Title : Mianhaeyo, Jalmeothaeso
Genre : GS, Romance, and litle bit Hurt
Rated : T+
Length : ?
Cast :
- Kim RyeoWook
- Kim JongWoon
- Hwang KwangHee
Disclaimer : Just Don't Bash and Don't copas without my permission.. J
.
.
.
Summary : Aku tidak tahu bagaimana bisa aku sampai ke titik ini. Titik di mana kita memulai semuanya karena kesalahan. Hingga aku sadar aku sudah menyakitimu terlalu dalam sampai kau pergi. Dan aku menyadari satu hal. Aku mencintaimu.
.
.
.
.
.
Preview~
"Ah!" Ryeowook sedikit meringis saat merasakan perih.
"Gwaenchanayo?" tanya Sungmin.
Ryeowook tersenyum dan mengangguk.
Sungmin pun membuka pintu kamar dan…
BRUK!
"OMO! Ryeowook-ssi!"
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
Author PoV
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang namja pada dokter yang baru saja memeriksa seorang yeoja yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Dia shock. Sepertinya dia baru saja mengalami tindak kekerasan. Ada luka lebam di sudut bibir dan juga pergelangan tangannya," penjelasan dokter itu membuat sang namja bingung.
"Kekerasan?"
"Ye. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk mengetahui apakah ada luka dalam atau tidak. Hasilnya akan segera keluar," ucap sang dokter itu lagi lalu beranjak meninggalkan pasien dan namja itu.
"Maaf. Anda harus mengisi data pasien. Bisa ikut saya ke bagian administrasi?" kata seorang perawat pada namja itu.
"Oh, ne.." namja itu mengambil tas Ryeowook dan pergi mengikuti perawat setelah melihat ke arah yeoja mungil itu sejenak.
.
.
.
"Ini kartu pengenal miliknya," namja tampan itu menyerahkan benda persegi panjang itu pada perawat di hadapannya.
Perawat itu pun menerima kartu pengenal itu dan mulai menuliskan keterangan-keterangan yang ada di dalamnya.
"Kami juga butuh data untuk wali pasien. Apakah anda walinya?" tanya perawat itu ramah.
Namja itu berpikir sejenak. "Ne. Saya walinya. Hwang Kwanghee imnida," jawabnya sambil tersenyum.
Perawat itu pun menuliskan nama namja itu, sementara namja itu hanya memperhatikan sambil berpikir.
"Ini kartu pengenalnya. Hasil pemeriksaan mungkin akan keluar beberapa jam lagi. Pasien akan kami pindahkan ke kamar rawat inap. Apa tidak masalah?" tanya perawat itu lagi.
"Ne. Gwaenchanayo. Gamsahamnida.." ucap Kwanghee sambil membungkuk.
Namja itu pun kembali melangkah ke tempat Ryeowook terbaring.
"Kim Ryeowook. Apa hubunganmu dengan Kim Jongwoon?" gumam namja tampan itu sambil menatap Ryeowook yang masih belum sadarkan diri. Tak lama kemudian beberapa perawat datang untuk memindahkan Ryeowook ke kamar inap.
"Gamsahamnida.." ucap Kwanghee ramah.
Para perawat itu pun keluar kamar setelah selesai.
Kwanghee memilih duduk di samping ranjang.
"Yeoja yang manis. Sayang sekali wajahmu terluka.." namja itu bermonolog ria. "Aish~ Aku lapar. Padahal tubuhmu tidak terlalu berat, tapi cukup menguras tenagaku. Apa tidak apa-apa jika kau kutinggal ke kantin sebentar? Hanya mencari makan sebentar.."
Kwanghee terkekeh. "Kau diam berarti tidak apa-apa. Hah~ Kurasa aku mulai gila.." lirih namja itu lalu pergi keluar kamar untuk mencari apa yang bisa ia makan di kantin.
"Um.. Mungkin lebih baik aku makan jajangmyeon saja," putusnya.
Setelah memesan kopi dan satu porsi jajangmyeon, Kwanghee pun kembali ke kamar Ryeowook.
"Aku hanya sebentar, kan?" katanya bermonolog lalu duduk kembali di kursinya.
Kwanghee menatap Ryeowook yang masih terlelap. "Apa orang yang pingsan karena shock akan tertidur lama? Sudah satu jam lebih.." gumamnya. "Baiklah.. Kalau begitu aku makan dulu.."
