Ore no turn!!!

Disclaimer: "Yu-Gi-Oh!" adalah properti milik Takahashi Kazuki. Saya tidak memiliki apa pun yang berhubungan dengan judul tersebut, beberapa karakter yang berasal dari sana cuma sekedar pinjaman untuk tujuan kreativitas semata tanpa bermaksud mengambil keuntungan dari kesuksesan serial aslinya.

Warnings: Semi AU, OOC, pastinya shonen ai!!! XD oh, dan timeline yang bolak-balik. Jadi..hati2 bacanya...

Genres: Romance,drama,fluff..3

Pairing: Kaiba x Atemu. Prideshipping.

Rating: 15an lah..ehehe..:)

Summary: Sebulan sejak kejadian 'penculikan' tersebut. Kira-kira, apa yang akan terjadi dengan sang CEO dan chococlate chef ini?

Author: hikari rio

-LIGHT AND CREAMY-

Mutou Atemu side : Vanilla Essence

Udara dingin masih menyelimuti kota Domino, dengan tumpukan salju yang menggunung dan butiran es tipis-tipis bertaburan bagai confetti. Putih…bersih… berkilauan tertimpa sinar matahari pagi, membuatnya terlihat seperti gundukan-gundukan gula bubuk yang membeku.

Ah…pagi yang indah. Hiruplah udara jernih tak ternoda dengan segala ucap syukur , pandang dan berikan salam hangat bagi siapapun yang kau temui untuk mengawali pagi dengan sempurna. Nikmati hidupmu dan hargailah waktu.

Pemikiran yang sederhana untuk membahagiakan diri sendiri. Itulah yang dilakukan oleh petite chef pemilik toko coklat 'Sweet'. Seorang yang senantiasa tersenyum menyambut pagi harinya dan senantiasa berusaha untuk membuat orang lain tersenyum dengan hasil karnyanya. Mencintai pekerjaannya sekaligus melakukan segala yang terbaik.

Hari ini, sang Raja Permainan, Mutou Atemu, sembari memakai celemek coklat gelap yang melingkar dipinggangnya, bersenandung pelan mencetak lelehan-lelehan coklat yang sudah diramu dengan resep rahasia miliknya. Mata delimanya berbinar lembut menandakan ia sedang bahagia.

Oh? Ada apakah gerangan? Tumben sekali melihatnya bisa begitu tersenyum rileks.

Mari kita perhatikan ia lebih lanjut. Selesai mencetak lelehan coklat tadi, ia memasukkannya ke freezer, membereskan meja dapur, dan menuju counter depan. Ia melirik jam dinding yang saat ini menunjukkan 10.00 pagi hari. Tersenyum pada dirinya sendiri sebelum ia merogoh saku celananya. Mengambil sebuah ponsel hitam dengan line curve merah serta stiker perak berbentuk naga di belakangnya, lampu biru kecil di sisi ponsel itu berkedip-kedip. Menandakan ada sesuatu yang harus dibacanya.

1 new massage has recived.

Ia menekan tombol tengah. Open.

Jangan lupa. 12.00 siang, Kujemput ditempatmu.

Lengkungan senyum, sebelum dahinya mengerenyit.

NB: Bawa baju cadangan. Kau akan membutuhkannya nanti.

//Dia tidak berkata begitu sebelumnya….// Ujaranya dalam hati, sebelum menggeleng pelan dan tersenyum lagi.

Hari ini…rivalnya, pendeta di masa lalunya CEO perusahaan game terbesar, hottest bachelor di Domino, dan juga sahabat barunya, Seto Kaiba, mengajaknya pergi ke suatu tempat.

//Akhirnya ia mau jadi sahabatku…Ah..lega sekali rasanya.// Pikirnya riang.

Satu hal yang ex-Pharaoh ini tak mengerti adalah, Yuugi dan kakeknya yang senyum-senyum menyebalkan ketika ia meminta izin untuk pergi bersama Kaiba.

"Oh ya? Untuk kapan ia mengajakmu pergi?" Yuugi bertanya padanya waktu makan malam minggu lalu.

"Sabtu minggu depan."

"Ouh…Malam minggu ya? Bareng cewek ga nih? Kaiba pasti punya kenalan yang keren-keren tuh…" ujar sang Hikari jahil.

"Tidak. Kami hanya berdua." Jawabnya singkat.

"Jadi…kalian berdua mau berduel saja? Malam minggu ketika cowok normal ngeceng cewek?!" Ia mendramatisir keterkejutannya ." Kadang aku curiga….Jangan-jangan kamu punya kecenderungan menyimpang terhadap kartu…Kaiba juga..banyak cewek yang suka ,kok ditinggal aja?." Yugi mengerenyit sok serius. "Atau..kamu dengan dia…"

"YUGI!!! Jangan mikir yang aneh-aneh, ah!" Ia merah padam dan panik. Kakeknya yang berada di seberang meja makan hanya tertawa kecil,tertutup oleh gelak tawa Yugi yang seolah begitu puas.

"Lalu…Lalu..Haha..kenapa mukamu merah, hm?"

"Ya, sudah pasti!!"

"Omoganmu ngaco tuh…ehehe..ada apa nih??"

"Yugi, sudahlah..biarkan Atemu makan dengan tenang,ya?" Kakeknya menyudahi perseteruan mereka sebelum menyeruput supnya lagi.

"Yah, Kakek …" Yuugi mengeluh.

"Yugi…" Kakeknya kini bernada mengancam

"Iya,iya.." Ujarnya menyerah. Atemu merasa lega karena percakapan itu disudahi.

"Atemu."

"Ya, Kek?"

"Katamu tadi, kau pergi dengannya Sabtu minggu depan?"

Angguk.

"Hm…14 Maret, ya?" Kakeknya menyunggingkan senyum misterius. Mendengar gumaman ini, Yugi seolah hidup lagi. Ia mengerenyit sebelum ikut-ikutan tersenyum identik seperti kakeknya.

"Hei, Atemu. Apa kau memberi Kaiba coklat? Waktu Valentine kemarin?" Yuugi menggigit ujung sendoknya antusias, matanya berkilat nakal.

"Iya…"

"Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……….gitu…..Ngerti aku…" Hikari yang bukan sepenuhnya Hikari ini memincingkan matanya dan ber-oh seolah tahu sesuatu sambil terkekeh kecil.

"Memangnya kenapa?" Atemu bertanya polos.

"Bukan apa-apa. 'Met senang-senang yah? Jangan lupa…CE-RI-TA. Ehehehe…." Ia tersenyum. Senyum malaikat padahal iblis.

"Ya. Ceritakan pada kami nanti." Kakeknya yang ' juga', masih tersenyum misterius.

"Oh..I-iya…baiklah." Ia menyetujui bingung sebelum meneruskan makan malamnya dengan rasa penasaran.

"Sebenarnya kenapa sih?" gumamnya sebal. Padahal dirinya benar-benar senang ketika Kaiba meluangkan waktunya dan mengajaknya pergi. Butuh 3000 TAHUN !! Bayangkan!!!Melewati iblis gila yang menginginkan Mesir, 2 maniak yang memiliki Millenium Item, 3 turnamen, 2 pengikut maniak tadi, lalu…oh, daftar yang cukup panjang jika ia mengingatnya. Dan itu semua sebelum hal ini terjadi!! Baginya ini sebuah kemajuan yang luar biasa dalam mendapatkan kepercayaan seorang Seto.

"Kling! Kling!"

Suara gemerincing lonceng menyadarkannya dari lamunanya.

"Ah! Selamat datang!" Ia bangkit dan bersiap menyambut pelanggannya lagi. Sebelum waktu perjanjiannya tiba, ia harus mengerjakan pekerjaannya dulu sebaik mungkin. Lagipula, hari ini Yugi baru bisa membantunya sepulang sekolah nanti. Itu artinya, ia harus bertugas sendirian.

