.

Rock With Me

.

Pengarang: Kristen Proby

.

.

.

Oh (Do) Kyungsoo

Kim Jongin

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

.

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Sorry for typos

Happy reading!

.

.

.

Previous chapter:

Kami melompat terpisah merasa bersalah saat mendengar suara Tao di ambang pintu. Dia tersenyum gembira, sama sekali tidak marah ketika menemukanku dalam posisi sangat dekat dengan sahabatnya, dan aku menghembuskan napas lega.

"Makan malam sudah siap," Tao memberitahu kami.

"Baik, aku kelaparan." Aku mengedipkan mata pada Kyungsoo, menikmati warna merah pipinya. "Besok, jam tujuh."

"Jam tujuh," gumamnya saat aku berjalan masuk ke dalam, menantikan untuk besok.


.

Kyungsoo POV

Aku memasang earphone ke telingaku, memutar playlist pada Iphone yang telah kuberi judul "berkeringat" dan menyelipkannya ke dalam bra-ku, pin kunci kondominiumku juga tersimpan di sana sehingga tidak akan jatuh melalui belahan dadaku dan aku menutup pintu di belakangku. Aku memakai celana yoga hitam, tank top merah muda dan hoodie merah muda untuk menangkal udara dingin Seattle di musim dingin. Aku sudah melakukan peregangan, saatnya untuk berlari dan menjernihkan pikiran.

Saat aku berlari menuruni tangga, daripada naik lift, aku tidak bisa menghentikan pikiran tentang Jongin. Aku tahu ia tidak akan muncul untuk lari pagi. Dengan siapa dia bercanda tadi malam? Dan atas nama Pinguin di kutub, apa alasan dia menciumku seperti itu?

Lebih baik jika aku melupakan semua tentang ciuman itu dan fokus untuk mencari pekerjaan.

Aku berlari melalui lobi gedung dan melambaikan tangan pada Frank si penjaga pintu; berbelok ke kiri menuju trotoar dan berangkat, terdengar pelan suara berat Adam Levine di telingaku, memintaku untuk memberinya waktu satu malam lagi.

Tidak masalah, Adam.

Tiba-tiba, ada suatu gerakan di sebelah kanan yang mengejutkanku, jantungku naik ke tenggorokan dan aku menjerit lalu tersandung. Tangan yang kuat memegang lengan atasku, menjaga aku tetap tegak, dan aku menatap ke mata yang penuh humor.

"Apa-apaan ini?" Aku terbata-bata dan menarik earbuds dari telingaku.

"Sudah kubilang aku akan menemuimu pagi ini."

"Kupikir kau tidak akan muncul," aku menanggapi dan kembali berlari, menyelipkan earbuds di bra-ku.

"Sistem penyimpanan yang menarik yang ada padamu," komentar Jongin sambil tersenyum, secara terang-terangan menatap payudaraku dan aku tidak bisa menahan tawa dengannya.

"Aku tidak bisa membawa tas saat aku sedang berlari." Aku mengangkat bahu dan melirik dia dari sudut mataku. Benarkah? Bagaimana bisa ia terlihat begitu menarik pada jam tujuh pagi?

Dia terlihat jauh lebih tinggi dibanding tinggiku yang 160 cm; setidaknya 30 senti lebih tinggi. Dia memakai celana pendek basket, sepatu kets dan t-shirt berlengan panjang warna hitam dengan bagian dalam memakai t-shirt merah berlengan pendek. Aku sedikit kecewa karena hanya tato di tangannya yang terlihat.

Aku ingin menelusuri tato itu, dengan jari-jari dan lidahku.

Cukup!

Kami berlari dalam diam selama sekitar empat blok.

"Apakah kau ingin tahu seberapa jauh aku akan berlari?" Aku bertanya padanya, senang bahwa aku hampir tidak terengah-engah.

"Tidak apa-apa," jawabnya. Dia juga nyaris tak terengah-engah.

Sialan.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Karena aku akan berlari sejauh yang kau mau."

"Oke." Aku menyeringai sambil melangkah, tubuhku terasa hangat dan siap untuk pergi. Dia dengan mudah mengimbangi kecepatanku. Aku tidak akan mengakui kepadanya untuk saat ini, tapi rasanya memang menyenangkan memiliki seseorang di sampingku ketika sedang lari pagi. Tak ada yang pernah tertarik untuk berlari denganku sebelumnya. Itu membuatku merasa lebih aman, meskipun kami tidak bicara, hanya bernapas dan berlari beriringan.

