Disclaimer : All the characters in this fiction are belong to Hajime Isayama
Tittle : Nice to Meet You
Pairing : Rivaille x Eren Jaeger
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/Comfort
WARNING : YAOI, OOC, AU, BOYxBOY, Typo(s).
Don't like, don't read!
Chapter 2 : His Name is Eren
1 Desember. Paris, Prancis.
Rivaille mengernyit kesal. Kehadiran sesosok wanita –sebenarnya masih diragukan berambut hazel yang diikat acak-acakan di hadapannya telah menghancurkan mood paginya. Sementara yang ditatap dengan tatapan membunuh hanya menaikkan ujung-ujung bibirnya sambil mengamati seisi ruangan. Sesekali makhluk angker bernama Hanji itu menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya, "Waah, ternyata tidak buruk juga tinggal bersamamu, ya, Rivaille," Hanji menjatuhkan dirinya di atas sofa empuk di depan televisi flat 40 inchi dan langsung menyambar remote control yang tergeletak di atas meja samping sofa. "Kau tahu, ini remote control terhigenis yang pernah aku sentuh!" seru Hanji setelah mengamati remote di tangannya hingga setiap celah tombolnya.
Rivaille mendecih, "Dan kau telah mengotorinya dengan tanganmu yang penuh kuman penyakit itu," sahut Rivaille sinis. Bocah 10 tahun bertubuh lebih mungil dari anak-anak seumurannya itu berjalan menuju dapur. Mengambil dua buah kopi kaleng dari dalam kulkas. Salah satunya ia oper pada Hanji –lebih tepatnya Rivaille berusaha menyambit makhluk yang sibuk memenceti tombol remote control.
"Hm? Kau minum kopi, Rivaille?" Rivaille membuka kalengnya tanpa mengacuhkan Hanji. "Hee, semalam aku baru saja membaca artikel bahwa kopi bisa menghambat penyerapan kalsium. Jadi, tidak ada gunanya kau meminum susu setelah minum kopi," ujar Hanji dengan mata lurus menatap layar televisi dengan chanel yang terus berganti.
"Kau pikir aku perca—"
"—minuman bersoda dapat menyebabkan tulang keropos. Begitu juga dengan kopi. Walaupun masih ada beberapa manfaat positifnya, kopi dapat menghambat penyerapan kalsium. Oleh karena itu, kopi ti—"
Rivaille tertegun. Hanji menoleh ke arah Rivaille yang masih diam dengan wajah datarnya. Pas sekali saat itu Hanji menemukan chanel kesehatan yang temanya sama dengan topik percakapan mereka. Sebuah seringai jahil muncul, "Hahaha… Lihat itu, Rivaille. Aku tidak berbohong, kan? Well, meskipun wajahmu tetap persis semulus penggorengan, aku tahu dalam hatimu kau merasa bersalah karena—"
Klang!
Kaleng kopi yang berada di tangan Rivaille melayang di udara dan dalam hitungan detik kaleng dingin tersebut telah mendarat di dahi lebar Hanji. Timpukan yang jitu untuk menyumpal mulut berbusa Hanji di pagi hari. Anggap saja sebagai pertanggungjawaban Hanji karena telah muncul di hari tenang Rivaille. Tidak, sepertinya bukan itu akar menurunnya mood Rivaille. Panggilan mendadak Erwin kemarin malam ketika Rivaille telah tertidur yang menjadi penyebab kedatangan Hanji. Bagaiaman bisa Erwin meninggalkan Rivaille sendirian di rumah sementara dirinya harus pergi tanpa membangunkan si mungil?
Hanji.
Solusi tepat untuk saat itu. Sebuah nama terlintas begitu saja di kepalanya sebelum ia pergi. Daripada memanggil seorang pasien rumah sakit jiwa, akan lebih baik jika Erwin membelikannya 10 anjing penjaga. Tunggu, itu hal buruk. Anjing-anjing itu akan mengotori rumahnya diiringi suara gonggongan yang bertubi-tubi.
Sebenarnya Rivaille ingin sekali meraih kain lap, sikat, sabun, dan menyambungkan selang air ke keran untuk mencuci bersih sofa dan lantai yang terciprat tumbahan cairan penghambat penyerapan kalsium. "Bersihkan. Semuanya. Hanji," kalimat penuh penekanan keluar, terlebih ketika menyebut kata 'Hanji'.
"Ahahaha… tenang saja, Pangeran Kecil. Aku akan membersihkannya sampai bisa kau gunakan untuk bercermin," goda Hanji sembari mengelap lensa kacamatanya yang basah terkena kopi yang tidak jadi diminum Rivaille.
Tanpa memberikan ancaman lain, Rivaille berlalu meninggalkan Hanji menuju kamar mandi. Tadinya ia berniat langsung mandi saat bangun tidur. Tapi niatnya langsung lenyap ketika melihat Hanji berada di ruang tamu. Terlebih setelah menemukan secarik kertas tertempel di kulkas.
