Mereka mulai bersama, tertawa lepas seperti tidak akan ada yang memisahkan. Langit sedang gerhana, jadi Matahari dan Bulan masih bertemu dan bersama. Tapi, bukankah gerhana itu tidak terjadi selamanya?

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto

The sun and two moons belongs yamanakavidi

Genre : Drama, Romance

Pair : Naruto U., Hinata H., Shion

The Standard warning used

.

.

.

Hujan membasahi tubuh mungilnya yang bergetar hebat, matanya membengkak dengan air mata yang mengalir deras tetapi tertutupi oleh derasnya hujan. Tangannya mengepal, selembar kertas yang ia bawa sudah tak berbentuk tersiram air. Gadis itu baru saja mendapat nilai terbaik dalam lomba Olimpiade Fisika Nasional, meskipun dia hanya mendapat peringkat ketiga tetapi dia ingin memberi kabar baik itu untuk ibunya yang amat dia cintai.

Tetapi, kenapa dia berdiri dihadapan makam yang baru saja dibuat itu. Air matanya kembali mengalir, beberapa pelayan pribadinya masih setia menunggu ditengah derasnya hujan yang akhir-akhir ini mengguyur pusat Kota Konoha, sekaligus Ibukota Negara Hi.

Tenten menatapnya khawatir, sudah lebih dari setengah jam yang lalu nonanya hanya berdiri di depan makam orang terkasihnya. Dia hanya bisa menatap gadis berwajah porselen itu dari jauh, Hinata telah menyuruh para pelayan untuk meninggalkannya sendiri. Dia ingin tidak ada yang mengganggunya saat ini.

"Okaa-san, Hinata su..sudah me..mendapat..kan ge..gelar yang.. hiks.. yang Okaa-san harapkan,"

Hinata memulai monolognya. Berbicara sendiri bagaikan subyek yang diajaknya berkomunikasi ada didepannya. "A..aku minta maaf Okaa, a..aku ha..hanya mendapat peringkat ketiga. Hina.. ta..tahu ka..kalau Okaa i..ingin Hina me..mendapat peringkat pertama,kan?"

Air matanya terus mengalir, tubuhnya gemetar dia mulai merasakan hawa dingin yang menusuk tulang saat hujan benar-benar telah mengguyurnya tanpa rasa iba. "Hina tahu kalau Okaa marah pada Hina, tapi Hina mohon jangan tinggalkan Hina. Hina janji kalau tahun depan Hina akan menjadi juaranya, sampai saat itu tiba.. ke..kenapa Okaa meninggalkan Hina sendiri?"

Hinata terduduk di tanah berair di dekat makam ibunya. Hari itu, dia sedang pergi ke kota Jii yang berada di ujung Utara daerah negara Hi. Dia kesana karena mendapat utusan dari sekolahnya Taiyou Gakuen untuk mengikuti Olimpiade Fisika tingkat Nasional. Itu adalah prestasi terbesarnya, dia yang masih kelas 10 sudah dipercayakan untuk mengikuti ajang bergengsi itu.

Meskipun, dia hanya mendapat peringkat ketiga. Dia ingin langsung bertemu dengan Okaa-sannya. Dia berlari sampai menuju rumah, bertanya pada Neji, kakaknya yang bekerja sebagai seorang anggota parlementer yang baru saja menghapus air matanya. Hinata tidak tahu kenapa Neji mengajaknya ke pemakaman keluarga. Dan, saat dia menatap nisan yang baru dibuat itu dia langsung terdiam, menyuruh semua orang pergi meninggalkannya sendiri, termasuk kakaknya.

Telah terbaring dengan damai

Istri, Ibu terkasih, Nyonya, dan Teman bagi semua

Raya Hyuuga

12 Maret

Gadis itu melupakan dimana dia sekarang, melupakan tubuhnya yang sudah lemas terkena titik-titik hujan yang menemaninya untuk menyembunyikan tangisnya. Tangan lentiknya mencengkram tanah hijau di makam ibunya. Hatinya tersayat lebar, kepada siapa lagi dia akan mengadu, dengan siapa lagi dia akan berbagi. Cintanya sudah pergi, Okaa-sannya pergi meninggalkannya.

