" Kyungsoo memotong kalimatnya. "Maksudku, apa kau tidak takut jika nantinya semua orang benar-benar mengira kalau Baekhyun berhubungan dengan Chanyeol? Yeah, aku hanya takut pemuda idiot itu meninggalkanmu"

Mendengar hal itu, Taehyung terdiam sejenak. Bisa saja sih Chanyeol jadi terbawa suasana, tapi itu tidak mungkin, Chanyeol tak mungkin sampai melakukan hal seperti itu. Seidiot-idiotnya Chanyeol, ia adalah tipe pria yang setia (Bukan setiap tikungan ada! Taehyung akan memenggal habis kepala orang yang salah mengartikannya! Ia serius!)

"Biarkan saja" Taehyung hanya bisa menjawab singkat, ia tak mau memikirkan masalah ini lebih lanjut lagi, semua itu membuat kepalanya berdenyut sakit.

Kyungsoo mengangguk paham. "Kau tidak perlu takut, Taehyung-ah. Aku akan terus berada di samping orang kelewat idiot itu dan memperingatkannya kalau semua ini hanyalah skenario. Kau tidak perlu khawatir"

Taehyung tersenyum lega mendengarnya. "Terima kasih, Kyungsoo sunbae"

.

.


.

.

Taehyung mengusap wajahnya yang basah kuyup, ia menengadahkan kepalanya dan menatap semua teman-temannya sedang menatapnya juga, namun pandangan itu tentu saja mempunyai makna yang berbeda. Jika tatapan Taehyung adalah tatapan memelas, tatapan mereka adalah tatapan yang seakan-akan ingin membunuhnya, memusnahkannya saat itu juga.

"Karena gossip membahagiakan ini, kami jadi melupakanmu" Salah satu teman sekelasnya menghela nafas kasar. "Padahal jauh lebih asyik mengikuti kegiatan Baekhyun dan Chanyeol sunbae, tapi entah kenapa hari ini aku mau bermain denganmu"

Sekali lagi, satu ember penuh dengan air kolam ikan membasahi tubuh Taehyung.

"Lain kali kau harus membeli cat, biar hidupmu lebih berwarna dan tidak membosankan" Celetuk siswi yang ada di sampingnya, ia menyandarkan tubuhnya di dinding samping sekolah.

"Kau ini laki-laki, tapi kenapa lemah seperti perempuan?"

Taehyung tak menjawab, ia berusaha untuk bangun walau nyatanya sulit sekali, ia bisa merasakan punggungnya yang sakit akibat beberapa siswa menginjak punggungnya dengan kasar sebelum ini. Ia ingin melawan, tapi itu tidak mungkin. Ia tidak lemah, Taehyung tidak lemah karena ia adalah laki-laki, ia hanya lemah ketika..

Ketika Chanyeol tidak ada bersamanya.

Seorang siswi mendatangi teman-temannya. "Sudah jam pulang tuh! Kalian tidak mau pulang? Sebentar lagi penjaga sekolah akan lewat sini! Bisa gawat kalau sampai ia melihat apa yang kita lakukan! Aku tidak mau mendapat hukuman hanya karena ketahuan membully murid pecundang ini!" Katanya, tak lupa memberikan tatapan jijik untuk Taehyung.

"Kau benar" Teman-temannya mengangguk setuju. "Nah, kami akan pulang duluan. Sampai jumpa, pecundang~"

Mereka meninggalkan Taehyung sendirian disana, dengan seragam basah kuyup dan juga bau yang menyengat. Taehyung menghela nafasnya, menyingkirkan poni karena hampir menutupi pandangannya sendiri. Sepertinya ia harus berganti seragam lagi, mana mungkin ia pulang dalam keadaan seperti ini.

Saat di kamar mandi, Taehyung memandang dirinya di cermin. Sepertinya sekolah sudah tidak ada orang, mungkin hanya ada siswa dan siswi yang mengikuti pelajaran tambahan. Tapi itu bagus, setidaknya Taehyung bisa sendirian disana.

Apa sebaiknya ia pindah sekolah? Tapi apa alasan yang harus ia berikan pada ibunya?

Taehyung membuka blazer serta kemeja putih polosnya sekaligus, memperlihatkan tubuhnya yang tidak terlalu kurus namun pantas untuknya. Ia tidak takut akan ketahuan, toh sekolah memang sudah bubar, siapa yang mau kesini?

