Handphone flip milik Akashi berbunyi, menandakan seseorang meneleponnya. Akashi mengambil benda flip tersebut dari dalam tasnya dan melihat nama seseorang yang meneleponnya di saat ia hendak memulai sebuah pertandingan.
"Haizaki desu"
"Hah? Yokose!"
Nijimura merebut paksa handphone flip Akashi dan mengangkat telepon tersebut.
"Haizaki! Teme ima doko da?"
"Suimasen, kazehichatta. Uhuk uhuk uhuk"
Aura hitam terpancar dari tubuh Nijimura dan terlihat sangat jelas tanda perempatan siku-siku di pelipisnya.
"Haizaki tidak bisa hadir karena masuk angin"
"Kuroko, kau masuk jadi starter"
Jika Shirogane-kantoku yang sudah berbicara apa boleh buat.
Kuroko gugup, ia baru pertama kali ini jadi starter. Tetes-tetes keringat dingin keluar dari kulit Kuroko walau tanpa ia undang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nijimura-san, ore no keitai"
Nijimura memberikan handphone milik Akashi kepada pemiliknya.
CEKREK
"Akashi-kun, nani o shite?"
"Biasa lah, mengambil foto wajah imutmu"
"Yamete kudasai Akashi-kun, hapus fotonya"
"Akashi, apa yang kau lakukan? Pertandingan akan segera dimulai, main-mainnya nanti saja. Kita menang dahulu"
"Hai' kapten"
Pertandingan kali ini berfungsi untuk mereview sistem permainan anak-anak kelas satu. Oleh karena itu, di pertandingan kali ini semua starter adalah anak kelas satu. Ini adalah kali pertama Kuroko menjadi starter, ia sangat gugup sekali.
Semua pemain kelas satu masuk ke lapangan dan saling berbaris.
"Yoroshiku onegaishimasu"
"Tetsu, relax"
Bukannya menuruti apa kata Aomine, Kuroko malah semakin gugup. Gawat, dia seperti bayi baru lahir saja. Semua teman satu timnya mengkhawatirkan Kuroko yang jelas terlihat sangat gugup.
"Tenang saja, Tetsuya. Pertama kau san-"
Akashi belum selesai bicara dan Kuroko tiba-tiba jatuh. Akashi memerhatikan Kuroko begitu pula dengan Aomine, Midorima, dan Murasakibara.
"Sumimasen, aku terpeleset"
"Aku rapopo"
Jelas sekali alasan Kuroko berkata seperti itu hanya untuk membuat teman-teman satu timnya tidak khawatir. Darah yang keluar dari hidung Kuroko adalah buktinya.
"Kamu gak rapopo Cuya"
Calon kapten di tahun depan mengkhawatirkan Kuroko. Lebih tepatnya kekasih Kuroko. Dan lebih spesifik lagi adalah semenya Kuroko.
Kuroko keluar dari lapangan dan mengobati mimisannya. Senpai-senpai dan pelatih yang berada di kursi cadangan membantu Kuroko mengobati mimisannya.
"Sayang sekali handphoneku berada di tas"
"Baiklah main-main dan marahnya nanti saja. Pertama kita menang dahulu"
Nijimura masuk menggantikan Kuroko sebentar. Setelah mimisan Kuroko berhenti Kuroko kembali masuk ke lapangan dengan lebih santai.
50 - 81
Pertandingan berakhir dengan kemenangan Teiko. Kemenangan adalah motto klub basket Teiko sehingga menang adalah hal yang biasa bagi Teiko namun luar biasa menurut klub basket lain.
Setelah pertandingan berakhir, semua pemain pergi ke ruang ganti yang sudah disediakan untuk Teiko. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing. Midorima yang sibuk dengan jari-jarinya. Murasakibara yang memakan cemilannya dengan rakus, ia merindukan cemilannya karena selama pertandingan tidak boleh makan cemilan. Kapten Nijimura sedang sibuk berbicara dengan pelatih. Aomine yang asik tidur. Sedangkan pasangan AkaKuro kita sedang asik sendiri-sendiri. Akashi mengelap keringatnya dan melepas seragam basketnya yang sudah basah karena keringat sementara Kuroko pun melakukan hal yang sama seperti Akashi. Kuroko yang hendak mengambil kaosnya yang kering di dalam loker dipanggil seseorang.
"Tetsuya"
Kuroko menengok kepada si surai merah yang memanggil nama depannya.
CEKREK
"Akashi-kun, nani o shite?"
"Habisnya tadi aku tidak sempat memotret wajahmu ketika kamu sedang mimisan"
"Itu tidak perlu, Akashi-kun. Hapus"
Si surai biru berusaha mengambil ponsel Akashi
"Kau habis bertanding pun tetap manis Tetsuya"
"Aku masih berkeringat Akashi-kun, pokoknya hapus!"