Tubuhnya lemas, tak sadar kepalanya sangat berat dan pusing. Pandangannya kabur, dan selanjutnya dia hanya mendengar Tenten meneriaki namanya. Lalu, semuanya menjadi gelap.

"Nona Hinata,"

"Bangunlah nona,"

"Nona,"

.

.

"Bangunlah nona,"

"Sudah pagi,"

Hinata tersentak, dia refleks terduduk setelah bangun dari mimpinya. Kenapa dia memimpikan kejadian pilu tiga tahun yang lalu. Kenapa, kejadian itu terasa lebih menyakitkan sekarang. Dia menatap Tenten yang tengah mempersiapkan seragam sekolahnya. Pelayannya yang satu ini benar-benar telah dia anggap sebagai sahabatnya sendiri.

Tenten, seorang gadis yang berasal dari sebuah panti asuhan sederhana tidak sengaja bertemu dengan Raya -ibu kandung Hinata, ketika dia sedang berjalan masuk ke pasar. Melihat kebaikan hati Tenten, Tenten pun akhirnya diangkat menjadi pelayan bagi Hinata. Nama gadis itu juga pemberian dari ibu Hinata. Menurutnya, Nyonya Raya adalah nyonya terbaik dan dia akan mengabdikan seluruh hidup dan jiwanya untuk melayani nonanya.

Q_Q

Setelah membersihkan diri, Hinata langsung menuju ke ruang makan keluarganya. Disana seluruh kursi telah diisi oleh setiap anggota keluarga. Hanya ada tiga kursi yang kosong, yaitu kursinya, kursi Neji kakaknya, serta kursi Almarhum ibunya.

Sedangkan, ibu tirinya Mizu duduk di samping kiri Hiashi, menghadap ke puteri sematawayangnya, Shion yang sedang asyik dengan ponselnya. Di keluarga Hyuuga, jika seorang suami beristri lebih dari satu, dan jika istri pertama telah meninggal. Sang suami berhak untuk mengangkat istri keduanya sebagai istri pertama.

Entahlah, tetapi Hiashi sepertinya enggan untuk mengganti posisi Raya dengan Mizu, sebagai istri keduanya. Rasa cintanya untuk ibu Hinata masih tetap ada tidak berkurang sedikitpun. Dan, itu masih disesali oleh Mizu.

Semenjak Hiashi menikahinya, dia tidak pernah mendapat kasih sayang layaknya seorang suami kepada istrinya. Mereka pun tidur berpisah, entah apa alasan yang dibuat Hiashi. Rasa sayang Hiashi pun tidak pernah berdampak pada Shion, Direktur Hyuusun Corp. itu lebih merasa nyaman jika bersama kedua anaknya, Neji dan Hinata dibanding bersama Shion yang notabennya anak hasil perselingkuhannya.

"Ittadakimasu," Ucap mereka lirih. Dentingan garpu dan pisau mengawali hari di awal musim gugur.

The Sun

Ruangan yang ia sukai selalu berbau kedamaian, sepi, tak banyak orang, dan dia selalu suka akan kesendiriannya. Saat semua orang sedang asyik membicarakan tentang kekasih mereka, gadis ini malah lebih suka mengasingkan diri ke tempat kesukaannya.

Beberapa helai rambut panjangnya yang dia gerai ia selipkan di telinganya. Matanya tetap menatap rentetan huruf yang tertata rapi di sebuah novel kesukaannya.

"Ehm,"

Hinata suka sekali sunyi, tetapi setelah lelaki itu hadir dihidupnya, entah kenapa dia mulai menyukai keramaian. Matanya membelalak kaget ketika tahu sang pangeran yang tengah duduk di sampingnya itu memandangnya intens.

Hinata menunduk cepat, menyembunyikan wajah keturunan dari ibunya itu dalam-dalam.

