"Kau mau foto bodohmu ini dihapus, bukankah begitu?"

Bagaikan hipnotis Baekhyun mengangguk pelan tanpa adanya sebuah protes dan pukulan dari Baekhyun. Baekhyun tidak tahu apa yang membuatnya terdiam seperti ini tanpa adanya penolakan dari tubuhnya. Chanyeol tersenyum miring menatap Baekhyun yang terdiam.

"Hancurkan hubungan mereka berdua denganku. Karena aku menyukai Xi Luhan…"


Partner

girlBaekhyun x Chanyeol

EXO fanfiction

Chapter 2


Baekhyun membelakkan mata hazelnya lebar-lebar. Apakah pemuda didepannya ini sungguhan berkata seperti itu? Atau ia hanya mengerjai Baekhyun? Pasalnya Chanyeol ini tampan—bagi Baekhyun tidak—banyak perempuan yang mengejarnya, jadi Chanyeol hanya tinggal menunjuk seorang perempuan yang ia suka dan akhirnya berpasangan. Cih, ia tahu otak-otak seperti Chanyeol ini hanya ingin mengerjai Baekhyun dengan berkata seperti itu. Dan lagi pula menghancurkan hubungan orang itu tidak baik. Walaupun ia menyukai Sehun ia tidak akan berbuat seperti itu. Ia akan bersaing dengan Luhan secara sehat tidak seperti Chanyeol yang seenaknya saja menyebutnya 'menghancurkan'

Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol—yang agak besar dari tubuh Baekhyun—menjauh darinya. Ia menatap Chanyeol tajam dan mengacungkan jari telunjuknya menunjuk wajah Chanyeol dengan raut wajah yang sengit.

"Kau—" Baekhyun mengatur nafasnya. "—aku tidak tahu apa sebenarnya rencanamu. Tapi maaf PANGERAN—" Baekhyun kembali berhenti sejenak untuk menatur nafasnya yang terengah-engah dan dengan sengaja menekankan kata 'pangeran'. "—aku tidak akan mengikuti rencanamu." Lanjutnya.

"Cih munafik. Kau ingin merebut Sehun tanpa campur tanganku? Gadis sepertimu tidak mungkin—"

"Ah, siapa tau seseorang seperti Sehun tidak memandang fisik bukan? Tidak seperti kau. Aku tahu kau itu hanya menginginkan Luhan karena dadanya yang besar, iya kan?!" Baekhyun memotong perkataan Chanyeol dengan cepat. Entah Baekhyun sadar atau tidak kali ini mata Chanyeol berkilat marah. Baekhyun menurunkan tangannya dari wajah Chanyeol.

"Dengar ya Tuan Chanyeol. Aku tidak akan mengikuti perintah menjijikkanmu karena aku akan bersaing dengan Luhan secara sehat, permisi." Baekhyun segera menggerakkan kakinya menjauh dari Chanyeol yang tengah mematung. Baru beberapa centimeter Baekhyun kembali diam, "Ah ya, sebenarnya aku ingin muntah jika memanggilmu pangeran. Sifat dan wajahmu tidak akan pernah bisa disebut pangeran." Ucapnya sebelum kembali melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Chanyeol berdiri. Ia sudah kehilangan mood untuk mengintip Sehun dan Luhan. Ia juga tidak peduli dengan apa yang dibicarakan Sehun dan Luhan. Dia hanya ingin menjauh dari Chanyeol.

Setelah dilihatnya sudah menjauh dari Chanyeol, Baekhyun berjongkok dan menjambak rambutnya yang diikat kuda. "Argh! Kau bodoh Baekhyun! Bagaimana kalau raksasa itu benar benar memasukkan fotoku ke mading? Kau benar benar memancing kemarahannya," Baekhyun hanya bisa menghela nafasnya, ia sudah pasrah ketika Chanyeol memang benar benar memasukkan fotonya ke mading dan pasrah ketika seluruh sekolah tau—termasuk Sehun.

Sementara itu, Chanyeol masih saja menatap pohon di depannya. Setelah Baekhyun pergi, Chanyeol sama sekali tak bergerak sekalipun. Walaupun Sehun dan Luhan sudah beranjak dari sana, ia tetap tak berkutik. Chanyeol mengepalkan tangannya kuat dan matanya berkilat marah.

