PARALYSIS

By. Reii Harumi

Disclaimer : Masashi KishimotoNaruto

Pair : Sasufemnaru slight Nejifemnaru

Genre : Crime, Mistery, Romance, Hurt

Warn! GenderBender,Typo(s),DLDR Warn!

.

Here we go…

/ First arc name : What's hidden ?/

Naruto menatap bosan arus lalulintas pagi hari ini. Pandangannya hanya tertuju pada pemandangan sepanjang perjalanan menuju sekolahnya. Tak dihiraukannya alunan musik yang sengaja dinyalakan oleh Obito, katanya agar tidak canggung. Sesekali Obito melirik kearah Naruto. Bagaimana bisa ia begitu manis dengan pakaian seperti itu? Batin Obito, tak habis pikir. Walaupun ini bukan pertama kalinya ia melihat Naruto yang sedang mengenakan seragam Konoha Academy, tetap saja ia tidak biasa. Ah, lebih tepatnya belum.

"Apa kau lihat-lihat baka?"

Obito tampak sedikit gelagapan, "Tidak. Aku sedang melihat spion didekatmu."

"Benarkah? Tapi kurasa sedaritadi kau memperhatikanku terus," Ujar Naruto. Tatapan matanya berubah menjadi berbinar jahil.

"Ish, kau menyebalkan." balas Obito. Sedikit malu ketahuan memperhatikan.

Naruto mendengus geli, "Kau itu tidak pandai berbohong, Obito."

"Kau tampak manis sih dengan pakaian itu,"

Naruto terdiam mendengar ucapan Obito. Bahkan Naruto tidak berkedip sedikitpun setelahnya.

"Kau sakit Obito?"

"Haah? Apa yang kau bicarakan?"

"Tadi kau bilang aku manis!" Ujar Naruto. Sedikit memekik.

"Aku hanya berpendapat, bodoh. Jangan berpikiran yang tidak-tidak," Ujar Obito sambil memelankan laju kendaraannya hingga berhenti tepat sebelum gerbang Konoha Academy.

"Baiklah Hime-sama, kita telah sampai. Belajar yang rajin ya," Ujar Obito sambil mengusap kasar puncak kepala Naruto.

"Ish! Aku bukan anak kecil! Dan lagi aku sudah lulus SMA, bila kau lupa." Ujar Naruto sambil menepis kasar tangan Obito dikepalanya.

"Aku tahu kok. Tapi dengan begini ada bagusnya bukan? Usiaku adalah 23 tahun, sedangkan kau masih 19 tahun. Sudah seharusnya kau bersikap sopan, right?" Ujar Obito.

"Tapi aku tidak mau memanggilmu Nii-san. Terlalu bagus untuk seorang Obito." Ujar Naruto yang langsung melesat keluar dari mobil yang ditumpanginya. Eits, sepertinya Naruto melewatkan sesuatu.

"Jangan lupa pesanku tadi!"

Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Naruto langsung berjalan menuju gerbang sekolah. Obito tersenyum samar. Oh, jangan berharap ia memiliki perasaan pada Naruto karena ia hanya menjalankan permintaan sahabat dekatnya – kakak kandung dari Naruto – untuk menjaganya.

0-0-0

Naruto berjalan dilorong menuju kelasnya. Wajahnya sedikit tertunduk menatap layar handphone dengan sesekali jemari mungilnya bergerak cepat diatas layar, tampaknya ia sedang membalas e-mail dari Kapten. Atau mungkin Temari? Entahlah hanya Naruto yang tahu sekarang ini. Karena terlalu asik, saat tiba pada pertikungan …

"Aduh!"

Kedua orang yang tidak sengaja bertabrakan ini saling mengaduh kesakitan. Naruto segera bangkit setelah mengambil handphone serta memasukannya kembali ke saku rok sekolah.

"Maafkan aku! Kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto pada seorang gadis berambut indigo panjang yang masih terduduk dilantai.

"A-aku tidak apa-apa kok. T-terimakasih." Balas gadis tersebut pelan.

"Mau kuantarkan ke UKS?" Tangan Naruto terulur membantu gadis indigo tersebut untuk berdiri.

