Main cast: GS!Xi Lu Han, Oh Se Hun.
-Jongdae
-Minseok
-Jongin
-Kyungsoo
[Review yang kemarin aku balas disini ya
HyunRa
Gyahahah bukan secret admirer tapi dia belum berani nampakin jati dirinya aja /apa
Luhan jadi seksi kebersihan karena dia seksi dan bersih /salah
Oke makasih reviewnya chagiyah! mumumu~
lisnana1
Miaaaww ~~ mereka berdua kena konflik, entah kenapa melintas di otak gitu aja tuh pair /dibogem
Yak! Terimakasih atas waktunya yang mau nyelipin review mesti secuil aww~ kucium sinih mumumu~
laycious88
Ga rumit is not my style /jeburin empang/ Yak! Thankseu atas reviewnya mumu~ ]
Warn:
Alternative Universe, Out Of Character, Miss Typo(s), For a lil bit crack pair (sumpah ga rela) (+) Fanfic abal-abalan
Pair: ChenMin
xieveah 's present
Sebelumnya di Taster :
Sehun hanya berjalan gontai dan mengambil rerumpukan sampah itu kemudian membuang semuanya ke tong sampah terdekat.
"Selesai? Ya! aku pulang ,Luhan –ssi"
Taster
.
.
Dalam perjalanan menuju rumah, Kim Jongdae terlihat sangat frustasi dengan pengakuan palsu yang dikatakan Minseok melalui ibunya bahwa dia sedang bermain diluar sekolah dan tidak langsung pulang. baginya, perempuan yang sudah dia kenal sejak kecil itu selalu bertindak semaunya dan asal saja dalam hal seperti ini. berbohong ketika Minseok sendiri tau Jongdae sedang mengerjakan kepentingan bersama anggota organisasi kelas. Apa itu tidak lucu? Astaga, Minseok adalah perempuan paling aneh yang pernah Jongdae kenal selama ini. selain itu, apa maksudnya meminta dia pulang yang malah memberi pengakuan palsu pada ibunya? Jika Minseok mau Jongdae pulang dengan cepat, tidak seperti itu caranya.
"Aku pulang" Pemuda itu melangkahkan pasang kakinya memasuki rumah yang tengah disambut oleh kehadiran Minseok yang tiba-tiba ada di depannya. Membuat Jongdae terkejut secara non verbal.
"Selamat datang kembali ,Jongdae –ah" Minseok memohon dengan tampang aegyo-nya agar dia bisa membawakan tas milik Jongdae namun Jongdae terus-terusan menolak. Entah kenapa, perlakuan aneh ini sudah terjadi sejak setahun yang lalu. Seolah menjadikan diri Jongdae sebagai tuan dari sang pembokat –Minseok.
"Kau ini kenapa ,Minseok –ssi" Jongdae memijat pelipisnya sambil melajukan langkah bersama Minseok menuju ruang tamu, sofa lebih tepatnya. "Kenapa berbohong pada ibuku bilang aku sedang main. Bukankah sepulang sekolah tadi aku sudah meminta izin darimu?" Ibu Jongdae dan Minseok memang sangat akrab sejak lama, maka dari itu Ibu Jongdae mempercayai Minseok untuk menjaga dan selalu dekat dengan putra tunggalnya itu. Namun, saking percayanya, semua ucapan Minseok tak terkecuali, selalu Ibu Jongdae percayai dan hal itu membuat Jongdae makin frustasi memiliki teman perempuan layaknya seorang penguntit bermulut ember ini.
