Takkan Ku Lepas
.
Disclaimer: Masahi Kishimoto
A story by: whitefox
Rated: T
Main pairing: SasuSaku
Genre: Drama, Hurt/Comfort, & Romance
Warning: Au, Typo, Alur semau author, Twoshoot, dan Banyak cacat lainnya
Silahkan ketik back untuk kembali karena aku tidak memaksa para readers untuk membaca fictku ini karena fict ini mungkin melenceng dari kata sempurna
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
.
dua minggu berlalu, semenjak kejadian itu Sakura kini telah berada di jepang, Tanah kelahiranya. Dengan berbalut gaun Pengantin tampak indah melapisi tubuh elok Sakura. Ia tidak terbiasa memakai baju tradisional Jepang-Kimono pengantin, mengingat ia di besarkan di London, Inggris. Setelah ibunya meninggal 14 tahun lalu di Tokyo. ia memutuskan untuk memesan jauh-jauh hari baju Pengantin dari disainger pilihan ayahnya. Walau ia akui Ayahnya 'lah yang mengatur semuanya.
bukan ia sekarang setuju untuk menikah dengan pemuda bernama Gaara. Namun ini mungkin pilihan terbaik, pilihan Ayahnya.
Ingatannya kembali kepada Hinata. semenjak hari itu, ia tidak melihat Hinata yang selalu bersamanya, karena pekerjaanya memang mendampingi kemana pun dirinya pergi.
Rasa penasaran pun hadir direlung hatinya.
wajah cantiknya dengan polesan Make up natural, membuat wajahnya terlihat lebih cantik dan segar. Jemari lentik Sakura mencari sebuah smartphone miliknya di atas meja rias. ia pun menemukannya tersembunyi dengan beberapa alat make up diatas meja, jari lentiknya menekan beberapa digit angka yang hafal diluar kepalanya, lalu setelah selesai ia mengarahkan ponsel ke telinganya.
Rahang indah tercetak di wajahnya belum juga bergerak, sampai suara menyapa dari lawan bicaranya. suara operatorlah yang ia dengar, dengan helaan nafas kasar ia menekan kembali layar ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja rias.
'Kupikir nona adalah dia,'
'Kalau dilihat secara seksama nona seperti Katrina,'
'Wajahmu, hidungmu, serta rahangmu hampir sama. Yang membedakannya hanyalah rambutmu dan kedua bola mata hijaumu,'
Memori ingatan tentang pemuda bersurai aneh tengah berjalan bersamanya di jalanan lengang menuju rumahnya waktu itu berputar kembali. Sungguh ia dibuat penasaran siapa yang pria itu maksud. Kenapa onyx itu melihat kearahnya seolah-olah ia memang benar mirip dengan Katrina Kaif, dan siapa dia?. ingin sekali ia mencari tahu tentang seseorang yang dimaksud pria berambut Raven itu, namun ini bukanlah sifatnya. Ia tidak terlalu peduli dengan seseorang yang ia tidak kenali. apalagi tidak pernah bertemu sebelumnya, namun sekali lagi rasa penasaran memenuhi otaknya, Ia tidak tahan lagi.
Jemari sakura kembali mengambil ponselnya, segera ia searching tentang Katrina. apa yang ia mau tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan informasi di dunia modern seperti sekarang, dengan Smartphone pintarnya ia bisa mencari informasi dengan cepat, tak lama wanita bersurai khas bunga jepang itu menemukan sebuah wibsite. ia men-scroll ke bawah, membaca satu persatu kata di wibsite tersebut.
Iris hijau teduh tersebut membulat setelah melihat foto seseorang yang tertampang jelas di layar Touchscreen tersebut. Ia pun tidak menyangka ternyata ia memiliki copy-an sangat mirip, bahkan hampir mirip dengannya. Sungguh demi apapun!, wajahnya bukanlah operasi plastik hingga mengikuti seseorang yang di idolakan banyak orang. ia pun baru tahu ada Artis memiliki wajah hampir sama dengan wajah miliknya. Sekarang ia tahu seorang Pemuda tampan berkharisma yang pernah mengantarnya adalah salah satu yang mengidolai gadis cantik blasteran ini.
Cukup lama ia membaca biodata sang Artis. Sebuah ketukan pintu mengalihkan eksitensinya ke seseorang yang kini memasuki ruangan kamar riasnya.
Kedua orang tersebut sama-sama saling melempar senyum kebahagian untuk wanita yang akan menjadi nona Sabaku beberapa menit lagi.
"Anda terlihat cantik sekali, Nona Sakura." Hinata tersenyum lembut memandang bos sekaligus sahabatnya tengah duduk di bangku rias sambil menatapnya. Kedua pasangan tersebut mendekati Sakura, sementara Sakura membalas dengan tersenyum tipis.
"Kukira kau tidak akan datang, Hinata"
"Aku tidak mungkin melewatkan acara ini, Sakura."
Iris Sakura bergulir menatap pemuda berambut Pirang jabrik di samping Hinata dengan alis bertaut. Melihat tatapan Sakura menatap pemuda disampingnya, ia pun segera memperkenalkan Naruto kepada Sakura.
"Sakura, perkenalkan dia Namikaze Naruto, dia tunanganku." Ucapnya lembut seperti biasa.
Sakura memandang dengan tatapan tak percaya kepada dua pasangan yang tengah duduk di hadapannya. Kedua pasangan tersebut memandang bingung dengan ekspresi Sakura, apalagi Hinata yang melihat ekspresi tak wajar dari Sakura, menurutnya.
"Ja-jadi.. yang kau peluk di pantai dua minggu lalu siapa?" Alis Hinata bertaut menatap Sakura, ia sungguh bingung saat ini. "-Ma..maksudku kau dengan Pemuda pantat ayam itu." Sakura berusaha meluruskan, Ia merutuki dirinya yang kelewat terkejut.
"Oh, dia itu Niichanku. Sasuke Uchiha, sekaligus sahabat dari Naruto. Dia bekerja di Restaurant Naruto sejak mereka sudah lulus sekolah menengah atas. Aku tinggal bersama dia, memangnya ada apa?" terang Hinata dan kini ia dibuat penasaran oleh bos cantiknya itu.
wajah Sakura kembali tenang, lalu menganggukan kepala pinknya, memberi respon bahwa kini ia mengerti sekarang.
Naruto yang sejak tadi diam memeperhatikan sosok Sakura dari atas sampai bawah dengan teliti. merasa risih di perhatikan terus-menerus oleh Naruto, ia pun memandang pemuda itu sambil berkata.
