Sleepless Prince
…
"Sa….s..ke…"
Suara serak yang jarang digunakan oleh pemiliknya. Pemilik yang memiiliki rambut pirang dan mata biru. Ia sedang terkapar di atas tempat tidur pesakitannya. Matanya terbuka, tapi kosong. Tidak melihat apa yang ada dihadapannya. Tangannya tidak terkepal tapi juga tidak terbuka, sejajar dengan tubuh serta kepalanya. 'Gaun putih' menyelimuti tubuh yang warna kecoklatannya memutih karena abstainnya dari matahari selama bertahun-tahun.
Iya… laki-laki yang terkapar itu bernama Naruto, Uzumaki Naruto. Orang yang sangat ia cintai, teman sejak kecilnya, dan mataharinya.
Laki-laki berambut gelap duduk di pinggir jendela dan menatapnya itu hanya terdiam. Tidak ada gunannya menanggapi panggilannya. Namanya memang sama seperti kata yang dikeluarkan dari bibir pucat itu. Mungkin memang sebenarnya ia yang dipanggilanya. Tapi ia tahu, 'Sasuke' yang dipanggilnya bukan dirinya. bukan teman lamanya yang meninggalkannya untuk meraih cita-citanya. Tapi teman lamanya yang selalu ada di sampingnya dan mencintainya. Yang mampu mengatakan betapa ia mencintainya. Sasuke yang ada dibenak Naruto, bukan dirinya.
Hari itu hujan turun dengan derasnya. Ia jadi ingat dua bulan lalu saat Sakura menemuinya dengan wajah penuh kelelahan dan air mata mengalir deras dari porosnya. Gadis yang dulu mencintainya itu menangis dihadapannya. Sekali lagi bukan untuknya tapi untuk sahabatnya yang sudah tertidur selama tiga tahun akibat kecelakaannya dan dua tahun setelah keadaan vegetatif-nya. Ia masih ingat betapa kumalnya wajah gadis yang selalu menjaga kebersihannya itu. Betapa pedihnya, harapan yang terlihat di matanya yang hijau itu.
Iya… hari itu, hari ke-24 dari usahanya mencari dirinya. Hari ke-25 setelah laki-laki yang dicintainya itu untuk pertamakalinya dalam keadaan vegetatif yang dikiranya permanen itu menyebut namanya 'Sasuke' dengan sedikit terbata. Tidak ada yang tahu apa yang ada dibenak Naruto, tapi Sakura yakin kalau Naruto tidak dalam keadaan vegetatif permanen seperti yang dikira oleh banyak dokter. Bahkan termasuk Tsunade-sama.
Sasuke berdiri dari kursinya ketika Naruto menyebut namanya sekali lagi. Kalau pun ada yang ingin tahu bagaimana perasaannya? Sasuke tidak berperasaan, itu yang banyak orang pikirkan. Tapi semua orang pun tahu, hari ke-29 setelah pertamakalinya Naruto memanggil namanya. Sasuke tersenyum melihat keadaan Naruto dan menertawakannya. Setelah semua orang keluar dari ruangan itu dan hanya meninggalkan mereka berdua. Tidak ada yang meragukan siapa pemilik suara tangis pedih setelahnya.
"Sas…ke…"
Mata Naruto tidak bergeming, tidak menatap kemanapun. Tidak pula memiliki ekspresi lainnya. Para dokter berpikir kalau Naruto tidak sepenuhnya keluar dari keadaan vegetatifnya dan bahkan Yamanaka-san mengatakan kalau sahabatnya itu sedang berhalusinasi. Ia menertawakan semua orang. Semuanya! Naruto tidak sakit, ia hanya hidup di dunianya sendiri. Dunia yang ia sukai dengan sahabat baiknya berada disampingnya. Selalu berada disampingnya dan mencintainya. Sangat mencintainya.
Laki-laki bermata hitam dengan rambut kasar mulai tumbuh diwajahnya yang lelah itu menyentuh tangan Naruto dan mengenggamnya. Naruto hanya terdiam. Ia tidak bergeming, hanya sesekali mengedipkan matanya. Bahkan detak jantungnya tidak berubah sedikit pun. Karena bukan dirinya yang diharapkan. Karena bukan 'Sasuke' yang menyentuh tangannya itu yang diinginkannya.
