Dua belas tahun yang lalu, Sakura Haruno adalah seorang dokter muda yang cerdas dan tekun. Selain bertugas di Rumah Sakit Sentral Konoha sebagai dokter jaga di UGD pada awal kariernya, Sakura juga mendalami studi untuk menjadi dokter spesialis anak seperti cita-citanya sejak kecil.

Malam itu di pertengahan musim dingin, Sakura sedang berjaga shift 3 ketika seorang laki-laki dibawa ke UGD tempatnya bertugas. Korban tabrak lari. Pria setengah mabuk yang mengendarai sepeda motor besar menabraknya saat sedang berjalan di trotoar. Sebenarnya lukanya tidak serius, lelaki itu hanya terserempet. Hanya saja reaksinya terlalu berlebihan.

"Tolong sembuhkan lenganku. Ini adalah asetku. Hidupku tamat kalau aku kehilangan lenganku. Tolong, Dokter!"

"Lenganmu cuma tergores. Lihat, cuma perlu dibersihkan dan diperban saja. Sepuluh menit selesai," kata Sakura tak acuh.

"Sungguh? Aku tidak patah tulang, kan? Aku merasa benturannya keras sekali, Dokter. Tolonglah periksa lagi lebih teliti," pinta lelaki itu dengan wajah pucat, dia tampak benar-benar khawatir dengan lengannya.

Sakura memutar matanya bosan. Tetap menyelesaikan pekerjaannya pada lengan lelaki itu tanpa menanggapi permintaannya yang berlebihan. Sakura merasa agak kesal. Apa laki-laki ini tidak pernah terluka? Hanya luka goresan tidak akan membuat lengannya diamputasi.

"Dokter, tidak tahukah kau betapa berharganya lengan ini untukku?"

"Ya, aku tahu." Mata zamrud Sakura membesar sedikit menatap lelaki itu. Mulai jengkel. "Aku juga punya lengan yang berharga bagiku. Semua orang punya lengan yang berharga, bukan hanya kau, Tuan."

"Kau tidak mengenal siapa aku?"

Sakura melipat lengan di depan dada. Sebelah alisnya terangkat tinggi, kepala merah mudanya menggeleng pongah. "Aku tidak mengenalmu. Memangnya kau siapa?"

Lelaki itu mendengus tertawa, kepalanya bergeleng-geleng. Sepasang mata hitamnya menatap Sakura seakan-akan dia makhluk yang berasal dari Mars.

"Aku Sasuke Uchiha, seorang pianis profesional." Lelaki itu mengulurkan lengan untuk berjabat tangan.

Sakura hanya menatap sinis lengannya tanpa berminat menjabatnya sebentar saja. "Kaubilang kemungkinan tanganmu patah. Tapi cukup kuat untuk mengulurkan jabat tangan padaku?"

Demi menutupi rasa malu setelah jabatan tangannya tidak mendapat sambutan, lelaki itu menurunkan kembali lengannya dan berkata, "Yah, kau tahu, terkadang hal-hal seperti paranoid dialami oleh orang-orang yang hidupnya bergantung pada salah satu organ tubuhnya."

"Kalau kau sungguh mengkhawatirkan tanganmu, periksakanlah ke dokter ortopedi. Ini, Dokter Tsunade, ahli ortopedi di rumah sakit ini. Kebetulan aku mengenalnya secara pribadi, akan kubuatkan janji pemeriksaan untukmu. Datanglah besok pagi-pagi."

Sakura memberikan selembar kartu nama, dan lelaki itu menerimanya dengan wajah terperangah. Mungkin dia tidak percaya jika Sakura tidak benar-benar tidak peduli padanya.

