Trap

Hai semua.. kembali lagi dengan chap 2 yang akan menjelaskan beberapa pertanyaan Minna-san, Arigato atas apresiasi dan beberapa saran dari Minna-san. Review,Favorite,Saran dan segala macam bentuk apresiasi itu sangat saya hargai dan terima dengan lapang hati.

Naruto dkk, Masashi Kishimoto

Warning : Typo(S),OOC dan sebagainya

Pair : Sasuhina

Rate : T

Sasuke POV

"Pergi kau dari sini" Ujar gadis itu kepadaku.

Aku tidak tinggal diam dan mencoba untuk mendekatinya, saat kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 12 tepat aku segera berbalik dan meninggalkan kediaman wanita Hyuuga itu.

Aku menaiki lamborghini milikku dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, rapat hari ini cukup penting untuk Uchiha Corp. Aku mengusap kasar wajahku yang masih basah akan teh hijau, selama ini tidak ada yang pernah menolakku. Aku sudah berbaik hati untuk bertanggung jawab, tapi balasan wanita itu sungguh membuatku ingin segera menghabisinya.

"Shit! Dia fikir siapa dia?"

Aku memukul setir ku dengan kasar dan terus melajukan mobil ini, di depan sana aku sudah melihat beberapa orang menungguku disana. Aku memarkirkan mobilku sembarang dan turun dari mobilku, aku menolak tawaran untuk memindahkan mobilku dari tempatnya. Aku berjalan lurus menuju lift, setelah sampai di pintu lift aku segera masuk sedangkan beberapa karyawan yang awalnya hendak masuk menunggu di luar lift sambil membungkukkan tubuhnya 90 derajat.

Aku terus memikirkan kejadian tadi, seorang Hyuuga meremahkan dan menolak sebuah hadiah dariku. Memangnya dia siapa?, kalau bukan karena perjodohan yang tidak kuiinginkan itu aku tidak akan mendatanginya. Saat lampu lift berwarna hijau dan menunjukkan angka 12 , pintu lift segera terbuka dan menampakkan beberapa orang yang sudah menungguku di sana.

"Selamat datang Sasuke-sama"

Ucap semua yang ada di sana serempak sembari mempersilahkan aku memasuki ruang rapat di sana. Saat pintu mahoni besar itu terbuka, aku melihat dengan jelas wajah ayahku yang terlihat datar tetapi sangat menyeramkan yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Aku juga melihat dengan jelas seorang wanita yang sangat kucintai berdiri di sebelah ayahku, dia adalah malaikat pelindungku.

"Duduk"

Semua yang berada di dalam ruangan ini segera duduk mendapat perintah tegas ayahku, begitu juga dengan diriku yang ikut duduk. Untung saja meja ini mempunyai panjang sekitar 10 meter lebih, sehingga aku tidak berhadapan langsung dengan ayahku.

...

Rapat berlangsung selam dua jam lebih yang membuatku cukup bosan tadi, sekarang aku tengah berdiri di balkon ruang rapat dan menatap pemandangan kota yang cukup padat saat ini. Aku menghela nafas sejenak, gadis Hyuuga itu terus memenuhi fikiranku saat ini. Sampai aku tidak menyadari saat seseorang memeluk pinggangku dari belakang. Awalnya aku mengira malaikatku yang memelukku erat, tapi saat aku berbalik aku melihat seorang gadis surai pink yang tengah mengenakan kimono.

"Lepaskan!"

Aku mendorong tubuhnya hingga terjatuh dan mengenai lantai balkon yang dingin itu. Aku tidak pernah sedikit pun menyukai gadis yang dijodohkan dengan diriku ini. Karena kuanggap dia sama saja seperti wanita di luar sana, yang tidak selalu membuatku muak.

"Sasuke-kun, kenapa-"

"Hentikan panggilan itu! Aku sudah memiliki seorang calon istri dan perjodohan kita akan segera di batalkan!"

Aku melihat dengan jelas wajah gadis itu berubah menjadi kusut dan matanya yang berkaca-kaca. Aku tidak ingin melihat semua ini, sehingga aku segera melangkahkan kakiku cepat meninggalkannya sendiri di sana.

Langkahku terhenti seketika saat membuka pintu dan mendapati ayahku sudah menunggu di seakan menayakan dimana keberadaan Sakura kepadaku, aku terus berusaha santai saat dia berhadapan langsung denganku.

"Pernikahanmu akan di adakan minggu ini suka atau tidak!"