"Kau bisa pasang earplug kembali jika itu yang kau inginkan." Dia tersenyum ke arahku.

"Tidak apa-apa." Aku melambai ke arahnya dan terus berlari. Aku sedikit suka mendengarkan cara dia bernapas.

"Apa yang kau dengarkan?"

"Itu adalah lagu Maroon5." Aku tersenyum padanya. Ada apa dengan orang ini sehingga membuatku merasa begitu nyaman?

"Penggemar Maroon5?" Dia bertanya.

"Ya."

"Siapa band favoritmu?" Dia bertanya dengan senyum penasaran.

Kai.

Aku tidak akan mengatakan padanya. Sebaliknya aku mengangkat bahu lagi dan mencoba memikirkan band lain. Sialan, terasa sulit ketika dia begitu dekat, aku bisa mencium baunya.

Bau tubuhnya fantastis.

"Aku suka semua jenis musik. Tidak ada yang spesial."

"Aku juga," Aku mendengar senyum dalam suaranya. "Kau benar, berlari pada pagi hari adalah hal yang sangat bagus."

"Aku tahu. Itu menenangkan, dan bahkan aku tidak peduli meskipun sedang hujan. Apakah kau siap untuk mempercepat lagi?"

"Tentu saja, aku hanya mengikutimu."

Aku menambah kecepatan sekali lagi, dan kami sekarang berlari lebih cepat. Napasku mulai cepat dan sulit untuk bicara, dan aku bisa mendengar hal yang sama darinya, jadi kami terdiam dan hanya menikmati berlari, bunyi derap langkah secara konstan dari kaki kami yang menghentak trotoar terdengar sempurna. Aku tidak peduli gerimis ringan mulai turun, dan pipi dan ujung hidungku terasa dingin. Aku menyeka hidung dengan hoodie dan terus berlari.

Tadi malam aku berkata pada diriku sendiri saat di tempat tidur, memikirkan hal ini, bintang rock seksi dan ciuman nikmatnya dimana aku telah bersedia berlari dengannya pada hari ini, tapi terkutuk jika aku tidak menikmatinya untuk diriku sendiri.

Sudah tiga mil, aku mulai melambat, merasakan terbakar di pahaku.

"Apakah kau baik-baik saja?" Tanyanya, kekhawatiran terlihat di wajahnya.

Mengapa dia begitu baik?

"Aku baik-baik saja, kupikir mungkin kau akan merasa lelah," aku berbohong. Aku akan mati sebelum aku menceritakan bahwa pahaku terasa terbakar.

"Aku baik-baik saja," ia mengerutkan kening.

"Oke," Aku mengangkat bahu seolah olah aku baik-baik saja dan mengambil langkah lagi. Paha dan betisku menjerit protes, tapi aku menjaga wajahku tetap polos dan tetap berkonsentrasi pada pernapasan dan suara kaki kami.

Jika dia bisa melakukannya, aku juga bisa. Aku akan berlari dua mil lagi.

Akhirnya, aku bernapas sambil mendesah lega ketika aku mulai melambat. Kakiku terasa sedikit elastis. Aku terbiasa berlari setiap pagi, tapi aku belum terlatih untuk maraton dalam waktu yang lama, aku berterima kasih pada pekerjaanku.

Pekerjaanku yang dulu.

Tubuhku memperlihatkan kurangnya latihan.

Jongin memperlambat kecepatan, begitu juga aku dan membawaku ke sebuah taman dengan meja-meja piknik. Ia menuntunku ke meja terdekat.

"Duduk di atas meja," ia memerintah, suaranya keras.

Aku mengikuti perintahnya dan mengerutkan kening ke arahnya. "Kenapa?"

"Kenapa kau melakukan itu?" Dia lansung menarik kaki kananku dan jempol dan jari-jarinya mulai bekerja pada otot pahaku dan aku hampir tidak tahan untuk mengerang karena kesenangan.

Ya Tuhan dia memiliki tangan yang besar.

"Melakukan apa?"

"Kau jelas berlari lebih jauh dari biasanya. Kakimu gemetar."

"Aku baik-baik saja." Aku mengatur rahangku dan mencoba untuk menarik diri dari genggamannya, tapi dia mencondongkan tubuhnya dan menahan tangannya di pinggulku, wajahnya beberapa inci dariku dan sangat marah.

"Jangan pernah berbohong padaku, Sunshine. Aku tidak pernah menginginkan kau berlari sampai kakimu seperti ini lagi. Suatu hari kakimu hanya akan gemetar seperti ini jika aku berada dalam dirimu."

