Hello :D Hehee, selamat membaca saja. RCL? iya dong! Siders? Flame? Bash? Jangan dong yaaa. Haha :D
Cast :
Jung Yunho (26)
Kim Jaejoong (25)
Kim (Shim) Changmin (15) etc~
"Kau polisi teraneh yang pernah aku jumpai hyung, whahahaaa"
"MWOOOO?"
Yunho memekik kaget, dengan tidak elit mulutnya pun menganga lebar, kontan saja pengunjung lain yang ada di café itu mengalihkan perhatian kearahnya. Sadar menjadi pusat perhatian ia segera membungkukan badannya berulang kali meminta aaf.
Changmin yang sedaritadi menjadi saksi mata utama semakin melebarkan cengengesannya.
"Hyung aneh tau, mana ada coba polisi centil seperti hyung? hahahahaa"
Yunho hampir kembali memekik namun kali ini logikanya lebih cepat bereaksi. Ia merubah posisi duduknya mencoba bersikap santai menghadapi bocah yang baru ia sadari nakal ini.
"Centil seperti apa maksudmu hum?" Tanya Yunho yang entah mengapa lagi-lagi malah dibalas cekikikan oleh Changmin.
"Seperti ini, ini ini ini ini ini dan INI! HAHAHAHAHAHAHA"
Changmin tertawa puas sembari menunjuk satu persatu pose Yunho yang dianggapnya centil itu. Kaki yang duduk secara merapat, tangan kiri yang memainkan kotak tisu sedangkan tangan kanan menopang dagu. Jangan lupakan juga ekspresi Yunho saat bertanya barusan, wajahnya dibuat seunyu(?) mungkin ._.
"Aku harus kembali ke sekolah, gomawo hyung sudah bermain denganku, hehehheee, dadaah^^" Changmin segera melesat, meninggalkan Yunho yang tengah shock, matanya mengerjap cepat dan nafasnya menggebu.
"Harga diriku hancur, hiksss, eomma!"
Makan siang Yunho kali ini tak seindah biasanya, ia hanya mengaduk-aduk makanannya dengan malas. Hatinya terlalu terluka(?) hari ini, selain dipermalukan oleh bocah hari ini ia juga tidak bertemu dengan belahan jiwanya. Rasanya ia ingin menangis meraung, namun ketika kegalauan level maksimumnya itu hampir meletus seseorang terlebih dahulu meredamnya.
"Annyeong, maaf apa aku boleh bertanya?" suara merdu itu seketika membuat seluruh persendian tubuh Yunho lemas.
"Tuan? Tuan? Hey! Kau baik-baik saja?" si penanya kembali bertanya, kali ini jari-jari lentiknya menari-nari tepat dihadapan wajah Yunho.
Yunho langsung tersadar dari keterpanaannya, ia sedikit berdehem lalu langsung memasang wajah super duper cool.
"Ya, ada yang bisa kubantu?" Yunho bertanya dengan senyum lima watt yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Mm begini, biasanya meja ini ditempati oleh aku dan adikku, tapi aku terlambat datang hari ini, apakah ada anak laki-laki lucu dan imut yang duduk disini sebelumnya?"
Yunho sedikit kaget mendengar pertanyaan namja menawan didepannya. Anak lucu dan imut? Errrr~ seingatnya anak yang tadi disini adalah anak yang bandel dan sangat jahat(?) -_-
"Maksudmu Changmin?"
Jaejoong segera mengangguk antusias saat nama dongsaengnya disebut.
"Nee, tadi dia disini bersamaku, Ah, silahkan duduk tuan….?"
"Jaejoong, Kim Jaejoong, dan kau?" Jaejoong menyambung perkataan Yunho sambil mendudukan pantatnya dikursi yang berhadapan dengan Yunho.
"Jung Yunho" Yunho kembali menjawab disertai senyuman. Senyuman kecil namun terlihat sangaaaaat manis dimata Jaejoong.
"Yunho-ssi, apakah tadi adikku makan?"
"Seingatku tidak"
"Dia melewatkan makan siangnya? Ommo, aku jadi merasa bersalah" raut Jaejoong berubah sendu. Ouhh~ kakak yang perhatian—pikir Yunho.
"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa kenal dengan adikku Yunho-ssi?"
"Tadi kami sempat berkenalan. Mm, jangan terlalu formal, panggil saja aku Yunho, Jaejoongie"
Blusssh~ wajah Jaejoong memerah sempurna saat Yunho memanggilnya seperti itu. Jaejoongie? Bukankah itu terdengar manis? Kkke.
"Nee Yunnie^^"
Suasana hangat dan berbunga-bunga yang dirasakan dua insan kasmaran itu berbanding terbalik dengan yang dirasakan Yoochun dan Changmin. Yoochun kerepotan menjelaskan ketiadaan(?) Yunho dikantor pada atasannya, berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Yunho namun sama sekali tak ada jawaban. Bukan berarti Yunho tidak membawa ponselnya, tapi ini berkaitan dengan sesuatu yang sangat sesuatu(?). Apa kalian pernah mendengar dunia hanya milik berdua serasa disurga dan yang lain tiada?
