PROTECT, a Naruro Fanfiction
by Masashi Kishimoto
Pair : OC, Gaara
Warning : banyak typo, abal-abal, hanya kayalan semata, no yaoi, ada beberapa OC buatan author, cerita ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak ada hubungannya dengan cerita asli.
Oke udah ada pembukaan kita mulai saja...
Like and comment~
...
Ikatan yang terjadi membutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Takdir yang mengikat mereka semakin dekat, dan nama sejati adalah kuncinya. Masalah mulai terjadi saat ada orang ketiga yang mengetahuinya.
...
"Hwaah!!"
DUBRAK!
Sakura, Yui, dan Gaara, jatuh bertumpukan di atas lantai setelah dimuntahkan oleh portal kemana saja milik Kurama.
"Ittai, Kurama-neechan, bisa buat pendaratan yang mulus lain kali?" gerutu Sakura.
Kurama hanya menggidikkan bahu dam membantu gadis itu berdiri. Mereka sekarang kembali ke mansion keluarga Uchiha. Yui terkadang berpikir, jika Kurama bisa menggunakan portal miliknya untuk berpergian, lalu untuk apa mereka menghabiskan setengah hari untuk berkendara ke Pantai Nanako?
Itachi sedikit meliriknya, jadi dia yakin pria itu membaca apa yang sedang dia pikirkan dan mungkin memikirkan hal yang sama. Atau tidak.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Yui saat Gaara membantunya untuk berdiri. Sebenarnya dia bisa berdiri, tentu saja dia bisa, tapi pemuda merah itu mengulurkan tangan dan dia harus menyambutnya, atau harga diri Gaara akan terluka. Setidaknya dia menghargai usaha pemuda itu untuk membantunya.
Kurama mengangguk dia mengangkat lengan kiri Itachi. "Tidak ada yang terluka, tapi Sasuke dan Itachi mendapatkan tanda ini."
Itu sebuah tanda samar yang hampir menyerupai tanda lahir, berbentuk seperti kincir angin tiga sisi dengan satu titik yang lebih gelap berada di tengah. Yui menyentuh tanda itu dan bertanya apakah itu sakit, tapi Itachi tidak memberikan tanda kesakitan atau perih.
"Hel."
Sebuah suara lembut mengalun indah di pikirannya. Itu suara Virgo. "Ya? ada sesuatu?"
"Tanda itu, adalah tanda yang sama yang ada di ukiran dinding batu di Kuil Uzumaki, apa kau ingat?"
Yui diam, berusaha mengingat ukiran apa saja yang ada di Kuil Uzumaki sebelum sebuah suara khas anak remaja ikut terdengar,
"Aku ingat, di sekitar gambar kakek yang berkalung dan bertanduk itu ada tanda ini!"
Sekarang Yui ingat, di kuil keluarga Bibi Kushina terdapat sebuah ukiran besar yang mana ukiran itu adalah ukiran seseorang yang memulai semua ini, Rikudo Sennin, di kanan dan kirinya ada lambang bulan sabit dan matahari, di sekitar bulan sabit itu ada lingkarang-lingkaran kecil yang memiliki pola banyak pola berbeda, dan salah satunya ada pola ini, pasti sama!
Yui tersentak saat suara Kurama dengan jelas masuk ke gendang telinganya, "Ya, memang ada, tapi aku tidak pernah memperhatikan sejauh itu."
Dan detik selanjutnya dia sadar bahwa dia telah menyuarakan apa yang dia pikirkan. "Maaf." gumamnya.
"Tidak, tidak, jika benar begitu, berarti ini bukan sesuatu yang berbahaya dan mengancam nyawa. Kita hanya perlu mencari tau apa." Celetuk Itachi.
"Itu adalah cerita lama, berasal dari masa muse pertama kali muncul." Kurama bergumam sebentar, "Besok kita akan pergi ke barat, mengunjungi kampung halamanku."
Mendengar berita itu Naruto spontan berteriak dan bangkit dari sofa tempatnya duduk, "Pulang! kita akan pulang! ini berita bagus, aku akan memberi tahu kaa-san dan tou-san!" dan berlari menuju telepon terdekat di detik berikutnya.
Karena hari masih siang dan mereka batal berlibur di pantai seharian, ketujuh orang itu mulai melakukan rutinitas mereka di sekitar mansion. Itachi sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerja, Kurama dan Naruto berkebun di halaman belakang, Sasuke membantu dua bersaudara itu berkebun, Yui dan Sakura pergi ke kota untuk berbelanja, dan Gaara berkeliling mencari Yui.
"Mencari sesuatu?" tanya Itachi saat pergi ke dapur mengambil minum.
"Lebih tepatnya seseorang." Ucap Gaara singkat.
Itachi mengangguk dengan gelas plastik yang menggantung di antara bibirnya, kemudian mengisi gelas itu penuh untuk dibawa ke ruang kerjanya.
