Everytime

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Genre : Hurt/Comfort

Reted : T

.

Chapter 2

.

Hinata mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja. Ia mengamati keadaan kelas yang hening. Tentu saja hening, mengingat hari ini diadakan ulangan dari Ibiki-sensei. Guru paling galak nomer satu di Konoha Gakuen.

Hinata memalingkan wajah, menatap keluar jendela. Angin musim panas berhembus menerpa wajah dan surai indigo Hinata. Ia dapat melihat murid-murid kelas 12-4 asyik bermain bola dan aksi sahabatnya yang menendang bola ke gawang.

Tanpa ia sadari, sudut bibirnya tertarik dan membentuk sebuah senyuman. Ia dapat melihat sahabatnya yang dikerumuni teman-temannya. Tetapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Hanya irisnya yang memancarkan kebahagiaan.

Hinata melebarkan senyumnya melihat ekspresi sahabatnya itu. Secara tiba-tiba, sahabatnya membalikkan badan menatap ke arahnya dengan iris hitam kelam. Menatapnya intens tepat di mata. Sahabatnya, Uchiha Sasuke membuat dirinya gelagapan. Ia mengalihkan pandangannya ke soal di atas meja.

Namun apadaya, ia tidak fokus mengerjakan soal terakhir itu. Ia masih terbayang dengan tatapan intens sahabatnya itu. Ia mencuri pandang pada Sasuke, sekadar untuk memastikan bahwa pemuda bersurai raven itu tidak menatapnya lagi.

Hinata benar-benar ingin pingsan saat ini juga. Pemuda itu masih menatapnya dan menyeringai saat mengetahui bahwa ia mencuri pandang kepadanya. Ia mengalihkan pandangannya dan menelungkupkan wajahnya. Ia berharap hari ini cepat berakhir.

.

.

Hinata menanti Sasuke di atap sekolah. Seperti biasa, ia akan makan bersama saat istirahat berlangsung. Ia menatap hamparan awan-awan yang mulai gelap. Hinata menatap jam tangannya. Sudah 20 menit ia menunggu, tapi Sasuke masih belum datang. Ini pertama kalinya ia menunggu Sasuke selama ini. Ia menatap datar kedua bento yang mulai mendingin.

Ia menghela nafas berat dan meraih sumpit. Untuk pertama kalinya ia makan sendirian tanpa Sasuke di sisinya.

.

.

Hinata berjalan sambil menunduk, tidak mempedulikan murid-murid yang menatapnya dengan pandangan mencela, dikarenakan Hinata yang jalan tak tentu arah dan menabrak orang lain. Sampai ada tepukan pelan di bahunya yang membuatnya mendongakkan kepala.

"Deidara-senpai?"

"Halo Hinata-chan," sapa Deidara sambil tersenyum.

Hinata tersenyum lemas, "Ada apa?"

"Kau lolos ke provinsi!" seru Deidara bersemangat.

Hinata hanya terdiam, entah kenapa ia merasa tidak senang mendengar berita dari Deidara. "Benarkah?" tanyanya asal.

Deidara resenyum kecut melihat adik kelasnya, "Ayolah Hinata. Kenapa kau tidak bersemangat seperti ini?"

Hinata hanya menatap iris Deidara. Deidara menghela nafas melihat reaksi yang ditimbulkan oleh Hinata. "Bukankah kau paling bersemangat mendengar hasil perlombaan Karya Ilmiah?"

"Entahlah, saat ini aku sedang tidak bersemangat Dei-senpai," jawab Hinata menunduk, mencengkram erat kain yang membungkus kedua bento yang dibawanya.

"Hmmm," gumam Deidara lalu tersenyum, "Baiklah, aku pergi dulu," tambahnya sambil mengusap-usap puncak kepala Hinata.

"Oh! Lihat! Sasuke!" seru Deidara berlari mengejar Sasuke. Mendengar nama Sasuke dielukan, Hinata langsung mendongak, mencari seseorang dengan nama Sasuke.

Hinata mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia meremas seragam di dada kiri atas, tepat di jantungnya. Matanya terbelalak, ia menghirup nafas sebanyak-banyaknya saat merasakan paru-parunya yang kekurangan oksigen.

Hatinya mencelos, melihat pemandangan yang berjarak 2 meter dari tempatnya. Melihat Sasuke yang digandeng oleh senpai-nya, Sakura.

"Sasuke, kemana saja kau selama istirahat?" tanya Deidara yang masih didengar jelas oleh Hinata.

"Ke perpustakaan bersama dengan Sakura," jawab Sasuke singkat. Hinata mengepalkan tangannya saat mendengar jawaban Sasuke. Ia berjalan cepat melewati Sasuke untuk menuju kelasnya.

Tanpa diduga ia malah menabrak pundak Sasuke. Ia hanya menunduk singkat sebelum berlalu meninggalkan Sasuke yang tampak kebingungan melihatnya.

"Hinata," gumam Sasuke. Ia bahkan tak menanggapi pertanyaan khawatir yang dilontarkan Sakura.

.

.

