Disclaimer: Naruto selamanya milik Kishimoto-sensei.

Warning: AU. OOC. Typo(s). Drama. Crack pair. Multichap. Gaje(s). Pendek.

.

.

.

.

.

Please, be My Girlfriend!

Chapter 2

Sequel of Rainy Day

A Naruto Fanfiction By UchihaMaya

.

.

.

.

.

Apa usaha Sasuke untuk mengejar cinta Hinata? Sanggupkah ia merendahkan harga dirinya sebagai Uchiha demi gadis manis dari klan Hyuuga itu?

.

.

.

.

.

Tarik

Tepis

Tarik

Tepis

Ta_

"_berhenti menarik bajuku, Dobe!"

Naruto memasang tampang (sok) innocent-nya dengan cengiran lima jari tertempel dibibirnya.

"Bisa kita pergi sekarang, Sasuke?"

Huh, aku sudah hafal. Jika ia memanggilku dengan nama_tanpa istilah Teme_ia pasti akan segera merajuk.

"Hn!"

Kurasa Naruto mulai menarik ujung kemejaku lagi.

Argh~

Tidak bisakah Dobe ini diam?

"Sasuke, kita pergi sekarang, ya? Masa kau tega jika sampai Sakura-chan menghajarku?"

Benarkan. Sekarang ia merajuk padaku dengan tampang sok polosnya itu.

"Aku tak punya urusan dengan nona Haruno,"

Naruto membalik tubuhku kasar, menghentikan aktifitasku. Kini posisi kami saling berhadapan.

"Kalau begitu kembalikan kunci motorku!"

Ia menyodorkan tangannya. Aku menyeringai licik.

"Aku menahan motormu sampai urusanku selesai."

Raut wajah Naruto berubah. Ia mencibir pelan. Aku menghiraukannya dan kembali membalikkan tubuhku dan mengamati sesuatu_atau seseorang dari balik rak tinggi diperpustakaan.

"Kalau begitu cepat selesaikan urusan bodohmu dan biarkan aku menjemput Sakura-chan,"

Kurasakan dorongan Naruto dari balik punggungku, membuatku menampakkan(?) diriku seutuhnya didepan seorang Hyuuga Hinata yang bersimpuh agak jauh dariku.

Aku segera menatap Naruto dengan death-glare andalanku. Bocah itu malah tersenyum lima jari dan mengancungkan dua jari jempolnya. Kulihat gerak bibirnya yang seperti mengucap 'Genbatte!'

"Uchiha-sen…pai?"

Suara Hinata membuyarkan acara marah-marahku pada Dobe. Aku menatapnya yang tengah bersimpuh diantara tumpukan buku-buku tebal dilantai perpustakaan.

"Hn, belum pulang?"

Kulangkahkan kakiku mendekat padanya.

Ia menggeleng pelan. "Apa yang kau lakukan?" Tanyaku. Aku kemudian duduk didekatnya, hanya tumpukan buku yang memisahkan kami.

Ia mengangkat buku dipangkuannya, menampakkan cover depan. Beethoven?

"Untuk apa kau membacanya?"

Ia tampak berpikir sejenak. "Untuk tu…gas akhir ke-kesenian..ku. Aku membaca… literature Beethoven untuk le…lebih memahami lagu-nya,"

Aku mengangguk, kemudian Hinata kembali menekuni bukunya. Keheningan menyelimuti kami. Hanya suara kertas yang sesekali dibalik yang terdengar.

"Hinata?"

Gadis berambut indigo itu mendongak, menatap lekat padaku.

"A…ada apa, Uchiha-senpai…"

Kuhela nafas pelan. "Adakah orang yang kau sukai?"

Hinata diam, tapi tak lagi menatapku. Ia tampak gelisah, pipi pucatnya kembali memerah.

"A…a…itu…"

Ia bingung. Terlihat sangat jeals dari raut wajahnya. Mungkin ia bingung hendak menjawab apa.

"Tak usah kau jawab, jika kau merasa tidak nyaman." Ucapku.

Kusandarkan tubuhku dirak buku, kemudian meraih salah satu buku dari tumpukan disamping Hinata.

"Kau tak perlu menjawabnya, anggap saja aku tak pernah menanyakannya."

Keheningan kembali menyergap.

Helaan nafas pelan membuatku mendongak dari bacaanku. Hinata tampak tengah menggigit bibir bawahnya.

'Pluk'

Kutepuk pelan puncak kepalanya, kurasa senyum tipis singgah dibibirku.

"Tak usah dipikirkan." Ucapku pelan.

Ia tertegun. Pandangannya lurus menatap mataku.

Aku meraih tasku dan buku yang tadi kubaca, kurasa buku ini cukup menarik untuk menemani akhir pekanku.

"Kau pulang dengan siapa?"

Kulihat ia tersentak kaget dari lamunannya. Pipinya kembali merona merah.

"A..ano, ak_u pulang se…sendirian," ucapnya sambil menunduk.