Gadis indigo itu menggeleng cepat,"T-tidak usah. A-aku tidak terluka apa-apa kok."

"Baiklah. Sekali lagi, maafkan aku ya! Aku duluan." Pamit Naruto dengan meninggalkan senyum canggung untuk gadis indigo itu.

"Hinata?"

"Eh?" Gadis indigo – Hinata – terkejut menatap sosok yang menjulang tinggi dihadapannya.

"Sedang apa kau didekat kelasku?" Tanya Neji. Tatapan matanya begitu tajam.

"A-aku – "

"Kembalilah ke kelas. Jangan menggangguku." Ujar Neji dengan datar.

Neji kembali melanjutkan langkahannya. Meninggalkan Hinata seorang diri. Tangan putih Hinata saling berpautan dengan bibir yang digigit pelan. Tatapan matanya menyendu, seolah merindukan sosok yang telah lama menghilang.

"Hinataa!"

"Tenten,"

Sosok yang dipanggil Tenten memperlambat langkah, "Mou! Darimana saja kau? Membuatku khawatir saja," gerutu Tenten.

"Aku habis dari kelas 2-B. Maafkan aku telah membuatmu khawatir," ujar Hinata, tersenyum maklum.

"Ngapain? Itukan kelas si Sombong itu," ujar Tenten. Nada bicaranya berubah menjadi tinggi.

"A-aku datang u-untuk mengambil buku catatanku yang dipinjam oleh Amaru, Tenten."

Tenten menghela napas pendek,"Lain kali kalau ingin datang kesana, ajak aku. Biar kalau mereka macam-macam, sudah kuhajar. Terutama si sepupu sombongmu itu."

Hinata tertawa pelan, "Kau berlebihan,"

"Ah,sudahlah. Ayo! Kembali ke kelas, jam pertama akan mulai sebentar lagi," ujar Tenten sambil membalikan tubuhnya.

0-0-0

Obito melangkah dengan sesekali siulan kecil menyertainya. Ia baru saja bertemu dengan Kapten Hiruzen mengenai permintaan Naruto. Yaa..bisa dibilang ia adalah perwakilannya, walau Obito malas – tidak sudi – untuk mengakuinya. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Kapten Hiruzen mengenai seseorang yang ditugaskan untuk pergi bersama.

'Hmm..siapa ya? Rin kah?' batin Obito sumringah.

Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Obito tidak menyadari seseorang yang sudah daritadi memperhatikan tingkah konyolnya – tersenyum sendiri - . Merasa jengah, seseorang itu berjalan mendekati Obito.

"Yo, Obito! Kau terlambat seperti biasanya, eh?" ujar seseorang itu cukup lantang ditelinga Obito.

Mata hitam Obito membulat, "K-k-kakashii?!"

'Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku sekarang!' batin Obito heboh.

"Sedang apa kau disini?! Bukannya kau sekarang berada di Sapporo selama sebulan?!" tanya Obito dengan beruntunnya.

Kakashi tersenyum dibalik masker yang menutupi setengah wajahnya. Bagaimana Obito bisa tahu? Tentu saja dari matanya yang menyipit melengkung.

"Kapten Hiruzen memanggilku kemari, beliau bilang bahwa kau akan ke Suna hari .." ujar Kakasihi. Sedikit menggantungkan ucapannya. ".. aku diminta untuk menemanimu kesana,"

"HAAH?! Yang benar saja!"

"Tapi itu kenyataanya," balas Kakashi seraya menyenderkan punggung pada tembok.

"Lalu – "

"Tugasku di Sapporo untuk tiga hari kedepan akan digantikan sementara oleh Asuma," ujar Kakashi dengan santainya.

Obito menatap malas rival abadi – menurut Obito – yang entah kenapa selalu kedapatan bersamanya. Lama-lama Obito ingin protes kepada Kapten Hiruzen mengenai hal ini.