Sejak malam itu, mereka jadi sering bertemu. Lelaki pianis itu sering bolak-balik ke RS Konoha untuk urusannya dengan Dokter Tsunade, kira-kira satu bulan lamanya. Sakura tidak tahu apakah tulang lengannya benar-benar bermasalah pasca-kecelakaan, atau itu hanya alasannya untuk bisa bertemu dengan Sakura. Menyapanya. Mengajaknya mengobrol sembari jalan-jalan di taman rumah sakit. Dia bahkan mulai berani mengajak Sakura pergi keluar.

Suatu sore di akhir jam jaga Sakura, lelaki itu memberinya selembar tiket.

"Apa ini?"

"Orkestra pertamaku. Datanglah, Sakura. Aku ingin kau duduk menyaksikanku di barisan paling depan."

"Oh, kau ingin makhluk Mars yang tidak kenal siapa itu Mozart menonton pertunjukan musikmu?" Sakura mendelikkan mata zamrudnya.

Sasuke Uchiha tertawa. Selalu begitu caranya menanggapi komentar-komentar setengah sinis yang keluar dari mulut Sakura.

"Bukan pertunjukan musik. Itu orkestra, Sakura. Kau tidak akan tahu seperti apa istimewanya jika kau tidak berdiri di sana, di atas panggung. Ini orkestra pertamaku. Sangat spesial untukku." Sasuke menatap matanya. "Sama spesialnya seperti dirimu. Makanya aku ingin kau ada di sana."

Itu pertama kalinya wajah Sakura merona karena perkataan seorang laki-laki, pipinya bersemu merah muda sewarna nuansa musim semi. Jantungnya berdebar-debar. Oh, dia jatuh cinta.

Ada pepatah mengatakan, cinta mampu mengubah segalanya. Seperti Sasuke Uchiha yang mampu mengubah minat Sakura pada musik klasik. Dia yang tidak pernah mengenal siapa itu Mozart, Beethoven, Rachmaninoff, Debussy; kini telah berubah menjadi penggemar karya-karya mereka. Favoritnya adalah Debussy. Sakura tidak pernah keberatan diajak ke pertunjukan-pertunjukan musik klasik. Sakura tidak pernah bosan mendengar Sasuke membicarakan tentang komposer terkenal sepanjang masa. Dia bahkan tidak pernah bosan menonton pertunjukan solo piano Sasuke yang khusus dipersembahkan untuknya setiap kali mereka singgah di apartemennya.

Bagaimanalah dia bisa bosan? Permainan piano Sasuke telah menjadi candu untuknya.

Di malam resital Sasuke yang berakhir dengan sukses besar, Sakura diminta bertahan di tempat duduknya hingga ruangan orkestra kosong. Lampu-lampu telah dimatikan. Sakura tidak mengerti apa yang harus dia tunggu. Lalu tiba-tiba cahaya lampu dari belakang tribun penonton menyorot ke panggung, memperlihatkan Sasuke sedang duduk di depan sebuah piano besar. Musik dimainkan. Piano soneta dari Debussy yang selalu menjadi kesukaan Sakura. Claire de Lune. Nada-nadanya mengalun syahdu, begitu lembut dan romantis, seakan-akan memeluk Sakura dengan kehangatan cinta yang membara.

Setelah pertunjukan kecil itu selesai, Sasuke turun dari panggung, berjalan ke tempat duduk Sakura—lampu sorot masih mengikutinya. Dia tersenyum menatap mata zamrud Sakura, mengecup mesra punggung tangannya. Lalu dia berlutut, menyodorkan pada Sakura sekotak cincin dengan permata berkilauan tersiram cahaya lampu sorot.

"Menikahlah denganku, Sakura Haruno."

Air mata Sakura jatuh. Laki-laki itu melamarnya dengan musik paling romantis yang pernah dia dengar. Sakura memeluknya, mengangguk. "Ya, Sasuke Uchiha."

Waktu tidak pernah jadi jaminan. Tapi waktulah yang telah mempertemukan mereka. Pertemuan singkat yang membuat dua anak manusia itu terjerat cinta. Menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Sakura dan Sasuke menikah di awal musim semi. Dua bulan setelah pertemuan pertama mereka yang konyol di rumah sakit.