"Ada apa tuan namikaze?, apa diriku terlalu aneh hingga kau melihatku tatapan seperti itu?" ucapnya dengan nada datar dengan Iris hijaunya menatap Iris blue sappire milik Naruto.
Mendengar ucapan dari Sakura, membuat cengiran lima jari Naruto terpampang jelas di wajahnya. "Tidak, hanya saja kau seperti yang di ceritakan teme beberapa waktu lalu."
"Teme?" sekarang dirinya-lah yang bingung.
"Iyah, dia sahabatku Sasuke. Dia pernah berkata padaku bahwa ia mencintai seseorang pada pandangan pertama. kupikir dia hanya bercanda, tapi dari raut wajahnya saat itu ia benar-benar kacau Sakura-chan, karena setelah kejadian itu dia tidak pernah bertemu denganmu lagi. dan biar ku tebak, baju yang kau gunakan dari rancangan teme kan?, ternyata dia berkata benar. Ia selalu membuat rancangan baju wanita untuk seseorang Konglomerat bermarga Haruno yang tidak ia ketahui. Tapi setelah melihat dirimu barulah ia sadar, ternyata seluruh baju yang ia buat, kini di pakai kau. karena dia pernah bilang padaku bahwa keturunan Haruno hanya satu-satunya yaitu seorang Perempuan. Apa aku bicara terlalu panjang?" ujarnya panjang lalu diselingi tawa kecil dari Naruto.
Hinata hanya bisa melirik tunanganya yang menurut dia sangatlah konyol, berbicara panjang hanya dengan satu tarikan nafas, dasar!. Tangan ramping mulusnya pun menyikut pelan perut tunanganya, hingga terdengar rintihan keluar dari bibir lelaki satu-satunya di ruangan tersebut.
Sejenak Sakura merasa bahwa nafasnya tercekat di tenggorokan, ia tidak mengerti perasaan apa ini. Berdebar, namun sangat membuatnya nyaman sekaligus menyesakkan. Ada rasa sesak di relung hatinya. Ia tidak mengerti perasaan apa ini. Ia pun terdiam namun pikiranya tak berada di tempatnya.
"Jangan dengarkan dia, Nona." Ucap Hinata diselingi delikan tajam kearah Naruto. Dan disaat itulah Sakura kembali ke alam sadarnya.
"Mendengar berita kau akan menikah. Ayahmu datang padanya untuk merancang gaun terindah untukmu, beliau ingin membuatmu bahagia di hari Pernikahanmu. Karena ia tahu perasaannya tidak terbalas, dengan cara membuat gaun untukmu-lah ia menyalurkan rasa cintanya padamu. Ternyata gaunya sangat indah, yah!" Ia berujar mantap tanpa melihat tatapan tajam dari arah sampingnya, kali ini Naruto mendapat sikutan lebih kencang dari yang pertama.
Gadis cantik yang telah siap untuk melangsungkan Pernikahannya pun hanya terdiam. Rasa sakit diiringi rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. ia merasakan seolah nyawanya berada ditempat lain, bukan di raganya berada. Ia tahu rohnya berada di dekat Pemuda tersebut, dan ia ingin mengambil rohnya kembali.
Air mata terjatuh dari kelopak matanya, ia menangis dalam diam. Bagaimana pun ia adalah Sakura Haruno, anak kebanggaan Ayahnya yang selalu diatur layaknya boneka. namun ia tidak memprotesnya. karena ia tahu, jika diprotes satu hal saja, itu akan memicu keretakkan hubungan harmonis yang ia bangun sepenuh hatinya. ia tidak ingin melihat Ayahnya kecewa, namun hatinya tidak menginginkan ini, ia menginginkan seseorang yang ia cintai dan dicintainya. tetapi sekali lagi ia tak mampu untuk menentang kemauan Sang ayah yang paling ia sayangi. tapi jika ia terima perjodohan ini dan menikah dengan Pemuda Sabaku, ia takut bahwa ia tidak akan bahagia. Dan ia pun tidak pandai dalam hal bersandiwara, mengingat ia akan hidup selamanya bersama Gaara, dan selama itu ia tidak bisa bersandiwara terus-menerus, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia mencintai orang lain!, Tidak. ia akan tidak sanggup.
Ia usap air matanya perlahan berharap itu adalah tetesan terakhir yang mengalir jatuh dari kelopak matanya. Ia pandang kedua orang di hadapanya, Hinata dan Naruto secara bergantian. Sementara yang di tatap hanya menunjukkan ekspresi yang berbeda.
Entah kenapa Hinata melihat bos cantik sekaligus sahabatnya terasa separuh hatinya pun ikut tersayat, seolah hatinya tersebut merasakan hal yang sama. Ia tahu sekarang apa yang menjadi pikiranya beberapa waktu lalu.
Tangan putih mulusnya menyentuh dan memegang erat salah satu jemari Sakura. Iris tiara menatap Iris emerald yang teduh.
"Pergilah, aku tahu kau mencintainya. Temuilah dia, biarkan aku yang menghadapi Ayahmu dan berbicara padanya secara halus, mungkin ia bisa memahami perasaanmu, Sakura. sudah saatnya kau menentukan pilihanmu sendiri. tidak selamanya kau akan hidup dengan terus menuruti pilihan Ayahmu, sekarang saatnya temui cintamu, Sakura." Jemarinya menggenggam erat tangan Sakura, memberinya kekuatan untuk memilih pilihannya sendiri.
Tak lama senyum tipis terlukis dibibir Sakura, ia pun menghela nafas. Berusaha menenangkan hatinya yang terus berontak ingin pergi dari tempat ini.
"Jam berapa kau akan pergi, Hinata?" tanyanya sambil terus memandang Iris Hinata.
"Mungkin 1 jam 30 menit dari sekarang." ia melirik arloji putih yang terletak di pergelangan tangan kanannya.
"Kupikir pernikahanmu akan di mulai 10 menit lagi. Bagaimana kalau kita ke altar sekarang?. Atau kau pergi dari sini, menurutmu bagaimana Sakura-chan?" kali ini Naruto yang bertanya.
Sakura memandang sejenak Naruto, tak lama ia menghela nafas perlahan dan kemudian menganggukkan perlahan surai pinknya.
"Temani aku sampai pintu." Ucapnya tenang lalu kemudian berdiri memandang pasangan NaruHina tersebut. mereka yang Sakura maksud hanya bisa menganggukan kepala mereka.
.
Aku bukan seorang pecundang yang lari dari kenyataan
aku akan melakukannya demi hatiku
tunggulah, aku..
.