"Sedang membaca apa?" Ujar Naruto. Lelaki itu biasanya langsung menjurus ke topik jika sedang berbicara dengan seseorang. Tetapi, entah kenapa dia senang berlama-lama disini, memandang gadis menyebalkan yang berubah menjadi seorang yang anggun.

"Se..sebuah novel Yang Mulia," jawab Hinata sedikit takut. Dia benar-benar telah membuat kesalahan, entah takdir apa yang telah menunggunya.

"Novel? Memang apa ceritanya?"

Naruto, seorang pangeran Negara Hi. Dia adalah penerus kerajaan besar itu dimasa depan, memutuskan untuk sekolah di Taiyou yang notabennya adalah sekolah yang dikelola oleh ayahnya sendiri. Dia tidak suka ada yang memanggilnya Yang Mulia ketika di dalam sekolah. Dia merasa kalau itu membuat teman-temannya menjauhinya. Dia lebih suka dipanggil pangeran tanpa tambahan 'Yang Mulia'. Namun, hari ini ketika gadis itu memanggilnya Yang Mulia entah kenapa dia tersenyum. Dia menyukai panggilan gadis itu untuknya. Dia mungkin berfikir, panggilan itu lebih baik daripada dipanggil sebagai pencuri.

"Novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang tidak pernah diakui o..oleh masyarakat tempat tinggalnya. Di..dia berjuang untuk mem..membuktikan bahwa tanggapan orang tentang dirinya itu salah. Dia memutuskan untuk pergi merantau, disana tempat rantauannya, di..dia mulai mencoba membuka usaha se..sendiri. Memang tidak mudah, tetapi perlahan dia mulai membuktikan ka..kalau semua argument yang orang berikan waktu itu salah,"

Naruto terpukau, Hinata baru saja menceritakan sebuah novel karangan penulis ternama. Gadis cantik itu bercerita panjang namun tidak meninggalkan kesan gugup didalamnya. Pangeran tidak merasa itu menjadi sebuah gangguan. Itu seperti ciri khas dari Hinata Hyuuga.

Hyuuga? Sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Dia ingat sekarang, seseorang bernama Neji Hyuuga adalah salah satu anggota fraksi barat.

"Hinata, apa kakakmu itu bernama Neji?" Tanya Naruto kemudian.

"I..iya," jawab gugup Hinata. Naruto menyeringai menunjukkan senyum nakalnya lagi kemudian berkata, "Baiklah. Hari ini setelah pulang sekolah aku ingin mengikutimu kemanapun kau pergi,"

Hinata kaget, hari ini dia ada janji. Tidak mungkin sang pangeran mengikutinya. "Ta..tapi,"

"Kalau tidak mau, akan aku laporkan tuduhanmu ke pihak berwajib. Dan, aku yakin kakakmu itu pasti sedih sekali," Hinata hanya pasrah mendengar nada ancaman dari Naruto. Dia tidak ingin melihat kakanya bersedih karena tuduhan konyolnya itu. Dengan berat hati, gadis manis itu pun mengangguk pasrah.

Naruto tersenyum, sangat lembut. Mungkin, jika Hinata mendongakkan kepalanya dia akan merona bahkan pingsan. Senyuman tulus dari seorang pangeran untuk gadis yang mulai menarik perhatiannya.

"Baiklah. Sampai bertemu lagi," Ucap Naruto lalu keluar dari ruangan besar itu meninggalkan Hinata yang masih sibuk mengatur nafasnya. Dia akhir-akhir ini selalu bergetar hatinya jika dekat dengan sang pangeran.

..

Ruang besar itu sudah penuh dengan wajah-wajah para petinggi negara. Raja yang telah menempati kursi khususnya itu telah memulai rapat setengah jam yang lalu. Rapat kali ini membahas tentang pemilihan Puteri Mahkota untuk sang Pangeran.