"Ah, jadi ini yang namanya ditolak dan dipermalukan? Kau sukses membuatku marah, Byun Baekhyun. Akan kubuat kau bertekuk lutut didepanku dengan memohon."


Baekhyun lebih memilih ke perpustakaan untuk membaca buku. Ia sangat malas jika harus kembali ke kelas, jika ke kelas pasti ia hanya akan mendengar teriakan teriakan fans Chanyeol yang nyaring membuat Baekhyun ingin menyumpal satu satu mulut mereka menggunakan lap bau. Baekhyun hanya menghela nafas, ya—perpustakaan merupakan pilihan terbaik untuknya. Dan ia yakin, Yixing pasti sedang mencari Baekhyun. Biarlah, lagipula nanti Yixing pasti akan menemukan Baekhyun.

Baekhyun bergerak menuju rak-rak buku perpustakaan untuk melihat buku yang ingin ia baca. Ia meneliti satu persatu buku yang ada didalam rak tersebut. Tiba-tiba ada satu buku yang menarik perhatiannya dan letaknya—oh tidak! Itu diatas. Baekhyun mendengus, ia sudah lelah mempunyai tubuh sependek ini. Sebenarnya Baekhyun tidak terlalu pendek, tapi ia selalu mengira ia pendek karena ia selalu dikelilingi oleh orang orang tinggi—termasuk Yixing—

Ia melipat kedua lengan kemejanya menggulung keatas sampai ketiaknya agar tidak menganggu Baekhyun saat mengambil buku tersebut. Baekhyun sudah menggapai buku tersebut sampai berjinjit tapi tetap saja tidak sampai. Ia ingin sekali meminta bantuan orang lain, tapi ditempat Baekhyun terlalu sedikit orang kebanyakan berada di tempat duduk perpustakaan sedang membaca buku. Baekhyun hanya pasrah dan berusaha dengan giat.

Sebuah lengan memegang pinggang Baekhyun, "Butuh bantuan?" Bisiknya ditelinga Baekhyun membuat Baekhyun tersentak dan memutar tubuhnya kebelakang.

Betapa terkejutnya bahwa seseorang dihadapannya ini adalah Sehun dan posisinya sama seperti ia dan Chanyeol tadi di belakang pohon.

"E-eh? Ah, Sehun, bisakah tolong ambilkan buku itu?" Tunjuk Baekhyun pada buku yang ingin ia ambil tadi. Sehun mengangguk dan segera mengambil buku tersebut dengan enteng. Baekhyun hanya bisa merutuki nasibnya yang pendek dan memalukan didepan Sehun. Jika Baekhyun harus berjinjit maka Sehun bisa mengambil buku diatas buku Baekhyun.

Sehun memberikan buku tersebut pada Baekhyun. Baekhyun yang menunduk akhirnya mendongak menatap mata Sehun.

"Te-terimakasih, Sehun. Maafkan aku, tubuhku terlalu pendek." Baekhyun memajukan bibirnya imut membuat Sehun gemas.

"Tidak, aku menyukai gadis pendek karena enak dipeluk seperti ini…."

Sehun memeluk tubuh mungil Baekhyun membuat Baekhyun membelakkan matanya lebar-lebar. Eh? Ke-kenapa? Baekhyun sangat gugup hingga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Yah memang bukan hanya ini saja Sehun memeluknya dan bukan hanya ini saja Baekhyun dan Sehun berbicara, mereka sudah menjadi teman sejak satu tahun lalu tepatnya pada saat penerimaan siswa-siswi baru.

Baekhyun mendorong tubuh Sehun menjauh dan Sehun cukup kaget melihat Baekhyun mendorong tubuhnya. Sehun juga kaget kenapa ia bisa memeluk tubuh Baekhyun, ada yang salah disini.

"Maaf Baek. Aku hanya ingin menghiburmu."

"Ah, tidak apa-apa. Aku tidak perlu dihibur, bukankah aku memang pendek?" Baekhyun mendelikkan matanya membuat Sehun mencubit pipi Baekhyun. Baekhyun memukul lengan Sehun dan menatap tajam sementara itu Sehun hanya menaikkan bahu tak mengerti.

