Heart of the Ocean part 2
Rose..
In the most amazingly.
I standing..
wonderful girl..
Whoming that i've ever known..
I know i need it
I know how the world works,
u jump i'll jump,
remember...
Disclaimer : Olivertine Sykes
Story inspired by : Titanic movie.
.
.
.
Previous story
Aku menyusuri sepanjang jalan di dek atas. Berbagai orang dari status yang berbeda-beda ku jumpai. Mereka ramah tak seperti orang-orang di kelas satu. Yang hanya memandang orang lain sebelah mata,dan hanya mau mengenal orang-orang yang sekelas dengan mereka. Sungguh memuakkan. Memandang ke segala penjuru,tak sengaja mataku menangkap sosok seorang pemuda sedang duduk,yang sepertinya ku kenal. Tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Pemuda itu tampak sedang mencoret-coret ,entah menulis atau aktifitas apa yang sedang dikerjakannya di sebuah buku di tangannya.
Hey,bukankah pemuda bertopi itu Jack? Pemuda yang menolongku semalam? Senyum lebar segera menghiasi wajahku.
.
.
Chapter 2
"hey!", sebuah tepukan mendarat di bahu pemuda bertopi coklat yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Pemuda blonde itu mendongakkan wajahnya, mendapati wajah seorang gadis cantik yang tak asing baginya.
Setengah terkejut ketika menyadari kehadiran sosok menawan itu berada di belakangnya, Jack bangkit dari duduknya.
"Hai", sapanya, "bagaimana kau bisa disini?",tanyanya dengan senyum mengembang di wajahnya. Gadis berambut merah marun itu mendekat dan duduk di kursi panjang disisi Jack.
"Sedikit jenuh dengan keadaan di kelas satu,aku ingin menghirup udara bebas di sini", ujar gadis itu terus terang. Jack mengangguk-angguk mengerti. Menatap gadis itu dengan sedikit heran.
"Tapi disini bukan tempatmu", ujar pemuda itu, "keluargamu akan mencarimu".
Wajah cerah gadis itu berubah kaku.
"Aku tidak peduli", sahutnya singkat. Jack mengernyitkan dahi,tak mengerti.
"Sudahlah,bukan hal yang penting. Ayo bersenang-senang!", gadis berkulit putih bersih itu menarik lengan Jack penuh semangat seraya berlari. Pemuda itu hanya bisa mengikutinya.
xxx
Rose
CUIHH!
"Hey!bisa kau ajarkan itu padaku? Ayo ulangi", seru ku di sela-sela tiupan angin dan gemuruh lautan Atlantik. Pemuda di sampingku itu tertawa-tawa setelah melakukan aksinya membuang ludah jauh-jauh ke samudra es di bawah sana. Aku pun ikut tertawa.
"cuihh", ia membuang ludah lagi,"lakukan seperti yang kulakukan", serunya disertai tawa renyah. Kutatap pemuda itu dengan tatapan mengejek sambil melepaskan tawaku. "Tentu saja!" seruku sambil kemudian menirukan aksinya.
Uhh, buruk.
"hahaha..",Jack tertawa terbahak-bahak lalu kemudian mengulanginya lagi. "Ayo lakukan lebih baik lagi", serunya menantangku. Aku tak mau kalah. "pasti", seruku dan mengulangi lagi aksiku. Yah, sedikit lebih baik lah.
Terjadilah lomba buang ludah di antara kami. Berpasang-pasang mata menatap ke arah ku dan Jack,beberapa dari mereka tertawa menyaksikan tindakan bodoh kami yang mungkin terlihat di luar batas. Kami melakukannya berulang kali, terus dan terus. Hal paling konyol yang pernah kulakukan dalam hidupku,hanya saja kali ini aku merasakan hal yang berbeda. Tak pernah aku merasa senang dan sebebas ini. Rasanya sesuatu dalam diriku muncul lagi. Yah, semangatku. Entah apa yang membuatnya kembali berdegup dalam jantungku.
Tanpa kusadari tatapan angkuh dan jijik ibuku terus mengikuti setiap gerakanku. Setiap jengkal langkahku,tidak luput dari pandangannya.
