"Masa... depan ?" ulang Pain. Ekspresinya terlihat bingung.
"Ahahahahahahaha !" anggota Akatsuki yang lain tertawa lepas. Bahkan Itachi pun tersenyum tipis.
"Heh, jangan bercanda bocah." sahut Hidan. "Kau terlalu banyak nonton TV." lalu ia terkekeh.
"Hei, un." Deidara memanggil Sakura. Gadis itu menoleh, ia terlihat kesal. "Apakah kau juga robot penghancur, un ?"
Sakura menggembungkan pipinya dan membuang muka. Sementara Pain yang tidak ikut tertawa hanya berdecih.
"Permainan konyol apa ini ?"
.
.
.
Red Riding Hood
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Adventure, Friendship, Romance, Fantasy
Pair : PainSaku, PainKonan
Warning : AU, gajelas, maybe OOC, misstypo, dan segala kekurangan lainnya !
Don't Like Don't Read
Happy Reading !
.
.
.
"Konan ! Tunggu !" seru Pain. Ia mengejar Konan hingga mereka berdua berada di atap sekolah. Pain mencengkeram tangan Konan dan memaksanya berbalik. Kini mereka berhadapan.
"Biar aku jelaskan dulu." ucap Pain tajam. Hatinya terasa sakit ketika melihat iris quartz itu berkaca-kaca. "Gadis itu...," pemuda itu menarik napas panjang. "datang dari masa depan." ia menghembuskannya kembali.
"Jangan beri aku alasan konyol seperti itu ! Kau tahu kalau aku benci pembohong !" Konan melepaskan tangannya dari cengkeraman Pain.
"Dia juga mengaku sebagai-" Konan tercekat, "Se-sebagai kekasihmu..."
"Aku tidak tahu kenapa ia berkata seperti itu." tegas Pain.
"Bohong..." ucap Konan lirih.
"Aku tidak berbohong dan tak akan pernah berbohong padamu." kata Pain, ia mencoba untuk menenangkan Konan. Meskipun ia masih tidak percaya dengan jawaban Sakura. "Aku pernah berjanji begitu padamu kan ?"
Konan menunduk, ketika ia berbicara, suaranya bergetar. "Aku tahu. Tapi... aku tak pernah dipermalukan seperti itu..." akhirnya suara Konan pecah. Ia mulai terisak. Pain mendekatinya dan memeluknya. Ia merasa lebih lega daripada sebelumnya.
Beberapa saat kemudian Konan menarik diri dari pelukan Pain. Gadis itu mengusap air matanya. "Pain...," panggil Konan. "Alasan yang tadi bohong kan ? Kau hanya mencari alasan supaya bisa berbaikan denganku. Nanti, beri tahu aku alasan yang sebenarnya." Konan tersenyum tipis, tapi nadanya terdengar agak dingin.
"Andai aku bisa meng-iyakan perkataanmu..." Pain menunduk.
Konan tersenyum miring, ia terlihat geli. "Oh, ayolah. Alasan yang tadi nggak masuk akal banget lho."
Pain mengangkat wajahnya lalu menatap Konan. Dan sesuatu di dalam matanya membuat Konan menyernyit.
"Sudah kubilang, itu tidak-"
"Aku sudah berjanji," tiba-tiba Pain memegang tangan Konan, membuat gadis itu terkesiap kaget. "untuk tidak berbohong padamu."
Ekspresi Konan melunak, tapi sejurus kemudian ia memasang tampang ngeri. "Berarti... yang tadi itu benar ?" tanyanya ragu-ragu.
Pain mendesah. "Aku juga tidak begitu percaya. Ayo kita tanyakan langsung." pemuda itu menggandeng tangan Konan. Mereka berdua berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ah..." Pain terkejut melihat Sasori, Deidara, Hidan, Kisame, dan Zetsu duduk-duduk santai di tangga. Mereka berlima mendongak saat mendengar suara pintu terbuka. "Apa yang kalian lakukan di sini ?" tanya Pain heran.
"Entahlah, mencuri dengar pertengkaran kalian mungkin ?" Sasori mengangkat bahunya. Sementara yang lain nyengir tidak jelas.
"Hei, ini bukan ideku !" seru Sasori saat Pain memandangnya tajam, ia segera mencari kambing hitam. "Itu ide Deidara !"
"UN !?" Deidara melotot saat Sasori menunjuknya. "Jelas-jelas kau yang mengusulkannya, un !"
"Tapi kau juga menyetujuinya, kan !?" balas Sasori puas. Deidara yang sepertinya kehabisan kata-kata hanya cemberut dan membuang muka.
"Sudahlah." ucap Pain, ia merasa agak malu, karena pembicaraannya tadi dicuri dengar. "Di mana yang lain ?"
"Di kelas." jawab Kisame. "Menjaga agar bocah itu tidak kemana-mana."
"Kalau begitu kita ke kelas sekarang."
.
.
.