Wanita berambut Softpink tampak cantik dengan gaun pengantin dengan warna putih di tambah beberapa ukiran hiasan berwarna Softpink di gaunnya, membuat ia semakin terlihat mempesona. Sanggup membuat penjuru mata memandangnya terlihat menahan nafas, melihat kecantikan dari seorang wanita yang sebentar lagi berganti marga tersebut.
Sakura terus berjalan pelan dengan anggun, membuat tiada satu mata pun yang tidak lolos dari pesonanya, wajahnya yang tenang serta senyumnya yang tipis menambah nilai plus untuk dirinya. Tak berapa lama ia pun sampai di depan altar yang akan menjadi saksi bisu Pernikahanya, membuat janji sehidup semati sebentar lagi yang akan ia ucapkan. Gaara pun meraih tangan Sakura dan menggenggamnya erat, lalu menariknya pelan agar berdiri berjajar dengan dirinya dan menatap pendeta dihadapanya.
Seketika seluruh manusia yang berada di ruangan tersebut seketika hening, saat kedua mempelai telah berdiri di altar menghadap Sang Pendeta.
"Baiklah, di hari pernikahan Tuan Sabaku No Gaara dengan Nona Haruno Sakura. Sebelum janji suci di ucapkan, apakah ada di antara kalian keberatan dengan pernikahan ini?" Ujar sopan Sang Pendeta untuk seluruh orang yang tengah menyaksikan pernikahan ini.
Senyum tipis terukir kembali di bibir Sakura, hingga membuat pendeta terpesona dan mengalihkan tatapannya kepada Sakura.
"Boleh aku berbicara sebentar?" suaranya mengalun memenuhi ruangan yang hening tersebut.
Alis Gaara bertaut menatap Sakura yang kini telah membalikkan badannya perlahan menghadap para saksi di ruangan ini.
Terlihat Sakura menghirup nafas sebentar, lalu menghembuskannya pelan sebelum berucap.
"Untuk Ayah yang kusayangi di dunia ini, terima kasih atas kebaikanmu merawatku dan membimbingku seorang diri hingga aku menjadi sukses seperti sekarang, aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Aku berpikir mungkin dengan cara menuruti segala keinginanmu bisa membalaskan jasaku padamu. tapi sekali lagi itu tidak cukup untuk membalas jasamu Ayah-," jeda sebentar, ia terus memandang Sang Ayah yang tampak ingin protes, terlihat dari rahang wajahnya yang mengeras, menatapnya yang tengah duduk barisan paling depan. Lalu ia pun melanjutkan ucapanya kembali. "-Aku selalu menuruti keinginanmu yang ingin membuatku menjadi baik tanpa protes sebagai bentuk rasa patuhku padamu Ayah, aku tidak akan bisa berdiri menghadap kalian semua wahai para saksi. Karena kalau bukan karena jasa Ayahku mungkin aku tidak akan ada di hadapan kalian semua-," kini ia arahkan Irisnya memandang semua orang di ruangan ini, hanya suaranya yang menggema memasuki indra pendengar masing-masing setiap orang.
"-Ayah, aku selalu bahagia dengan keputusanmu, namun.."
terlihat tatapan dingin Kizashi arahkan ke Emerald Sakura. ia tidak mau di permalukan seperti ini di depan para tamu undangan, apalagi keluarga Sabaku yang jelas-jelas merupakan pewaris perusahaan terbesar setelah Haruno, yang memberikan sahamnya secara besar-besaran kepada Haruno Corp.
Ketegangan meliputi seluruh ruangan, hampir semua orang ingin mendengarkan kelanjutan dari perkataan Sakura di depan altar sana.
"-Kali ini aku tidak bahagia dengan keputusanmu, Ayah. mungkin setelah ini kau tidak akan mau mengakui aku sebagai anakmu satu-satunya di keluarga Haruno. Dan pasti kau akan membenciku Ayah, aku tahu itu. Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin kebagahagiaan ku Ayah, dan kebahagiaanku bukan ada pada Gaara. Melainkan orang lain," seketika iris Jade terbelalak setelah mendengar pengakuan dari bibir Sakura yang notabene akan menjadi istrinya. Namun Sakura tak mengubrisnya, ia terus memandang lurus kedepan. "dan kuharap kau mau mengerti Ayah, walaupun kau membenciku. aku tetap akan selalu menyayangimu Ayah, dan akan ku ingat selalu bahwa seorang Kizashi Haruno adalah ayah terbaik yang kumiliki di dalam hidupku, Selamat tinggal." Ia torehkan kepalanya memandang Gaara-Pemuda disampingnya.
"Sorry, kuharap kau akan menemukan yang lebih baik dariku." Ujarnya pelan, lalu kedua kaki jenjangnya berlari keluar ruangan meninggalkan semua orang yang menatapnya penuh kagum sekaligus haru.
.
.
.
.
.
.
.
.
London, inggris. 07.01 pm
Perjalanan dari Jepang menuju Inggris membutuhkan waktu satu hari lamanya, namun serasa satu tahun bagi Sakura. sungguh ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sasuke-orang yang selama ini selalu mengisi pikiran dan hatinya. selama di pesawat ia sering kali menggerutu tidak jelas keluar begitu saja dari mulutnya, walaupun ia seorang Konglomerat tetap saja ia seorang manusia, manusia yang memiliki sifat tidak sabaran, seperti halnya dirinya.
Setelah sampai di London, ia langsung mencari dua manusia yang telah lebih dulu sampai di Bandara. Lautan manusia memenuhi area gedung bandara ini. Iris hijau teduhnya terus bergulir kesana dan kemari mencari sosok bersurai Indigo serta Kuning Jabrik. Namun nihil, ia tidak menemukannya.
Sejenak ia berpikir, sungguh ia tidak tahu terletak dimana rumah Sasuke berada, karena London begitu luas. lama ia berpikir mungkin saja ia bisa menemukan petunjuk di Restaurant mewah itu.
Kaki jenjangnya melangkah sedikit cepat kearah pintu keluar, ia angkat sedikit gaun pengantin bagian depan guna membuat ia lebih leluasa bergerak cepat. Seluruh eksitensi semua pasang mata tertuju padanya. Karena aneh mengingat sedang apa wanita cantik dengan gaun pengantin ada di Bandara seorang diri?. Namun Sakura tak peduli, satu yang ia pedulikan. Yaitu, Sasuke.
Sakura terus berlari mengabaikan tatapan semua orang tertuju padanya. sampai ia berhasil keluar dari Bandara, Ia pun langung menyetop taksi yang tengah berada stand bay di depan tak jauh dari pintu masuk, yang memang taksi tersebut menunggu para turis asing atau warga lokal untuk menerima jasa antar pada para wisatawan.
