Senyuman manis itu...
Andai masih bisa aku dapatkan pada dirimu yang sekarang...
"Kenapa kamu melamun seperti itu?"
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa?"
"Kira-kira anak pertama kita laki-laki atau perempuan ya?"
"Hmm... Entahlah... Tapi aku ingin punya anak perempuan."
"Kalau begitu, semoga dia terlahir menjadi anak perempuan yang manis seperti ibunya, ya!"
/
"Kaoru chan, coba lihat ke sini!"
'Ceklek!'
"Anak mama memang manis!"
Si kecil Kaoru mendadak menangis setelah sang ibu berhasil mengabadikan wajah manisnya. "Eh, kamu terkejut ya? Maaf ya..."
.
"Kaoru chan, coba pakai ini! Kyaa! Lucunya anak mama!"
'Ceklek!" sang ibu kembali mengabadikan anaknya yang berpose mengenakan rok berwarna kuning.
.
"Kaoru chan, rambutmu sudah mulai panjang. Mama ikat ya!"
'Ceklek!'
.
"Kaoru chan, ini bentoumu ketinggalan!"
"Aduh!" Kaido bergegas bebalik arah dan berlari ke arah ibunya. Padahal baru saja dia terburu-buru keluar rumah karena kesiangan.
"Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!"
"Apa boleh buat, bu. Aku sudah terlambat. Aku berangkat ya!"
Sang ibu hanya bisa melambaikan tangan sembari menatap anaknya yang berlari menjauh.
.
Kaido Kaoru, sepuluh tahun. Hari pertamanya duduk di kelas empat harus disambut oleh omelan sang guru. Sial sekali saat dia harus terlambat saat guru tergalak di sekolah mendapat giliran mengajar di jam pertama. Meski sekeras apapun mengelak, tetap saja guru seram yang mengajar matematika tersebut tidak akan membernya ampun.
Kini Kaido harus berdiri di luar kelas sembari memegangi ember berisi air di kedua tangannya. Dia menghela napas panjang. Menyesal karena semalam begadang hanya untuk menonton film. Padahal sang ibu sudah menyuruhnya untuk tidur berulang-ulang kali.
'Sreg!' pintu kelas digeser. Kaido tersentak saat melihat sang guru menatapnya sebelum akhirnya pergi menjauh. Rasanya dia membeku untuk beberapa saat.
"Selamat ya, kamu menjadi orang pertama yang mendapat hadiah dari Pak Kanazawa!" seorang teman tertawa setelah melihat wajah kusut Kaido saat masuk kelas.
"Salahku juga sih begadang sampai larut menonton Tennis man." Kaido kembali menghela napas.
"Memangnya ibumu tidak membangunkanmu?"
"Itu dia masalahnya!" Kaido berkata dengan nada sedikit naik. Dia terlihat agak kesal. "Waktu bangun tadi, tiba-tiba aku melihat ibu sudah ada di sampingku. Dia terus memandangi wajahku lalu berkata 'Kaoru chan, kamu sudah terlambat lho!' sambil tersenyum dengan polosnya!"
"Hahaha!" sang sahabat yang bernama Kentaro itu tertawa. "Ibumu masih saja tidak berubah ya? Hahaha."
Kaido hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Karena bagaimanapun dia tidak bisa menyalahkan ibu yang terlalu menyayanginya itu.
Waktu makan siangpun tiba. Seperti biasa, Kaido makan bersama Ken. Mereka selalu membawa bekal yang disiapkan oleh orang tua mereka ke sekolah. Namun kali ini, Kaido harus menahan malu saat menyadari bahwa bekal makanannya berwarna merah muda cerah. Tampaknya sang ibu sengaja memakai wadah yang sama sekali tidak Kaido sukai itu. Alhasil, anak sekelas menertawakannya hingga membuat wajahnya memerah.
Selama ini Kaido memang selalu diperlakukan selayaknya anak perempuan oleh sang ibu. Bahkan wajahnya yang terlihat manis menjadi salah satu faktor pendukung. Ditambah lagi dengan nama 'Kaoru' yang dia anggap terlalu feminim untuk ukuran seorang laki-laki. Tapi, dia tidak pernah bisa membenci ibunya hanya karena hal itu. Dia sadar benar bahwa semua itu ibunya lakukan atas dasar rasa sayang. Tentu saja Kaido yang sangat menyanyangi ibunya tak ingin membiarkan raut kesedihan tampak dari wajah wanita tersebut.
Hanya saja, lambat laun keadaan sudah tidak setenang dulu. Lama-kelamaan, harinya yang selalu cerah harus mulai ditutupi awan kelabu. Beberapa orang teman mulai membicarakannya, terutama setelah mereka tahu bahwa Kaido selalu diperlakukan seperti anak perempuan di rumahnya. Padahal selama ini yang mengetahui hal tersebut hanyalah sang sahabat, Ken. Meski begitu, Kaido mencoba untuk tidak mempedulikannya.
