Warning : AU, TYPO bertebaran, alur cepat, dsb.

Disclaimer © Masashi Kishimoto (absolutely)

Album Putih© Adinda Kasih

Pairing : Sasuke x Sakura

Rated © T (M for safe)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2~

.

.

.

.

.

.

Sakura tengah berada di taman belakang mension uchiha, menyirami bunga bunga indah yang ditanamnya sendiri sambil bersenandung kecil.

Seorang pembantu rumah, datang menghampiri sakura. Sekilas pembantu itu tersenyum.
Sakura sangat cantik, baik, ramah, dan sopan. Beruntunglah tuan muda mereka mendapatkan gadis bermahkota pink itu.

Merasa ada yang memperhatikan, sakura membalikkan badannya, dan sedikit terkejut melihat salah seorang pembantu rumahnya menatapnya sambil tersenyum.

"Ayame-san ?" tegur sakura

"Eh?!". Pembantu yang diketahui bernama ayame itu gelagapan.
"Nyo..nyonya sakura, maaf saya mengagetkan anda"

Sakura tersenyum geli
"Hihi.. Sepertinya aku yang mengagetkanmu"

Ayame tersenyum kikuk, merutuki kebodohannya.

"Ada apa ayame san ?" tanya sakura kemudian.

"A..ano nyonya, tuan menyuruh saya memanggil anda"

Sakura mengernyitkan dahi lebarnya.
"Untuk apa?"

"Kata tuan, ada yang mau dibicarakannya dengan anda," jelas ayame.

"Oh baiklah, aku akan menghampirinya. Dimana dia?"

"Diruang kerjanya nyonya"

"Baiklah, terima kasih ya ayame san " ujar sakura sembari memasang senyum manisnya.

Ayame balas tersenyum, lalu membungkukkan badannya, dan berlalu pergi dari tempat itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Krieeett..

"Kau memanggilku sasuke kun ?"

Sakura melangkahkan kaki memasuki ruangan kerja suaminya.
Tampak sasuke tengah berdiri membelakanginya menatap keluar jendela.

"Hn". Terdengar gumaman dari pemuda emo itu.

"Apa yang ingin kau katakan?" tanya sakura kemudian.

"Malam ini kaasan dan tousan datang." ucapnya tanpa berniat menatap sakura.

Segurat raut bahagia terpampang di wajah sakura.
"Benarkah? Sudah lama sekali.. Aku rindu pada mereka" ucapnya berbinar senang.

Sasuke terdiam sejenak.
"Jangan pernah bersikap sok mesra padaku ketika berada didepan kaasan dan tousan"

Kata kata itu penuh dengan penekanan, tak terbantahkan.
Sakura sedikit meringis mendengarnya.

"Apa aku bagimu sasuke kun ?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir mungilnya.

Sasuke diam. Membuat sakura semakin tak kuasa menahan sakit.
"Tak bisakah kau memberiku harapan agar kau bisa menganggapku sebagai istrimu?" tanya sakura lagi. Ada sedikit nada tercekat pada suaranya.

Sasuke membalikkan badannya, menatap sakura.
Gadis itu..
Bisa bisanya dia tetap tersenyum menatap orang orang yang berada didekatnya.
Sementara kejadian tadi malam masih terbayang bayang di pikiran sasuke. Entah kenapa, tapi sasuke merasa sangat jahat malam tadi.
Biasanya dia tak pernah melukai fisik sakura. Dia hanya menekan batin sakura agar gadis itu pergi dari hidupnya.

Tapi malam tadi? Itu sungguh diluar kendalinya. Entah apa yang terjadi pada otaknya sehingga dia langsung menjambak surai indah istrinya yang diam diam dikaguminya itu.

Secepat itukah gadis itu melupakan sesuatu?

"Sasuke kun ?"

Suara sakura mengagetkan sasuke dari lamunannya.
Dia menatap tajam sakura.

"Kau hanyalah seorang pembantu! Dan jangan harap aku menganggapmu lebih dari itu" sasuke berlalu pergi meninggalkan sakura yang berdiri mematung.

Tes..

Sakura tersentak kaget saat air mata nya menetes tiba tiba.
Dengan cepat dia menghapus air matanya lalu kembali memasang topeng tegarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini hari minggu, sakura memutuskan untuk berbelanja perlengkapan dapur yang mulai habis, apalagi hari ini mertuanya mengunjungi mereka.