"Bukan seperti itu, tadi aku melihatmu ditaman belakang. Kau berjongkok dan menjambak rambutmu sendiri seperti orang gila—" Baekhyun menendang tulang kering Sehun membuat Sehun kesakitan dengan memegang tulang keringnya ditendang oleh Baekhyun, "—jadi aku mengikutimu hingga sampai perpustakaan untuk menghiburmu," Lanjutnya.

Baekhyun terdiam, Sehun melakukan ini semua untuknya? Kenapa pipi Baekhyun terasa panas, jantungnya berdetak sangat cepat. Wajah Baekhyun memerah ia tidak bisa untuk menahan senyumnya. Tapi ia tetap dengan ekspresi marahnya, karena ia tidak mau Sehun tahu bahwa saat ini Baekhyun sedang malu sekaligus senang Sehun menghibur Baekhyun.

Sebenarnya ketika Sehun sedang membicarakan masalah penting pada Luhan, Sehun melihat Baekhyun berjalan pergi. Sehun hanya tertawa ketika ia melihat bibir Baekhyun bergerak sendiri mengumpat kata-kata. Ketika Baekhyun menunduk dan menjambak rambutnya, Sehun tertawa keras membuat Luhan bingung. Dan akhirnya—yeah, Sehun memilih mengakhiri pembicaraannya dan mengikuti Baekhyun.

"Ah, terima kasih Sehun. Kalau begitu aku duluan ya," Baekhyun melambaikan tangannya dan berlari cepat menjauhi Sehun. Dirinya terlalu gugup untuk bertemu dengan Sehun. Biasanya ia tidak pernah segugup ini, well—mungkin karena Sehun memeluknya dan menghiburnya. Biasanya jika bertemu Sehun tidak pernah melakukan kontak fisik seperti ini. Paling hanya tersenyum dan berbicara.

Senyum Sehun perlahan memudar ketika dilihatnya Baekhyun sudah jauh darinya. Ia kembali memasang ekspresi datar yang tidak akan diketahui semua orang.


"Baek, ayo beli eskrim, hari ini aku menginginkan eskrim." Baekhyun tersenyum melihat Yixing yang sudah kembali seperti biasanya. Tadi ia sempat mendiami Baekhyun karena Baekhyun pergi meninggalkannya. Yixing memang seperti itu. Ia takut sahabat baiknya terjadi sesuatu. Yang jelas ia ingin melindungi Baekhyun karena Baekhyun satu-satunya orang yang mengerti keadaannya.

"Ayo, hari ini aku mentraktirmu karena tadi aku sudah meninggalkanmu." Yixing memeluk Baekhyun dengan erat. Baekhyun membalas memeluk Yixing. Kemudian mereka berjalan dengan Baekhyun memeluk lengan Yixing.

"S—sunbae, bi—bisa kita bicara sebentar?" Baekhyun menoleh ketika melihat gadis yang agak tinggi darinya tengah menunduk dan memilin roknya pelan. Baekhyun menaikkan alisnya tak mengerti. Gadis ini akhirnya menaikkan kepalanya pelan, ah Wendy rupanya. Anak journalist yang berada satu tingkat dibawah Baekhyun.

"Baiklah. Jadi apa yang ingin kau katakan?" Baekhyun menatap Wendy dengan pandangan tak mengerti. Yixing menyikut lengan Baekhyun membuat Baekhyun menatap Yixing. 'Ada apa dengannya?' begitulah bibir Yixing membentukkan sebuah kalimat. Baekhyun hanya menaikkan bahunya tak mengerti.

"Hey, angkat kepalamu. Kami bukan orang yang gila hormat, Wendy." Wendy akhirnya mengangkat kepalanya ragu-ragu sambil menatap Baekhyun dan Yixing bergantian dengan perasaan takut-takut.

"Sunbae, ta—tadi Chanyeol sunbae bilang bahwa aku harus mengatakan ini padamu," Wendy berhenti menatap mata hazel Baekhyun yang tak beraturan. Jantungnya berdegup kencang. Apa Chanyeol serius dengan perkataannya tadi? Baekhyun hanya diam mencoba memberi kode agar Wendy tetap melanjutkan pembicaraannya walaupun jantungnya berdegup tak beraturan.