"Baiklah," Kakashi melangkah mendahului, "Ayo, kita berangkat ke Suna,"

Obito menatap tidak percaya. What?! Seharusnya ia yang mengajak-dengan-kerennya tadi, bukan sebaliknya begini. Dengan rasa tidak ikhlas, Obito mau tidak mau berjalan mengekor Kakashi yang sudah berjalan dahuluan. Tentunya sedikit gerutukan dan hentakan kaki. Seorang gadis berambut coklat sebahu yang melihat sekilas tingkah teman sekelompoknya tadi, membentuk seulas senyum.

"Benar-benar deh mereka," ujar gadis tersebut sambil berlalu.

0-0-0

'Hm.. masih ada 15 menit sebelum bel jam pertama mulai..' batin Naruto sambil melirik sekilas jam tangan miliknya.

Naruto menegakkan tubuhnya kemudian mulai bersiap-siap untuk menerima materi pelajaran. Ini bukan hal baru untuknya, bagaimanapun juga ia pernah mengenyam pendidikan formal walau hanya sebentar serta ia pun telah lama lulus SMA.

Hei, untuk apa susah-susah belajar jika sudah lulus? Well, Naruto bukan tipe yang suka melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. Jika sudah basah, basah saja sekalian.

Ketika Naruto baru saja meletakan buku catatannya, tampak sebuah bayangan seseorang. Naruto menatap siapa sosok tersebut.

"Ada apa, Uchiha-san?" tanya Naruto pada Sasuke dengan tas yang disampirkan pada bahu kanannya.

"Tidak. Aku hanya ingin memberi salam pertama untuk kau yang menjadi teman sebangku ku, Uzumaki." ujar Sasuke, dengan sedikit senyuman miring. Badannya sedikit condong kearah Naruto.

"Kurasa ini tempat duduk Yamanaka-san." Naruto menatap datar Sasuke. Merasa tidak terganggu dengan sikap Sasuke.

Sasuke menegakkan tubuhnya, "Kau tidak lihat tulisan didepan sana?"

Seketika Naruto langsung mengalihkan pandangannya pada papan tulis. Matanya sedikit memincing ketika melihat susunan tempat duduk.

"Sejak kapan susunan ini dibuat?" Naruto menyuarakan isi pikirannya. Wajah merengut tidak mengerti.

"Kemarin. Sepulang sekolah." ujar Sasuke seraya mendudukan diri pada bangkunya.

Naruto terdiam sejenak. Seolah menyadari sesuatu, dan memang ia menyadari bahwa karena saking 'gemas' dengan tingkah Yamanaka membuat ia pulang secepatnya. Naruto menghadapkan tubuhnya pada Sasuke, sedikit menyunggingkan senyum, yang menatapnya dalam diam.

'Bagus. Kalau begini, tugasku akan mudah untuk diselesaikan.' batin Naruto senang.

"Yoroshiku ne, Uchiha-san."

Setelah mengucapkannya, Naruto langsung memutuskan kontak mata dengan Sasuke dan mulai larut dalam handphonenya. Dan Sasuke? Ia tengah asik memejamkan mata. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang…

0-0-0

_Skip Time_

Naruto sedang merapikan peralatan belajarnya. Well, hari ini lumayan damai dibandingkan kemarin. Sesekali ia mengecek handphonenya dengan wajah sedikit gelisah.

Bagaimana ia tidak gelisah?

Saat ini sudah hampir pukul empat sore dan ia belum mendapatkan satupun email dari Obito. Naruto cemas bila Temari tidak mengizinkan Obito untuk datang mengambil. Cih, seandainya ia tidak dihukum, sekarang ia sendirilah yang akan datang. Dengan sedikit gerakan terburu-buru, Naruto kembali memasukkan beberapa buku kedalam tasnya.

"Kau mencemaskan apa?"

Gerakan tangan Naruto terhenti. Ohya, hampir saja lupa dengan sosok disampingnya itu. Naruto hanya menatap sekilas, "Bukan urusanmu, Uchiha-san."

"Apa kau menunggu pacarmu?" tanya Sasuke dengan datar. Pertanyaan konyol memang, akan tetapi ia lebih tidak suka penolakan terang-terangan seperti tadi.

Naruto menyampirkan tas pada pundak kecilnya, ia sedikit tertawa kecil , "Apa kau sebegitu penasarannya ?"