Pintu kaca itu terbuka dan lima orang gadis memasuki ruangan berukuran sedang tersebut. Tertawa-tawa sembari mengobrol. Mereka berhenti dengan obrolannya ketika mendengar sapaan sang pemilik toko.

"Siang, Kak Atemu!!"

"Ah..selamat siang." Ujarnya tersenyum pada pelanggan tetapnya. "Mau pesan apa?"

"Kami minta menu yang biasa saja." Ujar salah seorang di antara mereka, sementara yang lainnya mencari tempat duduk.

"Baiklah. Mohon di tunggu ya." Atemu berbalik menuju dapur,mengencangkan celemeknya,dan menyiapkan menu yang biasa mereka pesan.

(XXXXXX)

2 minggu yang lalu…

Putih…perak berkilauan ditimpa sinar pagi, mewah berdiri tangguh di atas bumi yang tertutup salju…menjulang tinggi bagai menara Babilon. Tak hanya itu, dua hewan buas dalam legenda yang mistik dan diagungkan, mematung sunyi dengan anggun, mengancam siapapun yang lancang melewati daerah yang dijaganya.

Kaiba Corporation Centre.

Mungkin itulah kesan pertama yang didapatkan dari mereka yang berada di bawah gedung pencakar langit di jantung kota Domino. Tempat dimana seorang yang membuat petite chef kita terbingung-bingung karena ajakan pergi darinya berada. Seorang yang sedang bekerja. Oh,ralat…sedang berteriak marah pada bawahannya.

Hm….tak heran jika orang ini, yang dikenal sebagai Pangeran Duel ini, mengamuk karena rencana yang ia susun batal total. Ini semua karena kesalahan bawahannya yang mendengar kata 'Maret' menjadi 'Mei'. Padahal dua minggu lagi, sebelum tanggal 14 Maret sebelum waktu perjanjian tiba....

// Jangan pernah membiarkan orang lain yang mengatur acara pribadimu. // pikirnya stress sembari memijat dahinya. Dengan satu lambaian lelah tangannya, ia mengisyaratkan pegawai malang itu untuk pergi. //Ku urus dia nanti saja…// .

Kaiba Seto menghela napas panjang. Ia agak panik karena rencananya nyaris gagal. Nyaris? Ya..karena begitu pikirannya tenang, si jenius yang super menyebalkan ini akan segera memecahkan masalahnya.

Masalah apakah itu? Oh, mungkin lebih tepatnya…karena siapa masalah itu muncul?

//Semua ini gara-gara Mokuba…// pikirnya sebal.

Anda bingung? Sekarang saya akan mengajak anda untuk kembali menelusuri jejak-jejak awal 'penderitaan' sang CEO ini. Semuanya berawal di hari dimana Seto menerima amplop berisi surat pendek dan uang seratus ribu Yen lalu memberi hukuman pada Mokuba…

"Gr.....KAKAK!! C'mon!...Mana bisa aku hidup tanpa asupan COKELAT!!! Darahku dialiri oleh benda manis nan legit itu,kak....." Mokuba membujuk manja.

"Mokie...cokelat itu bisa membuatmu gemuk.."

"Aku 'kan anak aktif..."Ia berkacak pinggang dengan bangga.

"Darah tinggi..."

"Mumpung masih muda...lagian aku rajin makan sayur.."

"Gigimu keropos dan berlubang..."

"Sikat gigi dua kali sehari diakhiri dengan mouthwash, setiap selesai makan selalu dibersihkan dengan dental floss, dan enam bulan sekali aku ke dokter gigi..." Ia mengetuk giginya yang putih rapi sempurna dengan jari telunjukknya untuk efek meyakinkan.

"....TIDAK."

"SETOOOOOOOOOOOO!!!"

"Tidak. TI-DAK. Mokuba. Apa sulitnya memahami kata itu ,sih?"

"Sama sulitnya dengan membujuk kakak untuk liburan." Ujarnya menantang.

Seto menajamkan matanya. "Pergilah. Aku mau kerja."

"Heuh...Kakak 'tuh kalau marah ma aku bilang aja.Alasannya juga yang jelas, dong..." katanya cemberut.

"Ya...karena kau mengambil hak orang tanpa izin."

Mokuba mengangkat bahu. "Kakak yang bilang 'gak suka itu , lho..."

"Tapi, aku tak pernah memberimu izin... "

"Kakak tak pernah marah kalau coklat yang kumakan itu dari orang lain. Dari tamu, penggemar, hadiah, promosi..."

"Mokuba..."

"..tapi, kau marah waktu aku memakan cokelat buatan kak Atemu."

"Mokuba..."

"Cokelat legit, manis nan gurih....kental kandungan susu dan renyah dengan potongan kacang kecil-kecil yang dibaluri karamel manis..."

Deskripsi yang di dukung oleh intonasi penuh penjiwaan dari aktor pendramatisir dan hiperbolik terbaik yang entah mengapa membuat seorang Seto Kaiba pun meneteskan air liur.

//Seenak itukah?// pikirnya menyesal karena selama ini ia begitu keras kepala menolak memakan salah satu cokelat terbaik di Jepang. Pikirannya melayang membayangkan rasa dan wangi dari biji kokoa yang di olah itu...

"...yang lumer perlahan di dalam mulut…memenuhi setiap papila pengecap yang penasaran akan kelezatannya... "

Ia menjilat lapar tak sadar membasahi bibir bawahnya.

"...dengan memejamkan mata...wangi dari bubuk kokoa yang tercampur rempah rahasia dan susu sapi terbaik memenuhi memori yang menyebabkan kerinduan untuk mencicipinya lagi.."

//Hm?..Apakah wanginya seperti itu?Seperti aroma Atemu waktu ia tertidur di mobil...// Entah apa yang salah dalam perihal menyamakan aroma sang pemilik toko dengan deskripsi cokelat yang diberikan oleh Mokuba dalam pikiran Seto. Ia sadar,tapi ia menepisnya tak peduli. Terhanyut dalam buaian khayal deskripsi cokelat Suiito oleh adiknya.

"Dan berasa…selembut kecupan.." Mokuba mengakhirinya dengan efek suara kecupan yang dramatis.

//Ng? Kecupan?...Ah..Apa itu rasanya jika Atemu...// Ia mengkhayal tak jelas lagi sebelum bangkit tiba-tiba. Wajahnya panik ketakutan dan sedikit merona. Ia memantrai pikirannya buru-buru. // A-KU TI-DAK BER-PI-KIR HAL I-TU.// Gawat sekali.Lain kali jika ia mendengarkan Mokuba, ia harus lebih berhati-hati...

"Kak..." Ia mendengar Mokuba memanggilnya pelan.

"Ya?"

"Kakak marah karena aku mengambil cokelat dari kak Atemu..tapi aku punya keyakinan besar bahwa bukan cokelat masalahnya..." Ia berpikir curiga.

"Hah?"

"Kakak..suka dia kan?"

"A-A—Ap...APA?! AKU?!"

"Ya...itu sebabnya kau marah. Soalnya orang yang disuka 'ga ngasih cokelat. Tapi, kok ke temen-temennya semua ngasih.BAHKAN ke adiknya sendiri 'ngasih cokelat!!Ter-la-lu! "Ia tersenyum licik sembari menjelaskan hipotesisnya.

"Moku..."

"Ehehe....Kakak cemburu kan?"godanya.

"Tidak.."

"Masa iya??"

"Iya."

"Ah ,yang bener?"

"Benar.."

"Benar suka ya?"

"Y..BUKAN!"

Mokuba terkekeh senang sambil melompat riang mengelilingi ruangan kantor tersebut. "SU~KA nih ye.....AKHIRNYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" Adiknya itu membuka gerendel pintu besar dan berlari keluar dengan semangat '45.

