SEARCHING FOR HER PRINCE CHAPTER 2
Cast : KaiHun
Warning : Untuk penyesuaian karakter Sehun, ff ini aku bikin GS
Ini remake dari novel karya Karen Rose Smith dengan judul yang sama, aku hanya mengubah nama sesuai cast.
Killa8894
.
.
.
.
.
Tiga ketukan kencang pada pintu kamar hotel Sehun membuatnya terbangun. Ketika ia melihat sekilas ke jam di samping tempat tidur, ternyata sudah pukul 08.00. Sepertinya lagi-lagi semalam Sehun tidur begitu lelapnya di tempat asing ini, sampai-sampai telat bangun. Mungkin semua mimpi buruknya tertinggal di Penwyck. Mungkin berita yang disampaikan ibunya beberapa saat sebelum ia berangkat ke Chicago bahwa pembunuh ayahnya sudah tewas telah membuatnya merasa lega.
Terdengar ketukan lagi di pintu. Mengira ada pelayan yang hendak membersihkan kamarnya, Sehun turun dari tempat tidur, menyingkirkan rambut yang menutupi matanya, lalu menyambar jubah yang tersampir di kursi sebelah ranjang. Dikenakannya baju satin bermotif bunga-bunga warna pink dan diikatnya cepat-cepat tali jubahnya.
Ketika mengintip melalui lubang khusus di pintu, Sehun mengedip dua kali. Ternyata Kai! Membawa meja dorong berisi sarapan.
Ketika membuka pintu, Sehun tak dapat menahan senyum atau menyembunyikan rasa senangnya. "Ini kejutan."
Kai tersenyum nakal dan kekanakan. "Ini stategiku untuk memastikan kau makan lebih dari sekedar dari dua crackers dan secangkir teh. Aku tak mau kau pingsan dipelukan pria lain."
Sehun mengerti Kai hanya menggoda, tapi ia juga melihat ada kesungguhan di mata hijau itu. ia bermaksud mengajak Kai masuk, tapi langsung sadar bahwa ia masih mengenakan baju tidur dan jubahnya. "Oh, aku tidak bisa. Maksudku..."
Tanpa mempedulikan keraguan gadis itu, Kai mendorong meja yang dibawanya masuk ke kamar. "Kau bahkan tidak perlu memberiku tip." Lanjut Kai, seakan-alam Sehun tidak menyelanya.
Sehun benar-benar salah tingkah, tak bisa melepaskan tatapannya dari bahu pria itu yang bidang, kaos birunya yang tak berkerah dan kakinya yang terbalut jins. Dengan terbata-bata Sehun berkata. "Aku... aku harus berpakaian."
Sambil mendorong meja tersebut ke area tempat duduk, Kai memindahkan piring-piring hidangan yang tertutup ke atas meja kecil. "Kau sudah cantik seperti itu. Tak ada waktu untuk ganti baju. Telur dan baconnya keburu dingin, dan jangan bilang kau tidak makan bacon dan telur karena bentuk tubuhmu sudah bagus."
Kai menatap Sehun dari atas kebawah, membuat sekujur tubuh gadis itu bersemu merah. Sambil terkekeh, Kai menarik tangan Sehun dan mendudukkannya di sofa. "Ayolah, aku tahu kau wanita yang sangat sopan. Aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Aku janji..."
Senyum Kai benar-benar membuatnya terpesona. Sikapnya begitu bersahabat, dan Sehun tak bisa menolaknya. Sehun merindukan keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Ia merasa kesepian di negeri asing ini, dan kebersamaannya dengan Kai sangat dinikmatinya.
Setelah membuka penutup kedua piring makanan dan meletakkannya kembali, Kai menatap Sehun. untuk beberapa saat, Kai mengawasinya dengan sungguh-sungguh sampai Sehun tidak sanggup memalingkan muka.
Akhirnya Kai mengaku. "Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Kejujurannya membuat Sehun merasa harus mengakui hal yang sama. "Aku juga tidak bisa berhenti memikirkan dirimu."
Tangan Kai terangkat, ingin menyentuh wajah Sehun, untuk menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian mukanya...