"Kau tampak menyebalkan belakangan ini" Jongdae menghempaskan diri diatas sofa dan menyandarkan punggungnya dengan pegal. Dia memejamkan matanya akibat lelah dan kantung yang langsung menyerangnya sampai rumah. Sebenarnya, salah satu factor kelelahan yang selalu menyerangnya adalah karena ibunya belum membelikan sepeda dan mengharuskan Jongdae pulang jalan kaki, bersama Minseok dan parahnya itu sudah terjadi sejak waktu-waktu lalu. Sebenarnya bukan parah dalam artian yang bertanda kutip, namun, Jongdae hanya capek meladeni Minseok yang terlalu polos dan, ah.. dia seperti anak monyet yang bergelantungan di lengan ibunya karena takut dengan jalanan. Katanya juga, takut ada yang menculiknya dan akan membiarkan Jongdae pulang dan berangkat sekolah selalu sendirian tanpanya. Eugh! Jongdae tidak mengerti sisi polos Minseok, itu dibuat-buat atau memang benar-benar polos? Baiklah hentikan memikirkan perempuan aneh itu yang sampai saat ini masih saja memanyunkan bibirnya akibat ungkapan Jongdae soal, dia yang menyebalkan belakangan ini. sebenarnya Jongdae tau bahwa Minseok tidak suka disebut sebagai orang yang menyebalkan. Tapi Minseok sendiri yang membuat orang lain sebal akan tingkahnya.
Namun, dalam hati Minseok yang paling dalam, dia memang menyadari betapa bodoh dan bersalahnya berbuat hal yang membuat Jongdae kesal itu. Tapi, namanya juga perempuan yang sensitive dan selalu mau keadaan orang tersayangnya baik baik saja mana mungkin dia membiarka – Apa aku keceplosan?
Baiklah, biarkan itu bukan menjadi aib lagi. jadi, kita ulangi lagi
Namanya juga perempuan yang sensitive dan selalu mau keadaan orang tersayangnya baik-baik saja mana mungkin dia membiarkan Jongdae berkeliaran diluar sana tanpa pengawasannya. Apalagi, saat terakhir dia meninggalkan Jongdae, masih ada Luhan dan Tao yang dia klaim bahwa dua makhluk itu pasti bisa mengalihkan dunia Jongdae dari pegangannya. Luhan dan Tao, mereka berdua cantik, mana mungkin Minseok tidak iri jika Jongdae berada diantara dua makhluk bak bidadari itu. Mungkin seorang Luhan memang tidak akan menarik lawan jenisnya akibat dada rata yang dia miliki, tapi Tao, selain sexy dan memiliki buah dada yang menggiurkan kaum adam, dia juga menjabat sebagai Ketua Kelas dan primadonna kelas, jadi, mana bisa Jongdae menolak keadaan tersebut? Oke, Minseok jangan meringis.
"Mianhae ,Jongdae –ah. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi" Dia merundukkan wajahnya, tak mampu melihat Jongdae yang pasti sangat kecewa dengan tingkahnya hari ini. suaranya makin mengecil dan bergetar mengucapkan hal demikian. Dia sadar akan kesalahannya dan dia tau, sepertinya salah satu factor yang membuat Jongdae kelihatan stress adalah sikap dirinya yang terlalu over protective terhadap Jongdae.
"Aku pegang janjimu itu ,Minseok. Sekarang ibu mana?" Jongdae membangkitkan dirinya yang dibarengi dengan pasang matanya yang langsung menerpa wajah Minseok yang masih tertunduk dengan gambaran masih dengan manyunan bibir yang kelihatan jelas panjangnya. "Jangan manyun begitu. Sudah jelek makin jelek" Sinis Jongdae
Berhasil membuat Minseok menegakkan kepalanya, menautkan alisnya dan manatap Jongdae tajam dan lekat. Mulutnya masih saja memanyun, makin panjang akibat pengakuan Jongdae.
"Jujhi oku bunur bunur juluek yu?" (Jadi aku benar-benar jelek ya?)
"GHAHAHAHA. Berhenti menampilkan wajah sok imut itu ,Minseok!" Jongdae tertawa lepas mendengar ucapan Minseok yang berkeadaan masih dengan bibir memanyun sehingga membuat ucapannya tidak jelas dan aneh untuk didengar. Entah kenapa suara itu mengocok perutnya dan menggelitiki sekitar hingga membuat Jongdae tertawa lepas . apalagi tampang Minseok yang masih manyun –lebih tepatnya sekarang monyong.
"Ha Ha.. baiklah, kembalikan bibirmu seperti semula" Jongdae menghela napas untuk menetralisir keadaannya agar bisa menahan tawa dan bertanya pada Minseok soal ibunya, Minseok menuruti dengan tampang polos lagi. dia menarik bibirnya kedalam. "Jadi, sekarang ibuku mana?"