Namja itu pun membuka bungkusan makanannya dan mulai melahap isinya. "Lumayan juga.."
Kwanghee terus melahap jajangmyeon tersebut sampai habis tak tersisa.
"Hah~ Kenyangnya.. Kau masih betah tertidur?" Kwanghee menatap Ryeowook. Namja itu melihat pergelangan tangan Ryeowook yang diinfus. "Benar. Ini lebam. Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau keluar dari kamar yang sama seperti namja itu?" namja tersebut bergerak mengusap tangan Ryeowook.
"Ah, ya!" Kwanghee seakan teringat sesuatu. Namja itu pun mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Yeoboseyo, Donghae-ah!"
"…"
"Ne. Mianhae. Aku hari ini tidak bisa datang. Tolong sampaikan pada Han PD.." ujar Kwanghee.
"…"
"Aku ada sedikit masalah di sini. Besok aku akan menghubungimu lagi. Eoh.. Gomawo!" katanya lalu menutup telpon.
"Ugh!" lenguhan itu keluar dari arah yeoja yang sejak tadi tak sadarkan diri.
"Eoh? Kau sudah sadar?" tanya Kwanghee setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel coklatnya.
"Andwae.." lirih Ryeowook sambil membuka mata.
"Um? W-waeyo?" Kwanghee tampak panik saat melihat Ryeowook yang terlihat resah. Bulir-bulir keringat keluar dari dahi yeoja itu.
"Andwae.. Sajangnim. Jebal…" racau Ryeowook semakin menjadi. Air mata yeoja itu pun mulai menetes.
"Ya! Waeyo? Ryeowook-ssi!" Kwanghee yang panik segera menekan tombol yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Eomma.. Appa.. Dowajuseyo.." isaknya.
"Bertahanlah, eoh? Dokter akan segera datang," kata Kwanghee sambil terus menekan tombol.
5 menit kemudian, dokter dan beberapa perawat pun datang.
"Apa yang terjadi?" tanya sang dokter sambil memasang stetoskopnya.
"Dia meracau. Ku kira dia sudah sadar tapi dia terus mengigau sambil menangis," jelas Kwanghee.
Seorang perawat menyuntikkan cairan yang bisa dipastikan obat penenang pada selang infus Ryeowook.
"Andwae~" terdengar sisa-sisa racauan Ryeowook yang mulai tenang lalu perlahan suara itu pun tergantikan oleh nafas Ryeowook yang teratur.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kwanghee penasaran.
"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya," ujar dokter paruh baya itu.
Kwanghee pun mengangguk dan mengikuti sang dokter meninggalkan ruangan.
"Ada apa?" tanya Kwanghee tak sabar setelah sampai di ruangan dokter.
Sang dokter menatap Kwanghee dengan serius. "Apa anda kekasihnya?" tanya dokter itu tiba-tiba.
Dahi Kwanghee mengerut karena bingung dengan pertanyaan dokter yang terbilang privasi itu. "Wae?" Kwanghee membalikkan pertanyaan.
"Anda harus bersabar. Nona Kim.. Dia.. Mengalami pemerkosaan.." Kwanghee terkejut. Matanya membulat sempurna.
"M-mwo?"
"Mianhae. Tapi saya harus menyampaikan ini. Selain itu, sepertinya dia juga mendapat perlakuan kasar," ujar dokter itu lagi.
Kwanghee terdiam. Bibirnya terasa kelu.
"Apa anda tidak apa-apa?" tanya dokter itu.
"Ah.. Lalu.. Bagaimana keadaannya?"
"Shock yang dia alami cukup berat. Tapi anda tidak perlu khawatir. Sepertinya ini tidak terlalu mengganggu sistem otaknya. Untuk memastikannya, kami akan melakukan pemeriksaan kembali saat dia telah sadar nanti."
"Begitu? Baiklah.. Kalau begitu, saya permisi dulu.." ucap Kwanghee seraya berdiri. Dia pun melangkah dengan lunglai ke kamar Ryeowook.
Kwanghee menatap Ryeowook yang masih tertidur. "Itukah yang dia lakukan padamu?"
Perlahan namja itu mengusap tangan Ryeowook. "Dia bahkan mengataimu yeoja bodoh tadi."
"Kim Ryeowook. Jangan menangis lagi. Aku akan membantumu! Aku tidak akan membiarkanmu mengalami hal yang sama seperti eomma.." ucapnya.
.
.
.
