Disclimer : Naruto punya masashi kishimoto-jisan.

Genre : Crime, action, romance.

Rate : T

Warning : , Abal, Gaje, OOC, typo, EYD payah, dan kecacatan lainnya.

A/n : Assalamu'alaikum w. w.,

Bagaimana chapter pertamanya? Jelek ya? Haha siap-siap buat chepter yang ini, saya jamin ini malah lebih jelek dari chapter sebelumnya. Sebelumnya saya ingin mengingatkan, isi yang berada di ff ini bukan untuk menyelewengkan akidah, tapi ini hanya untuk menyesuaikan dengan anime yang ada yang memang dalam anime tersebut menyangkut cerita dari yunani kuno. Maaf. Saya tidak bisa membuat teka-teki sendiri _ _

Saa, Selamat membaca.

Have you enjoy this fiction.

.

.

.

Chapter 2 : Spinks dan Oedipus

"Saat ini kami tengah berada di tempat kejadian penyerangan bom. Bisa dilihat banyak puing bangunan berserakan dimana-mana. Meski ledakan yang terjadi cukup besar, namun tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini. Diperkirakan, kerugian mencapai 1 triliun. Polisi menyimpulkan bahwa ini bukan sebuah penyerangan biasa, ini merupakan aksi teror. Kita cari saksi mata disekira sini..."

Tut

"Is the best day eeeveeeer..."

"Hey, kenapa diganti?" tanya Sakura tidak terima. Tentu saja, ia sedang asik-asiknya menonton berita, mana bisa di hentikan. Kalau di ganti ke chanel sinetron sih ia setuju-setuju saja. Tapi ini kan film anak-anak, dan jika perlu di ingatkan ia sudah 17 tahun. Tidak boleh menonton kartun.

Naruto hanya berdecak samar. "Membosankan." jawabnya singkat. Ia letakan remot tv di atas meja dan mendudukan dirinya di samping Sakura. Sakura yang kebetulan sedang memeluk bantal segera melemparkannya ke wajah Naruto disampingnya.

"Kau sudah 17 tahun, Baka. Harusnya kau sadar diri. Mau jadi apa negara ini..." Naruto hanya membolakan matanya. Ia sudah bosan diceramahi seperti ini. Tiap hari Sakura selalu melakukan ini. Mengingatkan berapa umur mereka dan tidak boleh menonton kartun. Bahkan ia sudah hapal beberapa kalimat yang pasti di katakan Sakura seperti halnya tadi. Apa salahnya menonton kartun? Toh itu tidak akan membuat dunia terbakar kan?

"Hey, kau mendengarkan tidak, haah?" Sakura menjewer telinga Naruto dan memelintirkannya.

"Ittai, Sakura, Lepaskaan, sakit." seru Naruto tak bisa melawan. Akan tambah sakit jika ia melakukan itu.

"Akan kulepaskan jika kau mau mendengarkan." Naruto mengangguk cepat. ia masih menyayangi telinga manisnya. Terlebih ia masih ingin mendengar suara-suara disekitarnya. Suara burung di pagi hari, suara kucing disiang hari, serangga di sore dan malam hari, dan masih banyak lagi. Ia masih ingin mendengarnya. Kecuali omelan Sakura tentunya. Mana ada yang mau mendengar omelan super menyebalkan yang membuat telinga berdengung 7 hari 7 malam itu.

"Huh, berfikir lah dewasa. Apa gunanya menonton kartun? Kartun itu tidak nyata. Hanya imajinasi semata, tidak masuk akal tahu. Coba kau pikir, apa memang ada tupai hidup dilaut? Terus kota-kota bawah laut? Apa itu nyata? Berpikirlah rasional..."

Naruto mendesah lelah. Pagi ini akan menjadi pagi yang panjang untuknya.

.

.

.

.

"Cek..cek.. Apa terdengar sampai belakang?" tanya sang moderator memberi aba-aba. Mengecek perlengkapan dan kelengkapan rapat.

"Hai, kami mendengarnya." Saat ini seluruh Divisi Investigasi Pertama sedang menjalani rapat. Divisi ini dibentuk pemerintah khusus untuk menangani teroris yang berkeliaran. Menangani dan mengamankan demi keamanan rakyat. Setelah terjadi pengeboman gedung pemerintahan kemarin, semua penduduk menjadi resah yang berakibat pada ketentraman masyarakat. Oleh karena itu, divisi investigasi jepang mengusung rapat hari ini. Berusaha mengungkap jati diri sang pelaku pengeboman yang mengaku sebagai Spinks itu.

