AFFAIR
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Drama
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
I turn away, I push you away but you come to me again...
.
.
"Besok aku harus ke kantor, ada banyak hal yang harus aku urus."
Pemberitahuan Donghae menjadi pembuka pembicaraan mereka siang itu, Hyukjae mendengarkan Donghae tapi mata dan tangannya sibuk menata meja makan. Obrolan mereka memang tidak pernah jauh-jauh dari urusan kantor, obrolan romantis hanya terjadi ketika mereka berdua ada di ranjang. Bahkan di akhir pekan seperti sekarang ini, mereka juga tidak bisa menghabiskan waktu berduaan saja karena pasti salah satu di antara mereka akan mendapat panggilan telepon dan mau tidak mau mereka harus menyelesaikan urusan kantor terlebih dahulu. Jarang sekali mereka bisa menghabiskan waktu romantis berdua.
"Di hari Minggu? Urusan apa?"
"Perpindahan kontrak sebuah grup dari agensi lama ke agensi kita."
"Bukankah itu urusan Henry? Kenapa tiba-tiba kau yang turun tangan sendiri."
"Aku pergi mengurus masalah ini dengannya, dia bilang masalahnya cukup rumit karena agensi yang menaungi mereka sekarang tidak mau melepas mereka begitu saja. Jadi, mereka meminta bantuan kita agar masalah kontrak mereka dengan agensi lama cepat selesai."
"Oh."
Hyukjae manggut-manggut, ia mengunyah roti tawarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Donghae. Menyebalkan, ketika baru bangun pun Donghae tetap terlihat menawan, rambut cokelat gelapnya, mata hazelnya dan bibir tipisnya yang bergerak-gerak itu membuat Hyukjae gemas dan ingin menggigitnya.
"Lihat apa?"
"Bibirmu."
Donghae terkekeh, ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh belahan jiwanya itu.
"Kemarilah."
Tanpa bertanya lagi untuk apa, Hyukjae langsung melompat dan duduk di pangkuan Donghae, ia melumat bibir tipis Donghae yang sejak tadi ia pandangi. Setiap kali ada waktu berdua, mereka selalu begini, memanfaatkan waktu sempit mereka di tengah-tengah kesibukan mereka yang menggila.
"Aku belum selesai makan."
Donghae mengusap bibir plum Eunhyuk dengan ibu jarinya begitu tautan mereka terlepas, meski hasratnya untuk menyentuh Hyukjae sudah tinggi tapi ia juga perlu makan untuk mengisi tenaga. Selama enam hari bekerja Donghae selalu melewatkan jam makannya, jadi ia hanya bisa makan dengan teratur ketika akhir pekan tiba.
"Ponselmu bergetar."
Hyukjae menyingkir dari tubuh Donghae, ia duduk di samping Donghae memperhatikan Donghae yang sedang berbicara cukup serius di telepon. Kalau wajahnya seserius itu, sudah pasti dia sedang membicarakan masalah perusahaan. Menyebalkan sekali, di akhir pekan seperti ini masih saja ada yang menganggu waktu pribadi mereka dengan urusan kantor.
"Siapa?"
"Siwon, dia ingin tanda tangan kontrak dengan perusahaan kita secepatnya."
Oh, Choi Siwon aktor sekaligus penyanyi yang sedang naik daun belakangan ini. Siwon yang tak lain sahabat mereka berdua itu sedang membicarakan soal kontrak kerja yang ditawarkan Donghae padanya tempo hari, kebetulan kontrak Siwon dengan agensi lamanya sudah berakhir dan Donghae mengambil kesempatan itu untuk menarik Siwon masuk ke dalam agensinya. Prosesnya cukup cepat, mungkin karena mereka sudah lama bersahabat jadi membicarakan perihal kontrak dan hitung-hitungan secara santai.
"Sabtu bertemu Siwon, Minggu bertemu grup bermasalah. Kapan waktu untukku? Kapan waktu liburmu? Dan lagi pula urusan kontrak adalah urusanku! Kenapa dia terus-terusan menghubungimu?"
"Maaf, sayang. Bukankah kau sendiri yang menyerahkan masalah ini padaku? Kau bilang hanya ingin membuat perjanjian kontraknya saja tapi tidak mau terlibat secara langsung dengannya. Sudahlah, aku mandi dulu."
"Makan siangmu?"
"Aku harus bertemu Henry dan membicarakan semua ini."
Suara derit kursi membawa pandangan Donghae pada wajah kesal Hyukjae. Donghae mendesah pelan, Hyukjae pasti kesal karena di akhir pekan seperti ini ia tetap memaksakan diri datang ke kantor. Debuman suara pintu menyadarkan Donghae bahwa saat ini Hyukjae sedang benar-benar marah padanya. Mau tidak mau, Donghae menunda acara mandinya dan menghampiri Hyukjae ke kamar. Hanya perlu sedikit rayuan dan kecupan, Donghae yakin Hyukjae akan luluh dan melepaskannya pergi ke kantor.
"Kau marah?"
"Iya!"
"Lalu apa maumu?"
"Penismu!"