Ryeowook membuka matanya perlahan. Pandangan yeoja itu menerawang ke langit-langit kamar lalu beralih ke samping ranjang.
"Um?" dahinya mengernyit bingung saat melihat seseorang yang tertidur di kursi samping ranjangnya. Kepala namja itu bergerak tak beraturan ke kanan dan kiri.
Ryeowook hanya memperhatikan namja itu lekat-lekat tanpa berniat membangunkannya.
"Ah!" Ryeowook terkejut saat namja itu hampir terjatuh.
"Hah~" namja itu membuka matanya. Sepertinya dia tersadar saat dirinya akan terjatuh. "Hoam~" dia menggeliat pelan.
"Kau sudah bangun?" tanya Ryeowook ramah.
"Um.." namja itu mengangguk, belum sadar bahwa Ryeowook sudah terbangun dari tidurnya.
"Kau terlihat lelah?" kata Ryeowook lagi.
Namja itu kembali mengangguk namun detik berikutnya namja itu terbelalak dan menatap Ryeowook. "Kau sudah sadar?"
"Memangnya apa yang terjadi denganku? Kau siapa?" tanya Ryeowook bingung. Yeoja itu mencoba untuk duduk.
Namja di sampingnya berdiri dan hendak membantunya duduk, namun Ryeowook terlihat ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba sedikit gemetar.
"Ah, maaf. Aku hanya ingin membantumu.." ucap namja itu saat tersadar.
Ryeowook menundukkan kepalanya.
"Aku tidak bermaksud jahat padamu.." namja itu mengulurkan tangannya. Ryeowook pun menatapnya. "Hwang Kwanghee imnida," katanya memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Dengan sedikit takut Ryeowook membalas uluran tangan itu. "Kim… Ryeowook imnida.." sahutnya.
"Tak perlu takut begitu.. Aku reporter," kata Kwanghee yang spontan membuat Ryeowook terkejut.
"Ne?"
"Tenang saja. Aku bukan reporter usil.." kata Kwanghee terkekeh.
"Aku.. Ingin pulang.." lirih Ryeowook.
"Andwae! Kau masih harus melakukan pemeriksaan. Kau tertidur hampir dua hari."
"Mwo? Dua hari? Aku harus bekerja," kata Ryeowook.
"Andwae. Dengan tubuh lemah begitu, mana mungkin kau bisa konsentrasi bekerja!"
"Tapi-"
"Hubungi saja temanmu!"
Ryeowook terdiam.
"Maaf. Bukannya aku melarangmu untuk pulang, tetapi kau memang harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut besok. Lagi pula ini sudah malam," kata Kwanghee memberi pengertian. Namja itu tersenyum. Ia pun memberikan tas milik Ryeowook. "Maaf aku membuka tasmu kemarin. Aku hanya mengambil kartu pengenalmu untuk keperluan administrasi kemarin."
Ryeowook langsung mencari ponselnya. Namun ia mendesah kecewa saat melihat ponselnya yang mati.
Kwanghee menyodorkan ponselnya. "Pakai saja punyaku kalau kau ingin menghubungi temanmu."
Ryeowook mendongak lalu mengambil ponsel putih tersebut. Dia pun langsung mengetikkan sejumlah digit nomor dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Yeoboseyo? Hyukie-ah.." sapa Ryeowook.
"…"
"Eoh.. Mianhae mengganggumu malam-malam seperti ini. Sekarang aku sedang di rumah sakit," ucap Ryeowook.
"Mwo?! Rumah sakit?!" pekikan Eunhyuk sampai terdengar tanpa harus menggunakan pengeras suara.
"Ya~ Jangan berteriak seperti itu! Aku hanya pingsan selama dua hari di sini.."
"Mwo?! Pingsan dua hari?! Pantas saja kau tidak bisa dihubungi! Apa yang terjadi padamu, eoh?! Kau di rumah sakit mana? Aku akan ke sana!" racau Eunhyuk lagi. Terdengar suara gaduh yang bisa di pastikan kalau yeoja itu sambil bersiap sekarang.
"Tidak perlu ini sudah malam.." tolak Ryeowook halus.
"Aku akan tetap ke sana sekarang! Suaramu terdengar berbeda! Kau harus bercerita padaku. Kirimkan nama rumah sakit tempatmu sekarang!" sergah Eunhyuk.
Kwanghee hanya terkekeh mendengar percakapan keduanya yang tidak sengaja terdengar.