"Naruto…" katanya perlahan. Suaranya tidak kalah seraknya dengan suara Naruto. Suara dibuatnya lembut, tidak pernah sekalipun dalam seumur hidupnya ia gunakan untuk orang lain.
Mereka berdua hanya terdiam seperti itu untuk beberapa saat lamanya. Baik itu Sasuke maupun Naruto, tidak ada yang menyadari dua orang telah berdiri dibelakang pintu menatap keduanya. Seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia mereka.
Mata hijau melirik sosok laki-laki tinggi di sampingnya. Jas putih kedokterannya tidak menutupi kegugupannya dihadapan laki-laki bermata keras itu. Ini pertamakalinya Sakura berhadapannya kakak dari cinta pertamanya. Uchiha Itachi. Setelah beberapa detik menatap laki-laki itu, akhirnya mata mereka berdua bertemu. Itachi mengambil ponselnya, dan mengangguk pada Sakura.
Sudah dua bulan Sasuke berada di rumah sakit milik Tsunade-sama ini. Tentu keluarganya khawatir, terutama ayah angkatnya Hatake-san. Tiga tahun lalu, akhirnya dalang pembantaian keluarga Uchiha diketahui sebagai Madara dengan Itachi-kakak Sasuke- diculik agar dianggap pembunuhnya. Setelah itu Sasuke yang tinggal dengan Kakashi, dengan keadaan financial Uchiha corp. yang semakin beranak pinak pindah keluar negeri. Lalu kenapa baru sekarang Sasuke muncul?
Itu karena baik Sakura maupun orang terdekat Naruto tidak ada yang sanggup menghubungi bahkan 'menemukan' Sasuke. Cinta pertamanya itu tidak meninggalkan jejak kepergiannya, karena mereka tahu… ada yang salah diantara Naruto dan Sasuke.
Sakura menutup mata hijaunya saat ia berpaling dari sosok Itachi yang sudah tidak terlihat. Ia kembali menatap dua orang sahabatnya itu. Ia sadar entah sejak kapan, ada ikatan tidak terlihat diantara mereka. Ikatan itu sangat kuat, namun rapuh pada saat yang sama. Cita-cita, keluarga, dan norma yang ada dunia menghalangi mereka untuk memperkuat ikatan rapuh itu. Termasuk dirinya.
Gadis itu menggigit bibirnya, termasuk dirinya yang mempengaruhi Naruto untuk tidak pernah mengganggu cinta pertamanya. Ia tidak peduli. Sakura membalikkan tubuhnya. Ia tidak peduli pada apapun lagi kecuali meningkatkan kemampuan dalam bidang kedokterannya dengan harapan kemampuannya itu bisa mengembalikan senyum indah Naruto. Senyum tiga jari yang ia rindukan. Mataharinya.
"Sakura…" panggil seseorang dengan lembut.
"Hn… ah, Iruka-san." Sapanya sambil menunduk kecil menatap laki-laki yang sudah seperti ayah Naruto berdiri disamping seorang wanita dan anak kecil berambut coklat pula, "Ayame-san… Menma-chan…"
"Bagaimana keadaan Naruto hari ini? apakah ada perkembangan?" tanya Iruka penuh pengharapan.
Gadis berambut kemerahan itu menggelengkan kepalanya, "Naruto masih sama seperti biasanya, ia hanya sesekali menggumamkan nama Sasuke."
Laki-laki yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar itu mengangguk, "…." Ia terdiam sesaat, "Sasuke ada di dalam?"
Sakura kembali mengangguk, "Sa…" dan apapun yang ada dipikirannya tersendat di lidahnya. Ia hanya terdiam, dan mereka terdiam. Terdalam dari yang terdalam, Ia berdo'a agar apapun yang terjadi, keduanya akan baik-baik saja. Sasuke… diharapnya agar takdir membersamai mereka. Ke arah kebahagiaan, bukan kematian dan kepedihan yang terlihat di kedua matanya.
Tangannya berkeringat saat ia mengingat perkataan Sasuke… perkataan yang membuat hatinya menyadari seberapa dalamnya perasaan cinta pertamanya itu pada sahabatnya. 'Kalau…pada akhirnya Usuratonkachi mati… maka katakan pada kakakku untuk membiarkanku bersama dengannya, karena bagiku tidak ada bedanya hidup dan mati tanpanya.'
