Author's note: WWWW Senangnya si pelaku meninggalkan review wwww! Dan thank you sooo much buat fave serta follownya, terutama untuk Cirer yang udah jadi reviewer serta follower pertama fict gaje ini! And thanks buat Ming-hime telah menjadi reviewer ke-2!
Saya harap se-OOC-nya Kakek Kungkang- maksud saya, Kakek Sieghart... Baiklah, saya ralat. Saya harap se-OOC-nya AERKNARD SIEGHART YANG GANTENG (tuh biar seneng lu Gladiator playboy!) di fict ini, masih fit buat sosok seorang Sieghart yang playboy nan narsis.
Wokey! Langsung ke chapter selanjutnya dan kali ini, kehormartan POV diserahkan pada kakek... setidaknya, sampai titik-titik pembatas LOLOLOLOL
Hope you enjoy this piece of fanfiction!
Chapter 2
Suara kicauan terdengar nyaring, menandakan bahwa matahari sudah terbit di ufuk timur. Perlahan, kubuka sepasang mataku, langit-langit kamar mulai terlihat jelas. Kepalaku terasa begitu berat. Ah... mengapa gaya gravitasi kasur di pagi hari begitu kuat dibanding saat malam hari, hmm? Pada dasarnya, aku bukanlah mahluk nokturnal, bukan pula mahluk diurnal. Hanya akan bangun di saat yang diinginkan atau saat keadaan genting.
Seandainya ini rumah sendiri, sudah kulanjutkan tidurku. Kupaksa diriku melawan rasa kantuk, bangkit dari kasur dan berjalan keluar dari kamar. Kutemukan si bocah bersama Ibunya berada di ruang makan, sedang menyantap sarapan. Will mengenakan setel pakaiaan yang aneh bagiku. Sebuah aktentas disandar pada salah satu kaki kursinya. Ah... apakah ini yang dinamakan 'seragam sekolah'? Dan seperti inikah seragam sekolah dunia nyata? Tidak beda jauh dari yang ada di Aernas.
"Yo," sapa Will. "Mau bergabung?"
Aku mengambil duduk di sebelah Will. Di hadapanku, ada sepiring sarapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Nasi dan daging yang dibungkus dalam telur dadar, seperti kue pie.
"Namanya Omelette. Aku yakin tidak satupun benua Aernas yang memilikinya."
"Apakah ini enak?"
"Kau meragukan masakan Ibu-ku?"
Satu suap masuk ke dalam mulutku. "Hei, tidak buruk. Kau ada kopi?"
"Di kabinet yang itu."
"Eh... tidak usah repot-repot, Aerknard. Biar aku yang membuatkannya untukmu," aku segera menghentikannya sebelum wanita ini sempat berdiri.
"Tidak apa-apa. Aku akan menyeduhnya sendiri."
Dua sendok makan bubuk kopi kutuang ke dalam cangkir, kemudian menyeduhnya dengan air panas. Tak lama kemudian, wangi kopi menyerbak keluar, memanjakan penciumanku.
"Tak kusangka orang yang suka tidur juga bisa suka kopi," canda Will.
Aku berbalik, duduk di sebelahnya. "Tidak ada salahnya, bukan?"
"Kau tahu? Kukira kau lebih menyukai susu karena ia bisa membantumu tidur."
...Hei, seharusnya kau yang menyukai susu, bocah. Aku sudah berumur lebih dari 600 tahun dan susu sudah tak pantas untukku. Kopi adalah minuman yang cocok untukku. Well, meski kopi malah membuatku bangun, bukannya tidur.
Setelah beberapa menit, Will berdiri, mengambil tasnya dan berlari keluar setelah pamit pada Ibunya. Sementara aku masih duduk di meja makan, menikmati secangkir kopi yang mulai dingin dan omelette yang tersisa setengah. Mungkin ada baiknya aku berkeliling agar tahu lebih banyak mengenai dunia serba baru serta aneh ini.
"Aerknard?"
Aku menoleh. "Ya?"
"Kau tidak berangkat ke sekolah?"
"...Aku tidak sekolah."
"Eh? Kenapa?"
"Err... aku tidak bisa menjelaskannya..."
Keheningan terjadi selama beberapa saat. Ia tersenyum, manggut-manggut. Anggap saja ia paham dengan kondisiku.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau membantuku bersih-bersih?"