"Arasseo.." lirih Ryeowook.
Telpon pun mati.
"Ini.. Terima kasih.." Ryeowook menyerahkan ponsel tersebut pada pemiliknya.
Kwanghee mengambilnya.
"Temanku meminta alamat rumah sakit ini.."
"Aku tahu. Aku mendengarnya," sahut Kwanghee seraya mengetikkan pesan singkat pada Eunhyuk. "Sepertinya temanmu itu sangat tahu apa yang kau rasakan hanya dengan mendengar suaramu ya?"
Ryeowook hanya tersenyum. "Tentu saja. Kami bersahabat sejak SMP. Dia sudah seperti seorang kakak bagiku."
Kwanghee mengangguk paham. "Aku sudah mengirim alamat rumah sakit ini. Lebih baik kau beristirahat sekarang. Biar aku yang menunggu temanmu. Besok kau harus menjalani pemeriksaan," nasihat Kwanghee.
"Gwaenchana. Kau bisa pulang."
"Saat ini posisiku adalah walimu! Jadi kau harus menuruti kata-kataku!" kata Kwanghee bernada final. Namja itu memegang kedua bahu Ryeowook dan sedikit menuntunnya untuk berbaring.
"Andwae!" pekik Ryeowook tiba-tiba. Yeoja tersebut terlihat ketakutan.
Kwanghee tertegun dan langsung menarik tangannya dari bahu mungil itu. "M-mianhae.. A-aku tidak bermaksud seperti itu. Aku.."
Ryeowook langsung berbaring dan tidur membelakangi Kwanghee. Tubuhnya bergetar.
"Gwaenchana..yo?" tanya Kwanghee pelan.
Ryeowook tidak menjawab. Namun tak lama kemudian terdengar isakan kecil dari arah yeoja itu.
Kwanghee terdiam. Namja itu memilih duduk di kursinya.
"Mian.." lirih Ryeowook.
Kwanghee menatap punggung Ryeowook. "Gwaenchana.. Istirahatlah. Maaf aku sudah membuatmu takut," sahut Kwanghee lembut.
Ryeowook masih menangis. Isakannya terdengar dengan samar.
'Uljima..' ucap Kwanghee dalam hati.
Ruangan itu pun hening setelah beberapa saat. Ryeowook tertidur dengan sisa isakannya yang masih terdengar. Kwanghee masih terdiam sambil menatap punggung Ryeowook.
SRET!
Terdengar suara pintu kamar terbuka lalu tertutup dengan pelan.
"Wookie-ah aku- Eoh? Kau siapa?" tanya Eunhyuk yang baru saja tiba saat melihat Kwanghee sambil berjalan mendekat.
Kwanghee berdiri dan sedikit membungkuk. "Kwanghee imnida. Aku yang membawa Ryeowook-ssi ke sini," katanya memperkenalkan diri.
"Ah.. Lee Hyukjae imnida. Panggil saja aku Eunhyuk," balas Eunhyuk. "Apa yang terjadi padanya?"
"Aku tidak bisa memberitahunya padamu. Mungkin nanti dia akan menceritakannya sendiri. Dia baru saja tertidur setelah menangis tadi," kata Kwanghee.
"Menangis? Wae?"
Kwanghee tersenyum. "Dia pasti akan bercerita padamu, Eunhyuk-ssi."
Eunhyuk mengernyit bingung. "Geurae. Aku akan menunggunya bangun jika kau memang tidak ingin memberitahuku," kata Eunhyuk pada akhirnya.
"Aku hanya tidak ingin menceritakan hal yang tidak kuketahui secara lengkap. Aku takut salah. Ya.. Meskipun dokter sudah memberitahuku, tapi tetap saja aku tidak punya hak untuk mengatakannya karena aku baru saja mengenalnya," jelas Kwanghee.
"Arasseo. Terima kasih kau sudah menolongnya," sahut Eunhyuk mengerti. "Kau bisa kembali ke rumahmu sekarang."
"Aku akan menunggunya sampai pemeriksaan besok," tolak Kwanghee.
"Sekarang sudah ada aku. Kau bisa kembali besok, Kwanghee-ssi," kata Eunhyuk.
"Gwaenchanayo.. Lagipula aku walinya untuk sementara waktu."
"Baiklah jika kau memaksa."
.
.
Ooo
.
.
Seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar bernuansa putih itu diikuti Kwanghee.