Sakura pun langsung masuk ke taksi. Pengemudi taksi pun tak sanggup untuk tidak terkejut mengingat sekarang tamunya adalah seorang pengantin yang membutuhkan jasanya.
"Sir. Tolong antarkan saya ke Restaurant Blue ice beach Namikaze's." Ucapnya tanpa basa basi menyela sang supir yang berniat ingin bertanya.
"Baik, Nona." Ia pun langsung menyalakan mobilnya. mobil tersebut berjalan menembus kota London yang terlihat lengang di pagi hari.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah 15 menit untuk sampai di Retaurant megah tersebut. Taksi tersebut telah sampai menuju tujuannya. Senyum tipis terukir di bibir Sakura, wajah lelahnya terlihat jelas jika di teliti lebih dekat karena tertutupi wajah cantiknya. Ia pun membuka pintu lalu membantingnya cukup kencang, setelah ia memberi selembar Poundsterling kepada supir taksi tersebut.
Tanpa menunggu lama kaki jenjang berbalut High Sheel 10cm itu melangkah masuk ke dalam Restaurant yang terlihat masih tutup. namun sudah ada beberapa Maid yang sibuk dengan pekerjaannya, mungkin untuk persiapan ketika sore tiba. Yah, memang Restaurant ini selalu di buka pada sore dan malam hari.
Iris Emerald teduhnya menelisik seluruh aktivitas beberapa Maid yang tengah memberhentikan pekerjaannya sejenak untuk melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam. Satu Maid bersurai Coklat sepundak yang ia kenali saat Dinner bersama Gaara. Maid itu menghampirinya lalu tersenyum ramah.
"Nona, Restaurant akan buka Pukul sembilan sore nanti." Ucapnya sopan memberitahu kepada Sakura bahwa Restaurant ini masih tutup.
"Apa Waiter bernama Sasuke ada disini?. Kalau tidak ada, bisa beritahu aku alamatnya?" Iris teduhnya masih menatap Sang maid, menunggu jawaban yang keluar dari bibir tipisnya.
"Sepertinya ia tidak masuk, Alamatnya di perumahan Green Land tidak jauh dari sini, nona."
"Terimakasih." Ia pun tersenyum tipis, lalu tanpa pikir panjang ia pun keluar dari Restaurant. ia tahu letak perumahan tersebut. Dan tanpa buang waktu ia pun bergegas pergi, namun sebuah tangan lentik menggengam lengan kanannya.
Iris teduh melihat seseorang yang berani memberhentikan langkahnya, terlihat seorang wanita bersurai Pirang Ponytail berdiri di samping Maid bernama Matsuri. Ino Yamanaka, pikirnya setelah ia melihat sebuah benda persegi panjang kecil yang tersemat Nama seseorang di bahu kirinya.
Senyum manis membingkai di bibir tipis milik Ino, lalu ia menarik tangan putih mulusnya, berdeham sejenak untuk mencairkan suasana hening antara dirinya dan gadis cantik bersurai pink tersebut.
"Sorry, apakah anda-, ah maksudku apakah Nona bernama Sakura Haruno?" tanyanya gugup, karena baru kali ini ia berbicara dengan seseorang yang ia ketahui wanita Konglomerat asia dan eropa ini.
Sesaat alis Sakura bertaut setelah mendengar pertanyaan atau pernyataan dari bibir seorang Waitress di hadapanya. Tetapi tak berapa lama senyum tipis terukir di bibir Sakura, membuat kedua Maid di hadapannya terpekik kagum."iyah, saya sendiri." aku Sakura.
Kedua Waiterss itu membalas tersenyum manis.
"Bila Nona ingin bertemu dengan Sasuke, ia ada di dermaga tidak jauh dari sini, Nona." Jelas Ino, sambil terus memperhatikan Sakura.
Sejenak Iris Sakura membulat mendengar ucapan sang Waitress bersurai pirang, namun ia tak memusingkan hal itu. Ia bergegas keluar dari Restaurant, kakinya terus melangkah dengan irama cepat. Tanpa ia sadari surai Pink halusnya telah tidak tersanggul rapi seperti sedia kala. kini surainya telah sukses berkibar tertiup angin mengikuti irama langkah kakinya yang cepat, disertai tudung pengantinnya yang juga pun ikut berkibar, namun tetap menutupi surai Pink panjangnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semilir angin pagi membelai dirinya, membuat surai Raven mencuatnya sedikit bergoyang akibat hembusan angin yang menerpa surai miliknya. Iris onyxnya terus memandang hamparan lautan di hadapannya. Tubuh kekarnya pun tak bergerak sama sekali, hanya berdiam diri duduk di ujung dermaga seperti halnya gadis itu. Yah, gadis cantik dengan surai Pink panjang tersebut telah menarik eksitensinya, menarik seluruh hidupnya hanya berpusat pada wanita cantik itu, yang mungkin kini telah resmi berganti marga.
Iris onyx hitamnya perlahan menutup, rahangnya pun mengeras kala teringat ucapan yang keluar dari bibir seorang Kizashi, yang ia ketahui adalah Ayah kandung dari Sakura Haruno.
'Aku memanggilmu kemari untuk memintamu agar membuatkan gaun pengantin untuk anak gadisku, Haruno Sakura. Ia akan melangsungkan pernikahannya 4 hari dari sekarang, memang terkesan mendadak, tapi aku tahu bahwa kau bisa melakukannya sebelum hari itu tiba, aku akan memberikan nominal berapa pun yang kau minta, asalkan dia tampil cantik di hari bahagianya,"
Ingatan tersebut terus berputar layaknya kaset yang di putar ulang, membuat ia menggeram rendah. Entah kenapa sudut hatinya tidak rela jika gadis dengan surai Softpink menjadi milik orang lain, berulangkali ia merutuki sendiri hatinya dan terus menyadarkan dirinya bahwa dirinya dan Sakura berbeda, baik status, maupun perbedaan lainnya. Untuk itu ia terus berdiam diri di hadapan pantai ini, ia hanya bisa mengingat serpihan kenangan gadis musim seminya.
Ia masih mengingat bagaimana dirinya bersusah payah untuk membuat gaun pengantin untuk Sakura dalam waktu 4 hari, mungkin designer lain akan menyerah jika harus membuat gaun pengantin dalam waktu kurang dari seminggu, mengingat betapa rumitnya untuk membuat gaun pengantin serta ukirannya. Namun tidak untuknya, menurutnya ini adalah sebuah tantangan dalam kariernya sebagai perancang busana yang masih pemula di London, dan hasilnya benar-benar memuaskan.