"Baik, kita mulai saja. Saya Nara Shikaku, ketua Divisi Investigasi Pertama. Seperti yang kalian ketahui. Sehari yang lalu terjadi pengeboman di gedung pemerintah. Dan rapat kali ini akan membahas hal itu. Untuk yang pertama, penjelasan tentang korban jiwa akibat kejadian yang akan di sampaikan oleh Ebisu-san." Shikaku meletakan micnya. Memberi kesempatan ebisu untuk menyampaikan pengamatannya.

"Hai, terima kasih. Baiklah, langsung saja. Pada kejadian pengeboman kemarin, Alarm kebakaran di gedung tersebut menyala sebelum gedung roboh, sehingga para pengunjung berhasil di evakuasi walau ada yang mengalami cidera ringan. Hanya 27 orang yang mengalaminya dan sekarang sedang dalam masa perawatan." Ebisu menyudahi penyampaiannya dengan kembali duduk di mejanya.

"Selanjutnya, keterangan tentang pelaku yang akan disampaikan oleh ketua dari divisi tindak kejahatan cyber, Kabuto-san." kembali Shikaku meminta anggota rapat lain menpresentasikan pengamatan mereka sesuai tugas yang diberikan.

"Hai, ini adalah laporan dari video yang diunggah pelaku di situs video yang di unggah sebelum pengeboman terjadi. Para pelaku menggunakan perangkat lunak yang diketahui bernama TOR saat mengakses internet. Sehingga sangat tidak mungkin melacak alamat IP pelaku untuk mengetahui identitas mereka. Perangkat lunak ini akan menyembunyikan seluruh data yang semestinya harus ada saat akses internet yang berguna ketika sang pengakses mengalami masalah atau melanggar peraturan internet, mereka dapat ditemukan melalui IP."

Sreg

"Interupsi." Seorang laki-laki dengan tato segitiga di kedua pipinya mengacungkan tangan.

Shikaku mengangguk "Silahkan." ucapnya memberi kesempatan untuk anggotanya bertanya.

"Permisi, Saya Inuzuka Kiba dari Divisi Investigasi Pertama. Dilihat dari video yang diunggah, kita bisa memperkirakan bahwa tersangka merupakan seorang pelajar. Tidak mungkinkan menyatakan bahwa video itu benar atau tidak?"

"Kami sedang memeriksa vidio itu sajauh ini." jawab tenang Kabuto, ia dudukan kembali dirinya di kursi yang ia duduki.

"Terima kasih penjelasannya. Selanjutnya penjelasan tentang keadaan sebelum pengeboman terjadi. Sai-san" ucap Shikaku mempersilahkan Sai menyampaikan penjelasannya.

"Hai. Sebelum peristiwa terjadi, kamera CCTV di gedung tersebut berhenti berfungsi disebabkan pada waktu itu arus listrik tokyo padam yang berlangsung selama beberapa saat sebelum generator dinyalakan. Diperkirakan dalam jangka waktu 25 menit yang merupakan jeda CCTV untuk menyala, pelaku memasang bom di sekitar gedung sehingga kamera tidak bisa menangkap aksi mereka." kembali Kiba mengacungkan tangan meminta interupsi.

"Interupsi. Apa mungkin pelaku ada di balik pemadaman ini?" semua yang ada disana tersentak. Menyadari keganjilan yang terjadi. Memang tak mungkin jika pemadaman ini disebut kebetulan. Runtutan kejadian sesuai dengan apa yang di ucapkan teroris misterius kamarin.

"Kami sedang menyelidikinya." Shikaku mengambil alih. Memang semua fakta belum ditemukan, terlebih waktu yang kurang memadai menyebabkan pencarian informasi dihentikan sementara waktu.

"Selanjutnya, penjelasan tentang bom yang digunakan pelaku. Profesor Deidara-san, tolong jelaskan kepada kami tentang pendapat terbaik anda."

