TARGET

|| Kim Donghyuk || Kim Jiwon ||

|| Romance, Action, agak ber-rate? Fight!||


"This is Sherlock speaking, calling for Team Beta. Misi untuk menembak mati target berhasil saya laksanakan. Bagaimana keadaan disana? Bermain."

Punggungnya semakin merapat ke dinding rapuh tersebut. Sepasang mata tajamnya tetap memandang awas sekeliling meskipun daerah yang terlalap api dari ledakkan bom jauh dari tempat persembunyiannya.

"Roger, Matcha Green Tea disini melaporkan. Tidak ada yang terluka, kami semua sudah berkumpul disini termasuk kapten. Kapten sendiri sudah memastikan bahwa target berhasil di'selesai'kan. Mission complete. Kami memanggil seluruh anggota untuk kembali ke dalam helikopter. Helikopter akan datang dalam sepuluh detik. Kerja bagus untuk tembakkan jarak jauh pertamamu, Sherlock. Matcha Green Tea selesai melaporkan, Bermain."

Suara decakkan terdengar keras sebelum pemuda dengan nama panggilan Sherlock tersebut berdiri tanpa rasa takut dan meregangkan sedikit punggungnya. Berjam-jam untuk memperhatikan target bergerak dan mencari titik fokus memang melelahkan.

"Diterima, roger. Kenapa kau menggunakan kalimat formal? Aku bukan kapten dan kita juga berada di saluran anggota. Tim medis relawan maupun dari militer juga sudah berkumpul? Tidak ada yang terluka? Baik, dimenger-"

CLICK!

"-dimengerti, ganti."

Pemuda 'Sherlock' tersebut menggeram marah. Sebuah revolver biasa sudah menempel di pelipisnya. Seseorang yang menempelkan benda berbahaya tersebut juga sudah mengambil ahli walkie talkie dan menggoyangkannya di depan wajah si pemuda dengan ekspresi remeh.

Suara 'bzt' dari walkie talkienya terdengar lagi, sebelum pemuda tersebut bertindak, 'lawannya' sudah terlanjut mengganti saluran.

"Salute! Red Bean disini, maaf jika aku bicara di saluran inti begini tapi kami semua sudah berkumpul di tempat awal kita mendarat, helikopter sudah datang dan ada anak tahun pertama yang tak sengaja menjatuhkan walkie talkienya. Bahaya! Sherlock harap segera melaporkan posisinya sekarang juga."

Si bodoh ini...

"Wah, apa itu anak buahmu?" Pemuda bermata tajam tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah 'lawan'nya sekarang. Meskipun hari sudah gelap tapi keduanya sudah terlatih untuk bisa melihat dalam kegelapan.

"Sepantaranmu atau terlalu dungu, eh? Dan apa-apa itu? Namamu adalah Sherlock? Sherlock Holmes? Wow, detektif, aku takut?" Walkie talkie dimatikan dan seringaian membelah wajahnya. "Sangat manis, sama sepertimu bukan Kim Donghyuk?"

Sepasang mata tajamnya tak bisa untuk tidak terbelak kaget. Dia dan timnya bukanlah tentara, polisi, atau apapun itu. Profesi mereka agak aneh untuk masuk ke dalam kategori bagian kemiliterian, mengingat tak ada kapten tetap ataupun teman satu tim yang sama, membuat sesama anggota tim satu sama lain bisa saling tak mengenal satu sama lain apalagi nama asli –ada beberapa juga yang lupa dengan nama asli, tak memiliki nama asli dan ada sebuah larangan untuk menyebutkan nama asli.

Jadi bagaimana bisa musuh mereka mengetahui namanya?


"Red Bean, Matcha," Tubuh kedua pemuda tesebut menegang. Sang kapten baru saja berbicara secara langsung pada mereka untuk pertama kalinya.

"Ye, kapten!"

"Sherlock belum memberi kabar apapun?"

"Be-belum, kapten!"