"Dia belum pulang mengajar"
Jongdae mengangkat satu alisnya. Bingung.
"Lantas bagaimana kau bisa masuk kerumahku?"
"Aku kesekolah ibumu"
"Lalu?"
"Meminta kunci rumah"
Tampang Jongdae seketika mendatar. Bibirnya mengangkat sebelah seolah –dia tadi bilang apa?
"Jadi, kau ke sekolah ibuku untuk memberitahu kepalsuan itu dan meminta ibuku menelfonku kemudian meminta kunci rumah kemudian masuk begitu saja dan dan dan… Kenapa kau begitu lucu ,Minseok" Jongdae tertawa miris meratapi nasibnya berada disisi Minseok yang benar-benar aneh. Sedang Minseok yang mendengar dirinya disebut lucu hanya bisa tersenyum cerah dengan pengakuan tersebut.
"Terimakasih ne, Jongdae –ah. Aku memang lucu" Dengan percaya diri ditambah wajah polos seolah tak berdosa itu dia berterimakasih kepada Jongdae atas pengakuan –yang sebenarnya bermaksud kebalik. Jongdae menggelengkan kepalanya lagi.
"Eh, kau pasti belum makan, mau aku buatkan sesuatu untukmu? Ya! tunggu disini oke?" Minseok berlari meninggalkan Jongdae menuju dapur rumah Jongdae.
Jongdae mengerutkan dahinya. Dalam hatinya, Jongdae berpikir bahwa dia sudah seperti suami Minseok yang selalu dilayani setiap saat. Ya, meski Jongdae mengatakan Minseok adalah perempuan yang aneh, tapi perlakuan dan kepeduliannya terhadap Jongdae tidak pernah terabaikan dan selalu –seperti, menomor satukan Jongdae diantara teman yang Minseok kenal lainnya.
Tapi, setelah kepergian Minseok yang nyeleweng begitu saja menuju dapur, selintas pikiran tentang semua yang berbau memasak, kompor dan dapur, mengingatkannya pada suatu waktu yang pernah berlalu dalam hidupnya. Dia ingat, seminggu yang lalu Jongdae berlibur dan menginap dirumah Minseok –yang sebenarnya hanya berbeda dua komplek dari keadaan rumahnya. Bersama ibunya dan juga ibu Minseok –mereka sama-sama seorang single parent. Malam itu, Minseok menawarkan diri untuk membuatkan empat buah mie instan yang akan menemani mereka berempat nonton film keluaran terbaru waktu itu, dan, Jongdae ingat betul bagaimana itu terjadi, bagaimana Minseok yang menghancurkan keadaan dapur rumahnya sendiri, seperti kapal yang baru saja terhantam bom. Semua isinya menghitam, tak terkecuali Minseok, keadaannya celemotan seperti diguyur arang. Rambutnya bergelombang panjangnya menjabrig dan pakaiannya compang-camping. Disadari oleh kedua ibu itu, Minseok ternyata mengalami insiden menyalakan kompor yang salah dan membuat jeblug kompor minyak tersebut. Wajar saja, sang ibu masih menyukai segala hal yang berbau sederhana, sampai komporpun belum bereksplorasi menjadi kompor gas yang lebih mudah dan anti jeblug –jika penggunaannya benar.
Jadi sekarang intinya, sebagai antisipasi agar rumah Jongdae tidak senista rumah Minseok minggu lalu, dia bergegas menuju dapurnya untuk menghentikan aksi masak-memasak Minseok yang hendak Minseok mulai dengan..
"Minseok! Jangan dinyalakan!" Tangannya menunjukkan agar Minseok memberhentikan kelakuannya sebelum sesuatu yang lebih buruk menimpa dapurnya. Dan hal itu membuat Minseok menoleh kearah Jongdae dengan tampang polosnya.
"Kenapa?" Dia memberhentikan niatannya yang kemudian berlaih sepenuhnya kepada Jongdae.
"Em.. lebih baik kita delivery saja ya?" Tawar Jongdae.