"Baik, sebelumnya, saya akan menjelaskan susunan yang merangkai bagunan gedung pemerintah ini." Deidara mengintrupsi. Memperlihatkan animasi dari rangkaian gedung melalui infokus.

"Bagian penyangga gedung ini terbuat dari berlapis-lapis beton yang sangat tebal dan merupakan penyangga terkuat di seluruh jepang bahkan disebut-sebut sebagai lapisan super karena kekuatannya dan ketahanannya. Jadi, sangat tidak mungkin dihancurkan dengan bom yang biasa saja."

Shikaku berkerut."Apa yang kau masksud adalah bom yang mereka gunakan bukan bom biasa?" tanya Shikaku memberikan perkiraan.

"Tim investigasi yang berada di TKP menyatakan bahwa ada reaksi kimia disana yang disebut dengan reaksi termit."

"Reaksi termit? Bukannya itu langka?" Ujar Sai merasa heran sekaligus takjup.

"Iie, justru reaksi ini sangat umum terjadi di lingkungan kita. Contohnya saja dalam proses pengelasan logam. Singkatnya, ketika campuran logam oksida dan bubuk alumunium dibakar, maka akan menghasilkan suhu dalam jumlah yang tinggi. Bisa mencapai kisaran tiga ribu derajat Celsius. Itu Jauh lebih tinggi dari titik lebur besi atau pun beton dan bisa meleleh kapan saja. Bahan ini jauh lebih mudah didapat dari pada bubuk mesiu." jelasnya. Ia sendiri merasa takjup akan pemikiran dan rencana para pelaku yang tersusun secara matang. Ia sendiri belum tentu bisa membuat hal yang seperti itu.

"Jadi mereka menggunakan bom tersebut untuk melelehkan pilarnya?" Sai kembali bertanya.

"Hampir seperti itu. Pada saat itu alarm kebakaran menyala sehingga air pemadam api ikut menyala. Pada saat air tersebut mengenai api dari bom yang selanjutnya menimbulkan reaksi freatik. Saya yakin pilar tak mampu menahan beban sehingga menyebabkan gedung runtuh seketika." semuanya mengangguk mengerti.

"Tidak banyak teroris menggunakan metode seperti ini sebelumnya. Terlebih menentukan waktu reaksi secara tepat bukan hal mudah. Saya yakin, pelaku pemboman ini sangat pintar."

Shikaku menganggukan kepalanya. Ia setuju, mengingat betapa apiknya aksi teror ini, pelaku bukan orang biasa-biasa saja. Ia mendesah lelah sembari memegang pelipisnya.

"Namun..."

"Hm?" semua orang terkaget-kaget mendengarnya sekaligus penasaran.

"Ada yang aku tidak mengerti dari kejadian ini. Ada sebuah bom TNT yang terpasang bersamaan dengan bom tersebut. TNT ini tidak berpengaruh banyak dakam perobohan pilar. Setelah ku sambungkan potongannya saya melihat sebuah surat yang sepertinya di tulis tangan oleh pelaku. Tulisannya adalah..."

Semua orang tercengang kala melihat di monitor komputer yang dihadapan mereka masing-masing menampilkan sebuah pesan yang ada dalam bom.

"V-O-N."

Suara bisikan memenuhi ruangan rapat tersebut. Riuh tak terkira. Shikaku terus memperhatikan kata tersebut dengan teliti. Ini sungguh rumit.

.

.

"Jadi, intinya kau harus berhenti menonton film kartun, Baka. Itu akan merusak daya pikirmu." ujar Sakura. Nafasnya tidak teratur dengan dada naik turun. Kelelahan. Bayangkan saja, dari tadi ia tak henti-hentinya berbicara. Menceramahi Naruto tentang film kartun yang sering ditontonnya. Bukannya kenapa, ia hanya tak ingin Naruto di cap sebagai anak yang tidak bahagia saat masa kecilnya walau itu memang kenyataannya. Tapi itu juga demi kebaikan Naruto sendiri.

"Kau ingin minum?" Naruto menyodorkan segelas air putih kepada Sakura. Ia sedikit prihatin melihat kondisi Sakura. Lihatlah, bahkan meminum air putih saja hanya memerlukan waktu 3 detik. 'ckckck' pikirnya sambil menggelengkan kepala.

"Mau lagi?" Sakura menganggukan kepalanya tak sanggup berbicara. Tenggorokannya sudah kering.

