Gomen karena kelamaan, minna-san...

Kkupikir aku update ini dulu, tapi masih pendek. Gomen ne minna-san. Queen dan Co-Authorku akan coba mengatur jadwal update untuk masing2 story biar rapi..hehehe

Here's the chapter one! Enjoy~

Disclaimer : I don't own Naruto or Madara or Tobirama and everyone... just belong to Kishimoto-sensei :D

P.S : Naruto baru jadi Chunin, seharusnya ini udah ditulis di chapter kemarin, cuma lupa.. :D dan umurnya masih tetep 10 tahun, jadi paling muda sendiri diantara rookie 12 dan Naruto yang di canon ga jadi Naruko, tapi aku ganti jadi Menma aja.. :D


Chapter 1 - We're in the middle of a Big Problem


Suara nyanyian burung di pagi hari pun sanggup untuk membangunkan seorang pria berambut putih yang perlahan-lahan membuka matanya, lalu mengerjapkannya beberapa kali sembari berusaha untuk bangun dan sembari memegang kepalanya yang terasa pusing itu dengan tangan kanannya.

Itu Tobirama Senju yang sepertinya baru mulai menyadari apa yang terjadi padanya.. oh ralat.. tetapi pada dirinya, keponakannya dan juga ayah dari keponakannya yang sangat menyebalkan itu.. menurutnya.

"Tobirama Ji-sama!" Tobirama mendengar namanya dipanggil dari arah kirinya dan menemukan keponakannya yang menatap kearahnya dengan tatapan memelas. Tobirama hanya terkekeh pelan disaat melihat ekspresinya itu.

Sama seperti Himeko yang memelas agar tidak dimarahi jika ia mendapat masalah. Sepertinya memang benar kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Tetapi, bukan berarti semua ini adalah kesalahan Naruto, ia juga memiliki salah disini dan karena itulah ia tidak akan memarahi Naruto.. yah.. paling hanya memberinya sedikit teguran.

"Naruto, dimana ayahmu?" Tanya Tobirama dengan suara barritone khasnya itu. Ia melihat Naruto menghela nafas sembari menggumam kecil sebelum ia menjawab pertanyaannya itu.

"Tou-sama sedang pergi untuk melihat dimana kita mendarat, Ji-sama.." Jawab Naruto, layaknya seorang prajurit melapor pada jendralnya. Tobirama hanya mengangguk mendengarnya, lalu...

"Hm.. lalu, segel apa yang kau gunakan tadi, Naruto?" Tanya Tobirama kembali dan dua menit setelah berpikir ia pun hanya menerima sebuah gelengan kepala dari Uchiha kecil didepannya itu, yang berarti ia tidak ingat dan itu cukup membuat Tobirama facepalm.

'Kalau begini masalahnya sih.. lebih baik jalan kaki untuk kembali menuju Konoha..' Batin Tobirama dan tiba-tiba ia mengangguk sendiri, membuat Naruto menatap bingung kearahnya.

"Kita tunggu sampai ayahmu kembali dan setelahnya kita akan menuju Konoha tanpa Hiraishin. Jutsu itu ternyata masih jauh dari kata sempurna.." Jelas Tobirama dan Naruto kembali mengangguk.

'Padahal aku sendiri pun berhasil saat mencobanya dan kupikir Naruto akan mampu menggunakanya, setidaknya berpindah 5 atau 6 meter dulu... tetapi malah jadi begini dan aku malah membawa kesialan pada diriku sendiri.. ' Lanjut Tobirama dalam hati.

Naruto adalah salah satu anggota team Genin dibawah pimpinannya selain Hiruzen dan Koharu. Selain itu, Naruto juga sudah lama memperlihaktkan ketertarikannya dengan jutsu ruang dan waktu seperti dirinya, jadilah Tobirama menginginkan agar Naruto bisa ikut mencobanya juga.

Tobirama dan Naruto pun hanya duduk dalam diam sembari melihat-lihat ke alam sekeliling mereka. Di alam terbuka seperti ini sih rasanya cukup menyenangkan dan menenangkan, itulah isi pikiran Naruto.