Sebenarnya , para pembantu dirumah itu sudah mengatakan agar sakura tak perlu repot repot kesupermarket. Biar mereka saja yang belanja. Namun sakura tetap ngotot.
Akhirnya, dengan ditemani supir pribadi uchiha, sakura berbelanja ke supermarket terdekat.

"Sudah sampai nyonya"

"Ya, kau tunggu disini. Biar aku saja yang masuk"

"Eh?! Tidak bisa nyonya, saya harus ikut."

"Sudahlah aku saja. Tidak apa apa kok".

"Tapi-"

Supir pribadi sakura itu berhenti membantah saat melihat senyuman manis terukir dibibir majikannya seolah mengatakan 'aku baik baik saja'

Mendesah pasrah, akhirnya dia menuruti permintaan nyonya besar uchiha itu.
"Baiklah nyonya, tapi jika terjadi sesuatu hubungi saya segera"

Sakura tersenyum senang
"Oke boss!". Ucapnya lalu keluar dari mobil dan melangkah menuju supermarket.

Supir tadi hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya menatap kepergian sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mentega, tomat, gula, astaga apa lagi? Kenapa aku tidak membawa catatannya sih"

Sakura merutuki dirinya sendiri.
Dia berniat membeli bahan bahan untuk memasak kue tomat(?) kesukaan suaminya dan ayah mertuanya.

Tapi sakura selalu kalah dalam hal ingatan. Seperti saat ini, dia tak tau apa lagi bahan yang harus diambil.

"Apa lagi yaa?" matanya menyusuri tiap tiap rak bahan makanan disitu.

"Tepung?"

Tiba tiba sebungkus tepung berukuran sedang tergantung tepat didepan wajah sakura.

"Ya ya! Tepung, kau benar!"

Dengan sekali hentakan, sakura menarik bungkus tepung itu dari hadapan wajahnya.

"Kau tidak pernah berubah sakura"

Sakura tersentak saat mendengar suara bariton yang sangat dikenalnya itu.

Buru buru dia membalik badannya, dan tersenyum sumringah saat melihat pemuda yang berdiri tegap didepannya.

"SASORI KUN !". Pekik sakura heboh lalu menghambur kepelukan pria tadi.

Sasori terkekeh geli melihat aksi konyol sahabat yang sangat dicintainya itu.

"Kau sedang apa disini sasori kun ?". Tanya sakura setelah melepaskan pelukannya.

"Berbelanja"

Sakura mencibir
"Pria sepertimu berbelanja? Yang benar saja"

"Memang kenapa kalau aku berbelanja? Tidak boleh?"

"Yaa.. Bagaimana ya, kau kan bisa meminta puluhan pembantumu untuk belanja, tidak perlu repot repot seperti ini"

"Bagaimana denganmu? Kau bisa menyuruh ratusan pembantumu untuk berbelanja juga kan? Kenapa kau yang melakukannya?"

"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik"

"Dan kau tau aku pria mandiri sakura." Sakura tersenyum lebar

"Kenapa kau tau aku butuh tepung ini sasori kun ?". Tanya sakura sambil menunjuk sebungkus tepung didalam keranjang belanjaannya.

"Karena kau selalu lupa membeli tepung". Balas sasori santai.

"Benarkah? Aku tak pernah ingat"

"Karena kau memang memiliki penyakit lupa stadium akhir, sakura". Ujar sasori sambil terkekeh geli.

"Sialan kau bayi merah!"

"Memang, jidat lebar!". Sasori memeletkan lidahnya. Sakura mengerucutkan bibirnya lucu, membuat sasori gemas.

"Jangan mengerucutkan bibirmu begitu sakura, kau ingin aku menciummu ?" Sakura melototkan matanya, lalu sedetik kemudian dia mencubit pinggang sasori secara beruntun. Membuat sang akasuna itu meringis geli.

"A..awh geli saku.. Ahaha he..hentikan awhh". Racau sasori tak jelas.

"Tidak akan! Rasakan ini!" Sakura tambah melincahkan tangannya menggelitiki sasori. Membuat sasori meringis antara sakit dan geli.