Tiba-tiba telepon berdering.
Bunyi telepon itu benar-benar mengganggu suasana intim yang baru tercipta di antara mereka, dan Sehun tidak tahu apakah harus merasa lega atau kesal.
"Permisi." Kata Sehun, lalu menghampiri telepon di meja dekat jendela untuk mengangkatnya. "Halo?"
"Selamat pagi, Sehun."
"Selamat pagi, Yang Mulia." Sehun kenal betul suara ratu seperti ia mengenal suara ibunya sendiri.
"Ku harap aku tidak meneleponmu terlalu pagi. Aku lupa dengan perbedaan waktunya."
Sehun melirik Kai sekilas dan melihat raut wajahnya yang terkejut. Mungkin pria itu tidak benar-benar percaya dengan cerita Sehun mengenai hubungannya dengan keluarga kerajaan. "Tidak, sekarang tidak terlalu pagi. Sebenarnya, beberapa hari yang lalu jam segini saya sudah duduk di ruang resepsionis Wu Jongin."
"Ada kabar tentang itu, Sayang? Apa kau sudah bertemu dengannya?"
Tak ada gunanya menunda membahas masalah ini. "Saya pasti akan langsung menelepon anda kalau sudah berhasil menemuinya. Saya mengalami kesulitan untuk bertemu dengan Wu Jongin. Dia selalu menghindar dan dijaga ketat. Saya sudah menunggu di ruang tunggu kantornya, tapi hanya bisa melihat stafnya yang keluar masuk ruangan. Sekretarisnya memberitahu saya bahwa atasannya akan rapat di luar kantor selama seminggu ini, dan minggu depan akan ke luar kota. Jadi, sepertinya hal ini akan berlangsung lebih lama dari rencana kita semula."
Ada jeda sejenak. "Oh, begitu. Aku tahu kau telah berusaha semampumu. Cole Everson sedang mengusahakan informasi yang lebih banyak untukmu, termasuk foto Wu Jongin. Mungkin itu akan memudahkanmu untuk mengenalinya.
Cole Everson adalah kepala Badan Intilijen Kerajaan dan Sehun serta Ratu Junmyeon sangat mengandalkan pria itu.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini, Sehun? menemui Wu Jongin memang penting, tapi kau perlu meluangkan waktu juga untuk dirimu sendiri. Apakah kau sudah melihat-lihat Chicago?"
"Belum, Ratu."
"Pasti kau sangat kesepian. Apa kau mau kucarikan seorang pemandu utnukmu?"
Lagi-lagi Sehun melirik Kai. Ratu telah begitu baik padanya, dan Sehun mendadak merasa telah melakukan perbuatan yang sangat salah. Ada seorang pria yang tak begitu dikenalnya berada di dalam kamarnya saat ini dan ia hanya mengenakan jubah. Bahkan mereka hampir saja akan...
Saat itu Sehun berharap ia tidak sedang bertugas untuk ratu, dan bahwa ia tidak dididik dengan penuh aturan.
Begitu mengetuk pintu kamar Sehun, Jongin mulai menganggap dirinya Kim Kai. Semalam ia sulit tidur, antara terus memikirkan Sehun dan memimpikannya. Sebenarnya ketertarikan Jongin terhadap Sehun lebih dari ketertarikan fisik. Ada sesuatu dalam diri Sehun yang membuat Jongin terpesona. Selain sibuk mengatur ulang jadwal kegiatannya dan membatalkan berbagai pertemuannya utnuk hari ini, Jongin sempat menghubungi seorang kawan yang ahli dalam mengumpulkan informasi dan memintanya mencari tahu latar belakang Sehun. Dan sekarang mendengar percakapan telepon Sehun, Jongin rasa gadis itu memang benar-benar utusan seorang ratu. Percakapan tadi tidak mungkin sengaja direncanakan karena gadis itu tidak tahu ia akan datang.
Seharusnya ia segera pergi... lupakan sarapan bersama, lupakan rencana menghabiskan hari ini seharian dengannya. Akan lebih aman baginya kalau tidak usah bertemu lagi dengan Sehun... untuk tidak membiarkan gadis itu bertemu dengan Wu jongin. Dia tidak ingin hidupnya terganggu lagi.
