EXO belong with SMEnt

This plot is mine

.

.

Warning! Dirty Talking! PWP!

CEO!Sehun x Student!Jongin

.

SEQUEL MORNING SUBWAY

.

Don't Like Don't Read!

.

.

"Sajang-nim, Tuan Lee dari SM Corp. meminta delay pertemuan besok menjadi hari Minggu. Beliau masih di Beijing hingga hari Sabtu."

"Aku menolak agenda di hari Minggu apa pun itu"

"Bagaimana dengan Sabtu?"

"Suruh dia datang hari Senin."

"Baik, sajang-nim. Saya permisi,"

"Ya,"

Helaan napas keluar dari celah bibir si pemilik ruangan tepat setelah pintu ruangan ditutup. Pena yang tadinya menyusup dalam genggaman tangannya kini tergeletak di atas meja. Di hadapannya nampak dua tumpukan kertas yang sepertinya jika digabung akan berjumlah satu rim.

Angka dua yang bersanding dengan angka empat dan nol memenuhi layar jam digital mungil yang berdiri apik di meja kerjanya.

Sehun menekan salah satu angka pada telepon. Terdengar nada sambung dua kali sebelum suara seorang wanita menjawab panggilannya dengan gaya bicara formal.

"Bawakan aku kopi,"

Hanya perintah singkat, padat dan jelas sebelum pemimpin Oh Corp. itu memutus panggilannya. Jemari panjangnya menyisir helaian hitam yang melingkupi kepalanya, menyempurnakan paras tampan pemuda itu.

Umurnya baru kepala tiga namun pekerjaannya membuat ia terlihat lebih tua.

Memutuskan untuk menandatangani berkas yang tinggal setengahnya sambil menunggu asistennya datang membawakan kopi, gerakan Sehun terhenti kala vibrasi ponselnya memecah keheningan ruangan.

82-88-xxx-xxx is calling..

'Siapa ini?'

Walau merasa asing dengan nomer si penelepon, Sehun tetap mengangkat panggilan itu.

"Ya, hallo?"

Tidak ada respon dari pelaku di seberangnya.

Sehun memutus sambungan telepon secara sepihak. 'Orang iseng.'

Ia meletakan kembali ponselnya ke atas meja dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tidak mau ambil pusing.

Baru lima lembar selesai ia tandatangani, ponselnya sudah bergetar lagi. Lagi-lagi panggilan dari orang yang sama.

Kali ini Sehun mengangkatnya namun tidak mengatakan apa-apa. Menunggu si penelepon mengeluarkan suaranya lebih dulu.

Sehun menunggu.

Satu menit berlalu namun nihil. Tidak ada suara dari sebrang sana.

Alih-alih memperkenalkan diri, ia justru samar-samar mendengar suara gemuruh seolah ada angin besar lewat. Disertai dengan suara peluit.

Ia kembali memutus sambungan itu.

Dari mana orang iseng itu mendapatkan nomernya? Apa dia tidak tau siapa yang ia isengi?

Awalnya Sehun berpikir itu hanya telepon salah sambung akibat salah memencet nomer.

Namun dua kali?

Ia yakin orang tersebut memang sengaja mengerjainya. Buang-buang waktu saja.

Pria berkulit pucat masih memandangi nomer tidak dikenal itu saat alat komunikasi pribadi di tangannya bergetar lagi.

Berusaha tetap tenang dan tidak langsung memaki orang di sebrang sana. Sehun menghela napas sebelum kembali menggeser logo berwarna hijau di layar ponselnya.

"Dengar baik-baik, jika kau tidak punya pekerjaan sebaiknya—"

"A-ahjusshi…"

Suara Sehun terhenti. Ia merasa familiar dengan suara ini.

Benaknya bergerak cepat mengingat figur si memilik suara di sebrang panggilannya.

"Ahh-jusshi… aku.."

'Suara ini…?'

Suara anak sekolah menengah di kereta tadi pagi!

Ia baru ingat ia memang sengaja meninggalkan kartu namanya di blazer sekolah pemuda itu.