Sementara itu, sang Senju berambut putih itu tengah berkutat dengan pemikirannya sendiri tentang Hiraishin no jutsunya itu. Sebenarnya, dimana letak kesalahnya? Ia bahkan sudah menandai tanah di tanah lapang itu dengan tanda segel Hiraishinnya itu.

Kalau Naruto memang tidak sengaja membuat segel lain selain yang diajarkannya, tidak mungkin hasilnya seperti ini.


Satu jam berlalu dan akhirnya Tobirama merasakan chakra Madara yang sedang menuju ke tempat mereka berada dari kejauhan, begitupun dengan Naruto yang juga dapat merasakan chakra sang ayah. Namun untuk saat ini Naruto baru mampu merasakan chakra atau apapun disekellingnya dalam radius 6-7 km.

Yah, setiap orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk Naruto.

Madara merasakan kalau putranya ini memiliki kemampuan yang baik dalam sensor. Dan jika terus diasah, maka kemampuan sensornya bisa setingkat dengan si albino sialan itu.

Namun, Madara tetap ingin agar Naruto mempelajari teknik yang satu ini karena sensor merupakan teknik yang sering kali di anggap remeh oleh banyak orang. Dan karenanya, Tobirama dengan senang hati menerima permintaan Madara untuk mengajar Naruto dalam teknik itu.

Bukan berarti ia melupakan dua muridnya yang lain. Mereka juga menerima pengajaran yang sama dengan yang diterima oleh Naruto. Makanya, team genin nya itu dapat promosi menjadi Chunin disaat ujian Chunin untuk pertama kalinya berlangsung.

Dan pada akhirnya, sang kepala klan Uchiha pun sampai pada tempat dimana Tobirama dan Naruto menunggu.

"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan, Uchiha?" Tobirama pun langsung angkat suara disaat Madara baru saja ingin mengambil posisi duduk di tanah. Ia dapat melihat tatapan kesal mengarah kepadanya.

'Ini tidak bagus sama sekali.. terjebak dengan Tou-sama dan Tobirama Ji-sama di hutan seperti ini. Dan sepertinya.. mereka akan berkelahi.. lagi..' Batin Naruto sweatdropped disaat melihat dugaanya benar. Ayahnya dan pamannya mulai berargumen.. lagi..

"Tidak bisakah aku duduk dengan tenang dulu? Aku juga tahu apa yang harus kulakukan, Senju sialan!"

"Kau pikir kita bisa tenang ditengah-tengah keadaan seperti ini, Uchiha sialan?!" Balas Tobirama dengan tatapan penuh kebencian yang mengarah pada Madara.

Mendengarnya, Madara hanya memalingkan wajahnya kearah lain.

"Cih, aku tidak tahu kenapa Izuna bisa ber'teman' denganmu disaat ia tahu kau pernah hampir membuatnya mati dulu.." Komentar Madara sembari bersandar ke batang pohon, sementara Tobirama hanya menghela nafas sambil memijit keningnya. Pusing dengan tingkah sang kepala klan Uchiha itu.

"Itu sih karena Izuna lebih pintar dibanding kau tahu.." Dan sebelum Madara kembali membalas, Naruto akhirnya menengahi pertengkaran tidak jelas antara kedua orang dewasa itu.

"Hah.. Tou-sama. Ji-sama. Sudahi pertengkaran kalian, oke? Kalian itu bukan anak kecil lagi sepertiku.." Kata Naruto sembari bergantian melihat dari ekspresi Tobirama dan Madara.

"Hn, beruntung Naruto memliki sifat seperti Himeko.." Gumam Tobirama singkat.

"Cih.. baiklah.. akan kuberitahu dimana kita sekarang.." Dan pada akhirnya setelah perdebatan tidak jelas antara dua pria dewasa itu, Madara pun akhirnya mulai menjelaskan keadaan yang menimpa mereka

"Kita.. berada di hutan yang berada di luar perbatasan Konoha.." Mendengar itu, Tobirama langsung memusatkan perhatiannya ke arah Madara lagi.