Hidupnya pernah terganggu saat ia dan Taemin masih anak-anak dan orang tua mereka bercerai. Ketika itu ibunya membawa Taemin ke California, sedangkan Jongin tetap tinggal di Illinois bersama ayahnya. Hidup Jongin kembali jungkir balik setelah ayahnya menikah lagi dan ibu tirinya mendesak agar Jongin dikirim ke sekolah berasrama. Wanita itu tidak ingin Jongin mengganggunya. Akhirnya Jongin mampu mengatasi semua persoalan itu dan ia mengatasinya dengan baik, mengalihkan perhatiannya ke pasar modal, mengamati perusahaan-perusahaan besar dan bagaimana jalannya serta mulai menginvestasikan uang hasil kerjanya.
Kemudian dua tahun lalu, ketika Jongin merasa hidupnya sudah sesuai jalur, ketika kekayaannya melampaui harapannya, ia kehilangan tunangannya yang meninggal karena penyakit diabetes. Kyungsoo merahasiakan penyakitnya kepada Jongin, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa tunangannya sedang menderita. Sejak Kyungsoo meninggal, hidup Jongin dihabiskan untuk bekerja sembilan belas atau dua puluh jam sehari. Ia telah memutuskan hubungan sosial dengan dunia luar. Tapi tadi malam Sehun telah berhasil menembus semua lapisan pelindung yang telah dibangun Jongin. Ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan gadis itu.
Jongin melihat Sehun melirik padanya, dan ia juga melihat pipi gadis itu menjadi kemerah-merahan karena rasa bersalah. Jongin harus pintar pintar membujuk Sehun agar mau menikmati hari ini bersamanya.
Setelah menutup telepon, Sehun termenung.
"Apakah semua baik baik saja ?" tanya Jongin.
"Ratu selalu penuh pengertian. Beliau sudah seperti ibu kedua bagiku. Beliau bertanya apa aku perlu seorang pemandu untuk melihat lihat Chicago."
"Dan apa jawabanmu?" Kalau Sehun mendapat pemandu yang dicarikan oleh Ratu, orang itu pasti merangkap sebagai pengawal pribadi juga.
"Bahwa aku tidak butuh."
"Kau tidak butuh pemandu dari ratu, atau kau tidak butuh pemandu manapun ? karena aku dengan senang hati akan mengajakmu melihat lihat kota ini."
Sehun terlihat ragu. "Apakah kau tidak harus bekerja?"
"Aku sudah lama sekali tidak pernah libur. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan hari liburku dengan membawamu melihat tempat tempat kesukaanku di Chicago. Bagaimana menurutmu?"
Sehun tertawa dan keraguannya pun hilang. "Kalau begitu, aku harus mandi dan bersiap siap dulu. Kita bertemu dimana ?"
"Sebenarnya ada urusan yang harus kuselesaikan dulu. Apakah malam ini kau mau menonton pertunjukan teater atau mungkin berdansa di club malam ?"
"Dansa?' Sehun terlihat senang, seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah natal.
"Baik, kalau begitu nanti kita pergi dansa. Sekarang kita makan, dan setelah itu kutunggu kau di lobi bawah. Apa setengah jam cukup?"
Mata mereka bertemu dan bertaut.
"Cukup untukku." Jawab Sehun pelan.
Setelah mereka berdua selesai sarapan, Jongin tahu ia harus segera keluar dari kamar hotel ini. Jauh dari Sehun dan ranjangnya, sebelum Jongin mulai bertindak ceroboh dengan mencium Sehun dan menariknya ke tempat tidur.
Namun Sehun begitu memesona, dengan rambut pirang berantakan dan jubah satin yang melekat di badan, memperlihatkan lekuk tubuhnya. Jongin tidak sanggup jauh jauh dari Sehun. beberapa saat kemudian, Jongin menghapus jarak di antara mereka dengan mendekat, mengangkat dagu gadis itu, dan mengecup bibirnya. Ciuman itu seharusnya hanya berupa kecupan sekilas, sebuah kecupan ringan, tapi ketika Jongin mengangkat mukanya, ia mulai terangsang. Untung hari ini mereka akan pergi jalan jalan, kalau mereka bepergian, Jongin bisa menahan diri untuk tidak menarik Sehun dalam pelukannya.