Sang kapten memandang padang rumput yang mengelilingi mereka saat ini dengan tatapan kosong. "Baik kalau begitu, kita berangkat sekarang."

"Ta-tapi kapten-"

"Panggil aku dengan nama yang sesuai, nona Candy Jelly..."

"Y-ye...Kapten Ginger..."

Sang kapten dengan title 'Ginger'nya mengangguk-angguk pelan sebelum menepuk bahu salah satu anak buahnya yang memegang kendali transportasi terbang yang mereka naiki saat ini.

"Kita tidak punya banyak waktu, masih banyak orang seperti Sherlock diluar sana. Jangan sampai menunggu bala bantuan lawan terlanjut datang dan kita mati disini. Jangan hanya karena Sher-"

"Kapten!" Itu suara Red Bean yang tidak bisa menahan keterkejutannya. Ia merasa bersalah kalau mereka harus meninggalkan teman satu rekannya meskipun resiko seperti ini dalah hal biasa dilakukan oleh team senior mereka karena keadaannya yang mendesak. Ia merasa bersalah karena dia masih memberikan laporan padahal sebelum memberi laporan, ia sempat mendengarkan saluan umum mereka tapi masih tetap memberikan lapoan meskipun di akhir kalimat 'infomal' senior seumurannya itu bukan kata 'bermain' sebagai kode khususnya untuk mengakhiri 'laporan' melainkan kata 'over', kalau sampai itu terjadi dapat dipastikan Sherlock ditangkap musuh.

Jelas sekali, keabsenan Sherlock di antara mereka berenam dikarenakan kecerobohannya meskipun kekalahan telak Sherlock si petarung jarak dekat yang handal dalam kondisi apapun adalah hal yang langka.

Sepertinya satu-satunya gadis di antara mereka ini menyadari alasan mengapa Matcha berteriak. Ia juga melihatnya, Sherlock tengah berjalan mendekat dengan agak terseok di antara padang rumput yang meninggi.

"Tahan take off! Sherlock kembali, Kapten!"

Bukannya menyuruh sang pilot, justru kapten mereka mengangkat senjatanya yang selalu ia sampirkan di bahu, titik-titik merah mulai terlihat di puncak kepala Sherlock yang membuat 'si korban' berhenti di tempat.

"Kapten!"

"Diam," CKLIK! "Kita tidak tau posisinya lawan atau kawan, daripada mengambil resiko bukan?"

Semua orang disana terdiam, tubuh mereka menegang. Haruskah?

"Tentu saja tidak, brengsek," Matcha Green Tea langsung nekat terjun dari atas helikopter dengan ketinggalan 3 meter lebih. Sherlock adalah teman satu 'barak'nya, hanya Sherlock dan segelintir orang mengerikan lain yang berhasil masuk bersamanya ke dalam 'akademi' ini. Mereka berdua memang awalnya tidak saling mengenal tapi Matcha tidak bisa semudah ini membiarkan Sherlock mati begitu saja, misi mereka berhasil semua selamat dan Sherlock yang berhasil lolos sekarang malah dia bisa mati di tangan kapten mereka sendiri? Tidak akan!

"Matcha Green Tea! Kembali!"

"Hyung jangan nekat!"

"Goo Junhoe, itu berbahaya! Sherlock bisa jadi umpan dari lawan!"

Goo Junhoe tidak peduli lagi. Atribut yang dibuat secanggih dan sekeren mirip milik tentara yang ia gunakan satu persatu terlepas, angin malam yang sedikit bercampur pasir langsung menerjang tubuhnya yang hanya berlapis kaos hitam tipis.

Melihat Sherlock alias Kim Donghyuk dengan tatapan malang di balik ketegasannya benar-benar membuatnya iritasi.


"YAH! RED BEAN BODOH!"

PLETAK!

"ADUH! HYUNG! KOK AKU SIH!" Si Red Bean mengaduh keras, sialan pas sekali di ubun-ubun. Calon ketua memang tidak bisa diajak becanda.

