Chapter II: Runtuh
Cahaya neon bercampur putihnya salju silih berganti menghampiri penglihatan Hidan tatkalamatanya menatap hampa dari sebalik kaca mobil. Selama mobil melaju, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Neji cukup puas hanya dengan mengendalikan pergerakan mobil tanpa ada niat sedikit pun untuk mengajak penumpang di sebelahnya mengobrol. Sebaliknya, semakin terdengar jalas deru halus mesin mobil, semakin kalut pikiran Hidan. Berbagai perkiraan menghampiri setiap saraf di otaknya.
"Aku belum tahu siapa yang akan menerima hatiku nanti," gumam Hidan pertama kali ketika mobil itu berhenti di lampu lalu lintas.
Neji tidak langsung menjawab. Ia membiarkan cahaya merah di atasnya berganti hijau. Dengan mengambil sembilan puluh derajat putaran pada setir, ia merespons, "Anak perempuan berumur lima tahun, Hyuuga Hime."
"Anak perempuan?"
"Nanti juga kau akan tahu," jawab Neji singkat.
Jawaban Neji jelas menandakan ia sedang tidak ingin banyak berbicara sekarang. Hidan menghela napas. Orang yang terlalu serius memang bukan tipe yang ia sukai. Tapi di sini ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang dimau Neji.
Mobil terus melaju menembus salju yang sedari tadi belum berhenti turun. Awan kehitaman masih bertengger di bawah langit yang menaungi mereka. Tampaknya dalam waktu dekat ini salju tidak akan berhenti melayang jatuh.
Jalan telah sempurna terlapisi tumpukan salju tipis saat Neji dengan perlahan memutar setirnya ke arah kiri. Pemandangan berbeda terlihat. Kali ini didominasi dengan daerah pertokoan alih-alih pemandangan kosong. Hidan kenal minimarket 24 jam yang meringkuk di sudut jalan. Ia tahu tidak jauh dari situ, ada mesin penjual minuman berakohol dengan berbagai merekyang lumayan sering ia datangi.
Ketika mobil berbelok memasuki jalan di sebelah minimarket 24 jam, jelaslah tujuan si pengemudi. Hidan tentu kenal jalan ini. Jalan menuju apartemennya. Cukup mengikuti jalan ini saja sebelum sebentuk bangunan tiga lantai terlihat di sisi kanannya. Di situlah ia tinggal. Tepatnya di lantai teratas.
"Bereskan semua pakaianmu. Aku akan menunggu di sini," Neji bergumam ketika Hidan akan membuka pintu mobil.
Pergerakan Hidan terhenti. Ia melihat pada jam tangannya. Jarum telah melewati angka dua belas. "Malam ini juga?"
"Apa kalimatku tidak jelas."
Hidan mendengus, "Sangat jelas, Tuan Hyuuga. Tapi setidaknya kau tidak perlu sedingin itu. Sedikit berbasa-basi juga perlu untuk membangun hubungan. Apa keturunan Hyuuga selalu serius begini…." Untuk kalimat terakhir, hanya berupa bisikan namun cukup jelas terdengar oleh lawan bicaranya.
Neji menatap Hidan tajam. Pun begitu, pria yang ditatap tidak mengacuhkannya.
"Terserah kau mau bilang apa. Jangan lupa untuk melepas tindikmu itu."
Hidan memutar kedua bola matanya.
—marduk 789—
Hidan menangkap payung transparan yang dilempar Neji. Pria berambut panjang itu baru saja keluar dari mobil hitam mengilatnya yang ia parkirkan di antara dua pohon besar.
"Selamat datang di kediaman Hyuuga," gumamnya.
"Aku tahu."
Hidan membuka payungnya. Satu tangannya membawa koper hitam berukuran sedang.
Kediaman Hyuuga masih tetap semegah seperti enam tahun lalu. Ia yakin tidak ada sedikit pun yang berubah dari susunan rumah bergaya tradisional ini. Kediaman ini terbagi atas lima rumah yang dihubungkan dengan koridor panjang. Di tengah-tengah kediaman, terdapat taman yang ditata indah. Dan tidak jauh dari aula latihan bela diri yang berada di ujung timur, ada lapangan tempat latihan memanah.
Tempat mereka berdiri sekarang merupakan bagian luar dari kediaman Hyuuga, tempat biasa kendaraan terparkir. Dengan melewati pintu gerbang kecil yang dibangun dari kayu pilihan terbaik, secara otomatis ia telah memasuki kawasan resmi kediaman Hyuuga.
Mereka memasuki rumah pertama yang tidak sebesar rumah lainnya. Di tabung kayu cokelat tua yang berada di sudut pintu masuk, mereka memasukkan payung ke dalamnya diikuti dengan melepaskan sepatu. Di dalam sini hanya tergantung lukisan-lukisan kuno dan beberapa pajangan haiku. Di rumah inilah setiap koridor bermuara. Bisa dibilang rumah ini hanya dibangun untuk akses keluar-masuk.