Hinata menatap kosong ke depan. Ia tidak tahu perasaan apa yang menghinggapinya hari ini. Melihat senpai dan sahabatnya saling bergandengan membuat dadanya terasa sesak. Bahkan suara guntur pertanda hujan tidak menghentikan lamunannya.

"Sampai kapan kau mau di situ?" tanya seseorang menutupi kepala Hinata dengan jaket biru dongkernya.

Hinata mendongak, tatapannya masih kosong. "Sasuke-kun?"

Pemuda itu hanya mengangguk, ia mengambil sepedanya. "Cepatlah naik, aku meminjam sepeda kaa-san ku," kata pemuda itu menjelaskan.

Hinata hanya memiringkan kepalanya, ia menyingkirkan jaket yang menutupi kepalanya. "Kenapa?"

"Bukankah kita-"

"Kenapa tidak Sakura-senpai yang naik?" Sasuke terdiam mendengar pertanyaan Hinata.

"Kau ini kenapa, sih?" tanya Sasuke mengernyitkan dahi. Hinata hanya menggeleng, ia menaruh jaket Sasuke di stang sepeda dan berlalu meninggalkan Sasuke. Tetapi, gerak reflek Sasuke mengalahkan rencana Hinata.

"Hei. Ini tidak ada hubungannya dengan Sakura. Cepatlah naik," kata Sasuke menarik tangan Hinata agar berbalik ke arahnya.

Hinata terdiam, tidak bergerak atau melakukan apapun. Melihat reaksi Hinata, Sasuke meraih jaketnya dan dipakaikannya kepada Hinata. "Aku tidak mau kau sakit. Cepatlah naik, sebentar lagi hujan," tambah Sasuke.

Jantung Hinata berdebar kencang mendengar penuturan Sasuke. 'Perasaan apa ini?' batinnya. Ia menatap iris onyx Sasuke yang menatapnya intens. 'Kenapa jantungku berdebar kencang?'

"Hinata," panggil Sasuke dengan suara rendah. Hinata mengepalkan tangannya erat, menahan gejolak di hatinya.

"Ya?"

"Jangan bahas orang lain jika hanya berdua," tambah Sasuke. Jantung Hinata berdebar tak karuan, membuat sensasi aneh yang menjalari tubuhnya. Sasuke memajukan tubuhnya, mendekati Hinata. Wajah Hinata semakin merona dibuatnya.

Cup

Sasuke mengecup dahi Hinata yang membuat Hinata salah tingkah. "A-ano, Sasu-senpai," kata Hinata gugup.

"Bukankah kau berjanji untuk tidak memanggilku senpai?"

'Apa aku boleh berharap?'

"Sasuke-kun, a-aku…"

'Bolehkah aku berharap kali ini saja?'

"Hn?"

"Ti-tidak jadi," kata Hinata kemudian duduk di tempat boncengan Sasuke. Ia memeluk pinggang Sasuke erat, tanpa ia sadari Sasuke tersenyum.

"Pegang yang erat, jangan sampai jatuh."

Hinata mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di punggung lebar Sasuke. Setelah itu Sasuke mulai mengayuh sepedanya.

Tetes-tetes air hujan mulai turun, membasahi bumi. Hinata semakin mengeratkan pelukannya, saat merasakan tetes-tetes air dingin membasahinya. Ia memejamkan matanya, menghirup aroma tanah, keringat dan mint yang menjadi satu. Aroma yang menenangkan, membuatnya merasa aman dan damai.

"Ke perpustakaan bersama dengan Sakura,"

Hinata teringat akan semua kejadian hari ini yang membuat perasaannya tak karuan. Perasaan sakit yang ia rasakan tadi kembali menghampinrinya. Ia menempelkan dahinya di punggung Sasuke bertepatan dengan hujan yang semakin mengguyur kawasan Kyoto.

Ia menumpahkan segala emosinya di punggung kokoh Sasuke. Air matanya mengalir dan membasahi seragam Sasuke. Ia mencengkram erat seragam pemuda bersurai raven itu.

'Kenapa kau membuat perasaanku campur aduk seperti ini?'

'Apa aku boleh berharap untuk menganggapmu lebih dari sahabat?'

TBC

Chapter 2 "Feeling"

A/N

Alohaaaa! Kembali lagi denganku~~ Jujur kangen update fic di FFn. Sayangnya saya tidak bisa update fic MO, HaP, I Realized T_T Harap maklum ya... Minna-san maafkan saya jika ada salah kata dan tutur kata selama ini, saya mohon doa restu untuk menjalankan UN pada 09-05-2016 supaya lancar dan mendapatkan hasil yang memuaskan #Aamiin. Ya, saya masih anak SMP dan bocah ingusan apalagi kurang berpengalaman : . Maaf jika kecewa ternyata yang buat fic aneh selama ini adalah seorang bocah.

Mohon doanya supaya listriknya gak mati mendadak atau njeglek karena saya menggunakan CBT. Btw, angkatanku angkatan pertama K13 yang CBT, apa ada yang senasib? :vv #gakadayangnanya

Oke sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf. Setelah UN, nantikan kejutan dari saya yang akan memborbardir archieve SH. Terima kasih. Bubyeeeee~~