Okay, Hyukjae memang selalu sevulgar itu ketika mereka hanya berduaan dan tentu saja itu membuat Hyukjae semakin tampak sexy di mata Donghae, sayangnya Donghae tidak bisa berbuat apa-apa karena pertemuan hari ini sangat penting dan tidak bisa dilewatkan begitu saja.
"Kau akan mendapatkannya nanti malam."
Hyukjae tersenyum, ia berbalik menatap Donghae lalu memeluknya posesif.
"Jangan terlalu dekat dengan Henry, aku tidak suka."
"Aku tahu."
Donghae memagut bibir Hyukjae sekilas sebelum masuk ke kamar mandi, sulit sekali beranjak dari tempatnya sekarang. Inginnya terus seperti ini bersama Hyukjae tapi apa boleh buat? Pekerjaan harus diutamakan dulu untuk saat ini.
"Donghae."
Tanpa disadari oleh Donghae, Hyukjae mengkutinya masuk ke kamar mandi lalu mengusap punggung Donghae dengan seduktif. Dan lihatlah bagaimana cara Hyukjae memanggilnya, dia benar-benar tahu Donghae paling tidak bisa mendengar suara desahan Hyukjae, apalagi di buat mendayu seperti itu.
"Kalau aku melakukannya sekarang, maka pekerjaan ini akan tertunda dan kau tahu berapa kerugian yang akan kita terima?"
"Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya membantumu menggosok punggungmu."
Donghae menolehan kepalanya lalu terkekeh ketika melihat raut wajah masam Hyukjae, dia selalu seperti itu ketika Donghae menolaknya.
"Perjanjian kontrak kerja untuk Siwon sudah selesai?"
"Aku sudah memasukannya ke dalam tas kerjamu."
"Hm."
Selesai dengan adegan kamar mandi mereka, Hyukjae membantu Donghae memilihkan jas dan kemeja. Biasanya, Hyukjae tidak pernah melakukan hal ini karena di hari-hari biasa Hyukjae juga sibuk mengurus keperluannya sendiri, tapi khusus hari ini Hyukjae menyiapkan segala keperluan Donghae.
"Ingat, jangan memandang Henry dengan tatapan sendumu atau aku akan menusuk matamu itu! Ah, kau selalu menatap semua orang dengan tatapan yang lembut sehingga tidak heran banyak orang jatuh cinta padamu dengan mudahnya."
"Termasuk dirimu?"
"Kau—"
Donghae melumat bibir Hyukjae sebelum laki-laki berambut pirang itu menyelesaikan kalimatnya. Demi apapun! Donghae tidak pernah tahan melihat Hyukjae merajuk dan menunjukan rasa cemburunya, terdengar galak tapi sangat menggemaskan. Dan juga, ketika Hyukjae melakukan itu, Donghae merasa berarti dan sangat diinginkan oleh Hyukjae.
"Nanti malam, aku ingin kau bersiap saat aku pulang."
Untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi, Donghae mengecup bibir plum Hyukjae lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Apa-apaan tadi itu?"
"Wink."
"Wink? Kau mengedipkan kedua matamu. Bodoh!"
"Aku mencintaimu."
"Aku tahu. Karena aku lebih mencintaimu lagi."
Seandainya bisa terus seperti, alangkah bagusnya...
.
.
Donghae melangkah dengan percaya diri, senyum yang tidak pernah lepas dari wajah tampannya itu mengundang tatapan kagum dari beberapa pengunjung restoran siang itu. Di akhir pekan ini, Donghae tidak mau mengadakan pertemuan di kantor karena terkesan sangat formal. Jadi, Donghae memutuskan untuk mengurus kontrak kerja dengan Siwon di restoran yang cukup santai ini.
"Sajangnim! Selamat siang!"
Senyum Donghae semakin cerah saat melihat Henry membungkuk dan menyapanya dengan riang seperti biasa, laki-laki bermata sipit itu selalu tersenyum dan tampak riang dimanapun dan kapanpun membuat suasana menjadi meriah dan menyenangkan.
"Kau membuatku repot lagi. Ini tugasmu dan kau malah melimpahkannya padaku, kau sudah bosan dengan jabatanmu sekarang? tidak kau, tidak Hyukjae, kalian berdua sama saja! Sama-sama suka membuatku repot."
"Wajahmu tidak pantas mengucapkan kata-kata kejam seperti itu."
Tangan Donghae terulur lalu mencubit gemas pipi Henry. Usianya sudah duapuluh delapan tahun tapi wajahnya masih seperti anak-anak dan dengan wajah Henry yang seperti itu, sering kali ada klien yang protes karena mengira Henry masih anak-anak.
"Tugas menjadi manager berat sekali, bukan?"
"Hm, melelahkan. Aku bahkan kurang tidur dan makan."
"Hai, maaf telat."
Donghae dan Henry berdiri menyambut kedatangan Siwon, laki-laki berperawakan tinggi itu tersenyum menunjukan kedua lesung pipinya.
"Dasar pemalas! Kau telat karena semalaman kau mabuk, huh?"
"Mengertilah, idola juga manusia."