Naruto tidak habis pikir. Kata Obito, Sasuke bukan tipe orang yang suka bertanya hal-hal pribadi kepada orang asing. Ia cenderung tidak peduli. Tapi bukan berarti ia tidak berbahaya, Sasuke termasuk anak muda berbakat yang sama berbahayanya dengan kakaknya.

"Tinggal jawab saja, Uzumaki. Kita ini teman sebangku," ujar Sasuke. Menekankan perkataan terakhirnya.

'Cih! Walau kita seumuran bukan berarti aku takut anak kepala ayam ini! Apa-apaan bilang teman sebangku?!' Batin Naruto, sedikit kesal.

"Maaf Uchiha-san. Bagiku menanyakan hal pribadi adalah tindakan yang tidak sopan. Walau teman sebangku, kau masihlah orang asing. Sampai esok, Uchiha-san." pamit Naruto. Dalam hati ia tersenyum puas melihat wajah 'poker face' Sasuke. Riak wajahnya memang datar, tapi Naruto tahu jika diam-diam Sasuke mengeratkan kepalan tangannya dibalik saku.

Sepeninggalan Naruto…

BRAK. Dentuman keras menggema dalam kelas yang hampir kosong tersebut. Kepalan tangannya berada diatas meja sedikit menunjukan urat tangannya, menandakan bahwa ia menahan perasaan meluap-luap dalam hatinya. Bibirnya melengkungan sebuah senyuman, mata hitamnya berkilat-kilat.

"Orang asingkah?" desis Sasuke

"Bercandaannya sungguh menjijikan, Uzumaki."

0-0-0

"Cih! Baka-Obito! Kenapa lama sekali sih? Ditelpon juga tidak –"

Handphone Naruto bergetar karena sebuah panggilan masuk. Dengan cepat ia menggeser tanda hijau pada permukaan layar.

"Obi – "

/Yo~ Agen Naruto. Lama tidak berjumpa./

Naruto tercenggang. Suara ini … tidak salah lagi! Pasti ..

"S-senpai ?!"

/Hm. Kau sudah pulang? Tunggulah sebentar lagi, kami akan menjemputmu./

PIP

"Jemput ? Apa maksudmu? Hei!" Naruto menjauhkan handphonenya kemudian menatap heran. Ia yakin sekali bahwa yang tadi menelponnya bukanlah Obito, melainkan senpai ditempat ia bekerja. Hatake Kakashi.

'Aneh.. bukankah Kaka-senpai saat ini harusnya berada di Sapporo? Apa maksudnya dengan 'kami akan menjemput'? Jangan – jangan ..'

Sebuah mobil sedan berhenti tepat dimana Naruto berdiri. Naruto memundurkan tubuhnya beberapa langkah dengan tangan kanan merogoh sesuatu dibelakang tubuhnya. Tatapan memincing ketika jendela mobil tersebut terbuka.

"Sasuga Kitsu, ah! Maksudku Naru." ujar seorang pria dengan rambut keperakan.

"AH! Dugaan ku benar! Ternyata memang Kaka-senpai!" ujar Naruto sambil mendekati kembali mobil sedan tadi.

"Kalau begitu segera masuk. Ku traktir makan malam, Naru." ujar Kakashi.

"Woah! Arigatou~! Ah, Obito?"

Kakashi melirik sosok Obito yang tengah 'tantrum' sejak awal pertemuan mereka, "Ya, seperti kau lihat ne?"

Naruto mengendikan bahunya, kemudian ia segera masuk mobil tersebut secepatnya.

.

.

"Jadi.. apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Naruto. Matanya sedikit memincing dan tangannya sibuk mengaduk-aduk strawberry smoothies dengan sendok.

'Tentu saja sudah, baka." balas Obito.

"Lalu kenapa kau tidak menghubungiku, bakaobi?" sembur Naruto.

Obito memangku wajahnya dengan telapak tangan, "Tidak baik menganggu seseorang yang sedang belajar." Dan setelahnya Naruto memukul tulang kering Obito.

"Sudahlah Naru, yang penting kita sudah mendapatkan apa yang diperlukan." ujar Kakashi, menengahi pertikaian kecil Naruto dengan Obito.