Kuselipkan kedua tanganku disaku celana sambil mengapit buku tebalku.

"Bagaimana kalau kau menemaniku makan siang dulu?"

.

.

Hening.

Lagi-lagi keheningan menyelimuti. Aku menatap Hinata yang tengah menyuapkan cake yang ia pesan kemulutnya, sementara aku tengah menyesap kopi-tanpa-gula dan menghiraukan sup tomat yang tadi kupesan.

Menatap Hinata yang tengah makan jauh lebih nikmat daripada sup tomat favoritku.

Oh, kalian tentu bertanya-tanya dimana kami sekarang?

Aku membawa Hinata ke kafe dekat stasiun, tak jauh dari sekolah. Sebenarnya aku mengajaknya untuk makan siang tapi ini sudah terlalu sore untuk disebut makan siang. Tapi sekali lagi, apa peduliku dengan itu asal aku bisa bersama Hinata lebih lama.

"Ka…kau tid…ak makan, U..chiha-senpai?" Tanya Hinata. Ia berhenti sejenak dari kegiatan makannya.

Aku meletakkan cangkir kopiku, beralih mengangkat sendok dan menyuapkan sup kedalam mulutku.

Aku kembali menatap Hinata, kali ini ia tengah mengamati apa yang tengah kulakukan.

"Hn? Mau?"

Ia cepat-cepat menggeleng dengan wajah gugup dan menunduk, menyembunyikan rona merah dipipinya. How cute?

"Ti…tidak,"

Diam-diam aku menyeringai melihatnya. "Kau tak apa pulang terlambat?"

Ia tersenyum. Senyum indah yang tak pernah kulihat sebelumnya. "A..aku sudah me..menghubung..i Neji-niisan,"

Aku mendengus. Kenapa Hinata selalu melapor pada orang melambai itu?

"Ne..Neji-niisan a..dalah orang ya..yang bertanggung ja..wab selama Tou-san pe..pergi,"

Huh? Jadi Neji yang mengurus Hinata selama Paman Hiashi pergi. He? Jangan Tanya bagaimana aku bisa tau. Jangan sebut aku Uchiha jika tidak tahu hal kecil macam nama calon mertuaku_berhenti menatapku begitu_.

Aku menyelesaikan makanku dengan cepat dan kembali menekuni kopiku.

Ah, aku teringat sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku beberapa hari terakhir.

"Gaara…"

"Eh?"

Hinata memiringkan keapalanya pertanda tak mengerti, itu yang kubaca dari raut wajahnya.

"Apa hubunganmu dengannya?"

Frontal? Aku tak peduli. Yang terpenting aku berusaha menyingkirkan rasa marah dan tak nyamanku pada raccoon merah itu.

"Di..dia teman la..lamaku," jawab Hinata tanpa ragu. "Gomen ji..jika kata-ka…tanya membuat...mu tak nya..man!"

Sedikit rasa lega menyelip didadaku.

"Kau menyukainya?"

Hinata menatapku. Heran, raut wajahnya menunjukkan keheranan pada pertanyaanku.

"A…aku menyu..kainya, ka…rena dia te..temanku,"

Aku menghela nafas. Betulkah begitu? Benarkah tak ada rasa lain diantara mereka?

"Ayo kuantar pulang!"

Kuletakkan beberapa lembar uang diatas meja, kemudian mengambil tumpukan buku Hinata yang ia pinjam diperpustakaan.

"Ah…aku bisa mem…bawanya sen…sendiri!"

Aku tak menghiraukannya dan beranjak keluar dari kafe. Hinata lalu mengikuti, menyerah dengan kekeras kepalaanku.

Kami menyusuri jalanan ditepi sungai, senja kemerahan memantul diatas air. Indah?

Tapi…

Aku melirik Hinata yang berjalan dibelakangku, wajahnya tertimpa sinar kemerahan sang mentari. Dia jauh lebih indah dari pemandangan disekitar kami. Wajah lugunya, mata lebarnya, pipi kemerahannya, hidung mungilnya, serta_bibir tipisnya.

Aku berhenti, kemudian menghadap Hinata, dengan tumpukan buku didepan dadaku.

"Hinata?"

Ia mendongak. Mata peraknya menatap langsung ke onyxku. Menjebakku dalam pesona memabukkan, melebihi anggur, melebihi candu.

Aku tertegun, wajahnya kini tampak jauh lebih sempurna. Ia menatapku dengan polosnya.

Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Nurani menghalangi logika.

Persetan dengan Uchiha, persetan dengan opini semua orang.

Aku menunduk, dengan cepat menangkap bibir kecil Hinata dengan bibirku.

Ciuman pertamaku dibawah langit senja kemerahan musim panas.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

A/N: Sebelumnya saya sampaikan banyak terima kasih untuk readers yang mau meluangkan waktu mereview fic GaJe saya. Dan saya memohon maaf karena update chapter ini terlalu lama atau sangat lama malah?

Hehe…. Sekian cuap-cuap dari saya.

Mind to review?