Donghae berdecih mendengar jawaban Siwon, pantas saja Hyukjae tidak mau terlibat secara langsung dengannya dan meminta Donghae mengurus semuanya. Lihat saja nanti, kalau sudah resmi menjadi artis di bawah naungan agensinya, Donghae tidak akan pernah membiarkan Siwon hidup sesukanya. Sebagai orang yang sangat sibuk seharusnya Siwon menjaga kondisi tubunya dan tidak mennyiakan waktunya dengan mabuk-mabukan karena itu akan membuat tubuhnya rusak dan akhirnya sakit.
"Bukankah yang mengurus kontrak seharusnya manager dan Daepyonim saja? Kenapa malah kau yang turun tangan?"
"Kau itu artis yang banyak maunya, Hyukjae mana mau menghadapimu. Masih bagus aku mau melayanimu di akhir pekan seperti ini!"
"Dia itu pemalas sekali!"
"Sekali lagi kau bicara yang tidak penting, kertas kontrak ini akan ada di mulutmu!"
Siwon mencibir Donghae, sejak remaja bersahabat baru kali ini ia mendengar Donghae berucap segalak itu. Sejak sekolah menengah pertama, Donghae di kenal sebagai sosok yang sangat tenang dan tidak banyak bicara. Tidak di sangka setelah menikah dengan Hyukjae, dia jadi banyak berubah dan cara bicaranya mulai terdengar seperti Hyukjae. Ternyata ungkapan 'kalau kau hidup terlalu lama dengan seseorang, tanpa sadar kebiasaanmu juga akan sama' memang benar adanya.
"Ngomong-ngomong, cintamu pada Hyukjae apa masih sama seperti dulu? Sudah lima tahun kalian menikah, bukan?"
Konsentrasi Donghae terusik, merasa terganggu dengan pertanyaan retoris Siwon. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah ada jawabannya? Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik Donghae selalu jatuh cinta pada Hyukjae dan tidak ada alasan baginya untuk merasa bosan atau berubah.
"Apa maksudmu?"
"Kupikir menikah dengan wanita akan lebih menyenangkan. Maksudku, kau bisa punya anak dan punya kehidupan normal tanpa di gunjing orang."
"Choi Siwon-ssi!"
Henry memeolototi Siwon yang mulai menyebalkan, tidak tahukah dia? Donghae sangat sensitif dan pertanyaannya tadi sungguh keterlaluan dan menyinggung.
"Aku tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan konyolmu itu dan aku juga tidak ingin menjawab pertanyaan retoris itu. Aku yakin, tanpa aku jawab pun kau sudah tahu jawabannya."
Selesai berkata demikian Donghae beranjak dari kursinya dan menyuruh Henry menyelesaikan proses tanda tangan kontrak itu. Pertanyaan Siwon barusan membuat darahnya mendidih, ia tahu Siwon memang suka bicara sembarangan tapi pertanyaannya barusan sudah melewati batas dan sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia menanyakan hal sensitif seperti itu? Hancur sudah suasana hati Donghae hari ini. Sudah tidak bisa menghabiskan akhir pekan dengan Hyukjae, sekarang Siwon sialan itu malah menanyakan hal yang sangat sensitif. Brengsek!
Kalau di tanya bosan atau tidak, mungkin benar Donghae pernah merasa bosan hanya hidup berdua saja dengan Hyukjae. Kadang ia juga ingin memiliki anak yang akan memanggilnya ayah dengan bangga, tapi dengan hadirnya Hyukjae dihidupnya saat ini Donghae sudah merasa sangat bahagia. Setiap hari Hyukjae punya cara tersendiri untuk membuat Donghae terus jatuh cinta padanya dan cinta mereka dari hari ke hari terasa seperti baru meski tanpa kehadiran seorang anak, karena mereka tahu bagaimana cara mengatasi bosan di antara mereka.
"Sialan!"
"Benar, dia memang sialan!"
Henry menghampiri Donghae yang sedang mengumpat dan mengutuk Siwon di pinggir Sungai Han, ia memberikan sekaleng kopi hangat ke tangan Donghae. Meski sebentar lagi musim semi datang, tapi cuaca hari ini masih sangat dingin.
"Kau yakin mau mengontraknya sebagai artis kita? Kelakuannya sangat menyebalkan."
"Dia sahabatku sejak remaja, aku tahu betul bagaimana dia. Tidak usah kau pikirkan."
"Aku penasaran."
"Hm?"
"Jawaban untuk pertanyaan Choi Siwon tadi."
Donghae menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kencang. Sesungguhnya Donghae juga bingung mau menjawab apa, dalam hati ia terus meyakinkan dirinya bahwa dirinya sangat mencintai Hyukjae dan tidak pernah bosan, tapi pada kenyataannya ia seperti goyah dan tidak tahu jawaban yang pasti.
"Aku bertanya karena aku tahu kau sangat menyukai anak-anak."
Henry kembali buka suara tapi Donghae tetap diam seribu bahasa, batinnya seperti sedang berperang dan pikirannya sibuk memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Apa yang harus ia katakan? Ingin mengatakan sesuatu yang positif, tapi batin dan pikirannya seperti berbenturan.