"Mokuba! Tidak..Aku..."Ia berteriak dan berusaha mengejar adiknya. Baru saja ia sampai di depan pintu kantornya, yang masih terbuka lebar, suara teriakan adiknya terdengar jelas menggema dari speaker di lorong-lorong kantor.

"AKU AKAN PUNYA KAKAK IPAR!!!!!!!!" Jika seseorang berada di lantai selain tempat sang CEO berada, pasti akan mengira bahwa baru saja terjadi berita yang sangat ajaib nan mustahil. Seperti akan terjadi hujan salju di padang pasir contohnya. Karena saat ini semua orang ternganga dan terbelalak kaget mendengar pengumuman yang mereka pikir takkan pernah terjadi. CEO mereka bukan SINGLE lagi!! Oh ,betapa kecewanya para admirer yang mengaguminya.

Seto sendiri terdiam panik, wajahnya setengah pucat dan merona mendengar kata-kata adiknya. Jika ada reporter penggosip yang mendengar ini,maka tamatlah riwayatnya. Ia berpikir cepat mencari dimana sumber suara itu berada. Tak mungkin Mokuba berlari terlalu jauh dan kalau ia memikirkan cara efektif untuk memberi tahu seluruh karyawan di Kaiba Corp...

//Ruang pusat kendali.//

"Dengar semuanya! Kakakku, Presiden Kaiba Corp, Kaiba Seto, akhirnya memiliki seseorang yang mengisi kekosongan saja ia juga seorang yang dihormati dan sepadan dengannya.."

Ceramah panjang Mokuba membuatnya makin panik. //Ayo..2 ruangan lagi.// pikirnya sembari berlari.

"....yang kuanggap sebagai keluarga, seorang yang begitu baik yang memberi kakakku kekuatan ketika ia jatuh...dan lebih pantas mendapatkan hatinya dari siapapun.." Suara Mokuba terdengar lembut penuh harapan. Orang-orang yang mendengarnya terhenyak. Begitu tersayangkah sosok ini? Sungguh luar biasa jika ia memiliki tempat istimewa di hati keluarga Kaiba. Namun,hal tersebut memunculkan satu pertanyaan lagi.

Siapakah gerangan sosok ini?

Sementara yang lain bertanya-tanya, Seto dengan kesal berusaha membuka celah pintu ruang pusat kendali. "MOKUBA! BUKA PINTUNYA!"

"AH! Ini dia KAKAKKU!"

"Hentikan apa yang kau bicarakan! Aku TIDAK menyukainya." Oh, ia lupa kalau ia CEO. Pintu manapun dengan sensor sidik jari di gedung ini dapat ia buka dengan bebas. Ia menggeram mengutuk kebodohannya dan menempelkan ibu jari kanannya pada pemindai.

PASSWORD IDENTIFIED. UNLOCK.

"Dan orang yang ia sukai..."

"MOKUBA KAIBA! HUKUMANMU DIPERPANJANG!"

"APA?! Kakak...Aku berusaha berbagi kebahagiaan di sini...Duh!"

"Kau yang seenaknya menyimpulkan."

"Tapi kenyataannya begitu."

"Apanya?"

"Kakak marah ketika coklat Valentine itu kumakan. Padahal kiriman yang lain boleh..."

"Haah..dia berbeda.."

"Iya..itu namanya SUKA. SU-KA. ISTIMEWA. Makanya beda.."

"Tidak mungkin."

"Mau kuberi tanda-tanda yang lain? Seperti... obsesi berlebihan atas gelarnya, lalu menculiknya dari toko,lalu kenyataan bahwa kalian pernah bertemu di kehidupan masa lalu... "

"..Mokie, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Ayo keluar." Seto memotong tak sabar.

Mokuba tersenyum tipis."Boleh saja, tapi ada syaratnya."

Ck...menyuruh adiknya berhenti mendiskudsikan topik yang ia anggap menarik, sama halnya dengan rapat dewan direksi memutuskan kerjasama antar perusahaan. Ada kompensasinya. Dan Seto sudah lelah berdebat, ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang dan tidur.

"Kau ingin coklatmu? Terserahlah..." Ia kaget ketika melihat adiknya menggeleng.

"Aku ingin kau mengajaknya pergi berdua pada tanggal 14 Maret, sebagai permohonan maaf karena telah berbuat kasar padanya waktu itu. Juga...sebagai balasan atas cokelat buatan tangan yang diberikannya pada Valentine kemarin... "

"Tidak."

"Kak....jangan lupa, penyebab dia sakit itu setengahnya karena kamu."

STRIGHT!

"Kenapa harus 14 Maret?"bisiknya menimbang-nimbang.

"White day, Big Bro...White day..."

"Apa?"

"Heuh....itu balasan Valentine. Please deh..."

"Kau terlalu banyak menonton televisi."

"Can't help that I'm too smart...Gaul dikit, Bro..biar awet muda.."

"Terserahlah. Ayo keluar dari sini."

"Ya, asal kau janji untuk pergi ke Suiito dan mengajaknya pergi."

"....."

"So?"

"Ya, sudahlah. Apa sulitnya sih?"Ia mengumpat kesal dan beranjak pergi.

Mokuba tersenyum jahil sebelum mematikan tombol kecil yang berkelip hijau yang luput dari pandangan kakaknya. Tombol yang mengaktifkan speaker di seluruh penjuru kantor, yang kini para penghuninya tersenyum kagum serta iri setelah berhasil menggabungkan petunjuk dari percakapan itu satu persatu.

Cokelat buatan tangan dan toko Suiito. Suiito hanya memiliki satu koki yang bekerja disana, koki yang juga rival dari sang CEO. Yang membuat mimpi para gadis pemuja Pangeran Duel ini hancur, yang membuat semua orang kagum akan kemampuannya, dan kharismanya.

Atemu Mutou adalah orang yang disukai oleh Kaiba Seto.

Dan...begitulah kesalahpahaman, yang tidak sepenuhnya salah, namun ditepis habis-habisan oleh CEO kita ini. Tentu saja pada akhirnya ia mengajak Atemu . Walau bukan di Suiito, tapi ia pergi ke rumahnya karena sang ex-Pharaoh ini terbaring sakit. (Tak lupa bawa buah-buahan yang sudah disiapkan khusus oleh Mokuba. XD) Melihatnya terbaring lesu, dengan perasaan bersalah ia pun berjanji bahwa ketika Atemu sembuh nanti,ia akan membawanya pergi ke suatu tempat.

Mokuba menganjurkannya untuk mengajak Atemu makan siang. Namun, kesibukan di Kaiba Corp membuatnya nyaris tak memiliki waktu luang untuk mengurus perihal ini sendiri. Akhirnya, dengan pikiran bahwa ini hanyalah perkara ringan, ia menyuruh bawahannya untuk memesan tempat di sebuah restoran ternama.

Sang cupid tampaknya kesal dengan perbuatan tidak-sensitif-terhadap-perasaannya-sendiri ini. Dan dengan anak panahnya, menghancurkan rencana itu hanya dengan menukar kata 'Maret' menjadi 'Mei'. Dan, ketika CEO ini bertanya tentang kesiapan hal tersebut pada anak buahnya, saat itu juga ia tahu bahwa ia harus menyusun rencana B...B untuk Baru.

Seto yang saat ini emosinya mulai mereda,bangkit dari kursi kerjanya, dan menjatuhkan dirinya di atas sofa di sudut ruangan. Ia bergerak menyesuaikan diri dan alas kepalanya pada lengan sofa, sebelum akhirnya mendapat posisi yang nyaman. Jemari ramping panjang berwarna langsat menyisiri eboni lembut yang membingkai wajahnya.

"Ha..." Ia menghela napas lelah. Pekerjaannya hari ini masih menumpuk, wajar saja, ini awal bulan. Di mana hari-hari efektif kerja berada. Ia menatap kosong langit-langit kantornya, sebelum pandangannya berpindah pada jendela-jendela besar di sisi sofa tempatnya berbaring. Langit berwarna biru pucat, dengan matahari yang bersinar lembut, cahayanya menembus tipis menerangi kantornya memberikan kesan hangat.