"Ia berkata bahwa sunbae harus menemuinya di parkiran. Jika tidak, a—aku—" Wendy menghela nafas, "—akan dikeluarkan dari sekolah ini."

Baekhyun segera berlari tidak peduli lagi dengan pembicaraannya dengan Wendy dan teriakkan Yixing memanggil nama Baekhyun. Baekhyun hanya tidak ingin masalahnya dengan Chanyeol sampai melibatkan orang lain. Chanyeol memang benar keterlaluan. Apakah ini hanya karena sebuah foto dan menghancurkan hubungan orang lain? Seharusnya Chanyeol bisa mendapatkan Luhan hanya dengan tersenyum. Dengan begitu Luhan jatuh kepelukan Chanyeol dan ia terjatuh kepelukan Sehun—hey sudahlah.

Baekhyun sampai diparkiran dengan terengah-engah. Ia mencari Chanyeol dengan panik. Seketika itu ia melihat Chanyeol tengah berdiri disamping mobilnya dengan memainkan ponselnya. Sesekali ia melihat jam tangannya kemudian ia memainkan ponsel lagi. Ah rupanya Chanyeol sudah menunggu Baekhyun datang.

Baekhyun mengepalkan tangannya. Raksasa sombong ini perlu diberikan pelajaran. Baekhyun berjalan menemui Chanyeol dan dengan cepat menendang tulang kering Chanyeol membuat Chanyeol mengaduh kesakitan dengan memegang tulang keringnya.

"YA! Apa mau-mu cebol?"

"Seharusnya aku bertanya padamu raksasa! Kau apakan Wendy, hah?! Wendy itu orang baik, kau tidak seharusnya bersikap seperti itu tadi."

Chanyeol kembali memasang wajah datarnya dan berdiri tegak. Ia tertawa menyeringai membuat naluri Baekhyun menciut melihat wajah Chanyeol yang begitu menyeramkan.

"Aku memberikanmu sebuah penawaran. Penawaran pertama, Wendy dikeluarkan dari sekolah. Penawaran kedua, fotomu akan aku sebar di mading. Penawaran ketiga kau menjadi partnerku untuk menghancurkan hubungan si brengsek itu dengan Luhan. Bagaimana?"

Baekhyun kembali berpikir, jika ia memilih penawaran pertama otomatis penawaran kedua dan ketiga tidak akan membuat Chanyeol menganggu kehidupan Baekhyun lagi. Tapi penawaran pertama itu melibatkan Wendy yang tidak tahu apa apa. Apalagi Wendy adalah anak yang baik. Wendy sering mewawancarai Baekhyun ketika ada kegiatan—karena Baekhyun ketua kelas—Baekhyun melihat gaya bicara dan tingkah laku Wendy dan Baekhyun menyimpulkan bahwa Wendy adalah orang yang baik.

Penawaran kedua, bisa saja Baekhyun pilih. Tapi Baekhyun sangat takut jika ia memilih penawaran kedua otomatis seluruh sekolah akan tahu bahwa Baekhyun menjadi stalker Sehun diam diam. Jika Sehun melihat berita itu, Sehun akan membenci Baekhyun karena mungkin Sehun akan berpikir betapa menjijikkannya Baekhyun yang selalu mengikuti Sehun ketika bersama Luhan.

Dan penawaran ketiga, Baekhyun terlihat ragu-ragu.

"Cih, lama. Diam berarti memilih semua penawaran." Chanyeol segera masuk kedalam mobilnya. Baekhyun yang melihat pergerakan Chanyeol segera berlari mengikuti Chanyeol. Dan untung saja Baekhyun bisa mencegah Chanyeol ketika Chanyeol hendak menutup pintu mobilnya.

"Aku butuh waktu brengsek! Kau kira orang bisa cepat berpikir seperti itu?"

"Kau lemah, lama, dan tak berguna, jika kau butuh waktu lebih baik aku mencari penggantimu." Baekhyun membelakkan mata hazelnya lebar-lebar dan membanting pintu mobil Chanyeol dengan keras.

"CARILAH PENGGANTI LAIN KARENA AKU TIDAK SUDI BEKERJA SAMA DENGANMU," Dilihatnya Chanyeol tidak berkata apa-apa lagi, Baekhyun segera meninggalkan tempat Chanyeol.

