Pemuda itu, pemuda yang memakai seragam berbeda daripada semua murid disini masih melangkah tenang. Sama sekali tidak memperdulikan tatapan penuh penasaran yang dilayangkan oleh sebagian siswa – siswi yang berada di koridor padanya.
―Oh, masih ada lima menit sebelum jam pelajaran pertama, memang.
Dia, Kyuhyun, hanya mendengus. Salahkan juga Cho Heechul yang sama sekali tidak menyiapkan seragam baru untuknya disini. Menyebabkan sang Cho bungsu ini masih memakai seragam sekolahnya di Akihabara sana. Dia memutar bola mata bosan saat satu lagi tatapan penasaran dengan jari yang tertunjuk-tanpa-tahu-sopan dilayangkan padanya. Memutuskankan hanya berjalan lurus pada tangga di depan yang akan membawanya ke lantai dua.
Berbeda dengan koridor lantai satu yang ramai, suasana sepi segera menyambut sang pecinta game saat kakinya selesai menapaki puluhan anak tangga tadi. Yeah.. dua detik lalu bel sudah berbunyi, wajar jika koridor ini sepi―
"Oh, Ya ampun…" si pemuda kembali mengeluh. Menatap penuh cemooh pada pemandangan tak senonoh yang langsung tertangkap retina matanya segera saat menatap ke depan tadi.
Pemandangan erotis dua murid yang lebih terlihat tengah memakan wajah masing – masing dengan bersandar di salah satu dinding koridor. Ya, kalian tidak salah baca, koridor sekolah, cetak tebal dan garis bawahi itu.
"Fuckin' shit. Semua yang ada disini benar – benar gila." Umpatnya sekarang. Kyuhyun tidak akan mempermasalahkan jika dua orang bodoh itu melakukan apapun di kamar mandi, atau dimana pun asal matanya tidak perlu melihat bagaimana tangan si pemuda mulai marambat naik dan bermain di dada sang gadis.
Demi StarCraft-nya yang berharga, dia baru saja beranjak keluar dari Headmaster's room sepuluh menit, dan langsung disuguhi dengan pemandangan seperti ini. Lalu apa yang akan dia lihat dua tahun kedepan, huh? Satu pasangan yang tengah having sex di lapangan?
"Menjijikan." desisnya lagi. Kyuhyun bukannya sok suci, sungguh. Dia hanya tidak terlalu suka dengan dunia seperti itu. Jangankan pergi ke klub malam, menonton blue film saja dia tak minat. Hah.. game dan road racing jauh lebih menarik hasrat remajanya melambung.
Menarik napas panjang sekali, pemuda tinggi itu memutuskan kembali melangkah. Dengan sengaja mengeraskan bunyi sepatunya yang beradu dengan lantai, dan tak lupa mempercepat jalannya. Berharap jika dia tidak akan menemui pemadangan serupa di koridor yang lain.
"Ngghh… Sungmin oppa~"
Desah lirih sang siswi yang tertangkap telinganya itu mau tak mau membuat Kyuhyun mengangkat kepalanya yang tertunduk. Obsidian kelamnya langsung menangkap bagaimana sosok yang dipanggil 'Sungmin oppa' itu mengangkat kepalanya kini. Sosok mungil berambut pirang platinum yang tengah menyeringai menggoda pada sang gadis di rengkuhan.
"Sungmin? Dakara.. kore wa Lee Sungmin desu ka?"
Gumam reflex Kyuhyun ―yang tidak dimaksudkannya untuk didengar oleh si empunya nama, rupanya membawa dampak lain. Dua orang yang sedari tadi bercumbu disana mulai sadar dengan kehadirannya. Membuatnya langsung bertatap mata dengan sang pemuda yang begitu fenomenal di antero Saint.
God, itu mata sewarna hazel yang ―harus diakui Kyuhyun, sangat indah. Bening, dan ―penuh daya magis. Such a magical eyes, serious.
.
―Club No. 1―
.
Yaoi | KyuMin [always belongs to each others] | Chaptered |NaughtyKyuMin | Mature Contents | Rated M | Romance, Drama | Lee Brothers 3 | AU! School Life
.
Scene Two
.