Hmm... aku memanglah pemalas tetapi, aku sudah berhutang banyak pada keluarga ini karena telah membiarkanku tinggal dan makan di sini tanpa membayar sepeser uangpun. Menolaknya tentu tidak sopan jadi, aku mengangguk, bersedia membantunya. Ia kelihatannya sangat senang.
"Jadi, apa yang bisa kubantu?"
"Ah... komputer Will ada masalah sehingga harus dibawa ke tempat reparasi," jawabnya. "Aku tidak kuat membawanya dan suamiku sudah lama berangkat kerja."
"Oh... benda itu..." gumamku. "Jadi kotak aneh itu namanya komputer..."
Nampaknya, gumamanku terdengar olehnya. "Eh? Kau tidak tahu tentang komputer?"
"Ya... begitulah," aku terkekeh.
Lagi-lagi, ia memberikanku tatapan heran itu. Normal saja aku tidak tahu mengenai barang itu. Aku dari dunia yang berbeda, dimana yang tahu tentang peralatan canggih hanyalah mereka dari Kounat dan itu adalah Mari. Jika dipikir lagi, tidak mengherankan reaksi wanita ini. Mereka hidup dalam era modern dimana teknologi canggih sudah satu raga bersama mereka. Seakan tanpa teknologi, manusia di era ini tidak bisa hidup.
Sesudah membersihkan ruang makan, kami naik ke kamar Will. Aku tidak tahu banyak tentang teknologi, namun setidaknya, aku tahu bahwa tali-tali berwarna hitam di samping komputer itu adalah yang dinamakan kabel listrik. Aku tahu setelah tanpa sengaja menginjak kabel listrik dari salah satu mesin Mari, menyebabkan mesin itu malfungsi. Teringatlah bagaimana Mari memarahiku dan memaksaku untuk membantunya memperbaiki mesin. Aku tertawa dalam hati kala mengingat masa-masa itu.
Wanita itu memintaku untuk membawa kotak hitam yang dinamai CPU. Dilihat dari ukurannya, nampaknya benda ini cukup ringan. Baiklah, aku tarik kata-kataku yang tadi. CPU ini sangat berat. Entah CPU-nya yang berat atau karena aku jarang sekali mengangkat barang berat? Ia memanduku perlahan turun ke lantai bawah, kemudian keluar dan meletakkan CPU di dalam sebuah transportasi yang aneh. Apakah ini kereta kuda? Mana kudanya?
Terlalu banyak benda aneh di dunia ini...
Setelah beberapa kali naik-turun, semua bagian komputer sudah dipindahkan ke dalam kereta yang dinamakan mobil. Aku menjatuhkan diriku ke permukaan sofa, kedua pundakku terasa nyeri dan lelah. Wanita itu keluar dari dapur, memberikanku segelas jus jeruk sebelum meninggalkanku untuk mengerjakan hal lainnya. Rasa segar jus jeruk seketika itu mengembalikan semangatku. Niat untuk berkeliling kembali terlintas dalam benak.
Aku menoleh ke jendela, melihat betapa cerahnya cuaca di luar sana. Matahari bersinar terang, tak ada awan putih yang melintas di angkasa biru; sebuah hari yang cocok untuk jalan-jalan. Berselang beberapa detik kemudian, terdengar suara mesin, diselingi bunyi bising yang mengilukan telinga, seperti yang biasa kudengar di Archemedia. Aku mendengarkan dengan seksama, menyadari bahwa suara deru mesin berbeda jauh dari apa yang sering kudengar di benua peperangan itu.
Aku menemui wanita itu, mengutarkan niatku untuk berkeliling. Ia mengizinkanku untuk keluar setelah aku mandi dan berganti pakaian. Setelan pakaian yang hari ini kukenakan begitu aneh dan... terkesan sederhana. Hanya baju katun berlengan pendek dan celana biru yang agak kaku ini. Tetapi, sisi baiknya adalah pakaian ini tidak membuatku kepanasan.
Dunia ini benar-benar berbeda dari Archemedia maupun Kounat yang kukenal. Banyak sekali benda asing di sekitarku. Kereta besi beroda empat atau lebih berlalu-lalang di jalanan, asapnya membuatku batuk sehingga aku masuk ke dalam sebuah toko, melihat keadaan jalan dari dalam. Di antara kereta besi, ada beberapa kendaraan aneh beroda dua.
