When everything always with 5W1H first..

Character :

Nash Van Persie (Netherlands)

Kirana Putri (Indonesia)

Laura Van Persie (Belgium)

Jeanne D'Arc (Prancis)

And the others..

Hetalia Milik Kanjeng Himaruya :v

.

.

.

.

.

.

Kenapa ?

Kenapa?

Satu komponen pertanyaan keluar dari bibir gadis berdarah Indonesia itu.

"Kenapa?"

"kenapa apanya?"

"kenapa kita harus mengikuti permainan mereka? Dan.. bisakah kau menyingkirkan kedua tanganmu ini? I-ini terlalu.."

"terlalu apa?"

"terlalu dekat!"

"sial! Mengapa aku harus bangun kesiangan! Hwaa!" runtuk Kirana sambil berlari kencang menuju academy-nya yang letaknya lumayan dekat dengan academy. Tidak lupa dengan sepotong roti berselai kacang kesukaannya yang bertengger dimulutnya. Larinya lumayan kencang karena dia juga atlet lari dari negeri asalnya, yah… setidaknya bakatnya itu sangat berguna disaat genting begini.

Begitu setelah melewati gerbang, dia langsung melesat kedalam kelas yang suasananya agak ricuh. Kirana mencari-cari kedua sahabatnya yang ternyata sedang mojok sambil tertawa cekikikan. Alisnya mengangkat sebelah, 'pasti mereka sedang bergosip ria, huh' dan menghampiri kedua sahabatnya.

Jeanne dan Laura menghentikan pembicaraan mereka ketika Kirana mendekati bangku mereka.

"apa yang kalian bicarakan? Menyenangkan sekali"

"aaa~ bukan apa-apa honey- honhonhon"

'Tunggu, jika Jeanne tertawa begitu aku kok jadi takut ya. Perasaanku tidak enak juga -_-' pikir Kirana ketika melihat wajah Jeanne yang sama mesumnya dengan kak Franch, pantes mereka cocok.

"KRIEET"

Pintu kelas terbuka dengan perlahan, membuat kelas yang berisiknya minta ampun itu mendadak sunyi senyap seperti kuburan pahlawan di Negara asal Kirana. Semuanya menunggu, siapa gerangan yang masuk?

"hei, Pak Roma kan lagi diare" Jeanne berbisik kepada Laura

"a-aku tidak tahu, mungkin saja dia…"

"Hellooooo~….."

"nge-TROLL…" lanjut kirana.

'Sialan, sudah kuduga jika orang tua yang lupa umur itu tukang tipu. Untung saja aku tadi ngebut lari sepanjang perjalanan tadi' Kirana mengelus-elus dadanya dan berjalan menuju bangkunya saat Pak Roma mulai mengabsen satu-persatu murid dikelasnya.

Kirana memasukkan ponselnya kedalam laci mejanya dan merasakan sesuatu yang janggal didalamnya.

'hah? Apaan nih?'

Kemudian kirana mengambilnya dan ternyata itu.. surat. Heh? Surat? Apa struk pembelian ya? Mana mungkin ada orang yang mengirimi dia surat. Yang ada mungkin daftar hutangnya di kantin academy.

Kirana membuka lipatan kertas itu sambil sembunyi-sembunyi yang ternyata adalah surat dan mulai membacanya

"bisakah aku mengenal lebih jauh tentangmu, nona?

Jika kau mengizinkannya, aku akan menuggumu sepulang nanti dibawah pohon maple disamping perpustakaan.

Dari penggemar rahasiamu"

'a-a-app-apa?! Su-su-surat dari penggemar! Astaga! Tidak kusangka, aku yang serampangan ini punya penggemar. Hah, aku rasa orang itu pasti kemasukan setan atau… kesambet? Aku tidak habis pikir..'

Hati kirana bergejolak seketika saat menerima surat dari penggemar rahasianya. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Diipatnya kembali surat itu dan dimasukkannya kedalam tasnya.

"Kirana, kau tidak apa-apa? Wajahmu memerah begitu" Tanya Pak Roma kepada kirana, hingga membuat kirana menjadi pusat perhatian satu kelas.

"a-anu, tidak pak"

'sial, gara-gara surat ini!'