Mulutku ternganga dan mataku melebar. Dia melotot ke arahku mebuatku berdebar dan kemudian melanjutkan pekerjaannya di kakiku, memanjakan dan memijat mereka.

Kapan terakhir seseorang merawatku? Aku bahkan tidak ingat.

Jika aku berada di dalam dirimu.

Sial.

Itu terdengar menggoda, itu tidak boleh terjadi.

Dia menggosok kakiku yang lain, dan aku mulai merasa lebih baik, aku menarik kakiku darinya dan berdiri.

"Terima kasih, aku baik-baik saja." Aku tidak bisa menatap matanya. Ini terlalu mudah untuk menyukai pria ini, menyerah pada sentuhan dan kebaikannya.

Dia adalah keluarga.

Dia seorang selebriti.

Tidak akan menuju ke sana.

Dia berjalan denganku, kembali ke kondominium milikku. Kami berlari memotong arah, sehingga tempatku tidak terasa jauh. Ketika kami melewati café favoritku, Jongin mencengkeram sikuku, menarikku untuk berhenti dan aku tidak dapat bergeming saat aku menarik diri.

Matanya terlihat memanas saat ia merengut ke arahku. Aku berdeham. Dia menatapku, sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu, tapi dia hanya mendesah.

"Mari kita sarapan." Ia menunjuk ke kafe dan rasa kesalnya hilang. Aku tidak harus menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Tetapi memikirkan pulang ke rumah tidak ada pekerjaan dan benar-benar tidak ada yang bisa direncanakan untuk hari ini membuatku tidak bergairah.

"Oke."

Ia menuntun aku ke gerai dan kami duduk berseberangan satu sama lain.

"Kopi?" Pelayan bertanya sambil mendekati meja.

"Tentu," Jongin menjawab.

"Tidak, terima kasih," bisikku dan mengambil menu. "Hanya Jus jeruk."

"Tidak minum kopi?" Jongin bertanya setelah pelayan meninggalkan kami.

"Tidak," Aku mengerutkan hidungku dengan kesal dan membaca menu, seolah-olah aku belum tahu apa yang kuinginkan. "Aku benci kopi."

"Kau menyadari bahwa kau tinggal di Seattle, kan?" Dia terkekeh dan menyesap kopi hitamnya. "Kupikir menikmati kopi adalah wajib."

"Jangan panggil polisi kopi. Aku tidak pernah mencobanya. Aku menyukai kota ini." Aku menutup menu dan duduk kembali di kursi dan tidak dapat menghindari lagi untuk memandangnya.

Tubuhku protes dua kali. Hal ini tidak pantas terlihat olehnya. Rambutnya basah, tapi dandannya berantakan model rambut feaux hawk, jadi dia terlihat baik-baik saja. Dia terlihat santai dengan pakaian olahraga, tangannya yang bertato memegang mug, dan itu sangat mudah untuk melupakan bahwa dia seorang selebriti.

Dia hanya seorang pria.

Pelayan datang membawa jusku dan mengambil pesanan kami lalu pergi.

"Jadi" Dia bersandar ke belakang dengan sikunya di bagian belakang stan. "Kenapa kau tidak bekerja hari ini?"

Aku bertanya, "Bagaimana kau tahu aku tidak bekerja?"

"Semalam kau bilang bahwa kau tidak bekerja lagi. Kenapa?" Matanya menyipit, dan dia menatapku dengan seksama.

Tidak ada kebohongan.

"Aku dipecat," jawabku dan menyesap jus, berusaha untuk menghilangkan rasa tidak nyaman pada kata terakhir.

Dipecat.

Alisnya naik ke garis rambut karena kaget. "Kenapa?"

Aku mengangkat bahu dan menatap ke bawah pada jusku. Aku tidak ingin mengatakan hal ini kepadanya.

Dia mencondongkan tubuhnya dan meraih tanganku ke dalam genggamannya dan secara refleks aku tersentak kaget ketika disentuh.

Apa yang salah denganku?

"Kenapa kau tersentak setiap kali aku menyentuhmu?" Tanyanya dengan suara rendah.

"Aku tidak tahu," bisikku.

"Lihat aku." Suaranya tidak menyisakan ruang untuk argumen, jadi aku melihat ke matanya yang sedang marah. "Katakan padaku."

Aku mengangkat bahu lagi dan menggelengkan kepala. "Ini bodoh. Aku bukan korban, Jongin. Kau tidak mengenalku dengan baik, tapi aku akan menganggapmu mengenalku dengan baik saat ini bahwa aku tidak mau menerima penghinaan dari siapapun."