Sayangnya masa-masa indah bulan madu tidak sempat mereka nikmati. Usia pernikahan bahkan baru dua minggu ketika Sasuke sudah dijadwalkan mengikuti tur Eropa. Sasuke sebenarnya mengajak Sakura ikut, hitung-hitung bulan madu. Tapi Sakura tidak bisa karena sedang menjalani ujian di kampusnya. Tak punya pilihan, mereka terpaksa berpisah untuk beberapa waktu, menjalani hubungan jarak jauh.

Tiga minggu setelah tur, Sasuke kembali. Hanya dua hari di Konoha, melepas kerinduan pada Sakura, dia pergi lagi. Tidak seperti kepergiannya yang pertama, kali ini Sasuke mulai susah dihubungi. Ponselnya tidak aktif—tidak pernah aktif. Satu minggu berlalu. Dua minggu. Satu bulan. Tidak ada kabar darinya.

Sakura hanya mencemaskannya, berharap tidak ada hal buruk yang menimpanya. Selain itu, dia sudah amat rindu. Ada hal yang ingin disampaikannya pada suaminya itu. Kabar bahagia. Kehamilannya.

Dalam penantian itu, muncul seorang laki-laki yang mengaku dirinya sebagai kakak sulung Sasuke. Pria bernama Itachi Uchiha. Dia datang menemui Sakura atas nama Sasuke, menyerahkan dokumen yang tidak pernah Sakura sangka akan diterimanya. Surat perceraian.

Itachi bilang—mewakili Sasuke—pernikahan mereka tidak seharusnya terjadi. Itu bukan hal yang benar-benar ingin Sasuke lakukan. Bukan baru kali ini dia berkencan dengan seorang gadis. Tapi kali ini dia hanya sedang dimabuk perasaan. Cinta sesaat yang membuatnya kehilangan fokus. Karena itu Sasuke tidak bisa melanjutkannya. Kariernya di panggung orkestra menjadi taruhan.

Sasuke menyampaikan permintaan maaf, karena dia tidak sungguh-sungguh mencintai Sakura. Perasaan yang dialaminya itu sungguh berbeda. Hanya karena dia penasaran pada wanita yang tidak mengenal seorang pianis pujaan wanita seperti dirinya. Sasuke tersadar itu bukan cinta, melainkan obsesi semata.

Hancur sudah hati Sakura, berkeping-keping. Bagaimana bisa laki-laki yang melamarnya dengan musik paling romantis yang pernah dia dengar, berkata bahwa perasaannya selama ini hanyalah obesesi semata? Bagaimana mungkin laki-laki yang membuatnya menjadi seorang pemuja musik klasik, mengakui bahwa perasaannya tidak serius? Tidak. Kecuali jika laki-laki itu adalah playboy sejati. Penipu ulung. Pria berengsek!

Sakura merasa dirinya adalah wanita paling bodoh di muka bumi. Harusnya dia tahu bahwa laki-laki itu hanya mempermainkannya sejak awal.

Semuanya palsu. Kata-kata manisnya. Senyumannya. Tatapan matanya. Semua itu bohong. Kini semuanya telah lenyap ditelan kebenaran. Yang tersisa hanyalah rasa sakit dari luka hati yang teramat dalam.

Mulai saat itu Sakura membenci musik klasik. Dia benci Debussy. Dia benci Beethoven, Mozart, dan siapalah kawan-kawannya. Dia benci piano.

Mulai saat itu, bayi yang dikandungnya akan lahir dan besar tanpa ayah.

.

.

Wanita pemilik rambut sebahu bernuansa musim semi itu mengulurkan jabat tangan pada ketua himpunan kepala rumah sakit se-Jepang. Lima menit kemudian bubar bersama seluruh anggota rapat, meninggalkan ruangan. Ini hari terakhirnya. Besok dia akan langsung kembali ke Suna.