Ia membiarkan fantasi di pikirannya tentang sakura memakai gaun pengantin rancangannya. pasti sangat cantik, Pikirnya. Begitupun tak kalah terkejutnya saat Kizashi melihat hasil tangannya, pria berumur kepala 4 itu berdecak kagum melihat gaun pengantin tersebut. Membuat seringai kepuasan tercipta di bibirnya.
Di saat ia sibuk dengan ingatannya beberapa hari lalu, sebuah tangan lentik melingkari lehernya.
Sebelumnya memang samar-samar ia mendengar langkah kaki menghampirinya, ia berpikir mungkin Hinata-adiknya yang manis itu menghampirinya, lalu mengoceh panjang mengenai keadaan dirinya yang memang kurang sehat sejak beberapa hari ini, tentu saja karena ia sibuk membuat gaun pengantin hingga membuat ia tidak bisa berhenti, Kecuali untuk minum atau ke kamar mandi sejenak. sudah 2 hari ia tidak makan.
Namun wangi parfum kesukaan Hinata bukanlah Cherry, ia ingat sekali bahwa wangi favorit Hinata-Adik tersayangnya hanyalah bunga Lavender, bukan Cherry seperti Sakura. Ah, dia lagi. Pikirnya mungkin sekarang ia sudah gila mengira Hinata-adiknya adalah Sakura.
Ia pun berusaha tidak menanggapi wanita yang tengah memeluk sayang lehernya, hingga suara lembut mengalun memanggil namanya, membuat ia tersentak.
Gadis cantik bersurai Pink tampak tersenyum manis, saat ia melihat ada pergerakan dari Sang pemuda dalam rengkuhannya.
"Apa aku mengganggumu?" ucapnya pelan sambil terus memeluk mesra leher jenjang Sasuke.
"Hn, kau selalu menggangguku. Nona-," terlihat bibir tipis Sakura berkedut mendengar jawaban sekenanya dari Sasuke. "-Selalu datang dalam mimpiku, membuatku selalu terbangun di malam hari. Dan tidak berhenti sedetik pun untuk tidak memikirkanmu setiap saat." Lanjutnya, walaupun nada bicaranya terkesan datar, namun itu semua untuk menutupi kegugupannya, karena ulah jantungnya yang berdegup kencang, seolah berontak ingin keluar dari dadanya. tetapi itu tidaklah mungkin terjadi, ia tidak mau kehilangan sifat ke-uchiha-annya di hadapan wanita yang selalu ia cintai ini.
"Apa sebegitu pentingnya'kah diriku?" iris teduhnya terus menatap pipi tirus Sasuke, meminta jawaban atas pernyataan dari bibir tipisnya.
Kepala raven menengok ke arah sampingnya, tepat di wajah cantik Sakura. Onyx bertemu emerald. Hingga tangan kekarnya menarik pinggang ramping Sakura ke pangkuannya, lalu tangan lainnya pun memegang kepala bagian belakang gadis itu, membuat Sakura seketika terkejut atas perlakuan pemuda bersurai Darkblue tersebut. Kini posisinya berada tepat dalam rengkuhan tangan kekar milik Sasuke, seketika pipi putih mulusnya bersemu kemerahan. Membuat seringai sexy terlukis di bibir Sasuke.
"Kini siapa yang akan lolos." Ucapnya sambil terus menelisik wajah ayu Sakura. Perlahan ia dekatkan kepalanya. Bibir tipis nan kenyal itu menempel satu sama lain, menyesap dan saling melumat pelan.
Sakura tahu bahwa dirinya tidak akan lolos dari pemuda ini, pemuda yang membuat ia jatuh cinta hanya dalam waktu 1 hari, ia pun juga tak mau melepas apa yang ia dapat. Walaupun keegoisan ayahnya menganturnya sekehendaknya, tapi untuk masalah hati. Ia tidak bisa mentolelir bahwa ia hanya mencintai Sasuke seorang.
Ia tidak peduli status sosial dan levelnya yang jauh di atas Sasuke, baginya bersama pemuda yang ia cintai adalah pilihannya sendiri, mengalahkan status sosial yang melekat di dalam dirinya dan Sasuke.
"Oniichan, aku sudah memperingatkanmu, kau tidak boleh ke pantai lagi, bisakah kau menuruti..." teriak Hinata yang baru saja tiba di bibir pantai hendak menarik paksa kakak tampannya, kini di buat terkejut dengan adegan di depannya. "-Omonganku." Lanjutnya pelan.
Iris sebening tiara terlihat membulat melihat kakaknya tengah duduk beberapa meter dari tempatnya berada, ia bisa melihat sebuah tangan ramping bertengger di surai raven milik kakaknya. Mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat, tangan lentiknya ia usap-usap kedua kelopak matanya. Berharap mungkin hanya halusinasinya saja melihat kakak tampannya tengah menggendong seorang gadis di dalam rengkuhan tangannya.
Sekali lagi ia melihat kearah kakaknya kembali, setelah penglihatannya sedikit jelas. Ia tetap saja melihat kakaknya tengah bersama seorang yang ia tidak kenal.
semilir angin pagi menerpa ketiganya yang tengah berapa dalam pantai. Membuat Surai panjang merah jambu menyembul di balik lengan kekar milik Sasuke. Surai indigo ikut terlihat mengalun mengikuti gerak semilir angin di pantai yang indah ini. Bibir tipis terpoles Lipgloss pink natural terlihat membentang membentuk cekung keatas. Ia tersenyum manis. Sekarang ia mengetahuinya siapa seseorang yang tengah bermesraan di ujung dermaga.
Ia tidak menyangka sahabat sekaligus bos cantiknya nekad datang dengan berpakaian seperti itu. Dirinya saja harus berganti baju terlebih dahulu di rumahnya, karena tubuhnya lelah dan juga lengket akibat berkeringat, ditambah ac di dalam kabin pesawat yang membawanya serta Naruto menuju inggris. Betapa bahagianya mereka, pikirnya. Tanpa sadar air bening mengenang di pelupuk matanya dan jatuh meluncur di pipi tirusnya.
Ia tidak sedih, justru ia bahagia. Adik mana yang betah melihat kakaknya kacau seperti tak terurus. Sudah 2 hari kakak yang paling ia sayangi jatuh sakit, dan setiap harinya hanya termenung memikirkan seseorang yang belum tentu bisa menjadi miliknya. Ia terus membujuk sang kakak untuk makan walaupun hanya beberapa sendok saja, tapi usahanya sia-sia belaka. Kakaknya justru keras kepala dan tidak mau makan. Tapi sekarang ia yakin apa yang kakaknya inginkan tercapai. Ah, mungkin double married tidak masalah bukan?, ide itu memang bagus. Pikirnya.