"Oke, lanjutkan." Dia terus memegang tanganku dan menggosok ibu jarinya di atas punggung tanganku.

Ya Tuhan, ini terasa nyaman.

"Aku tidak ingin membicarakannya." Dan itu adalah benar.

"Oke, cukup adil. Kita akan menyimpannya." Dia tersenyum menenangkan, tapi tidak melepaskan tanganku.

Di mana makanan kami? Bukan karena aku lapar, tapi aku benar-benar ingin memiliki tanganku kembali. Dia menjalankan ibu jarinya di atas buku-buku jariku lagi, mengirimkan sensasi geli. Aku menarik tanganku dan menjauh dari meja, mengambil jus. Tanganku kedinginan bukan karena jus dingin tapi karena kehilangan kontak.

Dia tersenyum lembut, dan aku mendapati diriku kembali tersenyum.

"Kau cantik ketika kau tersenyum, Kyungsoo."

"Um, terima kasih."

"Ceritakan tentang pekerjaanmu," ia menuntut dan duduk kembali ketika makanan kami datang.

"Aku adalah seorang editor di Majalah Seattle selama delapan tahun." Aku menaburkan lada pada telur dadar dan menggigitnya.

"Itu waktu yang lama."

"Ya, aku menyukainya. Aku pandai dalam hal itu."

"Jadi apa yang terjadi?"

"Sekitar setahun yang lalu, bosku memintaku untuk menulis kisah Sehun. Dia pikir karena Sehun adalah saudaraku, aku harus bisa mendapatkan berita eksklusif tentangnya, pasangan barunya, lalu menyebarkan di majalah."

"Tapi kau bukan reporter," Jongin menyela sambil mengerutkan kening.

"Tidak, tapi dia ingin aku membuat pengecualian, karena dia tahu aku tidak akan membiarkan orang lain melakukannya." Aku meletakan garpu ke piring dan menyesap jus. "Aku mengatakan kepadanya tidak akan melakukannya." Aku menggelengkan kepalaku saat aku teringat wajah marah dari bosku ketika aku mengatakan padanya bahwa aku tidak akan melakukan hal itu.

"Apa yang membuatmu berkata tidak?" Jongin bertanya.

"Sehun adalah pribadi yang gigih. Aku tidak akan menempatkan berita tentang dia di majalahku. Selain itu ini penghinaan bagiku dengan memintaku menulis artikel tentang keluargaku, lalu dia marah ketika aku mengatakan tidak." Aku cemberut dan kesal.

"Oke, jadi apa yang kau lakukan sekarang setelah kau dipecat?" Dia bertanya sambil makan pancake-nya.

"Bagaimana bisa kau makan pancake dan tetap ramping?" Aku bertanya tanpa berpikir.

Dia tersenyum, tindikannya menangkap mataku. "Genetik."

"Bajingan Beruntung," gumamku, terdengar dia tertawa geli dan aku hanya terdiam.

Ya Tuhan, dia menakjubkan ketika tertawa.

"Bagaimanapun juga," lanjutku, sadar diriku gemetar. "Minggu lalu bos yang sama datang padaku dan menyerangku dengan kata-kata kotor karena aku tidak memberitahu dia sebelumnya bahwa aku mempunyai hubungan dengan Kim Yifan melalui keluargaku."

"Brengsek," Jongin berbisik.

"Dia ingin aku menggunakan pengaruh, memberikan berita eksklusif untuk majalah dan aku menolak lagi." Aku menggelengkan kepala dan mendorong piringku, terlalu marah untuk makan. "Jongin, mereka keluargaku. Aku tidak akan pernah memanfaatkan mereka untuk memajukan karirku. Tidak akan."

"Apa yang dia lakukan padamu?" Dia bertanya pelan. Jari-jarinya mencengkeram erat cangkir kopinya dengan kemarahannya.

"Dia berteriak, menyebutku seorang banci." Aku menyeringai ketika Jongin meraih tanganku lagi. Aku berkata, 'Tidak, Bob, aku punya vagina. Aku mengerti kalau kau tidak tahu bedanya'."

"Bagus." Jongin terkekeh. "Aku yakin dia tidak suka."

"Tidak, dia tidak terpengaruh." Aku menghela napas dan tanpa sadar menelusuri huruf pada jari Jongin. "Dia mengatakan bahwa aku bukan tim yang baik dan jika aku tidak bersedia memberikan hal lebih untuk kebaikan majalah, maka aku tidak harus berada di perusahaan itu lagi."