Salju tipis perlahan masih menuruni tangga langit, berusaha memoles bumi dengan warna bersih tak ternoda. Ah...ia begitu menyukai musim dingin. Namun entah sejak kapan ia hanya bisa menikmatinya di dalam ruangan itu ketika sendirian. Merenung dan membiarkan pikirannya rileks tanpa penjagaan penuh. Seolah sang salju memberinya perlindungan dalam lembut dan dinginnya ia.

Berbeda dengan kesan cokelat yang keras namun lembut. Es dan salju justru berkesan lembut namun keras. Kesamaan mereka adalah, akan lumer jika sesuatu yang hangat menyentuh keduanya. Kristal salju juga membuatnya selalu tersihir dalam keindahan dan kemewahan ukirannya. Begitu indah,seolah surga memberikan sedikit hadiah bagi para pengelana di atas bumi.

"Aa..." Seto teringat, bahwa masalahnya belum selesai dan harus membuat rencana baru secepat mungkin. Syukurlah, salju memberinya sebuah ide. Juga hadiah apa yang pantas diberikan untuk sang chocolate chef. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, masih berbaring, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel berwarna putih dengan print BEWD berwarna perak dicasingnya. Menekan tobolnya satu persatu sebelum suara jawaban terdengar dari ponsel tersebut.

"Ah, ini aku. Bisakah aku pesan tempat pada tanggal 14 Maret? Ya..ya...Oh, bukan..bukan Mokuba. " Suara di seberang telepon tampaknya mengiyakan, karena Seto mengangguk-angguk. "Ya, terima kasih."

Tinggal satu panggilan lagi maka semuanya sempurna...

"Halo?...Ini Seto Kaiba." Suara jawaban dari lawan bicara, sebelum ia tersenyum tipis.. "Ya, aku ingin memesan sesuatu yang khusus..."

(XXXXXX)

Pukul 10.00 siang, Suiito, 14 Maret

"Silakan...." Atemu menyuguhkan hidangan pesanan tamunya dengan hati-hati.

"Ah, Thanks ya, Kak.." ujar mereka.

"Ng..sini kubantu deh..." Ujar seorang gadis berambut merah teh, namanya Kai.

"Oh..Jangan! Kalian pelangganku. Biar saja ya..."

"Kak..ga papa kok..." gadis itu mengambil cangkir dan piring-piring kue di troli.

"Ah..terima kasih..." Ia tersipu. Pelanggannya membantunya untuk melayani mereka...Aih, sungguh kurang profesional. Ia mengingatkan dirinya agar terus berbenah diri agar bisa melayani pelanggan dengan lebih baik. Setelahnya, ia membungkuk mengucapkan "Selamat menikmati hidangannya." , sebelum berbalik menuju meja counter.

Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Tentu saja, apalagi ketika kau tak memiliki kesibukan khusus untuk mengisi waktu tersebut. Sialnya, itulah yang dialami chef Suiito. Pagi hari ini, tokonya sepi. Pelanggan yang datang untuk makan hanyalah kelima gadis tadi. Ia menggeliat tak nyaman di kursinya, berulang kali mengecek jam dinding, dan tak sadar menghela napas pendek-pendek. Ia tak tahu, pengunjungnya memperhatikan gerak-gerik gelisahnya dari meja makan mereka.

Suara dentingan porselen makan menyadarkannya dari lamunan, rupanya pengunjungnya telah selesai menyantap sajian pesanan mereka. Ia merapikan kemejanya dan tersenyum ketika para tamunya bermaksud membayar tagihan mereka.

"Jadi, berapa semuanya?"

"Ng..5400 Yen." Ujarnya setelah menghitung keseluruhan harga. Sembari melakukan transaksi, salah satu dari mereka bertanya padanya.

"Kak..kau tampaknya gelisah? Ada apa?" Ujarnya penasaran.

"Ah..bukan apa-apa." Atemu tersenyum lemah menjawab pertanyaannya.

"Rasanya ia seperti Kyo waktu dulu... " ujar yang lainnya sembari mengingat-ingat. "AH! Iya! Kakak, apa kau sedang menunggu seseorang ?"

"I-Iya. Bagaimana kau tahu?"

"Gerak gerikmu, Kak. Hihihi.." ujarnya lagi.

"Ah..yah, seseorang mengajakku pergi hari ini. Hanya saja..." Ia tertunduk gelisah.

"Kenapa?" Tanya gadis yang membayar tagihan tadi padanya.

"Ng..aku.. baru saja menjadi temannya. Maksudku, dari dulu aku mengenalnya..tapi, baru kali ini dia memandangku seperti itu." Ujarnya lirih.

"Oh..begitu..Kakak pergi dengan yang lainnya juga?" tanyanya agak simpati.

"Ng,tidak. Kami hanya berdua."

"Berdua?" Kelima gadis itu bertanya serempak.

Angguk.

"Hari ini?!" Tanya mereka lagi.

Angguk.

Gadis-gadis itu saling bertukar pandang.

"Kakak memberi orang ini cokelat Valentine bulan lalu?" Ujar gadis pertama yang bertanya padanya tadi.

Angguk. //Mereka menanyakan hal yang sama seperti Kakek waktu kuberi tahu hal ini...Kenapa ya?//

"Wah...manisnya!!!!" Kelimanya berkata serempak.

"Gadis ini pasti mau memberikan balasannya." Ujar gadis itu lagi.

"Ah, bukan." Atemu menggeleng pelan.

"Ng? Apanya?" Tanya yang lainnya.

"Yang mengajakku pergi bukan seorang gadis."

"Oh? Jadi...siapa?"

"Ng...Kaiba."

"SETO?!" tanya mereka berbarengan lagi, kali ini dengan keterkejutan yang..wah..

"Ya."

"Pria dingin yang menjadi bachelor terbaik itu?"

"Salah satu orang terkaya di bumi?!"

"Rivalmu?!"

"Pangeran Es?!"

"Si tukang culik?!"

Mendengar komentar yang terakhir, Atemu tertawa kecil. "Ahaha..dia memang agak obsesif...."

"Oh..beruntungnya..." Ujar gadis berambut burgundy.

"Kalau dia sih tak apa..." Gadis pertama menanggapi.

"Aku iri..." gumam Yuki.

"Ke-kenapa sih?!" Atemu menatap mereka dengan ragu.

"Loh..dia mengajakmu pergi berdua, malam Minggu tanggal 14 Maret ketika hujan-hujan salju terakhir turun.." Gadis yang membayar tagihan tadi bergumam khayal.

"Itu namanya kencan." Yuki mengedipkan matanya jahil. Menggoda sang petite chef yang kini wajahnya merona malu.

"*blush* Ah...kalian salah..ia hanya..."

"Apalagi ini White Day..." Gadis terakhir akhirnya angkat bicara.

"White Day?" Atemu mengangkat alis keheranan.

"Ya."

"....Ng, White Day itu apa?"

(XXXXXX)

"KLING!"

Selang beberapa waktu, denting lonceng toko itu menghentikan obrolan mereka. Atemu secara otomatis berusaha menyambut pelanggannya.

"Aa..Selamat da..KAIBA!" Ucapannya terhenti ketika melihat siapa yang datang. // Bukankah masih ada setengah jam sebelum pukul 12.00?// pikirnya panik. Setengah sadar, ia ingat kalau waktu adalah uang dan kontrak kerja bagi seorang pebisnis pro seperti Kaiba. Ia meringis kesal.

"Wah…Kak Atemu, kami pergi dulu ya!!" Para gadis itu tertawa genit melihat sang CEO muda, yang memakai coat putih tebal dan celana panjang hitam berbahan katun, menatap mereka dengan dingin.

