Blend With You

AU Café Waiters

"YUNOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

Teriakan memekakkan tersebut sukses menarik mata hazel Yuno untuk terbuka lebar. Kepalanya otomatis terangkat cepat, membuatnya pusing seketika. Kedua tangan berurat halus miliknya mengusap kepala yang malang tersebut.

"Ma-maaf membangunkanmu. Tapi ini sudah waktunya kita buka. Manajer akan marah kalau kita terlambat, bukan? Err… Yuno? Kau masih pusing ya? Maaf maaf."

Itu fakta. Yuno yang diam termenung di mejanya tengah masih mengumpulkan segenap energi sebelum memutuskan untuk bergerak bangkit. Dengan langkah gontai ia menuju wastafel untuk mencuci mukanya—menyegarkan diri. Ia menatap cermin lama seakan linglung. 'Kenapa aku berada disini?' tanyanya dalam hati.

Matanya menjelajah liar. Asta terlihat sedang mengelap luasnya kaca. Suara senandung lirihnya menyiratkan jiwa ceria nan bersemangat khas dirinya. Yuno menghela nafas dan mulai mempekerjakan tangannya pada peralatan-peralatan makan yang kurang bersih.

'Ini semua tidak terlihat asing. Aku mengerti apa yang harus kulakukan. Namun tetap saja, aku tidak paham kenapa aku bisa berada disini?' batin Yuno lagi.

"Maaf kami belum buka—AH MANAJER!"

Masuklah sesosok pria yang terlihat seperti paruh baya dengan rokok yang terselip di mulutnya. Parasnya sangar dan menakutkan. Yuno meliriknya dan berkata lirih, "Manajer… Yami,"

"BODOH! JAM SEGINI BELUM BUKA! APA SAJA YANG DARI TADI KALIAN LAKUKAN?!"

"Maaf, manajer. Yuno baru saja bangun dari ketiduran. Sepertinya ia kelelahan karena hari yang padat kemarin. Karena aku kasihan, aku tidak segera membangunkannya sejak awal aku datang. Jadi dari tadi aku beres-beres sendirian, deh." jawab Asta.

"Maafkan aku," sahut Yuno.

Pria yang merupakan manajer café itu menggerutu seraya melemparkan pandangan bengisnya ke arah Yuno yang tengah merapikan setelan seragam waiternya. Kemeja hitam dengan dasi hijau sepanjang dadanya dan apron hijau senada yang terikat pada pinggangnya yang menjuntai hingga lutut.

"Beradaptasilah, Yuno. Hari-harimu bekerja tidak akan selalu santai. Terkadang kita kedatangan banyak pelanggan, jadi biasakanlah dirimu dengan tekanan kesibukan."

"Baik."

Sekian jam berlalu. Café telah ditutup. Asta dan Yuno pulang beriringan. Asta merenggangkan kedua tangannya dengan puas.

"Yah, hari ini tidak terlalu ramai. Bukankah itu bagus, Yuno?"

"Benarkah? Kupikir jika café lebih ramai justru akan meningkatkan pendapatan kita."

"Hmm benar juga, sih. Tapi apakah akan baik-baik saja bagimu? Maksudku, kau tidak terlalu bisa—"

"Karena aku tidak seharusnya berada disana."

"Hah?" Asta seketika menghentikan langkahnya dengan menoleh ke arah Yuno yang menatap jalanan di depannya. Ia terlihat lunglai—yang membuat Asta berpikir ia tidak bermasalah namun anggapan tersebut nyatanya tidak benar.

"Maksudku, aku merasa bukan berasal dari sini."

"Lalu? Kau pikir kau berasal dari desa dekat hutan yang bermonumen tengkorak raksasa? Hahaha. Bukankah itu ko—?"

"Benar."

"APA?! I-Itu kan film yang pernah kita tonton bersama, Yuno. Kau—"

"Asta, di dunia tempatku berasal, kau adalah seorang ksatria sihir pengguna kekuatan anti-sihir dari iblis."

"Hah?! I-ITU KAN TOKOH KESUKAANKU DI FILM!"

"Ya, dan itu nyata. Kau bekerja bertarung dengan penjahat mempertaruhkan nyawamu. Mengalami luka parah sudah biasa bagimu. Tapi sepertinya itu lebih berat dari pekerjaanmu disini, ya?"

"A-Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi bagiku itu jauh lebih keren daripada bekerja sebagai pegawai café seperti ini. Oh, hei! Mau mampir ke tempatku? Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Penawaran Asta mendadak membawa Yuno pada ingatannya saat berada di dunia asalnya. Asta pernah mengatakan hal yang sama persis. Mengingatnya, Yuno tersenyum.

"Mau menyatakan perasaan ya?"

Asta melompat terkejut akan tebakan Yuno. Ia langsung terlihat berantakan di hadapannya.

"HAH?! A-AP—?! KENAPA KAU BISA TAHU?!"

"Dirimu di duniaku sudah melakukannya. Karena aku ingat jadi aku tebak saja. Dan kebetulan benar, ya?"

"Se-Sepertinya kau tidak bohong kau yang berasal dari dunia film itu."

"Aku memang tidak bohong, Asta."

"Ceritakan, dong, hal-hal lain yang kita berdua lalui di dunia itu."

"Tidak mungkin. Nanti jadi tidak surprise lagi."

"Cih! Apa-apaan itu?! Pelit!"

Asta mengacak-acak rambut hitam rekan kerjanya tersebut, mengundang tawa lirih dari pemilik rambut yang berantakan. Dengan jahil, ia menarik tubuh pemuda yang lebih pendek darinya ke dadanya. Asta yang terkejut akan perlakuan Yuno pun menahan malu. Pikirannya berkontra antara ingin lepas atau tidak. Akhirnya ia diam membiarkan wajahnya tenggelam pada tubuh tinggi Yuno.

"Aku mencintaimu."

"Kau sudah tahu jawabanku, bodoh. Rasanya kesal kalau rencana yang telah kupersiapkan jauh-jauh hari malah kau hancurkan dengan mencuri start."

Yuno tertawa lembut sembari mengusap rambut abu-abu lelaki di dekapannya.