"Makannya, jangan omeli kegiatan orang. Tahu sendirikan akibatnya." Sakura langsung mendelik tajam ke arahnya. 'Apa perlu aku mengulangi apa yang tadi aku katakan?' itu yang dapat ia baca dari tatapan tajam Sakura. Dengan susah payah ia menelan air ludahnya sendiri. Hal yang paling ia takuti kedua setelah hantu adalah tatapan tajam Sakura. Tatapannya bagaikan medusa yang dapat membuat orang menjadi batu hanya dalam 1 kedipan mata.

"Kau masih belum mengerti ya? Sudah kubilang.." "Shttt.. Aku sudah tau" ucapan Sakura langsung di potong Naruto membuat Sakura cemberut.

"Sebaiknya kita persiapan." ajak Naruto yang langsung berdiri dari duduknya. Sedangkan Sakura hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Masih cemberut. Naruto yang melihatnya hanya memutar bola matanya bosan.

"Sudahlah, ayo." Naruto langsung menarik tangan Sakura memintanya mengikuti ke mana ia pergi. Sakura hanya menurut tanpa mengubah mimik muka. Masih merasa sebal.

.

.

"Fyuuh~." satu hembusan nafas penuh asap keluar dari sela-sela bibirnya. Mengepul dan membumbung ke udara. Tak mengindahkan efek yang akan di terimanya maupun orang lain, dirinya terus menyesap batang penuh zat berbahaya itu dengan tenang.

"Aku tak menyangka pemerintah akan memberikan tanggung jawab penuh pada divisi kita." Desah lelaki berambut pirang lelah, Inoichi. Tangannya mengangkat kembali batang tembakau itu, menyesapnya lagi.

"Itu karena pemerintah mempertimbangkan skenario terburuk. Media dan wartawan berusaha menyikap kasus ini dan jika ini terjadi justru akan membuat semua semakin kacau." Timbal lelaki satunya lagi.

"V-O-N."

Inoichi mematikan rokoknya, memandang langit musim panas."Jika mereka menyangkut pautkan dengan plutonium dan kejadian itu, masyarakat akan panik."

"Haah~." Shikaku mendesah.

.

.

.

Krak

Krak

Krak

"Oh iya, Naruto. Apa kau tadi melihatnya di berita? Kemunculan teroris baru." Sakura memperhatikan Naruto yang tengah memasangkan beberapa baut dan mur dalam kotak alumunium. Jika dilihat dari luar itu merupakan kotak ramen. Tapi siapa sangka, didalamnya terdapat benda berbahaya yang mampu menghancurkan bangunan dalam sekejap.

"Hn." Naruto tak mengindahkan ucapan Sakura. Tetap fokus pada pekerjaannya. Ia harus teliti, tak boleh ada kesalahan. Sekecil apapun itu, pasti akan berpengaruh besar.

"Aku tak menyangka kita begitu terkenal, hihi." Sakura terkikik kala mengatakannya. Naruto membolakan mata. Tak perduli akan hal itu. Satu mur lagi dan semuanya siap.

Sreeg

Ia menutup rapat wadah ramen tersebut dan menyimpannya di kap motor khas pengantar ramen. Membenahkannya sebentar sebelum menatap Sakura.

"Siapa yang akan mengantarkannya?"

Sakura menyentuhkan tangannya didagu, berfikir keras. Tangannya ia satukan dan kepalkan bersama. Menyimpannya disisi tubuhnya. Menyeringai.

"Batu... Gunting..."

Naruto bersiap.

"Kertas."

.

.

Bruum

"Cih." Naruto berdecih. Tak menyangka dia kalah beradu suit dengan Sakura. Memang sepele sih, tapi kalah dari wanita? Tidak ada dalam kamus besarnya.

Ia nyalakan lampu sennya dan memelankan laju motornya. Memarkirkan dengan benar motor yang ia bawa.

"Selamat siang, Saya ingin mengantarkan pesanan."

"Oh, silahkan arah sini." sang petugas mengarahkan jalan baginya. Membungkuk dahulu dirinya sebelum melenggang pergi.

"Terima kasih."

Banyak lalu lalang polisi disekitarnya. Mengobrol, mengisi laporan dan bahkan hanya sekedar jalan-jalan.