"Annyeong haseyo, nona Kim," sapa dokter itu ramah.
"Annyeong haseyo, dokter," sahut Ryeowook.
Dokter itu tersenyum lalu memasang stetoskopnya. Dia pun mulai memeriksa Ryeowook.
Ryeowook bergetar saat tangan dokter tersebut menyentuh pergelangan tangannya.
"Gwaenchanayo, nona Kim. Tenangkan pikiranmu. Tarik nafas.. hembuskan.. lakukan dengan perlahan," ucap dokter mencoba menenangkan.
Ryeowook pun memejamkan matanya dan mengikuti instruksi dari dokter tersebut.
"Sudah. Semuanya baik. Tidak apa-apa. Kau hanya perlu beristirahat dan meminum obat dengan teratur," kata dokter sambil melepaskan stetoskopnya.
Ryeowook mengangguk paham.
"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu," dokter itu berbalik. "Kita bicara di ruangan saya," ucapnya pelan pada Kwanghee.
Kwanghee mengangguk. "Aku keluar sebentar. Tidak apa-apa, kan?" kata Kwanghee pada Eunhyuk dan Ryeowook.
"Gwaenchanayo, Kwanghee-ssi. Lagipula sepertinya Wookie harus mengatakan sesuatu padaku," sahut Eunhyuk sambil melirik ke arah Ryeowook.
Ryeowook tersenyum tipis. "Gwanchana. Ah.. Tolong belikan makanan untuk Hyukie saat kau kembali nanti. Maaf merepotkanmu."
"Geurae. Akan kubelikan," Kwanghee pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruangan dokter.
Tok.. Tok!
Kwanghee mengetuk pintu bercat putih itu
"Masuklah!" ujar sang pemilik ruangan.
Kwanghee pun masuk.
"Duduklah!" titah dokter itu.
Kwanghee menurut. "Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?"
"Anda tidak perlu terlalu khawatir. Kondisi fisik nona Kim tidak parah. Hanya luka lebam yang bisa hilang dalam beberapa hari ke depan. Tapi.. Dia sepertinya mengalami trauma," jelas dokter tersebut.
"Trauma? Apa hal itu membahayakannya?" tanya Kwanghee tiba-tiba panik.
"Dia menjadi takut bila disentuh oleh lelaki. Hanya bila disentuh. Untuk sementara hal ini tidak membahayakan sistem otaknya, karena ini trauma kecil. Namun akan berbahaya jika tidak melakukan terapi secara teratur."
"Terapi?"
"Ne. Orang yang terkena phobia seperti nona Kim bisa sembuh jika melakukan terapi secara teratur. Dia hanya perlu terbiasa berinteraksi dengan namja."
"Arasseo. Jadwalkan saja terapi untuknya. Ah, ya. Kapan dia bisa pulang?"
"Berhubung tidak terdapat luka yang serius, besok dia sudah bisa kembali. Tapi kusarankan untuk tidak meninggalkannya sendirian," pesan dokter.
"Syukurlah. Gamsahamnida, dokter. Kalau begitu saya permisi," pamit Kwanghee.
"Ne. Saya akan mengabarkan jadwal terapi untuknya nanti malam," sahut dokter itu.
.
.
.
Eunhyuk menatap Ryeowook yang masih tertunduk. Kedua yeoja itu sama-sama terdiam setelah Ryeowook menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Yeoja mungil itu menangis.
Sedangkan Eunhyuk terdiam. Dia terlalu shock mendengar cerita Ryeowook. Dalam hatinya ia merasa bersalah.
"Ini salahku…" lirih Eunhyuk.
Ryeowook mengangkat wajahnya. "Ani.. Ini bukan salahmu, Hyukie-ah…"
"Kalau saja saat itu aku tidak tertidur dan datang menemuimu, ini tidak akan terjadi," racau Eunhyuk lagi sambil menangis.
"Hyukie-ah.."
"Aku memang bodoh! Bagaimana bisa aku tertidur dengan nyenyak saat itu?" rutuk Eunhyuk pada diri sendiri.
"Aniya.." ucap Ryeowook menenangkan.
"Babo!" Eunhyuk menggenggam tangan Ryeowook tiba-tiba. "Pukul aku, Wookie-ah!"
Ryeowook menggeleng kuat. "Ani! Hajima, Hyukie-ah.. Geumanhae.." yeoja itu memeluk Eunhyuk erat. "Jangan seperti ini, Hyukie-ah.."
