Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfiksi ini ditulis untuk kesenangan pribadi semata, bukan untuk mengambil keuntungan secara komersil.
Game inspiration : Running Man © SBS
WARNING! : OOC, typos, charadeath, alter-ego, dan segala keabalan yang lainnya.
.
Dedicated for "Eyeshield 21 Fanfiction Indonesia Awards": Holiday
.
An Eyeshield 21 fanfiction by karin-mikkadhira-,
Someone Behind The Door
['cause we don't know there's another existence behind the door, right?]
.
2nd Door : Entrance to the Single Island
.
.
.
Pagi itu sama seperti pagi-pagi sebelumnya di musim panas. Dingin, namun cerah, membawa kemalasan dan keceriaan sekaligus dalam satu waktu. Di satu sisi hawa dingin yang cukup menusuk tulang mengaktifkan pusat rasa malas, dan membuat tubuh ingin terus meringkuk seperti kucing di bawah selimut. Di sisi lain, cerahnya cuaca menjadi rangsang tersendiri yang diteruskan ke otak, kemudian menjadi bayang-bayang kegembiraan aktivitas musim panas, seperti bermain di pantai, makan semangka bersama-sama, dan lain-lain.
Jendela kamar itu terbuka lebar, membiarkan angin sejuk dan sinar mentari musim panas masuk dan mengisi ruang kamar yang tidak terlalu besar itu. Cahaya sang surya menyinari meja belajar yang terletak tepat di bawah jendela, sementara angin sepoi-sepoi meniup halaman-halaman buku yang tergeletak di atas meja. Gorden yang beberapa saat lalu masih menutupi satu-satunya jendela di kamar itu berkibar pelan, mengikuti hembusan napas alam semesta. Seekor burung pipit mungil hinggap di lampu belajar yang bergeming di atas meja belajar itu.
"Oh!" Sang pemilik kamar tersebut sedikit terkejut saat menemukan si pipit mungil di atas lampu belajarnya. Burung pipit yang juga terkejut itu pun kembali mengepakkan sayapnya, terbang menantang langit luas.
"Nggh~" Gadis pemilik kamar tersebut menarik tangannya ke atas, tinggi, meregangkan otot-ototnya yang masih kaku.
"Yaa! Sungguh hari yang cerah! Hari ini pasti akan menjadi perjalanan yang menyenangkan!" ujar gadis berambut biru itu riang. Yah, tak peduli musim maupun cuaca, gadis berambut biru itu selalu ceria, penuh semangat, dan optimis dalam menjalani hari-harinya.
Sambil tersenyum riang, gadis berambut biru itu meneruskan kegiatannya mengepak barang-barang yang akan dibawanya. Ia membayangkan semua kegiatan menyenangkan yang akan terjadi selama di pulau nanti. Sambil sesekali bersiul, gadis berambut biru itu terus membayangkan betapa menyenangkannya berlibur di villa pribadi, di sebuah pulau pribadi, bersama teman-teman yang sangat ia kasihi. Membayangkan betapa menyenangkannya liburan musim panasnya kali ini saja membuatnya sulit bernapas dengan benar. Maklum, ini kali pertamanya menghabiskan liburan bersama teman-teman. Ayah dan ibunya yang sederhana selalu menemaninya di rumah ketika liburan musim panas tiba, berkaraoke, atau menari bersama, tak pernah sekali pun ia menghabiskan liburan di luar rumahnya, paling-paling hanya sesekali berjalan-jalan ke kota untuk mencari udara segar sekaligus cuci mata.
Bagaimana ia bisa lupa, beberapa liburan lalu dihabiskannya untuk mencari kakaknya yang nekat kabur ke Amerika. Di saat teman-temannya berlibur ke luar kota bersama keluarga masing-masing, gadis berambut biru itu malah menghabiskan waktunya di negeri asing, mencari seseorang yang benar-benar bodoh. Yah, walaupun orang yang benar-benar bodoh itu akan ikut berlibur dengannya sekarang, ia tetap saja merasa sangat bahagia.
"My sister! Jam berapa kita harus tiba di Pelabuhan K?" Mendadak seorang pemuda berambut pirang muncul dari balik pintu kamar gadis berambut biru itu. Namun gadis itu tidak terkejut, mungkin sudah biasa karena pemuda berambut pirang itu sering sekali melakukan hal yang sama—tiba-tiba muncul dari balik pintu seperti hantu.