Sayangnya, pemikiran itu ia tepis jauh-jauh karena mendengar tangisan seseorang dari salah satu bilik kamar mandi.

Hantu?! Taehyung buru-buru menepis pikiran buruknya. Tangisan itu suara tangisan perempuan! Apa yang ia lakukan di toilet pria? Apa salah masuk?

"P-permisi?" Taehyung mengetuk salah satu pintu bilik kamar mandi yang tertutup, sumber tangisan itu berasal dari dalam sana. "Apa kau baik-baik saja? Sekolah sudah selesai dan sebaiknya kau pulang ke—"

Brakk!

Taehyung terkejut bukan main ketika ia melihat seorang siswi perempuan membuka pintu secara kasar, tanpa aba-aba langsung menerjang tubuhnya dan memeluknya erat-erat. Taehyung yang tak tau harus melakukan apa-apa hanya diam. Dalam hati ia bersyukur karena yang memeluknya adalah manusia, bukan hantu ataupun boneka Annabelle (Jangan katakan siapapun kalau dirinya itu takut pada hal-hal berbau horror).

"K-kau kenapa?"

"Aku di bully teman-temanku!" Siswi itu menangis keras. "Mereka menghinaku karena rahasiaku terbongkar! Mereka mengetahui kalau aku hanyalah siswi yang bisa masuk ke sekolah ini karena beasiswa!" Tambahnya.

Ah, soal itu. Taehyung tersenyum miring, ia juga sering merasakannya.

Taehyung tak mengucapkan apapun, ia hanya diam sampai akhirnya tangisan siswi itu berhenti dengan sendirinya.

"Maafkan aku" Siswi itu melepas pelukannya. "Oh? Kau itukan Kim Taehyung? Siswa yang sering di bully, apa aku benar?" Tanyanya, siswi itu menghapus jejak-jejak air matanya.

Belum sempat Taehyung menjawab, seseorang membuka pintu kamar mandi secara kasar. Taehyung dan siswi itu menoleh, menemukan sosok Chanyeol berdiri di hadapan mereka, rambut siswa itu terlihat acak-acakkan, nafasnya juga tak beraturan (sepertinya ia habis berlari).

Taehyung ternganga. "Hyung?"

Chanyeol tidak menjawab, ia melihat keadaan di depan matanya. Taehyung yang tidak mengenakan pakaian atas dan ada seorang siswi memegang pinggangnya. Oke, otak kelewat jeniusnya mulai berpikir, apa yang mereka lakukan di toilet pria disaat seperti ini? Di saat sekolah sudah sepi?

"Chanyeol!" Tak lama kemudian, datanglah Baekhyun yang juga berlari. "Kenapa kau berlari?! Aku bahkan belum sempat—oh my god" Pemuda itu melebarkan matanya, memandang kejadian sama seperti yang Chanyeol lihat.

Taehyung diam, ia mulai kebingungan.

"Chanyeol, kau tidak apa-apa?" Baekhyun menyadari bahwa kedua tangan Chanyeol terkepal begitu erat, seperti sedang menahan berjuta-juta emosi di benak dan pikirannya.

Percuma, Chanyeol tidak juga menjawab pertanyaan Baekhyun. Kedua matanya tak lepas sedikitpun dari sosok Taehyung yang memandangnya dengan tatapan bingung. Tatapan itu begitu lugu, seolah-olah ia tak melakukan kesalahan apapun. Inilah kelemahan dari seorang Park Chanyeol, ia tak bisa membentak sang kekasih walau nyatanya Taehyung sedang dalam posisi bersalah. Tatapan lugu itu, tatapan itu mampu membuat Chanyeol bertekuk lutut tanpa di minta, ia lemah dengan tatapan lugu seorang Kim Taehyung.

Kau membuat Chanyeol serba salah, Taehyung.

.

.


.

.

Malam harinya, Taehyung yang kini mengunjungi rumah Chanyeol. Kalau kemarin Taehyung masih membuka pintu dengan lebar, kali ini tidak dengan Chanyeol, pintu kamarnya tertutup dan terkunci dengan rapat, seolah-olah tidak mau menerima siapapun untuk masuk.

"Hyung, apa kau tidak mau mendengar penjelasanku? Aku rasa kau salah paham dengan kejadian di sekolah tadi, itu tidak sama dengan apa yang kau pikirkan! Jadi, cepat buka pintunya dan dengarkan penjelasanku, oke?" Ujar Taehyung dari depan pintu, ia juga harus berkata pelan-pelan karena tidak ingin keluarga Chanyeol sampai mendengarnya.