"Sudah kubilang kalau di saluran inti apalagi bicara denganku gunakan 'bermain' bukan 'over' apalagi 'ganti'!" Si pelaku mengomel panjang lebar sementara pemuda di sebelahnya hanya mengorek-orek telinganya, malas sekali melihat kelakuan rekannya yang banyak tingkah padahal nyaris saja tewas tadi.

"Itu berarti orang korea kalau ganti, sementara kita kan sedikit orang korea! Otomatis juga itu musuh! Haduh, kau ini! Aku hanya senior 2 minggu darimu tau?!"

"Iya iya maaf!" Red bean memohon-mohon ampun, jitakkan seniornya itu luar biasa tapi jangan sampai menunggu dia marah besar, ujung pistol bisa langsung berada di dahinya.

"Sudahlah, maafkan saja," akhirnya pemuda 'korek-korek telinga' itu membuka suara. "Ini sepenuhnya salahmu, salahnya, dan kita semua juga –oke bukan kapten nanti dia langsung lempar granat. Yah, jangan saling salah menyalahkan saja. Beruntungnya kau cerdik atau setelah Red Bean, Chocolate Pudding akan menangis sampai meraung saat upacara kematianmu itu."

Si Sherlock menahan serangannya di atas kepala Red Bean yang sudah siap sedia dihantam, matanya mengerjap pelan sebelum badannya menegak dan menghadap ke arah pemuda yang lebih tinggi darinya itu dengan tampang kagum.

"Wah, hoksi uri Goo Junhoe sudah dewasa!" Sherlock bertepuk tangan riang, moodnya tiba-tiba naik. Itu membuat Red Bean merasa agak ngeri dan mau tak mau membuatnya sok-sokkan mengerti dengan ikut bertepuk tangan dengan kakunya untuk cari aman.

"Yas! Kim Donghyuk! Kau ini juga ceroboh sekali!" teriak pemuda yang diketahui bernama Goo Junhoe ini, jengah dengan sikap childish kedua anak yang seumuran dengannya itu, terutama pada si Sherlock. Nada dan penggunaan katanya yang terdengar dewasa tadi langsung menguap begitu saja. "Sudah kubilang berapa kali jangan panggil aku dengan namaku! Kalau ada musuh yang dengar dan tau bagaimana?"

Sherlock atau nama aslinya adalah Kim Donghyuk hanya nyengir garing sementara Red Bean berusaha untuk mengendap-endap, kabur menemui sohibnya, Choco Lava.

"Memangnya itu benar-benar namamu, Goo?" Cengirannya makin melebar. "Siapa tau kau seperti kapten Ginger dan Candy Jelly yang kadang-kadang lupa nama sendiri atau Red Bean yang suka bergonta-ganti nama?"

Goo Junhoe mendengus keras dengan hidung polusinya tersebut. "Sialan kalian semua. Jadi benar kata Bubble kalau kalian semua pakai nama palsu? Ck, aku tertipu!"

Donhyuk tergelak hebat, tanpa sadar Red Bean sudah menghilang.

"Astaga Goo! Aku juga pakai nama asli astaga! Kalau bukan karena namaku dan paspor kadaluarsa, ibuku tidak akan mengenaliku lagi kalau pulang!"

Junhoe mendengus lagi, masih kesal. "Tapi benar bukan soal Ginger dan Chocolate Pudding?"

Donghyuk terkekeh pelan sebelum merangkul bahunya yang agak membuatnya kesulitan. "Bukankah nama Jeon Jungkook terlalu keren untuk Ginger? Antara seram karena namanya mirip Sparta Jongkook dan lucu bersamaan ketika si Choco Lava yang sama raksasanya denganmu itu memanggilnya 'Kook' atau 'Kookie'. Tentu saja berubah menjadi Ginger Cookies yang manis. Yeah, he is." Donghyuk mengangguk-anggukknya kepalanya sebentar sebelum melanjutknnya kembali. "Chocolate Pudding bilang nama aslinya benar-benar jadul, what kind of old with name like Jisoo Park? Wohoo, i don't unders-"

Percakapan mereka terhenti sebentar ketika bahu keduanya ditepuk lembut oleh seseorang.

