Ocean

rated : T


Ibarat kapal. Wonwoo terombang-ambing di tengah samudra yang luas. Semakin jauh kapal itu mengarungi lautan, semakin banyak badai yang akan mengguncang. Namun, kembali lagi pada dunia nyata. Apa yang berperan sebagai sang badai? Atau barangkali, siapakah sang badai itu?

Pertanyaan yang belum memiliki titik temu.


Soonyoung mendengus kesal melihat interaksi Wonwoo dan senyuman Mingyu yang terlihat tulus. Kedua tangan Mingyu memindahkan kardus-kardus itu. Setelah selesai semua, ia segera mencuci tangannya pada wastafel dan mengambil beberapa lembat tisu untuk mengeringkannya.

"Kalau ada apa-apa hubungi aku ya," ucap Mingyu sehabis mengecup kilat bibir Wonwoo. Dan reaksi Soonyoung seperti, kupikir kalian sudah putus?

Memang benar. Apanya yang putus kalau masih seperti itu? Tapi yang berbeda hanyalah raut muka Wonwoo. Ia menjauhkan wajahnya setelah Mingyu menciumnya dan dahinya dikerutkan tanpa membalas ucapan Mingyu.

"Iya, Gyu, iya. Sekarang kau pulang saja istirahat. Wonwoo biar aku yang urus," kata Soonyoung mendorong Mingyu keluar dari apartemen itu. "Thanks," tambahnya.

Mingyu akhirnya benar-benar keluar dari ruangan tersebut sambil melambaikan tangannya pada Wonwoo. Dan Soonyoung tahu, sebenarnya Mingyu tak ingin melepaskan Wonwoo.

Jadi sebenarnya siapa yang bersalah?


Bodoh,

Soonyoung mengutuk sahabatnya sendiri di dalam hati. Bepuluh-puluh, beribu-beribu, bahkan berjuta-juta petuah yang ingin disampaikannya untuk Wonwoo, namun terasa percuma ketika ia melihatnya dengan senior itu kembali berhubungan.

"Hey, kau tahu kan kalau hyung itu senior yang paling baik denganku dulu? Apa salahnya menyambutnya kembali dari wamil?" Wonwoo sudah pernah mengatakan ini.

Tapi bukan itu yang menjadi permasalahan. Jelas sekarang Soonyoung tahu penyebab putusnya Wonwoo dengan mantan pacarnya di SMA. Kini, ia tahu apa maksud dari bimbang yang Wonwoo pernah katakan dulu.

Ya, maksud dari bimbang itu adalah Wonwoo menyukai senior itu sejak dulu. Kini semua telah jelas bukan?


"Wonwoo!" pria berkepala hampir pelontos itu melambaikan tangannya dari seberang jalan. Wonwoo segera menengok ke sumber suara dan melihat pria itu menyeberangi jalan.

"Seungcheol hyung!" panggilnya balik ketika pria itu sudah dekat, lalu merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya. Pria itu Seungcheol, seniornya di SMA dulu.

Wonwoo tak mengerti lagi caranya bernafas. Ia terlalu bingung mengapa perasaan itu kembali datang. Perasaan yang telah ia rahasiakan selama 3 tahun, termasuk pada sahabatnya sendiri. Namun di saat yang bersamaan, wajah Mingyu terlintas dalam pikirannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memejamkan mata memastikan khayalan itu salah. Di sisi lain Seungcheol heran melihat tingkah Wonwoo yang berubah-ubah sejak tadi.

"Hey, ada apa dengan mu, Won?" tanya Seungcheol yang membawanya berjalan melewati toko-toko di pinggir jalan. "Apakah kau tak punya kekasih setelah putus dari Hyejin?"

Butuh tiga sampai lima detik bagi Wonwoo untuk mencerna pertanyaan Seungcheol yang mangaitkan nama 'Hyejin'. Nama yang paling sensitif untuknya, bahkan ia tak ingin mengingatnya ataupun menganggap bahwa ia pernah berpacaran dengan wanita itu. Dan orang ini menyebutkan nama itu, menjadi suatu kesalahan dalam momen ini. Dan yang membuat lebih kompleks lagi, Wonwoo teringat salah satu rumor lama.