Neji memimpin di depan. Mata Hidan mencoba untuk beradaptasi dengan lukisan-lukisan yang menggantung di dinding. Tidak lama mereka memasuki ruangan, tiga cabang koridor membentang; kiri, depan, dan kanan.
Langkah Hidan berhenti, tubuhnya mengarah pada koridor kiri. Ia memandang lurus pada lorong kosong yang beberapa lampunya telah dimatikan. Dari kedua iris sewarna kecubungnya, terbayang jelas punggung dirinya dengan seorang gadis berambut panjang biru kelam mengarah ke ruangan di sudut sana. Refleks, kakinya mengambil langkah untuk melihat seberapa bayangan itu terlihat nyata.
"Mau ke mana kau? Kamar tamu ada di sebelah sini." Suara Neji membangunkan kesadarannya. Bayangan di matanya lenyap.
Hidan tidak merespons. Pikirannya masih mengambang. Ia menarik napas panjang lalu menghelanya sebelum membalikkan tubuh. Neji berada tiga meter di depannya. Ia kembali berjalan. Hidan mengikutinya dalam diam. Hanya suara gesekan langkah kaki pada permukaan dingin kayu yang terdengar begitu nyaring sekarang.
—marduk 789—
"Hei, bangun." Neji membuka gorden yang tadinya masih meremangkan kamar baru Hidan.
Cahaya matahari masuk menembus kaca bening yang memperlihatkan pemandangan putih sempurna di luarnya. Rumpun bambu hampir sempurna terkristalisasi, diikuti dengan permadani putih yang mengalasinya. Awan yang semalam begitu tebal menaungi kini telah digantikan dengan gumpalan awan tipis yang cukup jauh jaraknya.
Hidan merengut dalam ketidaksadarannya ketika sulur cahaya dengan samar menembus kelopak matanya. Ia masih sempat membalikkan tubuh untuk mencari posisi aman yang lantas membuat Neji menggeram.
"Bangun sekarang atau aku akan memaksamu!"
Nihil jawaban. Cara lain yang terlintas di pikirannya hanya dengan menarik selimut tebal yang membungkus tubuh Hidan. Pria yang masih tidur itu merespons dengan meringkukkan tubuhnya. Walaupun di luar cerah, hawa dingin masih tetap kentara. Tidak lama, Hidan terbangun dengan ekspresi penuh alur di wajahnya.
"Tidak bisakah kau membiarkanku tidur lebih lama lagi?!" Hidan menggaruk kepalanya frustasi. Ia memandang pada jam di ponselnya yang menunjukkan angka tujuh. "Bahkan matahari baru terbit!"
"Kau harus terbiasa dengan kehidupan di sini. Sebentar lagi jam sarapan. Kau harus segera bersiap. Setengah jam lagi aku akan datang."
Belum sempat Neji menarik pintu kamar, langkahnya tertahan dengan suara pria di belakangnya.
"Kau ini sebenarnya pengacara atau kepala pelayan?"
Neji menolehkan kepalanya ke samping dengan tubuh yang masih menghadap ke pintu. "Kau tidak berhak bertanya begitu jika tidak tahu isi kontrakku dengan pamanku." Ia pun berlalu.
Hidan memerhatikan punggung Neji hingga menghilang di sebalik pintu geser. Kalimat pria berjas hitam itu berputar di pikirannya. Ia tidak mengerti kenapa Neji begitu serius menjawab pertanyaannya yang tidak lebih dari candaan satire. Apa pun itu, ia lebih tidak dapat menerima peraturantidak tertulis yang telah menyatu pada keluarga ini. Bagaimana bisa orang sepertinya disetir oleh waktu? Tapi setidaknya ia harus bersabar hingga proses transplantasi selesai. Namun sayangnya, ia tidak tahu kapan itu akan terjadi.
Setelah bersiap-siap, Hidan keluar dari kamarnya. Ia memandang ke sekeliling, tidak ada siapa pun. Ia menggaruk kepalanya, bingung. "Mungkin aku harus keliling sebentar."
Ia pernah sekali datang ke kediaman Hyuuga, tapi tidak pernah melewati koridor di bagian kanan rumah. Ternyata selain koridor kiri, depan, dan kanan; di koridor kanan ini terdapat koridor lain menuju ke satu rumah yang letaknya di belakang. Ia mencoba melangkah menyusuri lorong.
"Apa yang akan kau cari di kamar para pelayan?"
Hidan memutar kedua bola matanya. Ia jelas mengenal suara yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. Selau begitu. Neji lagi-lagi mencuri momennya. Ia memutar tubuhnya.