"Jujur saja, aku juga kadang memikirkan alangkah menyenangkannya kalau di rumah ada suara rengekan seorang anak, tapi kemudian ketika aku memikirkannya lagi, hidup berdua saja dengan Hyukjae cukup menyenangkan bagiku. Kalau kami punya anak mungkin urusan perusahaan akan terbengkalai."
"Jawaban macam apa itu? Mulailah memikirkan soal kebahagiaanmu sendiri dan jangan terus mengutamakan perusahaan."
Mungkin ambisinya mengejar kesuksesan membuat Donghae lupa dengan kebahagiaannya sendiri, bahkan mungkin Donghae juga telah mengabaikan kebahagiaan Hyukjae. Selama ini mereka saling mengucap kata cinta tapi tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya dirasakan oleh perasaan masing-masing, mereka terus sibuk dengan urusan orang lain dan mengabaikan urusan sendiri.
Apakah ini yang di sebut keraguan?
.
.
Larut malam, Donghae baru kembali ke rumah. Tidak ada niat sedikitpun mengingkari janjinya pada Hyukjae, hanya saja ia terlalu asik mengobrol dengan Henry hingga lupa waktu. Donghae melepaskan setelan jasnya dan berganti dengan kaos serta celana training santai, ia menghampiri Hyukjae yang sudah terlelap di tempat tidur mereka. Hyukjae pasti menunggunya terlalu lama hingga ketiduran seperti itu.
"Maafkan aku."
Jemari Donghae mengelus lembut wajah damai Hyukjae, pembicaraannya tadi siang dengan Siwon maupun Henry membuatnya tiba-tiba merasa bersalah. Tidak seharusnya Donghae meragukan cintanya pada Hyukjae, usaha mereka untuk bersama seperti sekarang ini tidaklah mudah. Jadi, tidak sepantasnya Donghae ragu dengan perasaannya sendiri.
"Kenapa malam sekali pulangnya?"
"Aku bicara dengan Henry sampai lupa waktu, maaf."
Hyukjae berdecak, "Henry lagi, Henry lagi! Sekarang, peluk aku dan jangan bahas-bahas soal Henry."
"Maaf."
Hyukjae memeluk Donghae erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Donghae. Malam ini ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Donghae, saking lelahnya ia sampai lupa tadi siang ia membuat janji dengan Donghae.
"Hyukjae, pernahkah kau memikirkan ada anak-anak di antara kita?"
Mata Hyukjae yang hampir terpejam kembali terbuka, ia melepaskan pelukannya lalu menatap Donghae penuh tanya. Selama lima tahun hidup bersama, baru kali ini Donghae bertanya soal anak. Hyukjae tahu Donghae sangat menyukai anak-anak, tapi dia tidak pernah sekalipun membahas anak dengan Hyukjae.
"Aku hanya bertanya, kau tidak perlu memikirkannya terlalu serius. Lagi pula, kalau ada anak-anak di antara kita akan sangat mengganggu pekerjaan kita."
Hyukjae terus menatap Donghae tanpa berkedip, ia masih merasa takjub dengan pertanyaan Donghae barusan.
"Okay, aku rasa sebaiknya kita tidur dan lupakan pertanyaanku barusan."
"Aku pernah memikirkannya, bahkan berencana membicarakannya denganmu. Tapi karena kau bilang anak-anak merepotkan, maka aku tidak akan membahasnya lagi."
Donghae merasa tertohok dengan pernyataan Hyukjae barusan. Reaksi Hyukjae sungguh di luar dugaan, tadinya Donghae menduga Hyukjae akan langsung mengomelinya atau memakinya atau apapun itu. Tapi kenapa reaksi yang ditunjukan Hyukjae justru sebaliknya? Apa Hyukjae sungguh-sungguh menginginkan kehadiran seorang anak juga?
"Seminggu yang lalu aku pergi dengan Ryeowook ke panti asuhan, di sana aku melihat anak-anak dan tiba-tiba aku ingin mengadopsi salah satu dari mereka untuk meramaikan suasana rumah karena aku tahu kau sangat menyukai anak-anak. Jadi aku pikir, mungkin sebaiknya aku mulai memikirkan untuk mengadopsi anak agar kau bahagia. Tapi karena kau bilang lupakan saja, aku hanya akan menuruti apa katamu. Selamat malam."
Sepanjang malam Donghae tidak bisa memejamkan matanya, ia memeluk Hyukjae dalam keadaan terjaga. Bagaimana ia bisa tidur dengan tenang? Sementara ucapan Hyukjae sungguh mengganggu pikirannya! Ternyata meski sama-sama sibuk dengan urusan perusahaan, Hyukjae tetap memikirkan kebahagiaannya. Bodohnya Donghae karena ia sempat meragukan ketulusan Hyukjae, ia bahkan memikirkan kata-kata Siwon terlalu dalam hingga tidak bisa berpikir jernih.
Saat pagi menjelang, Donghae tetap tidak bisa memejamkan matanya, ia terus saja memandangi Hyukjae yang terlelap dipelukannya dengan damai. Perlahan rasa bersalah mulai menggerayangi Donghae, tidak seharusnya ia meragukan Hyukjae yang ternyata selalu memikirkan kebahagiaannya. Bukan hanya memikirkan kebahagiaannya, Hyukjae bahkan memikirkan kehidupan pernikahan mereka.