Hingga akhirnya, hari terburuk dalam hidupnya pun muncul. Setelah selama seminggu lebih Ken terlihat berbeda dan seakan menjauhinya, kini Kaido harus terpukul saat mengetahui alasan di balik semua itu. "Kenapa, Ken? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanyanya.
"Maaf, Kaido. Sepertinya aku tidak bisa lagi menjadi temanmu."
Mendengar hal tersebut, tentu saja Kaido merasa hatinya hancur berkeping-keping. "Ke-kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Aku tidak tahan lagi mendengar ocehan anak-anak itu. Aku tidak peduli apa yang mereka katakkan tentangmu. Tapi aku menjadi tidak tahan saat mereka turut mengejekku karena aku dekat denganmu. Dan... aku tidak mau terus-terusan menjadi bahan pembicaraan. Maaf Kaido."
Ken pun akhirnya pergi meninggalkan Kaido yang hanya bisa terdiam tak percaya. Bahkan sejak saat itu Ken tidak pernah mau berbicara dengannya. Bahkan hanya bertatap pandang pun terlihat enggan. Namun, selama sahabatnya itu bisa bahagia, Kaido memilih untuk menerima kesedihan seorang diri.
Hari-hari pun masih terus berlalu. Meski kini Kaido tidak bisa menjadi seceria dulu. Dia masih belum bisa menemukan orang yang bisa menjadi sahabat baiknya seperti Ken. Tapi dia tidak kunjung menyerah. Kaido berusaha untuk kembali mencari seorang sahabat baru.
Akhirnya Kaido pun memutuskan untuk bergabung dengan klub sepak bola. Padahal, sebelumnya dia sama sekali tidak tertarik dengan olah raga. Itu kenapa tubuhnya menjadi lebih ramping dibandingkan anak laki-laki seusianya. Namun, saat sampai di klub sepak bola, dia harus kembali menerima kepahitan.
'Brugh!' tubuh Kaido mendarat di atas lapangan dengan kasar.
"Siapa yang mau menerima laki-laki lemah seperti mu?"
"Iya! Bagaimana jadinya kalau orang-orang tahu kami memasukkan mu ke klub ini?"
"Orang sepertimu harusnya masuk klub balet saja sana! Sama cewek-cewek!"
"Wajahmu yang kayak cewek itu tidak cocok ada di sini tahu!"
"Kamu mau nangis ya, Ka-o-ru-chan!"
Semua anak saling bersahutan memberikan kata-kata yang menusuk hati Kaido. Semakin lama dia berada di sana, semakin parah rasa sakit yang dirasakannya. Akhirnya Kaido pun berlari menjauh. Tidak peduli anak-anak itu akan menertawai dan menyebarkan gosip apa lagi tentang dia.
Sejak saat itu, kekesalan dalam hati Kaido semakin bertumpuk. Bahkan dia mulai mencari pelampiasan lain. Mencari orang yang dapat dia salahkan akan semua hal buruk yang terjadi.
"Kenapa kamu tidak makan, Kaoru chan? Kalau tidak makan, nanti Kaoru chan akan sakit!" sang ibu terlihat khawatir dan mencoba untuk memegang dahi Kaido. Namun anaknya itu langsung menepis tangan yang bahkan belum menyentuh kulitnya sedikitpun.
"Bisa tidak ibu diam!" bentak Kaido. "Kaoru chan! Kaoru chan! Ibu sadar tidak kalau aku ini anak laki-laki?"
Sang ibu hanya bisa terdiam karena terkejut. Selama ini Kaido tidak pernah terlihat semarah itu kepadanya. "Ke-kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Gara-gara ibu, semua orang mengejekku di sekolah! Bahkan sahabatku sendiri pergi menjauhiku! Semua ini salah ibu! Salah ibu!"
Kaido lekas berlari ke luar rumah. Tidak peduli sebentar lagi matahari akan terbenam dan seluruh kota akan dikerubungi kegelapan. Namun dia merasa tidak tahan berada di rumah. Bahkan ingin sekali rasanya kabur dari kota tempatnya berada sekarang.
Kaki Kaido terus berlari tanpa tahu kemana dia akan menuju. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sejenak di taman kota. Tempat yang sepi dan sangat nyaman untuk menyendiri. Tempat yang mendukung untuk semakin menjerumuskan dirinya ke dalam kekesalan serta kesedihan.
Kaido duduk memeluk lutut. Menghadap ke langit yang memancarkan warna oranye yang seharusnya terlihat sangat indah. Namun semua itu harus tampak buram akibat air mata yang menggenang. "Ibu bodoh..." ucapnya pelan sebelum menenggelamkan kepala di antara lipatan tangannya.
Untuk beberapa saat Kaido terus menangis tanpa mengubah posisinya. Dia masih tidak ingin pulang ke rumah. Bahkan dia merasa tidak ingin lagi pergi ke sekolah. Ya, semua itu benar-benar akan dia lakukan, kalau saja seseorang tidak datang dan menyapanya.