"Terima kasih atas hidangannya!" ujar Yuki.

"Ah,ya. Datang lagi lain waktu." Atemu membungkuk sopan ketika mereka menuju pimtu keluar. Namun, gadis yang berambut burgundy itu berbalik menatapnya ketika teman-temannya keluar.

"Kak…Sukses ya!" Ia mengedipkan matanya dan melempar senyum misterius pada Seto, yang mengangkat alis keheranan menatapnya. Pandangannya lalu berbalik menatap Atemu.

"Bisa kita pergi sekarang?"

"Tentu tidak. Aku harus membereskan peralatan makan dan menutup toko, sebelum Yugi tiba." Ujarnya tegas. Ia melihat Kaiba mengereling memandang kafe kecilnya itu penuh pertimbangan.

"Hm..kubantu." ujarnya.

"Maaf?"

"Kubilang. Akan kubantu. Dua orang bisa menyelesaikannya lebih cepat. "

Atemu menatapnya tak percaya. Seto Kaiba akan membantunya membereskan tokonya? Seorang presiden direktur perusahaan terbesar mau melakukan pekerjaan seorang pelayan kafe kecil?

"Haha…lawakan yang bagus. Sudahlah kau duduk saja di sana. Tunggu aku sebentar ya?" Kaiba tak menanggapinya, ia berjalan menuju meja yang penuh piring dan cangkir kotor bekas pelanggannya tadi. Ia menatap sudut ruangan, mencari-cari sesuatu.

"Mana trolinya?"

"Kau serius?!"

"Atemu…jangan banyak berkomentar dan cepat selesaikan bagianmu." Ujarnya datar sambil berjalan menuju seberang ruangan mengambil troli yang tadi sempat luput dari pandangannya. Atemu terdiam mematung sebelum mengangguk patuh dan pergi menuju dapur.

(XXXXXX)

Dan setelah menyelesaikan segala perkara dan tetek bengek yang ada, membereskan toko, dan menyiapkan peralatan. Atemu dengan berat hati akhirnya membalikkan tag yang berada di balik pintu kaca tokonya.

-CLOSED-

Ia menghela pelan. Tak tega beranjak meninggalkan tokonya.

"Ada apa lagi sekarang?" Seto menggerutu kesal mendengarnya. "Kau kan tak selamanya pergi dari sini. Lagipula, Yugi akan melanjutkan shift-mu nanti siang."

"Umh.." Ia menggumam pelan. Keduanya terdiam.

"…..Kalau kau ingin membatalkan ajakanku sekarang, tidak apa-apa." Ujar Seto setelah beberapa saat.

"EH?! Bu-bukan itu! Aku hanya…" Atemu berbalik dan menatapnya panik.

"Hanya tak tega meninggalkan tempat dimana kau bisa melakukan hal yang kau sukai dan membuat orang lain bahagia." Lanjutnya datar.

"Ah…mungkin.." Ia menatap rivalnya terkejut. Tak disangka bahwa Kaiba akan mengeluarkan kalimat macam itu dari mulutnya.

"Kadang kau terlalu baik…Yah, sudahlah. Jadi, kau mau pergi atau tidak?"

Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya dengan mantap memutuskan pilihannya. ."…Pergi. Aku ingin pergi denganmu." //Ng? Kalimat tadi rasanya…// "...kau sudah meluangkan waktumu yang berharga, aku tak kan menyia-nyiakan kesempatan itu."

"Oh. Ya." Komentarnya singkat. "Bisa kita pergi sekarang?" tanyanya lagi.

"Ya ya...Ck, kau selalu terburu-buru." Atemu mengangguk setuju dan mengikuti Kaiba menuju Aston Martin berwarna pearl white miliknya. Ia membuka pintu penumpang di kursi depan.

"Taruh barangmu di belakang." Ia mendengar Kaiba berkata padanya. Setelah ia berada di dalam mobil. Tak banyak bicara, ia melempar tasnya ke kursi belakang.

"Ng..Kaiba.."

"Ya?" Starter dinyalakan dan perlahan deru lembut terdengar.

"Kita akan pergi kemana? Kau belum berkata apapun sebelumnya tentang tujuan kita." Ia melihat Seto tersenyum simpul.

"Kau membawa baju cadangan?"

"Ya..kubawa."

"Hm…nanti juga kau tahu." Ujarnya tak memberi petunjuk sebelum memutar setir dan melajukan mobilnya pergi.

(XXXXXX)

Perjalanan kedua orang ini…sangatlah sunyi. Dibandingkan dengan interaksi mereka di perjalanan sebelumnya, tampak keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sang chocolate chef memandang kelebatan pemandangan di balik kaca jendela, pikirannya berbalik pada percakapan dirinya dengan kelima gadis yang berkunjung ke tokonya tadi…

"Ketika white day tiba…seorang yang membalas perasaanmu akan mengalungkan pita putih sebagai tanda balasannya."

"HAH?! Tapi aku memberinya cokelat tanda persahabatan!!" Ujarnya panik.

"Mungkin ia menganggapinya berbeda." Gadis itu mengangkat bahu.

"Yah..sekalipun balasannya hari ini adalah sekedar 'makan siang' biasa. Kakak tetaplah seorang yang beruntung!"

"Kenapa begitu?"

"Kak, ratusan…bahkan mungkin ribuan orang berusaha mendapatkan perhatiannya. Dan kaulah yang ia nilai pantas untuk hal itu." Yuki menjelaskan.

"Ya! Hadiah Valentine yang didapatkannya pasti menggunung! Semua orang tahu siapa dia dan dimana ia tinggal. Tak peduli siapapun itu, pasti akan berusaha sedikitnya untuk mengungkapkan perasaan mereka padanya." Gadis berambut burgundy itu menanggapi.

"Coba pikir. Seorang yang bahkan menolak untuk interview majalah ternama maupun menjadi icon fashion meluangkan waktunya untuk membalas apa yang diberikan padanya pada waktu Valentine. Dan itu..hanyalah Valentine darimu." Gadis terakhir menekankan jawabannya.

"Oh.." Atemu tersipu lembut.

"Itu artinya...ia menganggapmu istimewa…Bahkan mungkin.."

"Apa?"

"Dia menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar 'sahabat'." Godanya jahil.

Atemu melirik pada seorang yang kini fokus pada laju mobil. Kaiba tampaknya sadar ia diawasi, kontan ia menoleh sedikit. "Ada apa?"

"Bukan apa-apa."

"Hm…lalu kenapa menatapku begitu?"

"Iseng saja." Atemu merona.

"He…kupikir kau kagum akan kemolekan parasku atau tiba-tiba jatuh hati." Ujarnya narsistik. Atemu memandangnya tajam.

"JANGAN HARAP."

"Ya ya…" Ia menyeringai sombong. "Oh, kita sudah sampai." Ujarnya yang membuat Atemu mengalihkan pandangannya ke jendela depan.

Danau yang membeku. Pepohonan di pinggirannya menjadi pagar-pagar alam dengan warna putih seperti gula-gula kapas. Berkilauan tertimpa matahari siang, beberapa keluarga terlihat bermain skate di atas danau es itu, sementara yang lainnya membuat boneka-boneka salju maupun bermain perang-perangan. Di dekat danau itu ada sebuah rumah kayu yang cukup besar, sebuah tempat peristirahatan nampaknya.

"Ini tempat liburan favorit Mokuba. Terutama kalau aku agak sibuk dan tak bisa terlalu jauh meninggalkan kota." Ujarnya sambil memarikirkan mobilnya. Atemu menatapnya heran. Ia lalu sadar akan pemandangan orang-orang di danau itu dan apa tujuan Kaiba mengajaknya kemari.

"Danau? Kau mau mengajakku bermain ice skating di danau beku? Kaiba, ini bulan Maret. Aku tak mau mengambil resiko. Kau bermain saja sendiri."