Tidak ada jawaban, Taehyung menghela nafasnya.

"Apa dia masih belum ingin keluar?"

Taehyung menoleh, menemukan kakak perempuan Chanyeol yang kini memandangnya khawatir. "Belum, noona. Aku sudah berusaha membujuknya agar keluar tapi hasilnya nihil" Jawab Taehyung lemah.

"Maafkan dia" Yoora mengelus kepala Taehyung. "Terkadang dia memang kekanak-kanakkan"

"Tak apa, noona" Taehyung tersenyum lebar. "Kalau begitu aku akan pulang saja, nanti keburu malam. Tolong sampaikan salamku pada appa okay? Bilang juga pada Chanyeol hyung kalau aku menunggu balasan pesannya"

Yoora mengangguk. "Ini memang sudah malam, kau harus pulang. Aku akan menyampaikan pesanmu nanti"

Setelah itu, Taehyung berjalan pelan menuruni tangga, memakai sepatunya kembali dan akhirnya keluar dari rumah Chanyeol. Dia yakin kalau tadi Chanyeol sudah salah paham, pasti kakak kelasnya yang menyebalkan itu mengira kalau dirinya melakukan hal-hal tidak senonoh dengan siswi perempuan tadi.

Kenal saja tidak, buat apa Taehyung melakukan hal seperti itu?

Selama perjalanan, Taehyung terus melihat ke bawah, memperhatikan ukiran-ukiran aspal yang terlihat aneh baginya. Hari sudah malam, tapi untunglah keadaan jalan disana belum benar-benar kosong, terkadang masih ada beberapa pejalan kaki dan kendaraan yang berlalu-lalang. Taehyung jarang sekali keluar di malam hari, ia hanya akan keluar jika Chanyeol ada bersamanya.

Kenapa hidupnya rumit sekali? Taehyung menendang sebuah batu secara asal, berharap batu itu tak akan mengenai kepala orang seperti di film-film.

"Taehyung!"

Mendengar teriakan itu, Taehyung buru-buru menoleh dan kedua matanya melebar karena melihat sosok raksasa—coret, sosok Chanyeol berlari ke arahnya. Pemuda itu membuka tangannya lebar-lebar, seolah-olah siap menjadikan Taehyung sebagai ikan pepes kapan saja.

"Tunggu! Chanyeol—mmphh!"

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau besok aku akan mengumumkan hubungan kita di depan semua murid!" Chanyeol memejamkan matanya, memeluk Taehyung dengan erat tanpa memikirkan sang korban. Taehyung sendiri kesulitan bernafas, pelukan Chanyeol terlalu kencang.

"H-hyung—"

"Aku tidak perduli bagaimana dengan reaksi mereka nanti. Aku akan mengatakan siapa kau sebenarnya, jadi mereka tidak akan berani lagi membullymu seenaknya!" Lanjutnya, tetap dalam posisi yang sama.

"Yah! Hyung! tolong lepaskan—"

"Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa! Aku tau kalau kejadian di sekolah tadi itu cuma kesalah pahaman! Siswi perempuan itu menceritakan kalau dia menangis karena—AWW!"

Taehyung merasa sangat puas ketika ia berhasil menginjak kaki Chanyeol sekuat tenaga, membuat pemuda kelewat tinggi itu meringis kesakitan. "Sudah cukup bicaranya? Aku hampir mati karena tidak bisa bernafas, hyung!" Omelnya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Chanyeol tersenyum lebar. "Aku hanya tidak tahan mendiamkanmu seperti tadi. Apalagi Yoora noona mengancam akan membunuhku jika sampai kau sedih hanya karena lelaki sepertiku"

"Benarkah? Yoora noona berkata seperti itu?"

"Yeah, aku tidak berani berbohong kalau sudah menyangkut dirinya" Chanyeol menatap Taehyung dalam-dalam. "Untuk kali ini, kau tidak boleh protes okay? Aku sudah jengah melihat mereka yang terus-menerus memperlakukanmu seperti bawahan"

Taehyung terdiam sejenak. "Apa itu tidak terlalu cepat?"