Dan apa-apaan ini!

Apa pemuda itu barusan mendesah di teleponnya?

Kejantanan Sehun berkedut menyesakkan di bawah sana. Seolah ikut senang mendengar suara si pemilik 'rumah' hangatnya tadi pagi.

Adrenalin Sehun terasa berpacu. Dalam hati ia bersyukur mobilnya bermasalah sehingga ia terpaksa harus berangkat naik subway tadi pagi.

Sehun nyaris terlonjak dari kursinya ketika pintu ruangannya diketuk secara tiba-tiba.

Ia meletakkan ponselnya di meja tanpa memutus panggilan tersebut, berusaha bertingkah biasa saja.

"Permisi, sajang-nim. Ini kopi pesanan Anda. Maaf terlambat.."

"Terima kasih. Segera keluar karena aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku."

Si asisten mengangguk patuh dan segera meninggalkan ruangan usai meletakkan secangkir liquid berwarna kehitaman dengan uap mengepul di meja kerja Sehun.

Sehun menunggu langkah kaki orang itu menghilang dari pendengarannya sebelum kembali menyambar ponsel mahalnya.

".. Ahjusshi..?"

Suara di sebrang sana kembali memanggilnya dengan intonasi bergetar.

Shit. Sehun jadi memikirkan yang iya-iya.

"Ya," respon Sehun tanpa melunturkan aura tegasnya.

"Ini aku.. tadi pagi... nghh a-anu…"

Lawan bicaranya terdengar kesulitan merangkai kata-katanya membuat Sehun tidak bisa menahan seringaiannya.

Suara gemuruh disertai tiupan peluit panjang kembali ditangkap indra pendengarannya. Sehun baru menyadari fakta bahwa pemuda itu meneleponnya di stasiun saat ini.

"Ada apa? Kau mau mengajakku bertemu lagi?" Sehun berlagak acuh.

Gumaman tidak jelas terdengar di telinganya sebelum pemuda itu menjawab pertanyaannya.

"Aku berniat pulang, aku menunggu subway di stasiun namun tiba-tiba aku teringat yang tadi pagi.. d-dan— uhhn, aku ereksi…" intonasi bicara si pemuda semakin mencicit di akhir membuat Sehun membayangkan paras manis itu tengah memerah sekarang.

Wow, ini menarik..

"Hm, lalu? Kau ingin aku melakukan apa?"

"B-bantu aku…"

Deru napas si pemuda terdengar tidak beraturan. Sementara Sehun memencet salah satu tombol di telepon kantornya.

"Jangan biarkan siapa pun memasuki ruanganku untuk dua jam ke depan. Aku tidak ingin diganggu."

Sehun menyenderkan punggung tegapnya ke sandaran kursi. Ia membuka kaitan celananya dan mengelus kejantanan besarnya yang sudah setengah ereksi hanya karena mendengar suara pemuda di ponselnya.

"Apa kau baru saja mengatakan bahwa kau ereksi hanya karena datang kembali ke stasiun itu dan mengingat apa yang ku lakukan padamu tadi pagi? Kotor sekali otakmu,"

Suara erangan terdengar dari ujung sana.

"Apa yang kau inginkan? Kau mau aku ke sana dan mengurut penis kecilmu lagi?"

"Nnhh… t-tidak..."

"Aku mau saja membantumu menidurkan si kecil itu, namun dengan satu syarat. Cukup dengarkan suaraku. Jangan sentuh penismu sedikit pun atau aku akan mematikan teleponnya."

Seringai lebar terpatri di wajah sang pemimpin Oh Corp. Sebelah tangannya yang tidak menggenggam ponsel bergerak mengeluarkan penis besarnya dari celana dalam ketat yang membungkus organ tebal itu.

Membayangkan pemuda tadi pagi orgasme hanya dengan suaranya membuat dirinya kelewat bersemangat.

"Ughh.. baiklahh.."

"Di mana kau sekarang?"