"Baiklah, sesuai keinginanmu. Aku akan mencari pengganti lain dan menjalankan semua penawaranmu." Chanyeol menghidupkan mesin mobilnya. Baekhyun membeku, apa yang harus ia pilih? Gara-gara Baekhyun, Wendy nanti akan menderita.

Baekhyun berlari dan merentangkan tangannya didepan mobil Chanyeol, menghalangi mobil Chanyeol yang ingin pergi dari Baekhyun. Chanyeol membanting stirnya dengan kesal. Sebenarnya mau si cebol ini apa?

"Apa yang kau lakukan, menyingkir!"

Baekhyun menggelengkan kepalanya keras sambil tetap merentangkan tangannya. Chanyeol yang kesal segera membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju Baekhyun. Ia sudah bersiap-siap mendorong Baekhyun agar menjauh dari mobilnya.

"Kau ingin mendengar jawabanku, iya kan?" Baekhyun menatap Chanyeol yang tengah bersiap siap memegang bahu Baekhyun untuk menyingkirkan jalannya. Baekhyun membuat tangannya terkepal didepan dadanya, posisi ini seperti petinju yang siap meninju Chanyeol apapun keadaannya.

"A—aku," Lidah Baekhyun kelu. Ia terlalu menjunjung tinggi harga dirinya. Chanyeol tetap menanti Baekhyun dengan menaikkan salah satu alisnya, ia berdecak sembari melirik jam tangannya.

Baekhyun menelan ludahnya kembali, "A—aku i—ingin menerimapenawaranmuyangketiga." Baekhyun mengucapkannya tanpa adanya jeda. Ia juga tak sudi mengucapkan kalimat itu dengan pelan. Ia menatap Chanyeol yang hanya berwajah datar. Tanpa Baekhyun tahu sebenarnya dibalik wajah datar Chanyeol, Chanyeol mengeluarkan sebuah seringainya.

"Hn,"

"Apa?! Hanya sebuah deheman yang kau keluarkan?! Breng—"

"Aku tidak dengar."

"Hah?!"

"Berlutut didepanku."

"Apa kau bilang?! Kau gila!"

"Berlutut didepanku dalam waktu 3 detik dan memohon."

Baekhyun mendengus kesal. Baekhyun melihat ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan. Dilihatnya suasana sekolah sudah sepi. Disisi lain Baekhyun lega karena tidak akan ada yang melihatnya berlutut didepan Chanyeol. Disisi lain ia menjunjung tinggi nilai harga diri, tapi jika ia berlutut didepan Chanyeol. Chanyeol akan menertawainya habis-habisan, dan juga jika ia tidak berlutut didepan Chanyeol, foto dan Wendy adalah taruhannya. Baekhyun bingung, apa yang harus ia lakukan?

Bruk.

Baekhyun bersimpuh didepan Chanyeol dan menundukkan kepalanya. Ia tak berani mengangkat kepalanya, ia sudah tahu pasti Chanyeol akan tertawa. "Aku ingin menjadi partnermu." Lanjut Baekhyun. Chanyeol melipat tangannya didepan dada bidangnya.

"Kurang keras, aku tidak mendengarmu." Baekhyun mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia meninju si brengsek ini sekarang juga, ia sudah kesal dengan sikap Chanyeol yang selalu merendahkan orang orang disekitarnya dan sok menjadi penguasa dimana-mana. Baekhyun harus meredam kemarahannya, bisa bisa gara-gara masalahnya, Wendy menjadi korban.

"A—aku—"

"Ikuti aku cebol dan katakan secara keras." Chanyeol membuat Baekhyun gila, suka sekali memotong pembicaraan orang lain. Arghh! Setelah ini, Baekhyun bersumpah akan membuat Chanyeol menderita bagaimanapun caranya.

"Aku, Byun Baekhyun—"

"Aku, Byun Baekhyun—"

"—akan menjadi partner—"

"—akan menjadi partner—"

"—Park Chanyeol—"

"—Park Chanyeol—"

"—dalam menghancurkan—"

"—dalam menghancurkan—"

"—hubungan si brengsek—"

"—hubungan si—breng—hey apa?! Kau mengatakan Sehun si brengsek?! Kau lebih breng—"

"Lanjutkan dan jangan membantah!"