"hahahaha, mikir mesum kali pak!" teriak Yong Soo

"hei! Aku tidak mesum tau!" elak kirana, 'uh, aku malu sekali'

"sudah, Yong soo, kerjakan soal ini!" Suruh Pak Roma

"b-baik Pak"

"rasain!" Kirana menjulurkan lidahnya kea rah YongSoo yang saat ini berjalan dengan muka memelas.

Melihat reaksi kirana setelah membaca surat itu, Jeanne dan Laura yang dibelakang kirana tersenyum penuh arti dan memandang satu sama lain serta tidak lupa dengan seringaian yang terpatri di wajah mereka.

-dikelas 3-2-

Nash berjalan dengan santai menuju kelasnya dengan menggumamkan sebuah lagu.

"hmm.. hmm.. hmm…"

Seperti bukan Nash yang biasanya. Aura intimidasi Nash yang biasanya mendominasi, sekarang mulai menurun kadarnya, membuat gadis-gadis yang berpapasan dengannya menatap Nash dengan penuh damba. Yeah.. bisa dikatakan dia adalah cowok most wanted di academy-nya.

Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di leher pria berambut pirang jabrik itu.

"hai tuliiip… "

'sial, si kodok gila ini.'

Nash menghentikan langkahnya dan menatap si Bonnefoy dengan tatapan tajam—ciri khasnya.

"ada apa?" Tanya nash sambil melepaskan tangan Franch dari lehernya dan membenarkan letak dasinya yang agak kusut.

"kau tidak manis hari ini. Padahal aku akan memberimu sesuatu." Ujar Franch tak lupa dengan senyuman mesumnya.

"sesuatu?" nash mengernyitkan dahinya.

Franch mengeluarkan sepucuk surat berukuran mini yang berwarna putih dari dalam sakunya.

"ini untukmu. Daaah"

Setelah memberikan itu, Franch langsung ngeloyor pergi. Karena dari hati terdalam sang Bonnefoy, orang yang paling ia takuti setelah Ludwig adalah Nash. Disamping mereka berdua sama-sama tinggi, tatapan mereka juga mematikan. Dan Franch tidak ingin mati muda karena aura intimidasi mereka.

Tapi, demi pacar tercintanya—Jeanne. Dia rela berhadapan dengan makhluk ''sadis'' itu untuk membantu rencana pacarnya. Rencana Jeanne memanglah rencana biasa.. tapi dia berharap, rencana Jeanne berhasil. Karena jika berhasil, kemungkinan si rambut tulip itu akan mengurangi kadar aura intimidasinya yang kelewat batas itu. Yah.. semoga saja.

Kemudian Franch mengirim pesan kepada Jeanne, bahwa misi pertama telah selesai.

.

.

Nash memasuki kelas tanpa menghiraukan trio badass (kecuali Franch) yang sedang membuat keributan di kelasnya. Dia melangkahkan kakinya menuju bangku belakang pojok yang dekat jendela itu. Lalu menduduki kursinya dan mengeluarkan surat kecil tadi dari sakunya.

"surat? Aneh sekali"

Gumam Nash sambil mengamati kertas berbentuk persegi panjang yang berwarna putih itu ditangan kirinya. Nash merasa janggal dengan surat ini, yang pertama.. siapa yang menulis surat ini? Yang kedua.. mengapa harus lewat si kodok mesum itu?

Oke, pertanyaan pertama memang sudah biasa. Mengingat dia selalu mendapat surat dari gadis-gadis di academy-nya. Ehem, tidak bermaksud untuk pamer. Tetapi kenyataannya memang seperti itu.

Sedangkan pertanyaan kedua, apa hubungan antara surat itu dengan Bonnefoy?

Daripada dia penasaran seperti orang bodoh, akhirnya dia memutuskan untuk membuka surat kecil itu dan mulai membacanya,

"uhm.. aku sudah melihatmu sejak lama..

Kalau boleh, oh tidak. Kalau kau memperbolehkanku untuk lebih mengenalmu..

Bisakah kita bertemu di pohon maple disamping perpustakaan sepulang sekolah nanti?

Dari penggemar rahasiamu.."

Hei.. rasa-rasanya Nash mengenal gaya tulisannya yang seperti ini. Tapi dimana? Tulisan siapa? Dan juga, bahasanya aneh.

Oh, ingatan Nash untuk saat ini agak buruk, mengingat dia belum sarapan pagi ini.