"Ah, maafkan aku senpai, senpai sampai ikut menemani Obito ke Suna. Apa tidak apa-apa?" ujar Naruto, sorot matanya menunjukan penyesalan.

"Tidak apa-apa kok. Lagipula ada Asuma disana serta aku juga terus mendapatkan informasi, tapi tampaknya pembunuh di Sapporo itu juga menyembunyikan sesuatu di kota ini." ujar Kakashi.

"Sst!" Jari telunjuk Naruto didepan mulut Kakashi, "Jangan berucap sesantai itu, senpai! Bagaimana jika – "

"Disadap?" balas Kakashi yang kemudian meminum kopi miliknya, "Tidak pelu khawatir, Naru. Hal tersebut sudah dibereskan,"

Tubuh Naruto menegang. 'D-d-disadap?'

"Penyadapnya ada dimobilku dan Kakashi menghancurkannya." sela Obito ketika melihat wajah kaget Naruto.

"Bagaimana bisa?" tanya Naruto.

"Hmm.. menurutku apartemen kitapun telah disadap, sebab tidak mungkin si pelaku tahu aku akan ke Suna tanpa bertanya pada kau. Dan perkiraanku, si pelaku baru sehari menyadapnya." ujar Obito.

"Aku sudah menghubungi orang dikantor untuk berpura-pura sebagai salahsatu petugas pembersih di apartemen kalian. Mungkin sekarang ia sedang membereskannya." balas Kakashi.

"Bagaimana jika menyadapnya menggunakan kamera?" Tangan Naruto terkepal erat. Ia merutuki kelalaiannya.

Kakashi menggeleng pelan,"Penyadap yang ku temukan hanyalah sebuah transmitter dengan microphone kecil. Jadi kemungkinan yang ada diapartemen kalianpun tidaklah berbeda jauh."

"Apa sekiranya si penyadap tahu tentang hal itu?"

"Kurasa tidak Naruto. Kalau ia tahu, seharusnya ia langsung menuju sana. Dengan si penyadap menyimpan kembali alat penyadapnya di mobilku, maka mungkin hasil sadapan yang ia dengar tidaklah bagus atau terpotong-potong. Makanya ia menyadap kembali." Ujar Obito , "Jangan khawatir. Setelah ini kita perlambat sejenak pergerakan kita, ingat musuh kita tidak hanya satu atau dua orang saja. Lawan kita adalah sebuah kelompok besar." Obito menepuk-nepuk pelan ujung kepala Naruto.

"Kau benar." ujar Naruto lirih. Ia menggigit pelan bibir dalamnya. Kepalanya sedikit tertunduk.

"Ah, hari ini kita akan datang ke kediaman Uchiha." ujar Obito mengingatkan.

Naruto langsung menatap wajah Obito, "Untuk apa?"

"Fugaku- ojiisama ingin bertemu dengan kau."

"Baiklah."

0-0-0

Sasuke memakan makan malam dengan tenang. Gerakan tangan untuk mengiris steak miliknya dilakukan secara perlahan. Hari ini adalah makan malam Bersama keluarga Haruno, calon istrinya di masa yang akan datang. Ayahnya, Fugaku, begitu menikmati makan malamnya Bersama Kizashi – ayah Sakura – dan ibunya , Mebuki. Bagaimana dengan Sakura? Tentu saja ia berdandan cantik dengan gaun malam berwarna lembut, rambutnya yang pink panjang dibuat bergelombang. Cantik sih, namun Sasuke tidak tertarik padanya. Sesekali mata hijau Sakura melirik wajah Sasuke yang duduk berhadap dengannya. Semburat merah dipipinya muncul tatkala ia mengingat bahwa hanya beberapa tahun lagi ia bisa begini dengan lelaki idamannya.

Bagaimana Sakura tidak terpesona? Dengan memakai kemeja dark navy kemudian dibalut oleh rompi putih serta celana jeans, kasual namun tetap elegan. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampilkan leher putih Sasuke serta kemejanya ia gelung hingga sikutnya. Oh, bagaimana ia bisa begitu tampan?. Batin Sakura tak henti memuji.