"Ah. A-Ada," jawab Wonwoo terbata-bata. Matanya tak bisa memandang lawan bicaranya.

Seungcheol menunjukkan cengiran khasnya, dengan gusi atas yang terlihat. "Hm, siapa itu? Apakah aku kenal?" Ia memainkan matanya menggoda Wonwoo.

"Kami sudah putus."

"Maaf," ucap Seungcheol merasa tak enak.

Suasana menjadi canggung tanpa satupun megudarakan suaranya. Wonwoo tak ingin Seungcheol tahu siapa mantan kekasihnya itu karena ucapan yang pernah ia ucapkan dulu.

Dulu Soonyoung sangat rajin menasehati Wonwoo untuk tidak terlalu akrab dengan Seungcheol. Tapi itu sangat tidak bisa, Wonwoo tak bisa membohongi perasaannya sendiri, namun ia juga tak mau kalau sahabatnya ini tahu rahasia terbesarnya.


Pada suatu waktu, Soonyoung mengajak Wonwoo bicara dengan serius setelah putusnya hubungannya dengan Hyejin. Raut wajahnya tanpak marah, dan sebelumnya ia menarik tangan Wonwoo dengan paksa.

"Dengarkan aku, Won. Kau tahu kan rumor yang sedang dibahas sekarang?"

Wonwoo jelas sangat tahu.

"Seungcheol bukan orang yang baik yang bisa kau jadikan teman. Kau tahu kalau ia menyukai pacar—maksudku mantan pacarmu. Lalu kau tahu juga kan kalau ia dirumorkan berciuman dengan Jeonghan di ruang musik. Maksudku, ia laki-laki, lalu Jeonghan juga. Kau mengerti kan? Apa kau mau menjadi bahan pembicaraan selanjutnya?"

Wonwoo sangat paham. Tetapi ia terdiam dan menunduk mendengar perkataan Soonyoung.

Tapi, bukankah itu alasan Wonwoo untuk berani menyukai Seungcheol?


Soonyoung terpaku melihat pemandangan di depan kedua matanya. Wonwoo yang berjalan di trotoar bersama Seungcheol dan dirinya yang berada di lantai dua sebuah kafe tampak tak percaya. Bisa-bisanya si brengsek itu kembali menemui sahabatnya.

Teringat lagi akan cerita Wonwoo bahwa Seungcheol telah menghubunginya di sela-sela wamil saat masih berhubungan dengan Mingyu. Bukankah itu gila? Soonyoung hampir stress memikirkan urusan yang sebenarnya bukan urusannya sendiri.

Ditambah lagi hubungan tanpa status Wonwoo dan Seungcheol sudah hampir dua bulan. Terkadang suka terlintas dalam pikiran Soonyoung bagaimana perasaan Mingyu terhadap Wonwoo saat ini. Apakah Mingyu masih memikirkan Wonwoo seperti Soonyoung memikirkan mereka berdua?

Entahlah. Soonyoung tak ingin lebih banyak berpikir untuk hari ini. Lebih baik ia kembali fokus pada urusannya sendiri.


Wonwoo tak mengerti hubungan apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan Seungcheol. Terlalu rumit untuk ia pikirkan sendiri. Semakin hari semakin aneh rasanya berjalan berdampingan dengannya. Wonwoo tak mengerti apakah itu pertanda perasaannya terhadap Seungcheol semakin dalam atau semakin pudar. Penglihatannya dipenuhi kabut, keabu-abuan.

Ia menoleh ke arah Seungcheol yang berada di sampingnya. Seungcheol tampak biasa saja. Tak mengekspresikan apa pun. Hal yang bodoh kalau Wonwoo berniat untuk bertanya kepada Seungcheol tentang hal itu. Di satu sisi, ia ingin bertanya. Sisi yang lainnya tidak menginginkan.

