Great, silahkan bunuh Rui karena sudah berani-beraninya mengupdate fic yang seharusnya hanyalah one-shot tanpa plot 0.o
Tapia pa dikata, ini pelampiasan nilai Rui yang udah ancur lebut. Makasih bu Husnah… sudah memberi nilah 45 di rapot Rui dan tak ada nilai untuk praktek… TRUS BUAT APAAN RUI MALEM-MALEM KE WARNET CUMA BUAT NGETIK LAPORAN!? NYARI JAS LAB (walau tetap tidak mendapatkannya).
Akh!!!! Harus nyari jas lab lagi untuk minggu depan… Yuki… kenapa kamu kudu masuk elektro? Kenapa bukan kimia? Biar Rui bisa pinjem jasnya T-T
-
Bleach – Tite Kubo
Ruina and This Story – Ruise Vein Cort
- Pagi hari di kediaman Kuchiki -
Samar suara antara piring dan sumpit yang saling beradu terdengar diselingi suara gigi yang saling bertemu dan menghancurkan makanan yang ada di dalamnya. Tepat pada suapan terakhir Rukia berbalik menghadap seorang pelayan.
"Sushi..." pinta gadis-- lebih tepat wanita itu dengan nada manja.
"Ta-- tapi, Rukia-sama..."
"Sushi..." pinta Rukia lagi dan mulai memasang mimik memelas. Pelayan itu menghela nafas pelan sebelum akhirnya mengangguk dan keluar dari ruang makan tersebut.
Byakuya yang ada di seberang meja makan hanya dapat menatap adiknya yang tidak henti-hentinya memasukkan makanan yang bernama sushi ke dalam mulut mungilnya.
Cangkir berisi teh hijau yang ada di depannya sudah berhenti mengepulkan uap-uap, mengingat sudah hampir satu jam dia menunggu adik angkat atau lebih cocok adik ipar yang pernah 'dipakai' olehnya untuk berhenti memasukkan makanan.
"Rukia... apa kau sakit?" tanya Byakuya khawatir. Rukia hanya memiringkan kepalanya dan memasang wajah polos tak mengerti.
"Maksud Nii-chan?" panggilan yang sukses membuat Byakuya membuat garis melintang panjang pada kaligrafi yang tengah dibuatnya. Setidaknya untuk menghabiskan waktu menunggu Rukia selesai makan.
"Maksudku... belakangan ini nafsu makanmu meningkat dan kau sering mual, apa kau sakit?" jelas pria berambut hitam panjang tersebut. Berusaha mengindahkan panggilan yang tidak biasa dan baru saja meluncur keluar dari bibir Rukia.
"Hum... entahlah... tapi aku sudah te-- uph!" Rukia menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya dan langsung berlari keluar ruangan.
Byakuya yang tengah menukar kertas kaligrafi dengan yang baru mulai menebak-nebak lanjutan kalimat yang ingin diutarakan oleh Rukia. Iris berwarna abu-abu miliknya mulai melirik ke arah Senbonzakura yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Terendam dalam air berisi kelopak sakura.
"Sen-chan..." lirih Byakuya yang dijawab oleh gumaman kecil oleh zanpakutou miliknya itu.
"Apa?"
"Kejadian tempo hari, aku mengeluarkannya di dalam atau di luar?" tanya Byakuya. Hati kecilnya berharap jawaban yang akan diterima olehnxa adalah di luar. Tapi jawaban itu tak akan pernah datang.
"Di dalam sebanya tiga ronde, dan tiap ronde lima kali keluar," pekik Senbonzakura tanpa ampun dan sukses membuat pemiliknya lemas dan bahkan pingsan di tempat.
"Rukia-sama, i-- BYAKUYA-SAMA!" ucapan pelayan yang tadinya lembut itu mendadak berubah menjadi jeritan melengking yang memekakkan telinga siapapun.
Para penghuni yang sebagian besar pegawai di kediaman keluarga Kuchiki tersebut dengan cepat berkumpul ke tempat asal muasal suara jeritan, mendapati Byakuya yang sudah tak sadarkan diri. Sementara Rukia masih ada di dalam kamar mandi, mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya, kecuali suatu benda yang butuh waktu lama untuk keluar tentunya. Sesuatu yang tidak ingin Byakuya dengar, melakukan juga sebenarnya tidak ada niat.