"Setidaknya kau beri tahu aku tentang rumah ini. Kediaman ini begitu luas sehingga membuatku penasaran," gerutunyasambil menyamai langkah Neji.
Neji memejamkan mata sejenak sebelum menjawab. Kharismanya sama sekali tidak berkurang sejak semalam. "Secara garis besar, kediaman ini terdiri dari lima rumah. Koridor yang semalam akan kautuju itu adalah kediaman utama Hyuuga; koridor depan bisa dibilang tempat untuk melakukan pertemuan dengan para mitra; koridor kanan terdiri dari kamar yang ditujukan untuk para tamu. Di koridor kanan ini terdapat koridor lain yang menuju kamar para pelayan rumah."
Hidan mengangguk mengerti. Sedikit rasa penasarannya terbayar. Mereka terus melangkah menuju kediaman utama Hyuuga. Jantungnya begitu berdebar. Semakin dekat, semakin kuat. Walaupun bukan pertama kalinya, ia seperti merasa tidak ada yang berbeda dengan impresi enam tahun lalu. Rasanya seperti dikenalkan untuk yang kedua kalinya. Hanya saja, bukan Hinata yang membawanya sekarang.
Ada hawa berbeda ketika tubuhnya sempurna memasuki kediaman utama. Lebih hidup, namun masih ada kesan dingin dan kaku di dalamnya. Neji mengajaknya memasuki salah satu ruangan.
Saat itulah dua pasang mata memandang kedatangannya. Satu milik orang dewasa dan satu lagi milik seorang anak perempuan kecil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin anak itulah yang disebut Neji semalam.
Seorang pria lanjut usia dengan kedua tangannya yang terlipat di dada membuka matanya ketika mendengar salam dari Neji. Hidan menatap pria lanjut usia yang dikenalnya sebagai pemilik Hyuuga Club, Hyuuga Hiashi. Tidak ada yang berubah kecuali dengan mendalamnya garis-garis di sekitar kening dan matanya.
Matanya bergulir ke arah seorang anak yang duduk di ujung meja, dekat Hiashi. Sepasang mata cemerlang yang tertanam di wajahnya mengingatkannya pada saat ia sedang bercermin. Rambut biru kelam lurus menyapu bahu atasnya. Tubuhnya agak ringkih untuk anak yang hidup di keluarga kaya seperti Hyuuga. Ia tersenyum. Hidan seperti melihat nostalgia di dalamnya. Ia membalas dengan senyum seadanya. Pria itu memang akhir-akhir ini jarang tersenyum.
"Duduklah," gumam Hiashi datar tanpa memandang siapa pun.
Neji mengambil posisi duduk di depan anak perempuan yang diduga Hyuuga Hime itu dan Hidan duduk di sebelah Neji. Tidak lama, dua orang pelayan wanita datang. Yang satu memberi piring-piring makanan ke temannya, sedangkan temannya menghidangkan ke atas meja pendek di depan mereka.
Hidan memerhatikan setiap piring yang disajikan. Rata-rata berisi sayur. Hanya ada sepiring ikan sebagai pendamping piring-piring sayur tadi. Refleks bibirnya melengkung ke atas. Ia kurang suka sayuran.
Dalam diam, satu per satu mereka menyumpit lauk tadi ke piring masing-masing. Walaupun ingin protes, tidak ada yang bisa dilakukannya selain melakukan hal yang sama. Menit-menit berlalu dalam ketersiksaan Hidan yang hanya mencoba untuk berpuas dengan sepotong ikan.
Hidan mencuri pandang pada suasana sekeliling dalam kunyahannya. Dapat terdengar jelas suara bambu yang mengetuk permukaan batu dari luar sana. Ia tidak suka suasana hening yang tercipta canggung ini. Ketika ia akan mencoba mengeluarkan suara, terdengar suara lain dari depannya—tepatnya, dari depan Neji.
"Terimakasih atas hidangannya," gumamnya pelan.
Hiashi menatap tajam pada mangkukyang masih menyisakan sebagian nasi. "Kau harus menghabiskannya," ujarnya tegas.
Hidan menatap Hiashi tidak mengerti. Bahkan dengan anak usia lima tahun pun nada bicaranya masih sesama saat ia berbicara dengan orang dewasa.
"Ta-tapi Kakek, aku sudah ke—"
"Kau sudah berjanji semalam."
Satu hal yang baru diketahuinya, anak perempuan itu cucu Hiashi. Apa dia anak Hanabi? batinnya.
Hidan menyumpit nasinya ke mulut sambil kedua iris ungunya terfokus pada gadis kecil di depannya. Ia mendapati guratan sedih di wajahnya yang dicoba untuk disembunyikan melalui jurai poninya. Sejurus kemudian, air mata bertempias di atas meja. Hidan seketika menelan makanannya yang belum terlalu lumat.