Sasuke…. sasuke… Naruto… bangunlah dan lihatlah Sasuke…
Tangan-tangan kecil berusaha menggapai wajah gadis berjas putih, "Sakula-chan… ? ? menangis…"
…
Iruka berdiri di hadapan pintu kamar Naruto, dan menelan ludahnya. Istri dan anaknya sudah pergi bersama dengan Sakura untuk menemui Tsunade-sama. Tidak pernah ia merasa segugup ini saat akan mengunjungi Naruto. Seakan-akan ia merasa kalau kehadirannya akan menganggu dua orang di dalamnya.
Pintu itu terbuka perlahan tanpa berdecit. Tidak bergeming. Hujan masih deras menepiskan suara-suara kecil yang bersahutan diantara keduanya. Dua mantan siswanya. Yang satu terkapar dengan mata terbukanya, dan satunya dengan kepalanya berada di lekukan leher sahabat baiknya. Ia melihat Sasuke merebahkan sebagian tubuhnya di pinggir Naruto dan seperti sedang membisiki sesuatu.
Gemericik hujan yang tidak mereda, membuat laki-laki dengan bekas luka di hidungnya keluar dari ruangan itu perlahan, sama seperti saat ia memasukinya.
…
"Sas..ssuke…"
"Hn…."
Sasuke mengangkat kakinya dan menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Naruto. Seluruh tubuhnya sudah berada di kasur yang sama dengan sahabat baiknya itu…
Lama kiranya, Naruto tidak membuka matanya. Ia seperti kembali tertidur, dan Sasuke membentangkan tangan kanannya di atas tubuh kurus Naruto. Lalu memeluknya. Sasuke memasukkan wajahnya ke lekukan leher Naruto lagi. Rain's lullaby. Begitu pikir Sasuke. Ia tidak peduli jika ada orang lain yang melihatnya memeluk Naruto seperti ini. kalaupun takdir memutuskan keadaan Naruto akan selalu hidup dengan 'Sasuke' di dunianya. Apa yang bisa diperbuat oleh Sasuke? tidak ada… ini semua kehendak Naruto. Mungkin juga caranya menghukum dirinya.
Lalu bagaimana dengan dirinya?
Sasuke memeluk Naruto dengan erat, sangat erat… sudah kering air matanya untuk menyesali perbuatannya. Naruto tidak salah, tapi tidak juga seorang pun menyalahkannya.
"Hei, Dobe… kau bahagia kah dengan Sasuke-mu disana?"
Tidak ada jawaban, karena Naruto sepertinya memang sedang tidur. dapat diketahui dari napas stagnan yang keluar dari hidungnya.
Tentu Naruto bahagia dengan 'Sasuke'nya, karena Sasuke yang sedang memeluknya kini bahkan terlalu takut untuk menatap mata birunya saat dulu kala. Saat ia bisa dengan mudahnya mengatakan apa yang ingin sekali ia katakan pada laki-laki dipelukannya ini. iya… andaikan ia tidak pergi dari sisi Naruto. Sahabatnya itu tidak akan kecelakaan, tidak akan perlu koma berkepanjangan dan kemudian tidak akan pernah berada dalam keadaan vegetatif. Lalu… di atas itu semua. Naruto tidak akan perlu berada di atas kasur seumur hidup karena patah.. tulang belakangnya.
Sasuke tertawa perlahan, mungkin ada baiknya Naruto berada di dunianya sendiri. Ia tidak perlu tahu kalau tubuhnya tidak dapat digerakkan sama sekali. Karena kalau sampai si Dobe itu tahu tubuhnya tidak dapat digerakkan seumur hidupnya. Mungkinkah senyum itu akan tetap ada di wajahnya.
Hei Naruto… kau sedang apa di dunia sana denganku? Apakah kita bertengkar seperti biasanya? Ataukah kita seperti sepasang kekasih? Aku tahu kau menyukaiku… setidaknya 'diriku' di duniamu. Dari gumaman acakmu, dan dari mata yang seperti memandang jauh ke tempat yang aku tidak akan pernah sanggup datangi. Kau hanya tidak tahu aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu… andaikan kau… membuka kedua matamu dan menatapku. Kau akan tahu, siapa yang sungguh-sungguh mencintaimu. Bukan diriku, dengan cintaku di duniamu. Tapi aku… yang di sini… yang pernah meninggalkanmu.
Semua ini kesalahanku… iya.. kesalahanku, dan ini caraku untuk menebusnya Naruto… aku… akan selalu disisimu.