"Guys, don't u hear that alarm to take off already-"

"Please stop, Candy Jelly Love. Ur accent still Japanese," Donghyuk menurunkan tangan gadis berambut pendek tersebut sembari mengulas senyum jahil sementara Junhoe hanya roll his eyes.

Mata si gadis memicing tak suka. "Aku pikir kita sudah membahasnya, Tuan Sherlock, " Tangannya terlipat di depan dada, bibirnya agak cemberut. "Kau tau aku bukan member Lovelyz, dan tidak akan pernah menjadi member mereka yang manis begitu."

"Pardon him," sahut Junhoe tak di undang. "Dia selalu bilang akan mencari identitas kita semua sampai ke senior absurd yang sok asik tak tau umur lalu mulai memanggil kita semua dengan nama asli. Well, he never do it."

"Oke oke Mina, maaf," Donghyuk tersenyum lebar. Deratan gigi rapihnya terlihat, eyesmile pun juga, dan muncul dimples di kedua pipinya. "Urusi saja Chocolate Pudding, dia pasti sudah gemetar ketakutan."

Mina mengangguk-angguk pelan sebelum melangkah kembali masuk ke kabin pesawat. Beberapa jam lalu mereka baru saja berpindah dari helikopter ke pesawat mewah ini –mungkin dibiayai oleh senior datar mereka seraya berkata, "Kau tidak tau betapa takutnya Jihyo pada apapun, yah kecuali pistol dan panah sih."

Donghyuk tertawa keras, menggelegar sampai tubuh Mina menghilang tertutup tirai.

"Sampaikan salamku padanya! Jangan menangis ya! Jangan sok garang kalau memegang walkie talkie saja belum becus! "

Junhoe menatap ngeri ke arahnya. Mungkin sudah saatnya dia menyesal rela mati demi membawa bocah ini kembali.


Semua orang di dalam pesawat nyaris bernafas lega begitu melihat persediaan parasut mereka sudah dirusak oleh Red Bean akibat perkelahian berbeda postur dengan Choco Lava. Kalau tidak, mungkin saja Kapten Ginger dengan 'nama' Jeon Jungkooknya (dengan bantuan Mina si Candy Jelly) sekarang sudah mendorong Donghyuk dari atas ketinggian 4 kaki tanpa atau adanya si parasut.

"Yash! Pendaratan yang bagus bukan?" tanya Donghyuk riang seraya merangkul si Red Bean yang wajahnya sudah berubah warna. Setelah perkelahian kecil, dia baru sadar kalau ketinggian bukanlah keahliannya.

"Tidak juga," potong Choco Lava tiba-tiba menyeruak di antara mereka berdua tanpa menyadari ukuran tubuhnya. "Pilot nyaris terantuk langit-langit. Kalau bukan karena Jihyo berteriak lagi, roh kita pastinya sudah memandangi nisan tak bernama. June juga muntah kalau mau tau."

"Itu bukan aku, bodoh!" Kali ini June yang menyeruak dan Red Bean benar-benar mau mati rasanya. "Itu perutku, salahkan mere-argh!"

"Wow wow wow," Donghyuk menatap prihatin meskipun rasanya asik juga kalau menarik tangan Junhoe dan membawanya memutari lapangan lepas landas ini. "Kasian sekali kau. Perlu penanganan Kak Yuju kah? Dan kau juga, Bam." Terakhir, pemuda berdimple ini menoleh ke arah Red Bean yang mungkin tidak sanggup untuk menggerakkan kedua kakinya lagi.

"Ugh, aku bukan Bam tapi khunpi-urgh!"