Sementara Sakura asik dengan dunianya, Sasuke memikirkan laporan yang diterima dari bawahannya. Bawahannya mengatakan bahwa segala surat ancaman yang biasa ditunjukan kepadanya, kini akan diserahkan semua kepada seseorang yang lebih berwenang. Dalam hal ini, Sasuke yakin bila ayahnya memberi perintah kepada 'seseorang' itu untuk menangkap pelakunya.

'Cih, kau pikir aku anak kecil , Pak Tua?' Umpat Sasuke dalam hatinya.

Segala bentuk informasi yang ia dapatkan selama ini akan berakhir sia-sia. Informasi penting mengenai pembunuh Ibunya. Ia yakin sekali bila Ibunya mati bukan karena kebetulan semata. Mengingat Ibunya, secara tidak sadar Sasuke memegang erat garpu dan pisau miliknya.

"Aku menolak untuk menyerah," gumam pelan Sasuke.

Demi membalaskan dendam atas kematian Ibunya. Siapapun seseorang itu. Ia bersumpah akan merebutnya kembali.

"Sasuke."

Sasuke seakan tersadar kembali. Tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan, bisa dilihat dari tatapan dingin Fugaku yang mengarah kepadanya.

"Maafkan aku." Ujar Sasuke. Ia kemudian menyimpan kembali pisau dan garpu diatas piringnya.

"Baiklah. Kizashi-san, terimakasih telah meluangkan waktunya untuk dapat ikut serta dalam acara makan malam hari ini." Ujar Fugaku.

Kizashi tertawa renyah, "Justru saya yang harus berterimakasih kepada Anda. Dengan acara seperti, hubungan Saki serta Sasuke-kun akan bertambah baik, benar Anata?"

Mebuki tersenyum lembut, kemudian ia elus puncak kepala Sakura, "Benar. Membangun sebuah hubungan yang harmonis tidak bisalah secara langsung. Saki ini anaknya pemalu, maka perlu banyak waktu untuk membiasakannya."

"Kurasa tidak masalah bila seorang anak memiliki sifat pemalu. Yang akan menjadi masalah adalah memiliki sifat memalukan keluarga." Ujar Fugaku, tangannya menggapai gelas tinggi berisi wine.

Sasuke hanya melirik tajam Ayahnya. Ucapan Fugaku barusan ditunjukan kepadanya. Anak yang dianggap membawa masalah.

"Hahaha Fugaku-san bisa saja. Hal tersebut tidak mungkin terjadi pada anak-anak Anda. Itachi adalah dokter dan Sasuke adalah pewaris perusahaanmu. Itu adalah hal yang luarbiasa." Puji Kizashi.

Fugaku mendengus pelan, "Semoga begitu."

Tak lama kemudian anak buah Fugaku mendatangi tempatnya. Terlihat menyampaikan sesuatu. Setelah anak buahnya pergi, Fugaku berdeham sejenak.

"Kizashi-san, saya ingin menyampaikan sesuatu. Akhir-akhir, banyak sekali kejahatan yang terjadi. Maka dari itu saya menyewa pengawal pribadi," jelas Fugaku.

Keluarga Haruno terlihat terkejut, terutama Sakura. 'Apa Sasuke-kun dan Fugaku-sama mendapat terror yang menakutkan sampai menyewa pengawal?'

"Masuk!"

Pintu bermahoni tersebut terbuka menampilkan sosok pemuda dengan perawakan tidak terlalu tinggi maupun pendek, rambutnya sedikit acak-acakkan, namun terlihat jelas bahwa ia seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia 'hitam'. Tubuhnya terlapisi kemeja putih dengan jas berwarna hitam pekat dan celana bahan berikut sepatu yang biasa ia pakai ketika bekerja diruangan.

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Haruno. Perkenalkan saya, Uchiha Obito, dari satuan Kepolisian Tokyo divisi III. Salam kenal." Ujar Obito dengan penuh kehormatan.

"A-ah, salam kenal .. "

"Panggil saja saya Obito, Nyonya Haruno." Ujar Obito ketika melihat raut bingung Mebuki ketika akan memanggil namanya.