Aku menggigit bibir, menelusuri tinta di tangannya. "Mungkin dia benar," bisikku. "Aku mencintai pekerjaan bodoh itu."

"Apa kata keluargamu?"

Tatapanku tersentak padanya dan perutku melilit menyakitkan. "Mereka tidak tahu. Tolong jangan katakan apa-apa."

"Mengapa mereka tidak tahu?" Dia mengernyit.

"Sebab, mereka tidak perlu khawatir tentang aku, dan aku tidak ingin mereka merasa berkewajiban untuk membantuku. Aku baik-baik saja. Aku akan mencari jalan keluar. Aku memiliki tawaran pekerjaan di kota-kota lain, tapi aku tidak ingin pindah jauh dari keluargaku. Bodoh, ya?"

Dia menaruh tanganya di atas tanganku dan mencengkeram erat. "Ini tidak bodoh. Ini adalah rumahmu. Aku pun merindukannya."

"Kenapa kau pulang?" Aku bertanya, menikmati dirinya. Sialan, Dia begitu mudah diajak bicara. Mungkin terlalu mudah. Mungkin aku tidak harus begitu banyak bicara, tapi aku tidak bisa bicara dengan keluargaku tentang hal ini.

Mereka akan panik setengah mati.

"Aku merindukan Tao. Terasa lelah berada di jalan. Aku butuh istirahat."

"Berapa lama kau tidak istirahat?" Aku bertanya dan menyeruput jusku.

Dia tertawa penuh humor. "Kami telah tur lebih dari lima tahun tanpa henti. Tiga tur terakhir berlangsung selama tiga tahun."

"Tiga tahun perjalanan?"

"Ya."

"Tidak heran kau lelah."

Dia mengangguk dan tersenyum, tapi matanya tiba-tiba terlihat lelah. Sangat lelah.

"Kau siap?" Dia bertanya.

Tidak yakin.

"Tentu." Dia menarikku keluar dari stan, membayar cek dan membimbingku berjalan ke trotoar dan menuju rumah.

"Bagaimana kakimu?" Dia bertanya dengan santai saat kita berjalan menyusuri trotoar yang sudah ramai. Kota ini bangun.

"Lebih baik, terima kasih."

"Aku bersungguh-sungguh, jangan lakukan hal itu lagi."

"Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan," balasku.

"Wanita keras kepala," gumamnya dan melotot ke arahku. Aku tidak bisa menahan tawa.

"Wah, aku belum pernah mendengar itu sebelumnya. Aku orang yang santai." Aku mengedipkan mataku padanya.

"Sok pintar."

Kami mendekati pintu depan kondominiumku.

Ini bisa terasa aneh.

Dia menarikku ke dalam pelukannya, lengannya membungkus dengan kuat di sekelilingku dan menarikku ke dalam dadanya dan mengayunku maju mundur untuk sesaat. Aku merasakan dia mencium kepalaku dan mengerutkan kening.

Apa sebenarnya ini?

"Sampai jumpa besok pagi," bisiknya dan menarik diri, matanya yang lembut dan senyum di bibirnya. "Apa kau yakin tidak memiliki band favorit?" Tanyanya penuh harap sambil berjalan menuju mobilnya.

Aku tertawa dan menggelengkan kepala. "Yeah... Matchbox Twenty cukup bagus."

"Kau membunuhku." Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Pulanglah," kataku sambil tersenyum dan membuka pintu, berjalan masuk ke lobi dan melihat dia kembali saat ia masuk ke dalam mobilnya. Dia mengedipkan mata dan melambaikan tangan saat ia berlalu.

Aku dalam masalah besar.

.

OoooO

.

Jongin POV

"Apa rencana akhir pekanmu?" aku bertanya pada Kyungsoo sambil berlari dengannya di jalan. Ini hari Jumat, dan kami telah berlari bersama-sama setiap pagi selama seminggu ini. Hari Senin mengatur irama kami. Kami lari pagi, lalu kami sarapan, aku mengantar pulang ke rumahnya dan pergi.

Ya Tuhan, aku ingin menciumnya lagi.

Tapi kupikir dia membutuhkan teman lebih dari apa pun, dan terkutuk jika aku tidak menyukainya. Ketika dia lupa untuk menjaga dinding yang dibangun di sekelilingnya dan sedikit mengendur, ternyata dia sangat menyenangkan dan lucu saat diajak untuk bicara.

Dan pastinya tidak terlalu sulit untuk melihat ia berlari dengan memakai celana yoga dan tank top. Dia memiliki tubuh berisi yang pas.