"Yaa! Kakak selalu saja muncul tiba-tiba! Kita harus sampai jam sepuluh, jadi sebentar lagi kita berangkat, cepat siap-siap sana!" perintah gadis berambut biru itu pada kakaknya. Gadis itu kembali melirik jam dindingnya yang bulat, hampir jam sembilan. Perjalanan naik kereta sampai Pelabuhan K butuh waktu yang tidak sebentar, oleh karena itu ia memutuskan untuk berangkat sebentar lagi.
"Siiaaap!" ujar pemuda bermabut pirang itu seraya mengacungkan jempolnya dan menunjukkan senyum gigi putihnya, seperti bintang iklan pasta gigi. Tanpa berlama-lama sang kakak meninggalkan kamar adiknya setelah sebelumnya berputar dua kali.
"Yaaa, apapun yang terjadi, tiga hari ke depan harus menjadi hari yang sangat menyenangkan!" ujar gadis berambut biru itu, Suzuna Taki, seraya bersiap membawa kopernya turun ke lantai bawah.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Pemuda berkaki bengkok itu mengambil roti panggangnya dengan terburu-buru. Digigitnya roti panggang itu seraya memasukkan beberapa potong pakaian secara random ke dalam ranselnya. Pagi ini ia lagi-lagi terlambat bangun. Entah kenapa ia merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena kemarin ia tidak bilang pada orang rumahnya bahwa ia akan pergi berlibur esok hari. Ibunya yang sudah bangun pagi-pagi sekali hanya bisa mengomel karena pemuda berkaki bengkok itu selalu dadakan kalau melakukan sesuatu.
"Raimon, jangan lupa pisangmu!" seru sang ibu.
"Hyaa!" balas pemuda berkaki bengkok bernama Raimon Taro tersebut. Ia masih sibuk memasukkan barang-barang lain ke ranselnya.
"Kau sudah membawa peralatan mandimu, Raimon?" tanya sang ibu yang masih berkutat dengan sapunya di dapur.
"Sudah, mukya!" jawab Monta, masih sambil mengemasi barangnya.
"Kapan kau berangkat?" tanya sang ibu lagi.
"Swebwentar lagwi," jawab Monta sambil mengunyah pisangnya. Beberapa menit yang lalu ia menyelesaikan packing-nya, dan ia bersiap-siap untuk berangkat sekarang. Jam di rumahnya menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, dan tentu saja ia tak mau terlambat. Sangat mengerikan untuk membayangkan dirinya ditinggal oleh teman-temannya, dan harus menyusul dengan menggunakan rakit, mungkin?
"Kau tidak melupakan pisangmu kan, Raimon?" tanya sang ibu. Entah kenapa beliau sangat talkative hari ini. Ibunda Raimon Taro memang biasanya cerewet, tapi jarang sekali beliau banyak bertanya pada anaknya seperti ini.
"Aku tidak melupakan apapun, mukya!" jawab Monta seraya memakai sepatunya, bersiap untuk melaju full speed menuju stasiun terdekat.
"Nanti jangan lupa telepon Ibu," ujar sang ibu lagi. Beliau tampak menyapu dengan tenang, namun beliau juga tampak mengkhawatirkan putranya—yang sangat jarang dilakukannya.
"Mukya, aku ini kelas dua SMA, Bu, aku bukan anak kecil lagi," ujar Monta dingin. "Ah, aku harus berangkat sekarang, mukya!" ujarnya lagi.
"Hati-hati, Raimon, selamat bersenang-senang," ujar sang ibu sambil tersenyum—jarang-jarang beliau melakukannya, lalu melambaikan tangannya pada putranya yang bersegera pergi.
"Aku berangkat, mukya!" ujar pemuda berkaki bengkok itu seraya melompat melewati pagar rumahnya.