"Oh, ayolah. Kau belum pernah main sebelumnya 'kan?"

"Ugh…Aku tak mau. Lagipula aku tak punya sepatu skate!" Atemu berusaha membela diri. Dilihatnya Kaiba membuka pintu dan keluar dari mobil. "He-Hei Kaiba!" Buru-buru ia menyusulnya keluar, sebelum Kaiba membuka bagasi mobil dan mengeluarkan…dua pasang sepatu skate.

"Kurasa tak ada masalah lagi 'kan?"

Atemu menelan ludah.

(XXXXXX)

"Agh! Kaiba…Kau benar-benar menyebalkan!!" Atemu meringis, memijat betisnya yang kram karena tak terbiasa bermain ice skating. Ia mendengar Kaiba tertawa kecil.

"Atemu..kau baru pertama kali belajar. Wajar saja jika ada efek sampingnya. Apalagi selama ini kau berdiam di tokomu dan jarang menggerakkan badan. Ini olahraga yang sehat Yang Mulia.." ujarnya usil.

"Kalau begitu setidaknya cari kegiatan yang lebih ringan! Ugh, aku yakin kau tahu akibatnya dan sengaja melakukan ini." Atemu menatap kesal pada CEO muda yang mengangkat bahu takpeduli. Ia menatap tubuh mungil ex-Pharaoh itu yang terlihat basah karena salju dan es yang mencair.

"Ganti pakaianmu. Kau basah kuyup." Ujarnya sedikit khawatir.

"Yah, terima kasih karena kau tidak menolongku waktu aku terjatuh berulang kali tadi!" Atemu membalas.

"Oh, Atemu…Jangan diambil hati. Itu salah satu proses kemandirian belajar."

"Mau kukirim ke dunia kegelapan lagi?" Pandangnya tajam.

"Haha..kurasa tidak. Kau tak mau kehilanganku ,kan?" Ia tersenyum jahil yang ditanggapi oleh rona kemerahan di pipi chef itu.

"Kau…AGH! Diamlah!" Ujarnya kesal sebelum menyambar tasnya dan buru-buru pergi menuju ruang ganti di tempat peristirahatan.

"Kurasa aku agak berlebihan." Gumam Kaiba sembari tersenyum tipis. Dirinya sendiri kemudian membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam bagasi. Tak lama menunggu, Atemu rupanya sudah selesai mengganti pakaiannya dan kini ia berjalan mendekati mobil.

"Kau sudah selesai?"

"Yeah.." ujarnya singkat. Kaiba menangkap ada yang ganjil darinya. Atemu terlihat gemetaran dan pucat. Rasa bersalah akan kejadian di waktu lampau kembali merasuki dirinya. Tapi kali ini ia bertindak lebih cepat.

"Musim dingin dan kau hanya memakai kemeja dan jaket tipis?" Ia mengangkat alis.

"Dan? Kau tak bilang padaku kalau kau akan membuatku basah kuyup! Kupikir baju ganti itu hanya untuk mengganti baju kotor yang kupakai seharian!" Jawabnya kesal, sebelum memeluk dirinya sendiri. Berusaha mencari rasa hangat.

Kaiba menghela pelan. "Ada-ada saja…" Ia mengambil coat cadangan (yang sepertinya milik Mokuba.) dan memberikannya pada Atemu. "Pakai itu. Kurasa ukurannya cukup."

Bingo! Ukurannya memang pas, karena tubuhnya mungil, sedangkan Mokuba sepertinya sengaja diberikan ukuran over-size oleh kakaknya.

"Trims…" bisik Atemu menikmati rasa nyaman yang perlahan merayap di tubuhnya. Ia memejamkan mata dan menghela lega. Hangatnya…

"Ini…" Kaiba melingkarkan syal miliknya di leher Atemu. Syal putih dengan simbolik siluet BEWD berwarna abu-abu muda di salah satu ujungnya. "Tutup telinga dan lehermu dengan ini. Aku tak ingin kau sakit, Yugi dan kawan-kawanmu bisa membunuhku nanti." Atemu mengangguk kaku, pikirannya tak berada di tempatnya.

"Ketika white day tiba…seorang yang membalas perasaanmu akan mengalungkan pita putih sebagai tanda balasannya.."

"Temu…."

"hanyalah Valentine darimu.."

"Ate…"

"Itu artinya...ia menganggapmu istimewa.."

"ATEMU!"

"YA!?"

"Kau melamun."

"Uh..oh..maaf..udara dingin kurasa…ahaha.." .//Ah..aku membaca terlalu banyak dari tindakannya…Gara-gara mereka…// Ia tertawa pasrah. Kaiba mengangguk, melihat pipi Atemu yang merona karena dingin. Atau karena hal lain? Yah..CEO ini tak berpikir ke arah sana.

"Hm, terserahlah. Aku sudah memesan tempat untuk makan siang. Sebaiknya kita bergegas, kondisi cuaca yang terlalu sore bisa menyulitkan perjalanan." Kaiba mengadah melihat langit jingga kelabu yang menandakan sore telah tiba. Angin beku yang berhembus tipis membuatnya bergidik. "Lekas masuk…udara mulai dingin.." Kaiba membuka pintu pengemudi dan segera masuk. Atemu tak menjawab dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi sebelah pengemudi. Tak selang lama, deru pelan mobil kembali terdengar sebelum meninggalkan tempat itu.

Kembali….sunyi di dalam mobil yang kini lebih hangat daripada di luar ruangan. Atemu beringsut di tempat duduknya, berusaha nyaman dengan game siapa-yang-bisa-memulai-pembicaraan-tanpa-rasa-canggung-lebih dulu. Ho..rupanya Kaiba yang menang…

"Kau sudah tak kedinginan lagi?" ujarnya.

"Ah..iya…"

"hm…"

"….."

"….."

"Kaiba…" Atemu berusaha memulai.

"Ya?"

"Kita makan siang dimana?"

"Oh..itu…sebuah resto klasik pedesaan di pinggiran kota."

"Wow..kau tahu dari mana tempat seperti itu?" Ia agak kaget. Melihat setiap hari, keluarga Kaiba terjamin hidangannya oleh koki kelas atas serba bisa…Rasanya agak janggal jika mereka pergi ke restoran kecil sederhana.

"Salah satu hasil wisata kuliner Mokuba." Ujarnya agak kesal. Atemu tertawa kecil.

"Pilihan adikmu pasti lezat. Aku takkan bertanya lagi soal kualitas rasa. " Komentarnya singkat. Ia melihat Kaiba tersenyum tipis.

"Kalau begitu kau boleh menganggap dirimu beruntung…"

"Kenapa?"

"Karena Mokuba sangat menyukai cokelat buatanmu..itu artinya bisa menjadi indikator kelezatan,kebersihan, dan kelayakan makanan yang bisa kucicipi." Terangnya angkuh.

"Oh..kau…berhentilah bersikap menyebalkan." Atemu bersungut canda.

"Hei..tapi sungguh…waktu kucicipi sampel waktu itu.."

"Apa?"

"Coklatmu enak…"

(XXXXXXX)

Setengah perjalanan lainnya diisi oleh Atemu yang bergelung di sisi kursinya dan terlelap dalam hangatnya mobil setelah menenangkan diri dari komentar Kaiba yang membuat keduanya…kembali canggung untuk mengobrol. Daripada salah bicara, keduanya dalam diam memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan. Dan ini membuat Seto memaksakan diri untuk fokus ke jalanan yang bersalju dan Atemu…yah..daripada pusing memikirkan hal itu..lebih baik tidur..

"Atemu….bangun.."

"Ungh…"

"Kita sudah sampai. Kutunggu kau di luar ya?"

"Nn.." jawabnya malas. Perlahan ia bangkit merapikan diri sebelum melangkah keluar mobil. //Dingin!!// Ia bergidik ketika suhu dingin menyentuh kulitnya. Mengejap-ngejapkan matanya dari kabut kilau tipis, apa yang dipandangnya membuatnya terpukau.