Aku ingin tahu bagaimana rasanya saat kakinya melilit pinggangku.

"Setiap hari adalah akhir pekan, Jongin," dia menjawab datar, membawaku keluar dari lamunanku. "Tapi kupikir aku akan bertemu dengan Baekhyun dan Chanyeol besok sore untuk minum kopi."

"Kau tidak minum kopi."

Dia tertawa, matanya yang besar bersinar dan dia mengerutkan hidung yang indah ke arahku. "Kau jelas tidak mengerti tujuan para gadis pergi minum kopi."

"Jelaskan padaku." Sekarang napas kami berdua mulai terasa berat. Ketika pada hari Senin lalu kami memulai berlari, aku merasa yakin bahwa kegiatan ini tidak akan memberiku tantangan, tapi Kyungsoo adalah seorang pelari yang kuat.

"Kami akan bertemu di sebuah kedai kopi, membeli minuman, dan bergosip selama beberapa jam."

"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku, meskipun aku sesungguhnya tidak peduli. Aku hanya ingin mendengar suara serak seksinya.

"Aku tidak dapat memberitahumu. Ini urusan para gadis."

"Ayolah, aku tidak akan memberitahu siapapun. Janji," aku menyilangkan tangan di dadaku dan menyeringai ke arahnya.

"Tidak," dia menggelengkan kepala dan tersenyum lagi.

"Baiklah. Aku juga tidak akan memberitahumu gosip tentangku." Aku mengangkat bahu acuh tak acuh dan menyeringai padanya.

"Gosip apa?" dia bertanya.

"Tidak akan kuceritakan."

"Baik." Dia mengangkat bahu dan melirik dari sudut matanya, mencoba menahan senyum. Akhirnya, dia tertawa dan mendorong bahuku. "Kau tidak punya gosip, dasar brengsek."

Sebelum aku bisa menjawab, kakiku tersandung trotoar dan aku merasa diriku terhuyung ke depan, jatuh ke trotoar dengan wajah lebih dulu.

"Sial!"

Lututku terluka dan aku berguling dan kembali berdiri.

"Apa kau baik-baik saja?" Kyungsoo mencengkeram lengan atasku dengan kuat, tangannya kecil, mata bulatnya melebar dan khawatir, memeriksa wajahku, dan terengah-engah.

Sial, dia cantik.

"Aku baik-baik saja. Tidak apa-apa." Matanya menelusuri, memeriksa tubuhku dan dia tersentak ketika dia melihat lututku.

"Tidak, kau terluka! Kau berdarah."

"Ini hanya lecet, Kyungsoo."

"Kau berdarah," dia mengulangi dan berjongkok di depanku, memeriksa luka lecet kecil. Aku bahkan tidak tahu ada luka sampai dia yang memberitahukan hal itu.

"Ini tidak sakit. Ayo, kita lanjutkan berlari."

"Tidak, aku akan mengantarmu pulang dan membalut lukamu. Aku sangat menyesal, aku tidak bermaksud untuk mendorongmu terlalu keras," dia berdiri dan matanya menatapku lagi, mengerutkan alis dan cemberut.

Aku tertawa dan menelusuri garis kerutnya dengan ibu jariku, mengabaikan dirinya yang gemetar. "Aku baik-baik saja."

"Ayo, berlari lagi." Dia meraih tanganku dan ternyata kami kembali menuju ke apartemennya, berjalan dengan cepat.

Bagaimana dia bisa menjadi lebih menggemaskan?

Kami sampai ke gedung apartemennya, dan untuk pertama kalinya dalam minggu ini, dia mengajakku masuk, dia melambaikan tangan ke penjaga pintu dan menarikku masuk ke lift.

"Bangunan ini bagus," aku berkomentar, menatap wajahnya.

Aku tidak akan pernah bosan memandang wajahnya.

"Ya, aku menyukainya."

Tiba-tiba dia mencari-cari sesuatu dari dalam bra-nya, dan menarik kunci dari bra khusus olah raga.

"Aku suka dengan sistem penyimpananmu." Dan aku ingin meraba disekitarnya.

Kyungsoo menyeringai dan membawaku masuk ke apartemennya.

Aku tidak siap untuk masuk ke apartemen milik Kyungsoo.

Ruangannya terbuka dan besar. Begitu terang. Ada jendela besar, yang menawarkan sinar matahari masuk ke dalam.

Aku menyeringai pada diriku sendiri. Sangat tepat.