Jongin melangkah mundur. "Setengah jam lagi." Ia mengingatkan dengan mesra. Kemudian Jongin meninggalkan Lady Oh Sehun dengan perasaan lebih hidup dibanding sua tahun belakangan ini.
.
.
.
Pagi hari di bulan Oktober terasa sangat sempurna, saat Sehun muncul di lobi hotel mengenakan setelan celana panjang berwarna hijau daun, sebelah alis Jongin naik, dan ia bertanya apa pakaian seperti itu termasuk baju santai baginya. Dengan serius Sehun membenarkan.
Jongin menggandeng tangan Sehun dan menggodanya. "Sekali sekali kau harus mencoba mengenakan celana jins."
Sopir Jongin mengantar mereka berkeliling kota Chicago dan Sehun sangat terpikat melihat keindahan kota itu. Entah bagaimana, sepanjang pagi itu Sehun bisa menahan diri untuk tidak mencium Sehun lagi, meskipun hal itu selalu ada di benaknya. Belum pernah ia merasa seperti ini, bahkan tidak dengan Kyungsoo sekalipun. Walaupun mereka sudah bertunangan, Jongin selalu lebih bersemangat dengan pekerjaannya. Hari ini Jongin hanya ingin berdekatan dengan Sehun. untuk melihat matanya bersinar saat melihat pemandangan baru dan saat senyumnya mengembang dengan indah di bibirnya. Mungkin ia begitu terpesona pada Sehun karena menyadari waktu mereka sangat terbatas.
Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam ketika sopir menurunkan mereka di club malam yang pernah dikunjungi Jongin beberapa kali. Tempat itu begitu sesak dengan para tamu, sampai mereka tidak mendapat tempat duduk. Ketika Jongin mengajak Sehun ke lantai dansa, beberapa kali mereka ditabrak orang dari berbagai arah. Selain itu, suara musiknya begitu keras, sampai mereka kesulitan mendengar satu sama lain.
Saat pemain band beristirahat, Jongin mendekap Sehun dengan erat dan berbisik ditelinganya. "Ini bukan seperti yang kubayangkan. Aku ingin berbincang denganmu, bukan berteriak-teriak seperti ini. Bagaimana kalau kita ke penthouseku saja?" Jongin menambahkan dengan cepat. "Ada pelayanku disana jadi akan ada pendamping untukmu."
Sehun seperti sedang berpikir, tapi kemudian tersenyum pada Jongin. "Dengan senang hati."
Ketika mereka sampai dibangunan itu, seorang penjaga membukakan pintu masuk untuk mereka. orang itu baru akan menyapa. "Selamat malam Mr..."
Jongin dengan cepat memotong sapaannya. "Selamat malam, Charlie. Bagaimana kabar cucumu?"
"Sekarang sudah berumur tiga minggu, dan ia bayi paling tampan sedunia."
Jongin tertawa lalu membimbing Sehun ke lift pribadi yang membawa mereka langsung ke penthouse milik Jongin.
"Menurutku, hidupmu seperti kalangan bangsawan."
Kata kata gadis itu mengejutkannya. "Bisakah kau mengatakan alasannya?"
Sehun menghitung alasannya dengan jarinya, satu persatu. "kau makan di ruang makan pribadi. Kau punya sopir. Dan kau punya lift pribadi. Jelas, itu tanda tanda kehidupan kaum bangsawan."
Jongin sadar Sehun hanya bercanda, dan iapun tertawa. "Mungkin beberapa orang akan melihat seperti itu. tapi aku tidak punya saudara kembar jahat yang ingin merebut kedudukanku."
"Apakah kau punya saudara laki laki atau perempuan?" tanya Sehun.
"Aku punya saudara laki laki." Jongin tidak akan memberitahu Sehun kalau Taemin adalah saudara kembarnya. "Kami berdua sangat berbeda. Dia bekerja di bidang kontruksi, seorang kontraktor."