Kepindahannya kembali ke Korea membuat Kyuhyun menemukan banyak hal baru. Dari mulai sekolahan beraturan aneh milik keluarganya, hingga si manis Lee Sungmin yang terlihat liar dibanding wajahnya. "It's not school, there's just Club No. 1"
.
Kelas itu sudah tenang, sunyi dan sangat siap untuk menerima pelajaran pertama. Seongsaengnim di depan sana mengangguk puas saat melihat bagaimana masing – masing muridnya telah duduk dengan buka terbuka di depannya. Mengamati setiap atribut yang mereka kenakan satu persatu dan―
"Lee Sungmin-sshi?"
―menemukan fakta bahwa si jenius yang duduk di pojok samping jendela melupakan dasi merah gelap bergaris hitam yang harusnya tergantung di dadanya.
"Ne, Seongsaengnim?" Dia ―sang pemilik nama, mengalihkan perhatiannya dari pemandangan hijau kebun depan Saint. Ganti menatap penuh tanya pada Han Seongsaengnim yang membalasnya dengan satu tatap penuh tegur.
"Dimana dasimu?"
"Ahh," Sungmin sontak meraba dadanya. Langsung mengumpat dalam hati saat sadar bahwa kain panjang itu belum tergantung disana. "Sepertinya tertinggal di mobil, Seongsaengnim. Mianhanda."
Seongsaengnim paruh baya yang berwajah keibuan itu menghela napas sejenak. Bangkit berdiri dari duduknya dan kembali berujar. "Kemarilah."
Sungmin patuh, segera berdiri dari tempatnya dan berjalan diiringi tatap penasaran seluruh penghuni kelas. Tentu mereka tahu jika pemuda berambut pirang itu tipe pemberontak yang jalan pikirannya sulit ditebak. Dia mungkin saja bisa ramah setiap saat, tapi juga jangan heran jika kau menemukan Lee Sungmin yang dingin dan kasar bak batu karang. Karena itu, kira – kira drama macam apa yang akan mereka tonton di pagi ini?
Sang guru segera meraih kerah seragam muridnya begitu pemuda itu sampai di depannya. Merapikan lipatan seragam lengan panjang yang mirip kemeja para eksekutif muda ―tentu saja hal itu merupakan desain pilihan sang Headmaster yang ingin murid – muridnya tampil layaknya businessman dan businesswoman di hari senin― dan menepuk sayang pipinya sekilas.
"Kau akan semakin tampan jika memakai dasimu. Jadi sekarang, lebih baik kau ambil jas mu dan keluar dari kelasku. Kau boleh kembali masuk saat aku sudah melihat atributmu lengkap, mengerti sayang?"
Sungmin menatap datar sang guru yang balas menatap angkuh padanya ―sama sekali tak segan pada sang murid yang merupakan bintang sekolah paling liar ini. Mendecih pelan sebelum akhirnya mengangguk, "Arrasseo seongsaengnim,"
Dia mengambil jasnya cepat dan membungkuk hormat pada sang guru di depan, kemudian. "saya permisi."
Pemuda tampan itu menutup pintu di belakangnya kesal. Sial sekali dia hari ini, dari mulai mimpi buruk yang menemani tadi malam, hingga sekarang diusir secara halus dari kelas guru matematika yang luar biasa disiplin itu. Sungmin mendecih, memakai jas merah tuanya asal ―yang sangat serasi dengan celana berwarna krem yang dikenakan― dan melangkah pergi.
Sama sekali tidak berniat untuk mengambil dasinya yang sebenarnya entah dimana.
Lee Brothers sulung itu baru sepuluh langkah dari kelasnya saat dirasakannya satu tangan mungil menarik jasnya lembut. Memaksanya berbalik dari tangga ke lantai tiga yang sudah di depan mata.
"Yeonhee-ya?"
Sang gadis yang disebut namanya tersenyum cerah, "Oppa masih ingat aku?"
Sungmin mengulum senyum ramah ―yang lebih terlihat seperti seringai sexy seorang pemburu. Yeah, mainan baru untuk pagi yang suram.
"Tentu saja aku masih mengingatmu, sayang." Sahutnya lembut, langsung berbalik dan memutuskan bersandar di dinding samping tangga. "Buktinya tadi aku menyebut namamu, bukan?"