Duniamu memiliki kendaraan yang sungguh aneh, Willington. Aku berjalan keluar, menelusuri trotoar, melihat lebih banyak benda-benda aneh. Kotak besi yang bisa mengeluarkan uang kertas, kaleng-kaleng yang kuduga berisi minuman dan terkadang makanan; dua kaca yang bisa bergeser sendiri ketika ada orang di depannya; kotak yang bisa membawa orang ke lantai atas dan seterusnya. Manusianya pun jauh lebih banyak dari Serdin dan Kanavan digabung, sungguh sibuk kota ini.
Suara bising mengejutkanku. Aku berbalik, melihat wajah marah orang-orang yang berada di dalam kendaraan aneh itu.
"Bocah! Menyingkirlah kau!" seru salah satunya. "Kau mengganggu jalanan!"
Aku tidak mengindahkannya dan berjalan masuk ke sebuah gang besar. Di sisi kiri dan kanan gang ini banyak toko yang menjual makanan kecil dan minuman. Makanan yang dipajang begitu menggoda. Sayang, aku tidak memiliki uang dunia ini sama sekali. Meminta dari keluarga Willington meskipun sedikit tetaplah tidak baik.
Langkahku terhenti saat aku menginjak secarik kertas. Aku mengambil kertas itu, mengamatinya. Tertera beberapa angka dan ada sekalimat bertuliskan 'bawa loteri ini jika kau memenangkannya ke lokasi berikut'. Loteri? Apa itu? Apakah kertas ini bisa memberikanku uang?
Aku membalik kertas loteri, menemukan peta yang menuntunku ke tempat dimana aku harus membawa loteri ini.
Sampailah aku di sebuah toko kecil. Aku mendekati nenek yang menjaga toko itu, memperlihatkannya kertas loteri. Ia mengamatinya sejenak, kemudian tersenyum padaku. Ia mengeluarkan selembar kertas, menyodorkannya padaku.
"Kau menang lotre, anak muda."
Aku melongo. Aku? Menang?
"Kau bawa saja cek ini sebagai bukti ke bank yang ada di belakangmu itu," katanya. "Mereka akan memberikan uangnya padamu. Dan, ada baiknya kau segera membuat kartu debit juga."
"Kartu... debit?"
"Ah... Sepertinya kau pendatang baru," ia merongoh isi dompet, menarik keluar sebuah kartu. "Ini adalah kartu debit. Kau bisa memakainya di menis penarik uang atau yang lebih dikenal ATM. Seperti yang di sana."
Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya, melihat kotak ajaib yang bisa mengeluarkan uang. "Baiklah, terima kasih."
"Semoga harimu menyenangkan, anak muda. Aku harap kau bisa menggunakan uangmu sesuai kebutuhan dan sisahkan sedikit untuk beramal."
"Terima kasih atas sarannya."
Dewi Fortuna, terima kasih banyak untuk berkah di hari yang sangat cerah ini! Aku bergegas menuju apa yang dinamakan bank, menukarkan kertas tersebut dan mendapat uang yang kelihatannya cukup banyak. Kemudian, aku meminta dibuatkan kartu ATM. Prosedurnya cukup rumit, namun semuanya dapat berjalan mulus.
Baiklah, selangkah lebih maju dalam mengejar ketertinggalan teknologi! Hmm... mungkin ada baiknya aku mengunjungi bocah itu di sekolahnya...
...
"Berapa kecepatan bola sebelum menyentuh tanah?"
Fisika memang membuat kepalaku sakit. Aku menatap ke luar jendela, mengistirahat daguku di atas telapak tangan. Termenung. Bagaimana kabar Sieghart di rumah, ya...? Aku yakin ia hanya menjalankan rutinitasnya -tidur siang. Sesuatu mengenai kepalaku, secara refleks aku menoleh, mendapati guruku sudah siap mengamuk.
"Willington! Lagi-lagi kau mengkhayal!" tanyanya.
Aku membisu kala ditertawai oleh teman-temanku.
"Diam!" ia menggebrak mejanya. Kelas langsung hening. "Willington! Ambil kapur itu dan kerjakan soal ini!"