Jantung pemuda berkaki bengkok itu berdebar kencang, entah kenapa. Ia melangkah dengan tenang, sangat tenang, walaupun cepat. Tak seharusnya jantungnya berdebar sekencang itu. Ia memang takut terlambat, namun detak jantungnya bukan seperti detak jantung orang yang takut terlambat. Detak jantungnya terasa—aneh, sama anehnya dengan ibunya yang pagi ini tiba-tiba saja memperhatikannya dengan menanyakan ini-itu. Biasanya sang ibu hanya akan mengomelinya sepanjang pagi, namun hari ini sungguh berbeda. Saat itu juga Monta memegang dadanya, merasakan sesuatu yang tidak biasa—seperti sebuah firasat.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Hari itu subway terlihat lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Gerbong-gerbong tidak penuh sesak oleh orang-orang seperti hari-hari sebelumnya. Pagi itu kursi di setiap gerbong memang penuh, namun tidak terlalu banyak orang yang berdiri. Bahkan tidak ada satupun seragam sekolah yang nampak seperti biasanya. Mungkin itu hanya salah satu dampak dari liburan musim panas yang baru saja memasuki hari keempat.
Gadis berambut auburn itu tersenyum lembut sabil memandangi suasana pagi dari jendela gerbong yang dinaikinya. Hari ini ia berangkat pagi-pagi sekali, lebih pagi dari yang lain, karena panitia liburan akan mengadakan rapat kecil sebelum berangkat. Maklum, liburan Devil Bats ini tidak begitu well-prepared karena direncanakan secara mendadak tepat saat Hiruma ingin mengundang para juniornya untuk camp musim panas di pulau pribadinya itu. Alhasil mereka memutuskan agar semua anggota kelas tiga menjadi panitia, dan ikut mempersiapkan segalanya. Namun meskipun keenam anggota kelas tiga sudah bersatu, waktu tetap saja menjadi kendala. Rencana pengunduran liburan pun sempat tercetus, namun karena satu dan lain hal, akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti rencana awal, meskipun mereka akan kerepotan untuk mempersiapkan ini-itu secara mendadak.
"Ah, cuacanya bersahabat sekali!" seru gadis berambut auburn itu riang saat melihat pemandangan langit biru yang sangat indah.
"Sayang sekali Musashi-kun dan Komusubi-kun tidak bisa ikut," gumamnya pelan. Ada rasa sesal dalam kalimatnya. Selama dua tahun terakhir mereka, Deimon Devil Bats, selalu bersama-sama. Mengikuti camp bersama, melakukan death march bersama, berlatih bersama, menginjak lapangan pertandingan bersama, pergi ke festival budaya Oujou bersama, bahkan merayakan kemenangan di kapal bersama. Oh, mereka tidak pergi ke kejuaraan dunia bersama—itu hal lain, namun sebagai Deimon Devil Bats mereka hampir tak pernah terpisah. Berlibur dengan anggota yang tidak lengkap seperti ini, gadis auburn bernama Mamori Anezaki itu tidak begitu merasa baik.
"Sungguh tidak apa-apa kan, jika seperti ini?" gumam Mamori khawatir.
Sepanjang perjalanan gadis auburn itu banyak menelan ludah. Entah kenapa sejak dua hari yang lalu tenggorokannya tidak begitu baik. Seperti ada yang mengganjal, seperti dahak, namun tidak bisa keluar. Tidak sakit, namun rasanya benar-benar tidak nyaman. Padahal Mamori dalam keadaan fit, ia bahkan tidak memakan sesuatu seperti gorengan dan es selama beberapa hari ini. Meskipun tidak nyaman, namun ia tidak bermasalah saat bicara, karena rasa mengganjal itu terasa tidak nyaman hanya pada saat menelan. Namun tetap saja gadis beriris safir itu tidak menyukai hal itu, rasanya sangat ... ganjil.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
"Kau mau kemana, Kazuki?" tanya pria paruh baya yang berambut keperakan itu pada putranya yang baru saja menggenggam kenop pintu rumah.
"Berlibur di luar selama tiga hari dua malam," jawab pemuda yang dipanggil Kazuki itu datar. Pemuda bernama Kazuki Juumonji itu memang tidak mengatakan apa-apa sejak kemarin. Toh tak ada gunanya, ayahnya hanya akan mengatakan hal yang tidak disukainya, dan pada akhirnya membiarkannya pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Kau sudah kelas dua, kuharap kau melakukan sesuatu yang berguna, dan mulai mengurangi waktu bermainmu terutama dengan kedua orang itu," ujar pria paruh baya itu dingin. Setelah sekian lama, beliau kembali membawa kedua sahabat putranya dalam pembicaraan. Dan beliau tetap mengatakannya meski tahu putranya paling benci dengan pembicaraan yang melibatkan kedua sahabatnya, dan tentu saja putranya akan pergi begitu saja dan mengabaikan semua kata yang baru saja keluar dari bibir tajamnya yang khas sebagai seorang praktisi hukum.