Yeonhee bertepuk tangan riang, tersenyum makin ceria saat Sungmin mengulurkan sebelah tangan ke arahnya. "Aku kira oppa sudah lupa padaku, kau jarang menyapaku sekarang, Min oppa~"
Dia menerima tangan Sungmin sekarang. Langsung disambut oleh ciuman hangat di punggung tangan dari sang pemuda ―menyebabkan rona merah cantik segera menyebar di pipi putih gadisnya.
"Aku tidak mungkin melupakan gadis secantik kau, sayang." Gumamnya yakin, pemuda itu tidak menolak saat Yeonhee mulai menaruh tangannya di pundaknya, hingga berakhir dengan dua lengan sang gadis yang melingkari erat lehernya. "Lagipula, kenapa kau ada disini? Bukankah kelas masih berlangsung sekarang?"
Yeonhee tersenyum manis, makin mendekatkan tubuh pada siswa tampan yang menjadi pujaan hati di Saint itu. "Aku tadi harusnya mau ke atas untuk mencari buku, tapi aku lihat Min oppa disini. Oppa sendiri sedang apa?"
Sungmin menarik napas kesal ―mau tak mau teringat kembali dengan alasannya berkeliaran di koridor, "Diusir Han Seongsaengnim karena dasiku yang entah dimana."
"Ughh~ padahal oppa lebih keren tanpa dasi," komentar Yeonhee. Tangannya kini merambat pada kerah kemeja putih Sungmin yang terkancing asal, meraba dada bidang yang tercetak dari balik kemeja itu. "Apalagi kalau semua kancing ini terbuka, dasi itu hanya merusak pemandangan, oppaya~"
"Kenapa kau jadi nakal, cantik?"
"Oppa yang mengajariku, ingat―"
Tanpa menunggu si gadis menyelesaikan ucapannya, Sungmin langsung bertindak cepat sekarang. Membalik posisi mereka hingga kini Yeonhee yang bersandar di dinding. "Ughh~ oppa kasar sekali," bisiknya manja.
Sungmin menyeringai, menarik dagu gadis cantik itu tinggi dan segera memagut bibirnya cepat. Membuat satu ciuman panas penuh saliva dengan Lee Yeonhee yang jelita. Gadis itu tanpa ragu meremat kasar rambut halus sang pemuda. Tak segan mengacak helai pirang platinumnya saat lidah Lee Brothers sulung itu mulai menjelajah mulutnya.
"Ngghh... Sungmin oppa~"
Sang bintang Saint itu kembali menyeringai sekarang. Ganti menggunakan tangannya untuk mulai bermain pada dada berisi sang gadis ―meremas, dan membuat desah yang lain terlontar. Dia baru akan mengincar leher menggoda Yeonhee sebelum telinganya menangkap satu gumam lain dari arah samping.
"Sungmin? Dakara.. kore wa Lee Sungmin desu ka?"
Yeonhee reflex mendorong Sungmin cepat. Merapihkan kancing kemeja dan jasnya yang berantakan. Sementara Sungmin menoleh, mendapati sosok berseragam asing dalam refleksi matanya.
"Hai, watashi wa Sungmin-desu. Naze?"
Sang orang asing ―Cho Kyuhyun sebenarnya, tampak mengerjap. Terkejut saat gumamnya ternyata cukup keras untuk didengar dua orang ini, dan lebih heran lagi saat Lee Sungmin yang kini berdiri angkuh di depannya mampu menyahut ucapan reflex-nya ―dalam bahasa aslinya pula.
"Iie nai yo, to ―aku terkejut kau bisa Nihon-go."
Sungmin tersenyum kalem, "Aku pernah tinggal di Japan cukup lama, dan ingatanku masih cukup bagus untuk mengingat Nihon-go." Mata foxy-nya berubah penasaran kini, menatap penuh minat pada seragam Kyuhyun yang ber-badge salah satu High School terkenal di Akihabara. "Oh, kau murid baru dari Japan itu? Adik Mr. Cho?"