Lift berhenti di lantai paling atas. Jongin merasa lega karena mereka sudah tiba dilantainya. Dengan begitu, ia bisa menghentikan percakapan mereka. topik tentang keluarga tidak aman untuk dibicarakan. Sehun bisa saja tahu tentang sosok Wu Jongin lebih banyak dari yang diutarakannya.
Setelah membuka pintu, Jongin mempersilahkan Sehun untuk memasuki penthouse itu terlebih dahulu, dan mencoba untuk melihat tempat tinggalnya melalui mata gadis itu.
Pandangan Sehun menyapu ruang tamu luas yang terletak agak rendah, melihat ruang makan yang terbuka, dengan meja makan dari kaca dan kandelir dari besi. "Kau jarang di rumah ?" tanya Sehun.
"Benar. Ini hanya tempat singgah untuk tidur beberapa jam. Kamar kerjaku yang di ujung lorong suasanya lebih hidup." Jongin menunjuk ke seberang ruang tamu. "bahkan kau mungkin bisa menemukan kertas pembungkus permen karet di atas meja kerjaku."
Jongin membengkokkan jari telunjuknya. "Kemarilah. Ini yang ingin kuperlihatkan padamu."
Saat melangkah ke arah pintu menuju balkon, Jongin menekan tombol pada dinding dan alunan musik yang lembut terdengar dari pengeras suara yang tersembunyi. Setelah pintu terbuka, Jongin mengulurkan tangannya pada Sehun.
Saat gadis itu mengikutinya ke luar, pemandangan Chicago terbentang dihadapan mereka, gedung gedung tinggi, iklan iklan dengan lampu neon. "Sekarang aku mengerti mengapa kau tinggal disini."
"Seharusnya kita tadi pergi ke teater daripada ke club itu." Jongin sedang berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain selain bibr bawah Sehun yang tampak lebih ranum, bulu matanya yang lentik dan kulitnya yang selembut sutra.
Sambil memandang Jongin, Sehun perlahan menjawab. "Kalau begitu, mungkin aku tak akan ada di sini sekarang."
Dari caranya menjawab, Jongin tahu bahwa Sehun memang ingin berada disini bersamanya. "Maukah kau berdansa denganku ?"
Alih-alih menjawab, Sehun malah melangkah mendekati Jongin. Pria itu langsung mendekapnya. Ia sudah menunggu seharian untuk melakukan hal itu, menunggu untuk menempelkan pipinya pada pipi Sehun, menghirup aroma parfumnya, dan merasakan tubuh gadis itu melekat padanya. mereka berdansa seolah sudah sering melakukannya bertahun tahun. Ketika menit demi menit berlalu, dan lampu kota terus bekerlap kerlip di bawah, mereka tidak menyadari kalau lagu sudah berganti. Jongin hanya tahu bahwa detak jantungnya seirama dengan detak jantung Sehun, dan kehangatan di antara mereka begitu kuat, hal itu mampu menghalau dinginnya angin malam.
Perlahan Sehun mengangkat kepalanya dan menatap mata Jongin. "Kau telah memberiku hari yang sangat menyenangkan. Aku akan selalu mengingatnya."
Sehun berbicara seakan akan mereka tidak akan bertemu lagi. Tapi Jongin tahu bahwa melewatkan satu hari saja dengan gadis itu tidaklah cukup. "Kau bilang kau suka lari pagi, tapi kau takut melakukannya disini. Kita bisa lari pagi di Lincoln Park besok pagi jika kau mau."
"Apakah kau tidak harus kembali bekerja?"
"Cuti satu hari lagi tidak akan merugikanku. Lagi pula, hari minggu nanti aku akan pergi berlibur. Aku bisa memulai liburanku lebih cepat dari rencana semula. Apakah jam delapan terlalu pagi?"
Sehun menggeleng. "Jam delapan cukup baik."