Lantai demi lantai terlewati dengan lift hingga berhenti di lantai kelima. Berjalan kemudian berbelok dirinya menuju ruang yang dimaksud. Menempelkan sesuatu pada tabung pemadam api sebelum dirinya melanjutkan perjalanannya.

Kala ia telah sampai diruangan yang dituju Ia perhatikan daerah sekitar dahulu, memeriksa apakah ada yang mencurigainya sebelum langsung melangkah masuk. Meletakan bawaan yang ia bawa disudut ruangan. Ia kodok saku celananya dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah lensa kamera mini jarak jauh ia tempelkan pada daun tanaman yang berada di pot. Setelah memastikan semuanya beres ia langsung beranjak pergi.

.

.

.

Kini Shikamaru tengah membaringkan tubuhnya di kursi yang berada disana. Seperti biasa ia selalu menatap langit dan awan yang berarak terbawa angin. Tak jarang dirinya menguap namun matanya tak kunjung terpejam juga.

"Hey, Shikamaru. Apakah tidak ada pekerjaan lain selain memandang langit musim panas?" ucap Chouji tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer. Mengklik sesuatu yang menarik.

"Kau juga hanya bermain komputer." Shikamaru berujar malas. Menguap lagi.

"Huuh~, tidak ada berkas yang ada untuk diisi hari ini." Choiji mengambil satu bungkus keripik kentang, membukanya dan memakannya perlahan.

"Sekarang divisi pertama sedang sibuk-sibuknya, apa yang bisa kita lakukan?" tambahnya lagi. Mulutnya terus menerima pasokan makanan tanpa henti.

"Setidaknya lakukan hal yang berguna, bukan bermain di dunia virtual."

"Haa? Kau sendiri bermalas-malasan. Lihat sendiri dirimu sebelum..."

Brak

"HAH! Mu-muncul lagi! Video baru." Chouji sontak berdiri dengan cepat. Ia begitu terkejut mengetahui teroris itu mengunggah video baru. Ia tak bisa berkata-kata. Sama halnya dengan Chouji, Shikamaru terlonjak dari tidurnya.

"Konichiwa, namaku Spinks nomor satu." Spinks nomor satu berlagak di depan kamera layaknya superhiro.

"Aku spinks nomor dua. Aku suka ledakan. Apa kalian menikmati pertunjukan kembang api di gedung Pemerintahan Tokyo kemarin? itu bom yang kami buat sendiri." perempuan itu berbicara dengan ceria. "Kururin ikut berusaha juga." Spinks nomor dua memainkan boneka kotak berwarna pink di depan wajahnya imut.

Dan kini, Spinks nomor satu maju mendekati kamera. "Itu masih permulaan, kami berencana memasang bom dalam waktu dekat." semua yang menyaksikan terbelalak.

"Saa, minna-san -khususnya yang ada di kepolisian, ada teka-teki untuk kalian. Apa yang pertama kali berjalan dengan dua kaki, selanjutnya empat kaki dan terakhir 3 kaki." Sementara Sang pria berbicara, perempuan itu menghitung dengan jarinya.

"Jika kalian mampu menjawabnya, maka bom itu milik kalian." Spinks nomor satu menambahkan.

"Nah, cukup sekian teka-tekinya. Semoga berhasil. Jya mata ne." Keduanya berpamitan seraya melambaikan tangan, dan video pun berakhir dengan gumaman tak percaya semua yang menyaksikannya.

"Apa sebenarnya ini."

.

.

.

"Apa kau sudah menyimpannya dengan benar?" Sakura berbicara pelan. Dirinya tengah membaca buku dengan kepala berada dipaha Naruto. Bersantai mengisi waktu luang. Sementara itu, Naruto mengusap helai merah jambunya. Bersantai sembari menunggu kabar baik dari kepolisian.

"Tentu saja." Naruto berujar datar. Tangannya masih mengusap kepala Sakura.

"Kira-kira apa sekarang mereka bisa menebaknya?" Buku dihadapannya ia simpan didada. Mata hijau jambrudnya menatap manik blue saphire Naruto. Alisnya naik.

Naruto menghela nafasnya. "Aku tak tahu. Semoga saja begitu." Naruto menarik seulas senyum di bibirnya. Sakura pun ikut tersenyum karenanya. Kembali, Sakura meneruskan membaca bukunya dan Naruto mengusap rambut Sakura.