"Apa yang kau lakukan Rose!",sebuah cengkeraman yang cukup menyakitkan di lengan kanan ku. Ibuku dan Cal telah berada dihadapanku ketika aku membalikkan tubuh. Cal mencengkeram lenganku,kasar sekali dia! Tatapannya menghujamku.
"Benar-benar memalukan", desis Mom sinis. Tatapannya sangat merendahkanku. Ditatapnya pula Jack dari atas ke bawah,tak kalah sinis dengan caranya menatapku. Aku tak suka cara mom merendahkan orang lain seperti ini.
"ayo pergi dari sini", Cal berusaha tak membentakku,hanya penekanan pada setiap kata dari mulutnya serta tatapan tajamnya yang memaksaaku mematuhi keinginan dua orang angkuh dihadapanku ini. Jack tertunduk, kemudian menatapku sesaat sebelum kemudian aku melangkah mengikuti Cal. Aku masih menoleh ke arahnya. Jack memberikan isyarat bahwa ia akan menemuiku malam ini.
xxx
Jack
Pukul setengah 7 sekarang. Sebentar lagi acara makan malam di dek kelas satu. Aku mondar-mandir kesana kemari,gugup. Aku tak tahu harus berdandan dan berpenampilan seperti apa untuk menemui gadis itu. Tak mungkin dengan gaya seperti ini masuk ke ruangan mewah kelas satu. Aku harus membuat kesan baik dihadapan nyonya tua yang sombong itu. Aku tak mau direndahkan lagi olehnya. Dan.. aku ingin Rose terkesan dengan pertemuan malam ini.
"hey anak muda",seorang wanita gemuk dengan penampilan selayaknya orang-orang kaya di kelas satu,menepuk bahuku. Wanita itu kemudian menarik pergelangan tanganku,
"aku bantu kau", katanya tersenyum padaku. Sepertinya aku pernah melihatnya. Kuikuti langkahnya. O iya wanita ini salah seorang dari kumpulan nyonya sombong yang tak lain adalah ibu Rose.
xxx
Tak bisa kubayangkan bila wanita itu tak memberiku setelan jas yang menempel ditubuhku saat ini. Mungkin aku tak kan berani menemui Rose. Kutatap diriku di cermin-cermin besar sebelum kemudian aku melangkah masuk ke ruangan besar dan mewah kelas satu. Merapatkan jasku dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku layak berada disini. Layak duduk di kerumunan orang kaya, layak berdiri di sisi Rose yang pasti. Wanita gemuk itu meyemangati ku. Benar-benar orang kaya yang sangat baik.
Aku berdiri di anak tangga paling bawah di tangga besar nan mewah di tengah ruangan berdesain klasik itu. Menghitung detik demi detik menjelang pukul 7 malam. Gadis itu pasti turun sebentar lagi. Aku tak sabar,gugup, semua beradu dalam pikiranku. Sampai kemudian aku mendongak,menemukan sosok menawan yang tengah turun di hadapanku.
Gadis itu tampak sangat cantik dengan gaun merah panjangnya. Rambutnya diikat setengah,menampakkan leher jenjangnya yang tertutup helai-helai rambut merahnya yang sdikit terurai. Sebuah kalung berbatu saphire biru tua menggantung di leher putihnya,membuat nya tampak semakin mempesona. Ia tampak berjalan anggun,dengan ibunya menggamit lengan kirinya. Di belakang nya tampak pria dengan tampang arogan nya yang berjalan tegap mengikuti keduanya sampai dibawah.
Rose benar-benar menawan. Bibir merah darahnya terus melempar senyum ke arahku,matanya pun menatap lurus ke arahku sampai ia tiba tepat dihadapanku.
Kutatap gadis dengan iris biru laut yang kini berada tepat dihadapanku,dan mengulurkan tangan kananku ke arahnya. Bukannya aku tak menyadari wanita tua disisinya yang tak lain adalah ibunya,tapi keanggunan Rose membuatku tak bisa melihat selain ke arahnya. Gadis itu menyambut uluran tanganku dan berjalan maju menjajari ku. Aku menariknya lembut ke bawah dan kemudian membuatnya nyaman berjalan disampingku sebelum kemudian melangkah meninggalkan seuntai senyum singkatku ke arah ibu Rose yang menatapku angkuh.