Neji menatap kertas yang ada dihadapannya itu dengan datar, dia adalah salah satu anggota fraksi barat sebagai kepala pusat kepolisian dan hukum. Tuan Akimichi, yang menjadi teman sejawatnya mengusulkan untuk setiap gadis bangsawan di negeri ini harus mengikuti penyeleksian ini.

Matanya berputar kekanan dan kekiri menandakan bahwa dia sedang bingung hari ini, jika usulan itu disetujui raja maka nasib adiknya dalam bahaya. Para calon puteri mahkota yang tidak terpilih harus melepaskan jabatannya sebagai anak seorang bangsawan. Mereka harus hidup sebagai bangsawan dibawah tingkatan sebelumnya.

Dia tidak bisa melihat adiknya menjadi seorang bangsawan bawah. Dia tidak tega, dan pasti ibunya akan merasa sedih di surga. "Tetapi Yang Mulia, jika itu terjadi maka akan ada paksaan dari pemerintah dan itu pasti tidak baik bagi hubungan Pangeran dan Putri Mahkota untuk selanjutnya,"

Entahlah, Neji harus berterimakasih dengan cara apa kepada tuan Yamanaka, usulannya itu membuat hatinya sedikit tenang. Dengan begitu, nasib adiknya masih aman. Raja menyetujui usulan tuan Yamanaka, beliau pun berkata, "Aku setuju dengan usulan dari tuan Yamanaka, lalu bagaimana yang harus kita lakukan selanjutnya?" Raja Minato mengambil beberapa berkas yang masing setia berada dihadapannya.

"Lebih baik, berikan formulir bagi seluruh puteri bangsawan dan kerajaan sekutu Yang Mulia. Itu terlihat lebih adil untuk semua," Neji pun bersuara pada akhirnya. Hatinya yang sudah lega membuatnya bisa mengeluarkan argument yang ia pendam selama rapat ini berlangsung.

"Baiklah. Ada yang keberatan dengan usul dari tuan Hyuuga? Jika tidak, rapat kita akhiri. Dan, aku ingin lusa semua formulir harus sudah diedarkan ke masyarakat," Minato mengakhiri rapat untuk hari ini. Raja pun langsung keluar dari ruang besar menuju kediamannya di Istana Blueye, tempat tinggalnya.

Istana negara Hi terdiri dari banyak bagian utama untuk tempat tinggal Raja, Pangeran, Ibu suri, Ratu, dan beberapa bagian untuk rapat negara, dapur istana, dan balai untuk para cenayang.

Untuk balai cenayang, ibu suri yang memintanya. Nenek dari pangeran Naruto itu menyukai hal yang berkaitan tentang cenayang. Jadi, Raja Minato hanya bisa mengangguk saat ibunya meminta dibuatkan balai untuk para cenayangnya di dalam istana.

The Sun

Gadis manis berambut pirang itu sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan seseorang. Kedua tangannya menggenggam sebuah bingkisan mungil berwarna merah dengan hiasan pita yang membuatnya semakin cantik.

"Pangeran," seru Shion sambil mendekati Pangeran yang baru saja keluar dari perpustakaan besar itu.

Merasa dipanggil, Naruto menoleh ke arah belakang terlihat seorang hadis manis berambut pirang yang sedang menghampirinya. Dia pun tersenyum, lalu berkata, "Ada apa, nona?" Tanyanya manis.

Shion serasa meleleh saat Naruto memanggilnya dengan sangat lembut. Dia akhirnya sadar dan langsung memberikan bingkisan itu untuk Naruto.

"Untuk?" Tanya Naruto sambil memandang bingkisan manis dari Shion.

"Ucapan terimakasih saya untuk bantuan Pangeran kemarin," Shion sedikit merona ketika menatap mata sebiru langit milik Naruto.

"Oh. Aku juga berterimakasih untuk bingkisan yang cantik ini," Naruto tersenyum lagi. "Akan kuantar kau ke kelasmu," Tawar Naruto.

Shion kaget atas tawaran Naruto, tidak sia-sia dia bangun pagi untuk menyiapkan bingkisan itu. Dia pun mengangguk.