Setelah membaca surat itu Nash menutup kembali surat itu dan menyimpannya di sakunya. Sepertinya dia akan mengabulkan permintaan sang penggemar rahasianya ini, karena dia juga sangat penasaran. Siapa gerangan yang mengiriminya surat secara langsung seperti itu kepadanya.

.

.

.

"Jean.. apa rencana kita bakalan berhasil? Kau tahu bukan, sifat broer bagaimana" Laura merapatkan jaket kuning cerah favoritenya karena hawa musim gugur yang dingin, karena sebentar lagi musim dingin akan segera tiba.

Jeanne yang berjalan disamping laura menjawab dengan penuh percaya diri,

"tentu saja honey, seorang Jeanne tidak pernah salah"

Laura yang melihat Jeanne yang bermandikan percaya diri itu langsung tersenyum senang. Dia berharap.. tidak. Sangat berharap, kalau kakak tercintanya itu akan membukakan hatinya. Dan tidak terpaku dengan masa lalunya yang dikecewakan oleh seorang gadis.

"Tenang saja, Laura.. firasatku mengatakan bahwa Kirana adalah orang yang tepat untuk kakakmu. Yang penting, kita harus membuat mereka sering bertemu." Ucap Jeanne sambil memakan permen coklat yang diberi oleh pacarnya, Franch.

"well, lebih baik kita bergegas pulang sekarang, dan menunggu hasil dari rencanamu hari ini Jeanne. Bye~!"

Laura dan Jeanne berpisah di pertigaan jalan. Pulang ke flat mereka masing-masing dan menunggu cerita sahabat mereka, Kirana tentang pertemuan itu. Meskipun Kirana belum bercerita kepada mereka berdua.

.

.

.

Setelah bel pulang berbunyi, Kirana memasukkan semua alat-alat tulisnya kedalam tas dan tidak lupa memasukkan surat dari penggemar rahasianya disakunya. Kemudian dia bergegas keluar dari kelas dan berlari menuju pohon maple favoritenya yang juga tempat yang dijadikan pertemuan perdananya dengan si secret admirer-nya.

Sedangkan Nash, setelah bel pulang dia membaca lagi surat berukuran kecil itu ditangan kanannya sambil berjalan di koridor academy dengan santai menuju pohon maple—tempat sang penggemar rahasia ingin bertemu dengannya. Dia berharap, penggemar rahasianya bukanlah seorang gadis freak ataupun gadis yang berisik, karena dia benci gadis yang berisik.

Kirana sampai di bawah pohon maple itu terlebih dahulu daripada Nash. Diletakkannya tasnya dibawah pohon, kemudian menyingsing lengan baju seragamnya sampai kesiku dan.. menaiki pohon maple kesayangannya itu.

Well, kelebihan kirana selain mempunyai kecepatan dalam berlari, dia juga bisa memanjat pohon. Perlu dicatat, segala pohon. Apalagi jika dia pulang ke Negara asalnya, dia selalu menjadi juara memanjat pohon pinang saat perayaan hari kemerdekaan Negaranya tercinta.

Sambil menunggu penggemar rahasianya itu, Kirana menyandarkan punggungnya di batang pohon sambil membaca lagi surat dari penggemar rahasianya—yang menurut kirana tidak waras. Bagaimana tidak waras? Kirana merasa dia adalah gadis yang tidak lembut seperti Laura hingga disukai oleh kakak-kakak kelasnya, dan juga.. dia tidak cantik dan anggun seperti Jeanne. Kirana adalah jenis gadis yang serampangan iya, ceroboh iya, bodoh? Terkadang sih /author slapped

Oleh karena itu, Kirana agak meragukan ketertarikan penggemar rahasianya itu terhadap dirinya. Dia berharap, penggemar rahasianya bukanlah orang yang aneh.

Tidak lama kemudian, pria berambut tulip itu sudah sampai di pohon maple—tempat dia akan bertemu dengan penggemar rahasianya.

Bola mata hijau kekuningan itu menyapu pemandangan yang ada dihadapannya. Dilihatnya ada sebuah tas tepat dibawah pohon. Kemudian dia melangkahkan kedua kakinya menuju tas tersebut. Ada sebuah gantungan bunga berwarna putih disalah satu resleting tas itu. sejenak, ia berpikir.. siapa gerangan yang telah meninggalkan tas ini sembarangan?