.

.

.

"Jawabannya, Manusia?"

"Hah, Nani?" semua yang berada disana mengerutkan dahi belum mengerti.

"Mereka menyebut dirinya Spinks dengan huruf "P" bukan huruf "F" yang merujuk pada pengucapan dalam bahasa Yunani kuno bukan mesir." Shikaku menletakan sebuah buku sejarah diatas meja. Membuka halaman demi halaman. "Spinks adalah sosok monster misterius yang muncul pada cerita Oedipus Yunani kuno." menunjuk gambar sebuah hewan aneh. Sosok hewan dengan kepala wanita, sayap hitam, dan empat cakar elang sebagai kakinya. "Dia datang sebagai penyampai ramalan. memberitahu kepada raja pada saat itu yang merupakan ayah dari Oedipus, Lauis. Lauis akan dibunuh oleh putranya sendiri. Oleh karena itu, dia membuang Oedipus ke tengah hutan. Namun ternyata, Oedipus berhasil bertahan hidup dan tumbuh dewasa sehingga ramalan itu tetap terjadi, Oedipus membunuh ayahnya. Setelah menjadi raja ia langsung menikahi ratu tanpa tahu kenyataannya."

"Dan saat mengetahui itu, ia merasa bedosa akan apa yang telah ia lakukan. Ia langsung mencongkel kedua matanya sebagai penebusan dosa." Semua mendadak sunyi senyap. Tak ada yang berbicara hingga Shikaku meneruskan ceritanya.

"Saat itu dia ingin pergi ke negri ayahnya dilahirkan namun di perjalanan ia dihadang oleh Spinks. mahluk tersebut memberikan teka-teki kepada Oedipus yang jika tidak menjawabnya ia akan memakan Oedipus."

Kiba yang berada disana menggebrak meja tidak sabar. "Apa teka-tekinya?"

Shikaku memejamkan matanya. "Apa yang berjalan empat kaki di pagi hari, dua kaki di siang hari, dan tiga kaki di sore hari." Semua mengerutkan dahinya heran.

"Dan jawabannya?" Sai angkat bicara, mempertanyakan jawaban dari teka-teki tersebut.

"Manusia."

"Benar juga." ujar ebisu. "Itu ibarat siklus hidup manusia. Empat kaki ketika kita bayi, dua kaki ketika kita beranjak dewasa dan tiga kaki ketika usia senja." Shikaku mengangguk pasti.

"Dan untuk pagi, siang dan sore merupakan perumpamaan dari usia manusia."

"Te-terus apa hubungannya dengan bom itu?" Kiba kembali bertanya.

Semua terdiam berpikir keras. Berusaha memecahkan teka-teki yang hampir terungkap.

Kiba semakin mengerutkan dahinya, tangannya sudah bertumpu di dagunya. "Apa angka-angka itu menunjukan alamat, seperti jalan nomor empat atau..."

"Merujuk pada koordinat bom tersembunyi berada? Hm.. itu..." Kabuto bergumam seraya mengetik angka-angka tadi secara berurut pada laptop didepannya.

"Riset penelitian DNA di Minato" Semuanya terperanjat.

"Benar juga, Manusia, siklus hidupnya..."

Brak

"Ayo kita pergi kesana, kita tak punya waktu banyak." Kiba berseru keras. Bersiap bergegas pergi.

"Aku juga ikut. Demi memastikan." Ucap Shikaku seraya berdiri, melirik Kiba yang tersenyum padanya.

.

.

.

"Breaking News. Kali ini saya sedang meliput dimana puluhan mobil aparat kepolisian berangkat menuju gedung riset DNA di minato yang diperkirakan sebagai tempat bom dari pelaku pengeboman gedung pemerintah tokyo kemarin. Mereka memperkirakan berdasarkan apa yang mereka dapat dari hasil..."

Tut

tut

tut

Tombol demi tombol di tekannya pada layar datar di genggamannya sembari menyaksikan rekaman camera di laptop dihadapannya. Menatapnya datar.

"Apa mereka berhasil?" Sakura datang menghampirinya. Duduk disamping dirinya sembari menyaksikan rekaman di laptop. Mendesah kala menyadarinya. Naruto tak menjawab.