"Kau sudah bangun duluan?"
Donghae mengangguk pelan, ia tidak mau membuat Hyukjae cemas dengan mengatakan ia terjaga sepanjang malam karena memikirkan ucapannya.
"Kau mandi duluan, aku akan menyiapkan sarapan dulu."
"Memangnya kau mau kemana?"
"kemarin Henry menelepon, katanya urusan kontrak dengan Siwon belum selesai. Apa kau adu mulut lagi dengannya?"
"Itu—"
"Sudah kuduga. Ya sudah, cepat mandi sana."
Lagi-lagi Donghae mengangguk tanpa kata, membuat Hyukjae tersenyum gemas lalu mencubit kedua pipinya.
"My husband so handsome!"
Donghae meraih tangan Hyukjae lalu mengecupnya bertubi-tubi, ia tidak tahu harus bagaimana meminta maaf pada Hyukjae.
"Maafkan aku."
"Jangan di bahas lagi."
Selesai mandi, Donghae langsung disuguhkan secangkir kopi hangat di meja makan. Suasana pagi ini terasa sangat hambar dan sedikit canggung, Donghae sungguh merasa tidak enak karena ucapannya semalam. Meski Hyukjae bersikap biasa saja, tetap saja Donghae tidak enak hati. Sudah sempat meragukan Hyukjae hanya karena ucapan tidak masuk akal Siwon, ia juga mengucapkan hal yang mungkin saja membuat Hyukjae sedih. Oh, di tambah lagi acara akhir pekan mereka berantakan karena kontrak-kontrak sialan! Sungguh hari yang melelahkan.
"Hari ini aku akan bertemu Siwon di kantor dan membahas kontraknya lagi, aku tidak mau dia melanggar satupun perjanjian kontraknya. Oh, dan masalah debut grup baru, aku akan segera mengirimkan rinciannya padamu malam ini juga. Hm, grup yang bermasalah itu, pastikan kau menyelesaikannya dengan benar. Kalau sudah selesai, aku akan membuat kontraknya."
"Seperti biasa, pada akhirnya kita tetap bekerja di hari Minggu."
Hyukjae tersenyum sebelum mengecup singkat bibir Donghae, "Aku berangkat duluan, sayang."
"Hm."
Untuk kesekian kalinya, Donghae sarapan sendiri lagi. Padahal Hyukjae sendiri tahu kalau Donghae paling tidak bisa makan sendirian, tapi mau bagaimana lagi? Mereka orang-orang sibuk, sudah dibuatkan sarapan oleh Hyukjae saja Donghae sangat bersyukur. Di tengah-tengah waktu sibuk mereka, Hyukjae selalu menyempatkan diri untuk mengurus Donghae dan hal-hal kecil lainnya.
Donghae mengambil ponselnya dan menekan nomor ponsel Henry. Biasanya memang begini, jika Hyukjae tidak bisa menemaninya makan, maka Donghae akan meminta Henry datang ke rumahnya dan menemaninya makan lalu berangkat ke kantor bersama.
"Kau dimana?"
"Di jalan menuju rumahmu. Pekerjaan ini benar-benar kejam, bahkan di hari Minggu yang cerah ini aku harus tetap bekerja."
Donghae tersenyum, "Kau memang yang paling mengerti."
Tak lama setelah Donghae memutus sambungan teleponnya, Henry datang dengan senyum cerah seperti biasanya.
"Cepat sekali."
"Saat kau menelepon tadi, aku baru turun dari halte bus dan berjalan kemari."
"Oh."
"Ada dengan raut wajahmu? Kau baik-baik saja? Sebegitu sedihnya kah di tinggal Daepyonim?"
"Aku rasa, aku mulai benar-benar jatuh cinta padanya. Rasanya, aku mencintainya lebih dan lebih lagi dari hari ke hari. Dia selalu punya cara yang unik untuk membuatku terus jatuh cinta padanya."
Henry membuang nafas sambil mengoleskan selai ke rotinya, ini sudah yang ketiga kalinya Donghae bilang begitu.
"Minggu lalu kau juga berkata begitu. Ah, dan kemarin kau bilang begitu juga."
"Aku sungguh-sungguh!"
"Lalu bagaimana dengan dia?"
Dia... Dia...
Donghae berhenti mengunyah, ia menelan makanannya dengan susah payah. Tiap kali Henry membahas soal itu, Donghae selalu merasa bersalah dan di landa rasa bimbang. Ada sebuah janji yang terlanjur ia ucapkan pada seseorang, tapi sesuatu terjadi dan itu mengubah segalanya. Donghae tidak tahu harus mengutamakan yang mana dulu, janjinya atau perasaannya. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah kesepakatan kini menjadi cinta dan janji yang awalnya tulus kini menjadi sebuah kebohongan besar. Donghae memang bodoh, ia memulai sesuatu tanpa tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Ketika semua terungkap, Donghae mungkin akan menyakiti lebih dari satu orang.
"Jangan egois, akan ada banyak yang terluka jika kau mulai egois. Termasuk dirimu sendiri."
.