Beberapa saat kemudian, Jongin tidak dapat menahan keinginannya untuk mencium Sehun. kedua tangannya naik ke belakang leher Sehun, merasakan kelembutan rambutnya. Rambut gadis itu hari ini tergerai bebas, terasa halus dan lembut. Dalam pelukan Jongin, Sehun mengangkat dagunya. Ia tahu gadis itu juga menginginkan ciuman.
Ciuman pertama mereka begitu menggebu gebu sampai mereka dibuat terpana, tapi kali ini Jongin melakukannya dengan perlahan, membawa mereka dalam kenikmatan. Saat lidah Jongin mengelus bibir bawah Sehun, gadis itu membuka mulutnya. Dengan kerlap kerlip lampu kota dan musik romantis yang melingkupi mereka, Jongin merasa terbius oleh Sehun. Ketika Jongin memperdalam ciumannya, bel peringatan di kepala Jongin terus berdenging.
Sebelum kehilangan kontrol sama sekali, Jongin menarik diri dari Sehun. "Mungkin sebaiknya aku memperkenalkanmu pada pengurus rumah tanggaku."
Flora adalah apa yang mereka butuhkan, seorang pendamping. Lagi pula Jongin ingin membuktikan pada Sehun bahwa ia tidak berbohong padanya, bahwa ia memang benar benar punya seorang pengurus rumah tangga. Walau Jongin tahu dirinya tetap berdusta pada Sehun tentang jati dirinya yang sebenarnya. Tidak, aku tidak berdusta, batinnya cepat. Aku hanya belum memberitahukan namaku yang sebenarnya.
Sepertinya halnya Jongin, Sehun tampak terpana dengan ciuman itu. "Itu ide bagus. Sesudah itu lebih baik aku pulang saja."
Jongin melihat gadis itu merasakan hal yang, keinginan untuk lebih dari sekedar berteman, keinginan untuk melakukan lebih dari sekedar berciuman. Tapi ia tidak akan mengambil keuntungan dari keluguan, kepolosan dan cara Sehun dididik.
.
.
.
Sehun mengagumi kota Chicago, seperti ia mengagumi hal hal lain tentang Amerika, dan lebih kagum lagi pada Kai yang sedang berlari bersamanya. Kai mengenakan celana olahraga pendek yang berwarna hita. Kakinya berbulu kasar dan pahanya kekar berotot. Kaus hitamnya tampak agak longgar dan saat berlari kaus itu memperlihatkan otot otot yang terbentuk bagus, dan Sehun bisa melihat keuatan tubuh pria itu dibalik kausnya. Ia yakin Kai sengaja memperlambat kecepatannya supaya dirinya bisa mengikutinya.
Kai sering mencuri pandang, dan Sehun tidak tahu apakah itu karena baju olahraga ketat berwarna pink yang dikenakannya atau memang karena Kai ingin memandangnya saja. Sehun yakin, ia akan terlihat berantakan pada saat lari pagi ini berkahir. Selalu saja begitu. Ia sudah mengikat rambutnya menjadi ekor kuda, tetapi beberapa helai rambut terlepas dan berjurai di sekeliling wajahnya.
Sehun mencoba untuk fokus pada pernapasannya, alih alih pada Kai dan apapun yang terlintas dalam pikirannya setiap kali ia memandang Kai. Pria itu telah memberinya hari yang sangat indah kemaren, sangat indah. Dan ciuman semalam...
Ciuman pertamanya dengan pria itu telah menggetarkan hatinya dan membuatnya takut. Ciuman mereka semalam telah membuka sebuah pintu, yang memperlihatkan pada Sehun kegairahan yang bisa dinikmati. Itu adalah godaan yang Sehun tahu harus dihindarinya. Semua hala yang telah dipelajarinya, semua petuah ibunya, memperingatkannya bahwa ia sedang menuju bahaya.
"Kau dengar itu?" tanya Kai, yang tiba tiba berhenti.
"Seperti suara binatang." Sehun bisa mendengar suara mendengking pelan dari balik semak semak.
"Aku berani bertaruh, itu pasti suara anjing. Ayo kita lihat."
Setelah menyibak semak semak di depan mereka, Kai membungkuk untuk dapat melihat apa yang berada di baliknya. "Halo, kawan. Apa kau terluka ?"