Satu koridor lagi akan mereka lewati, perjalanan Naruto dan Shion tidak pernah sepi dari percakapan. Lebih tepatnya, Shion yang tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini untuk bicara dengan Pangeran Negeri Hi yang terkenal tampan ini.

Tiba-tiba seorang adik kelas menabraknya dan hampir terjatuh. Shion memandang anak yang menabraknya itu marah. Kemudian, dia tersenyum sembari berkata, "Hati-hati ya kalau berjalan," Ucap Shion lembut. Naruto kagum, Shion perempuan yang baik dan sabar. Meskipun dia seorang bangsawan, dia tidak marah saat seseorang menabraknya, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Naruto.

..

"Sepertinya seseorang telah berjanji padaku tadi," Ucap Naruto ketika sudah sampai di samping Hinata beserta motornya, dia melihat gadis itu sedang mengambil helm di bagasi motornya.

Hinata mendongak, dia menatap Naruto dengan tatapan kaget. Seperti biasa, gadis itu masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya terhadap sikap Naruto yang suka sekali mengejutkannya.

"Tapi apakah Yang Mulia ti..tidak keberatan dengan aktifitasku setelah pulang sekolah?" Hinata masih takut kalau Naruto akan marah lagi kepadanya. Dia takut jika dia akan dilaporkan ke pihak berwajib.

"Tidak. Oh, satu lagi. Aku mau kau memboncengku dengan motormu itu. Untuk masalah helm, aku sudah membawa sendiri. Lalu, jangan khawatirkan mobilku, para pelayan akan mengambilnya nanti,"

Seakan tahu Hinata akan bertanya hal itu kepada Naruto, Pangeran blonde itu langsung menjelaskan secara rinci apa yang dia telah persiapkan untuk perjalanannya ini.

Hinata sekali lagi hanya mengangguk pasrah, dia pun mulai membunyikan mesin motornya, menunggu Naruto siap, dan dia pun mulai untuk berangkat kesuatu tempat hari ini bersama seorang Pangeran sebuah kerajaan dan mungkin Pangeran dihatinya.

.

"Eh?" Naruto mengucapkan hal itu saat motor Hinata terparkir rapi di depan sebuah toko buku terbesar di Kota Konoha. Naruto mungkin tidak akan berucap demikian ketika toko buku tujuan mereka itu adalah toko buku yang menjual banyak novel tebal kesukaan Hinata. Tetapi, yang mereka kunjungi adalah sebuah toko huku untuk anak yang baru ingin belajar membaca. Naruto yang masih terbengong itu tidak mendengar panggilan Hinata yang telah berkali-kali memanggilnya.

"Yang Mulia, ayo!" Hinata sudah tidak sabar, tangannya menarik lengan Naruto dan membuat lelaki itu tersadar akan apa yang terjadi. Kulit lembut Hinata berhasil membuatnya tersadar, dia bisa merasakan kulit lembut terawat milik puteri bangsawan keluarga Hyuuga. Dan itu membuatnya tidak bisa melepas senyumannya barang sedetik saja.

"Eh?" Kata itu kembali keluar dari mulut Naruto ketika tahu bahwa tujuan mereka selanjutnya adalah sebuah panti asuhan untuk para anak terlantar dan yatim. "Mau kutarik lagi?" Tawar Hinata setengah kesal karena sekali lagi Naruto menggumamkan kata itu.

"Ha?" Naruto hanya bingung dengan tawaran Hinata, tetapi ketika melihat mata Hinata yang memincing kearahnya dia pun menjadi kikuk, dengan segera dia mengikuti Hinata masuk ke dalam panti itu.

"KAKAK!" Suara nyaring dari puluhan anak kecil nan imut itu mampu membuat Naruto menutup telinganya untuk sementara. Sedangkan Hinata langsung terduduk diantara anak-anak itu. Para pelayan masuk, mereka membawakan dua plastik besar yang penuh dengan buku bacaan baru.