Kyuhyun mengangguk, kagum dengan sikap Lee Sungmin yang tetap tenang saat seseorang telah memergokinya berciuman panas di koridor. Seolah kejadian beberapa saat lalu, dua orang ini hanya tengah mengobrol akrab di koridor. "Ya, sunbae." Jawabnya sambil melirik badge tingkat akhir yang tertempel di jas Sungmin. "Aku sedang mencari kelasku sebelum menemukan kau dan gadis itu ―eerr…"
"Ahh," si pemuda blonde tersadar saat Kyuhyun mengungkit 'insiden' ciumannya tadi. Kembali menaruh focus pada Lee Yeonhee yang sejak tadi terdiam canggung di belakang Sungmin sembari keduanya bercakap. "Yeonhee-ya? Kau bilang tadi masih harus mencari buku, bukan? Pergilah sekarang, sebelum kau ketinggalan lebih banyak kelas."
Gadis itu mengangguk cepat. "N-ne, oppa."
"Anak baik," tukas Sungmin kemudian. Dia menyempatkan diri menarik dagu Yeonhee, mendaratkan satu kecupan singkat di bibirnya yang telah bengkak ―tanpa canggung dengan keberadaan Kyuhyun di depan, dan mengelus kepalanya singkat. "Sampai jumpa sayang."
"An-anyeonghasseyo Min oppa~"
Yang disebut namanya masih memfokuskan matanya pada sang gadis hingga punggung mungilnya hilang di anak tangga teratas. Berdehem singkat dan kembali beralih pada Kyuhyun. "Kau tadi sedang mencari kelasmu, ya? Tingkat berapa?"
"A-ah.. tingkat dua. Science six." Jawab Kyuhyun gugup. Matanya masih menelisik penampilan Sungmin yang sekarang. Rambut pirang platinum yang berantakan, juga dua kancing kemeja yang terbuka di balik jas merah tua-nya. Antara jijik (karena scene making out-nya tadi) dan errr.. ―terpesona? Ughh, rasanya pemuda itu ingin membenturkan kepalanya ke tembok terdekat karena sudah berani berpikiran seperti itu.
Sungmin mengangguk paham, "Tingkat dua ada di lantai tiga. Ayo ku antar."
"Apa kau tidak ada kelas?"
Yang lebih tua terkekeh kini, mulai berjalan guna menaiki tangga yang sama dengan Yeonhee tadi. "Tidak ada,"
"Kenapa?" kernyit Kyuhyun heran. Pemuda tinggi itu ikut melangkah di belakang Sungmin kini. Mensejajarkan langkah dengan tatap mata penuh penilaan yang tetap tertuju pada sang sunbae. "Bukankah ini masih jam efektif?"
"Tadinya ada, tapi sekarang tidak lagi karena Han Seongsaengnim sudah mengusirku dari kelas. Bukan salahku berkeliaran disini bukan?"
Kyuhyun hanya mengangguk. Masih penasaran sebenarnya, tapi yah―
"Han Seongsaengnim itu guru yang sangat disiplin, tidak peduli siapa kau, dia bisa mengusirmu kalau kau melakukan kesalahan. Dalam kasusku tadi, aku lupa mengenakan dasiku yang entah dimana, jadi yah.. seperti yang bisa kau lihat sekarang."
―Sungmin bisa membaca raut penasaran Kyuhyun, ternyata.
"Oh iya, siapa namamu?"
"Kyuhyun, Cho Kyuhyun." jawab Kyuhyun cepat. Tangan kanannya terulur, mencoba bersikap sopan pada pemuda yang sejak tadi pagi membuatnya megumpat ―antara kesal dan tidak percaya. Ingat percakapannya dengan Siwon pagi tadi 'kan?
Sang sunbae hanya menatap menilai pada tangan Kyuhyun yang terulur padanya. Menyeringai sinis sejenak sebelum memutuskan mengabaikan. Masih tetap menyamankan dua tangannya pada masing – masing saku celana. Seolah tangan Kyuhyun yang tadi terulur tidak terlalu berharga untuk dijamah olehnya.
'Damn that person!' ―hanya umpatan dalam hati, tentu. Karena sekarang Sungmin masih tetap melangkah tenang di depan Kyuhyun yang tengah menatap tajam punggungnya. Pemuda pecinta game itu membuang napas kesal sekali. Mencoba menekan mulutnya untuk tidak berkata yang macam – macam dan lebih memilih diam sembari mengikuti Sungmin untuk mencapai kelasnya.