Rose menggamit lengan kanan Jack. Keduanya berjalan seirama menuju ruang makan di ruangan mewah itu. Rose tampak sangat menawan. Begitu pula pemuda disisinya. Jack melangkah dengan bangga dan penuh percaya diri. Ia sedang berdampingan dengan gadis cantik yang memikat hatinya sejak pertemuan pertama mereka.
"kau sangat menawan malam ini Rose", bisik Jack di tengah perjalanan mereka. Gadis itu tersipu malu.
"Kau juga tampak menawan malam ini Jack", sahut gadis itu berbalik memujinya. Jack tersenyum singkat.
" Apa aku sudah pantas berada disini, dan sudah cukup pantaskah aku duduk semeja dengan orang-orang dikelasmu?",Jack bertanya sambil tetap berjalan seanggun mungkin. "Kurasa ini semua tak akan merubah image buruk ku di hadapan ibumu dan tunanganmu".
Rose tersenyum sambil tetap menatap ke arah depan. " i don't think so",bisiknya singkat penuh arti. Senyum menawan tersungging di bibir merahnya. Jack sedikit mengernyitkan dahinya,entah apa lagi yang harus dilakukannya untuk membuat dirinya pantas mendampingi Rose.
xxx
" Ternyata kau jago berakting juga,aku salut! Hahaha", Rose menjajari langkah Jack yang tengah berjalan di depan mendahuluinya.
" Hm,kurasa tak sebaik itu",sahut Jack sambil terus melangkah menuju dek kelas nya. "aku tak bisa bayangkan kalau ibumu dan pria itu mengetahui kebohongan kita".
Rose memperlambat langkahnya. "Kau tidak suka dengan ide ini?", sahutnya pelan, "Kupikir ini jalan supaya aku bisa bergaul denganmu". Nada suaranya terdengar kecewa. Pemuda dihadapannya masih terus melangkah.
Gadis itu menghentikan langkahnya. " Dan menurutmu semua yang kau lontarkan dihadapan orang-orang tentang siapa dirimu itu salah?", seru gadis itu,menghentikan langkah Jack. Jack berbalik ke arah gadis itu. Wajahnya tampak kecewa.
"Aku tak bilang begitu", ujarnya pelan. Berharap gadis itu tidak akan kecewa dengan kata-katanya. Rose berbalik dan melangkah meninggalkan nya. Spontan pemuda itu berusaha mengejarnya.
"Rose,dengarkan aku", seru Jack di sela-sela langkah nya yang dipercepat untuk menyusul gadis di depannya yang terus melangkah tak peduli. Mereka sampai di dek tempat dimana mobil-mobil kelas tiga terparkir. Rose masih terus melangkah mendahului pemuda itu.
"Rose! Listen to me!", seru Jack saat ia berhasil meraih bahu gadis di depannya dan merapatkan punggung gadis itu ke sisi sebuah sedan reot di sisi kanan mereka. " listen to me", bisiknya tajam tepat di wajah Rose. Gadis itu tak bisa berkutik. Ia terdiam menatap pemuda di hadapannya yang kini tengah memepetnya di sebuah mobil tua.
"Aku sangat senang bisa mengenalmu", ujarnya lembut di wajah gadis yang tampak gugup dalam naungan kedua lengannya itu. " Aku sangat bahagia saat tahu kau ingin bergaul denganku. Kau tahu, dari awal aku melihatmu, aku ingin bisa bersamamu. Hanya saja, aku takut . kita jauh berbeda. Aku takut ibumu yang menentang, aku takut pria sombong itu akan menekanmu lebih lagi dan itu berarti kau akan semakin tertekan", jelasnya semakin merapatkan gadis itu di rengkuhannya."aku tak ingin kau terluka".
Rose tak tahu apa yang harus diucapkannya pada pemuda dihadapannya itu saat ini. Tapi ini sebuah pengakuan yang membuatnya merasa sangat bahagia. Jack semakin menunduk menatap gadis itu,deru nafasnya semakin jelas terasa menerpa wajah gadis itu yang sekarang pasti semerah kepiting rebus.