"Wah acik, ada buku lagi," Ucap seorang anak lelaki yang menempati panti itu. Beberapa dari mereka langsung mengerumuni plastik besar itu.

"Maaf bibi, aku agak terlambat berkunjung padahal aku sudah janji," Hinata berucap dengan penuh nada penyesalan. Pengurus panti itu hanya tersenyum, sembari menggeleng lalu berkata, "Kau datang saja sudah lebih dari cukup nona. Dan, hari ini anda membawa seorang teman?" Ujar pengurus panti yang dipanggil Hinata bibi itu sembari melihat gerak-gerik Naruto yang hanya melihat dengan seksama bagaimana kegembiraan anak-anak panti dengan buku baru mereka.

"Em, sebenarnya beliau itu adalah Pangeran Naruto Namikaze," Ujar Hinata agak lirih.

"Apa? Kenapa tidak bilang nona?" Bibi pengurus panti itu langsung menyuruh seluruh anak panti bersujud hormat di depan Pangeran. Terang saja, Naruto yang sedang asyik megamati isi panti tiba-tiba saja seluruh penduduk panti bersujud hormat kepadanya, menjadi kikuk sendiri.

"Yang Mulia, bolehkah kami belmain belcama anda?" Tanya seorang anak kecil setelah mereka bangun dari sujud hormat mereka. "Tentu," Naruto menyambut baik niat mereka. Hinata pun juga bermain bersama, gadis itu terlalu asyik dalam permainannya hingga tak sadar bahwa Naruto menatapnya sedari tadi.

"Dia berbeda. Kupikir aku akan diajak ke mall, karakoke, dan tempat hangout lainnya. Ternyata, dia memang benar-benar berbeda,"

The Sun

Angin bertiup cukup sejuk, Hinata pun mengajak para penghuni panti untuk bermain di taman di depan panti yang cukup lebar. Angin semakin bertiup dingin, matahari mulai tenggelam. Bias warna orange kemerahan terlihat terang di ujung langit.

"Lain kali datang lagi ya nona," Ucap pengurus panti ketika mengantar Hinata untuk kembali pulang ke rumahnya.

Hinata tersenyum, Naruto bahkan dapat melihat wajah lelah gadis berambut indigo panjang itu. Tetapi, Hinata tetap bisa tersenyum tulus dan sangat manis.

"Terimakasih Yang Mulia atas kunjungan anda," Naruto langsung menoleh ke arah pengurus panti, padahal sebelumnya dia masih asyik memandang wajah cantik Hinata. Para pengurus panti berojigi di depan Naruto. Pangeran muda itu mengangguk lalu tersenyum.

.

Jalanan yang mereka lalui sudah terang dengan bias cahaya lampu jalan yang meneranginya. Angin malam mulai berhembus, Hinata merapatkan jaketnya, kepalanya menoleh ke arah belakang lalu bertanya pada pengemudi yang memboncengnya setelah keluar dari panti.

"Em, Yang Mulia bolehkah aku bertanya?" Ujar Hinata agak ragu.

Anggukan dari kepala Naruto yang tertutupi helm, dan suara gerakan tangan yang membuka kaca helm itu mampu membuat Hinata tenang seketika.

"Kenapa dari tadi Yang Mulia pergi sendiri? Kenapa seperti tidak ada pengawasan satu pun?" Hinata tetap menatap ke kaca spion untuk melihat bagaimana ekspresi Naruto setelahnya.

Naruto tertawa tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Hinata kaget. "Hinata, kau tidak lihat berapa banyak mobil yang mengikuti kita sedari tadi?" Ucapan Naruto itu langsung membuat Hinata menoleh ke belakang. Benar saja, banyak sekali mobil yang mengikuti mereka berbaris rapi layaknya sedang festival tahunan.