"Ayah juga tahu bahwa sekarang aku tidak pernah bermain-main lagi, kan?" balas pemuda bercodet itu datar, intonasi yang sama setiap ia berbicara dengan ayahnya yang tidak pernah melihat yang lain selain peraturan dan hukum tersebut.
Cklek!
"Aku berangkat," ujar Juumonji seraya membuka pintu rumahnya ringan. Dilambaikannya tangan kanan dengan tiga jari terangkat, lalu dengan segera ia menghilang dari balik pintu.
Sang ayah hanya menghela napasnya berat. Hal seperti ini sering sekali terjadi di antara dirinya dan putranya, namun entah kenapa atmosfer di antara mereka berdua terasa lebih berat pagi hari ini. Bahkan beliau kembali membawa kedua sahabat putranya dalam kalimatnya—sudah lama sejak terakhir kali beliau membahas kedua sahabat putranya, Kuroki dan Togano. Pria berambut keperakan itu hanya menghela napasnya berat—lagi—dan kembali berkutat dengan buku-buku hukumnya.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Pelabuhan K, 09.52 AM
Beberapa burung camar terlihat bertengger di sekitar area pelabuhan dengan anggunnya. Pelabuhan K bukanlah pelabuhan yang besar, hanya tempat transit beberapa pedagang antar pulau dan tempat keberangkatan para nelayan setempat. Tempat itu bukanlah tempat keberangkatan kapal ferry besar yang akan menyeberangi lautan, hanya sebuah dok yang dipergunakan oleh masyarakat umum dan dijaga oleh petugas angkatan laut setempat. Bukan merupakan pelabuhan besar, berlayar dari tempat ini sangatlah mudah, karena yang kauperlukan hanya sebuah kapal dan surat izin berlayar yang dapat dibuat di kepolisian setempat. Namun bagi sang commander, hal-hal yang tidak begitu merepotkan itu menjadi sangat merepotkan di saat seperti ini. Mengapa harus sedikit repot ke kantor polisi jika semuanya beres dengan mengeluarkan buku catatan setan?
"Eh? Si Pak Tua juga ada? Bukankah kemarin dia bilang dia tidak akan ikut?" tanya Juumonji sesampainya ia di Pelabuhan K. Tidak seperti biasanya, hari ini ia memilih datang sendirian, sementara kedua saudaranya sudah tiba lebih dulu bersama-sama.
"Musashi datang untuk membantu persiapan games di pulau nanti!" ujar pemuda dengan badan tertambun di Devil Bats, Ryokan Kurita.
"Dan sayangnya setelah itu ia harus segera kembali ke sini karena banyak pekerjaan," tambah pemuda yang paling rajin belajar di Devil Bats, Manabu Yukimitsu dengan nada sesal.
Melihat jam tangannya—yang jarang-jarang ia gunakan, sang komandan neraka berdecak, "Cih! Enam menit lagi dan Monyet Sialan itu akan terlambat, kekeke."
"Eh? Berapa orang lagi yang belum datang?" tanya pemuda beriris hazel itu. Ia baru saja menghitung, dan dalam hitungannya Monta bukanlah satu-satunya orang yang belum datang.
"Yaa! Bukankah Ishimaru-nii juga belum datang?" ujar Suzuna, sepikiran dengan Sena.
"Ta-tapi," tiba-tiba terdengar suara yang belum mereka dengar sejak tadi, "aku sudah di sini sejak pagi..."
"Hiieee? Kak Ishimaru?" Sena terlonjak kaget seperti habis mendengar suara hantu. Padahal dari seluruh anggota kelas satu, ia yang pertama kali sampai, tapi bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran Ishimaru? Yah, di sisi lain Ishimaru memang invisible man bagi Devil Bats.
Tidak tertarik dengan keterkejutan ace runningback-nya, maupun keberadaan runningback pinjamannya, sang komandan neraka hanya memerhatikan setiap gerakan dari LED jam tangan digitalnya yang menunjukkan detik. "Sepuluh, sembilan, delapan..." Pemuda berambut blonde spike tersebut mulai menghitung lagi. "Tujuh, enam—"
"Mukya!" teriak seseorang dari kejauhan. Ia tampak berusaha untuk berlari secepat mungkin dengan kaki bengkoknya.