Minseok menautkan kedua alisnya dan menatap Jongdae bingung.
"Kau tidak mau mencicipi makanan buatanku?"
"B-bu-bukan-bukan-"
"Kau tidak percaya kalau sekarang aku sudah bisa masak ,Jongdae?" Suara Minseok kali ini kedengaran menantang sedang Jondae hanya bisa menelan ludahnya secara paksa. "Iya, aku ingat minggu lalu aku yang membumi hanguskan dapurku sendiri. Tapi, sekarang aku sudah bisa memasak. Kau harus percaya dan ibuku bilang kalau masakanku memang enak!" Jongdae menelan ludah lagi. "Jadi, sekalian menebus kesalahan, aku yang akan membuatkan makan untukmu ,oke?" Jongdae hanya bisa menggigit gigir bagian bawahnya, dia bahkan belum sanggup untuk mengiyakan hal itu.
"Oh, kau mau memantauku memasak?" Minseok menawarkan Jongdae menjadi juri pada acara masaknya hari ini.
"Oh-oh, a-aku tunggu di ruang tv saja. Ne, Minseok –ssi, selamat masak ya!" Jika nantinya dapur sang bunda akan hangus, setidaknya hanya Minseok yang hangus bukan dirinya yang berada didalam dapur. Jongdae segera melarikan diri menuju ruang tv dan menunggu Minseok yang tengah memikirkan bahan-bahan apa saja yang akan dia jadikan penyedap untuk masakannya kali ini.
"Jongdae –ah pasti akan ketagihan kalau aku yang membuatkannya"
.
.
TOK TOK TOK!
Seseorang dari luar pintu nyaris saja mendobrak pintu apartemen Kim Jongin jika dia tidak cepat membukakan pintunya. Dengan suara cempreng dan keterlaluan nyaring itu perempuan diluar pintu berteriak memanggil nama Jongin sambil terus-terusan mengetuk pintu apartmen Jongin secara kasar dan berniat merusaknya jika benar-benar seseorang didalam sana pura-pura tuli dengan ketukan kasar ini.
"Iya, tunggu, tunggu sebentar, bisakah kau itu pelan-pelan dan tidak per.. lu.. –Ne, Kyungsoo ?" Jongin menautkan kedua alisnya melihat tamu hari ini, D.O Kyungsoo, incaran Sehun yang belum jadi sampai hari ini. "Dimana Sehun!?"
"Sehun?" Jongin memiringkan kepalanya memandang Kyungsoo ,manis. Dia benar-benar bingung kenapa tiba-tiba Kyungsoo datang ke apartemennya kemudian mengetuk pintu keras keras dan tiba-tiba bertanya dimana Sehun seperti orang berteriak, dengan suara yang tercekat namun memaksa untuk didengar oleh orang lain. Kenapa harus datang ke apartmen miliknya? Jongin bukan ayah Sehun!
"Aku mau minta pertanggung jawaban!"
"Tanggung jawab apa !?" Jongin menormalkan posisi kepalanya dan menatap tajam perempuan yang lebih pendek beberapa centimeter darinya itu. Sedang Kyungsoo membalas tatapan itu dengan tatapan sengit khasnya.
"Ini !" Kyungsoo menunjuk perutnya dengan jari telunjuk. Dengan tampang yang seyakin-yakinnya seorang Kyungsoo membuat mata Jongin membulat hebat. Mulutnya membentuk huruf O dan langsung menutupnya ketika Kyungsoo memberikan tatapan mematikan pada Jongin. "Aku hamil anak Sehun!"
"APA!"
.
.
.
TBC
SETUK DIMANA HUNHAN NYAH /MEWEK TO MAGER/ oke tau ini ff baru ch dua udah mulai absurd dan aneh plus gaje banget. iya ciyusly tau. Semoga berkenan dengan kelanjutan yang akan saya update di hari-hari kedepannya. Semoga masih setia menunggu aww~ satu review dapat satu kecup dari Eve, melalui perantara angin yang berhembus mengelus bibir manismu chagiyah! Oke ngaco.
So, Review yaa~