Tanpa basa-basi Rose meraih wajah pemuda itu dan menciumnya. Reflek pemuda itu pun membalasnya. Tak perlu lagi penjelasan, tak perlu lagi kata-kata indah yang keluar dari bibir keduanya.
xxx
Rose sibuk membolak-balik buku sketsa di tangannya satu persatu. Gadis itu tampak sangat sibuk mengagumi isinya. Lembar demi lembar ditatapnya penuh kekaguman. Jack masih sibuk menyelesaikan lukisannya yang diambilnya dari seorang anak yang tengah bermain dengan ibunya dihadapannya.
Gadis itu takjub ketika matanya menemukan sebuah lukisan yang menarik perhatiannya dari buku sketsa Jack. Ditelusurinya tiap goresan sosok wanita tanpa busana di lembar itu dengan mata yang tak henti-hentinya menyorotkan kekaguman akan hasil karya pemuda di sisinya.
"Kau kah yang melukisnya Jack?", tanyanya tanpa memalingkan wajah ke arah lawan bicaranya. "yah",sahut pemuda itu seraya menyelesaikan gores terakhir hasil karyanya .
"Benar-benar indah", ujar gadis itu kagum. "Siapa dia?".
Jack menutup lembaran hasil karya di tangannya dan mendekat kepada gadis itu.
" wanita yang sangat cantik bukan?", ujarnya mengambil lukisan itu dari tangan Rose. " iya, sempurna", sahut gadis itu.
"Kau tahu, wanita ini dari Perancis. Ia sangat baik padaku. Aku melukisnya saat aku berada di Paris", sahut Jack sambil menunjukkan lembar demi lembar lukisannya dengan obyek wanita yang sama. Rose mengamatinya satu persatu.
"Kau sering melukisnya?", tanya nya kepada pemuda itu. "Yah", sahut Jack.
"bahkan tanpa busana seperti ini?", tanya Rose lagi.
"yah. Hanya melukisnya saja", sahut Jack. Kemudian tertawa renyah. "Kau tahu, gadis ini hanya punya satu tangan", Rose berubah prihatin.
"Benarkah?lalu?", sahutnya ingin tahu. "yah aku selalu menyemangatinya dengan membuat berbagai lukisan dengan menjadikannya objek. Agar dia menyadari bahwa di samping kekurangannya,ada sisi dimana ia bisa membuat kagum orang-orang yang melihat dirinya dalam karyaku" jelas pemuda itu.
"berapa banyak kau melukis wanita tanpa busana seperti itu?", sahut Rose bertanya lagi.
"Banyak. Aku tidak ingat", sahut pemuda itu tersenyum.
"kau tidak pernah terlibat cinta lokasi dengan objek2mu?",tanya gadis itu lagi. Tawa Jack pecah. " Selama ini sih belum pernah", sahutnya, "mungkin kau mau menjadi obyekku?", ujarnya dengan tampang menggoda. Rose tertawa meninju lengan pemuda itu pelan.
"hm.. tunggu aku nanti malam",bisiknya kemudian meniggalkan Jack yang tak mengerti,hanya senyum penuh arti sebelum kemudian berlalu.
xxx
Jack
Malam itu aku tengah menyiapkan selembar kanvas besar dan peralatan melukisku di kamarku yang tidak terlalu besar. Rose berjanji akan datang malam ini. Mungkin gadis itu mau menjadi objek lukisku.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam itu. Suara ketukan di pintuku membangunkanku yang hampir terlelap menunggu Rose. Kuraih gagang pintu dan mendapati gadis yang kunanti di depa sana. Ia hanya mengenakan baju tidurnya dengan liontin berbatu saphire yang selalu dikenakannya.
Aku menyambutnya dengan senyum termanisku. Rose melangkah masuk ke kamarku. Kamarku berantakan. Mungkin ia tak kan menyukainya.
"Jack aku ingin kau melukisku seperti kau melukis wanita Perancis itu",ujar Rose lembut. Aku senang ia menjadi objek ku. "baiklah", sahutku tersenyum, membimbingnya ke arah sofa besar di depan kanvasku.
"hm,kau di sini. Lalu bagaimana yang kau ingin?", tanyaku pada gadis itu. Rose menatapku dalam.
"Aku ingin kau melukisku mengenakan ini", ujarnya tersenyum sambil memegang liontin berbatu saphire biru yang tergantung di leher jenjangnya, "hanya mengenakan ini".
T.B.C..
thx for read :)
sorry im just update the new chapter now,cz of so many business.
Please read n review, thank u.
- Olivertine Sykes-