Ada panggilan mendadak tadi malam. Tenang saja, aku sudah mengundang Hanji untuk menjagamu. –Erwin.
Rivaille menenggelamkan kepalanya dalam air. Mengeluarkan gelembung-gelembung karbon dioksida dari lubang hidungnya. Setelah gelembung terakhir pecah, Rivaille menyembulkan kepalanya dari permukaan air. "…Eren," gumamnya. Beberapa detik kemudian ia terkesiap mendapati dirinya menyebut nama bayi itu. Hey, apa yang ia pikirkan? Ia masihlah bocah tak tahu apa-apa, tapi tentu saja ia tahu dirinya sudah tidak sepolos itu bocah seumurannya.
Brak! Gedubrak! Prang!
Rivaille memutar kepalanya secepat kilat menatap pintu. Segera ia selesaikan mandinya dan keluar kamar mandi. "Jangan mengacau lagi, kacamata sialan!" umpatnya kesal. Langkahnya berhenti di depan dapur. Piring pecah, beberapa alat memasak berserakan di atas kompor dan lantai. "Apa yang kau lakukan?" tanya Rivaille. Tidak ada penekanan dalam kalimatnya. Hanya kalimat pertanyaan biasa, dengan makna mendalam bagi yang ditanya.
"Aku hanya ingin membuat telur mata sapi untuk sarapan. Tapi, aku tidak tahu kalau minyaknya akan memercik seperti itu," jawab Hanji tenang. "Kau tunggu saja di meja. Sebentar lagi sarapanmu segera siap!"
Rivaille membalikkan badan. "Matikan kompor. Cuci dan bereskan semuanya. Aku makan sereal saja," Rivaille mengambil kotak sereal di lemari makanan terbawah. Erwin meletakkan semua bahan makanan yang mudah disajikan untuk Rivaille jika dirinya tidak di rumah supaya bocah itu bisa mengambilnya dengan mudah.
Hanji selesai membereskan dapur bersamaan dengan selesainya Rivaille memakan sarapannya. "Wow, cepat sekali."
"Kau yang lelet," Rivaille mengecek dapurnya. Sedikit tidak rapi memang. Jadi Rivaille hanya perlu sedikit merapikan dapurnya. Anak itu tidak akan membiarkan sesuatu yang berantakan dan kotor terlewatkan sedikitpun. Itulah alasan ada sebuah stepladder di dapur. Sofa dan lantai yang tadi kotor juga diperiksanya.
"Kau terlihat tidak bersemangat, Rivaille. Mood-mu buruk." Hanji melenggang menuju kamar Rivaille tanpa sungkan.
Melihat Hanji mengarah ke kamarnya, si surai hitam segera mengejar, "Mau apa kau? Tidak cukup dengan dapur?" Rivaille menghalangi Hanji dengan merentangkan kedua tangannya di depan pintu kamarnya, tidak mau kamarnya disamakan dengan dapur yang telah digerataki.
"Ke Jerman."
Kerutan di dahi Rivaille terbentuk. "Jerman?"
Sebuah anggukan tegas menjawab pertanyaan Rivaille. "Biarkan aku lewat atau kau kutinggal." Hanji menentuh dagunya sendiri menggunakan tangan kanan, sementara tangan kirinya menyangga siku tangan kanannya, "Kalau tidak salah… Erna… Em, Rena…Ere…" mata Hanji jelalatan ke atas, kanan, dan kiri. Kepalanya miring ke kiri dengan dahi mengerut.
"…Eren?"
Hanji menepuk tangannya satu kali, "Nah! Itu dia! Eren!" ia merendahkan tubuhnya hingga menyamai tinggi Rivaille, "Sudah berapa bulan sejak kau kesana? Yah, mungkin kau bisa melihat perkembangannya sebelum dia mampu membuatmu terpesona suatu hari nanti," Hanji cekikikan.
Rivaille hanya diam. Matanya melihat ke bawah dengan wajah tetap menghadap ke depan. "Jadi Hanji masih belum tahu?" batin Rivaille.
"Dia laki-laki."
Kalimat singkat itu merangsang mata Hanji untuk sedikit melebar. "…He?" hanya itu komentar Hanji setelah mendengar perkataan Rivaille. "Kasihan sekali, ternyata seorang Rivaille pun pernah diberi harapan palsu." Untuk beberapa saat makhluk pengancam ketentraman dan ketertiban itu terlihat sedang berpikir. Entah bagaimana dan apa yang ia pikirkan Rivaille tidak peduli.
"Tidak masalah, kan?" ditepuknya kepala Rivaille dan sedikit mengusapnya.
Rivaille memandang Hanji sambil mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?" Kepalanya menyingkir dari tangan Hanji.