"Apa tidak apa-apa memaksanya?" tanya Hidan ragu yang langsung dihadiahi tatapan menusuk Hiashi.
"Dia tidak akan mati hanya dengan itu," jawab Hiashi sarkas. "Tidak usah mencampuri urusan Hyuuga. Kau bukan siapa-siapa."
Seketika Hidan mengeratkan pegangannya pada sumpit dan mangkuknya. Dari dulu hingga sekarang, hati Hiashi memang terlalu sempit untuk sekadar meletakkan namanya di dalamnya.
Suasana menghening. Gadis Hyuuga itu kembali mengunyah makanannya dalam isakan yang berusaha ia tahan. Tidak berapa lama, sarapan selesai. Dua pelayan dan seorang gadis dengan rambut digulung di kedua sisinya datang menghampiri. Dua pelayan membereskan meja sedangkan gadis berambut cepol membawa gadis Hyuuga itu keluar ruangan. Sekarang hanya mereka bertiga yang tersisa di ruangan itu.
"Ada tiga kegagalan dalam hidupku." Hidan dan Neji mengangkat pandangannya pada Hiashi. "Pertama, Hinata yang kudidik dengan benar bisa dengan bodohnya mencintai orang yang salah." Hiashi menatap Hidan. "Kedua, aku yang memiliki segalanya tidak dapat melakukan apapun untuk kesembuhan cucuku." Tatapannya menyendu. "Ketiga—dan yang terbesar, dalam ketidakmampuanku, aku meminta bantuan pada orang yang tidak pernah kuharapkan kehadirannya."
"Itu karma karena kau begitu tidak menyukaiku." Seringai Hidan tertampil begitu saja saat ia menyelesaikan kalimatnya. "Aku menerima perjanjian itu agar aku dapat bertemu Hinata."
"Kau tidak akan bertemu dengannya. Kau tahu, aku tidak pernah menarik janjiku, walaupun janji itu sudah berumur enam tahun sekarang. Ya—dia tidak akan bertemu denganmu lagi."
Hidan mengepalkan kedua tangannya. Napasnya menderu dalam amarah, namun ia coba untuk menahan gejolaknya. "Kau sudah tua, jangan mati dengan membawa batu di kepalamu!"
Hiashi tidak menggubris. Ia bangkit lalu bergerak menuju pintu. Sebelum pintu terbuka, ia berkata, "Setelahnya, kuserahkan padamu."
Neji mengangguk. "Baik, Paman."
"Orang kaya memang selalu keras kepala," ketus Hidan saat mereka tinggal berdua.
"Jika tidak begitu, kau akan dengan mudah dijatuhkan lawanmu. Keluarga ini tidak dibesarkan dengan mudah. Kau tidak pernah tahu seberapa Hinata ingin mendapatkan kebebasan. Dan ketika ia menemukannya, ayahnya tidak menyetujuinya." Neji memberi jeda. Pandangannya berpindah dari Hidan ke arah pintu. "Di antara banyak pilihan yang dimiliki keluarga Hyuuga, ada satu hal yang tidak pernah dan tidak bisa kami dimiliki, kebebasan. Semua hal harus saling terikat dan teratur."
Hidan membisu. Hinata tidak pernah menceritakan tentang seluk-beluk keluarganya. Bahkan ia tidak pernah tahu gadis itu berasal dari keluarga terpandang sebelum ia diajak ke kediamannya untuk meresmikan hubungan mereka. Dan saat itulah pertama kalinya ia merasa hatinya tercabik dengan penolakan dari sang ayah.
Hidan memejamkan matanya sejenak untuk menjernihkan pikirannya. Memang terlalu rumit memahami Hyuuga dalam kurun semalam.
"Siapa anak tadi?" tanyanya setelah pikirannya tidak sesabur tadi.
"Hyuuga Hime, cucu pertama Paman Hiashi. Dia ada dalam daftar calon pewaris Hyuuga Club. Sekarang kau pasti sudah tahu, dialah yang akan menerima hatimu."
Pria berambut perak itu mengangguk, sesuai tebakannya. "Nama yang bagus, tapi terkesan kaku. Siapa pun yang mendengar namanya akan mundur seribu langkah karena mengetahui harganya yang jutaan dolar. Apa dia anak Hanabi?"
Neji tidak langsung menjawab. Ia membiarkan ketukan bambu di luar mengisi kekosongan mereka. Dan ketika ia menjawab, Hidan merasa waktu berjalan lebih lambat, memperlihatkan betapa jelas pergerakan bibir Neji yang mengatakan, "Bukan—dia anak Hinata."
Dunia seketika runtuh menimpa dirinya yang kehabisan kata-kata.
—bersambung—
A/N: Harap dimaklumi kalau ada kata yang terlihat tanpa spasi, mungkin karena saya publish dari hp. Di file aslinya padahal sudah saya beri spasi.