"Ara, kelihatannya aku sudah berbuat sesuatu yang benar," pekin Senbonzakura tenang. Tentunya tak ada seorangpun yang mendengar ucapannya tersebut, kecuali Byakuya yang tidak mungkin ingat karena kesadarannya tengah hilang.
"Taichou... ini la--- taichou?" Renji terdiam. Pintu geser yang baru saja dibukannya menampakkan pemandangan akan sebuah ruangan kosong.
Matahari sudah tinggi, namun taichou-nya belum juga tiba, padahal biasanya pria yang terkesan anggun itu sudah ada di mejanya dan mengecap laporan-laporan setelah mempelajarinya.
Diletakkanya beberapa lembar laporan keuangan divisi enam selama satu bulan terakhir ini. Bola matanya terus menyisir ruangan, berharap Byakuya tengah ada di suatu tempat dalam ruangan tersebut.
"Ah, Abarai-fukutaichou, syukurlah aku dapat menemukanmu," sapa sebuah suara yang cukup feminim dan halus.
Renji berbalik dan mendapati seorang shinigami berambut orange panjang berlari kecil ke arahnya.
"Ada apa, Ruina?" tanya Renji pada ajudan ketiga tersebut.
"Begini, Kuchiki-taichou hari ini meminta anda menggantikan beliau untuk menghadari rapa para taichou dua jam lagi," seru Ruina sembari menampakkan seulas senyum di wajah manisnya.
"Lagi? Dua minggu yang lalu aku juga gantikan, taichou kenapa?" protes dan tanya Renji dalam satu kalimat yang sama.
"Entahlah, kalau tidak salah beliau tengah mengurung diri di ruang doa untuk Hisana-sama," jelas Ruina yang membuat Renji menaikkan sebelah alisnya.
'Mengurung diri lagi? Setelah dua minggu yang lalu ada berita yang mengatakan dia menangis kencang di depan altar istrinya?'
"...--Aku laki-laki brengsek! Kakak yang tidak bertanggung jawab! Suami yang buruk!--..." rapalan mantra yang terus berkumandang dalam ruangan yang terbilang cukup luas tersebut.
Bibir taichou divisi enam itu terus membuka dan menutup, menyuarakan hinaan pada dirinya sendiri. Posisi bersimpuh digunakannya untuk menghadap ke arah altar Hisana istrinya.
Sayup-sayup bisikan akan kemarahan Hisana terus terdengar di telinga Byakuya, fatamorgana akan Hisana.
Selain rapalan mantra fikiranya terus berucap maaf, seiring dengan lafalan hinaan yang terus berkumandang.
"Aku... benar-benar bodoh..." hinaan terakhir yang terdengar sayup. Lidahnya mulai kaku untuk mengucapkan apapun juga. Samar ia mulai mencoba untuk mengingat apa yang membuatnya melakukan hal seperti itu, tapi hanya ada bau sake yang teringat jelas, dan juga... pesta minum sake di mana ia terpaksa menghadirinya. Bila tidak akibat paksaan dari soutaichou.
"Aku... harus bagaimana, Hisana?" serunya pelan.
Apakah ia harus menikahi Rukia? Tapi itu akan melanggar janjinya pada Hisana.
Tidak menikahi Rukia? Dan janji itu akan semakin terlanggar, semuanya terlihat menyulitkan. Pilihan yang ada melanggar janji yang sudah dibuat.
Di sudut hatinya ia ingin menjadi kakak yang baik bagi gadis-- maksudku wanita bermata violet dan merupakan cermin dari Hisana, walau kepribadian mereka bertolak belakang.
Di sisi lain ia tahu, apa yang dilakukan harus dapat dipertanggung jawabkan. Lalu... apa yang harus dilakukan?
"Hisana, bencilah aku... karena aku harus melakukannya," serunya setelah keputusan akhir menjadi jawaban untuknya.
Gambaran diri Hisana yang tengah tersenyum kini seolah menangis dengan mimik wajah kecewa. Membuat hati Byakuya serasa disayat oleh zanpakutounya sendiri.