"Tapi-"

Belum sempat menyelesaikan seluruh dari kalimatku, Fugaku Uchiha itu melayangkan death glare miliknya padaku. Aku baru ingin melontarkan beberapa kata kasarku padanya sebelum malaikatku lah yang angkat bicara.

"Anata, Sasuke sudah mempunyai calon yang lain bukan?"

"Tentu saja ibu, bahkan aku sangat mencintainya"

Ayahku diam sesaat sebelum memerintahkanku membawa gadis itu ke hadapannya besok malam. Aku hanya menganggukan sedikit kepalaku dan segera berlalu dari hadapan ayah dan ibuku.

.

Hari sudah mulai senja, sang raja matahari mulai enggan menunjukkan dirinya saat ini. Dimana aku harus mencari gadis yang bernama Hinata itu? Aku cukup terkejut mendengar penjelasan dari Hikari. Wanita paruh baya itu menjelaskan Hinata telah di usir dari rumah karena suatu hal yang tidak bisa di jelaskannya padaku.

Baru saja aku keluar dari rumah Hinata, aku berpapasan dengan seorang gadis yang bersurai pirang pucar yang hendak menemui Hikari di sebelahku.

"Bibi , Neji-nii menghubungiku dan Hinata sekarang bersamanya ja-"

Belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, aku menarik pergelangan tangannya dan membawa dirinya masuk ke dalam mobilku. Aku duduk di kursi pengemudi dan segera melajukan mobilku , gadis yang tidak kuketahui namanya itu hanya memandang wajahku dengan raut ketakutakutan.

"Dimana Hinata?"

Aku melontarkan kata-kata itu yang membuatnya terlihat sedikit lega, dengan gagu gadis itu menjawab pertanyaaanku.

"Di..a,di a..par...termen-"

"Dimana apartermennya? Beritahu aku!"

"Siapa kau, Apa urusanmu?!"Ujar gadis itu dengan berani.

"Urusanku? Kau akan tahu jika kau mengantarkanku sekarang"

Setelah berdebat lama, akhirnya Ino luluh dan memberitahuku dimana Hinata berada. Setelah mendapat informasi yang cukup, aku memutar balik lamborghiniku dan mengantarkan Ino ke depan rumah Hinata.

Sasuke POV end

.

Pagi hari yang cerah serta kicauan burung yang hinggap di balkon kamar Neji enggan membangunkan Hinata dari tidurnya. Hinata belum terbangun meski gemerecik air dari kamar mandi, Neji yang baru selesai mengenakan pakaian serba putih keluar dari kamar mandi dan mendekati Hinata.

"Hinata.., bangunlah aku harus pergi"

Hinata membuka pelupuk matanya dengan perlahan, sesekali dia mengerjapkan matanya dan memandang Neji yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Hinata memandang Neji dengan tatapan senang. Hinata segera beranjak dari tempat tidur dan mendekati Neji, Hinata memeluk sayang Neji dari belakang sebelum meninggalkan Neji di kamar itu.

"Kakak tersayangku" Batin Hinata.

Hinata menyiapkan sarapan pagi ini, dia hanya memasak sup jagung dan beberapa sushibuatan rumahan, secara tidak sadar Hinata menangis dalam diam karena banyaknya aral melintang hidupnya. Hinata berfikir betapa besar kepalanya sampai tidak menerima tawaran laki-laki itu, Hinata merasa bodoh akan semua ini dan membenci dirinya sendiri. Kenapa hidup Hinata tidak bisa seperti di dongeng? Hinata selalu berfikir bahwa dirinya akan menjadi seorang seperti Cinderella karena semua keuletannya.

Dor!

Neji menepuk bahu Hinata pelan tetapi dengan suara yang cukup mengejutkan Hinata, Neji yang melihat bulir air di pipi Hinata segera menghapus dengan lembut air itu dari pipi putih Hinata. Neji juga mempersilahkan Hinata lebih dulu di meja makan, sedangkan dia mengambil makanan yang sudah siap itu dan menaruh semuanya di atas meja. Hinata kembali mendapatkan kembali senyuman dan kebahagiaannya kala Neji berusaha menyuapinya dengan gaya kereta api .

"Buka mulutmu gadis kecil"

"Neji-nii, aku bisa sendiri" Ujar Hinata sembari mengambil sendok yang di tangan Neji.

"Enak tidak sup buatanmu?" Tanya Neji saat melihat Hinata menelan sup jagungnya.

Hinata hanya menjawab dengan anggukan kecil dan segera mengambil mangkuk yang sudah berkurang satu sendok sup, Hinata juga mengambil beberapasushibuatannya. Neji yang melihat terpancarnya kebahaagiaan dari lavender Hinata ikut menghabiskan sarapan pagi ini dengan semangat. Selepas menyelesaikan sarapan, Neji segera berdiri dan mencium kepala Hinata sebelum dia mengambil jasnya.