Sasuke menurunkan tangan kanannya dan menggenggam lengan kiri Naruto, tubuhnya masih terbaring ke sebelah kiri, ke arah Naruto. Tangan kirinya menggenggam telapak tangan kanan sahabatnya itu. Ia menelusupkan wajahnya semakin dalam di leher Naruto.
"Dobe…"
Benar… Naruto akan selalu mencintai dan bersama dengan 'dirinya' di dunianya. Ia mencintainya dan selalu ada di sampingnya 'di dunianya'. Tidak jauh berbeda dengan keadaannya saat ini.
Benar… ia masih bisa menyentuh Naruto, dan membisikinya kata-kata cinta. Lalu Naruto… ia yakin Naruto melakukan hal yang sama dengan 'dirinya' di dunianya. Lalu apa bedanya? Tidak ada bedanya, keduanya saling mencintai dan tidak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Dobe…"
Tidak ada yang menjawabnya. Mungkin ini bedanya? Ah, tidak… Sasuke sekali lagi berdalih, Naruto akan selalu menjawab panggilannya di dunianya itu.
Benar… Naruto akan jauh lebih bahagia di dunia sana dari pada ia membuka matanya dan tahu ia tidak dapat melakukan apapun dengan tubuhnya.
"Naruto…"
Benar… begini lebih baik.
Ada aku yang mencintaimu dan selalu disampingmu. Dan… ada dirimu yang akan selalu menggumamkan namaku. Hidup tersenyum dengan ku di duniamu…
"Naruto…"
Benar… aku akan selalu disisimu.
Iya… selalu, apapun yang terjadi… karena aku… karena aku…
"Aku mencintaimu…"
…
Hujan tidak juga berhenti hari itu, tidak ada yang membangunkan Sasuke setelahnya. Semua orang tahu seberapa pedihnya Sasuke. tidak akan ada yang memintanya untuk pergi dari sisi Naruto, tidak pula akan ada yang memintanya agar menghentikan dirinya sendiri untuk selalu ada disisi Naruto.
Selama bibir Naruto mengumamkan namanya, selama itulah harapan untuknya akan selalu ada. Bagi semua orang harapan itu agar Naruto tersadar dan kembali tersenyum pada mereka. Walaupun mungkin harapan itu berbeda dengan apa yang ada dibenak Sasuke. tapi sungguh, tidak akan ada yang memisahkan mereka berdua, saat ini dan selamanya.
'Tes…'
'Tes…'
'Tes…'
"Sasuke…"
'Tes…'
Mata biru kembali terbuka, dan napas hangat Sasuke tetap tenang, tak bergeming dari tempatnya. Tidak ada yang berubah semenjak beberapa jam lalu. Tapi perlahan tapi pasti hujan akan berhenti, dan saat itu matahari akan kembali menyinari mereka. Mungkin tidak detik itu juga, mungkin pula keesokan harinya. Begitu harapnya.
"Aku …"
…
END.
…
Well, ada yang anak kedokteran? mungkin ada yang ngerti… soal koma dan PVS, permanent vegetative state… pokoknya ini ada hubungannya sama bagian otak kecil yang rusak dan blablabla… keterangan lebih lanjut hubungi dokter, atau google terdekat. Lol…
Tapi cerita orang koma, terus PVS itu… beneran ada… di Amerika… ehem.. bahan… ehem… btw, saya bukan anak fakultas kedokteran, walaupun saya dulu anak I.P.A (tolong jangan dibaca I-pe-A) tapi saya murtad. Hahaha… anyway kalo ada yang tahu… gueeee… butuh banget itu…
Bukan bermaksud sok tahu soal kedokteran, tapi ngebaca bahan yang isinya tu cerita Terri Schiavo, bikin sedih, kaya drama… T_T, yah, tapi Terri cuma pengidap PVS, dan halusinasi Naruto buatan sayah doang…
Thanks to: viviandra phanthom, Aicinta, SasuNaru, Icha Clalu Bhgia, Himawari wia, Paradisaea Rubra, EstrellaNamikaze, yuzuru, madness break, Amach cuka'tomat-jeruk, RararyanFujoshiSN, sia yukichan, Nia Yuuki, GerhardGeMi, susan for review.
Oh iya, chapter pertama semua-nya itu delusi-halusinasi-khayalannya-naruchan. Tapi kalau yang mau percaya chapter kedua itu delusinya sasuke juga ga papa… dochira koso… :3…