"Cih." Seringai setan kembali terkembang dari bibir Youichi Hiruma. "Kau seharusnya berlari lebih cepat, Monyet Sialan!"
Pemuda yang dipanggil 'Monyet Sialan' oleh Youichi Hiruma tersebut akhirnya sampai di Pelabuhan K dengan dramatis. Berlari full speed, Monta berhasil sampai di Pelabuhan K tepat dua detik sebelum jam digital Hiruma memperlihatkan angka 10:00. Dengan napas terengah-engah dan kaki yang masih gemetaran, ia menyapa dewinya, Mamori Anezaki, yang merespon cepat dengan memberikan Monta sebotol air mineral.
"Cepat naik, Anak-anak Sialan! Jangan merusak schedule yang sudah kubuat, keke," perintah sang komandan. Dengan komando tersebut, tanpa banyak bicara semua anggota Devil Bats yang sudah berkumpul di pelabuhan tersebut segera menaiki kapal pribadi milik Hiruma yang terlihat sudah siap mengarungi laut luas untuk menuju pulau terpencil milik Hiruma.
Setelah semua orang menaiki kapal tersebut, jangkar segera diangkat, dan kapal putih itu segera melaju perlahan, mengarungi laut biru yang nampak berkilauan di bawah langit musim panas. Meskipun kapal putih itu bukan cruise besar layaknya Titanic, namun kapal itu tetap terlihat elegan, seperti kapal milik rombongan artis yang akan melakukan perjalanan liburan musim panas menuju pulau dengan pantai yang indah. Jika dilihat dari atas, kapal putih itu benar-benar terlihat keren sebagai satu-satunya kapal yang saat itu berada di atas lautan.
Siswa-siswi SMU yang ada di atas kapal itu hanya membuka mulutnya, dan berkali-kali mengungkapkan kebahagiaan mereka. Tidak banyak omong kosong, hanya kata-kata yang menunjukkan kekaguman dan kebahagiaan yang sedari tadi terucap dari bibir mereka. Beberapa dari mereka juga overexcited, mungkin karena ini baru pertama kali, dan mereka merasa bahwa diri mereka sendiri keren.
Di salah satu sudut, ada tiga orang yang selalu bersama sedang menikmati siraman cahaya mentari musim panas dengan bersandar di kursi pantai yang telah tersedia. Di sudut yang lain, ada sepasang calon kekasih yang dengan malu-malu mencoba untuk berpose ala Rose dan Jack di film Titanic. Gadis berambut biru itu meluncur ke tempat tertinggi di kapal dengan menggunakan inline skate-nya, sementara seorang pemuda beriris hazel mengekor di belakangnya. Saat angin mulai bertiup kencang, gadis itu mencoba merentangkan kedua tangannya, sedangkan pemuda beriris hazel di belakangnya juga mencoba melakukan hal serupa dengan malu-malu.
"Eyy, apa yang kalian lakukan, mukya?" seru Monta begitu ia melihat kedua temannya sedang melakukan adegan yang cukup 'mengundang'. Ia tidak senang jika kedua temannya itu sudah mulai melakukan hal yang aneh-aneh, padahal hubungan mereka belum diresmikan. Hal-hal romantis seperti itu sangat mengganggu Monta yang nampaknya kurang beruntung dalam menarik perhatian dewinya, Mamori Anezaki.
"Ahaha, kalian bisa bersantai sejenak, karena pulau tujuan kita masih cukup jauh," ujar Mamori lembut. "Penjelasan-penjelasan berikutnya akan disampaikan setelah kita sampai di pulau nanti."
Seketika itu angin membawa mereka tenggelam dalam dunia masing-masing, berelaksasi di tengah deburan ombak yang sayup-sayup terdengar. Jauh di depan sana, sebuah pulau tak berpenghuni menanti mereka, mempersiapkan segala misteri yang nantinya harus dipecahkan.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
"Oh, kapal ini menuju pulau tak berpenghuni, ya?"