Hanji menegakkan badannya kembali, "Tidak masalah dia laki-laki atau perempuan. Sama sa—"
"Maksudmu, kau menyuruhku menikah dengan laki-laki? Jangan bercanda."
"Wow, wow! Tunggu dulu, Rivaille! Kau salah paham!" Hanji menenangkan Rivaille yang sedang sensitif, "Aku belum selesai bicara. Aku hanya ingin bilang, kalau seandainya dia perempuan, apa kau yakin bisa mempertahankannya sampai saat itu tiba? Bagaimana jika nyatanya kau tertarik dengan wanita lain?"
Rivaille diam. Sejujurnya bocah itu belum pernah berpikir sejauh itu. Lagipula, semua ini bukan kehendaknya, melainkan ulah Erwin yang mengkhawatirkan Rivaille akan menjadi perjaka tua karena hidup berpindah-pindah. Setelah dipikir, ada benarnya juga kata-kata manusia penggeratak ini. "Sekarang, kenyataannya dia adalah laki-laki dan okay, kau tidak mau menikah dengan lelaki. Tapi kau bisa berteman dengannya, kan? Teman yang tidak akan menyakiti dan mengkhianatimu," Hanji mengedipkan sebelah matanya.
Diluar dugaan. Di saat-saat seperti ini ternyata ia bisa mengeluarkan kalimat bijak. Mungkin Rivaille tidak harus membenci Hanji sebagaimana ia membenci kecoa dan koloninya. Vonis untuk menjatuhkan Hanji ke neraka terdalam pun rupanya menjadi pertimbangan.
"Teman." Rivaille berpikir sejenak, "Mungkin kau benar."
Senyum kemenangan mengembang. "Ahaha, ternyata mudah menaklukkan Rivaille!" pikir Hanjidi balik senyum lebarnya. Andaikan kejadian ini direkam kamera, Hanji pasti akan menunjukkannya pada Erwin lalu mengibarkan bendera kemenangan di atas atap kediaman Rivaille. "Ayo bersiap! Kita pergi malam ini!" dan Hanji pun menerobos kamar Rivaille. Mengacak isi lemari dan kamar Rivaille sambil dihujani tatapan membunuh sang pemilik kamar.
.
.
1 Desember. Berlin, Jerman.
Terdengar suara pintu depan rumah diketuk. Bayi berusia sembilan bulan itu menoleh ke pintu dengan tatapan bingung. Setelah ketukan yang kedua kalinya, sang bayi mulai tertarik dan merangkak mendekati pintu. "Waaa~ Aaa~?" tangan-tangan mungilnya menepuk-nepuk pintu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan sebuah benda kayu di hadapannya. Ketukan itu terdengar lagi. "…Waa~ Maa~ Mmaa~"
"Eren? Sedang apa di situ?" tanya Carla ketika melihat Eren di depan pintu rumah sambil menepuki pintu.
Tok! Tok!
"Ada tamu rupanya?" Carla mengangkat Eren dan menggendongnya. Dibukanya pintu rumah, "Mikasa?" seorang anak perempuan berwajah oriental berambut hitam sebatas punggung telah berdiri di sana. Seulas senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. Di tangannya, ia membawa sebuah keranjang yang ditutupi kain berwarna merah marun, menyembunyikan isinya.
"Selamat siang, Bibi," sapa Mikasa, "Hari ini aku membuat kue. Aku ingin Bibi mencicipinya jadi membawanya untuk Bibi." Mikasa memberikan keranjangnya pada Carla.
"Ng…? Aaa…Mmaaa…Mmaaa~"
"Eren, lihat. Mikasa membawakan kita kue."
Pandangan Eren beralih dari ibunya ke Mikasa. "Aaaa~ Aaaccaaaa~" Eren menyodorkan kedua tangannya pada Mikasa. Terlihat seperti minta Mikasa menggendongnya. Mikasa tersenyum lalu menggendong bayi itu.
"Anou… Bibi, apa aku boleh mengajak Eren bermain ke rumahku? Sepertinya Eren ingin pergi keluar."
"Apa tidak merepotkan?" tanya Carla.
Mikasa menggeleng. "Tidak. Aku justru senang sekali Eren bermain ke tempatku," kata Mikasa sambil meladeni tingkah Eren dalam gendongannya. Sesekali Eren kecil menarik-narik rambut Mikasa yang terjangkau tangannya.
Carla tersenyum, "Baiklah. Hati-hati, ya. Nanti sore aku akan menjemputnya." Carla melambaikan tangannya pada Eren kecil. Eren kecil hanya tertawa. Mikasa meraih salah satu tangan Eren dan membuat gerakan melambai pada Carla.
"Kami pergi dulu," ujar Mikasa lalu berlalu menuju rumahnya.
.
.