"Kau tidak ingin mengantarku?" Ujar Neji berhenti berjalan dan berbalik menatap Hinata.

Hinata menyunggingkan senyuman dan berjalan menghampiri Neji di sana. Hinata segera menautkan tangannya pada Neji dan menaruh jari telunjuknya di jas dokter milik kakaknya itu.

"Apa?" Ujar Neji langsung menangkap maksud Hinata.

"Em, boleh tidak aku titip coklat jika kau sudah pulang nanti?" Balas Hinata singkat.

Neji hanya menghela nafas pelan , lalu menganggukan kepalanya sebelum meninggalkan pintu apartermen itu. Hinata melambaikan tangannya pelan kearah Neji yang sedang berjalan ke arah lift. Setelah itu, Hinata segera menutup pintu itu dan berjalan ke arah dapur untuk membereskan beberapa pekerjaaan.

"Huft.., akhirnya selesai juga" Ujar Hinata segera membaringkan tubuhnya di atas sofa depan ruang tamu.

Hinata mengambil remot tv di atas meja dan bingkai foto kemarin, Ia melihat wajahnya di foto itu sangat bahagia yang membuatnya mendadak menjadi sedih. Hinata mencoba meraih ingatan masa lalunya, saat dirinya benar-benar dekat dengan Neji dan ayahnya masih sangat peduli padanya.

Ting Tung

Hinata melihat jam dinding yang berada di atas tv, disana pukul 16:00 sore hari. Hinata dengan semangat berlari ke arah pintu dan membuka pintu itu.

"Neji-"

Mata Hinata membelalak dan jantungnya berdebar kencang , dia mendapati seorang laki-laki yang beberapa hari ini mengganggu fikirannya. Laki-laki itu mendorong tubuh Hinata dan segera menutup pintu itu dari dalam. Hinata segera menjauh dan mengarahkan remot tv yang sedari di pegangnya kepada laki-laki itu.

"Uchiha Sasuke, aku tidak akan datang dan menjemputmu lagi jika kau tidak ikut sekarang" Ujar Sasuke santai.

"Tidak datang lagi?" Batin Hinata.

"Kesempatan hanya datang dua kali untukmu, selebihnya tidak" Tambah Sasuke.

"Benar, tapi apa dia orang baik? Uchiha? Itu nama sebuah perusahaan terkenal bukan?" Batin Hinata bimbang.

.

.

Hinata kini di dalam sebuah mobil yang sangat mewah dan berkelas, tapi di benak Hinata semua ini terasa sangat menyeramkan karena laki-laki yang duduk di sebelahnya saat ini. Hinata akhirnya mau ikut dengan Sasuke, setelah membuat beberapa kesepakatan selama satu jam .

"Aku ha-mil" Ujar Hinata gagu.

"Aku akan menceraikanmu setelah anak itu lahir" Balas Sasuke tak acuh.

Hinata merasa bimbang, di satu sisi dia merasa terselamatkan dari sebuah aib dan sisi lainnya dia seperti tidak punya muka untuk bertemu Neji lagi. Hinata meninggalkan sepucuk surat di atas tempat tidur Neji sebelum dia pergi .

"Kita akan pergi ke boutique terlebih dulu" Ujar Sasuke mencairkan suasana tegang di mobil ini.

"I-ya" Balas Hinata.

Setelah sampai di sebuah boutique , Hinata segera di bawa oleh seorang pelayan di sana untuk segera mengenakan pakaian yang telah di pesan Sasuke.

Sasuke mengarahkan onyx-nya pada Louis Moinet Magistralis miliknya, pukul 18:15 dia pasti sudah cukup terlambat. Saat pintu kamar ganti terbuka, onyx Sasuke segera terarah pada penampilan Hinata. Sekarang penampilannya berubah 180 derajat dengan mini dress bahan sifon berwarna putih itu dan dengan sdikit riasan pada wajah cantik Hinata.

Sasuke segera berdiri dan menghampiri Hinata, setelah itu dia memberi pelayan itu tip di tambah dengan sebuah death glare. Pelayan itu segera membungkuk dan meniggalkan Sasuke bersama Hinata di sana.

"Ayo, kita sudah terlambat" Ujar Sasuke segera menarik pergelangan tangan Hinata kasar.