Tidak sengaja Nash mendongakkan kepalanya dan.. terlihat ada seorang gadis berambut hitam panjang sedang melamun. Oh, hei? Apakah itu penggemar rahasianya? Bukankah itu kirana?

"ehem!" Nash mendehem sekeras mungkin dan mencoba untuk meyakinkan bahwa gadis yang diatas itu adalah kirana.

Kirana yang mendengar deheman yang keras langsung menoleh kea rah bawah dan dilihatnya ada seorang cowok berambut tulip yang tengah menatapnya.

"Nash?" kelereng hitam kecoklatan itu melebar.

"apa yang kau lakukan disana ?" Tanya Nash

"justru aku yang harus bertanya kepadamu. Apa yang kau lakukan dibawah sana?" Tanya Kirana bingung.

"aku datang kesini karena ini" Nash menunjukkan kertas putih berukuran mini yang dilipat rapi.

"a-apa?"

'nah loh.. kok sama ya?' pikir kirana.

Begitu melihat surat mini yang dipegang oleh nash, Kirana langsung merogoh sakunya dan menunjukkan kepada nash dari atas.

"aku juga dapat ini"

Kemudian, tanpa diduga ranting yang dibuat pijakan oleh Kirana patah.

"hei, awas!"

"aakh!"

Secara reflek, Nash menangkap Kirana dengan kedua tangannya.

"bruk!"

"a-aduh!"

Hidung Kirana menubruk dada bidang milik milik Nash yang ada dibawahnya. kemudian Kirana bangkit dari atas badan Nash dan membersihkan serpihan-serpihan kayu yang menempel di seragamnya.

"apa ini hobimu?" Tanya Nash, membuat Kirana mengernyitkan dahinya.

"maksudmu?"

"menjatuhkan diri ke seseorang dari atas pohon" jelas nash sambil menyunggingkan senyumannya kearah Kirana.

"he-hei! Kau tidak lihat tadi, kalau rantingnya retak?!"

'sial! Ini memalukan!' umpat kirana. Wajahnya memerah karena mendengar pernyataan Nash.

"well, kutanya sekali lagi. Apa kau yang memberikanku surat ini?" Tanya Nash penuh selidik dengan menunjukkan surat kecil itu kepada Kirana.

"jelas bukan. Ini bukan tulisanku, dan juga.. aku tidak mungkin menulis seperti itu kepada orang yang kusuka" jawab kirana, "lalu.. apa kau juga mengirimkanku surat seperti ini?"

Nash mengambil surat itu dari kirana dan membacanya. Wajah nash memerah. Jika dianimasikan, kepala Nash seperti ada asap diatasnya. Rasa malu bersamaan dengan amarah tercampur disana.

'mana mungkin aku menulis seperti ini?! Berani-beraninya… siapa yang menulis surat ini? Akan kucincang dia'

-dilain tempat-

"duak!"

"kau sehat kan? Nabrak tong sampah begitu" Tanya antonio

"ung.. Aku merasakan sesuatu hal buruk akan terjadi padaku" jelas franch, bulu romanya berdiri seketika dan pikirannya tertuju pada si monster tulip.

"kau awesome sekali bisa memprediksi masa depan!" ucap Gilbert

"hah.. sudahlah. Ayo kita ke game center!" ajak Antonio sambil menggaet kedua leher sahabatnya dengan riang.

-back to the garden-

"menurutmu.. ada yang sedang mengerjai kita?" Tanya Kirana

"kurasa ya." Jawab nash

"kalau begitu kita cari pelakunya, dan habisi saja mereka bagaimana?" usul kirana diikuti dengan senyuman sadisnya.

'Waw, gadis yang menarik' pikir Nash. 'Sangat disayangkan jika harus berakhir seperti ini. Hmm.. ah!' bagaikan ada sebuah bohlam lampu beserta tanduk setan dikepala Nash.

"begini saja, bagaimana jika.. kita mengikuti permainan mereka hmm?"

Nash mendekati Kirana dan memojokkannya dipohon maple dengan meletakkan salah satu tangannya, tidak lupa dengan senyuman setannya.

"ti-tidak mungkin!" kilah kirana sambil menghindari tatapan sang pemilik mata hijau kekuningan itu.