Satu-satunya yang mengeluarkan suara di ruang sepi itu adalah suara detik jam dinding. Jarum pendek menunjuk angka 5 sementara jarum panjang menunjuk angka 12. Mikasa mengusap rambut ebony Eren dengan lembut agar tidak membangunkan sang bayi yang kelelahan bermain bersamanya tadi siang. Berulang kali anak perempuan itu mengecek teras rumahnya. Memastikan dirinya tidak membiarkan Carla Jaeger berdiri menunggu di depan rumahnya. "Mungkin ibumu sedang sibuk, Eren. Kau tidur yang nyenyak saja dulu," gumamnya pelan.
Di rumah Ackerman yang sepi itu, Mikasa mulai menyalakan lampu-lampu rumahnya ketika matahari mulai menyembunyikan cahayanya di balik bagian bumi yang lain. Hari sudah gelap dan Carla masih belum muncul menjemput anaknya. Rasa cemas merasuki Mikasa. Gadis kecil itu mencium sesuatu yang tidak beres mungkin telah terjadi pada Carla Jaeger.
Dengan hati-hati ia menggendong Eren. Mikasa berniat mengantar Eren pulang sebelum hari semakin larut. Sejak kecil Mikasa telah dididik oleh ayah dan ibunya untuk selalu bertanggung jawab. Ia yang mengajak Eren datang, dan ia pun harus memulangkan Eren ke rumahnya.
Beberapa meter mendekati kediaman Jaeger, Mikasa memperlambat langkahnya. Dilihatnya rumah itu gelap, tidak seperti rumah-rumah di sekitarnya yang sebagian besar telah menyalakan lampu. Jantungnya berdegup cepat. Sesuatu telah terjadi. Ada banyak orang berada di sekitar rumah tersebut. Polisi berdatangan. Mereka memasang garis batas dan tidak mengizinkan siapapun memasuki area tersebut.
Mikasa berdiri mematung. Sayup-sayup terdengar bisikan segerombolan pejalan kaki yang lewat di sampingnya, "…pembunuhan?"
"Iya. Katanya pembunuhan terjadi sore tadi."
"Bukankah itu tempat tinggal Dr. Jaeger? Beliau sudah menyelamatkan banyak orang. Kejam sekali pelakunya membunuh Dr. Jaeger!"
"Mereka punya seorang anak, kan? Apa dia juga terbunuh?"
"Entah. Mereka tidak menemukan anak itu dimanapun. Aku curiga pelakunya mengincar anak itu untuk dijual organ tubuhnya."
"Astaga… Malang sekali nasibnya…"
Mikasa menatap Eren. Bayi itu masih tertidur dengan pulas. Seolah tidak terjadi apa-apa. Mikasa segera kembali menuju rumahnya sendiri dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Ngg…Aaa~ Aaa…Caaa~?"
Eren bangun. Mikasa memaksakan tersenyum. Hanya itu hanya bisa dilakukannya untuk saat ini. Eren masih terlalu kecil untuk mengerti situasi mengerikan ini. Diangkatnya tubuh Eren tinggi-tinggi agar bayi itu senang.
"…Mmmaaamaaaa…?"
Eren mencari ibunya. Matanya ke sana kemari. Melihat ke atas dan ke bawah. Dimana ibunya? Dimana ayahnya? Eren tidak menemukan dua sosok yang dicarinya. Ditambah kini ia berada di tempat yang ia tahu bukan rumahnya. "Maammaaa…" Eren mulai menangis karena permintaannya tidak dituruti. Ia ingin ibunya.
Tangisan Eren memacu air mata Mikasa keluar. Sedih. Ia merasa bersalah. Seandainya ia berada di sana, mungkin ia bisa melakukan sesuatu untuk menolong mereka. Tapi, bagaimana kalau ia tidak bisa menolong mereka? Apakah Eren juga akan terbunuh? Atau seperti perkataan orang tadi, dibawa untuk diambil organ tubuhnya?
"Eren… Aku akan menjagamu. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua, Eren. Kita sama. Tapi tidak akan kubiarkan kau menderita. Aku akan melindungimu sekuat tenaga." Dipeluknya Eren yang menangis keras. Telinganya terasa sakit mendengar jeritan Eren yang semakin menjadi-jadi. Namun hatinya yang paling sakit. Seperti disayat jarum yang sangat kecil hingga hancur.
"Tuhan, tidak cukupkah hanya aku di dunia ini yang menderita?"
.
.
Rivaille mendecakkan lidah setelah lebih dari setengah jam Hanji menyetir di jalan raya kota Berlin seperti orang bodoh. Pasalnya sudah berkali-kali mereka salah arah dan tersesat. "Sudah kubilang belok kiri!" seru Rivaille emosi. Yap, ternyata faktor lain selain Hanji yang lupa alamat, orang dewasa di balik kemudi ini terlalu gengsi mengikuti perintah Rivaille pasca kesenangan berhasil bersikap bijak pada bocah bermuka teflon.
Hanji mengerucutkan bibirnya, "Baiklah, kali ini aku turuti perintahmu, Pangeran Kecil."