Hinata sedikit meringis dan terus mengikuti langkah kaki Sasuke, sulit memang dengan high heel ini Hinata harus berjalan cepat. Hinata tidak berani menolak atau mengeluarkan sepatah ucapan pun, Hinata terlalu segan dengan Sasuke.

.

.

Sesampainya di Mansoin Uchiha, Sasuke membukakan pintu untuk Hinata dan mempersilahkannya untuk turun. Disana terlihat jelas beberapa bodyguard bertubuh besar menjaga keamanan seluruh sudut ruangan di Mansion ini. Sedari tadi Hinata hanya berusaha bersikap normal dan mengikuti langkah Sasuke yang cukup cepat. Hinata berusaha melepaskan pegangan tangan Sasuke pada pinggangnya saat ini, Sasuke mendelik ke arah permata milik Hinata.

"Em, di tangan saja" Ujar Hinata ragu.

Sasuke menggelengkan kepalanya dan tetap memeluk pinggang Hinata. Sesampainya di lantai ketiga, Sasuke di sambut oleh beberapa maid dan beberapa dari mereka menahan pintu lift untuk tetap terbuka.

Sasuke hanya melalui semua maid itu dengan wajah datar, berbeda jauh dengan Hinata yang menghiasi wajahnya dengan seribu senyuman. Sasuke semakin mengeratkan tangannya pada Hinata saat maid membukakan pintu ruang makan. Disana Sasuke melihat dengan jelas wajah malaikatnya, Mikoto yang segera menyambut Hinata dan dirinya.

"Menantu, kau datang juga"

"I-ya"

"Panggil ibu, besok kau akan resmi menjadi istri Sasuke"

Hinata membuka lebar llavendernya mendengar penuturan bahagia ibu Sasuke itu. Setelah itu, Sasuke segera mempersilahkan Hinata untuk duduk di sebelahnya. Hinata segera duduk dengan sopan di sebelah Sasuke, dia sedikit gugup saat ini. Karena ini, kali pertamanya dia makan malam bersama keluarga seorang lelaki ditambah lagi dia berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya.

Fugaku yang menangkap keraguan pada Hinata segera melontarkan beberap pertanyaan padanya.

"Siapa namamu?"

"Umurmu?"

"Keluargamu?"

"Bagaimana kau bisa bertemu Sasuke?"

Dengan susah payah Hinata menyembunyikan kecemasan dirinya, Hinata berusaha tenang dan menjawab pertanyaan Fugaku.

"Namaku Hyuuga Hinata-"

"Umurnya 17 tahun, dia dari keluarga terpandang dan sejahterah. Kami bertemu secara tidak sengaja dan saling jatuh cinta" Potong Sasuke.

"Berapa lama kalian menjalin hubungan?" Tambah Fugaku.

"Tidak lama, tapi dia tengah mengandung darah dagingku" Balas Sasuke tenang.

Fugaku segera terperangah dan berhenti melemparkan pertanyaan pada Hinata, sedangkan Mikoto yang mendengar penjelasan putranya itu segera mengembangkan senyuman yang sangat bahagia.

"Makan yang banyak Hinata sayang.." Ujar Mikoto sembari meletakan beberapa makanan pada piring Hinata yang masih bersih.

"Aku menang" Batin Sasuke.

.

Hinata POV

Pagi ini aku telah bangun dan siap dengan gaun pengantin putih yang telah kukenakan, aku menatap pantulan diriku di cermin dengan tersenyum. Hari ini adalah pernikahanku, dulunya aku berharap akan menikah dengan seorang laki-laki yang kucintai dan sebagainya. Tapi semua itu jauh dari ekspetasiku, paling tidak sekarang keluargaku tidak akan merasa malu untuk mengakuiku.

Aku berdiri dari depan meja rias ini, aku melangkah perlahan ke arah balkon kamar Sasuke. Aku melihat di lapangan hijau bawah sana sudah cukup ramai, kulihat semua persiapannya akan segera selesai karena upacara pernikahan akan di laksanakan pada pukul 08:00. Tenang sekarang baru jam delapan tepat, apa? Ini sudah waktunya untuk turun.

"Hinata!" Ujar Sasuke setelah mendorong kasar pintu mahoni itu.

Aku lupa, aku segera melangkah secepat yang aku bisa ke arah Sasuke yang menunggu di pintu itu. Tapi langkahku sangat pelan, karena gaun ini sangat berat dengan seluruh berlian yang menghiasinya.

"Shit!" Ujar Sasuke segera berjalan cepat ke arahku.

Tidak, apa dia akan memarahiku?memukulku?atau bahkan Menendangku?. Aku menutup pelupuk mataku takut.