"Baiklah, itu cukup bagus.. hanya diluar perbatasan Konoha bukan? Satu jam berlari juga kita sampai.." Komentar Tobirama.

"Aku belum selesai berbicara, idiot! Memang kita berada di luar perbatasan Konoha, namun kita malah ke masa depan!" Dan hal itu sukses membuat dua orang lainnya terkejut bukan main.

"M-Maafkan aku.. seharusnya aku tidak salah dalam mempraktekkan segelnya saat itu" Anak berusia 10 tahun itu pun langsung saja meminta maaf disaat ia mengerti kalau masalah yang ia sebabkan adalah masalah besar dan mungkin saja kedua orang dewasa ini juga tidak tahu jalan keluar dari masalah ini.

Madara yang mendengarnya pun melembut ekspresinya dan memeluk Naruto untuk membuatnya nyaman.

"Ssshh.. tidak apa-apa.. semua orang wajar membuat kesalahan. Tenang saja, oke?" Dan Naruto hanya mengangguk saja, senang karena sang ayah mengerti dirinya dan memaafkannya.

Tobirama hanya tersenyum melihat keakraban ayah-anak itu. Sepertinya ia rasa ia harus mulai mencari pendamping hidupnya?


Singkat cerita, akhirnya mereka bisa sampai kedalam kantor Hokage dengan bantuan dua orang Chunin yang memasang wajah shok, dan gugup juga disepanjang perjalanan. Tidak hanya kedua chunin itu, sepanjang jalan dipenuhi dengan ekspresi bingung dan kaget dari para pejalan kaki dan penduduk desa.

Tentu saja. Madara dan Tobirama mengerti bagaimana ekspresi orang-orang diasat melihat orang yang seharusnya mati malah hidup dan berjalan dengan santai disepanjang jalan desa mereka.

Sang Hokage ternyata adalah Sarutobi Hiruzen yang juga adalah murid dari Tobirama. Naruto yang akhirnya diberi tahu bahwa pria tua didepannya adalah Hiruzen langsung kaget dan kesal karena bukan ia ternyata yang menjadi Hokage, melainkan saingannya sekaligus sahabatnya itu.

Setelah mendengar cerita dari Tobirama kalau mereka bertiga sebenarnya terdampar ke masa depan karena jutsu Hiraishin yang gagal, Hiruzen langsung memberikan opininya.

"Hm.. sebentar.. aku tidak pernah ingat kalau Madara-sama memiliki anak dan istri.. Dan team ku adalah Koharu dan Homura.." Dan perkataan itu sukses membuat hati sang kepala klan Uchiha tertohok.

"Hiruzen-dobe! Jangan berkata seperti itu didepan Tou-sama! Dan apa-apaan kau ini? Masa tidak mengenali sahabatmu sendiri?" Protes Naruto sebal.

Tobirama pun diam saja dan setelah mengerti apa maksud Hiruzen berkata seperti itu..

"Ya ampun.. kita tidak hanya terlempar ke masa depan.." Komentar Tobirama sukses membuat tiga pasang mata itu menoleh kearahnya.

"Nani? Jadi tidak hanya ke masa depan? Lalu.. apa maksudmu..." Mendengar Madara mengerti maksudnya, Tobirama pun mengangguk.

"Ya, kita berada di dimensi yang berbeda juga dengan dimensi kita.." Dan Madara pun berharap kalau ia memiliki mesin waktu sekarang juga agar bisa pulang.

Hahh... kekacauan macam apa ini?

TBC


A/N : Maaf karena keterlambatan update bagi semua story aku ya para senpai sekalian..hehe..

Seperti yang aku bilang kalau Senju Naruto udah setengah jadi dan dua sisanya masih dalam proses.. hmm.. jadi aku update yang ini dulu karena inspirasinya baru masuk sekarang..hehehe

Thank you and please RnR!~

Jaa Ne~