Rasanya Sakura sudah rindu sekali pada putri kecilnya. Sejak kemarin Sakura belum bicara dengannya. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Ino, sahabat pirangnya yang dia titipkan putrinya, memberitahunya bahwa putri semata wayangnya itu sedang menginap di rumah teman sekolahnya dan tidak sengaja meninggalkan ponsel di rumah.

"Anak ini, memangnya dia tidak rindu padaku?" Sakura bergumam sendiri, sembari menatap foto putri kecilnya di layar ponsel.

Seorang petugas keamanan rumah sakit menawarkan Sakura untuk dipanggilkan taksi. Tapi Sakura bilang dia ingin jalan kaki saja ke hotel, lagi pula jaraknya tidak jauh. Hari ini sakura sedang mekar penuh, pemandangan indah yang sayang untuk dilewatkan.

Tapi di ujung jalan, langkah Sakura terhenti. Mata zamrudnya menangkap seorang gadis kecil keluar dari gedung orkestra. Seolah-olah seluruh oksigen di muka bumi ini terserap habis entah ke mana, dada Sakura tiba-tiba sesak.

Dia mengambil ponsel di saku mantel dan buru-buru menghubungi nomor Ino Shimura.

"Halo, Mama Cantik—"

"Apa benar putriku menginap di rumah Chouchou?" Sakura tak berbasa-basi lagi.

Di seberang telepon, Ino menjawab dengan suara sedikit gemetar. "Tentu saja benar, Sakura. Kenapa kau bertanya lagi? Kau tidak percaya padaku? Dia di sana kok, sedang kemping—"

"Jika putriku benar di sana, lalu siapa yang kulihat sekarang? Kau bisa menjelaskannya, Ino?"

"Err ... memangnya apa yang kaulihat, Sakura?"

"Apa yang kulihat? Kau ingin tahu apa yang kulihat, Ino?" Mata zamrud Sakura berkilat marah menatap pemandangan di depannya. "Aku melihat gadis kecil berkacamata keluar dari gedung orkestra bersama Sasuke Uchiha!"

Terdengar seperti Ino baru saja tersedak. "Tidak mungkin ..."

Sakura memutuskan sambungan telepon. Dadanya bergemuruh, amarah berkecamuk hebat di sana. Dia juga berharap apa yang dilihatnya itu tidak mungkin terjadi. Tapi memang itulah yang disaksikan sepasang mata zamrudnya.

...

Siang ini Sarada diajak Paman Sasuke Uchiha, pianis terkenal itu, ke gedung orkestra untuk melihat-lihat persiapan resital nanti malam. Di sana tim orkestra sedang berlatih dengan pelatan musik lengkap, memainkan sebuah simfoni. Sarada mengenalnya, Moderato Piano Concerto No.2 Op. 18. Salah satu karya populer Rachmaninoff yang paling dia kagumi. Dia duduk sendirian di deretan bangku penonton yang benar-benar kosong. Matanya terpukau memandangi tim orkestra di atas panggung. Terutama Paman Sasuke di depan piano yang menjadi pusat perhatian. Baru latihan saja sudah memukau begini. Sarada memberikan tepuk tangan paling keras sebagai bentuk rasa kagum dan penghargaannya.

"Sarada, kemarilah," panggil Sasuke dari atas panggung.

Gadis kecil itu terkejut, bingung kenapa Paman Sasuke memanggilnya. Dia baru bergerak menuruni tribun penonton begitu Paman Sasuke memanggil namanya sekali lagi. Melangkah ke panggung orkestra dengan dada berdebar-debar. Seluruh mata tertuju padanya, membuatnya gugup.

"Sarada, mainkanlah Rhapsody In Blue seperti kemarin," kata Paman Sasuke. "Kaubilang ingin sekali tampil di atas panggung orkestra sepertiku, bukan? Inilah kesempatanmu."