Ingin rasanya Rivaille menonjok kacamata beserta hidung mancung orang di sampingnya kalau saja Rivaille tidak sadar keselamatan dalam kendaraan. Rasanya aneh jika orang yang mengaku berdomisili di Berlin mengemudi mobil di Berlin persis anak ayam nyasar. "Aku ragu kau sungguh warga Jerman atau bukan," sindir Rivaille yang jengah diajak berkeliling kota. Ia tidak mau ambil pusing lagi kalau Hanji kehabisan bensin di tengah jalan.
Dari ekor matanya, Hanji melihat Rivaille sudah malas berdebat dengannya. Ia melihat keluar jendela. Bangunan-bangunan terang dan lampu jalan terlihat menawan di malam hari. Bukan Hanji namanya kalau suatu aksi iseng tidak singgah di pikirannya. "Kau meragukanku? Coba lihat ini," diinjaknya kopling dan mengganti gigi, lalu menekan gas cukup dalam. Mobil pun melesat, menyelip diantara mobil-mobil lain yang berjalan dengan normal.
Rivaille terbanting ke kanan dan ke kiri setiap Hanji banting setir saat menyalib mobil di depannya. Sesekali mobil mereka nyaris menyerempet pembatas jalan hingga meninggalkan bekas goresan. "Hanji! Kau mau membunuhku! Berhenti sekarang!" titah Rivaille yang jantungnya sudah beradu dengan kecepatan mobil. Yang diteriaki malah tertawa kegirangan bagaikan keinginannya selama seribu tahun hidup akhirnya menjadi nyata.
"Apaaa? Aku tidak dengar," ujar Hanji masih asyik dengan kemudinya layaknya bermain Bombom Car di wahana permainan. Sayangnya, jalan raya bukan wahana permainan, justru wahana bunuh diri.
"Berhenti. Sekarang." Kalimat penuh penekanan keluar. Hanji menginjak kopling dan rem dengan cukup kuat. Menyebabkan keduanya tersentak ke depan saat mobil berhenti.
Suara sirine mobil polisi terdengar. Cahaya dari lampu mobil polisi berpendar. Kelereng abu Rivaille menelusuri apa yang tersaji di hadapannya melalui kaca lebar mobil. "Oh, Tuhan,"gumam Hanji dan segera turun dari mobil diikuti Rivaille.
Mereka mendekati TKP. Hanji membenarkan letak kacamatanya yang miring setelah acara mengebut gilanya. Ketika menemukan salah seorang polisi, Hanji segera menghampirinya dan menanyakan kejadian yang terjadi di sana.
Rivaille menatap sekelilingnya. Mencoba mengenali lingkungan sekitarnya. Tempat yang sangat familiar. Ia tahu ia pernah datang kemari. Saat ia datang waktu itu, ia datang bersama Erwin. Matahari masih berada di atas kepalanya. Lalu ketika berdiri di depan pintu, seorang wanita menyambut mereka dengan sambutan hangat. Setelah itu mereka bertemu dengan sosok suci itu. Sebuah berita yang mengecewakan terucap. Lalu mereka pulang. Yang bisa Rivaille ingat saat itu adalah Eren dan mata emerald miliknya.
"…Eren," gumam Rivaille.
Iya. Ini adalah tempat tujuan mereka. Mereka telah sampai dengan selamat. Tapi bukan ini yang ingin ia lihat. Ia ingin Carla menyambut mereka, kalau bisa bertemu dengan Tuan Jaeger juga. Lalu bertemu dengan dia.
"Mereka tidak menemukan Eren, Rivaille."
Badan Rivaille berbalik, menatap ekspresi yang sangat buruk untuk seorang Hanji. "Mereka membawa Eren. Mungkin ada yang menginginkan matanya. Jujur saja, mata Eren emerald yang indah," Rivaille hanya bisa memasang wajah datarnya. Ia tidak tahu harus memasang wajah bagaimana. Menangis meraung-raung pun tidak akan membuat Eren tiba-tiba muncul di hadapannya seperti sebuah mukjizat.
Hanji mengernyit, "Rivaille? Kau…" ia menghembuskan nafas kecewa sebelum melanjutkan, "kau tidak baik-baik saja." Tangannya hendak meraih kepala Rivaille, tapi Rivaille terlanjur menjauh. "Maafkan aku, Rivaille. Aku—"
"Kau tidak salah, Hanji. Kau berniat mengajakku bertemu dengannya. Sayangnya ini justru perpisahan." Rivaille berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Tak ada yang bisa dilakukan Hanji selain ikut masuk ke mobil dan segera meninggalkan tempat tersebut.
"Semakin lama berada di sana, semakin buruk kondisi Rivaille," pikir Hanji.