"Lalu kau mau menunggu sampai kapan?" Chanyeol memutar bola mata. "Sudahlah. Tidak ada hal yang perlu kau khawatirkan, rencanaku ini benar-benar sudah bulat dan matang. Kyungsoo juga mendukung hal ini" Jelasnya, terdengar lebih semangat daripada saat mendengar sekolah mereka akan mengadakan liburan ke pulau Jeju tahun kemarin.

Taehyung tidak menjawab, ia masih mencerna kalimat Chanyeol.

"Maafkan aku ya" Chanyeol membawa satu tangan besarnya untuk mengacak-acak rambut Taehyung. "Seharusnya aku melakukan ini sejak awal kau masuk sekolah. Tapi apa boleh buat? Aku saja tidak bisa membantah permintaanmu waktu itu, aku takut kehilanganmu"

Suasana di sekitar merekapun hening. Tidak ada lagi kendaraan atau pejalan kaki yang lewat, disana hanya ada mereka ditemani bintang-bintang yang bertebaran di langit malam.

Chanyeol menarik Taehyung ke dalam pelukannya. "Tidak ada yang perlu kau takutkan. Mereka akan mengetahui kebenarannya besok, saat kita sekolah" Ujarnya, meletakkan dagunya di pucuk kepala Taehyung dan memandang bintang-bintang yang berkedap-kedip di langit.

Taehyung masih diam, namun ia tetap membawa kedua tangannya untuk membalas pelukan Chanyeol.

"Kau harus tau satu hal, Kim Taehyung" Chanyeol mencium rambut Taehyung dengan penuh kasih sayang. "Aku benar-benar mencintaimu, aku akan melindungimu karena kau termasuk orang yang paling penting di hidupku" Katanya pelan.

"Jangan berlebihan, kau tampak sedang merayuku dengan gombalan murahanmu, hyung"

"Dasar perusak suasana"

Kalau rata-rata semua pasangan selalu punya adegan romantis paling lama, berbeda dengan pasangan yang satu ini. Dalam hubungan keduanya, sembilan puluh lima persen mereka gunakan untuk membahas hal tidak berguna, barulah lima persennya digunakan untuk hal-hal romantis seperti tadi (walaupun pada akhirnya mereka akan kembali mempermasalahkan hal sepele).

Tapi toh mereka saling mencintai, jadi tidak ada yang salah bukan?

.

.


.

.

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan semangat begitu ia sampai di gerbang sekolah. Hari ini apa yang telah ia rencanakan akan segera terwujud! Chanyeol tidak sabar melihat reaksi seluruh siswa di sekolah ini, mereka pasti akan terkejut sekali. Tadi ia berangkat bersama Taehyung, namun keduanya berpisah karena tidak mungkin mereka datang ke sekolah berdampingan, itu akan membuat masalah baru lagi.

Saat melewati mading sekolah, Chanyeol memberhentikan langkahnya, ia menoleh dengan segera dan menemukan secarik kertas pengumuman yang sangat mengejutkan. Kertas itu berukuran besar, sehingga dari jauhpun orang-orang akan merasa tertarik dan bisa membacanya.

Chanyeol mencabut kertas itu, membaca kalimat yang ada disana dengan baik-baik, memastikan apakah penglihatannya masih bagus atau dia sudah rabun.

"Bagaimana? Kau suka dengan rencanaku?"

Chanyeol terkejut, ia menoleh ke belakang dan menemukan sosok Baekhyun yang sedang tersenyum lebar kepadanya. "Oh astaga, kau membuatku hampir jantungan dengan pengumuman ini. Kenapa kau melakukannya? Bahkan aku belum—"

"Tak apa" Baekhyun memutar bola mata. "Soal itu gampang. Aku hanya tidak tega melihat Taehyung di bully terus-menerus. Kemarin aku melihat kejadian itu saat pulang sekolah, maka dari itu dengan tekad yang kuat, aku melakukan ini semua. Memang keluar dari rencana awal sih, tapi hasilnya juga tidak akan mengecewakan! Kau bisa jamin itu!" Jelasnya, memperlihatkan ibu jarinya.

Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali. "Err, jadi.. apa aku harus berterima kasih padamu sekarang? Apa seluruh orang sudah tau berita ini?"

"Nah, soal itu" Baekhyun tersenyum lebar. "Sebentar lagi Taehyung akan mendapatkan sambutan hangat dari semua teman-temannya. Yeah, kau harus berterima kasih padaku karena aku sangat berpengaruh besar dalam rencana ini" Tambahnya, penuh kepercayaan diri.