Ya, itulah impian Sarada selama ini. Untuk tampil di atas panggung orkestra yang gemerlapan. Bermain anggun dengan pianonya, mempersembahkan karya terbaik untuk para pemuja musik. Impian yang indah. Yang hanya menunggu pupus karena mamanya yang paling dia cintai adalah orang yang paling menentang mimpi itu untuk terwujud.

Namun hari ini, mimpi indah itu bisa jadi kenyataan walaupun hanya satu kali, hanya beberapa menit. Tapi takkan pernah dia lupakan. Berkat Paman Sasuke.

Sarada duduk di depan piano. Dengan diiringi tim orksestra lengkap, jari-jemarinya menari di atas tuts-tuts piano, mempersembahkan karya favoritnya dari seorang Gershwin. Meskipun tanpa gaun yang indah, tanpa penonton memenuhi tribun, Sarada tetap memainkannya dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati. Karena ini adalah orkestra pertamanya—sekaligus terakhir untuknya. Siang ini, panggung ini adalah miliknya.

Rhapsody In Blue berakhir. Tepuk tangan menggema ke seisi ruang orkestra bagai riuh air hujan yang jatuh mengguyur atap rumah. Tim orkestra yang mengiringinya, tim panitia yang dibuatnya berhenti bekerja untuk menyimaknya, dan Paman Sasuke—dia yang bertepuk tangan paling keras, paling awal, dan bangkit berdiri dari bangku penonton paling depan untuk mengucapkan bravo untuknya.

Mata Sarada berkaca-kaca, memandangi mereka semua. Bahagia mengetahui permainan pianonya berhasil menyentuh hati mereka.

"Terima kasih, Paman Sasuke. Aku senang sekali diberi kesempatan untuk tampil di atas panggung." Binar-binar bahagia di mata hitam Sarada tiba-tiba saja tersaput kesedihan. "Andai saja aku bisa menampilkan itu di depan Mama. Aku ingin Mama bangga melihatku memainkannya."

Di ujung undakan yang mereka turuni saat keluar dari gedung orkestra, langkah Paman Sasuke terhenti. Dia mengusap lembut puncak kepala Sarada, seakan berusaha mengurangi kesedihannya.

"Menurutmu, kenapa ibumu membenci piano?"

Sarada mengangkat bahu. Dirinya juga tidak paham mengapa. Dulu pernah Sarada bertanya alasan sang mama membenci piano. Tapi mamanya hanya menjawab, tidak semua hal perlu dijelaskan. Sarada masih terlalu kecil untuk mengerti kebencian mamanya. Dan setiap kali ditanya, wajah cantik mamanya langsung berubah muram. Sarada tidak suka melihat mamanya sedih. Makanya Sarada lebih memilih untuk tidak pernah menanyakannya lagi.

"Karena piano dan apapun yang berhubungan dengannya membuatku teringat padamu."

Bagai kejutan di siang hari bolong, mamanya tiba-tiba muncul di sana. Mata Sarada terbelalak, sungguh terkejut. Sarada juga bingung mengapa dirinya ditarik mundur ke belakang punggung mamanya, seolah-olah dilindungi dari penculik anak paling kejam sedunia. Itu kan hanya Paman Sasuke. Lalu kenapa mata zamrud mamanya melotot menatap paman pianis itu?

Sarada melihat lengkungan di sudut bibir Paman Sasuke, senyuman sinis.

"Apa kabar, Sakura?"

Paman Sasuke mengenal mamanya? Sarada ingin tanyakan itu, tapi justru mamanya yang bertanya duluan, mengapa dia ada di sini, bukankah seharusnya dia sedang menginap di rumah Chouchou dan berkemping di halaman belakang rumahnya. Sarada tak bisa menjawab. Tidak tepat jika Sarada mengakui bahwa dia datang ke Konoha sendirian untuk mengejutkan mamanya di hari ulang tahunnya. Tidak, itu tidak akan membuat mamanya sedikitpun terkesan. Di saat seperti ini. Mamanya benar-benar tampak marah. Sarada merasa telah membuat kesalahan besar.