"Bersama Sakura, mereka pergi ke kota untuk mencari bahan keperluan bulanan." Itachi terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Apa kau bebas sekarang? aku perlu bantuan dengan kertas data, mau membantuku?"
Tanpa pikir panjang, bahkan sebelum Itachi selesai dengan kalimatnya, Gaara sudah menyetujui tawaran itu. Kemudian dengan patuh, pemuda merah itu berjalan mengekori Itachi ke ruang kerjanya.
Gaara adalah anggota terakhir yang bergabung dengan mansion ini. Saat itu hujan badai dan beberapa dari mereka belum kembali dari tugas membersihkan kekacauan kota. Saat itulah Yui, Naruto, dan Sasuke kembali dengan membawa Gaara.
Anak ini memang tidak banyak bicara, jadi tidak banyak yang tau bagaimana ketiga orang yang pergi dalam satu misi itu menemukan pemuda ini, yang mereka tau, sedari awal Gaara datang adalah bahwa takdirnya dan takdir Yui terikat. Bagaimana itu terjadi, tidak ada yang mau membicarakannya.
"Nah, Gaara, tugasmu adalah memeriksa apakah data yang berada di sini sesuai dengan data di buku ini. Bisa melakukannya?" pinta Itachi seraya menyerahkan setumpukan dokumen dan sebuah buku catatan besar pada Gaara.
"Baiklah, aku akan berusaha."
Itachi tersenyum puas saat Gaara mulai memeriksa banyak kertas data itu, sekarang pekerjaannya menjadi lebih ringan, lebih cepat selesai, dan dia memiliki banyak waktu bersama rubah merahnya.
"Ada yang lucu, Itachi?" pertanyaan singkat itu membuat wajah serius Itachi kembali. Cepat-cepat dia berdehem dan kembali serius di depan laptopnya.
Ruangan itu lengang selama kurang lebih tiga puluh menit, hanya diisi oleh suara keyboard laptop dan gesekan kertas yang dibalik.
Tak dapat dipungkiri Gaara bosan, jadi diam-diam dia membatasi pikirannya, dan menghubungi Yui lewat koneksi mereka. Mereka mengobrol lama pada awalnya, hingga Yui terdiam cukup lama dan membalasnya dengan singkat.
"Hel."
Gaara memanggil setelah orang di seberang sana terdiam cukup lama. Perasaannya tidak enak. Setelah cukup lama menunggu dan memanggil beberapa kali, Gaara merasa bahwa lehernya sakit dan eksistensi Yui mulai melemah, dia dalam keadaan tidak sadar. Bukan tertidur, karena rasanya sangat berbeda.
"Gaara, ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Itachi saat suara dari pikiran Gaara yang tidak jelas mengganggunya.
Gaara terdiam pada awalnya, menatap Itachi seakan menilai apakah pemuda ini bisa dia percaya. Tapi pada akhirnya, dia menyerah dan memberi tahu pemuda Uchiha itu.
"Yui, tidak sadarkan diri. Aku bisa merasakan eksistensinya melemah," Gaara terdiam, "hilang."
Dengan gerakan yang tenang namun terkesan terburu-buru, Gaara memanggil malaikat pelindungnya untuk pergi dan mencari dimana Yui berada. Tak perlu waktu lama, burung pasir itu terbang keluar ventilasi dan menghilang dari ruangan.
Itachi mendekat. Dia tau hubungan Gaara dan Yui spesial. Mereka berbeda dari muse kebanyakan, tapi ini adalah hal baru baginya, jadi ia ingin mengetahui lebih banyak. "Maksudmu? bisa kau jelaskan?"
"Kami bisa merasakan aura hidup satu sama lain, saat dia tertidur, tak sadarkan diri, atau mati, kami akan segera mengetahuinya."
"Bagaimana bisa begitu. Hubungan muse memang timbal balik, tapi tidak sampai sedetail itu. Kecuali jika kalian terhubung dengan metode itu. Tapi itu akan sangat riskan untuk dilakukan, bahkan oleh seorang yang mencapai level abadi sekalipun." kata Itachi.
Gaara mengangguk, "Ya, itu karena Yui Special."
Sebelum Itachi dapat bertanya lebih jauh, burung pasir yang dikirim Gaara kembali, hinggap di tangan tuannya, dan pecah menjadi butiran pasir.
BRAK!!
"Itachi!"
Tepat saat burung itu tercerai menjadi butiran m pasir, Kurama membanting pintu untuk membukanya,
"Kita punya masalah!"
Mereka berlari menuruni tangga dengan terburu-buru menuju ruang pusaka di basement mansion itu, menghampiri Naruto, Sasuke, dan Sakurang yang lebih dulu pergi ke sana.
"Sakura apa yang terjadi?" tanya Gaara sesaat setelah mereka masuk.
Gadis merah jambu itu terlihat berantakan, beberapa pakaiannya terkoyak dan ada luka melintanng di pipinya.