Mereka terus berjalan dengan lambat di trotoar. Memilih kafe untuk dikunjungi. Seketika, Wonwoo teringat akan sesuatu. Jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju kantor Mingyu. Lagi-lagi ia teringat pada Mingyu.

Kebetulan juga saat ini jam istirahat di kantor Mingyu. Perasaan aneh terus bermunculan seperti asap yang dikeluarkan oleh pabrik. Akankah ia bertemu dengan Mingyu? Wonwoo menjadi semakin panik.

"Kau kenapa, Won?" Tanya Seungcheol menyadari kegelisahan Wonwoo.

Sedangkan Wonwoo sendiri bingung untuk menceritakannya. Tak mungkin ia bilang bahwa sedang memikirkan Mingyu. Cukup kata penenang sejuta umat yang harus ia keluarkan. "Tidak apa-apa hyung."

Tidak apa-apa.

Namun, sekarang menjadi ada apa-apa.

Mingyu sekarang berada di depan mereka berdua. Tak begitu jauh. Dengan kebetulannya, Wonwoo telah melakukan kontak mata dengan Mingyu.

"Wonwoo!" Sapa Mingyu yang langsung tersenyum dan menghampiri mereka.

Wonwoo tak tahu harus menyembunyikan wajahnya kemana lagi. Ia hanya tersenyum membalas sapaan Mingyu.

"Bagaimana kabarmu sekarang? Apa makanmu teratur? Kenapa kau bisa ada di sini?" Mingyu benar-benar membombardir Wonwoo dengan pertanyaan.

Wonwoo sampai gelagapan untuk menjawab. Bagaimana kabar Wonwoo? Ia baik. Namun, tak bisa dikatakan amat baik. Kalau makannya? Itu tergantung mood-nya. Dan kenapa bisa ada di sana? Jelas-jelas itu tempat umum yang bisa di datangi siapa saja. Wonwoo siap untuk membuka suara. "Aku baik dan makanku bisa kau pikirkan sendiri. Aku hanya mencari kafe di sekitar sini." Wonwoo menjelma menjadi robot.

Seungcheol tak mengerti situasinya. Yang memungkinkan saat ini, ia hanya diam karna kebingungan. Dan tampaknya ia penasaran siapakah orang yang ada di hadapannya.

Mingyu kembali tersenyum. "Makan yang banyak, Won. Kau semakin kurus."

"Uhm, apakah ini temanmu? Halo, salam kenal. Aku Kim Mingyu," Mingyu menyapa ramah Seungcheol. Jujur saja, Mingyu belum pernah tahu kalau Wonwoo memiliki teman berwujud Seungcheol ini.

"Ah, salam kenal. Aku Seungcheol, teman SMA Wonwoo."

"Pak direktur, ayo kita ke sana. Sudah ditunggu yang lainnya." Seorang wanita memanggil Mingyu dengan hati-hati karna menyela interaksi mereka berdua.

Wonwoo menduga ia adalah salah satu karyawan bawahan Mingyu. Tapi, ia segera tak memikirkannya lagi. Toh, bukan urusannya.

"Baiklah," Mingyu menghembuskan napas berat hati. "Nanti aku menghubungimu, ya. Sampai jumpa!"

Mingyu meninggalkan Mereka berdua, menyusul karyawan yang lainnya. Tiba-tiba terlintas sesuatu di dalam pikiran Wonwoo. Mengapa Mingyu menjadi semakin manis sekarang? Tak seperti sebelum mereka putus yang sibuk akan pekerjaan. Tiba-tiba juga Wonwoo berpikir yang tidak-tidak akan karyawan wanita yang tadi. Tapi mengapa ia harus memikirkan itu semua saat ini?

Wonwoo begitu lelah dengan pikiran dan oerasaannya sendiri. Sekarang Mingyu bersemayam di otaknya. Melayang-layang seakan hutang-hutang yang belum dibayar. Ia menjadi tak yakin akan pilihannya sendiri.

TBC/End?


A/n: aku memutuskan untuk melanjutkan chapter 2, yeay! (Sebenarnya sudah lama ditulisnya (maafkan kalau ada typo)). Boleh reviewnya~