"Hmm, badanmu lumayan bagus juga yah Tetsuya"
CEKREK
"Hapus, Akashi-kun!"
CUPP
Akashi mengecup sekilas bibir manis Kuroko. Refleks, Kuroko menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"Akashi-kun!"
"Habis kamu jahat Cuya! Masa ke pacar sendiri masih manggil pake nama marga? Panggil dengan nama depanku dulu dong"
Kuroko diam, memanggil seseorang dengan nama depannya bukanlah kebiasaan seorang Kuroko. Tapi baiklah, asal jumlah foto dirinya di dalam ponsel Akashi berkurang tak apalah. Hanya untuk saat ini saja.
"Sei-kun"
"Apa sayang?"
"Sei-kun, hapus fotoku yang tadi kau ambil diam-diam"
"Sei-kun yang mana yah?"
"Sei-kun yang mesum, iseng, jail, gak ada kerjaan makanya suka ambil foto candid orang lain"
"Oh yang itu. Kirain gitu Sei-kun yang tampan, pinter, pacarnya Cuya yang manis, cantik-"
Kuroko memotong perkataan Akashi.
"Aka- Sei-kun narsis"
CUPP
Akashi mengecup ujung hidung Kuroko. Si raja setan merah ini, lebih tepatnya rajanya raja setan setelah berpacaran dengan Kuroko memiliki hobi baru. Yakni membuat Kuroko yang kudere dan memiliki wajah sedatar papan setrikaan menjadi memiliki berbagai macam ekspresi. Yang membuat Akashi bertambah senang adalah, ekspresi-ekspresi tersebut hanya akan ditujukan kepada Akashinya seorang. Oleh karena itu Akashi ingin mengabadikannya sebanyak mungkin di dalam selembar foto.
"Pokoknya setelah ini, kau harus memanggilku seperti itu terus. Kalau tidak kau akan kuberi hukuman"
Kuroko tidak suka dengan pernyataan sepihak Akashi. Bagaimanapun juga, tidak ada orang yang suka hidupnya diatur-atur. Harus begini harus begitu, nanti dihukum ini dihukum itu. Kuroko menggembungakn kedua pipinya yang chubby, tanda ia tidak suka namun ia begitu malas mengungkapkannya karena pasti ujung-ujungnya berdebat dengan Akashi.
CEKREK
Akashi langsung kabur guna menjauhkan handphonenya dari jangkauan Kuroko. Kuroko tidak menyerah untuk berusaha menghapus foto-foto candidnya dari ponsel Akashi. Akashi kabur dan Kuroko mengejarnya. Terjadilah adegan kejar-kejaran antara seme boncel dengan uke kuntet. Adegan kejar-kejaran mereka berlangsung sengit dan meriah. Menganggu ketenangan seluruh penghuni ruang loker.
DUGH!
Tiba-tiba saja Akashi berhenti dan Kuroko terpeleset sehingga wajahnya membentur pintu loker yang sedang dibuka oleh Midorima. Siap-siaplah Midorima mendapat tusukan gunting dari wujud Bokushi walau ia kini sedang tertidur di dalam tubuh Akashi.
"Tetsuya!"
"Kuroko, kau tidak apa-apa?"
Akashi panik begitu melihat Kuroko terbentur. Namun tak lama, Kuroko berdiri dan menjauhkan diri dari pintu loker.
Darah mengalir kembali dari hidung Kuroko. Jika saat pertandingan tadi hidung sebelah kiri Kuroko yang mimisan, kini giliran hidung sebelah kanan Kuroko yang mengalirkan darah segar.
"Aku rapopo Sei-kun, Midorima-kun"
"Kamu gak rapopo Cuya, kamu mimisan lagi"
CEKREK
"Sei-kun jahat, aku mimisan bukannya ditolongin malah di foto"
Akashi langsung memasukkan handphonenya ke dalam tasnya dan mengeluarkan sapu tangannya. Kuroko mengambilnya dari tangan Akashi, dan menyumbatkannya ke dalam lubang hidungnya guna memberhentikan darah yang mengalir ke luar.
JTAK
Sebuah hantaman di kepala Akashi ia dapatkan dari sang kapten, Nijimura. Akashi melihat siapa lagi yang berani kepadanya kalau bukan sang kapten sendiri. Aura hitam menguar dari badan Nijimura dan tanda perempatan siku-siku imajiner tercetak di dahinya. Membuat Akashi diam dan mengalihkan pandangannya kepada sang kekasih namun tidak dinotis oleh Kuroko karena Kuroko sedang mengobati mimisannya.
"Makanya, jangan main-main disini!"
"Maaf Nijimura-san"
Setelah meminta maaf kepada kapten, Akashi menghampiri kekasihnya. Ia memegangi sapu tangan yang digunakan untuk menyumbat hidung Kuroko agar mimisannya berhenti.
