hai.. makasih ya review'y, maaf ga bisa bales satu satu... makasih jg atas kritikan dan saranya, chimi memang punya kebiasaan salah dlm menggunakan tanda baca hehehe#plaakk

oke chap dua apdet...

.

.

"ino, jika sasuke tak di takdirkan bersamamu mungkin Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik untukmu, percayalah bahwa kebahagiaan itu ada untuk setiap insan manusia, jadi...cobalah untuk merelakannya Ino, ibu tahu ini tidak mudah tapi Ibu percaya, kau bisa melewati ini semua, bukankah jika melihat seseorang yg kita sayangi itu bahagia, kita juga ikut bahagia, belajarlah mengikhlaskanya."

Ino menangis dlm pelukan sang ibu.

disclaimer masashi kishimoto

speak now by chimi wila

speak now

chapter 2

Malam ini begitu indah, langit begitu cerah milyaran bintang bertaburan berkerlap kelip memancarkan cahaya yg begitu indah. Namun sepertinya malam indah ini tak mengubah suasana hati ino yg kelabu. Ia bersandar pada jok bangkunya, matanya menatap langit malam, menatap bintang bintang yg berkerlip seolah mengejeknya, mengejek kerapuhannya, mengejek kekacauannya hingga membuat gadis yamanaka itu menggeram kesal. Sang supir yg melihat itu hanya mengernyit bingung dengan kelakuan majikanya itu.

Limousin hitam itu berhenti di depan sebuah gedung mewah nan megah, tempat acara resepsi sasuke dan sakura di gelar. Ino sengaja tak datang ke upacara pernikahan mereka. Ia tak bisa membayangkan dirinya akan kehilangan kontrol di sana. Waktu melihat acara live media yg menayangkan pernikahan mereka, ia sempat histeris melihat sasuke mengucapkan sumpahnya sebelum ditenangkan oleh ibunya.

Pintu mobil terbuka, ino menjejakan kakinya keluar dan mengucapkan terimakasih kepada sang supir yg membukakan pintu. Sontak semua mata tertuju ke arahnya, ada pandangan memuji, ada yg iri dan ada pula yg hanya berbisik bisk tak jelas.

Malam ini, ino begitu cantik dengan shortdressnya berwarna putih, ia memakai higheel berwarna senada, rambutnya ia biarkan tergerai indah terhiasi bandana putih. Ino terlihat laksana malaikat tanpa sayap yg di utus kami sama ke bumi.

Tanpa mempedulikan pandangan tamu lain. Ino melangkah masuk penuh percaya diri, sesampainya ia menjelajahi sel;uruh pengunjung. Rupanya ia datang sedikit terlambat. Di lihatnya teman teman SMAnya dulu. Ada naruto yg tengah sibuk menggoda seorang gadis yg ia tahu adik dari hyuga neji. Ada juga kiba dan shino yg tengah berdebat entah itu apa. Dan adapula chouji dan lee yg berlomba menyantap hidangan yg tersedia sembari meneriakan semangat masa muda sebenarnya hanya lee sih. Di sudut kiri ada shikamaru yg tengah mengobrol santai dengan tunanganya, sabaku no temari.

Ino mengambil tempat duduk di sebelah kanan dekat dengan panggung musik. Meneguk orange jus yg ia ambil dari meja saji mencoba mengurangi kebisingan yg memekakan telinga.

Ino melirik sekilas ke samping tempat duduknya yg baru saja diududuki seseorang. Ia tahu orang itu, ia tahu pemuda itu, dengan cueknya ino menoleh ke arah lain, berusaha mengabaikan kehadiran lelaki itu dan menganggapnya tak ada.

Merasa diabaikan, lelaki itu berdehem cukup keras hingga beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Pemuda itu hanya mendengus kesal, seumur hidupnya ia tak pernah diabaikan, ini pertama kali baginya.

"sakit hati yamanaka ino… menyedihkan."

Tubuh ino menegang sesaat mendengar ucapan pemuda itu yg baru saja terlontar. Dengan perlahanino menoleh ke arah samping dn menemukan pria tampan berambut merah dan ada tato "ai" yg bertengger di dahinya tengah tersenyum mengejek ke arahnya. Ino ingin sekali menonjok wajah stoic yg begitu mengesalkan itu. Ino hanya mendecih dan melayangkan deathglare yg tentu saja tak mempan untuk pemuda itu.

"bukankah itu berlaku untukmu juga sabaku no gaara", ino tersenyum sinis, ia tahu kalo pemuda itu menyukai sakura sejak dulu namun tak pernah sekalipu terucap. Darimana ia tahu, tentu saja dari shikamaru yg notabene calon kakak iparnya. Ino menyerigai lebar saat melihat gaara mendengus kesal.

"kau lihat …? Mereka begitu serasi bukan" gaara menunjuk ke arah sasuke dan sakura yg tengah tersenyum menyalami para undangan. Tangan sakura yg slalu bergelayut mesra pada lengan sasuke.

Ino menoleh ke arah yg di tunjuk gaa, seketik jantungnya berdetak menyakitkan saat bertemu pandang dengan onix sasuke. Ino terpesona akan ketmpananya. Malam ini sasuke begitu tampan dengan balutan jas hitam. Ino memandang sosok yg begitu ia rindukan. Ino menggeleng untuk membangunkan dari khayalanya, ia sudah berjanji pada ibunya untuk mencoba mengikhlaskan sasuke dan menerima kenyataan bahwa sasuke tlah termiliki dan itu bukan dirinya. Ia terus mengingatkan dirinya saat ia terkenang dngn masa lalu walau hatinya tak bisa dibohongi bahwa rasa itu tetap ada.