"Mianhae, Wookie-ah. Mianhae.." isak Eunhyuk.
"Nan gwaenchana.. Uljima, eoh? Aku tidak apa-apa.." ucap Ryeowook menenangkan.
"Wookie-ah.."
Kedua yeoja itu menangis dengan kencang.
BLAM!
Terdengar suara pintu ditutup, membuat keduanya tersadar dan dengan cepat menghapus air mata mereka.
"Wae geurae?" tanya Kwanghee pelan.
"Kwanghee-ssi. Gomawo," ujar Eunhyuk.
Kwanghee tersenyum. "Cheonma.. Sudahlah. Ada kabar baik. Kau sudah boleh pulang besok, nona Kim," kata namja itu.
"Geuraeyo?" Ryeowook tersenyum.
"Tapi.. Dokter bilang kau harus terapi," kata Kwanghee lagi membuat Ryeowook dan Eunhyuk bingung.
"Terapi? Untuk apa?" tanya Ryeowook.
Kwanghee berjalan mendekati Ryeowook. Namja itu mengangkat tangannya dan mengulurkannya untuk menyentuh Ryeowook.
Ryeowook menunduk dan tubuhnya terlihat bergetar.
Kwanghee menarik kembali tangannya lalu tersenyum lembut. "Untuk itu," katanya singkat.
"Eh?" Ryeowook mengerjap tak mengerti.
"Wae?" tanya Eunhyuk yang juga tak mengerti.
"Kau mengelami trauma sehingga kau mengira setiap laki-laki yang menyentuhmu adalah ancaman bagimu. Bahkan kau takut saat dokter memeriksamu tadi," jelas Kwanghee.
"Tidak perlu terapi. Aku tidak apa-apa," tolak Ryeowook.
"Aku sudah meminta dokter untuk membuat jadwal terapi untukmu."
"Tapi-"
"Aku walimu Kim Ryeowook!" potong Kwanghee cepat.
Eunhyuk hanya menatap Kwanghee dan Ryeowook bergantian.
"Aku tidak punya uang yang cukup untuk terapi seperti itu," lirih Ryeowook.
"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku walimu? Jadi kau hanya perlu terapi.."
"Kita bahkan baru saling kenal. Bagaimana aku-"
"Bukankah kau bekerja? Aku tidak bilang ini gratis. Aku hanya meminjamkan uangku padamu," ucap Kwanghee yang mengerti.
"Aku juga akan membantumu, Wookie-ah. Kau harus terapi! Aku yang akan menemanimu, eoh?" kata Eunhyuk tiba-tiba.
Ryeowook hanya tersenyum mendengar celotehan kedua orang itu.
"Baiklah.. Sepertinya aku harus pergi dulu sekarang. Aku akan kembali besok pagi. Seorang reporter akan terkena masalah jika libur terlalu lama," canda Kwanghee.
"Kau reporter?" tanya Eunhyuk.
Kwanghee mengangguk. Namja itu memakai mantel coklatnya. "Hubungi aku jika terjadi sesuatu, ne?" pesannya.
Eunhyuk dan Ryeowook mengangguk.
"Hati-hati di jalan.." kata Ryeowook.
Sesaat Kwanghee menatap Ryeowook lekat, seperti sedang mengingat sesuatu. Ryeowook tersenyum lembut.
"Ah.. Ne.." sahut Kwanghee saat tersadar lalu berjalan keluar ruangan.
BLAM!
Kwanghee menutup pintu kamar lalu bersandar sejenak dan memejamkan kedua matanya. Namja itu melihat ke dalam kamar melalui kaca yang menempel di pintu.
"Eomma.. Kenapa kalian terlihat mirip?" gumamnya sebelum melangkah menjauh dari pintu.
.
.
Ooo
.
.
Ryeowook dengan takut-takut memasuki gedung kantornya. Matanya menatap ke segala arah. Dia berjalan sambil menunduk.
"Wookie-ah!" panggil Eunhyuk dari arah depan.
Ryeowook mendongak dan tersenyum. Eunhyuk bergegas menghampirinya.
"Kajja!" Eunhyuk menggandeng tangan Ryeowook. Merekapun melangkah bersama menuju ke ruangan mereka bekerja.
"Bagaimana?" tanya Eunhyuk.
"Aku kan sudah menjawabnya berulang kali.. Tidak perlu, Hyukie-ah," jawab Ryeowook.