Mamanya menggenggam erat pergelangan tangannya. "Kita pulang, Sarada."

"Tunggu, Sakura. Ada yang perlu kita luruskan," kata Paman Sasuke.

"Sejak aku menandatangani surat perceraian, sudah tidak ada lagi yang perlu diluruskan di antara kita."

Sarada terperangah mendengar ucapan mamanya. Surat perceraian?

"Begitu? Kau yakin tidak ada lagi yang perlu diluruskan?" Paman Sasuke menatap Sarada yang masih digandeng mamanya erat-erat. "Kau tega membiarkan Sarada percaya bahwa ayahnya meninggal sejak dia bayi, padahal dia berdiri tepat di depan matanya?"

Seketika napas Sarada tertahan. Papaku? Tidak meninggal? Dia berdiri tepat di depan mataku? Mata hitam Sarada nanar menatap sepasang mata hitam milik Paman Sasuke. Kali itu Sarada baru menyadari mereka miliki mata yang serupa. Hitam bening bagai batu oniks.

"Sarada adalah putriku. Tidak ada hubungannya denganmu," kata mamanya.

Saat itu juga Sarada mengempaskan tangannya, melepaskan genggaman mamanya di sana. Matanya di balik kacamata menatap tajam sang mama. "Apa itu benar, Mam? Apa benar Papa tidak meninggal?"

"Apa yang kautanyakan, Sarada? Kau tidak percaya pada Mama?"

Mata hitam Sarada mulai berkaca-kaca. Hatinya pedih. Sarada tidak ingin percaya jika mamanya selama ini membohonginya. Tapi terlalu banyak yang mamanya sembunyikan, termasuk alasan mengapa mamanya sangat membenci piano. Sasuke Uchiha adalah seorang pianis. Jika mamanya juga membenci paman itu, maka Sarada mulai mengerti sesuatu.

Sarada menyeka air mata yang jatuh ke pipinya. "Mama membesarkanku dengan kebohongan, hanya karena Mama membenci laki-laki yang jadi papaku?"

"Sarada ..."

Gadis kecil itu tidak mau dengar. Sarada berlari, entah mau ke mana. Jauh di dalam dadanya terasa sakit. Hatinya terluka. Bagaimana bisa mamanya tega menipunya selama ini? Bagaimana bisa mamanya tega membiarkannya besar tanpa sosok seorang ayah? Dan bagaimana bisa mamanya melarangnya menjadi seorang pianis—impian terbesarnya—hanya karena mamanya membenci seorang pianis yang pernah jadi suaminya?

Sarada tidak tahu-menahu apa yang sudah dialami mamanya dalam pernikahannya, sampai-sampai begitu dalam kebencian sang mama pada ayah dari putri semata wayangnya ini. Apapun itu, Sarada tetap saja kecewa. Sarada kecewa, karena mamanya telah membuatnya percaya bahwa papanya sudah meninggal.

Sarada berlari tak tentu arah. Ke manapun kakinya membawanya. Sarada bahkan tidak sadar melompat turun ke jalan, melintasi jalan raya begitu saja, sementara dari sebelah kiri sebuah mobil SUV sedang melaju kencang ke arahnya. Terlalu cepat, waktunya terlalu sempit. Sarada tidak terpikirkan lagi untuk menghindar, ketakutan membungkusnya. Matanya terpejam kuat, tak sanggup menyaksikan kematiannya sendiri. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar mamanya menjerit memanggil namanya. Lalu yang tersisa dari pendengarannya saat itu hanya decit ban yang melengking nyaring memenuhi udara, suara benturan yang keras, kaca pecah. Dan semuanya jadi gelap.

.

.