"Wah…ini di mana?" //Indahnya..// Bagai alam yang terlukis hanya oleh warna putih, kelabu, dan biru keperakan.

"Daerah hutan di pinggiran kota. Kau belum pernah kemari?" Kaiba mengangkat alis. Ini tempat terdekat yang umum dikunjungi oleh penduduk kota Domino untuk menghabiskan waktu libur mereka.

"Belum…Aku..jarang berpergian , kau tahu kan aku belum terlalu lama memiliki tubuhku sendiri." Ujarnya ringan.

"Hm…" Kaiba hanya bergumam pendek sebelum memberi isyarat agar Atemu mengikutinya.

(XXXXXXX)

"Ah! Tuan Kaiba, Selamat datang…Mari, saya akan mengantar ke meja anda." Seorang pelayan senior yang tampaknya telah hapal dengan pelanggan tetapnya ini, tersenyum riang dan membungkuk sopan sebelum beranjak ke ruangan dalam.

"Terima kasih." Kaiba menjawab tawarannya lalu mengikuti pelayan itu, Atemu mengikutinya dalam diam.

Mereka tiba di sebuah meja kayu persegi dekat jendela yang menunjukkan langsung indahnya alam di luar. Lampu-lampu temaram dan wangi kayu manis dari lilin hias melengkapi hangat dan nyamanya kesan yang ingin ditunjukkan oleh resto tersebut. Atemu mengingat-ingat rancang annya sebagai bahan perbandingan untuk kafe kecilnya ketika ia kembali nanti.

"Simpel dan berkesan nyaman. Pilihan Mokuba bagus.." Ujarnya senang ketika selesai mengamati resto tersebut.

"Tunggu sampai kau mencicipi hidangannya…" Ujar Kaiba menantang.

"Hm.." Atemu menyeringai kecil. Setelahnya, pelayan tadi memberikan daftar menu untuk kedua pelanggannya dan dengan sabar menunggu apa yang akan mereka pilih.

"Kau mau pesan apa?" Kaiba mengintip Atemu dari balik buku menunya. Ia bertopang dagu sambil menentukan apa pilihannya.

"Punya rekomendasi?" Atemu menjawab tanpa membuang pandangannya dari daftar menu.

"Untuk hidangan pembuka… Krim sup daging kacang merah." //Hm…gurih dan hangat….// Kaiba mengkhayal lapar.

"Oke..aku pesan itu juga."

"Sausnya?" Pelayan tadi bertanya selera spesifik pesanan mereka.

"Aku lebih suka pedas dengan black pepper."

"Ah..aku saus tomat." Ujar Atemu setelah menimbang-nimbang.

" Makanan beratnya kau pilih sendiri saja. Hm, aku pesan Seafood Fried Rice."

"Ok…ng..Tolong mashed potato dengan smoked salmon.."

Pelayan itu dengan cekatan menulis pesanan mereka pada notes kecil sambil mengangguk-angguk paham.

"Dan untuk dessertnya, rekomendasiku.. Vanilla Cheese Cake flavored Ice Cream.." Kaiba mengucapkannya dengan penekanan nada kau-pasti-akan-ketagihan.

"Oh?"

"Pesan dua ya."

"Baiklah. Mohon tunggu sejenak." Pelayan tadi membungkuk dan berbalik untuk menyiapkan pesanan keduanya. Setelah ia pergi, Atemu yang penasaran bertanya pada CEO muda yang memberi rekomendasi tadi.

"Apa itu enak?"

"Kontras dengan rasa coklat yang kau berikan padaku…tapi..kurasa kau akan suka..yah,coba saja sendiri." Jawabnya misterius.

(XXXXXX)

Lezat.

Itulah pikiran pertama yang terlintasdi benak Atemu ketika ia mengambil satu suapan di mangkuk supnya. Kental kuahnya, berasa kaldunya, dengan asam manis tomat sebagai penyempuraan sentuhan akhir…

"Kau suka?"

"Ah..iya..ini lezat...gurih.." Gumamnya sambil mengunyah potongan-potongan kecil daging cincang dari sup.

"Kan sudah kubilang..hm.." Kaiba tersenyum kecil. "Ah..Atemu."

"Ya?" Dilihatnya Kaiba terdiam sejenak seolah memutuskan sesuatu.

"…bukan apa-apa."

Atemu mengerenyit. //Kenapa dia?// Atemu mengangkat bahu dengan cuek, dan menggeleng pelan. "Terserahlah."

"Hm?"

"Bukan apa-apa. Terima kasih karena sudah mengajakku kemari." Ujarnya baru menemukan topik.

"Ah, ya…maaf tadi aku membuatmu basah kuyup."

"Oh? Kupikir kau sengaja. Aku sudah terlanjur dendam padamu."

"Atemu…" Kaiba memutar bola matanya dengan kesal.

Atemu hanya tertawa kecil. "Itu ciri khasmu kan? Aku akan bergidik kalau tiba-tiba melihatmu bersikap luar biasa ramah."

"Hmm, kurasa itu ide yang bagus untuk melihat sejauh mana orang terintimidasi olehku." Kaiba menyeringai tipis.

"Ck..kau ini…Oh, ya. Kalau mau bicara, tak usah canggung, langsung saja. Aku mendengarkan kok. "

"Apa maksudmu?"

"Tadi kau ingin bicara sesuatu tapi kau tahan kan? Aku tak tahu kau mau bicara soal apa, tapi apapun itu, aku akan berusaha untuk memahaminya. Ok? Jadi tak usah ragu."

"Ah..ya.."

"Jadi, kau mau bicara soal apa?"

"Hm…" Kaiba tampak menimbang-nimbang sebelum berkata. "Akan kukatakan setelah makan nanti." Ujarnya misterius.

Atemu hanya mengangguk paham.

(XXXXXXX)

Gurihnya susu, manis madu, creamy, bertekstur amat lembut namun padat, dengan aroma keju yang harum, dan sedikit whipped cream bertabur serutan keju di atasnya. Sesendok penuh akan cita rasa dan kualitas resep rahasia buatan tangan yang terkemas dengan apik dalam bentuk hidangan pencuci mulut bernama es krim. Atemu mengulum pelan, merasakan lembut dinginnya krim yang meleleh perlahan di rongga mulutnya. Benar apa yang dikatakan Kaiba padanya, berbeda dengan citarasa cokelat yang bittersweet, padat keras tak selembut krim, hangat dan bukan dingin ketika dikulum, harum vanilla murni dan keju bukannya kayu manis dan potongan kacang. Manis madu dan bukan gula berbeda, tetapi memiliki efek yang sama. Membuat pemakannya sealalu teringat akan rasanya.

"Mmh…luar biasa. Ini…oh,selera adikmu hebat.." Ia menyendok lahap lagi es krimnya. Dilihatnya Kaiba hanya tersenyum tipis dibalik sendoknya. "Seto, lain kali ajak aku kemari lagi ya? "

"Seto?"

"Dan? Kau memanggilku dengan nama depanku. Tidak adil."

Kaiba baru tersadar bahwa itu benar. Dan..aneh juga ia tak merasa keberatan dipanggil olehnya dengan nama depannya. "Tak apa kok."

"Eh?!" Atemu terperanjat.

"Kau kenapa 'sih?"

"Tanggapan yang tidak seperti dari dirimu itu!!! Apa kau benar-benar Kaiba?!" Ia memandangnya tak percaya. Sebelumnya Kaiba membantunya membereskan toko dan kini ia membiarkannya memanggilnya dengan nama depannya?!.

ia menganggapmu istimewa…

//Yang benar saja…//

"Hh..habiskan saja es krimmu sana. Dan tidak, seenaknya saja kau minta traktir."