"Kau keras kepala sekali. Bukankah dokter bilang akan lebih baik jika kau ditemani? Jadi apa salahnya jika aku tinggal denganmu untuk beberapa saat?" kata Eunhyuk.
"Ini sudah sebulan sejak aku keluar dari rumah sakit dan tidak terjadi apapun padaku, kan? Lagi pula aku hanya trauma, Hyukie-ah.." kata Ryeowook lagi.
"Ck! Kau selalu berkata hanya trauma. Tapi apa kau tidak tahu kalau trauma itu juga berbahaya?" sahut Eunhyuk.
Ryeowook terdiam saat matanya tak sengaja beradu tatap dengan Yesung. Yesung tampak mengeluarkan smirknya. Dan itu membuatnya tampak mengerikan. Ryeowook sontak menundukkan kepalanya.
"Wookie-ah.. Waeyo?" tanya Eunhyuk.
"A-ani. Aku hanya- Hoek!"
"Eoh? Waeyo?" tanya Eunhyuk panik.
"Aku.. Hoek!"
"Kaja, kita ke toilet!"
Eunhyuk menuntun Ryeowook dengan cepat menuju toilet terdekat.
"Hoek!"
"Gwaenchanayo?" Eunhyuk menekan tengkuk Ryeowook.
"Hah~" Ryeowook menghela nafas pelan.
"Kau tidak memuntahkan apa-apa?" tanya Eunhyuk heran.
"Sudah beberapa hari seperti ini. Kurasa hari ini lebih mual dari sebelumnya," jawab Ryeowook.
Eunhyuk menatap Ryeowook dengan serius. Yeoja itu tampak berpikir keras. "Neo.. Apa.. Kau sudah ke dokter?"
Ryeowook menggeleng pelan. "Sepertinya aku masuk angin. Gwaenchana.."
'Wookie-ah..' Eunhyuk menatap Ryeowook sambil bertanya-tanya dalam hati.
"Aish~ Kepalaku pusing sekali. Sepertinya aku hanya sanggup bekerja setengah hari," kata Ryeowook.
"Kita ke dokter!"
"Nde? Jadwal terapiku besok, Hyukie-ah. Bukan hari ini…"
"Kita harus ke dokter sekarang!" Eunhyuk menarik tangan Ryeowook.
"Ya~ Aku tidak apa-apa!" protes Ryeowook.
.
.
.
Ryeowook dan Eunhyuk menunggu hasil chek up yang baru saja dilakukan oleh Ryeowook di depan ruang dokter saat Kwanghee datang dengan seorang namja.
"Wae? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Kwanghee to the point setelah sampai di hadapan 2 yeoja itu.
"Kwanghee-ssi?" Ryeowook tampak terkejut saat melihat Kwanghee datang.
"Aku yang memanggilnya ke sini," kata Eunhyuk tanpa dosa.
"Nde? Aku kan tidak apa-apa, Hyukie.. Kenapa kau memanggilnya?" protes Ryeowook.
"Dia walimu, kan?" ucap Eunhyuk asal.
"Aish!" gerutu Ryeowook.
"Gwaenchana. Apa yang terjadi?" tanya Kwanghee lagi.
"Kami sedang menunggu hasilnya. Dia mengeluh mual dan pusing," jawab Eunhyuk.
Ryeowook mempoutkan bibirnya. "Aku sudah bilang tidak apa-apa, tapi dia membawaku ke mari.."
"Ya! Kau ini betul-betul polos ya? Aku mencemaskanmu! Kau mengalami tanda-tanda yang membuatku takut!" sergah Eunhyuk.
"Memangnya tanda-tanda apa?! Justru kau yang membuatku takut!" tukas Ryeowook.
"Sudahlah. Kita tunggu saja hasilnya. Semoga tidak ada hal yang serius," kata Kwanghee menengahi. "Oh, ya. Kenalkan. Ini Lee Donghae. Dia rekan kerjaku," Kwanghee memperkenalkan namja yang sejak tadi hanya berdiri diam di dekatnya.
Namja yang bernama Donghae itu membungkuk. "Annyeong haseyo," sapanya ramah.
Eunhyuk terpaku menatap namja tampan itu.
"Annyeong haseyo.. Ryeowook imnida," sahut Ryeowook. Ryeowook melirik Eunhyuk yang terdiam. "A-ah.. Ini Lee Hyukjae. Panggil saja dia Eunhyuk atau Hyukie. Dia sahabatku. Dan dia belum punya kekasih."