Dalam mimpinya, Sarada melihat Paman Sasuke terbaring di atas aspal, mendekap tubuhnya yang kecil. Paman Sasuke tidak sadarkan diri, kepalanya mengeluarkan darah. Dengung sirine ambulans sayup-sayup terdengar mendekat, lalu orang-orang berseragam biru memisahkan Paman Sasuke darinya. Tubuh Paman Sasuke diangkat ke atas tandu, tangannya terkulai lemah ke bawah, sementara tetesan-tetesan darah entah berasal dari luka di mana mengalir ke ujung-ujung jarinya.

Sarada mengulurkan tangannya, ingin menggapai Paman Sasuke. Tapi dia tidak bisa. Pandangannya memburam. Lalu gelap.

.

.

Sarada membuka mata pelan-pelan dan langsung menemukan wajah mamanya.

Mata mamanya merah dan sedikit bengkak, seperti habis menangis berjam-jam. Tapi raut wajah muramnya sedikit terhapus begitu melihat Sarada membuka mata.

"Syukurlah kau sudah sadar, Nak. Mama khawatir sekali."

"Di mana Paman Sasuke, Mam? Bagaimana keadaannya? Dia yang menolongku, kan?"

Mamanya mengangguk pelan. "Dia ada di kamarnya, sudah ditangani dokter dan para perawat dengan baik. Dia akan baik-baik saja."

Sarada meragukan itu. Dalam mimpinya—atau dia sungguh-sungguh melihatnya sebelum pingsan dan dibawa ke rumah sakit—Paman Sasuke mengeluarkan banyak darah. Sepertinya dia mengalami luka parah. Sarada ingin memastikannya. Dia harus melihatnya sendiri.

"Kau mau ke mana, Sayang?" Mamanya menahan Sarada di tempat tidur. "Kau belum boleh turun dari tempat tidur. Tubuhmu masih belum kuat."

Demi melihat wajah cemas mamanya, Sarada tidak melawan.

"Mama lega kau tidak terluka. Tapi jangan pernah lagi tiba-tiba lompat ke jalan seperti tadi. Mengerti? Kau membuat Mama takut."

Sarada menghindari tatapan mata mamanya. Wajahnya menekuk. Sedih, juga marah. "Apa selama ini Mama tidak takut membohongiku? Kalau aku masih punya papa, kenapa Mama bilang papaku meninggal sejak aku bayi?"

Di sebelahnya, mamanya tidak langsung menjawab. Sarada mendengar napasnya terhela berat. "Kau masih terlalu kecil, Sarada. Kau tidak akan mengerti."

"Aku masih kecil, tapi aku cukup mengerti kalau berbohong itu tidak baik. Bukankah Nenek Mebuki selalu bilang begitu? Sekali saja seseorang ketahuan berbohong, maka tidak akan ada lagi yang mau percaya."

Air mata mamanya jatuh. Tapi mamanya tidak mengatakan apa-apa.

"Kalau kau tidak bisa menjelaskannya, biar aku saja."

Sarada terkejut melihat Itachi Uchiha berdiri di depan pintu kamar rawatnya. Plester bersama kapas ditempelkan melintang di atas tulang hidungnya dan ada sedikit bercak darah kering di dekat lubang hidungnya, membuat Sarada bertanya-tanya apa mungkin paman ini juga ikut menolongnya dari tabrakan sampai terluka begitu.

"Kenapa kau ke sini?"

Mamanya tahu-tahu saja sudah berdiri dari bangku, menatap tajam Paman Itachi dengan mata merah yang masih basah.

"Tenanglah, Sakura. Aku datang hanya untuk bicara. Ada banyak masalah yang perlu diluruskan."

"Sudah kubilang, sejak menandatangani surat cerai, tidak ada lagi yang perlu diluruskan. Aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu, apalagi dari adikmu. Tolong beritahu dia, apa yang sudah dia lakukan untuk putriku tadi tidak membuatku melupakan semuanya." Suara mamanya naik satu tingkat.