"Mereka gagal." Sakura menyandarkan punggungnya di sofa. Menutup matanya lelah.

.

.

"Halo, Shikamaru. Ada apa?" Shikaku menjawab panggilan ditelponnya. Berbicara dengan tenang memperhatikan orang lalu-lalang dari kaca besar dihadapannya.

"Ini menyangkut teka-teki itu, ayah." Shikaku tersenyum. Mendengar anaknya yang diam-diam ikut berpartisipasi memecahkan teka-teki ini. Namun semuanya sudah beres. Teka-teki sudah terpecahkan. Tinggal menunggu hasilnya.

"Hm, lanjutkan."

"Ini mengacu pada cerita Oedipus..."

"Hai, dan jawabannya manusia." potong Shikaku mengetahui jawaban yang akan di ucapkan Shikamaru.

"Hah?"

"Jawabannya Manusia." jelasnya lagi.

"Hm, memang. Tapi itu adalah salah satu dari dua teka-teki yang ada. Ada cerita Oedipus versi lainnya." Shikaku mengerutkan dahinya. 'Versi lain?'

"Dari cerita tersebut mengatakan bahwa teka-teki itu mengarah pada Oedipus itu sendiri." Ia mendengarkan dengan seksama.

"Pada mulanya Oedipus adalah manusia biasa yang hanya menggunakan dua kaki, namun karena telah membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya, dirinya menjadi turun tingkat menjadi hewan berkaki empat. Dan seperti yang kita tahu, ia mencongkel matanya sendiri yang membuatnya harus menggunakan tongkat. Urutannya adalah dua-empat-tiga." Kerutan didahi Shikaku semakin terlihat. 'Urutannya keliru.'Jadi ia salah mengambil tindakan.

"Dan hubungannya dengan teka-teki ini yaitu letak bom itu. Pada teka-teki tersebut Spinks nomor satu mengatakan mereka mempunyai teka-teki untuk semuanya-Khususnya semua yang berada di kepolisian. Dari sana kita dapat menyimpulkan bahwa letak bom berada di salah satu kantor kepolisian daerah jepang. Dan dengan hitungan itu menunjukan alamat kantor kepolisian yaitu..."

Naruto menekan tombol hijau, memanggil nomor yang sempat ia ketik tadi. Mendekatkannya ketelinga kanannya. Panggilan tersambung menunggu detik selanjutnya..

Tut tut tut

Cklek

...Roppongi."

Duar

Ledakan besar timbul di gedung kantor kepolisian. Puing-puing berloncatan kemana-mana. Runtuhan menimpa jalanan yang berada dibawahnya dan sebagian masuk ke jalan tol di sampingnya membuat kendaan harus berhenti karenanya. Para pejalan kaki berhamburan menghindari reruntuhan, menjerit dan berteriak ketakutan. Lagi-lagi asap membumbung mencemari langit tokyo.

Tap tap tap

"Shikaku-sama, terjadi ledakan. Roppongi telah... Ropongi telah jadi sasaran pengoboman." Kiba menjelaskan dengan nafas tidak teratur dan wajah kalut.

"Jadi terlambat ya?" Shikaku bergumam. Netranya menatap lurus kaca dihadapannya.

"Terlambat? Maksud ayah roppongi..." Shikaku bergumam membenarkan. Bisa ia dengar decihan disana. Ia lirik Kiba yang masih menunggunya.

"Kau pergilah kesana, urus semua yang ada disana bersama yang lain." ujarnya yang langsung dituruti Kiba. Ia berjalan menjauh dari keramaian disana.

"Shikamaru, apa yang akan ayah katakan ini merupakan rahasia publik."

"Hm?"

"6 bulan yang lalu sebuah riset penting di aomori telah dicuri. Dua orang pelaku berhasil kabur membawa bom nuklir yang merupakan hasil penelitian rahasia bertahun-tahun. Dan mungkin itu ada sangkut pautnya dengan ini."

"A-apa? Ka-kalau begitu ijinkan aku menyelesaikannya bersama kalian. Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Ini..."

"Itulah yang akan aku ucapkan." Shikaku menghela nafas.

"Kembalilah Shika."

To Be Continued

Terima kasih yang sudah review. Seperti biasa, mohon reviewnya. ^^