"Malangnya," Choco Lava langsung turun tangan dengan membopong kedua bocah aktraktif tersebut tanpa kesulitan sama sekali. Dia tertinggi dan terbongsor sementara Red Bean setengah dari dirinya, bahkan tubuhnya lebih kecil dari wanita sekalipun.

Donghyuk masih asik turun lambat bak Miss Univer sambil memperhatikkan Junhoe yang pasrah di geret dan Red Bean alias Bambam digendong di bahu seperti karung belum pernah semenarik ini sampai sepasang mata tajamnya menangkap sesuatu yang aneh.

Lapangan agak berumput yang biasanya dipakai untuk tempat bermain anak-anak dari desa sebelah ini baru sekali dijadikkan tempat transportasi mereka untuk mendarat. Organisasi tidak berani membuat lapangan lepas landas sendiri di ruang terbuka, dari atas ketinggian akan banyak orang yang curiga. Seharusnya tak ada yang disini, di waktu tengah malam begini.

Tapi ada seseorang yang bersembunyi di balik mobil tangki disana.

Lengkap dengan jaket kulit dan topi hitam.

Revolver murahan. Orang bayaran eh?


"Chicken kepada Arsene. Masuk, Arsene."

"Ya, Arsene ada disini. Laporkan."

"Pesawat mereka sudah mendarat, tidak mulus tapi tak berisik dan meninggalkan jejak. Kau yakin orang yang benar? Masuk."

Seringaian tercipta di bibirnya. "Kapan Arsene Lupin salah? Ngomong-ngomong too slow, aku sudah ada di sini bersiap-"

CKLIK!

CKLIK!

"Wah bukan orang sembarangan rupanya," sahutnya seraya melepaskan seluruh atribut, mulai dari baju anti pelurunya yang melekat di tubuh dengan cepat. Salah gerak sedikit salah satu dari mereka akan berakhir dengan peluru yang menembus kepala dan pemuda ini tak suka membunuh tanpa di dasari apapun.

"Mata yang bagus, Sherlock," Seringainya semakin melebar dan moncong pistolnya semakin menekan tulang dahi pemuda di depannya tersebut. "Tak salah lagi. Setelah Jeon, kau akan menjadi penerus Jaebi dan Mr. Pringles."

Donghyuk berdecak keras. Ketenaran kedua seniornya yang disebutkan tadi bukanlah hal yang tabu, mengingat keduanya paling berpengaruh di dalam organisasi mereka, bahkan banyak yang curiga bahwa keduanya beserta keluarganya adalah orang-orang di balik berdirinya organisasi tersebut.

"Hah, lucu sekali," Pistolnya semakin menekan dahi sang musuh tapi lawannya tak melakukan hal yang sama. "Siapa yang kau cari? Mengincar Khunpimook Bhuwakul? Jeon Jungkook? Atau Park Jisoo?"

Persetanan dengan menyebutkan hampir semua nama asli kawannya, Donghyuk sudah tau perihal keberadaan ketiga temannya yang selalu diincar banyak orang dan komandon sendiri sudah memberikannya tugas untuk melindungi mereka bertiga. Kata Tim Alpha –senior mereka dari 91-95 lines–, setiap tim pasti akan ada orang-orang sejenis mereka, bukan berasal dari keluarga terpandang –bahkan beberapa dari mereka tak tau memiliki keluarga atau tidak, anak panti asuhan, lupa dengan identitas sendiri, tak punya peran penting di tim ataupun berbakat tapi nyawa mereka banyak sekali yang menginginkannya.

Donghyuk merasa menang sekarang saat seringai lelaki berpakaian serba hitam di depannya (padahal dia memakai masker tapi kenapa tercetak sekali?) lama kelamaan menghilang dan mulai tak berekspresi.

"Kau."

Senyum yang nyaris menghiasi wajahnya lenyap. "Apa?"