"Apa itu?" tanya Sehun, sambil ikut berjongkok.
Kai mengulurkan tangan pada binatang itu, yang masih belum terlihat oleh Sehun. "Kami tidak akan menyakitimu. Maukah kau keluar?"
Karena binatang itu hanya duduk diam dan tidak melawan atau menggonggon, dengan lembut Kai menarik anjing itu keluar di bawah terpaan sinar matahari.
Akhirnya Sehun bisa melihatnya. "Alangkah lucunya! Mennurutmu jenisnya apa?"
Anjing itu kecil, berwarna cokelat, seperti warna minuman cokelat hangat, dan sepertinya terlantar, seolah menggelandang sendiri pada hari panas maupun hujan. Bulunya berlepotan lumpur, dan ada daun daun yang menempel, tapi anjing ini terlihat senang saat Kai menggaruk garuk kepalanya. Ia menyalak beberapa kali.
Kai memeriksa seluruh tubuh anjing itu. "Mungkin anjing kampung, mungkin campur dengan beagle. Dia sangat kurus, tapi selain itu tida ada kelainan. Kalau dimandikan semua akan beres." Kai memeriksa lehernya. "Tidak ada kalung atau tanda pengenal lain."
"Akan kita apakan dia?"
"Kita tidak bisa meninggalkan dia di sini. Dia bisa lari ke arah jalan raya, atau bisa saja ada orang yang menyakitinya. Anjing ini butuh makan dan perhatian."
"Tapi kalau anjing ini punya orang lain..."
"Seandainya dia punya cip tanda pengenal yang ditanam dibawah kulit, kita bisa bawa dia ke dokter hewan untuk diperiksa. Kau tidak keberatan? Acara lari pagi kita terpaksa dipotong."
"Tidak masalah dengan lari paginya. Kita harus mengurus anjing ini dulu."
Senyum yang dilontarkan Kai hampir membuat hati Sehun meleleh. "Sepertinya kita berdua sama sama penyayang binatang."
"Ya, sepertinya begitu." Sehun menemukan banyak hal pada diri kai yang disukainya, terlalu banyak.
"Ayo kita cari tahu apa dia punya majikan."
Satu jam kemudian, dokter hewan sudah memeriksa anjing itu dengan teliti dan setuju bahwa anjing itu sehat, hanya perlu dimandikan. Tidak ditemukan adanya cip tanda pengenal dalam tubuhnya dan dokter bertanya apa yang akan dilakukan Kai dengan anjing itu.
"Dia akan ku bawa pulang."
"Kau akan memeliharanya?" tanya Sehun.
"Hanya untuk hari ini. Aku tahu suatu tempat yang baik untuknya. Sementara ini aku akan membersihkan dan memberinya makan."
Mereka kembali ke penthouse milik Kai setengah jam kemudian. Dengan membawa shampo khusus untuk anjing, Kai mengajak Sehun ke kamar mandinya. Kamar mandi itu sangat besar dengan nuansa hitam dan putih. Berdua dengan Kai hanya dengan ditemani seorang anjing kecil membuat hati Sehun berdebar.
Waktu seakan berlalu dengan cepat seirama detakan jantung Sehun.
"Mungkin sebaiknya anjing ini kita beri nama." Ucap Kai. "Ada saran?"
"Bagaimana kalau kita beri nama Monggu?"
"Bagus sekali."
Tanpa menyadari ia sekarang sudah punya nama, Monggu meletakkan kakinya di pinggir bak mandi untuk melongok ke dalam airnya. Sehun melirik pada Kai. Ternyata Kai tidak memperhatikan Monggu, pria itu sedang mengawasi dirinya.
Tatapannya membuat Sehun merasa terhipnotis, dan ketika suaranya melembut, muncul kesadaran di antara mereka. "Terima kasih kau sudah begitu pengertian dengan hal ini, mungkin ini bukan apa yang kau bayangkan untuk hari ini."
Suara Kai yang mesra dan tatapannya yang memancarkan gairah, membuat Sehun merasa sulit bernapas, panas dingin, sekaligus bersemangat. "Aku menikmatinya, dan tak ada yang lebih menyenangkan dari pada menyelamatkan seekor anjing kecil."