Cepat cepat ia menoleh ke direksi lain. Ia sadar semakin lama ia menatap sasuke, semakin susah untuknya merelakanya. Ino menghela nafas, di tatapnya gaara dan tersenyum tipis."lantas?"

"kau menyedihkan ino, kau di campakan begitu saja, kau di buang" ejek gaara

"apa urusanmu?"

"apa kau tak sakit hati?"

"ya"

"apa kau masih mencintainya?"

"ya"

"KENAPA KAU DIAM SAJA" desis gaara yg tak sabar dengan ke'telmian ino.

Ino mengernyit bingung dengan kata gaara yg terakhir, lelaki itu bertanya kenapa ia diam, lantas ia harus bagaimana? Apa mesti berteriak "aku sakit hati", atau menangis guling-guling..oh tidak, itu hanya menurunkan imej ino. Terdiam, ino mencoba menganalisis raut gaara yg masih stoic, mencoba menyelami manik azurenya. Ino tersenyum saat menemukan jawabnya.

"gaara, aku merasa termasuk wanita beruntung, walau kau menyebutku menyedihkan, setidaknya aku smpat memilikinya, sempat bersamanya, sempat menjadi kekasihnya, bagaimana denganmu? kau bahkan tak sempat mengatakan bahwa kau mencintainya, bukankah itu lebih menyedihkan, gaara. Kau terlalu mengikuti egomu dan terus terdiam, tanpa sadar, kau tlah menjadi seorang pecundang," ino menghela nafas, ia tahu , gaara tengah marah padanya, terlihat dari rahangnya yg mengeras, ino tak peduli. Ia hanya ingin membungkam mulut sabaku agar tidak terus mengejeknya, "dan satu lagi. Kau benar, mengatakan mereka begitu serasi, ku akui ya, dan jangan berfikir kau akan memisahkan mereka, aku memang sakit hati tapi setelah melihat senyum terukir di wajah sasuke, aku yakin ini adalah kebahagiaan yg ia harapkan, entah mengapa ada rasa kelegaan di hatiku, aku lega sasuke bersama orang yg membuatnya bahagia, bukankah melihat orang yg kita sayangi bahagia, hati kita juga ikut bahagia," ino teringat kata kata ibunya yg menenangkanya, membuatnya mencoba untuk bisa merelakan sasuke, ino melangkahkan kaki menuju panggung musik,

Gaara masih setia memandangi gerak gerik ino. Ia tak menyangka, ia akan mendapar ceramah yg begitu panjang dari ino. Awalnya ia merasa kesal karna ino menyindirnya seolah ino lebih baik dari dirinya. Namun rasa kesal itu memudar saat mendengar kata kata ino yg penuh makna dan menenangkan. Ia tahu bahwa gadis itu begitu terluka dan sikapnya yg seolah tegar. Harusnya gaara bisa mencontoh ino. Yah .. namanya jg gaara tetap saja bermuka datar.

I'am not the kind of girl who should de rudely barging in on a white veil occasion… but you're not the kind of boy who should be marrying the wrong girl…

Gaara tahu lagu ini, ia tak percaya ino berani menyanyikan lagu ini di resepsi pernikahan mantanya. Lagu yg seolah masih mengharapkan kembali.

Ino tetap cuek menyanyi, ia hanya ingin menumpahkan apa yg ingin ia utarakan, ia janji, ini untuk yg terakhir kalinya.

Don't say yes.. run away now.. I meet you when you're out the church at the back door

Don't wait or say a single vow… you need to hear me out and they said speak now

Speak now: taylor swift

Ino tahu, semua orang menatapnya dengan berbagai ekspresi, ia tak peduli dengan ringan ia melenggang menuju tempat gaara.

Gaara melihat ino berdiri di depanya dengan senyum kelegaan yg terpatri di wajahnya.

"lebih baik speak now daripada never say it, ku harap, saat kau menemukan wanita yg berharga bagimu, katakan apa yg ingin kau katakan jangan terus bersembunyi di balik egomu dan menjadikanmu pecundang, jika kau tak ingin kesempatan itu hilang untuk yg kedua kalinya. Good luck," ino menepuk bahu gaara, tersenyum dan berlalu pergi.

Gaara hanya terdiam dan memandang punggung ino yg smakin menjauh, melangkah percaya diri tanpa menoleh ke belakang tak peduli dengan puluhan orang yg menatapnya. perlahan, ia kembangkan senyum tipisnya. Mungkin memang benar apa yg di katakan Ino, ia pun akan coba merelakan Sakura.

Ino duduk di jok kursi belakang mobilnya, ia begitu lelah, ia tak kuasa bersandiwara lebih lama lagi makanya ia memutuskan untuk pulang tanpa mengucapkan atau bertemu kedua mempelai. Mobilnya berjalan pelan melintasi halaman banguna megah itu. Ino menoleh sejenak dan menggumamkan "sayounara."

Dan mobil pun berjalan semakin cepat menembus kegelapan malam.

tbc or finish

di chap 1 dan 2, ga da pair ino, mungkin di chap selanjutnya, jika readers meminta lanjut, chimi akan lanjut.. untuk itu pliiissss riview