Tapi Paman Itachi tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Dengan suara yang tegas dia berkata, "Tidak, Sakura. Aku harus menyampaikannya. Paling tidak demi Sarada, putrimu berhak mendapatkan penjelasan."

"Apa Paman tahu kenapa Mama berbohong padaku kalau papaku sudah meninggal?" Sarada ambil kesempatan bertanya. Menatap Paman Itachi dengan harapan agar penjelasan itu memang ada padanya. Jawaban atas semua pertanyaannya saat ini.

"Ya, Sarada. Paman tahu alasannya." Paman Itachi menghela napas. "Paman tahu semuanya, karena Paman-lah orang yang paling bertanggung jawab atas perceraian papa dan mamamu."

Orang yang paling bertanggung jawab? Memangnya apa yang sudah dilakukan Paman Itachi? Sarada bertanya-tanya dalam hati.

Saat Sarada menoleh pada mamanya, mata zamrud mamanya terbelalak menatap paman berambut panjang itu.

Bersambung


Catatan Penulis:

Saya mimpi apa ya bisa apdet sekilat ini? Haha! Kalian juga pasti bertanya-tanya. Kayaknya juga bentar lagi hujan gede xD

Yah, berhubung mood saya lagi bagus (pake banget), jadi saya mau bikin kalian senang juga :p

Nggak asing dengan ff SasuSaku AU berjudul We Start With Imperfection? Buat yang udah pernah baca, pasti kalian bakal berpikir ff saya ini ada kemiripan dengan ff tersebut. Di sini saya mau klarifikasi sedikit. Yes, saya akui temanya memang serupa: SasuSaku yang berpisah, dan Sasuke nggak kenal anaknya.

Tapi jujur aja ini lahir dari ide saya sendiri. Waktu terpikirkan ide ini, mulai mengembangkannya dan jadi gambaran utuh satu cerita, saya baru menyadari kalo sebelumnya sudah ada ff dengan tema seperti ini. Awalnya sih agak ragu buat lanjutin nulis. Tapi kemudian saya teringat sama kata-kata penulis favorit saya. Kurang lebih seperti ini, Tema boleh sama, ide boleh serupa, yang penting bagaimana si penulis menceritakannya. Ibarat memasak. Bahan dasarnya satu, misalnya ayam. Ada yang bikin ayam goreng, ada yang bikin ayam penyet, ada yang bikin ayam sayur. Tergantung dari tangan masing-masing pemasaknya *saya tidak bertanggung jawab jikalau terjadi lapar massal* xD

Gitu deh pokoknya. Mirip memang iya, tapi karya saya orisinil, nggak mencontek siapapun. Semoga bisa dipahami :3

Terima kasih untuk:

nuniisurya26, Ricchi, changmay44, adora13, kimmy ranaomi, xoxo, Biya Edogawa, mantika mochi, ucul world, wowwoh geegee, Angsa Putih, lightflower22, hanazono yuri, goodbye summer, ikatriplesblingers, nekonade, mc-kyan, ipong, BlackRed Flower, pinktomato, pocahonsat, Jamurlumutan, LVenge, 5a5u5aku5ara, ayuniejung, sakura uchiha stivani, Tisha, Uchiha Pioo, suket alang alang, respitasari, chae121, arisahagiwara chan, raissaamhrni2, himeta-chan, lenytaaptr, chacha chan 9250, dianarndraha, iya baka-san, zarachan, Hinamori Hikari

dan semua yang udah nge-review tanpa nama, yang membaca tapi nggak review, juga yang udah nge-fav dan nge-alert

Promosi numpang lewat:

Alhamdulillah novel pertama saya sudah terbit. Kalian mungkin tau ff The Wind And Dandelion? Yap, ff saya yang satu itu saya tulis ulang jadi orifik dan sudah bisa dipesan online! Untuk pemesanan silakan kunjungi profil saya, ada link yang bisa langsung di klik :)

Terima kasih udah mampir!