"Aku hanya tidak suka terlalu mencolok. Para pengawal memang selalu ada di sampingku. Namun, kalau kau tidak tahu mereka mungkin kau tidak akan tahu itu adalah bodyguardku. Kau tau kelas 12.1a,kan?" Naruto sedikit memelakan laju motor yang dikendarainya. Agar angin tidak mengganggu mereka untuk berbicara.

"Sebenarnya, siswa kelas itu hanya aku seorang saja. Dan yang lain adalah bodyguardku. Aku memang tidak boleh bersekolah di luar istana, tetapi tiba-tiba saja aku mencetuskan ide itu, bukankah itu hebat?"

Hinata hanya mengangguk tanpa bersuara. Dia masih tercekat, kalau begitu para pengawal Pangeran sudah tahu bahwa Hinata menuduh Pangeran itu sebagai pencuri. "Tetapi, aku tetap seperti murid lainnya di mata Ibiki-sensei. Dan, untuk masalah kita aku jamin tidak akan ada yang tahu,"

Entahlah, setiap Naruto menenangkannya dia pasti langsung merasa tenang, rasa nyaman saat bersama lelaki bersurai kuning itu membuat dadanya kembali sesak. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumnya untuk saat ini.

The Sun

Perempuan berambut pirang panjang itu baru saja pulang dari tempat hangout favoritenya bersama dengan beberapa temannya. Dia menaruh mobilnya di dalam garasi, lalu dengan segera dia berjalan masuk ke dalam rumah mewah milik keluarganya itu.

Shion berjalan pelan, tubuhnya sudah lelah sekali setelah pergi belanja barang-barang untuk party mingguan mereka. Saat dia sudah dekat dengan kamarnya, ia bisa melihat siluet gadis bercepol masuk ke dalamnya. "Itukan," Dia tahu siapa yang telah memasuki kamarnya sembarangan, pelayan Hinata. Pelayan adik tirinya yang tidak pernah dia sukai.

"Pencuri!" Seru Shion yang membuat seluruh penghuni rumah merasa khawatir dan dengan segera menghampiri Shion. Tenten yang ingin membersihkan kamar Shion langsung keluar dari ruangan itu.

"Kenapa kau masuk ke kamarku?" Tanya Shion penuh dengan nada intimidasi, "Maaf nona, hamba hanya ingin membersihkan kamar nona,"

Jujur Tenten juga sedikit takut jika berhadapan dengan kakak tiri nona Hinata.

"Oh, baiklah maafkan aku ya?" Shion berujar dengan nada memelas. Tenten bingung tetapi dia bersyukur bahwa Shion tidak akan menghukumnya. Tenten pun langsung berjalan pergi menjauh daei kamar Shion.

Bruug! Suara sebuah jam tangan mewah yang jatuh di tempat berdirinya Tenten tadi sontak membuat kaget para pengawal Shion. "Nona, dia sudah berbohong. Kami akan menangkapnya," Pengawalnya pun langsung pergi mencari Tenten. Shion tersenyum sinis, lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya.

...

Malam sudah menjelang, akhirnya kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah megah yang tertutup gerbang tinggi. Hinata memasukkan motornya ke dalam garasi, kebiasaannya kembali normal. Bicara soal Naruto, dia sudah pulang dengan salah satu mobil bodyguardnya saat mereka mulai memasuki kawasan Hyuuga.

Senyuman tidak pernah lepas dari wajah Hinata, dia benar-benar senang dan bahagia hari ini. Sangat bahagia, gadis itu melangkahkan kaki untuk bertemu Tenten. Dia ingin bercerita apa saja yang dia lakukan hari ini.

"Aaa...," Teriakan nyaring yang berasal dari taman belakang rumahnya membuat Hinata langsung berlari menuju ke sumber suara. Matanya membulat melihat pelayannya disiram air es oleh para pengawal kakak tirinya.