Pemuda itu memandangi laut yang terbentang luas dan berkilauan. Angin yang menerpa tubuhnya sama sekali tak dihiraukan, dibiarkan saja menghantam seluruh bagian badan. Wajahnya datar, tidak tersenyum maupun merengut. Ia mencoba memasang mimik sewajar mungkin agar semua orang yang berada di atas kapal tidak curiga.
"Aah, rasanya tidak sabar. Haruskah aku melakukannya pelan-pelan, menikmati semua ekspresi dan jeritan sebelum aku melenyapkan mereka?"
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Empat puluh menit berlalu sejak kapal putih itu meninggalkan Pelabuhan K. Tak jauh di depan mata, sebuah pulau kecil yang hijau mulai terlihat. Sungguh pemandangan yang menyegarkan dengan pohon rindang berwarna hijau disana-sini. Pantai dengan pasir putih yang tidak terlalu luas juga mulai terlihat, begitu pula dengan villa besar yang terletak tak jauh dari pantai.
Dalam hitungan detik kapal putih itu sudah mendekati jembatan kayu yang menghubungkan laut dengan daratan—mungkin sengaja dibuat sebagai tempat berlabuh kapal. Jangkar pun diturunkan, dan satu-persatu anggota Devil Bats turun dari kapal, mencoba menginjak daratan tak berpenghuni milik mantan kapten mereka tersebut.
Dari kejauhan pulau itu terlihat begitu kecil, mungkin tidak jauh lebih luas dari amusement park terbesar di tengah kota. Tepi pantai yang berbentuk lengkung sempurna menyerupai bulan sabit dihiasi pasir putih yang tidak terlalu luas. Dan beberapa ratus meter dari tepi pantai terlihat sebuah villa kayu berlantai tiga yang cukup besar, sementara di sekeliling pulau yang terlihat hanya tumbuhan-tumbuhan hijau, semak-semak, serta pohon-pohon rindang. Pulau itu benar-benar sunyi, hanya desiran angin dan deburan ombak yang terdengar.
"Wah,"
"Ini benar-benar,"
"Pulau tak berpenghuni!" ujar Haha Brothers yang seperti biasanya bicara sesuai urutan, mulai dari Togano, Juumonji, lalu Kuroki.
"Ki-kita akan tinggal di pulai terpencil ini selama tiga hari ke depan?" tanya Sena sambil terbata. Awalnya ia merasa biasa saja, namun entah kenapa setelah menginjakkan kaki di pulau itu ia merasa bahwa tinggal selama tiga hari dua malam di pulau tak berpenghuni yang berjarak empat puluh menit dari pelabuhan itu rasanya sedikit ... err ... menyeramkan?
"Ini baru namanya cool~!" ujar Natsuhiko Taki sambil berputar beberapa kali dan mengacungkan jempol pada akhirnya.
"Yaaa! Indah sekali pantainya!" ujar Suzuna riang. Entah kenapa ia bisa mengendarai inline skate-nya dengan lancar-lancar saja di atas pasir putih yang licin itu.
"Mukya! Banyak pohon kelapa!" seru Monta. Melihat jajaran pohon kelapa, insting monyetnya untuk memanjat terbangun, mungkin?
Sementara itu siswa-siswa kelas tiga tidak begitu terkejut dengan pemandangan indah yang tersaji di hadapan mereka. Tentu saja, ini bukan pertama kalinya mereka ke pulau itu, mereka sudah pernah ke sana sebelumnya saat survey dan mempersiapkan peralatan di villa.
"Baiklah, bisakah semuanya berkumpul dulu sebentar?" Gadis berambut auburn itu memanggil kawan-kawannya yang masih terpencar.
"Karena kita sudah sampai, sebaiknya kita segera menuju villa dan beristirahat sebentar. Ada dua belas kamar, delapan kamar dengan ranjang double, dan empat kamar dengan ranjang single. Kalian boleh memilih kamar, dan teman sekamar kalian masing-masing, lalu tolong laporkan padaku jika sudah memilih." Gadis berambut auburn itu menjelaskan dengan lembut.