.
ooODEOoo
"Semalam Donghae tiba-tiba membicarakan masalah anak."
"Bukankah itu bagus? Kau juga mulai menginginkannya, bukan? Kalian akan hidup lebih bahagia lagi."
Hyukjae menyeruput kopinya sebelum menghembuskan nafas berat, bicara pada Kim Ryeowook sama sekali tidak membantunya. Laki-laki kurus dan pendek dihadapannya ini tipe laki-laki yang selalu berpikiran positif, dia selalu melihat sesuatu dengan pandangan yang positif dan itu buruk! Karena apa? Karena Hyukjae perlu solusi yang objektif, jika buruk yang buruk, jika baik ya baik. Segala sesuatu tidak bisa di pandang dari sudut yang positif, ada kalanya kita harus melihat sesuatu dari pandangan negatif juga.
"Itu dia masalahnya! Ketika aku mulai menginginkannya, dia malah bilang itu merepotkan! Dia bilang anak-anak hanya akan merepotkan dan menghambat pekerjaan kami."
"Aku sungguh tidak mengerti dengan kalian. Menurutku, pernikahan kalian berbeda dengan pernikahan normal lainnya. Apa pantas laki-laki yang menikahi laki-laki lainnya meributkan soal anak? Tujuan laki-laki dan perempuan menikah jelas karena mereka menginginkan keturunan, tapi pernikahan antara laki-laki dan laki-laki? Bukankah itu hanya cinta dan nafsu saja? Kalian bahkan menikah atas dasar kesepakatan dan barulah cinta itu timbul, masalah anak sungguh tidak pantas kalian ributkan."
Benar sekali, ucapan Ryeowook seratus persen benar dan itu sangat menamparnya. Hyukjae tidak seharusnya meributkan masalah anak dengan Donghae, jika mereka memang menginginkan seorang anak, maka tinggal mengadopsi satu dan masalah selesai. Mereka bukan pasangan yang normal, kenapa mereka harus meributkan masalah yang normalnya diributkan oleh pasangan normal? Sungguh aneh. Tidak heran jika Ryeowook sering mengolok-oloknya aneh.
"Bagaimana dengan Siwon? Masih berhubungan dengannya?"
"Oh, aku masih bertemu dengannya sesekali."
"Sesekali? Dia bergabung dengan perusahaan kita, kau akan bertemu dengannya setiap hari. Apa yang akan kau lakukan?"
"Bersikap senormal mungkin."
"Jangan menyeretku jika terjadi sesuatu!"
Ryeowook menepuk bahu Hyukjae sebelum melenggang pergi meninggalkan Hyukjae sendirian di ruang kerjanya yang cukup luas itu. Memang tidak seharusnya Ryeowook tahu terlalu banyak soal masalah Hyukjae dan Siwon, tapi sialnya Hyukjae selalu menyeretnya dan memaksanya untuk mendengarkan curahan hati yang menurutnya sangat aneh dan jadilah Ryeowook menyimpan terlalu banyak rahasia Hyukjae.
"Hyukjae, kenapa tidak datang ke café?"
Mata Hyukjae memandang bingung ke arah Siwon yang datang tak lama setelah Ryeowook menutup pintu. Café? Café yang mana?
"Sudah kuduga kau pasti lupa. Lupakan saja, sekarang kita bahas mengenai kontrak kerjaku. Aku ingin cepat selesai agar aku bisa mengambil drama dan film lagi"
"Bukankah semuanya sudah di bahas oleh Donghae? Oh, aku lupa, kalian berakhir dengan adu mulut lagi. Harus berapa kali aku bilang? Jangan membuat Donghae tersinggung!"
"Hyukjae."
Siwon menarik lengan Hyukjae dan memaksa Hyukjae untuk menatapnya, tujuannya datang kemari bukan semata-mata untuk membahas kontrak kerja saja, ia ingin membahas sesuatu yang lebih penting dari kontrak kerjanya. Perasaannya, saat ini Siwon ingin membahas soal perasaannya.
"Sampai kapan kau akan menjalani kehidupan pernikahan dengan Donghae? Tidakkah kau berpikir ini tidak wajar?"
Bola mata Hyukjae berputar malas, Siwon selalu saja membahas hal yang tidak penting ini. Mungkin ini sudah yang kesejuta kalinya Siwon bertanya seperti itu. Seharusnya Siwon tahu, berapa kalipun dia bertanya, jawaban Hyukjae akan tetap sama.
"Aku mencintainya, dia mencintaiku dan itu sudah cukup bagiku."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Semua sudah berakhir!"
"Kita bahkan belum memulainya!"
Tanpa disadari keduanya, nada suara mereka semakin tinggi dan tinggi. Mungkin suara mereka sudah terdengar sampai ke luar ruangan. Hyukjae mengatur nafasnya yang memburu, ia kembali duduk di kursinya dan menatap Siwon lekat.
"Justru karena kita tidak pernah memulainya, itu semua sudah berakhir duluan!"
"Datang padaku dan kita akan hidup bahagia di Belanda, kau tidak perlu merasa tertekan karena pandangan orang lain, kau tidak perlu di hujat orang, kau juga tidak akan digunjingkan orang. Hm? Datanglah padaku."