Tak selang lama, seorang gadis berambut pirang yang tampak berkilauan dibawah pantulan cahaya lampu gantung berjalan dengan lembut nan tegas ke arah mereka berada. Ia memakai kemeja putih dibalut jas hitam body fit , tak lupa rok hitam diatas lutut dengan sepatu berhak rendah. Tatapan birunya seolah seperti dilautan. Indah nan dingin.

Sakura terkejut melihat gadis tersebut yang kini berdiri di samping Obito. Saking kagetnya, ia tidak sengaja menjatuhkan gelas miliknya sendiri.

"Saki?! Kau tidak apa-apa sayang? Wajahmu terlihat pucat." Tanya kedua orangtua Sakura.

"A-ah, aku tidak apa-apa , Ayah, Ibu." Balas Sakura, sedikit lirih.

Dilihatnya gadis tersebut yang sepertinya juga menatap dirinya. 'I-ini tidak benar bukan?'

Sasuke menyimpan dengan baik rasa kagetnya tadi. Namun setelahnya, ia tidak bisa menahan senyum – Ah, bukan, seringainya – yang terus melebar walau sekuat tenaga ia menahannya.

.

Gadis itu adalah

.

"Selamat malam. Saya, Namikaze Naruto, dari satuan Kepolisian Tokyo divisi III. Saya adalah rekan dari Saudara Uchiha Obito. Mohon kerjasamanya." Ujar Naruto secara tegas, lalu diakhiri sedikit menundukkan kepalanya.

.

Namikaze Naruto a.k.a Uzumaki Naruto yang dua hari lalu baru menjadi bagian dari kelas 2-B Konoha academy.

0-0-0

Tubuh Naruto sedikit terbentur pada dinding yang ia belakangi. Di depannya kini ada Sasuke yang menatapnya dalam-dalam. Seolah ingin membaca pikiran Naruto.

"Tidak kusangka 'orang itu' sedekat ini denganku." Ujar dingin Sasuke.

"Apa sebegitu mengagetkannya?"

Sasuke mendecih dengan pelan, "Ku pikir sosok yang disewa oleh Ayah ku adalah seorang yang hebat, nyatanya hanya seorang perempuan yang masih duduk dibangku sekolah."

"Hee…souka. Tapi aku bukan anak sekolah." Balas Naruto dengan santai.

"Kau pikir bisa menipuku? Lebih baik kau segera mundur dari pekerjaan gila ini." Ucap Sasuke dengan nada yang penuh ancaman.

Naruto yang awalnya terdiam, tiba-tiba tertawa pelan.

"Hei, ini sama sekali tidak lucu. A prey has no right to rule a life savior, right?" ujar Naruto dengan aksen Britishnya.

Seketika darah Sasuke mendadak naik. Mangsa? Brengsek sekali mulut gadis ini. Begitulah pikiran Sasuke.

"I don't need a bitch life saver like you."

Naruto mendengus kecil, "Jika kau berniat mengurungku disini, maka ku buat kau tidur."

"Memangnya kau – "

Mata kelam Sasuke menatap sedikit kebawah ketika ia merasa dadanya terhalang oleh tangan Naruto. Terlihat sebuah pistol kecil yang moncongnya mengarah dibawah dagunya.

"Kau berniat membunuhku?"

PSST.

Sebuah peluru jarum meluncur dari bawah pistol dekat dengan ganggangnya dan seketika tubuh Sasuke ambruk menimpa tubuh Naruto.

"Sudah kubilang, bukan? Akan ku buat kau tidur." Ujar pelan Naruto didekat telinga Sasuke.

Telunjuk kiri Naruto memencet sebuah earphone ditelinganya, "Oi, Obito. Tolong bawa Sasuke ke kamarnya. Ia pingsan. Sisanya akan ku jelaskan nanti."

0-0-0

"Uarrghh… untunglah sudah sampai rumah. Tubuhku rasanya penat sekali." Keluh Naruto seraya memijat pelan tengkuknya.

"Aku tidak habis pikir kau membius Sasuke." ujar Obito, sedikit sarkas.

"Mau bagaimana lagi. Dia memojokkanku, udah bagus cuman dibuat tidur, ahoo." Ujar Naruto cepat.