"Toilet.. gerbang barat,"

"Nakal sekali. Kau tidak takut ada orang asing membuka pintu toilet tiba-tiba, melihatmu sedang melebarkan kedua kakimu dengan penis kecil yang berdiri tegak haus sentuhan?"

A-aku… hhh…"

"Beruntung jika orang itu aku. Penismu masih ada yang memanjakan. Kau ingat bagaimana aku menyentuhmu tadi pagi? Nikmat bukan?"

"Aahnn… iya a-ahjusshi…"

"Tentu saja nikmat. Buktinya kau malah memepetkan tubuhmu padaku saat tanganku mengurut kelaminmu,"

"Mnghh.. h-ahhh…"

"Jemariku membungkus penis kecilmu, mengurutnya dari atas... hingga ke bawah.."

"Ahjusshi aku tidak tahan..!"

Sehun tertawa iblis dalam hati mendengar rengekkan tersebut. Pemuda manis itu terdengar sangat frustasi, putus asa. Sehun yakin pemuda itu benar-benar menuruti ucapannya untuk tidak menyentuh kelaminnya sendiri.

Padahal dia bisa saja mengabaikan ucapan Sehun. Toh Sehun tidak bisa melihat pemuda itu.

"Ingat perjanjian kita, bocah. Jangan sentuh penismu."

"T-tapi... nghh aku… tidak tahanhh.."

"Jangan. Sentuh. Penismu. Kau mau menuntaskan hasratmu sendiri?" intonasi suara Sehun berubah dingin.

"U-uhhh.. penisku g-gatal.."

"Penismu berkedut?"

"Ahjusshih.. i-ini tidak cukup..."

"Sstt! Jangan keras-keras. Kau mau ada yang masuk lalu membobol lubang sempitmu?" Sehun menggeram. Tangannya bergerak cepat memanjakan penisnya sendiri. Sialan.

"Ahnn.. aahhh…"

"Ingat-ingat apa yang kita lakukan tadi pagi. Bayangkan kembali penis besarku menerobos lubangmu,"

"N-ahhh.. ahjusshih… t-teruss.."

"Bayangkan kepala penisku menusuk-nusuk prostatmu namun kau tidak bisa mendesah keras karena banyak orang di sekitar kita."

"A-akuh mau—"

"Lubangmu terus memerah penisku sementara penismu berkedut dalam genggamanku. Desahanmu semakin menggoda ketika batang penismu tanpa sengaja tergesek tubuh penumpang lain hingga—"

"Ahjusshi… a-aanghh!"

Terdengar desahan panjang dari seberang sana. Disusul dengan deru napas tidak karuan yang Sehun indikasikan sebagai pertanda orgasme.

"Hei, bocah,"

"Jangan memutus sambungan teleponnya. Aku belum orgasme,"

Hening.

Terdengar gumaman samar 'apa yang baru kulakukan' dari sebrang sana.

"M-maafkan aku.. aku tidak bermaksud!"

Tuut..

Tuut..

Tuutt..

"Sialan!" Sehun menggebrak meja kerjanya emosi.

Pemuda itu memutus panggilannya tanpa berterimakasih sama sekali.

Jemari Sehun dengan cepat mengetik pesan.

[ To: 82-88-xxx-xxx

Tunggu aku di sana. Jangan naik subway dulu.]

Sent.

Sehun membenarkan pakaiannya dengan tergesa. Persetan dengan berkas kerjanya.

Ia menyambar tas kerjanya dan melangkah cepat keluar ruangan.

Sehun tidak yakin pemuda itu akan mematuhi perintahnya kali ini. Naasnya ia lupa menanyakan nama bocah manis itu.

Haruskah ia ke kantor naik kendaraan umum setiap hari demi bertemu pemuda itu lagi?

.

.

SEQUEL END

.

.

A/N:

Lol gak biasanya bikin sequel. Ampun om jangan culik nini.. wkwkwk

Ada yg tau darimana Sehun bisa tau Jongin harus turun di stasiun mana kemarin? Thank you for all reviews!