Ini sudah sangat keterlaluan, lama-kelamaan sikap Siwon yang seperti ini membuat Hyukjae merasa terganggu. Hyukjae tidak mengerti, kenapa Siwon sangat keras kepala dan tidak mau menyerah padanya, sudah ribuan kali Hyukjae menolak Siwon tapi ribuan kali pula Siwon datang dan terus membujuknya agar berpisah dengan Donghae.
Entah ini bisa di sebut kesalahannya atau bukan, saat masih duduk di bangku sekolah dulu Hyukjae memang pernah menaruh hati pada Siwon, tapi kemudian apa yang Hyukjae dapatkan? Siwon mentertawakan perasaannya dan mengatakan bahwa dia laki-laki normal, mana mungkin berpacaran dengan sahabat laki-lakinya. Wajar bila sekarang Hyukjae ingin membuang perasaannya terhadap Siwon dan menganggapnya hanya teman biasa, tidak lebih.
"Kau yang menolakku duluan dengan menyebut dirimu sebagai laki-laki normal. Sekarang, kita akhiri semua sampai di sini. Aku tidak mau Donghae tahu soal masalah kita."
"Aku begini hanya untukmu!"
"Dan aku tidak memintamu untuk melakukan itu!"
"Ada apa ini? Kenapa berteriak-teriak? Suara kalian sampai terdengar keluar."
Baik Siwon maupun Hyukjae langsung menutup mulut mereka rapat-rapat, mereka bungkam dan tidak ada yang menjawab pertanyaan Donghae. Mereka saling melirik sebentar lalu memfokuskan pandangan mereka pada Donghae yang berdiri di ambang pintu.
"Sebenarnya masalah apa yang tidak aku ketahui?"
Hyukjae tertohok, jadi Donghae mendengarnya? Apa saja yang sudah dia dengar? Hyukjae buru-buru menarik lengan Donghae dan membawanya ke tangga darurat, ia tidak peduli dengan Siwon yang masih berdiam diri di ruangannya.
"Ada apa?"
"I—tu, Siwon ingin menambahkan sesuatu di kontrak kerjanya."
"Kenapa harus sampai berteriak-teriak? Dan kenapa aku tidak boleh tahu?"
"Karena—karena aku tidak mau membebanimu, ini masalahku dan aku tidak mau kau repot-repot mengurusnya. Pekerjaanmu sendiri saja sudah banyak, aku hanya tidak mau membuatmu pusing."
Donghae membawa jemarinya mengelus wajah Hyukjae, ia menghimpit Hyukjae di antara tembok dan tubuhnya yang hampir sama tinggi dengan Hyukjae.
"Kau membuatku cemas."
Bibir mereka beradu, tidak ada lagi kata-kata, Donghae menyalurkan semuanya lewat pagutan lembut. Telapak tangan Donghae mengelus lembut tengkuk Hyukjae, menuntut agar Hyukjae melenguh untuknya. Dengan sangat perlahan, Donghae membawa jemarinya menelusuri kancing kemeja Hyukjae, ia memereteli satu persatu kancing kemeja hitam yang dikenakan Hyukjae hingga menampilkan dada putih Hyukjae. Ciuman Donghae turuh ke leher, kemudian turuh lagi ke dada Hyukjae yang terbuka, ia terus mencumbui Hyukjae hingga membuat Hyukjae lupa diri dan terus mendesahkan namanya.
"Donghae—ngh—orang lain bisa datang kapan saja—ugh—hentikan, ah!"
Donghae menghentikan cumbuannya, ia menatap Hyukjae dengan nafas yang memburu. Desahan Hyukjae membuat darahnya berdesir dan sesuatu mendadak tegang karena wajah sensual Hyukjae. Bayangkan, bibirnya terbuka demi meraih oksigen yang cukup, matanya sayu dan suaranya yang mendesah sungguh menggelitik telinga Donghae. Uh, sial! Hari ini Donghae harus menyelesaikan yang satu itu sendirian di kamar mandi.
"Malam ini kita harus pulang cepat, sayang. Aku tidak tahan."
Hyukjae hanya menanggapinya dengan tatapan seduktif, sementara jarinya kembali mengancingkan kemejanya dan merapikan penampilannya yang sempat di acak-acak Donghae.
"I want you so bad!"
.
.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Hyukjae mendesah dan mengerang sexy, Donghae hanya perlu memancingnya dengan sentuhan sensual dan Hyukjae akan luluh begitu saja dihadapannya, menyerahkan segalanya pada Donghae. Bakan langit belum gelap, tapi Donghae sudah tidak sabar menyeret Hyukjae dari kantor dan membawanya pulang ke rumah untuk melakukan kegiatan rutin mereka yang akhir-akhir ini sering terlewat karena kesibukan masing-masing.