Bukannya tampak modern, rapi dan dingin seperti yang kuperkirakan, aku mendapati furniture yang besar dan menarik berwarna merah dan biru, tanaman dan bunga, majalah fashion ada di meja kopi, laptop tergeletak di sofa. Ada perapian di sudut ruangan dan tirai putih tipis di jendela. Sebuah piano didirong menempel dinding.

Dia memainkannya?

"Ayo masuk. Kita akan masuk ke kamar mandi utama, di situlah aku menyimpan kotak P3K." dia tersenyum dan melempar kuncinya ke dalam mangkuk di dekat pintu.

"Ini adalah tempat tinggal yang bagus."

Senyumnya lebar dan menarik seperti rumahnya. "Terima kasih."

"Apakah kau mendekorasi sendiri?" Ini terlihat sangat feminin dan manis.

Seperti dia.

"Ya, itu aku lakukan sendiri." Dia tertawa dan mengajaku berkeliling dengannya. Dia mengandeng tanganku dan membawaku melalui lorong masuk kamar tidurnya, penuh dengan bantal lembut dan selimut berbulu dan semua bernuansa merah, abu-abu dan putih.

Kamar mandinya sama. Lembut dan cantik, tidak menjijikkan. Sangat nyaman.

"Duduklah di sisi bak mandi dan aku akan mengambil obat-obatan." Dia membelakangiku, membuka ritsleting dan melepas hoodie merah mudanya, sehingga yang tertinggal hanya tank top dan celana yoga.

Tanganku mengepal di samping pinggulku. Sial, aku sangat ingin menyentuhnya, menangkup pantatnya di tanganku, mendorong wajahku di antara kedua kakinya. Dia berbalik padaku, membawa obat-obatan.

"Oke, ini akan sedikit perih," ia menggigit bibir bawahnya dan menatapku sambil berjongkok di depanku, hanya beberapa inci dariku. "Maafkan aku."

"Kyungsoo, aku baik-baik saja. Ini tidak sakit. Darahnya sudah berhenti."

"Aku tidak ingin kau terinfeksi. Aku akan membersihkannya." dia mulai menggosok kain lembut dan air hangat, membersihkan darah yang sudah mulai mengering di tulang keringku. Kepala dengan rambut hitamnya yang indah membungkuk di atasku, berkonsentrasi pada tugasnya.

Dan kejantananku menggeliat setiap kali jari lentiknya memberikan sentuhan, menakjubkan.

Dia mencengkeram kuat betisku dengan satu tangan untuk menahanku, dan aku tersentak, membayangkan dia mencengkeram kejantananku dengan cara yang sama.

"Apakah aku menyakitimu?" dia mundur, matanya lebar dan melirik ke arahku dengan khawatir.

"Tidak, maaf."

"Kurasa kau tidak perlu dibalut atau apa pun."

"Ya, kurasa begitu," bisikku dan tertawa. "Lihat? Ini bukan masalah besar."

"Maaf, aku telah mendorongmu," dia bergumam.

"Kyungsoo, aku baik-baik saja. Aku pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk, percayalah." Dia meletakkan kain sampingnya, dan aku mengambil tangannya sebelum dia bisa berdiri dan menjauh. Aku suka memiliki dia sedekat ini.

Aroma tubuhnya benar-benar menakjubkan.

"Kenapa kau tersentak ketika aku menyentuhmu?" bisikku sambil mengangkat dagunya sehingga bisa menatap matanya. Ia mengernyit dan cahaya merah muda mewarnai pipinya. Aku menelusuri jemariku di wajahnya dan menelusuri bibir bawahnya dengan ibu jariku. "Katakan padaku. Aku sangat senang menyentuhmu."

Dia menelan ludah lalu mengernyit. "Kurasa aku tidak terbiasa."

"Apa maksudmu?"

"Aku menghabiskan sebagian besar waktu sendirian, Jongin. Kecuali aku berada di sekitar keluargaku, itu pun tidak sering, aku tidak sering disentuh." Dia mengangkat bahu dan melihat ke bawah. "Aku bukan orang gampangan."

"Oke." Ya Tuhan, dia telah membuat hatiku hancur dan aku ingin merengkuh dan menjaganya dalam pelukanku sepanjang waktu.

Dan ini tidak mudah dilakukan dengannya. Wanita keras kepala.

"Aku yakin kau suka menyentuh sepanjang waktu," dia menyeringai.

"Kenapa?" tanyaku. Kami masih saling menatap dan menjaga jarak. Aku tidak ingin bergerak.

"Penggemarmu dan para groupies -penggemar fanatik yag terdiri dari perempuan muda-. Orang-orang yang ingin menginginkanmu."