Naruto berdiri didepan ambang pintu apartemennya. Dengan gesit ia memasukkan password dan kemudian ia gesekkan jempol kanan pada alat pendeteksi pada gagang pintu.

"Aku mau mandi dulu. Setelah itu kita lihat video yang tadi kita dapatkan." Ujar Naruto sambil berlalu menuju kamarnya.

"Haah… kenapa hidupku selalu saja 'terjajah'? Tidak Kakashi, tidak Naruto, mereka selalu saja tampak keren." ratap Obito.

.

.

.

"Baiklah. Mari kita lihat." Ujar Obito. Ia memasangkan CD pada DVD player dilaptop. Tak menunggu lama, ia segera membuka sebuah file berisi data CCTV pada saat kejadian delapan tahun silam. Baik Naruto maupun Obito, memasangkan earphone disalahsatu telinga mereka.

"Tolong naikkan sedikit volumenya." Pinta Naruto yang langsung dituruti oleh Obito. Tatapan matanya tidak lepas dari video yang menampilakn suasana di pusat perbelanjaan tersebut.

Awalnya di pusat perbelanjaan tersebut terlihat seperti biasanya. Pada menit ke-delapan, sosok wanita berusia sekitar tigapuluh tahunan muncul, dan itu adalah Uchiha Mikoto. Setelah menit setelahnya, masih saja terlihat baik-baik saja. Dan pada menit ke-sebelas, ledakan itu terjadi.

Setelah video tersebut usai dengan menyisakan bunyi teriakan orang meminta pertolongan, keduanya terdiam seolah memikirkan apa yang salah dari video tersebut.

"Hm, kau mendapatkan sesuatu?" tanya Obito.

"Ne, Obi, kalau ku tidak salah… Mikoto-san itu pernah menjadi bagian dari kepolisian, bukan?"

Obito mengangguk pelan, "Dia berasal dari divisi I yang menanggani kasus pencucian uang pada perusahaan-perusahaan."

Dahi Naruto sedikit berkerut. Telunjuk kirinya ia usap-usap perlahan pada dagunya. Bola matanya bergulir dari ujung kiri menuju , berusaha mengingat sesuatu.

"Pencucian.. uang?" gumam Naruto, perlahan.

Tunggu!

Pencucian uang?!

"Apakah Mikoto-san yang menanggani kasus pencucian uang yang menjerat perusahaan Red Clouds limabelas tahun yang lalu?" tanya Naruto, sedikit memaksa.

"Betul. Bagaimana kau bisa tahu?" kini giliran Obito yang bertanya.

"Ayahku waktu itu ikut bagian bersama Mikoto-san. Karena Ayah adalah anggota khusus serta saat itu ia bertukar posisi dengan kakak kembarnya yang merupakan CEO. Jadi, kasus pencucian tersebut terselesaikan berkat bantuan Ayah dan … Mikoto-san." Ujar Naruto memberikan penjelasan,namun suaranya diakhir kian mengecil.

"Jangan-jangan, mereka balas dendam?!" ujar Obito, mengeluarkan spekulasinya.

"Tidak. Jika mereka ingin balas dendam, seharusnya dengan keluargaku saja. Tidak dengan Mikoto-san." Sangkal Naruto.

"Kenapa? Bukankah itu merupakan rencana ayahmu?"

"Rencana itu dibuat oleh Ayah yang kemudian dibantu oleh Mikoto-san. Lagipula, tersangka utamanya mengetahui jika semua jebakan itu berasal dari ayahku."

"Jadi.. kalau begitu…"

Naruto menatap lurus pada Obito, "Ya. Pastilah Mikoto-san dan Ayahku menyimpan sesuatu. Sesuatu yang membuat para pembunuh itu mulai mengejar Sasuke dan mungkin juga diriku."

.

.

.

To Be Continue…

Pojokkan Author:

Haiiiii minnaaa! Ogenkiii? Nishishishi, chapter pertama akhirnya rampung yey!

Bagaimana? Makin penasaran gaa?

Ikuti selalu yaa!

Jaa nee~

Mind to Review, Fav, and Follow ? -