Well, seperti itulah yang sedang dialami oleh Yunho, getaran diponselnya tak ia rasakan sama sekali. Tak jauh berbeda dengan Jaejoong, saking asyik berbincang dengan Yunho ia sampai lupa untuk menghubungi Changmin untuk menanyakan keadaannya. Andai saja ia tahu bahwa adik kesayangannya itu sedang meringis menahan lapar dikelasnya. Air matanya sesekali menetes membasahi buku tulisnya.
"Hiks, hyung jahat!"
Yunho kembali ke kantor polisi sekitar pukul 4. Ia mendapat sambutan 'dingin' saat memasuki ruang kerjanya. Rekan-rekan satu divisinya menatapnya garang. Terlebih Yoochun, mata namja berjidat lebar itu seakan mau keluar saking melotot.
"Darimana saja kau Jung?" Tanya Yoochun sembari mendekati meja kerja Yunho.
"Makan siang, wae Chun?"
"Makan siang? Selama itu?" nada suara Yoochun meninggi, tak habis pikir dengan Yunho yang sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
"Nee" jawab Yunho acuh sambil mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Seketika ia tersenyum lebar membaca pesan singkat yang baru masuk itu.
"Yunnie, sudah sampai?^^"
"Kau tahu Yun? Tadi komisaris kesini, kami dimarahi habis-habisan karena kau. Seenaknya saja berkeliaran di jam kerja"
Yunho tak menghiraukan Yoochun, tangannya malah bergerak lincah mengetikan pesan balasan diponselnya.
"Sudah boo, berkat doamu aku sampai dengan selamat dikantor, kkke~ gomawo :')" Sent~
Drrrt drrrttt…
"Syukurlah, kalau begitu selamat bekerja, fighting Yunnie!(^_^)"
"Yak! Dengarkan aku Yun!"
"Nee, selamat bekerja juga Boojae #TitikDuaBintang"
"YAK JUNG YUNHOOOOOO!"
Jaejoong menyimpan ponselnya dimeja setelah menerima pesan terakhir dari Yunho. Hah~ hari ini dia sangat bahagia, tak disangka namja yang selama ini dikaguminya ternyata juga mengaguminya. Oh god! Sepertinya ia benar-benar telah jatuh cinta pada namja itu.
Namun ditengah-tengah hayalan romansanya Jaejoong mendadak menepuk jidat.
"Dongsaengkuuuu!" gumamnya panic lalu tanpa pikir panjang kembali meninggalkan kantor. Ia harus cepat-cepat pulang untuk melihat keadaan adiknya.
Jaejoong ppaboo~ sepanjang perjalanan namja cantik itu terus merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melupakan adiknya seperti ini?
Tepat seperti dugaan Jaejoong, Changmin menyambutnya dengan sangat dingin. Bahkan namja kelebihan kalsium itu sama sekali tidak melirik saat Jaejoong duduk disebelahnya.
"Min, mianhae, tadi siang hyung ada meeting dulu. Hyung pergi ke café tapi kau sudah tidak ada. Mianhae" Jaejoong memegang tangan kanan dongsaengnya yang masih focus menonton tv.
"Kau sudah makan?" Jaejoong kembali bertanya namun lagi-lagi dicuekin.
"Hyung benar-benar minta maaf, hiks" isakan Jaejoong tiba-tiba meluncur saat melihat pipi Changmin yang agak kempes(?), pasti adiknya belum makan sampai menciut drastic seperti ini. Jaejoong benar-benar menyesal telah menelantarkan adiknya, ia merasa menjadi hyung yang durhaka. -_-
Jaejoong terus terisak membuat Changmin yang semula acuh perlahan mulai menengok kearahnya.
"Hyung, jangan menangis!"
"Hikss hikss hikss" isakan Jaejoong malah semakin terdengar keras, ia bahkan menutup wajahnya dengan telapak tangan, terang saja hal itu membuat Changmin panic. Kali ini gantian ia yang jadi merasa bersalah.
"Jangan menangis hyung" Changmin mengguncang bahu Jaejoong. Jaejoong yang terus menangis dan tak merespon membuat Changmin semakin panic. Tanpa sadar ia juga ikut meneteskan air mata.
"Hyung berhenti menangis, hikss, a-aku juga jadi hikss, ingin menangis, hyung, hiksss, HUWEEEEEEEE"
Akhirnya kedua kakak beradik itu berpelukan sambil menangis bersama, diiringi oleh suara televisi yang tengah menampilkan iklan kecap bango(?).
Bersambung? Tamat? ahsyudahlah. Hahaha
Terimakasih untuk yg sudah mau baca, apalagi sama yg review follow n favourite, lufyuuhh :*