Shion yang sedang memainkan ponselnya itu melihat kedatangan Hinata langsung menyuruh para pengawalnya berhenti. Dia mendekati Hinata berpura-pura minta maaf, "Maafkan para pengawalku ya Hinata, tetapi pelayanmu tadi sengaja mencuri jam kesayanganku. Dan, beginilah. Padahal aku sudah menyuruh mereka berhenti sedari tadi,"

Hinata bingung bukankah Tenten selalu menuruti semua yang dia katakan kenapa dia berani mencuri barang yang tergolong mahal itu. Gadis itu menghampiri Tenten, menyelimuti tubuh yang menggigil dengan handuk kering yang telah dibawa opeh salah satu pelayannya yang telah ia suruh tadi. "Harga diri seorang pelayan memang tidak ada artinya. Tetapi, sikap pelayan itu mencerminkan sikap tuannya," Ujar Hinata sambil membawa Tenten masuk ke dalam rumah.

Shion tersenyum, dan setelah bayangan Hinata hilang dia berbalik dan membanting apapun yang ada disana. "Akan kupastikan setelah ini kau tidak akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, Hinata!"

The Sun

Salah satu bagian dari istana utama adalah istana Naze, istana yang menjadi tempat tinggal Naruto untuk menghabiskan seluruh waktu luangnya. Matanya menatap ke atas langit, terdapat banyak bintang bertaburan, dia menatap langit gelap itu sambil tersenyum, dia teringat lagi apa yang telah dia lewati hari ini. Hawa dingin khas musim gugur pun tidak diragukannya.

"Yang Mulia. Tuan Hyuuga datang untuk menghadap," Ujar sang kasim.

"Bawa dia masuk," Naruto masuk ke dalam ruangan kamarnya. Futon belum digelar, hanya ada meja yang akan menjadi tempatnya dan Neji berbicara.

"Yang Mulia. Ada apa anda memanggil hamba?" Tanya Neji setelah berojigi hormat dan duduk di depan Naruto.

"Aku dengar kau mempunyai adik yang bernama Hinata, dan aku dengar juga dari ayah bahwa pemilihan Puteri Mahkota akan sebentar lagi dilaksanakan. Aku em.. ingin adikmu juga mengikutinya," Naruto berujar kikuk, dia sedikit merona saat mengitarakan maksudnya.

Neji terdiam, bukankah kemarin dia sudah senang karena posisi adiknya tidak dalam bahaya, dan kenapa hari ini sang Pangeran sendiri yang memintanya. Pria Hyuuga itu tertunduk, lalu berujar dengan tegas dia yakin akan ucapannya.

"Maaf Yang Mulia. Adik hamba tidak akan mengikuti pemilihan itu,"

Dan yang Naruto rasakan hanyalah rasa kaget yang bercampur ketidakpercayaan. Hatinya sudah mantap ingin bersama Hinata, tetapi kenapa ada sungai yang ia harus lewati.

.

.

.

TBC

.

.

.

Berbalas Review :

Jalan cerita jangan kayak sinetron. Un, jalan cerita sinetron itu kayak mana ya? Ane juga masih newbie yang jarang banget malah udah jadi salah satu peraturan di rumah untuk gak boleh nonton sinetron. Jadi, ane gak tahu alur sinetron itu kayak gimana..

Shion and Mizu kok licik? Disesuaikan dengan skenario yang ada. Karena cerita multichapter tanpa konflik itu bakal kayak Doraemon tanpa Dorayaki.

Lanjut, Update Kilat Ok!

Buat Hinata kesal sama Naruto Aku bersyukur, belum ada yang tahu alur apa yang aku buat di fic ini.

Cerita masih samar Yes, memang dibuat begitu biar pada penarasan.

A/N: Chapter ini special buat Alwas Naruhina, semoga suka. Dan, untuk chapie berikutnya akan sedikit terlambat karena ane bakal Ujian Semester beberapa hari lagi. Tolong do'akan agar ane dapat melewatinya dengan baik dan lancar ya? Mungkin update chapter 3 itu sekitar 3-4 minggu lagi.

Thanks for read, ditunggu reviewnya lhoo...

.

.

.

Salam, yamanakavidi

(Nov, 2014)

.

.

.

See you at next chapter minna..