Hinata terus tediam sambil memerhatikan kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara itu, sampai kedua lengan kekar melingkari pinggang sekalnya dan menariknya kebelakang, membuat ia sedikit berjengit atas ulah seseorang yang tengah berdiri di belakangnya.
Nafas hangat pemuda beriris Blue Sappirre menerpa kulit leher Hinata dan mengecup singkat kulit sensitif tersebut. terlihat wanita dalam rengkuhan naruto sedikit menegang atas perlakuannya, membuat pipi putih mulus gadis tersebut merona dalam sekejab.
"Aku baru tahu, ternyata gadisku ini mempunyai hobi yang aneh, mengintip seseorang yang tengah bermesraan. apa aku salah, sayang?" ucapan Naruto seketika membuat pipi Hinata tambah merona merah, ia yakin sekali bahwa gadis miliknya ini sekarang sedang gugup, sekaligus malu secara bersamaan. Namun tak berapa lama tangan lentik itu mencubit gemas pinggang Naruto, hingga menimbulkan rintihan pelan dari bibir pemuda bersurai kuning jabrik tersebut.
"Naruto-Kun boleh aku meminta satu hal?" tanya Hinata, kini Iris beningnya ia arahkan ke lautan biru muda di hadapannya. Kedua alis Naruto sedikit menukik tapi tidak berapa lama pemuda itu menganggukan kepalanya, membuat pundak Hinata sedikit naik-turun karena letak kepala Naruto sekarang tengah berada di pundak gadis cantik itu. Hinata menghela nafasnya pelan, menghirup angin segar di pantai ini sebelum ia berucap.
"Aku ingin kita ber-empat menikah, aku dengan mu dan Sasuke-Nii dengan Nona Sakura." Ucapnya mantap tanpa ragu sedikitpun, mungkin inilah waktu yang tepat membicarakaan perihal ini kepada calon suaminya itu.
Terlihat keraguan di mata Naruto, pemuda itu bukan tidak mau double married, ia hanya khawatir, entah apa yang ia khawatirkan. tapi perasaan itu tetaplah ada di sela lubuk hatinya, namun separuh hatinya pun menyutujui permintaan calon istrinya, dengan dilaksanakan pesta pernikahan untuk kedua pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, mungkin menghemat biaya yang di keluarkan Sasuke, karena ia sudah memikirkan ini jauh-jauh hari hal ini. mengingat dirinya juga ingin membantu pernikahan Sasuke di kemudian hari nanti. ia ingin sekali mempunyai niat untuk menolong calon kakak iparnya yang kelewat dingin itu.
tetapi tidak disangka wanita yang dicintai Sasuke adalah seseorang Konglomerat dari keluarga Haruno, bahkan Kizashi Haruno-Ayah Sakura pun adalah sahabat baik dari Ayahnya-Minato Namikaze, tidak heran beberapa hari lalu Ayahnya menyetujui permintaan dari Kizashi untuk menggelar pesta termewah untuk merayakan ulang tahunya yang ke 40 tahun. Ia sungguh tidak menyangka, Ia baru menyadarinya saat Sasuke bercerita kepadanya perihal seorang gadis keturunan Haruno tersebut.
Ia memang belum menemui Sakura secara langsung, ia hanya pernah mendengar jika nama kecil keturunan Haruno itu adalah Sakura. saat pertama kali ia melihatnya pun ia terpukau dengan paras cantik yang dimiliki anak keturunan Haruno itu. Tidak heran jika banyak pria berstatus sosial tinggi ingin mempersunting wanita itu, bahkan pemuda beku dengan minim ekspresi seperti Sasuke pun ternyata keincut(?) juga dengan gadis bermarga Haruno tersebut. Peperangan batin pun tak terelakan dalam diri Naruto.
Kedua alis Hinata bertaut, ada apa dengan Naruto?, mengapa dia diam saja?. Kedua pernyataan itu muncul di kepala surai Indigonya. Tidak biasanya Naruto diam saat mendengar orang lain berbicara kepadanya, Apa yang dia sembunyikan darinya?. Tidak mau diselimuti keheningan, ia pun memutar tubuh indahnya menghadap tepat tunangannya, dan gerakannya memutar tubuh membuat Naruto kembali ke alam sadarnya. Tiara dan Blue Sappirre bertemu.
Senyum tipis terukir di bibir Naruto, dengan perlahan lengan kekar Naruto memeluk kembali pinggang ramping Hinata, lalu mengecup bibir Hinata sekilas. Walaupun hanya sekilas, tapi ia sungguh yakin perbuatannya tersebut pasti membuat Hinata merona.
"Aku mau Hinata-Chan, tapi ada syaratnya."
Kedua alis hinata kembali menukik, bingung. Itulah yang dirasakan Hinata sekarang, namun rasa penasarannya membuat ia harus mengiyakan apa yang menjadi syarat dari pemuda yang dicintainya, walaupun terlihat menyebalkan di matanya sewaktu-waktu. "baikah, sekarang apa syaratnya?" tanyanya sambil terus memandang Iris biru sappire di hadapanya. Terlihat wajah Naruto mendekat ke wajahnya hingga bibir tipis itu tepat di telinga kirinya, Membuat ritme jantungnya berdetak cepat.
"Saat kita sudah menikah nanti, aku minta satu hari darimu. Dan kau tidak boleh menolak apa pun saat hari itu tiba, Hime." Ucapnya pelan membuat nafas hangat menerpa telinga kiri Hinata lalu ia menjilatnya sensual.
'Astaga, siapa pun tolong aku..'
.
.
.
.
.
.
.
.
Restaurant bergaya eropa kini di dominasi dengan warna putih bersih dengan hiasan yang indah tertata cantik sedemikian rupa, berbagai hidangan lezat pun telah tersaji rapih di atas meja, terlihat beberapa mawar putih serta mawar pink khas perancis tertata apik di beberapa vas di setiap meja khusus untuk para tamu, juga di sela-sela guji di sudut ruangan megah ini. kini semua orang berkelas telah hadir di pesta ini dan terlihat sangat menikmati suguhan serta dekorasi dalam Restaurant mewah ini, salahkan Kushina-Ibu tercinta Naruto 'lah penyebabnya. Nyonya Namikaze itu terlihat sangat antusias mendekorasi seluruh isi Restaurant beserta para maid untuk merayakan hari istimewa yang telah di tunggu-tunggu olehnya. Tapi ini bukan acara ulang tahun yah!.