"mungkin saja.." ucap Nash kemudian meletakkan tangan satunya disebelah kepala Kirana.

'sial.. aku dikurung!'

"Kenapa?"

"kenapa apanya?"

"kenapa kita harus mengikuti permainan mereka? Dan.. bisakah kau menyingkirkan kedua tanganmu ini? I-ini terlalu.."

"terlalu apa?"

"terlalu dekat!" Kirana mencoba mendorong dan memukul-mukul Nash, tapi apa daya jika tubuh Nash lebih besar dan berat darinya? Oh, kirana merasa dia seperti anak SD sekarang ketika berhadapan dengan Nash yang tingginya seperti tiang listrik (baginya) itu.

Saat melihat reaksi Kirana yang lucu itu, Nash menahan tawanya dan merasa semakin tertarik dengan gadis mungil ini. Nash merasakan debaran jantungnya sejak tadi yang semakin cepat. Apalagi ketika dia memperhatikan bibir kirana yang kissable itu. Setidaknya dia masih bisa menahan dan menutupinya, karena jika tidak.. dia pasti sudah mencium kirana saat itu juga!

"kau bertanya 'kenapa' kepadaku?" Tanya Nash, "Karena aku ingin melihat seberapa jauh mereka mempermainkan kita berdua. Dan menarik satu-persatu dari mereka. Apa kau tidak tertarik, kirana?" lanjutnya.

Kirana terlihat berpikir.

'penawarannya begitu bagus, tapi mengapa harus dengan jabrik tulip ini? Ah.. sudahlah. Aku ingin cepat melepaskan diri dari jabrik mesum ini dan pulang!' kirana pun menetapkan pilihannya.

"b-b-baiklah! Aku setuju! Kalau begitu, cepat turunkan kedua tanganmu ini, aku ingin cepat pulang!"

'wah, cepat sekali mengambil keputusannya. Well, kau hebat Nash!' bangga Nash kepada dirinya.

Kemudian Nash menurunkan kedua tangannya, yang langsung disambut kirana dengan hembusan nafas secara kasar. Lalu kirana mengambil tasnya dan berlari meninggalkan Nash yang tengah menatapnya dan tersenyum lembut kearah Kirana tanpa diketahui oleh si empunya.

========================== TuBerCulosis :v =====================================

Author yang geblek ini minta maaf ya. Lama gak update.

Yang jelas, bukan karena writerblock atau apa.

Maafkeun.. #sungkem

Oh ya.. kejadiannya si Kirana sama si Nash ini klasik banget ya? :"3

Tapi sebagian dari kisah nyata. Yang jelas, bukan kisah nyata saya. :"" /keliatan ngenesnya.

Cerita dikit ya (scroll kebawah langsung atau close bagi yg gak mau baca :"v) :

Bagian yang kirana jatuh dari pohon dan ketangkep ama nash itu BENER-BENER kejadian. Waktu itu saya lagi duduk-duduk waktu kegiatan diklat. Terus enak-enak lihat pemandangan, tiba-tiba ada suara berisik gak jelas. Yang jelas cuman bagian gini

Ce : "woi! Gue gak bisa turun! Gimana ini?"

Co : "siapa yang suruh naik keatas? Udah. Lompat aja. biar gue yang nangkep dari bawah"

Ce : "kesempatan!"

Co : "orang nolong dikiran kesempatan? Ya udah gu-"

Kemudian.. kejadian si ranting patah pun terjadi.

Author yang lihat itu cuman cengok, dan langsung tersenyum gaje. Sampek dibilang temen "ini anak obatnya abis"

.

Oh ya, mungkin author bakalan updatenya agak lama. Kayak ini chapter.. (maybe) /dibakar

Mau UAS nih, dosen juga gila-gilaan ngasih tugas. Do'a kan.. author otaknya sehat dan nggak kena writerblock :'v

Sekali lagi, author ngingetin.. disini terinspirasi dari FF 5W1H-nya BlackKiss'Valentine. Cuman sub chapter (?) nya aja :"v /jangan gebukin author.

Kalo ada kesamaan maaf ya, itu tidak disengaja, saya gak niat buat ngejiplak kok #sungkem

Makasih banyak buat yang ngefollow, favorite dsb.. sungkem :")

Padahal ini FF berantakan banget yes..

Ya sudah, Review ya reader-san onegai desu… :)))