Well, cukup bagus. Chanyeol bisa bernafas dengan lega, teman bisnisnya itu memang pantas untuk di andalkan dalam hal-hal seperti ini.

.

.


.

.

Taehyung melangkahkan kakinya pelan, setelah berpisah dengan Chanyeol, ia jadi merasa lemas sekali. Hari-hari yang membosankan seperti ini sampai kapan akan terus berlangsung? Diakan juga ingin kalau di pagi hari datang ke sekolah, mendapatkan sambutan hangat dari teman—

"Selamat pagi, Taehyung!"

—Temannya. Taehyung melebarkan matanya, melihat teman-teman sekelasnya tengah memberikan senyuman mereka, senyuman yang tidak pernah sekalipun Taehyung dapatkan semenjak ia masuk ke kelas itu. Apa dia sedang bermimpi? Kalau iya, tolong bangunkan karena menyeramkan sekali jika melihat mereka semua tersenyum seperti itu kepadanya.

"Err.. kalian kenapa?"

Seorang siswi menghampirinya. "Hari ini kami bersumpah kalau kami tidak akan pernah membullymu lagi! Maafkan kami karena selama ini selalu bersikap kurang ajar padamu, Taehyung-ah"

"Semenjak mengetahui siapa sebenarnya dirimu dan hubunganmu dengan Chanyeol sunbae, kami benar-benar tidak menyangka dan menyesal. Sekali lagi maafkan kami, okay?!"

Oke, apa yang terjadi disini? Apa ini semua mimpi? Taehyung mengerjapkan matanya terus-menerus, bisa saja ia terbangun dan menyadari kalau dirinya masih ada di ranjang kesayangannya.

"Apa katamu tadi?" Taehyung menyadari sesuatu. "Hubunganku dengan Chanyeol sunbae? Kalian mengetahui ini semua dari siapa? Siapa yang melakukannya?" Tanyanya, wajahnya terlihat begitu penasaran. Dalam hati ia panik, bagaimana kalau para penggemar Chanyeol dan Baekhyun tidak terima dengan fakta ini?! Bagaimana kalau nanti mereka menyerang Taehyung dengan segala cara? Astaga!

"Soal itu tidak penting!" Si ketua kelas nyeletuk. "Pokoknya hari ini kita pesta sebagai permintaan maaf untuk Taehyung! Siap untuk pestanyaaaa?!"

"YEAHHH!"

Dan tinggalah Kim Taehyung yang hanya bisa memasang wajah Blank-Tae miliknya.

.

.


[Sebelum Chanyeol dan Taehyung datang ke sekolah]

.

.

"Baekhyun sunbae, apa maksudnya kertas itu?"

Baekhyun menoleh, memperlihatkan senyum lebarnya. "Aku hanya mau mengatakan yang sebenarnya. Kim Taehyung adalah calon tunangan dari Park Chanyeol, jadi jika kalian masih saja membully anak itu, aku tidak akan segan-segan melaporkannya pada ayah Chanyeol!" Katanya keras, sengaja agar semua murid disana bisa mendengarkan.

Mendengar hal itu, seluruh murid langsung berteriak histeris, entah karena kaget atau menyesal karena sudah melakukan tindakan semena-mena kepada Taehyung.

"Apa itu benar?! Jangan-jangan kau juga bagian dari Taehyung!" Celetuk seorang siswa.

Baekhyun berkacak pinggang. "Aku serius, idiot. Jika sampai kalian masih membully Taehyung, maka lawan kalian adalah aku, siswa berbakat yang memiliki sabuk hitam di taekwondo dan karate. Aku tidak pandang bulu! Mau perempuan atau laki-laki, mereka akan menerima pukulan menyakitkan dalam sejarah hidup mereka!" Ancamnya, terlihat bangga.

Ancaman itu ada untungnya juga, semua murid disana langsung menurut, menyebarkan informasi itu kepada seluruh warga sekolah terkecuali Chanyeol dan Taehyung tentu saja. Baekhyun tersenyum puas, apa sih yang tidak bisa ia lakukan?

Hah, akhirnya masalah terselesaikan.


END


Sequel They Don't Know ; Finish!

Sebenarnya aku suka chanbaek karena mereka punya persahabatan yang erat, aku lebih suka crack pair haha. Maaf kalau justru dengan adanya sequel, ceritanya malah mengecewakan. Terima kasih dukungannya! /peluk satu-satu/