Sambil berdiskusi, seluruh anggota Devil Bats bertolak menuju villa yang desainnya cukup unik tersebut. Bagian depan villa itu dipenuhi dengan jendela-jendela yang tinggi dan besar sehingga semua yang ada di dalam villa tersebut dapat terlihat dengan jelas. Memimpin para mantan prajuritnya, sang komandan neraka membuka pintu villa yang terbuat dari kayu jati yang cukup tebal. Begitu menginjakkan kaki di villa, desainnya yang unik benar-benar eye catchy. Di sebelah kanan dan kiri pintu masuk adalah ruang santai, yang dilengkapi sofa dan kursi dengan bentuk yang unik, serta seperangkat home theatre. Sementara tepat di depan pintu masuk, sebuah lorong yang cukup lebar membawa pengunjung villa menuju area ruang makan, dapur, dan taman belakang. Sementara di sepanjang lorong tersebut terdapat empat pintu yang merupakan pintu masuk kamar. Di sebelah kanan dari ujung lorong, tangga kayu menuju lantai dua terlihat. Lantai dua dan lantai tiga memiliki tata ruang yang hampir mirip, dengan masing-masing dua kamar di area kanan dan kiri, serta masing-masing satu ruang tambahan yang dapat berfungsi sebagai gudang. Bagian teratas dari villa itu juga memiliki loteng yang dapat digunakan sebagai ruang penyimpanan.
"Waah, mentang-mentang ini pulau tak berpenghuni, villa ini jadi buka-bukaan begini," ujar Juumonji sambil memandangi jendela—yang terlihat seperti tembok kaca yang mengelilingi kedua ruang santai.
"Ehem!" Gadis beriris safir itu berdehem, mencoba menarik perhatian kawan-kawannya yang masih takjub dengan villa yang berdesain unik tersebut. Seketika itu semua mata langsung tertuju pada siswa kelas tiga yang aktif menjadi juru bicara tersebut.
"Ng, aku akan membagikan schedule kita untuk tiga hari ke depan. Di schedule itu tertulis alokasi waktu untuk setiap jam makan, dan untuk kegiatan bersama-sama seperti games. Diharapkan kalian mematuhi jadwal yang sudah ditentukan, misalkan jam makan siang pukul 12:00-13:00, diharapkan kalian tidak turun ke ruang makan setelah pukul 13:00. Jadwal ini dibuat agar kita bisa melakukan kegiatan secara bersama-sama. Nah, di luar jadwal yang sudah disediakan, kalian bebas melakukan apa saja." Mamori menjelaskan secara detail. Mereka yang mendengarkan hanya mengangguk tanpa banyak berkomentar.
"Untuk sekarang, karena ini masih pukul sebelas, kalian mendapat free time sampai waktu makan siang. Setelah itu kita akan mulai game spesial!" ujar gadis berambut auburn itu riang.
"Eh? Game spesial?" Hampir semuanya bertanya-tanya.
"Ta-tapi di jadwal tidak ada game spesial..." ujar sang Eyeshield 21 kebingungan.
"Karena spesial, makanya tidak ada di jadwal!" Kurita angkat bicara.
"Yaa! Game seperti apa itu?" tanya Suzuna penasaran, tentu saja ia bisa mencium bau petualangan dari balik sebutan game spesial tersebut.
"Ngg ... seperti mencari harta karun tersembunyi?" ujar Mamori sambil memutar matanya.
"Mencari harta karun?" Semuanya serempak bertanya-tanya. Mereka membayangkan permainan mencari harta karun seperti apa yang akan mereka lakukan di villa itu.
Mamori tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Peraturan permainan akan dijelaskan setelah jam makan siang selesai nanti. Kalian bersiap-siap saja!" ujar Mamori, membuat para juniornya semakin penasaran.
Harta karun seperti apa yang menanti untuk ditemukan oleh mereka?
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
"Oh."
Pemuda itu tersenyum tipis, mencoba berbaur dengan orang-orang di sekitarnya yang juga mengembangkan senyum penuh rasa penasaran.
"Kalau begitu aku akan menjadi harta karun bagi kalian..."
.
And the mystery just whisper its name to your ear...
.
| TSUZUKU, |
.
A/N : cukup desperate untuk mengetik chapter dua ini yang lumayan banyak deskripsi nggak pentingnya -,- I'm suck at descripsion cause I just write drabble too much orz. sebelumnya makasih banyak buat semua pembaca, khususnya buat yg udah review karya abal saya ini :") misterinya belum dimulai, ia baru membisikkan namanya di telingamu ... so be prepared for next chapter: Treasure Hunting.
oh, dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang muslim, maafkan saya jika karya abal saya selalu merusak mood kalian ;u; /bow
.
| Review? |