"Hei, kamu baik-baik saja?" seorang anak laki-laki berambut jabrik menepuk pundak Kaido. "Ah! Kamu kenapa?" tanyanya panik saat melihat wajah kusut si anak yang tertunduk itu.
Kaido langsung menghapus air matanya dan memalingkan wajah. "Ti-tidak apa-apa."
"Masa sih? Sudah jelas-jelas kamu menangis."
"Anak laki-laki tidak mungkin menangis!" jawab Kaido lagi. Masih membuang wajahnya.
"Memang kenapa kalau laki-laki menangis?"
Mendengar pertanyaan tersebut, emosi Kaido tiba-tiba naik. "Memangnya kamu tidak tahu? Menangis itu hanya untuk perempuan! Kalau laki-laki menangis itu sama saja dia mempermalukan dirinya sendiri!" ucapnya dengan penuh rasa marah.
"Hmm..." si anak berambut gondrong menanggapinya dengan wajah tenang. "Tapi ibuku tidak bilang seperti itu. Kita boleh menangis kok. Tidak peduli kita laki-laki atau perempuan. Karena menangis itu hanya bukti bahwa kita sedang merasa sedih," jelasnya. "Lalu kenapa kamu terlihat sedih seperti itu?"
Untuk beberapa saat, kedua anak itu saling diam tanpa melakukan apa-apa. Kaido sama sekali tidak tertarik untuk bercerita pada awalnya. Hingga rasa sakit dalam hatinya menyeruak, dan memaksa dia untuk mencurahkan semua kekesalan yang ada.
"Ibuku selalu saja memperlakukanku tidak seperti anak laki-laki. Sampai-sampai kini semua temanku pun mengejekku yang berwajah seperti perempuan ini. Sahabatku sendiripun menjauh. Pasti kamu juga berpikir sama kan?!" Kaido balik menatap anak tak dikenal yang tertegun di sampingnya. Air mata mengalir deras dari matanya. Dia sudah siap kembali menerima cemoohan seperti yang didapatkannya di sekolah.
Akan tetapi, baru kali ini ada orang yang hanya tertegun setelah mendengar penjelasannya. Biasanya semua orang akan tertawa dan mulai menggodanya. Tapi, anak yang entah bernama siapa itu hanya terdiam.
"Jadi hanya karena itu?" komentar si anak jabrik sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Aku pikir kamu kenapa. Bikin kaget saja!" ucapnya dengan wajah penuh kelegaan. Sementara Kaido terlihat mulai merasa heran. "Wajahmu memang cantik sih. Tapi justru itu kan kelebihanmu. Tidak perlu malu!"
"Ta-tapi..." Kaido menunduk. Wajahnya sedikit memerah.
"Ah! Kalau memang kamu tidak percaya diri, pakai ini saja!" Si anak jabrik mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kain merah berbentuk segiempat. "Aku sempat membelinya karena sepertinya keren. Tapi setelah dicoba, ibu bilang aku tidak pantas memakainya."
Baru kali ini Kaido menerima barang dari seseorang yang tidak dikenalnya. Meski begitu, dia hanya memandangi kain merah yang sebelumnya tidak dia ketahui kegunaannya itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kamu di situ rupanya! Kaa-san mencarimu kemana-mana. Ayo cepat, nanti kaa-san tinggal, lho!" seorang wanita yang merupakan ibu dari teman misteriusnya muncul.
"Ah, tunggu kaa-san!" Si anak jabrik berlari menuju ibunya. Meninggalkan Kaido yang terdiam, tak sanggup mengatakkan apa-apa. Bahkan lupa untuk setidaknya mengucapkan kata terima kasih.
"Tadinya kaa-san mau mengajakmu ke game center. Tapi sebentar lagi malam. Tidak jadi saja deh!"
"Haa? Kenapa tidak jadi? Ikitai na! Ikitai yo, kaa san!"
Melihat pemandangan tersebut membuat Kaido mendadak teringat akan keadaan sang ibu yang mungkin tengah mencemaskannya. Dia pun segera berlari pulang sembari mengenggam erat kain merah yang baru dia dapatkan.
Di depan rumah, dia mendapati sosok sang ibu yang tengah menangis dengan wajah penuh kecemasan. Kaido pun bergegas berlari dan memeluk ibunya erat sambil terus meminta maaf.
.
.
.
Tiga hari telah berlalu sejak hari terburuk dalam hidup si anak manis, Kaoru terjadi. Kini dia sudah siap dengan seragam sekolahnya dan tersenyum menghadap ke cermin. Sesaat sebelum beranjak dari sana, dia mengeluarkan kain merah dari dalam laci, dan memasangkan kain tersebut pada kepalanya. 'Tidak buruk' komentarnya. Dia pun dengan semangat keluar kamar untuk pergi sarapan.
"Aah! Apa yang ada di kepalamu itu, Kaoruchan?!"
"Ini bandana, bu. Ban-da-na!"
"Kamu lebih cocok pakai ini!"
"Jangan paksa aku memakai pita itu lagi, bu!"
