Akashi Seijuurou, yang sekarang ganti menyematkan nama 'Ackerman' sebagai nama keluarganya, terbangun pada pagi hari, di atas ranjang, tanpa Levi Ackerman di sisinya. Lampu tidur yang mewarnai kamarnya dengan semburat oranye lembut menyorot wajahnya, bersamaan dengan sinar matahari pagi yang menyisip masuk dari sela-sela gorden raksasa di sisi kiri kamar.
Butuh waktu lama baginya untuk mengingatkan diri bahwa alfa-nya harus melancong ke luar kota, menambah tumpukan uang yang entah akan digunakan untuk apa lagi—uangnya sudah cukup untuk menghidupi mereka semua sampai beberapa dekade ke depan dan barangkali tidak akan pernah habis kalau tidak dimusnahkan, astaga—dan membiarkan Seijuurou merasakan kain seprai di sisinya yang mendingin.
Tapi ia juga mengingatkan dirinya bahwa setiap kali Levi pulang, ranjang itu tidak pernah absen dari kehangatan. Tidak ada malam-malam tanpa kedua tubuh mereka menyatu pada satu sama lain. Lagipula, Seijuurou tahu Levi akan segera kembali. Ia tahu sebab pria itu selalu menepati janjinya, dan tidak pernah tidak.
Ia tepuk-tepuk sisi itu, mengimajinasikan Levi berbaring di sisinya dengan mata seawas tentara perang, dan tersenyum kecil.
Waktu seolah-olah membodohinya. Rasanya baru kemarin mereka bertemu, bertegur sapa (bahkan hampir memercikkan sedikit api karenanya) dan hari ini—di tempat ini—ia sudah menyandang nama Ackerman sebagai ganti Akashi selama lebih dari satu dekade lamanya. Ia adalah Seijuurou Ackerman, istri Levi Ackerman dan ibu dari dua orang anak.
Lucu, seolah-olah masa-masa itu hanya muncul serupa sekelebat ingatan, dan tahu-tahu saja ia sudah ada di sini.
Bawah sadarnya, seperti yang sudah-sudah selama beberapa tahun konsekutif, refleks ingin menuju ke kamar kedua anaknya, membangunkan mereka untuk sarapan bersama; tapi seperti yang sudah-sudah pula, realita membangunkannya. Mereka tidak ada di sini—dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Atau barangkali, mereka tidak akan pernah kembali lagi setelah ini. Seijuurou memilih untuk tidak berharap terlalu banyak.
Lagi-lagi waktu berhasil membodohinya, eh?
Kedua anak mereka—Mikasa dan Nash Ackerman—saat ini sedang menggeluti nasib di institusi. Persis seperti orangtuanya dulu, sebelum mereka dipertemukan. Keduanya adalah alfa, dengan perpaduan sempurna antara dirinya dengan Levi. Cerdas, berwibawa, juga seduktif (dan Seijuurou beruntung mereka otak mereka bersih dari kata-kata kotor seperti "menyeret bokong"; frasa favorit Papa Levi). Sesekali Seijuurou membuat permainan; menebak-nebak siapa kiranya orang yang beruntung mereka rebut keperawanannya. Apakah sesama atau lawan jenis, apakah seorang borjuis atau pecinta hal-hal sederhana, atau apakah ternyata mereka menunggu sedikit lebih lama untuk menemukan omega yang lebih muda dari mereka.
Itu hanya salah satu dari sekian permainan yang ia ciptakan untuk menghibur diri sendiri. Permainan lain? Visualisasikan Levi di sisinya, berbaring di tempat ia biasa memajang torso telanjangnya di sisi Seijuurou, dan tenggelam di dunia mereka dalam tiga puluh menit pertama sebelum memulai—atau mengakhiri—hari.
Tapi kadang-kadang Seijuurou rindu juga. Mikasa adalah gadis yang begitu dingin, persis Levi, yang pipinya mudah memerah kalau dihadiahi pujian-pujian manis, dan Nash adalah teman mengobrol terbaik yang pernah Seijuurou miliki selain Levi. Sulit dipercaya kalau mereka telah tumbuh begitu cepat dan akan bertemu dengan jodoh hidup mereka dalam hitungan bulan. Mereka, yang diam-diam Seijuurou kenali sebagai malaikat cilik-nya, bertumbuh begitu cepat.
Seorang pelayan wanita yang berjaga di lorong membungkuk hormat, bertanya apakah Tuan Seijuurou ingin sarapan—atau berendam terlebih dahulu sambil minum anggur. Seijuurou memilih opsi kedua. Si pelayan mengangguk paham, membungkuk lagi, kemudian meninggalkan tuannya setelah berkata, "Akan saya siapkan air panasnya."
Seijuurou menggumamkan terima kasihnya tanpa benar-benar memandangi si pelayan, sementara tubuhnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa empuk; yang posisinya tepat menghadap ke arah taman.
"Tuan Seijuurou, kamar mandinya sudah siap. Perlu saya siapkan pakaian gantinya?"