"Ukh... ingin sushi..." seru Rukia saat tengah berjalan di koridor gedung divisi tiga belas.
Awan putih yang berarak di langit biru terlihat bagaikan sushi di mata violet miliknya. Helaian angin menerpa tubuhnya yang terdiam, merasakan buaian angin yang setidaknya dapat membuat rasa lemas di tubuh mungil itu berkurang.
"Rukia-chan, kau mau sushi tidak?" seru seseorang yang menepuk pundak Rukia pelan, Kiyone.
Mendengar nama makanan yang diinginkannya itu Rukia mengangguk cepat dan bershunpo mengikuti Kiyone yang tidak jauh di depannya. Toh tugas hari ini sudah selesai, jadi ia bisa bersantai dan memakan sushi sepuasnya, tanpa memperdulikan kantung uang yang sudah hampir menipis tentunya.
'Makan sushi... makan sushi...' sebuah rapalan kalimat yang menggambarkan seberapa inginnya Rukia terhadap makanan itu.
Shirayuki hanya dapat terdiam, menghela nafas pasrah.
Kiyone yang berada di depan Rukia menunjukkan senyuman simpul di wajahnya, mengingat ini adalah permintaan dari Ukitake untuk menganjak Rukia keluar. Taichou berambut putih panjang itu agak khawatir melihat Rukia yang terlihat lemas dan selalu mengucapkan kata sushi dalam kurun waktu satu atau dua jam.
Bulan bersinar penuh di langit malam bertahtakan bintang-bintang yang berkilauan memperindah malam.
Kelopak sakura berguguran, terkadang memasuki kolam kecil yang dihuni oleh beberapa ikan koi yang berenang ke sana ke mari.
Lilin-lilin aroma terapi menyala di sekitar kolam, membuat aroma sakura semakin tercium jelas.
Rukia berdiri di pinggir kolam tersebut, memandang bingung ke arah Byakuya yang tengah berlutut di hadapannya, mengulurkan seikat mawar merah kepada wanita itu.
"Would you marry me?" kalimat yang baru saja keluar dari mulut Byakuya kontan membuat wanita berambut hitam itu terdiam, tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
Byakuya... melamar Rukia!?
red-deimon-beta
Ruise : Sekarang sudah tidak PWP kan? Ayaya
Sen-chan : Author sinting
Ruise : Gomen Sen-chan. Ahaha, hasil mantengin web cerita di atas umur tuh. Pulsaku habis T-T
chariot330
Sen-chan : Huahahaha, dengan begini Bya-kun takkan kesepian lagi.
Ruise : Itu sebenernya plot dipaksakan, nggak mungkin aku buat Bya-kun melakukannya dengan sadar… -.-
Rukia : Pengen lagi…
Byakuya : … siapa saja bunuh aku
KuroShiro6yh
Sen-chan : Makasih pupuknya XD
Byakuya : Emang Sen-chan ngapain?
Ruise : Mending lu kagak usah tahu. Kejadian 'itu' tercapai dan ByaRuki punya keturunan XD
Rukia : Keturunan?
Ruina : Sebaiknya Kaa-san tidak tahu
Rukia : Kaa-san???
Ruise : Lupakan apa kata Ruina, itu plot untuk fic laen. Buat lagi? Um… entar lah, kalau bu Husnah berbaik hati memberikan niola 0 untukku, dan kayaknya itu nggak akan lama. Apakah kelasku benar-benar kelas IPA!? Satu kelas jeblok semua. Aku buat ini fic karena permintaan temen T-T
Baka_Neko_Chan
Ruise : Jangan pake nama gw baka!!!!!
Byakuya : Hoh…
Ruise : Ape!? Senang lu rapot gw Cuma ditulis pake pensil? Huaa… aku benci Kimia, Yaoi? Gw belum nemu bahan untuk yaoi dan nggak mau nyari, di fic laen tentang yaoi gw nggak ngeh. Moga mata lu bintitan maning XP
black armors
Sen-chan : Huahaha, akulah pelakunya
Ruise : haha, ini kibat cekikan orang di atas T-T
Mind to Review?
And tell me, Girl or Boy for their child later?