"Para penggemar yang cukup banyak, dan ya, ada sedikit yang meraba-raba," aku menyeringai. "Aku belum memberikan perhatian pada groupies dalam waktu yang lama."

Matanya yang lebar menatapku lagi. Apakah dia pikir aku bercinta dengan setiap wanita yang datang kepadaku?

Oke, aku dulu begitu, ketika aku masih sangat muda.

"Benarkah?"

Aku menelusuri lagi jemariku di pipinya dan tersenyum ke arahnya. "Aku membiarkan para kru band-ku memiliki mereka."

"Pekerjaan menyenangkan," Ia tertawa kecil.

"Mereka tidak mengeluh." Aku setuju. "Kau wangi," bisikku. Manis, aromanya jelas ada di sekitarku. Dia berbau seperti vanila dengan sedikit lemon.

Sunshine.

Napasnya tercekat dan matanya tertuju pada bibirku dan aku tahu aku hampir mati.

"Aku akan menciummu, Kyungsoo," bisikku.

.

.

ooOoo

TBC

ooOoo

.

.

A/N

Maaaaaf banget aku telat apdet #deepbow

Remake ini belum kepegang sama sekali sejak pertama publish dan BUKAN karena aku kehilangan feel setelah kabar nini yang beredar. Ampe ada yang pm aku, aku terharu :") /hug/

Jika benar-benar percaya 'jagi', gosip yang beredar bakal mental kkk

Jika ada yang pengen curhat tentang kaisoo, chanbaek atau yang lain silakan^^ ayo saling chat di line^^ tulis aja id kalian di review atau PM. Aku akan chat kalian duluan^^ tapi maaf jika aku balasnya lama kkk /hug/

Kaisoo is real! ^^

Chanbaek is real! ^^

Back to the story

Sedikit penjejalsan tentang Kim dan Kim yang masih bingung. Aku kasih member lengkapnya saja^^ ini semua saudaraan.

Oh : Kungsoo & Sehun

Kim: Jongin & Tao

Kim: Joonmyeon, Wifan, Baekhyun, Jongdae

Maaf(1) jika kalian yang kebingungan marga #deepbow. Masak aku ganti Huang Jongin… hmm lumayan cocok sih tapi …. hahaha

Maaf(2) aku g bisa nentuin hari update seperti remake-remake ku sebelumnya. Aku belum edit full. Sama seperti kalian, aku juga baru baca ampe chap ini hahaha

.

Thanks for^^

diokeceh makasih udah ngingetin /hug/ | kaisoov siapa yang seksi? hahaha | DJ 100 jongin penuh kepananasan(?) eh ambigu hahah | chanslumiere makasih^^ tapi btw disinia aku hanya meremake^^ tapi makasih buat pujiannya kkk | jongin bear siap! HOW TO TELL A FEW WORDS OF LOVE bakal lanjut kok tenang~ tapi aku g tahu kapan #ngumpet ... ada 3 ff yang aku apdet setiap minggunya hiks, nunggu kelar dulu ya :') makasih masih mau menanti ffku yang ituuu /xoxo/ | KyungXo maaf telat apdet #deepbow | Lovesoo ^^ | TKsit kaisoo always sosweet | sangjoonpark siap~! | chenma diatas aku ada penjelasan ya^^ maaf sudah membuat bingung hahahadiokeceh siaaap! makasih semangatnya^^ | chanbaekvs makasih sudah menunggu^^ | ChocoSoo ditunggu ya~ | applecrushx anggap saja out of chara kkk #maksa hahaha | kyungsoonia maaf nunggu lama~ | mrsbunnybyun anggap saja soo out of chara hahaha biasanya diakan jd ibu rumah tangga yang baik, ini mungkin ketularan baek wkwkwk | Guest | RahmaIndirawati remake rata-rata copas dari situs novel terjemahan lalu diganti nama tokoh dan disesuaikan dengan tokoh^^ iya aku juga sadar ada ff yang RWM chanbae ver^^ tapi di akunku ini chanbaeknya Fight with me^^ ceritanya seri beruntun jadi aku pake OTP berbeda-beda.. somoga bisa menjawab rasa penasaran kamu :D | kyung1225 makasih sudah menanti~ | Asmaul | sehunfans karena kyungsoo saudara hun, kemungkinan ada #sokmisterius hahaha… aku aja juga baru baca ampe chap ini wkwk #curcol

See u next chap~ aku usahakan lebih panjang~ semoga tak ngaret lagi~