Raut bahagia jelas terpancar dari kedua pengantin wanita yang memang sedang duduk di atas sofa kebesaran mereka. Senyum manis hampir tidak pernah pudar di wajah ayu wanita dengan surai Softpink itu. Sedangkan wanita dengan surai Indigo berulang kali tersenyum tak kalah manis, sesekali menjahili wanita di sampingnya yang kini telah resmi berganti marga menjadi Uchiha. Terlihat sesekali wanita baru menyandang gelar Uchiha itu terlihat sebal hingga pipi tirusnya sedikit menggembung, sangat khas dirinya jika sedang sebal. Sementara wanita lebih muda di sampingnya hanya terkikik geli melihat Kakak tirinya tengah menahan kesal karenanya.
"Ok, Hinata. Ini konyol, dan jangan membicarakan tentang hal itu lagi!" habis kesabaran Sakura, ia sebal terhadap ulah jahil dari wanita di sampingnya.
"Yare-yare, Nona." Ucapnya sambil menekan kata 'Nona' untuk sahabat cantik satunya ini.
Makin kesal dengan Adik tirinya, ia pun membuang muka ke arah samping dengan wajah sedikit merah. Oh, Tahu tidak Hinata? Bahwa Kakak tirimu itu sedang malu akibat kata-kata jahilmu itu.
Terlihat dua Waitress berbeda surai menghampiri kedua pengantin cantik ini, membuat Hinata serta Sakura perlahan berdiri dari kursi kebesarannya. Setelah sampai kedua Waitress itu pun langsung memeluk kedua pengantin tersebut. Softpink dengan pirang Ponytail, sedangkan Indigo dengan Coklat. Mereka saling memeluk erat seolah kedua maid tersebut ikut merasakan kebahagian yang di rasakan oleh Hinata dan Sakura.
Perlahan Mereka melepas pelukan erat mereka, lalu kedua pengantin itu pun mempersilahkan kedua Maid itu untuk ikut duduk bersama di sofa kebesaran mereka. kedua maid itu mengangguk lalu berakhir dengan mereka duduk bersama Hinata dan Sakura.
"Kalian sangat cantik sekali, aku jadi iri melihat kalian." Ucap wanita bersurai coklat yang di kenal bernama Matsuri. "Iyah, kalian memang cantik tanpa make up sekali pun. Aku sangat iri waktu merias kalian tahu." Kini Ino'lah yang angkat suara membuat Hinata dan Sakura terkikik pelan mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir kedua maid Naruto.
Terlihat bibir Sakura yang terpoles Lipgloss pink hendak terbuka, namun ada suara lain yang mendahulukan niatnya untuk membalas perkataan Ino yang notabene sekarang adalah sahabatnya semenjak 2 minggu lalu.
"Ayo kita berfoto, siapa tahu buat kenang-kenangan."
"Ide bagus ayo, Nona Hinata." Dan suara dari Matsuri pun mewakili dari kedua sahabatnya yang lain.
Mendengar persetujuan dari bibir sahabat coklatnya, membuat perasaan canggung yang hampir menyelimutinya hilang seketika. tangan lentik milik Hinata terlihat merogoh sesuatu di dalam tas Soft Violet miliknya. Tak lama tangan lentiknya menarik sebuah tongkat dan sebuah smartphone terbaru S7 miliknya.
Dengan telaten ia meletakkan smartphone pintarnya disela pegangan tongkat yang memiliki panjang 1 meter tersebut. Setelah siap, ia pun segera mengangkat tongkat itu keatas dirinya hingga layar smartpone miliknya menangkap jelas rupa sahabat-sahabatnya. Mereka pun tersenyum hingga wajah mereka tertangkap kamera dan gambar tersebut masuk ke file smartphonenya.
"Wah, pasti bagus hasilnya, iyah 'kan Hinata-chan?"
"Hanya wajahmu saja yang standar disini." Ucap Hinata sekenanya membalas perkataan sahabatnya itu.
Bibir Matsuri merengut sebal mendengar perkataan yang keluar yang sekarang menjadi bosnya itu. Mendengar kalimat sindiran dari Hinata membuat Ino serta Sakura tak bisa menahan tawanya. Akhirnya mereka pun tertawa bersama, melupakan satu hal bahwa mereka saling bercanda seperti layaknya gadis-gadis yang mengenyam pendidikan sekolah menengah, ah. Mereka tidak ingat bahwa mereka sudah berumur kepala dua dan mereka malah asik bercanda ria.
Drrrtt!
Gertaran bersumber dari ponselnya seketika membuat Hinata langsung terdiam dan lekas membuka sebuah pesan singkat dari seseorang yang baru saja masuk. Iris sebening tiara terlihat membaca sambil sesekali jari jempolnya perlahan menscroll ke bawah. Tak berapa lama ia tersenyum tipis setelah membaca isi pesan tersebut, Tanpa buang waktu ia segera mengirimkan balasan berupa beberapa kalimat serta sebuah foto, dan pesannya pun telah sukses terkirim.
Melihat senyuman Hinata setelah melihat yang mereka yakini adalah sebuah pesan singkat, membuat ketiga temannya yang baru saja berhenti tertawa kini telah beralih pandang ke arah dirinya.
"Hey, Hinata. Kenapa kau tersenyum?. jangan bilang kau punya selingkuhan yah!" ucap Ino histeris saat melihat reaksi Hinata yang tersenyum beberapa saat dengan benda persegi panjang miliknya.
Hinata yang mendengar tuduhan yang di layangkan Ino sesegera mungkin menyanggahnya, jujur ia tiak berniat menduakan cinta Naruto yang sekarang telah resmi menjadi suaminya. Namun teriakkan Ino yang memang tak kecil membuat beberapa orang yang mendengar teriakkan wanita bersurai Ponytail tersebut kini menatap dirinya dengan tatapan nyalang. Benar-benar merusak suasana saja Ino ini, pikirnya. Tapi ia sangat bersyukur suami tercintanya tidak mendengar teriakkan Ino dan malah asyik bencengkramah, sesekali meminum yang ia yakini bir bersama Sasuke dan teman-temannya yang lain. Ia melirik kembali kedua orang tuanya serta keluarga Naruto yang terlihat sedang asik dengan pembicaraan, tanpa sedikit pun terusik dengan teriakkan Ino itu, Hinata pun menghembuskan nafas lega, apa yang ia pikirkan tidak terjadi. Iris hinata memandang tajam Iris aquamarine yang masih memandangnya ingin tahu itu.
"Hanya teman lama yang berada di jepang." Aku Hinata walaupun ada kebohongan di kalimatnya.
Ketiga wanita berbeda surai mengangguk sekilas, Ino pun bergumam maaf atas teriakannya yang membuat beberapa tamu tidak nyaman. Setelah mendapat anggukan dari beberapa orang tersebut, wanita cantik bertubuh langsing kini bisa bernafas lega.