Kalimat terakhir Ryeowook membuat Eunhyuk tersentak dan refleks mendelik pada Ryeowook, sedangkan yang lain hanya tertawa renyah.
Ryeowook yang memberikan senyuman tanpa dosanya.
"Seperti kau sudah memiliki kekasih saja!" cibir Eunhyuk.
Tak lama kemudian dokter pun datang ke arah mereka.
"Eoh, uisanim? Eotthaeyo? Apa aku sakit parah?" tanya Ryeowook tak sabar.
Sang dokter tersenyum. "Sialahkan masuk ke ruangan saya, nona Kim!"
Ryeowook pun menurut. Yeoja itu masuk mengikuti dokter dan duduk berseberangan dengan dokter itu.
"Ini.. Hasil pemeriksaan anda," dokter itu menyerahkan kertas berisi hasil pemeriksaan Ryeowook setelah menghela nafas berat.
Ryeowook mengambil kertas itu dan membacanya. Matanya membulat sempurna.
"I-ini…" Ryeowook tergagap.
Dokter itu mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa Ryeowook berdiri dan melangkah keluar ruangan.
"Eotthae?" tanya Eunhyuk saat melihat Ryeowook keluar.
Ryeowook tak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah depan.
"Ya! Katakan sesuatu!" desak Eunhyuk. Tak sabar, Eunhyuk merampas kertas putih yang digenggam Ryeowook. Beberapa detik kemudian air mata yeoja cantik itu menetes. "Eotteokhae?" lirihnya seperti putus asa. Dengan lemas ia terduduk di kursi.
"Wae?" tanya Kwanghee bingung seraya mengambil kertas dari tangan Eunhyuk. "Ryeowook-ssi, neo-" Kwanghee tak mampu berkata apa pun saat membaca hasil pemeriksaan tersebut.
"Aku hamil.." lirih Ryeowook nyaris tak terdengar. Tanpa disadarinya, air matanya telah bergulir. "Hyukie-ah.. Kenapa kau menangis? Bukankah ini berita bahagia?" Ryeowook mendekat ke arah Eunhyuk yang telah terisak.
"Eotteokhae, Wookie-ah~" racau Eunhyuk.
"Gwaenchana.. Aku baik-baik saja, Hyukie-ah.. Aku tidak apa-apa selama kau menemaniku. Kau sahabatku, kan? Anak ini pasti akan tumbuh sehat. Bukankah kau selalu mengharapkan memiliki keponakan dariku? Uljima~" ujar Ryeowook menenangkan, meskipun hatinya sendiri tengah kalut dan air matanya bertambah deras. Yeoja manis itu memeluk Eunhyuk erat.
"Mianhae, Wookie-ah.. Mianhae.." racau Eunhyuk.
Kwanghee hanya bisa menghela nafasnya. Namja itu pun bingung.
"Sepertinya kita harus membantunya," gumam Donghae pelan.
Kwanghee menatap Donghae tak mengerti. Namun Donghae hanya membalasnya dengan senyum tipis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
_to be continue..
Annyeong haseyo~ ^^
Rena datang lagi nihh.. kali ini bawa Mianhaeyo chapter 2.. hehe..
Makasih banget buat yang kemarin udah nyempatin untuk review.. Rena seneng kalian merespon dengan baik..
Dan maaf kali ini Ryeowook kembali menderita.. haha.. #digiling
Naikin rate? Mungkin nanti ya.. :) #plak!
Oya, ada yang tanya Hwang Kwanghee itu yang di ZE:A atau bukan, jawabannya iya..hehe..
Mungkin karakter Kwanghee di drama To The Beautiful You memang agak *ehem* lambai-lambai, tapi di sini Rena coba bikin karakter yang 180° berbeda dari drama itu..hehe.. kenapa? Karena Rena liat postur tubuh dia cocok untuk pekerjaan dia di FF ini.. Dan kenapa gak pake member SJ lain untuk jadi orang ketiga? Gak tau kenapa Rena cuma pengen suasana baru aja ko.. hehe..
Maaf kalo cerita ini gak sesuai sama harapan kalian dan banyak typo..
Terakhir, Rena tetap mengharapkan review tanpa bash dari kalian walau hanya setitik..
Gomawo untuk yang sudah mampr baca.. :D
Annyeong~ #bow