Aku memutar bola mata, membungkuk untuk mengambil kapur itu dan berjalan mendekati papan tulis. Ketika aku hendak menuliskan rumus, suara teriakan memenuhi ruang kelas. Apa gerangan yang tengah terjadi? Semua siswi berdiri di balik jendela, berteriak-teriak ala fangirl, apakah ada artis KPop lewat di depan sekolah?
"Kyaaaa! Siapa pria tampan itu?!" teriak salah seorang diantara mereka.
"Tidak tahu! Mungkin murid baru?"
Rasa penasaran kian menghantuiku, didampingi oleh sebuah firasat aneh. Aku bergabung di antara mereka, melihat seseorang yang sangat, sangat tidak asing berdiri di depan pintu.
"Apa?!" aku berlari keluar dari kelas, segera menemuinya.
Ia berdiri di sana, ketenangan melukis wajahnya. "Oh? Sedang jam istirahat, bocah?"
"Apa yang kau lakukan di sini, bodoh!? Cepat kau pulang dan bantu Ibu-ku!"
"Ya... tugasnya sudah selesai jadi, tidak ada salahnya 'kan, mengunjungi kawanku di sekolah?"
"Well, aku merasa tersanjung atas pengakuan itu tetapi, kau harus pulang sekarang!"
"Hei, hei, aku baru saja sampai. Setidaknya, biar aku lihat-lihat..."
"TIDAK YA TIDAK! Cepat kau pulang atau-"
"KRINGGGG!"
...Sial...
Aku berbalik, melihat kerumunan siswi perempuan berlarian ke arah kami. Begitu mengerikan pemandangan ini. Mereka berteriak-teriak girang, menyerukan 'PRIA TAMPAAAAANNN!' sepanjang lari.
"Wow. Siapa mereka? Fans-mu? Padahal aku jauh lebih bertampang dibandingmu."
Tanpa pikir panjang aku menarik Sieghart, kabur dari kerumunan siswi yang sudah dapat disamakan sebagai hiu kelaparan. Tidak, lebih tepatnya karena aku membawa lari Sieghart, mereka adalah lebah-lebah yang marah sarangnya dibawa lari.
"Kalau kau tidak mau mati, lari lebih cepat, Kungkang!"
"Hei! Lihatlah siapa yang bicara, bocah!"
Terserah! Jangan bilang aku belum memperingatkanmu! Aku sengaja menikung memasuki sebuah ruang kelas, membiarkan Sieghart 'menikmati' dulu status barunya sebagai idola sekolah. Aku ada urusan mengenai guild war bersama kawan-kawanku.
Sieghart, kudoakan keselamatanmu dan semoga kembali dalam kondisi utuh dan sehat sentosa.
"Tuan Tampan! Ayo! Nikahi aku!" seru mereka serempak.
Sebuah desahan keluar dari mulutku. Sieghart, semoga kau selamat.
...
Aerknard Sieghart, sang Pahlawan Legendari Kanavan, Highlander terakhir, kini terjepit dalam sebuah situasi yang sangat mengancam nyawa. Ia masih dikejar-kejar oleh para siswi, semakin jauh ia berlari, semakin bertambah pula pengejarnya. Sieghart menelan ludah, panik. Ia berdoa-doa Mari muncul sekarang juga dan menyelamatkannya dari situasi menegangkan ini.
Oh, ya, ini bukan Aernas.
"MARIIIIIII!" pekiknya dalam hati.
Tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh terus begini! Sieghart dengan gesit menyela di antara kerumunan murid, lincahnya bagai kancil menyelamatkan nyawanya. Ia mengumpulkan kekuatannya, berusaha memadatkannya menjadi sepasang pedang. Setidaknya, cara ini bisa menakut-nakuti mereka. Ia mengacungkan tangan kanannya, barulah saat itu menyadari bahwa ia tidak tengah menggenggam sepasang pedangnya. Tangan kosong. Sieghart membelalak tidak percaya.
"A... Apa yang... Apakah karena aku berada di dunia ini, kekuatanku juga hilang di saat yang bersamaan?!" batinnya.
Kerumunan siswi yang mengejarnya berhenti tidak jauh darinya.
"Dan di saat seperti ini pula!"