"Kau bilang tadi tingkat dua, 'kan… Kyuhyun? Akselerasi, ya?"
Kening Kyuhyun mengerut bingung. "Bagaimana kau tahu? Lalu tadi ―kau juga langsung tahu kalau aku itu adik Cho Heechul."
"Jangan menilaiku seperti itu," gumam Sungmin tenang. Kakinya masih melangkah mantap menaiki anak tangga yang lumayan panjang ini. "Jika kau berpikir aku kurang kerjaan dengan mencoba mencari tahu informasi tentangmu, kau salah besar."
―dan Kyuhyun hanya bisa menampar imajiner pada kepalanya saat dugaan penuh percaya diri itu terbaca oleh sang sunbae.
"Sistem masuknya seseorang di Saint sangat ketat." Lanjut Sungmin. Dia menarik lengan Kyuhyun untuk berbelok di salah satu koridor, membuat akhirnya Kyuhyun bisa merasakan sehalus apa kulit seorang Lee Sungmin ―dan Kyuhyun mengumpat lagi saat tahu bagaimana rasanya. Shit! That awesome, aishh.
"Murid pindahan disini harus melalui tes masuk yang sama dengan siswa baru. Itu pun diharuskan mengulang dari tingkat pertama tidak peduli kelas berapapun dia di sekolah sebelumnya. Karena itu, jarang sekali ada yang berhasil pindah ke Saint, dan sekalipun ada ―pasti sudah menjadi bahan perbincangan." Jelas Sungmin singkat.
Kyuhyun mengangguk paham, sedikit terkejut juga dengan apa yang dikatakan Sungmin tentang sekolah ini. Apa Saint High School memang sehebat itu?
"Dan soal aku yang tahu tentang akselerasimu, penjelasan tadi sudah mencakup bukan?"
"Hm, tajam sekali,"
"Hng?" Sungmin menoleh, "Intuisimu."
"Tidak juga," geleng sang sunbae tak setuju, dia melayangkan satu tangan untuk menyisir rambutnya kini. Merapikan dengan hanya dua gerakan hingga rambut pirang platinum itu terlihat rapih. Kyuhyun jadi penasaran seberapa halus helai pirang itu. Apakah sehalus kulit putihnya tadi?
"Semua orang mempunyai kapasitas otak sama. Seberapa bagus kinerjanya hanya tergantung pada kemauan untuk menggunakannya. Orang bodoh hanya orang yang tidak mau menggunakan otak."
'Lee Sungmin juga orang yang kurang ajar'. Catat Kyuhyun dalam hati, dia memandang sekilas pada kaca jendela lebar yang terbentang di sisi kiri. Memperlihatkan pemandangan cantik lapangan belakang Saint yang terhiasi rimbunan pohon sakura.
"Kau juga akselerasi… 'kan?"
Sungmin mengangguk. Terlihat tak berminat untuk melontarkan pertanyaan klise macam 'Dari mana kau tahu?' seperti Kyuhyun tadi. "Murid pindahan juga?"
Dia menggeleng kini, "Aku ikut jalur masuk resmi, dan Mr. Cho langsung memberiku akselerasi setelah mendapat nilai sempurna di tes masuk."
"Nilai sempurna di tes masuk? Apa tesnya semudah itu?"
"Kau adik Mr. Cho, bukan?" Sungmin balas bertanya kini. Terkekeh dan melanjutkan ucapannya dengan seringai yang terpatri di bibir sewarna sakura-nya. "Kau pasti tahu seperti apa dia ―dan tentu bagaimana dia saat menyeleksi orang."
Kyuhyun reflex menghela napas. Pasti melelahkan, juga penuh dengan kegilaan ―dia mulai bersyukur telah menjadi putra bungsu pemilik Saint kini, seperti yang dikatakan Siwon tadi. "Kau tinggal dimana saat di Japan dulu?" magnae itu mulai mengganti topic saat ini, sadar bahwa berdiam di samping Lee Sungmin bukanlah hal yang mengenakan ―tidak lucu kalau pikirannya melayang entah kemana nantinya.
"Akihabara."
"Eh? Aku juga dari Akihabara."