Rivaille melepas jaketnya untuk menjadikannya selimut. Ia menutupi dirinya dari kepala hingga ke ujung kaki yang ia tekuk di atas jok mobil. Tidak seperti tadi, suasana sunyi melingkupi keduanya. Tawa jahil Hanji lenyap. Rivaille bungkam. Hanji tahu, walaupun Rivaille baru satu kali menemui Eren, Rivaille tidak akan melupakan Eren begitu saja. Dan… Apa katanya tadi? Eren memiliki mata emerald?
"Kita pulang, Rivaille." Pedal gas diinjak.
Mobil pun melaju dengan normal menuju bandara. Membawa mereka pulang ke Paris.
Dari celah jaketnya, sekali lagi Rivaille melihat langit Jerman yang gelap dihiasi kerlap-kerlip bintang-bintang yang tersebar secara acak. Eren telah menghilang. Namun itu tidak menjadi penghalang bagi Rivaille untuk terus mengunjungi Jerman. Ia akan terus datang ke sini. "Eren, selama aku masih bernafas, aku akan kembali kemari. Aku akan menemuimu. Akan kuperkenalkan diriku lebih dari siapapu, mengatakan "Halo" padamu. Menjabat tanganmu. Dan melihat dirimu tepat berada di hadapanku."
15 tahun kemudian. Berlin, Jerman.
Pemuda itu mengecek jam dinding dan sekelilingnya. Dalam gelapnya ruangan, ia memicingkan matanya agar dapat melihat seisi ruangan dengan jelas. Dengan perlahan namun pasti kakinya menuruni lantai tangga yang dingin. Diambilnya jaket dan syal di dekat pintu lalu mengenakannya sebelum membuka pintu dan pergi keluar tanpa lupa menutup kembali pintunya.
Kaki telanjangnya terasa nyaris beku ketika ia berhasil keluar rumah. Sedikit terburu-buru, ia menuju sudut halaman dan menemukan sepatu yang telah letakkan di sana secara sengaja. Ia melihat ke jendela kamarnya di lantai dua, kemudian beralih ke jendela di sebelahnya. Keduanya sama-sama gelap. Tidak ada tanda-tanda penghuni kamar di sampingnya terbangun. Senyum lega terukir di bibirnya sambil bergegas pergi meninggalkan halaman.
Hembusan nafasnya mengeluarkan kepulan uap air dari lubang hidungnya. Ia mempercepat langkahnya menuju alun-alun kota yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya. Cahaya lampu jalan menerangi dirinya. Orang-orang tidak terlalu banyak berkeliaran di malam yang dingin. "Semoga aku tidak terlambat!" pemuda itu berbelok di pertigaan terakhir dekat alun-alun kota. Dari jauh dilihatnya sekerumunan orang tampak mengelilingi sesuatu di sana. Tidak perlu diberitahu, pemuda itu telah mengetahui apa yang sedang dikerumuni bagai gula di antara semut-semut karena dirinya termasuk salah satu dari semut tersebut.
Tepuk tangan yang meriah menyambutnya bertepatan dengan berhentinya langkah kaki pemuda bersurai cokelat kayu itu. Nafasnya tersengal namun sedetik kemudian kembali normal berkat alunan lagu yang mengisi rongga telinganya. Ya, ia sedang menonton pertunjukkan biola tengah malam. Datang hanya bermodalkan nekat engendap-endap ketika saudaranya lengah dan jaket di tubuhnya.
Ketika lagu selesai dimainkan tepuk tangan kembali membahana. Sang pemain biola membungkuk hormat mengakhiri pertunjukan yang ia adakan seminggu sekali, yakni setiap tengah malam menjelang pergantian hari dari Sabtu ke Minggu. Kerumunan tersebut membubarkan diri. Semuanya beranjak dari tempatnya kecuali si pemuda. Matanya terus menyoroti sang pemain biola tanpa membiarkan siapapun menghentikannya. Violinist itu tampak mengeluarkan sebuah saputangan dan mengelap biolanya dari sisa serbuk yang menempel di permukaan biola.
Ketika tinggal tersisa beberapa orang di sana, pemuda itu mencoba mendekati sang violinist. Memberanikan dirinya. Ia takut jika ia telah lancang mengajak bicara pria itu. "Sekarang atau tidak selamanya!" batinnya menyemangati dirinya. Ia mengumpulkan udara di paru-parunya lalu membuangnya. Ia mulai mendekat, namun ternyata sang violinist telah selesai membersihkan biolanya dan meninggalkan tempat itu.
Pemuda itu gelagapan antara ingin dengan lancang menahan pria itu atau membiarkannya pergi. Di tengah keraguannya, ia melihat sebuah saputan berwarna putih polos nyaris tersamarkan oleh salju. Dipungutnya saputangan itu lalu mengibaskannya agar tidak ada salju yang menempel. "Ri-Rivai…?" terlihat sebuah tulisan di ujung saputangan dengan tinta hijau. "Akan kukembalikan minggu depan," ujarnya sambil melihat ke arah menghilangnya violinist itu lalu pulang sambil mengantungi saputangan putih itu.