Syuuut...

Semua perkiraanku salah, Sasuke segera mengangkat tubuhku ala bridal style. Saat ini lavenderku melihat langsung onyxnya yang sekelam malam itu. Sasuke mendekatkan wajahnya dengan wajahku-

Teng...teng..tenng.. teng

Bunyi lonceng itu sukses menyadarkan Sasuke dan membuatnya segera berjalan cepat sambil terus mengangkat tubuhku ini. Oh Kami-sama, kenapa jantungku berdegup sangat kencang melihat laki-laki ini?. Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya, tapi apa ini? Aku melihat dengan jelas wajah tampannya yang menunjukkan raut wajah yang sangat kokoh.

Tanpa kusadari, Sasuke sudah membawaku berada tepat di hadapan pendeta dan perlahan dia menurunkan diriku. Pendeta itu mulai menuntun Sasuke untuk mengucapkan janji suci pernikahan, apa ini tidak salah? Mempermainkan sebuah pernikahan?. Semuanya berlalu sangat cepat, kini aku dan Sasuke sudah bersanding berdua dengan masing-masing dari kami memakaikan cincin berlian.

Setelah itu, tidak kusangka seorang gadis kecil yang tak lain adalah adikku Hanabi membawakan sebucket bunga berwarna ungu. Aku mengerti apa ini, aku banyak melihat di acara pernikahan kakak saudaraku . Aku dan Sasuke berjalan pelan ke atas podium untuk melemparkan bunga ini. Sayang , itulah fikirku bunga ini sangat cantik danaku sangat suka.

"Pada hitungan ketiga lemparkan bunga itu" Ujar pembawa acara wanita itu.

"Satu.."

"Dua.."

"Tiga!"

Pada hitungan ketiga , aku dan Sasuke segera melemparkan bunga itu ke belakang. Saat aku berbalik, aku melihat semua yang menunggu disana memperebutkan bucket bunga itu. Secara tidak sadar aku tertawa kecil dan menepuk pelan bahu Sasuke, aku segera berhenti tertawa saat aku melihat ekspresi wajah Sasuke tetap datar saja. Aku yang salah atau dia?Entahlah.

Sasuke mengaitkan tanganku tiba-tiba dan berjalan di atas karpet merah yang sepertinya sengaja di siapkan untuk perjalanan kami menuju mobil pengantin. Aku berjalan perlahan dengan senyuman yang tak luput dari wajah ini, aku melihat Hanabi,Ino, Ibu bahkan ayahku hadir dan memandangiku saat ini. Aku melihat di depan sana,seorang wanita membawa sebuah tongkat bisbol dan berada persis di sebelah mobil pengantin.

Brakk

Wanita bersurai pink itu berusaha memukul Sasuke, tapi aku menghalaunya dengan diriku sendiri. Aku melihat dengan jelas gaun putihku kini berubah menjadi berwarna merah segar. Tongkat itu mengenai perutku, sakit rasanya-

"Bayi-"

Hinata POV end

TBC

Review, Favorite dan Follow ya..

Akan lanjut secepatnya

Maura Raira: Saya tidak tahu hehehe, Makasih Reviewnya

Sasuhina 69: Hehe makasih sarannya ya.., tenang Hinata kan menyayangi Neji seperti sodara Makasih Reviewnya...

ana : Iya juga sih.., tapi ini dibuat supaya anti mainstream aja hehe,Makasih Reviewnya...

chefty: Semoga aja ya..., hehe Makasih Reviewnya

clareon : neji diusir gara2 suka ama hinata? Bukanlah hehe, neji memang bisa alay wkwkwkwkwk, Makasih Reviewnya

mikyu : Mungkin Sasuke lagi *poop hehe, Makasih Reviewnya

Jojo Ayuni : Ini udah lanjut.., Makasih Reviewnya

Nadeshiko Padmini : Jangan permen napa? Coklat kek hehe, udah lanjut Makasih Reviewnya

ana alay : Mungkin penjelasan lebih jelasnya di chap selanjutnya ya...,Makasih Reviewnya

guest : Sasuke bukannya udah tau Hinata hamil, tapi emang ada perlu sama Hinata hehe,Makasih Reviewnya

Morijin : Makasih sarannya ya..., di chap ini mudah2an bisa jelasin kenapa Hinata kek gitu hehe,Makasih Reviewnya

nishlchan : Semoga udaah agak jelas ya di chap ini, hehe Makasih Reviewnya

.777: NejiHina? Entar di fikir lagi ya mau dibuat kek mana hehe,Makasih Reviewnya