Seijuurou menggeleng, mengatakan kalau lebih baik si pelayan segera membuatkan anggur untuknya dan bahwa jubah mandi saja cukup untuk membungkus badannya di dalam sana, dan si pelayan membungkuk sekali lagi sebelum meninggalkan tuannya.
Senyumnya mengembang ketika mendapati bak mandinya telah mengepul-ngepul oleh uap panas, yang setidaknya cukup untuk mengkomplimen absennya panas tubuh Levi di dekat Seijuurou untuk beberapa hari ke depan.
Sang omega melepas semua pakaian yang melekat di kulitnya, mematut diri di depan cermin raksasa di salah satu sudut kamar mandi—ia dapat melihat bekas-bekas lukanya dengan jelas di sana, jejak peraduan mereka setiap kali Levi ada di sisinya saat malam hari; kenangan yang otomatis membuat senyum tipis menghiasi wajahnya—kemudian membenamkan diri ke dalam bak mandi.
Ia merasakan darah berdesir-desir menuju pipinya ketika rasa hangat itu pada akhirnya melingkari tubuhnya, menciptakan riak-riak lembut sebagai teman konversasi Seijuurou. "Kau akan iri sekali padaku, Levi," kekeh rendahnya menggema di dinding kamar mandi. "Airnya pas sekali pagi ini. Mungkin aku akan jatuh tertidur di sini kalau saja tenggelam di dalam air hangat tidak akan membunuhku."
Seijuurou membiarkan air hangat menutupi tubuhnya sampai ke pangkal leher, sementara hidungnya menghirup aroma anggur merah yang begitu menggoda di sisi bak mandinya.
Sayang sekali, tampaknya anggur itu harus menunggu sedikit lebih lama.
Dibayangkannya wajah Levi yang masam duduk di hadapan Seijuurou—dalam keadaan telanjang, tentu saja—dan dalam diam menyesap anggur milih omega-nya tanpa permisi. Seijuurou mengimajinasikan titik-titik air panas menempel di bisep kencang Levi, menarik Seijuurou untuk menariknya ke dalam dekapan dan menahannya dengan satu kecupan penuh afeksi.
Orang-orang sering menyatakan simpati mereka, tentang bagaimana Seijuurou yang malang tinggal di mansion mewah sendiri, ditemani pelayan yang bahkan tidak dapat menyembuhkan rasa sepi, juga perabot bergaya barat yang justru mengemfasis kesendiriannya. Seolah-olah ruangan besar itu terlalu luas—juga terlalu dingin—untuk menyimpan kehangatan yang semestinya dimiliki oleh sebuah keluarga.
Tapi percayalah, Seijuurou tidak benar-benar merasa sendirian. Dan ia tahu betul Levi tidak akan tega meninggalkannya dalam situasi kesepian.
Lelaki itu selalu mengiriminya surat setiap kali ia bepergian, yang selalu Seijuurou baca ketika ia senggang. Suratnya tidak panjang, tapi Seijuurou tidak pernah bosan-bosannya membaca lembaran itu berkali-kali. Surat-surat dari alfa-nya dikumpulkan ke dalam kerancang rajutan, lalu diletakkannya di sisi tempat tidur. Kadang-kadang Seijuurou menebar lembaran-lembarannya di atas tempat tidur—di sisi yang biasa ditiduri oleh Levi—dan berpura-pura kalau mereka tengah bercakap-cakap.
Pada salah satu suratnya, Levi bertanya, oleh-oleh apa yang perlu ia bawa sekembalinya dari bekerja. "Aku bisa membelikanmu kuda yang baru, kalau kaumau, untuk menemani Yukimaru," tulisnya. Seijuurou membalas surat itu dengan senyum, sebab di kepalanya hanya ada Levi—dan Levi seorang—alih-alih buah tangan duniawi lainnya.
Dan keinginan itu dituliskannya dalam satu kalimat sederhana: "Lebih baik kau pulang secepat yang kaubisa dan temani aku tidur. Tempat tidur di sebelahku sudah mulai mendingin."—kemudian meminta seorang pelayan yang lewat untuk mengeposkannya, menebak-nebak Levi akan memasang wajah seperti apa ketika membacanya.
Oh, dia akan marah, tentu saja. Mengomeli Seijuurou yang tidak menginginkan apa-apa; membuat Levi bingung setengah mati dan berakhir memilih barang acak yang dijual di pasar—entah buket bunga, perabot baru (yang jelas-jelas tidak cocok dengan perabot lain di mansion mereka), sampai peliharaan baru untuk akhirnya dipelihara di kebun belakang mereka yang luas.
Dan Seijuurou akan tertawa. Menertawakan Levi yang terlalu serius, yang alisnya selalu bertaut seolah-olah tidak ada hal yang bisa membuat tekanan di dahinya menghilang, dan memberinya satu kecupan sederhana untuk mengakhiri argumen mereka. Cara itu, sejauh ini, selalu berhasil.
Memang apa lagi yang perlu diberikan kepada seseorang yang telah memiliki segalanya?