"Rivaille! Aku di sini!" teriak Hanji. Tangannya ia lambaikan tinggi-tinggi pada seorang pria berambut hitam yang sedang menenteng tas biolanya.
"Ck," Rivaille berjalan mendekati wanita itu, "Berisik, bawel."
Hanji hanya tertawa, "Habisnya aku tidak bisa melihatmu dari sini. Kau seperti tenggelam, Rivaille!" Hanji menepuk kepala Rivaille yang seketika itu juga nyaris menampar Hanji dengan biola di tangannya. "Wow, Rivaille! Kau tidak sungguh-sungguh ingin menggunakan biola itu untuk memukulku, kan?"
Rivaille mendengus kesal. "Mana Erwin?" ia menelusuri setiap sudut ruang terbuka pinggir alun-alun. Mencari pria berambut pirang di antara manusia-manusia yang berlalu lalang.
"Itu dia," jari telunjuk Hanji menunjuk ke arah seorang pria berambut pirang dan pemuda yang juga berambut pirang berjalan beriringan mendekati mereka. "Hoi, Erwin. Kau sudah bosan dengan Rivaille?" tanya Hanji blak-blakan.
Erwin hanya tersenyum, "Kenapa berpikiran begitu? Jangan marah, Rivaille. Hanji hanya bercanda," Erwin mengulurkan tangannya hendak mengacak rambut Rivaille –seperti biasanya. Rivaille mengelak. Wajah datarnya terlihat tidak suka dengan perlakuan 'mengusap kepala' Hanji dan Erwin yang masih belum hilang.
"Singkirkan tangan menjijikkan kalian," ujar Rivaille tajam.
"Tersenyumlah, Rivaille. Lihat, sepupumu sampai ketakutan," Erwin mengacak rambut pirang pemuda yang dibawanya. "Dia Armin, anak adik perempuanku."
"Salam kenal, aku Armin Arlert." Armin menundukkan kepalanya hormat –atau mungkin takut jika Rivaille menyemburnya dengan kalimat kasar.
Rivaille mengangguk pelan, "Rivaille." Singkat memang.
"Untuk tiga bulan ke depan kau akan tinggal di Jerman bersama Armin. Kebetulan anak ini ingin belajar bermain biola. Kau bisa mengajarinya, kan?" Erwin merangkul Armin sambil tersenyum meyakinkan ke arah Rivaille.
Uap air dihemuskan Rivaille, "Tidak masalah," jawabnya singkat. Rivaille hanya meng-iyakan apapun yang Erwin katakan daripada harus repot-repot bermain jankenpon untuk menentukan apakah ia harus mematuhinya atau tidak.
"Hohoo~ Rivaille, sepertinya benar Papamu sudah bosan denganmu! Kau ditinggal di sini! Hahaha!" Hanji tertawa jahil layaknya menggoda anak kecil yang sudah nyaris menangis meraung-raung karena sudah tidak disayang oleh orang tuanya karena sudah besar.
"Mati kau, sialan."
Malam semakin larut. Keempat orang tersebut masuk ke dalam mobil menuju tempat tinggal Armin. Di sana mereka disambut oleh pria tua ramah yang rela mengorbankan waktu istirahatnya menunggu kedatangan mereka.
Pagi-pagi sekali Erwin dan Hanji sudah berangkat. Mereka berpamitan pada sang kakek dan Armin, "Kau boleh menjitak kepalanya jika ia berkata kasar," canda Hanji saat melihat wajah Armin terlihat cemas—seakan berkata, "Paman, Rivaille bukan sejenis kanibal, kan?"selagi melihat dua orang dewasa itu akan pergi.
"Kakek istirahat saja. Hari ini biar aku yang membereskan kebun mumpung libur," ujar Armin ketika kakeknya telah siap.
Sang kakek tertawa pelan, "Tidak apa, Armin. Kau tunggulah di sini. Aku tidak mau meninggalkan kebunku kedinginan di luar," ia memakai topi kesayangannya dan melambai pada Armin sebelum menghilang di balik pintu.
Alasan Armin ingin pergi ke halaman belakang adalah Rivaille. Ya, pria itu keburu membuat bulu kuduknya berdiri jika berada dalam radius 5 meter di sekitarnya. Tidak ada angin kencang, tidak ada badai, tidak ada hujan. Tubuh mungil itu merasa dirinya seakan berada di dalam sarang harimau sekarang. Jantungnya berdetak semakin cepat. Jemari tangannya meremat kain celananya kuat. Matanya melihat horror ke lantai ketika suara langkah entah darimana terdengar.
"Oi, bocah."
"Aaa!" jerit Armin terkejut. Badannya refleks berbalik, ke arah sang pelontar kalimat barusan.