Ck, Baekhyun berdecak sebal.

"—hubungan si brengsek—"

"—dengan Luhan."

"—dengan Luhan."

"Bagus," Chanyeol bertepuk tangan dengan gaya angkuhnya. Ia tertawa pelan melihat Baekhyun yang masih dibawahnya dengan menatap gaya tepuk tangan Chanyeol. Baekhyun pun masih setia berlutut didepan Chanyeol. "Sekarang ikuti aku kita akan membuat sebuah rencana." Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk membantunya berdiri dan melepaskannya kemudian berjalan menuju mobilnya masih dengan gaya angkuhnya. Hey, Chanyeol masih punya hati untuk membantu Baekhyun berdiri.

Dan jantung Baekhyun berdegup kencang kali karena ulah Chanyeol memegang tangannya.

Tin!

Bunyi bel mobil Chanyeol membangunkan lamunan Baekhyun. Kemudian Baekhyun menoleh dan mengacungkan jari tengahnya pada Chanyeol. Chanyeol mengisyaratkan Baekhyun untuk masuk kesebelah mobilnya. Dan akhirnya Baekhyun masuk kedalam mobil Chanyeol, terciptalah suasana yang hening sepanjang perjalanan.

Baekhyun berdecak kagum ketika mobil Chanyeol masuk ke dalam rumah yang pintu gerbang berwarna emas itu otomatis terbuka. Baekhyun melihat kedepan, dilihatnya suasana taman yang sangat indah dihiasi air mancur besar, membuat Baekhyun yakin, Chanyeol adalah pemuda kaya. Kemudian dilihatnya dibelakang taman itu ada rumah Chanyeol yang sangat besar dihiasi cat putih membuat Baekhyun terkagum kembali.

Mata Baekhyun menuju seseorang yang sedang berbicara dengan gaya angkuh di taman dengan—yang Baekhyun yakini adalah pembantu rumah Chanyeol. Baekhyun kembali menajamkan penglihatannya. Rambut kecoklatan, dada besar, kulit putih, dan itu seperti seseorang yang Baekhyun kenal. Tapi Baekhyun tidak tahu itu siapa. Apakah itu adik Chanyeol?

"Shit." Chanyeol membanting stirnya kemudian memutar mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Baekhyun memegang kursi yang ia duduki dengan meneriaki nama Chanyeol dengan kencang. Chanyeol seperti pembalap yang akan menyalip lawannya. Dengan segera pintu itu terbuka dan menutup kembali membuat Chanyeol bernafas lega dan kembali menjauhi mobilnya dari rumahnya. Chanyeol tidak cukup gila karena membawa orang asing masuk rumahnya yang dihuni oleh banyak orang. Ia hanya ingin mengambil sesuatu yang tertinggal dan membawanya menuju apartement.

"YA! Raksasa sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau mau membuatku mati muda? Lagipula kita mau kemana? Jangan-jangan kau mau memper—"

"Berisik dasar cebol,"

"KAU BELUM MEJAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Baekhyun membuat Chanyeol mengusap telinganya dan menatap Baekhyun tak kalah sengit dari Baekhyun.

"Kita pergi ke apartemenku, bodoh."

Baekhyun diam. Ia tak kembali berbicara. Jantungnya belum kembali normal karena Chanyeol membalikkan mobilnya dan menancap gasnya kecepatan penuh. Dan juga gadis yang berbicara dengan gaya angkuh itu, Baekhyun merasa ia mengenalnya.

Dan gadis itu mirip seperti, Luhan.

.

.

.


To be continue.


author tau tbcnya gaje haha. Author janji kan mau update fast? Ini sudah update fast semoga suka ;)

big thanks to;

[ .3158] [ByunViBaek] [ ] [CB] [ChanLoveBaek] [ParkByun] [parklili] [kim kai ussy] [Byun Hun.K] [emaknye yeollie] [ ] [Hanbyeol267] [ViviPExotic46] [Baekyeonyeol] [welcumbaek] [Sniaanggrn] [AnggyeEXOnBTS]

maaf kalo ada yang namanya belum kesebut dan belum bisa balas review. mungkin akan dibalas pas chapter depan ya ;)

tolong berikan review?

kamsahamnida!