Monggu kemudian menyalak, dan Kai mengangkatnya lalu memasukkannya ke bak mandi. Anjing kecil itu terlihat kaget sebentar dan menyalak lagi. Kai menyiramnya dengan air, sementara Sehun menuangkan shampo ke tangannya.
Beberapa menit kemudian, setelah disabuni dan dibilas, Monggu mengibaskan tubuhnya untuk mengeringkan air dari bulu bulunya. Kai dan Sehun tertawa dan lagi lagi menikmati kebersamaan satu sama lain. Sehun belum pernah merasa sedekat ini dengan seorang pria selain ayahnya.
Setelah mengeringkan Monggu, Kai berkata. "Ayo kita ke dapur dan lihat Flora sedang masak apa untuk makan siang ini?"
Monggu melepaskan diri dari tangan Sehun dan cepat cepat berlari menuju lorong. "Apa kau akan membiarkan dia bebas berlari lari?" tanya Sehun, khawatir dengan perabotan mahal milik Kai.
"Tentu saja. Dia sudah bersih. Tidak ada yang bisa dia rusak."
"Katamu kau punya tempat tinggal yang cocok untuknya. Dimana?"
Ketika Kai bangkit dan mengumpulkan handuk handuk basah, ia terdiam sesaat. "Tempatnya bernama Reunion House. Waktu aku dan saudaraku masih kecil, orang tua kami bercerai. Aku tinggal bersama ayahku, saudaraku ikut bersama ibuku pindah ke kota lain. Kami berdua bukan hanya kehilangan salah satu orang tua kami, tapi kami juga kehilangan satu sama lain."
"Oh Kai, aku ikut bersedih."
Kai hanya mengangkat bahu. "Kami tetap bisa bertemu selama sebulan, setiap musim panas, dirumah tempat keluarga kami dulu tinggal, rumah itu terletak di tepi danau, sekitar setengah jam dari sini. Dua tahun lalu aku membeli lahan di sebelahnya, merenovasi rumah tua itu, dan memberinya nama Reunion House. Rumah itu untuk anak anak asuh yang terpisah dari saudara kandungnya. Yang perlu mereka lakukan hanya mendaftarkan diri, dan mereka bebas datang kapan saja, serta boleh tinggal bersama sama selama beberapa hari sampai dua minggu."
"Proyek ini sangat berarti bagimu bukan?"
"Memang. Apalagi melihat senyum di wajah anak anak itu, saat mereka menghabiskan waktu bersama. Aku akan pergi ke sana minggu depan untuk berlibur."
Kata kata Kai mengingatkan Sehun bahwa mereka tidak akan bertemu lagi. Kai memiliki rencananya sendiri dan Sehun... masih harus menunggu kedatangan Wu Jongin kembali dari melanglang buananya.
Saat melangkah keluar dari kamar mandi, kai menoleh dan bertanya. "Kau ingin mengajak Monggu berjalan jalan setelah makan siang?"
Seharusnya Sehun menghentikan petualangan ini sekarang juga. Perasaannya pada Kai semakin mendalam, dan semakin lama mereka menghabiskan waktu bersama sama, akan semakin sulit untuk mengucapkan perpisahan. "Mungkin sebaiknya aku pergi sekarang."
Kai berhenti melangkah di pintu masuk. "Apa memang harus?" mata hijaunya tampak lebih gelap dan penuh tanda tanya. Diraihnya tangan Sehun, menariknya lebih dekat, dan membawanya ke bibirnya, mencium jari telunjuknya, menyentuhnya dengan sensual dengan lidahnya.
Sehun hampir terengah-engah karena merasa nikmat, dan ia tahu bahwa ia akan menghabiskan setiap menit bersama Kai, tak peduli apa akibatnya.
"Ayo kita makan siang lalu mengajak Monggu jalan jalan." Bisik Sehun.
.
.
.
.
.
TBC
Ada yang masih ingin ini dilanjut. Mohon reviewnya ya karena ff ini ga bakal makan banyak chapter alias pendek...
#Syakila.W