"Nah, little red riding hood, bisa jelaskan apa yang kau katakan tadi ?" tanya Pain begitu mereka bertujuh sampai di kelas.
Sakura kentara sekali tidak senang dengan panggilannya, tapi ia tetap menjawab. "Sudah kubilang aku berasal dari masa depan-"
"Tidak." Pain menggelengkan kepalanya. "Jelaskan lebih rinci, kenapa kau dikirim oleh diriku sendiri ? Apa yang terjadi di masa depan ?"
Sakura menelan ludahnya. "Di masa depan, ada perang besar. Dan yang menciptakan perang itu adalah... kau." kata gadis itu.
Pain tampak terkejut. "Olehku !? Apa yang kulakukan !?"
"Beberapa tahun ke depan kau membuat mesin waktu, tapi tidak bisa menyelesaikannya. Kau membutuhkan satu bahan terakhir." jelas Sakura, ia menggigit bibirnya dengan gugup.
"Lanjutkan." Pain terduduk di kursi, perkataan gadis itu membuatnya agak pusing.
"Sampai akhirnya kau tidak sengaja menciptakan sihir. Kau adalah satu-satunya manusia yang memiliki sihir di dunia ini. Kau memanfaatkan itu."
Sakura berhenti sebentar dan menatap Pain. "Kau membuat dunia berperang dengan itu."
"Tapi kenapa ?" Pain bertanya dengan pelan. "Kenapa aku menciptakan perang ?"
Sakura sudah akan menjawab pertanyaan Pain, tapi pemuda itu langsung menyelanya. "Khhh... Sudahlah, aku tidak mau tahu lagi."
Sakura nampak terkejut. "Tapi ini penting ! Kau harus mengetahuinya !"
"Tidak." Pain menangangkat tangannya. "Aku tidak perlu tahu hal-hal mendetail seperti itu. Aku juga tidak mau mengetahui semua tentang masa depanku."
Gadis berambut pink itu menunjukkan tampang protes, tapi tetap tidak mengatakan apa pun. Dan entah kenapa, ia melirik Konan dengan ekspresi aneh. Ada sedikit rasa menyesal dari sorot mata emerald tersebut.
"Apa yang harus kulakukan sekarang ?" tanya Pain.
Sakura menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya harus menjagamu."
KRIIING !
Bel tanda istirahat telah usai berbunyi. Sakura segera menatap pintu kelas Pain. "Kalau begitu aku bersiap-siap dulu. Sampai besok Pain-kun !" Sagura berlari keluar dan melambai-lambai. Hanya Tobi yang membalas lambaiannya.
"Sampai besok Sakura-chan !" seru Tobi bersemangat.
Pain memandang teman satu gengnya. "Kalian percaya padanya ?"
"Entahlah..." sahut Sasori yang masih menatap pintu tempat Sakura pergi tadi.
"Aku tidak percaya." kata Zetsu, ia bersandar pada Hidan yang berada di sebelahnya. Hidan merasa tidak nyaman dan segera mendorong Zetsu minggir.
"Benar." Kisame nyengir. "Aku ingin lihat buktinya dulu. Aku ingin melihat sihirnya."
"Tapi ia terlihat jujur saat mengatakannya, un." Deidara menerawang.
Pain menghela napas. "Bagaimana menurutmu Konan-chan ?" tanyanya.
Konan menggeleng, jujur gadis itu merasa tidak percaya. Mungkin itu karena pertemuan pertama mereka. "Aku... tidak percaya... Tapi jika itu benar, aku akan berusaha untuk percaya." Konan menarik napas. "Apa pun yang terjadi, aku akan terus bersamamu." ia menggenggam tangan Pain dan tersenyum.
Pain tersanjung dengan kata-kata Konan. Ia membalas senyumnya. Sementara Deidara dan Hidan langsung berdeham-deham tidak jelas.
"Aku ke kelasku dulu ya." Konan bangkit berdiri saat melihat Kakashi-sensei dan Asuma-sensei berbincang sebentar di depan kelas. Deidara dan Kisame segera mengikutinya. Pain terus menatap punggung Konan yang berjalan menuju kelas di sebelahnya, hingga akhirnya tak terlihat lagi karena terhalang pintu.
Pain menghela napas sekali lagi. Banyak yang dipikirkannya hari ini. Dan setengah menyesal kenapa menolak penjelasan Sakura tentang alasannya menciptakan perang.
Ia menghela napas lagi.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
A/N : Fic ini mungkin tidak terlalu panjang, beberapa chapter lagi akan selesai. Dan ternyata saya menyisipkan Fantasy di sini, dan tidak jadi menggunakan genre Sci-Fi. Saya masih belum dapat ide, jadi maaf jika wordnya kurang panjang.
Jika ada yang kurang atau salah, mohon maafkan saya. Butuh kritik dan saran, tapi sebisa mungkin jangan flame.
Arigatou minna. Review please ^^