"Aku bisa sendiri Aka- Sei-kun. Sebaiknya kau cepat pakai baju atau mimisanku susah berhen- eh maksudku nanti kau masuk angin Sei-kun. Yah masuk angin"
Sejak kapan Kuroko yang kudere mendadak berubah jadi tsundere seperti ini? Mungkin karena efek tadi Kuroko membentur loker Midorima, Kuroko jadi bersikap sedikit tsundere.
Akashi mengkabe-don Kuroko. Kuroko tercekat kaget, mimisannya semakin bertambah deras sepertinya karena Kuroko kaget. Kuroko harus tenang agar aliran darahnya tidak mengalir lebih cepat dan mimisannya segera berhenti.
"Jadi kamu mimisan karena melihat badanku atau karena terbentur loker"
'Mungkin dua-duanya' batin Kuroko. Namun Kuroko tidak berniat mengucapkannya, nanti jadi debat lagi. Debat dengan Akashi tidak akan ada habisnya.
"Atau mungkin dua-duanya?"
'Sial! Aku belum mengucapkannya ia sudah menebak apa yang aku pikirkan'
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Tetsuya"
"Sudahlah Akashi-kun, aku tidak mau berdebat denganmu. Lebih baik sekarang kau pakai bajumu, nanti kau masuk angin. Mimisanku juga sepertinya sudah berhenti, aku akan segera mengenakan pakaianku"
"Semuanya cepat berkemas, kita akan segera berangkat pulang"
Seluruh pemain segera bersiap-siap untuk pulang. Setelah itu mereka naik ke bus yang telah disediakan sekolah khusus untuk tim basket Teiko. Mereka turun di pemberhentian bus yang dekat dengan tempat tinggal masing-masing. Namun Akashi turun di pemberhentian bus yang dekat dengan tempat tinggal Kuroko. Ia berniat mampir sebentar di rumah Kuroko sambil menunggu jemputannya datang.
Dari tempat pemberhentian bus terdekat dari rumah Kuroko lumayan jauh jika berjalan kaki. Oleh karena itu mereka mampir di beberapa tempat sambil berbincang ria.
"Aku sangat suka sekali dengan anjing Sei-kun, namun aku dilarang untuk memelihara hewan karena nenekku memiliki alergi dengan bulu hewan"
Bukannya tidak memerhatikan apa yang dikatakan oleh Kuroko, namun Akashi lebih tertarik melihat wajah dan ekspresi Kuroko.
"Akashi-kun, kita pergi ke toko buku dahulu sebentar tak apa? Ada novel yang ingin aku beli"
Akakuro masuk ke dalam toko buku untuk membeli novel yang Kuroko inginkan. Kuroko memasukkan novel yang baru ia beli ke dalam tasnya dan meresleting tasnya. Setelah itu Kuroko ingin membeli vanilla milkshake ukuran jumbo di Maji Burger, namun Akashi melarangnya.
"Minum es sering-sering itu tidak baik Tetsuya. Apalagi kau habis latihan"
Keinginan Kuroko untuk membeli vanilla milkshake gagal diwujudkan. Hari sudah mulai gelap, sebaiknya mereka segera pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, Akashi menelpon sopirnya untuk menjemputnya di rumah Kuroko dan telepon tersebut ditutup oleh Tuan Muda Akashi setelah sopirnya tersebut bilang akan datang 30 menit kemudian.
Sesampainya di rumah Kuroko, Akashi menyapa kedua orangtua Kuroko dan neneknya kemudian langsung naik ke kamar Kuroko. Kuroko langsung menjatuhkan diri ke atas kasur miliknya dan diikuti oleh Akashi yang melakukan hal yang sama di atas tubuh Kuroko sambil memeluk Kuroko.
"Ne, Sei-kun. Rumahmu 'kan lumayan jauh, apa gak capek di jalan?"
"Jika aku kelelahan, aku hanya perlu istirahat atau tidur di dalam mobil. Atau memandangi wajahmu, lelahku hilang"
"Sei-kun gombal"
"Aku ingin menikmati masa-masa sewaktu aku tinggal di Tokyo sebelum nanti SMA keluargaku akan pindah ke Kyoto"
Kuroko terdiam. Bagaimanapun juga, yang namanya hubungan LDR itu tidak enak. Kepercayaan harus nomor satu dan paling diutamakan. Jika berkurang sedikit saja kepercayaan tersebut, maka hubungan tersebut akan sedikit mengalami hambatan.
Akashi berniat mengambil ponselnya dari tasnya. Namun tidak berada di tasnya. Ia mencari dengan teliti di setiap kantung-kantung yang berada di tasnya namun hasilnya nihil.
"Mencari apa Sei-kun? Mau aku bantu mencarinya?"
"Ponselku tidak ada"
TBC