"Kami berbelanja, dan seseorang menyerang kami secara tiba-tiba saat akan kembali." Jelas Sakura sedikit terbata.
"Bagaimana keadaannya?" Gaara mendekat, melihat keadaan muse-nya lebih jelas.
"Gaara tenang, dia baik-baik saja. Kau tau dia hanya tertidur kan." Ucap Naruto berusaha menenangkan pemuda yang tengah panik itu, meski tak terlihat di raut wajahnya bahwa ia panik.
"Tapi ada yang aneh tentang Yui." Sakura bergumam.
Itachi melangkah mendekat, meletakkan tangannya di kening gadis itu. "Dia tidak di sini."
"Apa maksudmu?" tanya Kurama.
Itachi dan Sakura saling menatap, kemudian mengangguk singkat dan menatap Gaara.
"Gaara, dimana dia?"
Untuk sesaat Gaara terdiam kemudian berkata, "Dia tidak di sini, saat aku merasakan bahwa aura hidupnya menghilang aku tau dia tak lagi di sini."
Naruto terperangah kaget. "Maksudmu? apa maksudmu dia-"
"Tidak. Jiwanya berpindah ke tempat lain." Sebelun Naruto selesai dengan kata-katanya Sasuke memotong dan mengganti dengan kalimat yang tidak terlaku sensitiv.
"Lalu dimana?"
Pertanyaan itu menggantung begitu saja, tidak ada yang menjawab meski sudah lima menit berlalu. Akhirnya Kurama memutuskan sesuatu untuk kebaikan mereka,
"Kita akan pergi ke kampung halamanku, di sana kita bisa tanyakan dimana Yui pada kakakku."
Otak Naruto langsung mengerti maksud kakak sepupunya ini. Ibunya pasti bisa menolong. "Ah kau benar! Tenang saja Gaara, kaa-san adalah penyihir yang sangat hebat dan kuat. Dia akan tau dimana Yui berada."
"Sekarang sebaiknya kita beristrahat, kita akan berangkat pagi-pagi, jadi jangan ada yang terlambat." Tambah Kurama sebelum berbalik dan keluar dari sana. Itachi ikut berbalik, disusul Sakura yang juga keluar setelah memberi tepukan penyemangat pada Gaara.
"Ingin menemaninya?" tanya Naruto sebelum keluar bersama Sasuke.
Gaara tidak menjawab, hanya anggukan yang dilakukannya sebagai tanda.
"Aku keluar dulu, makan malamlah sebentar lagi. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja." ucapnya menenangkan.
Gaara tau, Yui pasti baik-baik saja. Dia tidak lemah, tidak sama sekali, tapi apa yang membuatnya hingga memilih untuk meninggalkan tubuhnya dan mengungsi?
"Hel."
Jadi dia mencoba memanggil Yui untuk memastikan bahwa mereka masih terhubung. Tapi tidak ada jawaban.
Saat berkonsentrasi untuk merasakan jiwa gadisnya, sesuatu serasa menembus melewati wajahnya, sesuatu yang tak kasat mata.
"...APH!"
Gaara kembali fokus, memasuki ruang tenang dalam pikirannya. Sensasi dingin itu kembali lewat, masih di tempat yang sama. Saat kesadarannya benar-benar memasuki ruang tenang dalam pikirannya, akhirnya suara yang dicarinya terdengar.
"RAPH! Raph kau mendengarku?!"
Saat itu ia menghela napas lega, mereka masih terhubung, itu berarti jiwa Yui dalam keadaan baik-baik saja, tidak terkoyak ataupun hancur. Tapi kenapa suaranya terdengar sangat jauh?
"Hel, kau dimana? Apa kau baik-baik saja?"
Yui terkekeh kemudian menjawab, bahwa dia baik-baik saja, dan Gaara tak perlu merasa khawatir karena dia merasa dia tidak berada di tempat yang berbahaya. Tapi dia terkurung, seseorang mendorong roh astralnya keluar dan memasukkan sebuah jarum sehingga jiwanya tak dapat kembali begitu mereka terpisah.
Sebagai muse yang baik, bahkan sebelum Gaara bertanya tentang detail tempat dan mengapa dia bisa berakhir di sana, Yui dengan senang hati menceritakannya.
"Saat itu juga ketika aku keluar dan tak bisa mencoba untuk masuk kembali, jiwaku tersedot ke sebuah benda. Raph, itu seperti kendi yang terbuat dari kaca. Orang itu sepertinya memang ingin menangkapku atau sesuatu.
"Carilah aku, Raph. Aku ada di suatu tempat di daerah Barat. Aku menunggumu."
Gaara mengangguk meski dia tau bahwa orang di seberang koneksi tidak akan bisa melihatnya,
"Pasti, aku akan datang menjemputmu. Tunggulah di sana."
CONTINUE...