"Oh,ayolah. Kau punya investasi salah perusahaan terebesar di dunia dan tak mau mentraktirku makan di resto sederhana?"

"Tabungan."

"Dasar pelit."

"Atemu…"

"Seto…"

"Diamlah."

"Ya ya."

Tak lama hidangan penutup pun akhirnya berakhir. Setelah Kaiba membayar tagihan, keduanya pun kembali ke mobil yang kini meluncur cepat di jalanan sepi. Agak lama dalam perjalanan sebelum Atemu teringat sesuatu. "Kau bilang kau ingin bicara sesuatu." Ia melihat Kaiba mengangguk sunyi dan tetap fokus pada kemudinya.

"Ok..jadi?"

"Hm…" Kaiba hanya bergumam sebelum memutar kemudi untuk berbelok ke jalan lain, yang menunju ke…..pelabuhan.

"Er….Kaiba…" Atemu mendadak teringat kejadian sebelumnya dan merapat ke pintu mobil. Kaiba nampaknya teringat juga, ia buru-buru berkata,

"Oh, tenanglah. Aku hanya mencari tempat yang nyaman untuk bicara."

"O…k?" Atemu menjawab ragu.

"Hh…"

Laju mobil melambat dan akhirnya berhenti, di daerah gelanggang kapal. Kaiba hanya diam, membuka pintu mobil, dan keluar.

"Eh? Hei!" Atemu buru-buru menyusulnya..lagi. "Aa, tempat ini…"

"Tempat di mana kau dan sahabatmu berduel karena maniak sinting dari Mesir itu… "

"Hm…." Tempat yang penuh nostalgia dan sebanarnya jika situasinya tidak seperti dulu, tempat ini cukup menenangkan pikiran dengan deburan ombak lembut kebiruan yang di terpa lembut cahaya senja. Ia melihat Kaiba berjalan lebih jauh, sebelum duduk di pinggiran dermaga pelabuhan, dan memberinya isyarat untuk mendekat.

"Ng..Kaiba?"

"Indah ya?" Ujarnya pelan sembari menatap senja lautan, ombak-ombak kecil dirasakannya membasahi sepatunya yang rendah menggantung di atasnya.

"Oh..ya..laut…di kehidupanku dulu, aku tak pernah melihatnya… " Atemu menjawab pendek dan duduk di samping sang CEO. Ia mengayun-ayun kecil perlahan kakinya dengan riang. Sebelum akhirnya berhenti untuk menikmati wangi garam yang terbawa angin dan senja laut. Ia menghela napas lega.

"…..Atemu." Kaiba memulai setelah beberapa lama.

"Hm?"

Ia merogoh sesuatu dari saku coat-nya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru sedang berwarna hitam. Ia menyodorkan kotak itu pada Atemu,yang menerimanya sambil memandang bingung.

"Untukku?"

"Yah.. Ini..balasan yang cokelat yang selama ini kau beri padaku." Ujarnya sedikit memerah,ia memalingkan wajahnya sedikit.

Atemu mengangguk paham,lalu membuka kotak kecil ditangannya. "Wow..tapi ini…Kaiba…" Kalung perak dengan leontin emas putih yang berbentuk kristal salju. //Pasti…menghabiskan banyak sekali ya…duh…// "Cantiknya..tapi….'

"…sebening matamu, seindah dirimu…"

"Ah….kau tak mengutip itu dari novel kan?" Atemu merona, apa yang tadi ingin ia ucapkan jadi terlupakan dengan kata-kata dari sang CEO.

"Nah..aku jenius. Tak perlu cara seperti itu untuk hal yang kuanggap bisa lebih baik jika kulakukan sendiri. " Kaiba tersenyum tipis padanya. Ia mengerenyit ketika melihat Atemu memandang isi kotak itu dengan tatapan sayu.

"Apa ini berarti aku istimewa? Ma-maksudku…" Ia cepat-cepat memperbaiki pikirannya yang tak sengaja terucap.

"Itu pasti kan? Yah,kurasa kau paham mengapa aku memberikan itu padamu." Kaiba mengambil kalung di kotak tadi dan beringsut mendekati Atemu. Ia merah padam ketika sang CEO memakaikan kalung tadi di lehernya. "Syukurlah ini cocok." Dilihatnya Kaiba tersenyum lembut memandang hadiahnya,sambil menyentuh pelan rantai perak, menelusirinya perlahan hingga menyentuh leontinnya. Atemu menggigit bibir bawahnya ragu.

"Tapi..kau sahabatku…"

"Lalu? Tak bolehkan 'sahabat'mu ini meminta 'sedikit' hal yang lebih dari sekedar hubungan itu?" Bola mata biru itu menatap lekat sang delima.

"Ah...itu.. tak percaya..Selama ini kupikir kau tak suka..maksudku…mungkin saja kau hanya mengakaliku dengan…ini. "

"Tentu saja tidak. Banyak caraku untuk mengungkapkannya dengan ribuan hadiah,kata, bahkan mungkin…" Ukiran wajah dengan lekuk yang terbaik, bola mata lazuli yang perlahan memandang sayu itu mendekat…"tindakan.." bisiknya lembut.

"Eh?" Atemu tak fokus pada pikirannya, ketika sepasang mata itu seolah menyihir, dan membuatnya takluk dalam pendarnya.

"Kau tak percaya?" Dirasakannya sang CEO menyeringai kemenangan. Namun kali ini, ia rasanya tak keberatan untuk kalah.

//Oh..sudahlah...// "Mmh...." Atemu menggeleng kecil kepalanya, tersenyum simpul tersipu,namun pandangannya tetap lekat pada sepasang lazuli dihadapannya.

"Kalau begitu....cukup kubuktikan saja 'kan?" Itu kalimat terakhir yang diucapakan Kaiba sebelum ia mempersempit jaraknya dan....

Sentuhan selembut kelopak mawar dengan wangi daun vanilli dan kayu manis....

xAkhir..untuk sebuah awal yang sempurna..x

Sugar....hm..honey..honey...

You are my candy 'boy' and you got me wanting you...

(revised lyrics by: me!)

Rio's Note:

Panjang juga ni crita...Aduh...malunya bikin ini...kebanyakan nonton Termehek-mehek nih... XD

1.Daku lagi musim kemarau di bagian ide fluff romance~ Dan karena tertimbun tugas-tugas yang nyaris tak mengijinkan mengetik fic ini. Tp demi memenuhi janji dgn K'Rei, kusempatkan slalu...Valentine or White Day juga,referensinya dari internet...(ga pernah ngerayain c...^^;)

2. Thanks to K'Widzilla, karena 'tag story' di DA membuat sy lebih 'lepas' dlm eksplorasi kata..ehehe..:D

3. Itu es krim kue keju..ENAK, Unik! Manthab, walau ngabisin kocek 12rb u/ cup kecil ukuran 200ml..belinya di resto deket tempat kuliah ane..mahal c,tp sebanding rasa lha..TwT (Untuk menu-menu lain yang tercantum disini, demi referensi yang dapat dipertanggungjawabkan,saya memakai hasil wisata kuliner saya..maklum, tukang makan..hehe) . Oh...es krim ini adalah inspirasi terbesarku untuk cerita Round Robin ini...

4. Saya ga tau apa bener bagian betis itu pegel ketika pertama main skate...tp klo melihat keadaan otot dan suhu luar, sy kira2 aja biar pas ma crita...(Sy cm tw klo naek kuda ,bagian paha ma selangkangan pasti pgel2..itu karena saya suka nunggang kuda..XD)

5. Chapter ini kudedikasikan khusus untuk Seto Kaiba sebagai hadiah ultahnya pada 25 Oktober kemarin(telat amat..)....dan partner kerjaku Amelia Kai, untuk tanggal 12 Desember nanti...Happy Birthday Dear Amel, Happy Birthday to you!!!!!!!!

Hope you all like this story!!! Thanks for reading!!!

And review us please!!