Tidak memiliki opsi lain, ia kembali melarikan diri dari maut. Dan pada saat kritis inilah, ia kembali bertemu dengan orang yang telah membawanya (secara tidak langsung) ke dunia nyata, Willington. Sieghart langsung menyambar lengannya, kotak makan siang siswa itu jatuh ke lantai, tertinggal begitu saja. Willington hanya bisa pasrah meratapi makan siangnya yang malang dan perutnya yang apes pada siang cerah ini.
Para siswi menyerah ketika bel tanda masuk berdering. Sieghart dan Willington ambruk, duduk saling memunggungi di bawah sebatang pohon, mengatur napasnya yang sudah terputus-putus. Si Highlander memberikan saputangan pada kawannya, menyuruhnya untuk menghapus keringat.
"Will, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ucapnya ketika napas kembali stabil.
"Hmm? Kau menikmati dunia ini?"
Sieghart terkekeh. "Tetapi, bukan hal itu yang ingin kukatakan," keduanya berbalik, menghadap satu sama lain. Wajah Sieghart berubah serius kala ia berkata, "Aku telah kehilangan kekuatanku."
Untuk kesekian kalinya, terjadi keheningan canggung.
"...Tolong ulangi sekali lagi."
Sieghart menghela napas. "Aku. Kehilangan. Kekuatanku."
"...BAGAIMANA BISA?!"
"Entahlah," Sieghart mengangkat bahu. "Mungkin karena dunia ini bukanlah dunia magis macam Aernas, maka kekuatanku-pun ikut hilang seketika aku sampai di sini. Aku mencoba memanggil sepasang pedangku tetapi, nihil. Dan pada saat itu terjadi, aku baru sadar bahwa sesuatu telah berubah dalam diriku."
"Sesuatu seperti...?"
"Hmm... intinya, kekuatanku perlahan menyusut, mendekati yang dimiliki manusia biasa. Aku tidak bisa melakukan teknik-teknik itu," ia menggeleng, nampak pasrah. "Kalau begini terus, sepasang pedangku hanya akan jadi tusuk gigi saja."
"...Kita harus mengembalikanmu secepatnya ke Aernas."
Ares itu hanya mengangguk. "Meski... aku mulai menyukai dunia ini, tapi, aku sadar bahwa ini bukanlah tempat untuk orang sepertiku. Aku adalah petarung; dunia yang damai bukanlah tempat yang cocok untuk menjalani kehidupanku ini."
"Wow... Itu... sangat dalam..."
"Ha, aku memang bijak. 600 tahun lebih bijak darimu, bocah."
Will terkekeh. "Kau mengingatkanku pada kisah Tiga Kerajaan, dimana ada orang yang bernama Cao Cao dijuluki sebagai 'Pahlawan dalam Kekacauan', tetapi dalam masa damai, ia-lah musuh terbesarnya. Sudah, kau pulang sana. Kau tahu jalan pulang?" sesuai dengan dugaannya, Sieghart menggeleng. "...Apa boleh buat. Sekolah bubar sekitar empat jam lagi jadi, kau harus menungguku jika tidak mau tersesat."
"Apa? Kau tidak bisa membuatnya lebih cepat? Minta izin atau apapun!"
"Tidak bisa, kakek. Aku ada remedial Bahasa Inggris nanti."
"Remedial?"
"Ah," Will mengangguk, "semacam tes ulang karena kau mendapatkan nilai jelek."
"Oh... begitu rupanya..." Sieghart manggut-manggut. "Hei, bocah, sebelum kau kembali ke kelas, belikan aku makan siang dulu."
Mendengar kata 'kelas', Will sadar ia sudah telat. Ia berlari secepat mungkin, meninggalkan Sieghart di bawah pohon rindang itu. Sieghart mengangkat bahu, menyandarkan punggungnya pada batang pohon, mengistirahatkan diri. Mendadak, ia teringat akan Ryan dan Lire, sepasang elf pecinta alam. Ia mendengus.
Tanpa diketahuinya, para siswi yang tadi mengejarnya tengah sibuk mengambil foto dirinya dari balik jendela kelas masing-masing... Kapan lagi kesempatan emas semacam ini menghampiri mereka?
"Ah... Dewi Fortuna... terima kasih untuk berkah hari ini!" pekik mereka dalam hati.
To Be Continued...