"Yang kucari kau, bukan Red Bean Bambam, Ginger 'Kookie', atau Chocolate Pudding Jihyo tuan Sherlock," Kali ini sang lawan yang berada di atas angin. "Atau kau harus kupanggil Kim Donghyuk lagi?"

"Brengsek," Pistolnya sudah terlalu siap untuk memuntah timah panas dari dalam sana. "Kutanya sekali lagi, apa maumu?"

Pemuda di depannya tertawa liar. Benar-benar menggangu sistem pendengaran tapi Donghyuk harus sabar, setidaknya dia tidak sebodoh Lalice alias Rainbow Cake yang langsung menembak pengintai dari atas helikopter yang sedang terbang saat tau kalau yang dia incar adalah Jaebum dan kakak kesayangan mereka, Lee Hayi.

Dia harus tau alasan kenapa pemuda yang sepertinya lebih tua darinya itu tau semua informasi mereka sampai nama asli juga. Kalau perlu dia juga harus tau alasan mengapa banyak yang mengincar ketiga rekannya tersebut.

Tunggu. Tunggu dulu. Aneh kenapa bisa langsung ada yang tau daerah pendaratan pesawat kita? Bahkan pusat belum tentu tau karena ini kepulangan dadakkan. Jangan-jangan dia-

"Yaps, you're right," Tangannya langsung berubah menjadi posisi defensif dengan pistolnya yang sengaja dijatuhkan begitu saja. "Siapa lagi yang tau posisi kalian selain musuh? Ya, aku yang tadi. Yang melepaskanmu itu. Yang kau kira hanya dengan jurus ular bela dirimu itu, membuatku langsung otot dan sendi tubuhku mati rasa. Kau belum melihatku dengan jelas dan kita belum berkenalan dengan baik bukan?"

Tangan kanannya bergerak dan sumpah, Donghyuk merasa payah sekali dengan mengacungkan sebentar moncong pistolnya itu ke arah tangannya yang bergerak mencurigakan seperti seorang amatir.

Masker yang sedaritadi menutupi bibir dan seringainya terbuka.

"Halo, Kim Donghyuk my Sherlock. Freut mich, aku Kim Jiwon. Kita sekarang impas sayang."

.

.

-countinous/?

Hai? Fans JiDong mana suaranyaaaaaa /diguyur air tetangga/

Kayanya dikit yah? Kiw, mau gimana nih? Lanjut atau tidak? Liat review sih /dasar /maruk/?

Well, ini action. Full action dan SEMUA ANAK 97 MAINNNN SHOUT UR BIAS NAME! Yach, karena saya kudet gila –got7 winner ikon dan gb sayang sudah membutakanku– kalo ada boy atau girlgroup yang gils ada anak 97 lines (duh, siapa ya. svt, bts, got7, twice, nct u, monsta x/? /adagaknih )

Ada lagi gak? 96-98-99 juga diusahain semua karena mereka dikit dan aw aw banget:3 (udah lama, udah kangen sama moonbin ketemu chanwoo lalu bermain sama di rumah shannon/? Lalu suhyun dan sua ngerecokkin/? Hanbin pun datang bersama chanhyuk untuk menjemput mereka yang gak pulang-ulang padahal dah magrib/?). uwuhu, ini bakalan sad awalnya tapi dijamin happy kok. Cukup Sick aja yang sedih, dongie jangan (karena kucinta dongie!)

Maaf ya full kekurangan banget, ini efek dots sih nyahaha (dan udah lama gak nonton atau baca berbau action heum) dan pengetahuan tentang action minim gila tapi semoga itu gak menghambat kalian buat menikmati/? next ada kangyoon dan pair anak got7 (sad) apa kabar binhwan? Percayalah, udah nulis sampe selesai dan bip! Laptop mati, data ilang semua :") senyumin aja udah:) ff ini bakalan sepanjang cerita bad blood, panjangan bad blood sih sebenernya tapi gak complicated kaya bad blood sip. Dadah ya? dadah!