"He..hentikann.. Ahahaha.. Ge-li saku... Sakura ber-henti kalau kau ti..tidak ingin me..melihat sesuatu awwhh.. Sesuatu dibawah sana bangun" Sakura sontak menghentikan aksinya. Lalu menatap horor sasori.

"SASORI MESUUMMM!" teriaknya membahana. Membuat sasori menutup kedua telinganya sambil terkekeh geli. Mereka melanjutkan mengobrol sambil memilih milih bahan belanja. Sampai akhirnya sakura pamit pulang karena sudah terlalu lama dia meninggalkan sang supir yang berada dimobil.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"SAKURA CHANN!" teriakan mikoto uchiha membahana di ruangan keluarga mension sasuke. Fugaku yang berada disampingnya hanya mendengus jengkel.

"Pelankan suaramu mikoto, ini bukan pasar" Mikoto mendelik tak senang kearah fugaku.

"Kau ini bagaimana fugaku-kun, sudah tiga bulan kita tidak mengunjungi mereka, dan aku sangat merindukan menantu unyu ku, seharusnya kau juga senang!"

Fugaku memutar bola matanya bosan, sangat sulit untuk berdebat dengan mikoto, mempertaruhkan nyawa.

"Terserah kau sajalah" Baru saja mikoto akan membuka suara saat dua manusia yang sangat dirindukannya turun dari tangga.

"Kaasann!"

"Sakura chan !" Lalu kedua pendamping hidup sang uchiha itu berlari mendekat, saling memeluk erat satu sama lain, melepas kerinduan. Menyisakan dua uchiha yang menatap cengo kearah mereka.

"Whoaa sakura chan, kau tambah manis sajaa". Puji mikoto seraya melepaskan pelukannya. Sakura tersenyum lebar.

"Kaasan juga tambah cantikk~"

"Benarkah? Tapi lebih cantikan dirimu" "

"Tidak, aku tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kaasan"

"Ah kau ini! Kau itu cantik sekali sakura, lihat! Rambutmu mulai panjang. Kaasan suka"

Sakura memasang cengirannya
"Sebenarnya aku ingin memotongnya kaasan"

"Jangaannn! Kau lebih cantik dengan rambut panjang"

"Kaasan jauh lebih cantik kalaupun aku memanjangkan rambutku sampai ke pinggang"

"Tidak, kau yang cantik"

"Kaasann yang paling cantik.."

"Sudah kubilang ka-"

"Ehemm!". Deheman fugaku berhasil menarik mikoto dan sakura kembali ke dunia nyata.

Fugaku menatap kesal dua makhluk yang sedari tadi mengabaikan duo uchiha yang berada disitu.
Biasalah fugaku, namanya juga perempuan.

"E..eh tousann". Sakura berucap gugup lalu buru buru menyalam fugaku.

Fugaku hanya mendengus pasrah, menerima salam sakura, lalu mengelus puncuk kepala sakura.
Bagaimanapun juga dia sangat menyayangi menantu kedua nya itu.

"Tousan apa kabar?". Tanya sakura mencairkan suasana

"Baik. Kau baik baik saja dengan sasuke kan?". Tanya fugaku.

Sakura membalik badannya, menatap sasuke yang berdiri dibelakangnya sambil memasang wajah datar uchiha nya.

Gadis itu kembali menatap fugaku sambil tersenyum manis.
"Tentu saja tousan!"

Fugaku dan mikoto tersenyum bahagia, lalu mereka melanjutkan ngobrol bersama setelah makan malam.

Fugak tampak tengah membicarakan hal serius dengan sasuke, mungkin tentang perusahaan.
Sedangkan Mikoto dan sakura?
Kalian bisa tebak hal hal konyol apa saja yang mereka bincangkan.
Mikoto yang bawel nya gak keturunan dan sakura yang banyak bicara dipertemukan setelah tiga bulan lamanya, bayangkan seperti apa rusuhnya mension sang bungsu uchiha itu.

"Kaasan menginap disini kan?". Tanya sakura.

"Tentu saja sayang, bahkan tousanmu itu menyetujui kalau kami menginap satu minggu disini"

"Wahhh! Asikk.. Aku punya teman ngobrol". Seru sakura girang

Mikoto tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan sasuke? Dia baik padamu kan?"

Sakura terdiam sejenak.
Baik? Kata itu terlalu jauh dari kenyataan yang ada.