Sungmin menoleh tertarik. Tersenyum semangat pada Kyuhyun kini, "Iya? Akihabara.. game, manga, cosplay, dan segala keunikan lainnya?"
"Kau suka game juga, Sungmin?" mata Kyuhyun tanpa sadar berbinar kini, berharap jika ada seseorang disini yang bisa menjadi partner-nya dalam gaming ria.
Alis pemuda yang lebih pendek berkerut, "Tidak terlalu. Game itu ―membosankan sebenarnya, road racing jauh lebih seru."
Kyuhyun rasanya ingin memukulkan ransel hitam di punggungnya ini pada pemuda yang telah dengan percaya dirinya berani berkata bahwa gaming adalah perbuatan membosankan. Bagaimana bisa orang ini melabeli sesuatu yang menjadi jalan hidup seorang Cho Kyuhyun dengan 'membosankan'? Tapi―
"Road racing? Kau bisa road racing?"
"Aku tidak tahu tujuanmu bertanya seperti, tapi jika maksudmu adalah apakah aku bisa mengendarai motor dengan kecepatan tinggi di jalan raya jawabannya ya. Tidak perlu menatap meremehkan padaku, Kyuhyun, dan kita sudah sampai. Science six bukan?"
Si pecinta game menatap pada pintu yang diatasnya terukir signa 'Science Six' berwarna biru muda. Kembali mengalihkan pandang pada Sungmin dan berujar, "Bukannya meremehkan, hanya memastika, mungkin? Dan terimakasih telah mengantarku, Sungmin."
Sungmin mengerutkan kening sekarang. "Kau tidak memanggilku, 'hyung' Kyuhyun?"
"Untuk apa?" Kyuhyun ―akhirnya mengeluarkan seringaiannya. Menatap Sungmin yang kini menyilangkan dua tangannya di depan dada.
"Tidak sopan sekali." Komentarnya datar.
Ganti Kyuhyun yang terkekeh sekarang, "Lalu.. apa sesi making out-mu di koridor tadi bisa dikatakan sopan, Sungmin hyung?"
"Ck~ kau memang murid baru disini, ternyata." Sungmin balas menyeringai sekarang. Mendorong tubuh tinggi Kyuhyun ke dinding disamping pintu, dan mencengkeram kerah seragamnya lembut. "Kau harus mulai bisa membedakan mana yang menurutmu sopan, dan aturan 'sopan' disini, Kyuhyun. Bersikap pintarlah, atau kau hanya akan menjadi anak naïf yang terbuang di Saint, mengerti sayang?"
Dia memandang menggoda pada Cho bungsu itu, sama sekali tak gentar dengan tubuhnya yang lebih mungil dari pada tubuh sang hoobae. "Baik – baiklah disini."
―dan Kyuhyun hanya bisa membeku saat satu kecupan lembut dilayangkan Sungmin pada bibirnya sebagi penutup.
'Shit! Tunggu pembalasanku nanti, Lee fuckin' Sungmin!'
.
.
.
Continued to scene three…
Update kilat untuk kaliaann! Wooahh~~ saya beneran ga nyangka waktu buka email n nemu respon kalian yang begini hangat, ini karena kalian suka idenya atau karena kalian suka ratenya? #senyumcuriga #digebukin
Sekali lagi ini ratem bukan karena adanya sex scene okay? ^^v Daann kalau ada yg tanya kenapa ming liar banget disini, tunggu scene berikutnya, aja~ semuanya bakal dijelasin perlahan - lahan kok~ XDD
Untuk scene tiganya, saya ga janji bakal update secepet ini. Karena yah,, bukannya mau ngeles, tapi emang saya banyak alasan. -_-v
Oke deh,, terimakasih banyak buat 94 review dan 37 fave untuk cerita ini yaa~ bener2 minta ma'af karena ga bisa bales review kalian satu2, tapi saya sudah baca berulang kali kok, dan saya pasti ngakak gaje saat nemu bejibun reviewer yg mau jadi cewek kesekiannya ming. Saya juga mau woy! #digamparkyu -_-v
saya harap sih ch ini juga bakal disambut sehangat itu, walau dengan jalan cerita yang a la kadarnya ini~ T^T #bow
Terimakasih banyak kawan~ #pelukhangatsatusatu XDDD