.
.
.
.
.
.
.
.
Benda berlayar touch screen yang terletak diatas meja itu berkedip tanda ada sebuah pesan masuk, pria berumur kepala 4 itu langsung mengalihkan perhatiannya dari dokument-dokument ke ponselnya. Tangan besar miliknya mengambil smartphone di atas meja kerjanya. Ia membuka satu pesan singkat dari seseorang yang sangat ia kenali, bahkan sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
Senyum tipis terlukis di bibir tegasnya, sesekali jemari kekarnya mengelus seseorang di foto tersebut. Walaupun seberapa kecewanya dirinya, ia akan semakin kecewa jika putri sematawayangnya berpura-pura mencintai orang lain, bukan pemuda pilihanya. Setelah kejadian dua minggu lalu, tepat saat putri cantiknya meninggalkan pemuda itu, dirinya, dan semuanya. Tidak dapat di pungkiri rasa kecewa, malu, dan marah ia rasakan saat itu juga. Ia ingin memarahi bahkan menceramahi putrinya habis-habisan, tapi tidak setelah putrinya menolak perjodohan ini karena alasan seseorang, amarahnya meredam seketika saat melihat ketulusan terpancar di netra hijau milik anaknya. Baru kali ini ia melihat ketulusan melebihi ketulusan putrinya menyayanginya dari sewaktu kecil dahulu, sampai sekarang pun putrinya masih menyayanginya tanpa ada yang berubah.
Namun saat hari itu tiba, ia melihat semuanya di Iris Sakura. Ketulusan serta kasih sayang untuk seseorang begitu besar di iris teduh miliknya, Membuat ia bungkam seketika.
Sekarang ia tahu bahwa putrinya tidak tulus mengiyakan permohonannya, putrinya telah jatuh cinta pada pemuda lain yang bahkan ia sebagai Ayah kandungnya tidak tahu siapa pemuda yang telah dicintai putrinya itu. Ia terlalu bangga dengan putrinya yang berbeda dengan anak-anak lainnya di zaman modern ini, para anak sering membantah permintaan kedua orang tuanya, dan bahkan sering bermanja, meminta ini itu tanpa melihat keadaan orang tua mereka. tapi Sakura justru menuruti apa yang ia perintahkan tanpa protes sedikit pun, putrinya sangat patuh padanya sampai-sampai saking patuhnya Sakura pada dirinya, membuat Sakura tidak mempunyai banyak teman kerena terlalu sibuk mengejar nilai tertinggi seperti apa yang ia inginkan, hingga membuat Sakura jarang berbicara dengan anak-anak sebayanya.
berkat kegigihannya, dia selalu menjadi juara pertama di berbagai olimpiade tingkat nasional saat Sakura masih sekolah menengah pertama sampai sekolah menengah atas di sekolah elit yang ia biayai, dan kini putri kecilnya telah lulus dengan prestasi terbaik, membuat dirinya bangga. Ia merasa bahwa dirinya telah menjadi Ayah yang baik, yang telah mendidik dan membimbing putri semata wayangnya. Setelah Sakura lulus ia pun merekomondasikan Sakura untuk bekerja di salah satu perusahaan besarnya.
Kala itu Sakura terlihat ingin protes karena impiannya menjadi Disaigner terkenal menjadi berantakan karenanya. Tapi Sakura tidak marah atau pun protes padanya, justru putrinya menyetujuinya, asalkan ia setuju Sakura mengelola butique sendiri dengan memakai uangnya sendiri untuk usahanya. dirinya juga ingin sering memberi kartu kredit untuk Sakura, tapi Sakura selalu menolaknya. Dengan alasan dia ingin mandiri, merasakan bagaimana mencari uang sendiri dengan hasil keringatnya sendiri. waktu itu ia sangat senang sekali ternyata putrinya tidak manja malah terbilang wanita yang mandiri.
Iris hijau korofil miliknya memudar seiring makin banyak air yang tumpah mengenai pipi tirusnya. Ia ingin sekali bertemu putinya itu, Lalu bilang padanya bahwa ia sangat menyayanginya bagaimana pun terjadi, tetapi sekarang ia tidak bisa lagi menemui bunga sakuranya, karena kini putrinya telah menikah dengan seorang yang amat dia cintai. ia baru tahu kalau putrinya menikah dengan seorang pemuda yang sangat di kenalinya. Bahkan pemuda itulah yang membuat baju pengantin khusus untuk Sakura. Saat tahu bahwa Sasuke 'lah pemuda yang dicintain Sakura, ia malah ingin tertawa lepas. bukan menertawakan Sasuke, melainkan ia tidak menyangka jika takdir putrinya seperti ini. Mencintai seseorang berinisial 'Pangeran tomat' yang ternyata adalah Disaignernya sendiri. namun perasaan lega sekaligus tenang juga ia rasakan.
Ia tenang jika pemuda pilihan Sakura adalah pemuda yang baik, ia sangat mengenali putra sulung bermarga Uchiha itu. Wajar saja ia sangat mengenalinya.
Sadar dengan lamunan panjangnya, ia sedikit menyesal telah membuat seseorang yang mengiriminya pesan itu menunggu balasan darinya. Tangan kekarnya dengan lihat mengetik kata perkata di smarphonenya lalu ia pun menekan kata 'Send', lalu pesan itu telah sukses terkirim.
'Terima kasih, Hinata.'
.
.
.
.
.
.
.
.
*The end*
.
.
.
.
.
.
.
.
Zona Author's
Huaa chapternya panjang banget #gubrrak
maaf yah para senpai sekalian, aku hanya berusaha memaksimalkan mungkin fict ini. Agar layak di baca senpai T-T
belum lagi kayaknya alur ceritanya gaje banget, suer deh menurutku.
maafkan aku yah. #bungkuk_180_derajat
"WARNING untuk para readers:
AKU TIDAK MENERIMA FLAME DALAM BENTUK APAPUN! SEBURUK-BURUKNYA FICT INI. JIKA ANDA TIDAK SUKA. ANDA DI PERSILAHKAN TIDAK MEMBACA FICT INI KARENA BAGAIMANA PUN FICT INI AKU JUGA MEMBUATNYA DENGAN PEMIKIRANKU, TIDAK ADA CAMPUR TANGANPUN DARI ANDA.
Ok jika Senpai ramah Aku pun bisa membalas keramah tamahan Senpai
terima saran dan kritiknya Senpai, Riview tidak Riview itu terserah pada para readers. Sekali lagi aku tidak memaksa yah!
White fox