Sakura tersenyum manis
"Baik kok kaasan.."

Mikoto kembali tersenyum, tapi kali ini senyumannya penuh dengan godaan.
"Apa tidak ada tanda tanda kehamilann?~"

Deg!

Sakura terkejut.
Hamil?
Yang benar saja!
Jangankan hamil, menyentuh nya saja sasuke tidak pernah.
Bahkan sakura masih perawan sekarang.

"Sakura?"

Suara mikoto mengagetkan sakura dari khayalannya.
"Emm.. Kaasan memang ingin punya cucu ya?"

"Tentu saja sakura, apalagi dari kalian berdua, kyaaa.. Cucu ku itu pasti sangat imuttt~"

Sakura menatap lirih raut kebahagiaan mikoto.
'Maafkan aku kaasan, mungkin itu tak akan pernah terjadi' batinnya sedih.

"Sakura? Kenapa wajahmu murung begitu."

"Eh? T..tidak kok kaasan"

Mikoto merasa ada yang aneh dari sakura. Apa kata katanya tadi menyinggung sakura?

"Emm.. Kaasan tidak bermaksud menyinggungmu sakura, jangan terlalu dipaksakan kalau belum saatnya kau hamil. Maafk-"

"Tidak kok kaasan! Tidak sama sekali! Aku tak merasa tersinggung". Potong sakura.

"Benarkah?"

"Iyaa, hal yang wajar bukan? Seorang ibu yang ingin cepat cepat menimang cucu dari anak-anaknya?". Ujar sakura sembari tersenyum manis.

Mikoto tersenyum bahagia, lalu menarik sakura kedalam pelukannya.
"Kau menantuku yang paling aku sayangi sakura". Bisik mikoto tersenyum lembut.

Diseberang sofa sana, tampak kedua uchiha tengah menatap sakura dan mikoto dengan tatapan yang berbeda
Fugaku menatap lembut kearah sakura.
Sedangkan sasuke? Tatapannya sukar untuk dijelaskan.

"Dia gadis yang baik"

Ucapan fugaku membuat sasuke menolehkan kepanya menatap sang ayah yang tak berniat mengalihkan pandangannya dari istri dan menantunya itu.

Fugaku menoleh kearah sasuke.
"Kau sangat beruntung bisa mendapatkannya"

Sasuke hanya mendengus dalam hati mendengar perkataan fugaku.

"Sasuke?"

"Hn?"

"Aku hanya meminta satu hal padamu"

"Apa?"

"Jaga sakura, lindungi dia dengan penuh kasih sayang, jangan pernah menyakiti hatinya. Berjanjilah padaku kau akan melakukannya"

Sasuke terdiam. Dia tau kalau fugaku tak suka dibantah. Apa yang terlontar dari mulut pria paruh baya itu adalah perintah yang harus dilaksanakan.

"Ya, tousan". Jawabnya singkat.

Fugaku tersenyum tulus,
"Aku sangat tau sifat wanita seperti sakura. Dia hampir sama dengan mikoto"

Sasuke menatap ayahnya seolah bertanya 'apa itu?'

Fugaku kembali tersenyum
"Wanita berhati malaikat. Jaga perasaan wanita seperti mereka. Memang saat kau menyakiti hatinya, dia akan diam terus menerus. Namun saat dia sudah tak sanggup lagi, kau akan sangat menyesal"

"Kenapa?". Tanya sasuke

"Karena dia akan pergi dari kehidupanmu. Dan ketika dia memutuskan akan meninggalkanmu, jangan pernah harap dia akan kembali. Hatinya akan tertutupi oleh kebencian yang mendalam. Hanya cintalah yang mampu membuka hatinya kembali.".

Sasuke menatap fugaku yang tengah menatap mikoto lembut.

"Dari mana tousan tau?". Tanya nya kemudian.

"Karena aku sudah pernah merasakannya sasuke. Sakit, sangat sakit, dan aku tidak ingin anakku juga merasakan hal yang sama."

Fugaku tersenyum kepada sasuke lalu melangkah menghampiri sakura dan mikoto yang sedang tertawa bersama.

Sasuke termenung ditempat. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Namun yang pasti, tiba tiba rasa takut menyelubungi hatinya.
Entah apa, namun dia mencoba untuk menepis perasaan itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#TBC