Sementara bibirnya menguasai bibir plum Hyukjae, jemari Donghae yang sedari tadi sibuk memainkan puncak dada Hyukjae kini berpindah ke selangkangan Hyukjae, ia mengelusnya dengan lembut sebelum akhirnya meremasnya dengan kuat. Dan tentu saja Hyukjae kembali mengerang dan mendesah dibuatnya. Mereka berdua sudah tidak berpakaian dengan benar, Donghae menanggalkan jas Hyukjae dan meninggalkan kemeja hitam yang masih tersangkut di lengan kurusnya, celana panjang Hyukjae entah sudah Donghae lempar kemana, kalau tidak salah ingat, Hyukjae sudah melepaskan celana panjangnya ketika di jalan pulang tadi, kini dia hanya menggunakan celana pendek yang super ketat.
"Mau sampai kapan kau bermain-main?"
"Aku ingin menikmatimu secara perlahan, menyiksamu dengan sentuhanku, membuatmu mengerang dan membuatmu mengemis agar aku menyentuhmu lebih dan lebih lagi."
"Brengsek."
"Bad Hyukjae!"
Hyukjae mendorong Donghae ke tempat tidur dan langsung menduduki perut Donghae, ia menatap Donghae seduktif sebelum melumat bibir Donghae dengan terburu-buru. Well, itu adalah ciuman yang sangat berantakan, Hyukjae benar-benar tidak bisa mendominasi. Tapi Donghae tetap membiarkan Hyukjae menciumnya dan meraba seluruh permukaan tubuhnya, Donghae suka dengan ciuman berantakan Hyukjae, nafas dan erangannya yang tidak teratur itu justru membuat Donghae semakin tegang.
"Turun, sayang. Aku ingin memasukimu sekarang."
Hyukjae menurut, ia turun dari perut Donghae dan terlentang pasrah di tempat tidur, menanti perlakuan Donghae selanjutnya. Oh, shit! Lihat matanya yang tertutup itu, bibir yang terbuka, nafas yang terengah-engah dan kaki yang mengangkang lebar seolah mempersilahkan Donghae untuk berbuat semaunya pada tubuh mulus itu.
"Kau benar-benar memasrahkan dirimu, hm?"
"I just want you to fuck me and stop saying something stupid. Just do it faster and rough!"
Donghae tersenyum, ia menunduk untuk mengecup kening Hyukjae, semakin turun ke hidung, lalu pipi dan akhirnya Donghae kembali memagut bibir Hyukjae. Terus memagutnya, memberi sentuhan lembut didadanya sementara bagian bawah tubuhnya bekerja untuk menerobos Hyukjae.
"Ah!"
"I got you."
Akhirnya sepanjang malam hanya terdengar suara rintihan nikmat Hyukjae, ia dikerjai habis-habisan dan tidak di beri kesempatan untuk mengambil nafas oleh Donghae. Laki-laki yang resmi menjadi pasangan hidupnya itu terus membobolnya bahkan sampai pagi menjelang, Donghae tidak berhenti mencumbu tubuh mulus Hyukjae.
Kicauan burung menyadarkan Donghae bahwa hari yang baru telah datang, ia merenggangkan pelukan Hyukjae dan melirik jam dinding dengan mata setengah terpejam. Baru pukul tujuh pagi. Donghae menguap, ia menarik selimutnya dan kembali memejamkan matanya sambil memeluk Hyukjae. Ini terlalu pagi untuk berangkat ke kantor, lagi pula ia sudah bekerja keras semalaman dengan Hyukjae, jadi kemungkinan besar hari ini ia hanya akan tidur memeluk Hyukjae sepanjang hari.
"Kenapa hanya di lirik jamnya? Cepat bangun dan mandi!"
"Aku masih lelah."
"Kita harus bertemu dengan sutradara yang akan menggarap Music Video Siwon."
Mata Donghae terbuka, ia menatap lurus ke mata Hyukjae. Donghae kemudian mempertemukan bibir mereka sesaat dan kembali menatap Hyukjae dengan serius, tanpa sepatah kata pun.
"Okay, baiklah! Aku akan menyuruh Ryeowook dan Henry yang mengurusnya."
Donghae tersenyum puas lalu kembali memejamkan matanya. Selalu berhasil! Hanya dengan menatap Hyukjae seperti tadi, maka keinginannya akan segera terkabul. Hyukjae ikut memejamkan matanya dan memeluk Donghae seerat mungkin. Mungkin seharusnya hari ini mereka libur dan menghabiskan waktu romantis mereka di rumah.
"Kita akan tidur sepanjang hari seperti ini dan membuat semua orang kalang kabut."
"Call!"
.
.
TBC
Chapter 2 datang~ maaf lama sayanya sakit huhu terus di kantor selalu crowded kkkk btw makasih yaaaaaaaaa responnya makasih banget
Maaf kl chapter ini aneh dan sebagainya, maaf kl ada typo di edit sekali aja...pokoknya maaf kl chapter ini aneh...gak bagus dll...maaf pokoknya u_u
Berlanjut apa ngganya tergantung sm kalian ^^
Oh iya, ada yg minta pin bb aku tp gak login akun, jd bingung mau balesnya gmn sekali lagi ya, aku cm kasih pin bb lewat PM aja ^^
Thanks a lot guys !^^ always love you :)
Last, Review lagi please...biar saya tahu bagian mana yg bikin kalian terkesan, bagian mana yg kalian suka dan bagian mana yg kalian gak suka ^^
Oke, see ya next chapter ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