"Kau ini kenapa?"
Armin menggeleng kuat. "Aku harus menjadi tuan rumah yang baik!" ia menyemangati dirinya. "Aku sudah menyiapkan teh hangat untukm—"
"Mana sapu?"
Alis Armin naik sebelah, "Eh?"
"Kain pel, kemoceng, sikat, sabun pembersih lantai. Siapkan semuanya," suruh Rivaille dengan mata tajam tertuju pada kotoran-kotoran berupa tanah dan rerontokan daun kering yang tersebar di lantai.
Tanpa menunggu Rivaille memaki dirinya, Armin segera mengeluarkan alat-alat kebersihan yang tadi diabsen Rivaille secepat kilat. Padahal biasanya Armin selalu melakukan semua hal secara perlahan, hati-hati, dan penuh kelembutan. Sekarang persetan dengan perlahan dan kelembutan, Armin belum mau lehernya digorok tatapan tajam Rivaille. Cita-citanya melihat bunga Mataharinya belum tercapai.
Begitu semua alat-alat pembersih dikeluarkan, Rivaille yang sudah gregetan segera menyapu bersih setiap kotoran tanah itu. Hanya setengah jam waktu yang diperlukan Rivaille untuk membasmi semuanya, sampai sudut terpencil sekalipun sudah bersih –terima kasih pada tubuh mungilnya.
"Tempat belajar harus bersih agar semua kemampuanmu keluar. Kita mulai sekarang," Rivaille membuka tas biola dan mengeluarkannya.
"Anou… Sebenarnya bukan aku yang ingin belajar…" Armin mundur beberapa langkah ke belakang. Gemetar ketakutan terlihat pada jemari tangannya yang ia tautkan tanpa maksud yang jelas. Armin sadar dirinya baru saja menyulut sumbu api.
Rivaille mengerutkan dahinya, "Lalu—"
"Armiiiiin!"
Yang namanya dipanggil tersentak. "Tunggu sebentar," Armin langsung berlari menuju pintu.
Dari suaranya yang agak kekanakan, Rivaille menyimpulkan salah seorang teman Armin datang berkunjung untuk mengajaknya bermain karena cuaca di hari Minggu ini lumayan mendukung aktivitas di luar rumah.
Tak lama kemudian Armin kembali, "Memang bukan aku yang ingin belajar, tapi… Dia!" Armin menyeret temannya, menunjukkan pemuda berambut ebony tersebut pada Rivaille. "Namanya Eren."
Biola di tangan Rivaille nyaris meluncur bebas dari tangannya. Rivaille membatu selama beberapa detik setelah kedua pasang mata mereka bertemu. Tidak berkedip. Tapi bukan Rivaille namanya jika tidak mampu mengatasinya, "…Ingin main biola rupanya. Baiklah, siapkan dirimu, anak ayam. Akan kuajari kau cara memainkannya…" Rivaille melangkah mendekati Eren.
"Eren Jaeger."
Pemuda itu tidak kalah terkejutnya. Mulutnya sampai menganga tidak percaya pada matanya sendiri. Mata hijau terangnya berkilat.
"…Sir Rivai…?"
~TBC~
Terima kasih bagi para readers sekalian yang telah mampir dan yang sudah mereview di chapter sebelumnya. Sao mau balas review dulu~
AkaneMiyuki : Ngenes ya, hehe… Semoga ga keberatan dengan kisah ngenes ini~ ^_^
Anon : Arigatou… Chapter kali ini agak panjang, mudah-mudahan ga bosen bacanya, ya ^_^
Dark Flame: Waduh diancam. Tenang-tenang… Ini udah dilanjut~ ;)
Naru Frau Rivaille : Arigatou… Tsun-tsun? Kurang lebih memang seperti itulah image Rivaille di otak Sao~ hehehe XD
hasegawa tsubaki : Kepo sama umurnya Rivaille? Sudah dijawab di atas yah~ :D
Tentaiki H Funf : Halo, salam kenal juga ^o^ arigatou… Semoga tambah suka ya hehe~
Guest : Ini udah diperpanjang. Sekarang masih kurang panjang atau terlalu panjang nih? :3
NabilaAgain : Bisa jadi kali ya hehe~ Biarkan Rivaille belok dan terus belok~ #ditebas Heichou
Selamat pagi, siang, sore, malam (coret yang tidak perlu) semuanya. Ini Sao update kilat soalnya mumpung lagi banyak waktu buat ngelanjutin fanfict ini. Daripada ditunda-tunda takutnya malah ga jelas kapan bisa update -_- tapi sebisa mungkin akan diupdate secepatnya~
Maaf buat kekurangan yang ada dan yang melihat typo(s) terselip di sana atau kata yang diulang-ulang terus. Sao jujur masih kekurangan kosakata. #makan KBBI sambil sujud-sujud
Semoga kalian suka, ya… ^0^
Mind to review?
